3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seperti Apa Rasanya Mati? | Cerpen Eka Prasetya

Eka Prasetya by Eka Prasetya
May 27, 2022
in Cerpen
Seperti Apa Rasanya Mati? | Cerpen Eka Prasetya

BIBIR Luh Sekar dan Gusti Komang berpagutan. Asmara mereka begitu panas. Ini malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri yang sah.

Tiba-tiba Luh Sekar menatap tajam mata Gusti Komang.

“Seperti apa rasanya mati?” tanya Sekar pada suaminya.

Kening Gusti Komang berkerut. Dia tak pernah menduga istrinya akan menanyakan hal itu. Apalagi saat mereka bergumul di atas kasur.

“Kenapa kau menanyakan itu?” kata Komang.

“Aku hanya penasaran. Orang-orang bilang kau pernah mati suri. Apakah kau sudah pernah melihat surga? Apakah kita akan reinkarnasi atau moksa?” tanya Sekar lagi.

Komang menarik nafas panjang. Dia menceritakan tragedi itu. Komang teringat. Dia pernah mati suri. Saat itu usianya baru 11 tahun. Dia mendatangi rumah pamannya, sekitar 50 meter di sisi barat griya tempatnya tinggal kini.

Tiba-tiba saja Komang ingin menceburkan diri ke sumur itu. Dia jenuh dengan tuntutan orang tuanya. Komang dituntut selalu juara di kelas. Padahal kemampuannya biasa-biasa saja. 

Kegemarannya bermain layangan di lapangan desa juga ditentang. Bila terlambat pulang Ajik Gusti, ayahnya, tak segan-segan memukuli Komang. Bila Komang menangis, maka kepalanya akan diguyur dengan air. Hingga tangisnya berhenti.

Dia memutuskan memanjat sumur yang ada di halaman belakang griya pamannya. Lalu menjatuhkan diri ke sumur sedalam 12 meter itu. Terdengar suara berdebur dari arah sumur. Pamannya, Gusti Ketut, berlari ke belakang rumah. Ke arah sumur.

Tubuh Gusti Komang ditemukan mengambang di sumur. Masyarakat gempar. Mereka bahu membahu menyelamatkan Gusti Komang.

“Lalu aku merasa terbang. Aku bisa melihat diriku mengambang di sumur itu, dengan posisi terlentang. Aku melihat Om Gustut membopong tubuhku dari dasar sumur. Aku juga melihat Biang pingsan,” katanya lagi.

“Apakah kau sudah sampai di nirwana?” tanya Sekar lagi.

“Sepertinya tidak. Buktinya aku di sini bersamamu. Bila sudah sampai di sana, mungkin kita tidak akan pernah menikah,” ujar Komang sambil melirik istrinya.

“Tidak usah gombal. Aku benar-benar ingin tahu. Apa kau bertemu Sang Suratma?” Sekar merajuk.

“Aku bertemu sesosok gaib. Aku tidak tahu apakah dia Sang Suratma. Mungkin saja leluhurku. Dia bilang ‘Cening kari wenten karma. Malih duang dasa tiban, mare cening dados meriki. Mangkin margiang dumun karma cening ring marcapada’. Itu saja yang aku ingat. Setelah itu aku terbangun, dan aku sudah di UGD rumah sakit,” tuturnya.

“Lain kali ceritakan lebih panjang,” ujar Sekar seraya memagut bibir suaminya. Mereka saling memeluk. Berpeluh hingga fajar tiba.

***

LUH Sekar merupakan buah bibir di kampungnya. Mantan suaminya meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan tragis.

Rem sepeda motor yang dikendarai suaminya saat itu rusak. Sehingga melaju tak terkendali. Sepeda motor itu terjun bebas ke dasar jurang berbatu. Tubuh suaminya baru berhasil dievakuasi tim SAR setelah 6 jam.

Saat jenazahnya dibawa ke rumah duka, Luh Sekar tidak menangis. Dia seolah sudah siap dengan kematian suaminya.

“Suamiku pernah bercerita, dia pernah mati suri. Mungkin Sang Suratma menagih takdirnya. Aku tidak bisa mencegah,” kata Luh sekar kala itu.

Tapi warga desa menganggapnya tidak wajar. Mereka bergunjing. Meyakini Luh Sekar punya kekasih lain.

“Mana mungkin dia bisa tabah seperti itu? Istri manapun pasti akan menangis. Dia pasti punya mitra di luar sana,” kata warga.

* * *

DUA tahun setelah suaminya meninggal kecelakaan itu Luh Sekar berjumpa dengan Gusti Komang.  Orang tua Gusti Komang sebenarnya menolak menikahi Luh Sekar.

“Biang tidak setuju kamu menikah dengan perempuan itu. Dia seorang janda. Apa kata semeton di griya nanti?” kata Biang Ayu, ibu Gusti Komang.

