3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HINDU BALI MURNI DARI BALI?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
May 31, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?
— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 Mei 2022

1. Ada kabar yang mengatakan terdapat sekelompok masyarakat Bali yang berkeyakinan (berspekulasi) bahwa ajaran Hindu Bali adalah ORIGINAL atau “murni Bali”.

Kepada kelompok ini perlu diajukan beberapa pertanyaan yang sekiranya perlu direnungkan dan pelajari sebelum dijawab:

  • Mpu Kuturan yang dipercaya sebagai pembawa ajaran dan peletak dasar kahyangan tiga di Bali berasal dari mana?
  • Sapta Rsi yang diakui sebagai leluhur Gotra Pasek berasal dari mana?
  • Dang Hyang Nirartha yang menjadi tokoh restorasi besar keagamaan Hindu Bali berasal dari mana?
  • Dang Hyang Astapaka yang secara teks diakui sebagai pewaris silsilah DIKSA BUDDHA-MAHAYANA di Bali berasal dari mana?

2. Semua lontar-lontar yang menyebutkan MPU KUTURAN, dengan sangat jelas memberi informasi bahwa Mpu Kuturan berasal dari Maspait atau Maospait, Jawa — harap dibedakan antara Maospait/ Maspait dan Majapahit.

Mpu Kuturan secara konsisten disebut berasal dari Maspait/ Maospait, yang mana menurut perkiraan adalah wilayah di sekitar Maospati sekarang, di barat Madiun dengan situs Prasasti Sendang Kamal, yang tak lain petirtan kuno — terletak di Dukuh Sumber Kelurahan Kraton, Kabupaten Magetan. Prasasti-prasasti besar di Sendang Kamal adalah bukti-bukti otentik bahwa wilayah ini adalah salah satu pusat spiritual Jawa dari era Mpu Sindok sampai setidaknya era Dharmawangsa Teguh, cucu Mpu Sindok, dan kemungkinan masih menjadi sentral kepanditaan di era Raja Airlangga.

Dari Maspait/ Maospait, Mpu Kuturan pindah ke Bali. Ia menjadi pembawa ajaran parahyangan atau perintis pembuatan Pura atau Parahyangan di Bali.

Dalam lontar-lontar disebutkan bahwa ajaran yang dibawa oleh Mpu Kuturan adalah pedoman Parahyangan yang dipakai di Jawa. Jadi ajaran tersebut bukan ajaran baru, tetapi ajaran atau paham yang telah implementasikan di Jawa. Ini yang dibawa ke Bali dan disemaikan, digetuk-tularkan, dibumikan, di tanah Bali.

Lontar yang memuat teks ajaran Mpu Kuturan — atau dalam lontar disebut sebagai PANUGRAHAN KUTURAN — yang berjudul INDIK NGANGUN PARAHYANGAN (Perihal Membangun Kawasan Suci dan Pura) membicarakan warisan pemikiran Mpu Kuturan yang paling pokok. Lontar-lontar PANUGRAHAN KUTURAN ini berisi berbagi aturan membangun desa yang berporos pada parahayangan/pusat pemujaan. Desa pertama-tama harus punya titik pivot, sekala-nisaka, yang mana berupa perempatan jalan, atau titik strategis balai desa dan atau parahyangan (Pura Pagaduhan, Bale Agung, atau Puseh Desa). Parahyangan sebagai “penyangga” sebuah desa dan kelangsungan dari sebuah tatanan masyarakat, dari bagaimana secara kohesif menata dirinya, bekerjasama dalam pola gotong-royong, ayahan desa, kepemilikan, yang secara konsepsi terintegrasi secara teoloigis dalam apa yang kita kenal sebagai konsep dan penataan desa dalan Tri Parahyangan (Kayangan).

PARAHYANGAN artinya tatanan Hyang (pura beserta para Hyang yang dimuliakan atau dipuja). Secara lisan, setiap kali percakapan terkait desa pakraman dan penataannya, tidak bisa-tidak, nama Mpu Kuturan disebutkan.

Mpu Kuturan adalah tokoh besar dalam sejarah keagamaan di Bali yang jelas berasal dari Jawa, yang konsepsinya bertitik tumpu pada ikatan pakraman dan kahyangan (puseh desa) dan rentangnya sampai subak, tatanan masyarakat Bali menjadi satu kesatuan antar sistem pertanian, sistem religi, dan penata kelolaan sosiol Bali Kuno.

Dalam masa penataan Mpu Kuturan di Bali, disebutkan kalender masyarakat Bali ditata dalam kalender ritual yang siklik atau siklusnya datang setiap 210 hari, dan bertemu dengan dalam sistem purnama-tilem. Ini yang disebut sebagai odalan atau karya yang memberikan kesempatan warga untuk bertemu atau berjumpa dalam pengaturan yang rapi dan berdasarkan kalender.

