24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membicarakan “Gagal Menjadi Manusia” di Emperan Toko di Tokyo

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
April 23, 2022
in Esai
Membicarakan “Gagal Menjadi Manusia” di Emperan Toko di Tokyo

Malam-malam di emperan toko di Tokyo adalah malam serupa bir Sapporo Yebisu—ia tak pernah berhenti meletup dan mendidih di kepalaku. Jika hari esok adalah kecipak mulut, rasa yang ditinggalkan Tokyo adalah kenangan-kenangan sebelum meminumnya. Saat itu pukul sembilan malam, aku berdiri di sebelah pintu masuk FamilyMart Kandaeki Higasiguchi (begitu seingatku namanya). Sebagai orang yang tinggal di desa yang dihuni tak lebih dari sembilan puluh lima kepala keluarga, melihat Tokyo dan orang-orang yang lalu lalang, dengan terburu-buru, dan mendecak mulutnya ketika orang di depannya lelet, membuat isi kepalaku meleleh berhamburan—serupa bir Sapporo Yebisu yang dikocok tanpa botol penutupnya.

Tokyo tampak seperti biasanya—maksudku, tampak memang seperti apa-apa yang kalian lihat di internet. Lampu-lampu, orang-orang yang jalan kaki menenteng tas dan hal-hal jamak lainnya tentang Tokyo, memang begitu yang ada di depan mataku. Tak ada keramaian yang dibuat-buat semacam gerak jalan, parade agustusan dan lain sebagainnya; aku tahu ini tempat yang berbeda, tapi ketahuilah, tak ditemukan hal semacam itu di depan mataku di sini. Hari ini aku ada janji bertemu dengan Dazai Osamu. Aku pikir beruntung adalah kata yang paling tepat untuk menjelaskan hal ini. Bertemu dengan orang yang lebih menyukai menghabiskan waktu membaca buku di kamarnya seharian penuh dan menolak mekanisme hidup alami manusia—kata apalagi yang paling tepat untuk menggambarkan ketika dia mau bertemu denganku? Aku pikir ini berkat Horiki juga. 

Petani dan Musang | Dongeng dari Jepang

Horiki adalah teman lama Osamu yang dia temui di bengkel lukis di Tokyo. Temanku juga, dulu kami tak sengaja bertemu di Facebook, berteman setelah aku mengunggah satu komentar kecil dengan foto, tentang buku yang kubaca dan yang aku pikir bagus. Kalau tak salah ingat, itu buku yang berhubungan dengan komunisme. Dulu, aku lupa kapan tepatnya—aku pikir tidaklah terlalu lama, Osamu sempat menceritakan padaku soal Horiki ini. Dia mengatakan kalau Horiki adalah orang yang suka bersolek dengan modernitas kosong, yang senang ikut diskusi bawah tanah kelompok sayap kiri di Tokyo. Meskipun dia sejatinya tak mengerti-mengerti amat apa yang sejatinya didiskusikan kelompok itu. Jika penganut marxisme sungguhan mengetahui hal ini, bisa dipastikan mereka akan dengan seketika menendang Horiki terlebih dahulu.

Mungkin kalian merasa aneh, kenapa Osamu begitu terbuka denganku, tapi ketahuilah—apakah kalian pernah curiga; kenapa buaya bisa berbicara dengan kancil dalam sebuah dongeng tentang kancil yang ingin menyeberangi sungai? Serupa pendongeng itu, aku tak menjelaskan dari awal kenapa mereka bisa berbicara. Oleh karena itulah tujuanku. Aku ingin mempersingkat ceritanya, selain memang karena aku pikir pertemuanku tak terlalu spesial karena Osamu adalah teman dari temanku. Jadi, kalau tak ada Horiki, sudah pasti aku tak mengenal Osamu.

Osamu dan Horiki datang. Langkah kaki Horiki lebih cepat dari Osamu. Dia melambaikan tangan ke arahku diikuti gegas lari seolah tak ingin membuatku menunggu lebih lama lagi.

“Sampai kapan di Tokyo?” Horiki mengawali sembari menepuk-nepuk lenganku.

“Mungkin seminggu kedepan,” jawabku sembari tersenyum.

