3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membicarakan “Gagal Menjadi Manusia” di Emperan Toko di Tokyo

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
April 23, 2022
in Esai
Membicarakan “Gagal Menjadi Manusia” di Emperan Toko di Tokyo

Malam-malam di emperan toko di Tokyo adalah malam serupa bir Sapporo Yebisu—ia tak pernah berhenti meletup dan mendidih di kepalaku. Jika hari esok adalah kecipak mulut, rasa yang ditinggalkan Tokyo adalah kenangan-kenangan sebelum meminumnya. Saat itu pukul sembilan malam, aku berdiri di sebelah pintu masuk FamilyMart Kandaeki Higasiguchi (begitu seingatku namanya). Sebagai orang yang tinggal di desa yang dihuni tak lebih dari sembilan puluh lima kepala keluarga, melihat Tokyo dan orang-orang yang lalu lalang, dengan terburu-buru, dan mendecak mulutnya ketika orang di depannya lelet, membuat isi kepalaku meleleh berhamburan—serupa bir Sapporo Yebisu yang dikocok tanpa botol penutupnya.

Tokyo tampak seperti biasanya—maksudku, tampak memang seperti apa-apa yang kalian lihat di internet. Lampu-lampu, orang-orang yang jalan kaki menenteng tas dan hal-hal jamak lainnya tentang Tokyo, memang begitu yang ada di depan mataku. Tak ada keramaian yang dibuat-buat semacam gerak jalan, parade agustusan dan lain sebagainnya; aku tahu ini tempat yang berbeda, tapi ketahuilah, tak ditemukan hal semacam itu di depan mataku di sini. Hari ini aku ada janji bertemu dengan Dazai Osamu. Aku pikir beruntung adalah kata yang paling tepat untuk menjelaskan hal ini. Bertemu dengan orang yang lebih menyukai menghabiskan waktu membaca buku di kamarnya seharian penuh dan menolak mekanisme hidup alami manusia—kata apalagi yang paling tepat untuk menggambarkan ketika dia mau bertemu denganku? Aku pikir ini berkat Horiki juga. 

Petani dan Musang | Dongeng dari Jepang

Horiki adalah teman lama Osamu yang dia temui di bengkel lukis di Tokyo. Temanku juga, dulu kami tak sengaja bertemu di Facebook, berteman setelah aku mengunggah satu komentar kecil dengan foto, tentang buku yang kubaca dan yang aku pikir bagus. Kalau tak salah ingat, itu buku yang berhubungan dengan komunisme. Dulu, aku lupa kapan tepatnya—aku pikir tidaklah terlalu lama, Osamu sempat menceritakan padaku soal Horiki ini. Dia mengatakan kalau Horiki adalah orang yang suka bersolek dengan modernitas kosong, yang senang ikut diskusi bawah tanah kelompok sayap kiri di Tokyo. Meskipun dia sejatinya tak mengerti-mengerti amat apa yang sejatinya didiskusikan kelompok itu. Jika penganut marxisme sungguhan mengetahui hal ini, bisa dipastikan mereka akan dengan seketika menendang Horiki terlebih dahulu.

Mungkin kalian merasa aneh, kenapa Osamu begitu terbuka denganku, tapi ketahuilah—apakah kalian pernah curiga; kenapa buaya bisa berbicara dengan kancil dalam sebuah dongeng tentang kancil yang ingin menyeberangi sungai? Serupa pendongeng itu, aku tak menjelaskan dari awal kenapa mereka bisa berbicara. Oleh karena itulah tujuanku. Aku ingin mempersingkat ceritanya, selain memang karena aku pikir pertemuanku tak terlalu spesial karena Osamu adalah teman dari temanku. Jadi, kalau tak ada Horiki, sudah pasti aku tak mengenal Osamu.

Osamu dan Horiki datang. Langkah kaki Horiki lebih cepat dari Osamu. Dia melambaikan tangan ke arahku diikuti gegas lari seolah tak ingin membuatku menunggu lebih lama lagi.

“Sampai kapan di Tokyo?” Horiki mengawali sembari menepuk-nepuk lenganku.

“Mungkin seminggu kedepan,” jawabku sembari tersenyum.

“Akhirnya kita bertemu secara langsung ya,” ungkapnya. 

Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

Aku pikir soal muka Horiki yang jelek diikuti sarannya perihal tak penting bersekolah karena pathos guru adalah alam, yang aku dapat dari Osamu, aku pikir hanya karang-karangannya sebelum kita bertemu. Ternyata benar. Apa yang dikatakannya benar.

Osamu mendekat dan kini kita sama-sama berdiri.

“Apa tidak sebaiknya kita membeli bir dulu? Sehingga bisa ngobrol dengan ringan dan kemana-mana?” bujuknya.

“Iya, boleh, kamu mau bir?” tanyaku pada Osamu sembari menunjuknya.

Dia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Bah! Bakal susah ngobrol kalau begini, pikirku dalam hati.

“Kolekan beberapa yen dong,” perintah Horiki menengadahkan tangannya.

Tak butuh waktu lama, Osamu dan aku memberi apa yang diminta Horiki. Seperti tak ingin membuang waktu sedikit pun, ia bergegas masuk.

Kini hanya aku dan Osamu yang menunggu di luar.

“Aku sempat membaca bukumu, nyaris keseluruhan,” kataku mencoba membuka percakapan.

“Hai! Arigatōgozaimashita, Juli.”

Aku menyesal mengatakan nyaris keseluruhan. Aku pikir itu sikap awal yang congkak yang aku tunjukkan.

“Gagal Menjadi Manusia adalah buku pertamamu yang aku baca. Buku itu pula yang membuatku kemudian selalu membaca tulisanmu. Eh bukan yang pertama sekali, pernah dalam bahasa Inggrisnya.”

Osamu kembali tersenyum sembari sesekali menatapku. “Kamu tampak suka memuji orang lain,” simpulnya.

Bah! Bisa-bisanya dia berpikiran begitu.  

“Hei! Kamerad,” teriak Horiki keluar dari toko menenteng tiga botol bir.

Memang benar, Horiki ini sungguh ajaib. Dia memiliki kemampuan menikmati sesuatu dengan maksimal, dengan jumlah uang yang minimal!

“Apa kita akan memantapkan malam ini dengan sambil mengunyah sushi?” harapnya.

Osamu terdiam, dia tampak menunggu kalimat yang keluar dari mulutku.

Oh, Jadi, Ini yang Namanya Makan Gaji Buta? | Kabar dari Jepang

Aku tertawa mengingat tak ada yang menjawab. “Apa kita mau makan sushi di belakang Gazi?” usulku. Uangku tak banyak, aku mesti memilih tempat yang paling memungkinkan untuk ditolak sehingga rencana itu batal. Aku pernah mendengar satu dari mereka berkomentar kalau sushi yang aku usulkan rasanya tak enak, potongannya terlalu besar melebihi jempol ibu jari orang dewasa. Selain itu, kepala penjualnya botak pula tak ubahnya ular pemakan tikus.

“Kalau di sana, mungkin kita kapan-kapan saja. Apa duduk dulu di sini?” saran Horiki.

“Aku pikir juga begitu!” timbrungku.

Osamu tampak mengangguk-anggukan kepalanya tampak sepakat.

“Ini bir kalian,” terang Horiki sembari membagikan birnya. “Kalian sudah saling baca tulisan belum sih?” tanya Horiki menoleh ke arahku lalu menyusul ke arah Osamu.

“Sudah. Aku pikir membaca keseluruhan karya-karyanya adalah serupa menonton sirkus masygul. Kisah-kisah yang dia tunjukkan pepat oleh rentetan kesengsaraan. Aku menyukainya, terlebih sikap sinisnya—pada penulis lain, orang-orang yang tak dia sukai, atau bahkan pada hidupnya sendiri.”

“Apa memang kalau penulis ketemu penulis itu saling puji ya?” sindir Horiki memotong.

Aku sontak tertawa dan hampir menyemburkan bir di mulutku ke wajahnya. Ini manusia memang ngeselinnya ampun-ampunan!

“Tidak juga. Maksudku, tidak tentu. Kamu pasti belum membacanya?” terkaku.

“Ingin, cuma belum sempat. Aku dengar anak kalem ini meledekku dalam bukunya ya?”

Aku kembali tertawa.