Berdasar ajaran penataan kawasan INDIK NGANGUN PARAHYANGAN yang dibawa oleh Mpu Kuturan tersebutlah, sampai saat ini, semua krama wajib menjadi bagian dari desa pakraman, dan desa pakraman sebagai menyangga Parahyangan. Dalam tataran praksis, desa ada di Bali adalah desa Hindu. Krama atau anggota desa harus tahu dan sadar urusan lingkungan dan tata letak keruangan yang sangat tertib (secara konsepsi dikenal sebagai Tri Mandala) terintegrasi dalam Tri Kahyangan, yang tidak lain adalah penjabaran praksis konsepsi Tri Murti yang merupakan bagian dari implementasi dari teologi Tri Purusa.

3. BABAD PASEK menyebutkan secara rinci kedatangan para Rsi dari Jawa ke Bali. Para Rsi tersebut selanjutnya beranak cucu menjadi bagian dari trah atau gotra Pasek Gelgel, dan keluarganya.

Perlu dicatat bahwa sistem kepasekan yang disebarkan Pasek Gelgel sedikit berbeda dengan Pasek Kayu Selem yang menyatakan sebagai kepasekan yang lebih kuno.

BABAD PASEK di bagian awalnya menyebutkan PANCA PANDITA terdiri dari: Sang Brahmana Pandhita (Mpu Gnijaya), Mpu Mahameru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, Mpu Bradah.

Sang Hyang Pasupati memerintahkan kelima cucunya atau dikenal sebagai Sang Panca Pandita tersebut, agar pergi ke Bali, memberikan tuntunan batin. Artinya mereka awalnya tidak tinggal di Bali. Tetapi ditugaskan ke Bali oleh Hyang Pasupati — Penting untuk membaca kembali sejarah leluhur para Rsi di Bali yang tidak terpisahkan dengan kerajaan Jawa dan Hindu Jawa Kuno.

Keluarga Rsi tersebut sempat tinggal di Pejarakan Jawa – terutama MPU BHARADAH & MPU GNIJAYA TINGGAL DI PEJARAKAN. Di sana berjumpa Airlangga.

Ketika melakukan perjalanan ke Bali, para rsi melalui kerajaan Daha, di sana berjumpa raja bernama Sri Erlangghya. Raja mohon supaya Sang Panca Resi bersedia tinggal di sana. Setelah diadakan perundingan, maka Mpu Gnijaya dan Mpu Bhradah tinggal di sana, sementara Mpu Mahameru langsung ke Bali, disusul Mpu Gana dan Mpu Kuturan. Mpu Bharadah mendampingi kakaknya Mpu Ghenijaya, sementara berkahyangan di Pajarakan, Jawadwipa, tidak ke Bali. Selanjutnya, dalam berbagai babad dan teks tertulis lain disebutkan bahwa Mpu Bharadah menjadi penasehat utama dari Raja Airlangga.

BABAD PASEK secara rinci mencatat tahun kedatangan MPU MAHAMERU, MPU GANA & MPU KUTURAN ke Bali.

  • Mpu Mahameru pada hari Jumat Kliwon Wuku Pujut, hari kelima belas paruh bulan gelap sekitar bulan Nopember 990 Masehi berkahyangan di Besakih.
  • Mpu Gana sampai di Bali pada hari Senin Kliwon Wuku Kuningan pada hari ketujuh paruh bulan terang sekitar bulan April 997 Masehi, berkahyangan di Pura Dasar Gelgel.
  • Mpu Kuturan sampai di Bali pada hari Rabu Keliwon wuku Pahang hari keenam paruh bulan terang sekitar bulan Sepetember 1000 Masehi, berkahyangan di Silayukti.

Tahun-tahun tersebut sangat penting dilihat dari beberapa data efigrafi yang ditemukan di Bali dimana periode ini adalah masa pemerintahan Raja Udayana dan Mahendradatta atau dikenal sebagai Gunapriya Dharmapatni.

Beberapa tahun kemudian, MPU GNIJAYA ikut ke Bali.

Disebutkan, setelah Mpu Gnijaya memberikan ilmu kepada para putranya beliau pergi ke Bali dan sampai di Silayukti pada hari Kamis Paing Wuku Medhangsya hari pertama paruh bulan terang sekitar bulan Juli 1058. Di sana beliau disambut oleh adik beliau Mpu Kuturan (Tahun kedatangan Mpu Kuturan tahun 1000 dengan kedatangan Mpu Gnijaya tahun 1058 cukup jauh, berjarak 58 tahun, apakah keduanya dalam usia sangat sepuh? Kemungkinan telah berumur di atas 80-an tahun?).

