14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seperti Apa Rasanya Mati? | Cerpen Eka Prasetya

Eka Prasetya by Eka Prasetya
May 27, 2022
in Cerpen
Seperti Apa Rasanya Mati? | Cerpen Eka Prasetya

BIBIR Luh Sekar dan Gusti Komang berpagutan. Asmara mereka begitu panas. Ini malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri yang sah.

Tiba-tiba Luh Sekar menatap tajam mata Gusti Komang.

“Seperti apa rasanya mati?” tanya Sekar pada suaminya.

Kening Gusti Komang berkerut. Dia tak pernah menduga istrinya akan menanyakan hal itu. Apalagi saat mereka bergumul di atas kasur.

“Kenapa kau menanyakan itu?” kata Komang.

“Aku hanya penasaran. Orang-orang bilang kau pernah mati suri. Apakah kau sudah pernah melihat surga? Apakah kita akan reinkarnasi atau moksa?” tanya Sekar lagi.

Komang menarik nafas panjang. Dia menceritakan tragedi itu. Komang teringat. Dia pernah mati suri. Saat itu usianya baru 11 tahun. Dia mendatangi rumah pamannya, sekitar 50 meter di sisi barat griya tempatnya tinggal kini.

Tiba-tiba saja Komang ingin menceburkan diri ke sumur itu. Dia jenuh dengan tuntutan orang tuanya. Komang dituntut selalu juara di kelas. Padahal kemampuannya biasa-biasa saja. 

Kegemarannya bermain layangan di lapangan desa juga ditentang. Bila terlambat pulang Ajik Gusti, ayahnya, tak segan-segan memukuli Komang. Bila Komang menangis, maka kepalanya akan diguyur dengan air. Hingga tangisnya berhenti.

Dia memutuskan memanjat sumur yang ada di halaman belakang griya pamannya. Lalu menjatuhkan diri ke sumur sedalam 12 meter itu. Terdengar suara berdebur dari arah sumur. Pamannya, Gusti Ketut, berlari ke belakang rumah. Ke arah sumur.

Tubuh Gusti Komang ditemukan mengambang di sumur. Masyarakat gempar. Mereka bahu membahu menyelamatkan Gusti Komang.

“Lalu aku merasa terbang. Aku bisa melihat diriku mengambang di sumur itu, dengan posisi terlentang. Aku melihat Om Gustut membopong tubuhku dari dasar sumur. Aku juga melihat Biang pingsan,” katanya lagi.

“Apakah kau sudah sampai di nirwana?” tanya Sekar lagi.

“Sepertinya tidak. Buktinya aku di sini bersamamu. Bila sudah sampai di sana, mungkin kita tidak akan pernah menikah,” ujar Komang sambil melirik istrinya.

“Tidak usah gombal. Aku benar-benar ingin tahu. Apa kau bertemu Sang Suratma?” Sekar merajuk.

“Aku bertemu sesosok gaib. Aku tidak tahu apakah dia Sang Suratma. Mungkin saja leluhurku. Dia bilang ‘Cening kari wenten karma. Malih duang dasa tiban, mare cening dados meriki. Mangkin margiang dumun karma cening ring marcapada’. Itu saja yang aku ingat. Setelah itu aku terbangun, dan aku sudah di UGD rumah sakit,” tuturnya.

“Lain kali ceritakan lebih panjang,” ujar Sekar seraya memagut bibir suaminya. Mereka saling memeluk. Berpeluh hingga fajar tiba.

***

LUH Sekar merupakan buah bibir di kampungnya. Mantan suaminya meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan tragis.

Rem sepeda motor yang dikendarai suaminya saat itu rusak. Sehingga melaju tak terkendali. Sepeda motor itu terjun bebas ke dasar jurang berbatu. Tubuh suaminya baru berhasil dievakuasi tim SAR setelah 6 jam.

Saat jenazahnya dibawa ke rumah duka, Luh Sekar tidak menangis. Dia seolah sudah siap dengan kematian suaminya.

“Suamiku pernah bercerita, dia pernah mati suri. Mungkin Sang Suratma menagih takdirnya. Aku tidak bisa mencegah,” kata Luh sekar kala itu.

Tapi warga desa menganggapnya tidak wajar. Mereka bergunjing. Meyakini Luh Sekar punya kekasih lain.

“Mana mungkin dia bisa tabah seperti itu? Istri manapun pasti akan menangis. Dia pasti punya mitra di luar sana,” kata warga.

* * *

DUA tahun setelah suaminya meninggal kecelakaan itu Luh Sekar berjumpa dengan Gusti Komang.  Orang tua Gusti Komang sebenarnya menolak menikahi Luh Sekar.

“Biang tidak setuju kamu menikah dengan perempuan itu. Dia seorang janda. Apa kata semeton di griya nanti?” kata Biang Ayu, ibu Gusti Komang.