“Iya, cuma di pertengahan saja. Itu buku sedih. Kamu bisa tanya dia. Aku pikir ini INovel. Satu istilah yang dipilih beberapa orang untuk menggambarkan jenisnya. Novel yang ditulis penulis tentang kisahnya sendiri. I-novel (私小説, Shishōsetsu, Watakushi Shōsetsu) adalah genre sastra dalam sastra Jepang yang digunakan untuk menggambarkan jenis sastra pengakuan di mana peristiwa dalam cerita sesuai dengan peristiwa dalam kehidupan penulis. Genre ini didirikan berdasarkan penerimaan naturalisme Jepang selama periode Meiji, dan kemudian mempengaruhi sastra di negara-negara Asia lainnya juga. Genre sastra ini mencerminkan individualitas yang lebih besar dan metode penulisan yang tidak terlalu dibatasi. Sejak awal, I-novel telah menjadi genre yang juga dimaksudkan untuk mengekspos aspek masyarakat atau kehidupan penulis,” terangku.

“Lengkap ya!” candanya.

“Wikipedia juga banyak bilang begitu,” seruku.

“Ya terus terus?” timpal Horiki. 

“Ya Osamu tidak menggunakan namanya langsung di sana. Dia menggunakan nama Oba Yozo. Karena kuat dugaanku kamu belum membacanya, aku tak akan menjelaskannya begitu detail, tapi semoga informasi ini sedikit membantumu. Bentar, boleh pinjam korekmu?” mohonku. 

“Walah, oke oke” jawabnya sembari merogoh korek dari sakunya dan memberinya padaku.

Aku menerimanya, melihatnya. Ada juga korek cricket di sini ya. Lalu menyalakan rokokku.

“Boleh satu?” tanya Horiki menjulurkan tangan menyerupai capit kepiting ke bungkus rokokku.

“Boleh dong,” timpalku sembari menyodorkan rokoknya.

“Ya lalu bagaimana?” tanya Horiki yang kini menjepitkan rokok pada kedua mulutnya.

“Gagal Menjadi Manusia ini dibagi dalam tiga bagian kisah. Dimulai dari masa kecil Obo Yozo, lalu tumbuh dewasa dan dihadapkan dengan masalah-masalah pelik yang menyertainya. Aku kadang takut kini melihat orang-orang yang dihadapan banyak orang tampak lucu, menggemaskan dan tertawa terbahak-bahak. Kita tak pernah tahu apa yang ada di balik tawanya. Bisa saja sakit dan luka dalam dirinya perlahan menggerogoti, dan orang-orang ini menyembunyikan di balik senyumnya dan tawanya. Itu yang dilakukan Obo Yozo dalam ceritanya. Obo Yozo itu seorang pria muda depresi yang merasa dibedakan secara negatif oleh konsep dirinya, kecemasan sosial, dan pengalaman dengan pelecehan seksual, kemiskinan, kecanduan, dan bunuh diri. Pengantar buku itu menyarankan untuk membacanya secara perlahan, dan aku sangat setuju dengan hal itu. Semakin kamu membaca, semakin dekat perasaan memalukan Obo Yozo pada dirinya,” jelasku.

“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

Horiki mengangguk-angguk tampak mengerti. “Kamu gimana? Kok diam saja!” komentar Horiki sembari mencolek Osamu yang ada di sebelahnya. Osamu tersenyum, menenggak birnya, mengerucutkan mulutnya tampak merasakan kecut. “Jawaban apa yang kamu harapkan dari mulutku?” candanya.

“Apa ajalah. Ngomong kek, apa gitu!” omel Horiki.

“Menurutku lagi,” potongku. “Menurutku novel ini detail banget mengungkapkan perasaan yang carut marut mengaduk-aduk perasaan.” Kini aku tampak cukup berlebihan. “Kamu menceritakan hidupmu dengan cara yang paling tidak membosankan. Dan aku pikir, sesekali waktu orang lain penting membaca karyamu,” terangku sembari menatapnya.

Aku menenggak birku di tangan lalu menginjak puntung rokokku. [T]

  • Bersambung
Tags: BukuDongeng JepangJepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Trekking Dulu Lewat Pematang, Lalu Temukan Air Terjun Tanah Putih di Desa Galungan

Next Post

Para “Maling” dari Kalangan Muda Menari Pada Arena Lomba Topeng Se-Bali di Mas Ubud

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Para “Maling” dari Kalangan Muda Menari Pada Arena Lomba Topeng Se-Bali di Mas Ubud

Para “Maling” dari Kalangan Muda Menari Pada Arena Lomba Topeng Se-Bali di Mas Ubud

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co