Mpu Dari Silayukti beliau melanjutkan perjalanan ke Besakih diantar oleh Mpu Kuturan. Disebutkan di Besukih diadakan pertemuan membahas kepanditaan. Selesai pertemuan para rsi itu pulang ke tempat masing-masing. Mpu Gnijaya menuju Lempuyang.

Perjalanan Mpu Bradah ke Bali disebutkan membawa misi kerajaan dan kekeluargaan.

—  Mpu Bhradah ke Bali untuk menengok kakak-kakak beliau dan sampai di Silayukti diterima oleh Mpu Kuturan. Setelah itu Mpu Bhradah melanjutkan perjalanan ke Dasar Gelgel menghadap Mpu Gana. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Besukih menghadap Mpu Mahameru. Terakhir menuju Lempuyang menghadap Mpu Gnijaya. Dari sini kembali ke Daha.

— Dalam sumber lontar lain menyebutkan bahwa Mpu Bharadah ke Bali diutus dan mengemban misi Raja Erlangga. Ia ditugasi meminta kembali Bali sebagai bagian dari kekuasaannya — Airlangga ayahnya Udayana, dari Bali tapi menjadi raja di Jawa.  Airlangga ingin Bali diperintah salah satu anaknya, tetapi ditolak oleh Mpu Kuturan karena disebutkan calon raja Bali adalah salah satu cucu Mpu Kuturan — masih terhitung cucunya, kemungkinan yang dimaksud adalah Anak Wungsu.

4. Dang Hyang Nirartha (DHN) jelas disebutkan dari Jawa.

—  Kitab-kitab suci yang dibawa dari Jawa oleh DHN menjadi acuan diksa dan kependetaan Siwa di Bali sampai hari ini.

—  Keturunan DHN sampai hari ini masih secara teguh melaksanakan sebagian besar ajaran suci yang diwariskannya. Demikian juga kitab-kitab suci yang diwariskan ke Bendesa Mas, dan berbagai satria Bali lainnya, masih menjadi acuan ritual atau keagamaan Hindu di Bali.

— Diksa, puja-mantra, ritus suci para pedanda keturunan DHN tersebut yang disebutkan dibawa dari garis silsilah Bharata Warsa menjadi menarik diteliti.

Dimana sebenarnya asal leluhur DHN?

Silahkan membaca Babad Brahmana Kemenuh atau Dwijendra Tatwa bagian awalnya disebutkan silsilah gotra atau garis silsilah leluhur ke atas dari DHN.

Dalam Dwijendra Tatwa dan Babad Brahmana Kemenuh sangat jelas apa kontribusi agung DHN yang berleluhur Jawa dan Bharata Warsa tersebut. Kitab-kitab dan pedoman kependetaan serta kesastraan peninggalan DHN menjadi acuan keagamaan dan kesastraan Hindu di Bali sampai saat ini. Setidaknya menjadi acuan wajib internal trah atau garis diksa yang merujuk pada Bhatara Lelangit (sebutan hormat di kalangan internal trah keturunan DHN untuk DHN).

Diksa-diksa di Bali, sampai saat ini, yang resmi mengikuti DIKSA atau PODGALA ŚIWA yang embrio atau cikal-bakal teks pedoman dan praktek diksanya adalah WARISAN DANG HYANG NIRARTHA (Bhatara Lelangit).

Pura-pura seantero Bali di masanya kembali direstorasi oleh DHN. Jasa Bhatara Lelangit yang datang dari Jawa ini tidak bisa dihilangkan begitu saja dengan mengatakan bahwa Hindu Bali murni berasal dari Bali.

5. Dang Hyang Astapaka yang disebut sebagai pewaris garis DIKSA BUDDHA, yang berpusat di Budakeling Bali, dengan kitab-kitab warisan yang beredar, dipedomani, dipraktekkan dan dijaga silsilahnya di Budekeling dan griya-griya Buddha di Bali, jelas terkait dengan “dunia luar Bali”. Punya keterkaitan teks dan puja dengan berbagai teks dan khususnya stawa yang terkait dengan Borobudur dan Mendut.

Bukan hanya kitab Sang Hyang Kamahayanikan yang dipercaya sebagai pedoman penyusunan Borobudur yang terselamatkan di Budakeling, tetapi praktek puja dan DIKSA masih ajeg sampai kini dalam tradisi aguron-guron Buddha Mahayana di Budakeling.