“Biang juga yakin dia itu bekung. Tidak mungkin memberi keturunan. Buktinya, dari perkawinan terdahulu, dia tidak mengandung. Padahal mereka sudah menikah selama empat tahun. Kalau kau cepung, siapa yang akan meneruskan trah keluarga ini,” imbuh Biang Ayu.

Gusti Komang tidak mau ambil pusing dengan hal itu. Dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Luh Sekar. Di matanya, Luh Sekar adalah wanita yang sempurna. Wajahnya lonjong. Lesung pipit selalu terlihat saat dia tersenyum. Gusti Komang makin mabuk kepayang saat melihat Luh Sekar mengenakan kebaya.

Hanya butuh waktu 6 bulan bagi Gusti Komang menaklukkan hati Luh Sekar. Mereka akhirnya menikah, meski sempat ditentang keluarga besar.

“Aku mencintai Luh Sekar apa adanya. Kalaupun perkawinan kami tidak membuahkan keturunan, ada Kak Gusde yang meneruskan trah keluarga. Aku tidak pernah menuntut apa-apa pada keluarga ini. Tapi kali ini, tolong beri restu pada pernikahan kami,” pinta Gusti Komang.

Keluarga besar akhirnya luluh. Pernikahan keduanya digelar. Jamuan digelar selama semalam suntuk. Mengundang semeton griya dari penjuru Bali.

* * *

PERNIKAHAN Luh Sekar dan Gusti Komang sudah berusia empat tahun. Keduanya kini terlibat cek-cok. Gusti Komang kecewa karena Luh Sekar tak kunjung memberikan keturunan.

Kini Gusti Komang jarang di rumah. Dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Menenggak arak di poskamling yang ada di sudut banjar.

Dia hanya pulang saat sudah mabuk. Biasanya dia langsung memeluk Luh Sekar. Melampiaskan hasratnya.

Bila Luh Sekar menolak, Gusti Komang tak segan-segan menampar istrinya. “Dasar bekung tak tahu diuntung. Aku sudah memberikanmu makan dan rumah. Layani saja aku,” ujar Gusti Komang.

Perilaku Gusti Komang yang makin temperamental membuat Sekar kecewa. Semula dia bersedia menikahi Gusti Komang, karena sikapnya yang penuh kasih.

* * *

WARGA Desa Padang Bawak geger. Tubuh Gusti Komang ditemukan tak bernyawa di dasar sumur. Sumur yang sama tempat dia tercebur saat berusia 11 tahun.

Luh Sekar, lagi-lagi tidak menangis saat tahu suaminya meninggal. “Dia sudah pernah mati suri saat tercebur di sumur itu. Mungkin Sang Suratma menagih takdirnya,” katanya.

Namun keluarga Gusmang curiga. Mereka tahu bila Gusti Komang tak mungkin mendekati sumur itu. Apalagi keluarga sudah memasang turus bambu di sekitar sumur, agar orang lain tidak mudah mendekat.

“Gusmang trauma mendekati sumur itu. Sudah 20 tahun Gusmang tidak pernah mendekati sumur itu. Tidak mungkin dia mati di sana,” kata Biang Ayu histeris.

Sepekan kemudian, Luh Sekar digelandang ke kantor polisi. Polisi meyakini Gusti Komang tewas karena dibunuh.

“Hasil otopsi tim forensik menunjukkan tidak ada air di dalam paru-paru korban, sebagaimana lazimnya orang meninggal karena tenggelam. Sebaliknya tim forensik menemukan luka lebam di leher korban. Diduga korban meninggal karena dicekik,” kata seorang perwira kepolisian.

Hasil penyelidikan polisi menunjukkan, Gusti Komang diduga dibunuh Luh Sekar. Polisi menduga Luh Sekar melakukan pembunuhan berencana.

“Ada anomali dari hasil tes kejiwaan. Kami juga sedang membuka kembali kasus kecelakaan yang terjadi beberapa tahun lalu. Patut diduga tersangka adalah pelaku pembunuhan berseri,” imbuh polisi.

Di hadapan wartawan, Luh Sekar sama sekali tidak menyangkal pernyataan polisi. “Mereka hanya menginginkan aku jadi mesin pembuat anak. Lagi pula mereka sudah pernah mati. Aku hanya membantu mereka menemukan takdirnya,” kata Sekar. [T]

  • Cerpen ini hasil workshop cerpen sehari langsung jadi dalam acara Tatkala May May May 2022 yang digelar tatkala.co, Sabtu 21 Mei 2022.
Tags: CerpenTatkala May May May 2022
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perspektif “Sound and Sense” dalam Novel “Si Rarung” Karya Cok Sawitri

Next Post

HINDU BALI MURNI DARI BALI?

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

HINDU BALI MURNI DARI BALI?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co