“Biang juga yakin dia itu bekung. Tidak mungkin memberi keturunan. Buktinya, dari perkawinan terdahulu, dia tidak mengandung. Padahal mereka sudah menikah selama empat tahun. Kalau kau cepung, siapa yang akan meneruskan trah keluarga ini,” imbuh Biang Ayu.

Gusti Komang tidak mau ambil pusing dengan hal itu. Dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Luh Sekar. Di matanya, Luh Sekar adalah wanita yang sempurna. Wajahnya lonjong. Lesung pipit selalu terlihat saat dia tersenyum. Gusti Komang makin mabuk kepayang saat melihat Luh Sekar mengenakan kebaya.

Hanya butuh waktu 6 bulan bagi Gusti Komang menaklukkan hati Luh Sekar. Mereka akhirnya menikah, meski sempat ditentang keluarga besar.

“Aku mencintai Luh Sekar apa adanya. Kalaupun perkawinan kami tidak membuahkan keturunan, ada Kak Gusde yang meneruskan trah keluarga. Aku tidak pernah menuntut apa-apa pada keluarga ini. Tapi kali ini, tolong beri restu pada pernikahan kami,” pinta Gusti Komang.

Keluarga besar akhirnya luluh. Pernikahan keduanya digelar. Jamuan digelar selama semalam suntuk. Mengundang semeton griya dari penjuru Bali.

* * *

PERNIKAHAN Luh Sekar dan Gusti Komang sudah berusia empat tahun. Keduanya kini terlibat cek-cok. Gusti Komang kecewa karena Luh Sekar tak kunjung memberikan keturunan.

Kini Gusti Komang jarang di rumah. Dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Menenggak arak di poskamling yang ada di sudut banjar.

Dia hanya pulang saat sudah mabuk. Biasanya dia langsung memeluk Luh Sekar. Melampiaskan hasratnya.

Bila Luh Sekar menolak, Gusti Komang tak segan-segan menampar istrinya. “Dasar bekung tak tahu diuntung. Aku sudah memberikanmu makan dan rumah. Layani saja aku,” ujar Gusti Komang.

Perilaku Gusti Komang yang makin temperamental membuat Sekar kecewa. Semula dia bersedia menikahi Gusti Komang, karena sikapnya yang penuh kasih.

* * *

WARGA Desa Padang Bawak geger. Tubuh Gusti Komang ditemukan tak bernyawa di dasar sumur. Sumur yang sama tempat dia tercebur saat berusia 11 tahun.

Luh Sekar, lagi-lagi tidak menangis saat tahu suaminya meninggal. “Dia sudah pernah mati suri saat tercebur di sumur itu. Mungkin Sang Suratma menagih takdirnya,” katanya.

Namun keluarga Gusmang curiga. Mereka tahu bila Gusti Komang tak mungkin mendekati sumur itu. Apalagi keluarga sudah memasang turus bambu di sekitar sumur, agar orang lain tidak mudah mendekat.

“Gusmang trauma mendekati sumur itu. Sudah 20 tahun Gusmang tidak pernah mendekati sumur itu. Tidak mungkin dia mati di sana,” kata Biang Ayu histeris.

Sepekan kemudian, Luh Sekar digelandang ke kantor polisi. Polisi meyakini Gusti Komang tewas karena dibunuh.

“Hasil otopsi tim forensik menunjukkan tidak ada air di dalam paru-paru korban, sebagaimana lazimnya orang meninggal karena tenggelam. Sebaliknya tim forensik menemukan luka lebam di leher korban. Diduga korban meninggal karena dicekik,” kata seorang perwira kepolisian.

Hasil penyelidikan polisi menunjukkan, Gusti Komang diduga dibunuh Luh Sekar. Polisi menduga Luh Sekar melakukan pembunuhan berencana.

“Ada anomali dari hasil tes kejiwaan. Kami juga sedang membuka kembali kasus kecelakaan yang terjadi beberapa tahun lalu. Patut diduga tersangka adalah pelaku pembunuhan berseri,” imbuh polisi.

Di hadapan wartawan, Luh Sekar sama sekali tidak menyangkal pernyataan polisi. “Mereka hanya menginginkan aku jadi mesin pembuat anak. Lagi pula mereka sudah pernah mati. Aku hanya membantu mereka menemukan takdirnya,” kata Sekar. [T]

  • Cerpen ini hasil workshop cerpen sehari langsung jadi dalam acara Tatkala May May May 2022 yang digelar tatkala.co, Sabtu 21 Mei 2022.
Tags: CerpenTatkala May May May 2022
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perspektif “Sound and Sense” dalam Novel “Si Rarung” Karya Cok Sawitri

Next Post

HINDU BALI MURNI DARI BALI?

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

HINDU BALI MURNI DARI BALI?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co