Jika ingin belajar muasal ajaran Buddha di Bali silahkan melawat ke titik-titik ini dan periksa koleksi naskahnya:

  • Griya Bodha, Banjar Angkan, Gianyar
  • Griya Dalem Setra, Batuan
  • Griya Dlod Peken, Sanur (Badung)
  • Griya Anyar, Sibang Kaja (Badung)
  • Griya Liligundi (Buleleng)
  • Griya Datah, Batuan
  • Griya Djadi, Tabanan
  • Griya Krotok, Boda Kling (Karang Asĕm)
  • Griya Subagan (Karang Asĕm)
  • Griya Bodha, Sukawati, Gianyar

Sebelum melawat dan membaca warisan naskah-naskah kebuddhaan yang disimpan di sana, sebaiknya tidak berteori atau bersiteguh dan bersitegang dengan asumsi.

6. Jika ada sekelompok masyarakat Bali yang mengatakan Hindu Bali murni atau ORIGINAL (?) dari Bali, silahkan kembali membaca lapis-lapis kedatangan pendatang dari Jawa yang hijrah ke Bali. Silahkan membaca kitab-kitab yang dibawa dari Jawa oleh MPU KUTURAN, keluarga atau gotra PARA RSI LELUHUR PASEK GELGEL dkk, yang termasyur sebagai perumus sistem keagamaan di era tersebut. Silahkan kembali membaca berbagai kitab-kitab warisan DANG HYANG NIRARTHA. Termasuk, jika runut dan mendalam mengikuti dan mengamati, harus jujur mengakui bahwa diksa di Bali yang dominan sekarang adalah bersumber dari Dang Hyang Nirartha, dan sebagian dari DANG HYANG ASTAPAKA.

Jika kedatangan para suci dari Jawa tersebut dipungkiri, atau masih beranggapan bahwa agama yang berkembang di Bali adalah atau murni Bali (dharmic original), pertanyaannya: Mau dikemanakan para Mpu Suci yang membawa ajaran dari Jawa tersebut?

Dalam dalam catatan ini saya MEMPERINGATKAN kepada pihak-pihak yang mencatut nama besar I GUSTI BAGUS SUGRIWA yang mengatakan bahwa beliau pernah menyatakan bahwa Hindu Bali adalah “murni Bali”. Tidak pernah. Saya kebetulan mengumpulkan karya-karya tulis beliau semenjak tahun 1995, dan belakangan bersama putra dan cucu dari beliau selama beberapa tahun melakukan pembacaan bersama warisan pemikiran beliau. Justru I Gusti Bagus Sugriwa adalah tokoh Hindu Bali yang pakar tiada tanding di masanya prihal kesusastraan Jawa Kuno atau Kawi yang mengatakan bahwa ajaran Hindu Bali tidak terpisahkan dengan teks dan naskah-naskah Jawa Kuno. Semua ajaran yang diturunkan oleh beliau merujuk atau bereferensi pada peninggalan sastra Jawa Kuno. Puluhan buku dan berseri-seri terbitan terjemahan berbagai karya sastra Jawa Kuno adalah mata air dari pemikiran-pemikiran beliau. Dan, sekali lagi, tidak satu atau sekalipun I Gusti Bagus Sugriwa mengatakan bahwa Hindu Bali adalah “murni Bali”.

Di masa lalu, hampir bisa dipastikan tidak ada orang Bali atau non Bali yang berani cawe-cawe menafsir Hindu Bali tanpa membaca dan punya pemahaman kuat pada tatwa dan sastra Kawi/Jawa Kuno dan Sansekerta yang sebagian besar dirumuskan di Jawa, terselamatkan di Bali. Apa yang dirumuskan di Jawa tersebut, kemudian dipertahankan dan diadaptasi, serta dikembangkan di Bali.

Harus jujur diakui — terutama kalau paham stuti dan stawa yang dipakai dalam kepanditaan di Bali — kandungan ajaran dan pedoman puja Hindu Bali syarat dan “tebal” bermuatan teks Weda dan Upanisad. Terutama Purana yang ditulis di wilayah Jawa dengan pengantar bahasa Jawa Kuno atau Kawi. Yang mana kitab-kitab tersebut punya hubungan intertekstualitas yang mendalam dengan teks-teks dari lingkar peradabanan kuno yang disebut sebagai peradaban Bhatara Warsa.[T]

Tags: hinduHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seperti Apa Rasanya Mati? | Cerpen Eka Prasetya

Next Post

15 Tahun Sudah, Kembali ke Rumah Kembali ke Sekolah | Cerita Reuni Alumni 2007 SMANSA Singaraja

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
15 Tahun Sudah, Kembali ke Rumah Kembali ke Sekolah | Cerita Reuni Alumni 2007 SMANSA Singaraja

15 Tahun Sudah, Kembali ke Rumah Kembali ke Sekolah | Cerita Reuni Alumni 2007 SMANSA Singaraja

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co