“Akhirnya kita bertemu secara langsung ya,” ungkapnya. 

Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

Aku pikir soal muka Horiki yang jelek diikuti sarannya perihal tak penting bersekolah karena pathos guru adalah alam, yang aku dapat dari Osamu, aku pikir hanya karang-karangannya sebelum kita bertemu. Ternyata benar. Apa yang dikatakannya benar.

Osamu mendekat dan kini kita sama-sama berdiri.

“Apa tidak sebaiknya kita membeli bir dulu? Sehingga bisa ngobrol dengan ringan dan kemana-mana?” bujuknya.

“Iya, boleh, kamu mau bir?” tanyaku pada Osamu sembari menunjuknya.

Dia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Bah! Bakal susah ngobrol kalau begini, pikirku dalam hati.

“Kolekan beberapa yen dong,” perintah Horiki menengadahkan tangannya.

Tak butuh waktu lama, Osamu dan aku memberi apa yang diminta Horiki. Seperti tak ingin membuang waktu sedikit pun, ia bergegas masuk.

Kini hanya aku dan Osamu yang menunggu di luar.

“Aku sempat membaca bukumu, nyaris keseluruhan,” kataku mencoba membuka percakapan.

“Hai! Arigatōgozaimashita, Juli.”

Aku menyesal mengatakan nyaris keseluruhan. Aku pikir itu sikap awal yang congkak yang aku tunjukkan.

“Gagal Menjadi Manusia adalah buku pertamamu yang aku baca. Buku itu pula yang membuatku kemudian selalu membaca tulisanmu. Eh bukan yang pertama sekali, pernah dalam bahasa Inggrisnya.”

Osamu kembali tersenyum sembari sesekali menatapku. “Kamu tampak suka memuji orang lain,” simpulnya.

Bah! Bisa-bisanya dia berpikiran begitu.  

“Hei! Kamerad,” teriak Horiki keluar dari toko menenteng tiga botol bir.

Memang benar, Horiki ini sungguh ajaib. Dia memiliki kemampuan menikmati sesuatu dengan maksimal, dengan jumlah uang yang minimal!

“Apa kita akan memantapkan malam ini dengan sambil mengunyah sushi?” harapnya.

Osamu terdiam, dia tampak menunggu kalimat yang keluar dari mulutku.

Oh, Jadi, Ini yang Namanya Makan Gaji Buta? | Kabar dari Jepang

Aku tertawa mengingat tak ada yang menjawab. “Apa kita mau makan sushi di belakang Gazi?” usulku. Uangku tak banyak, aku mesti memilih tempat yang paling memungkinkan untuk ditolak sehingga rencana itu batal. Aku pernah mendengar satu dari mereka berkomentar kalau sushi yang aku usulkan rasanya tak enak, potongannya terlalu besar melebihi jempol ibu jari orang dewasa. Selain itu, kepala penjualnya botak pula tak ubahnya ular pemakan tikus.

“Kalau di sana, mungkin kita kapan-kapan saja. Apa duduk dulu di sini?” saran Horiki.

“Aku pikir juga begitu!” timbrungku.

Osamu tampak mengangguk-anggukan kepalanya tampak sepakat.

“Ini bir kalian,” terang Horiki sembari membagikan birnya. “Kalian sudah saling baca tulisan belum sih?” tanya Horiki menoleh ke arahku lalu menyusul ke arah Osamu.

“Sudah. Aku pikir membaca keseluruhan karya-karyanya adalah serupa menonton sirkus masygul. Kisah-kisah yang dia tunjukkan pepat oleh rentetan kesengsaraan. Aku menyukainya, terlebih sikap sinisnya—pada penulis lain, orang-orang yang tak dia sukai, atau bahkan pada hidupnya sendiri.”

“Apa memang kalau penulis ketemu penulis itu saling puji ya?” sindir Horiki memotong.

Aku sontak tertawa dan hampir menyemburkan bir di mulutku ke wajahnya. Ini manusia memang ngeselinnya ampun-ampunan!

“Tidak juga. Maksudku, tidak tentu. Kamu pasti belum membacanya?” terkaku.

“Ingin, cuma belum sempat. Aku dengar anak kalem ini meledekku dalam bukunya ya?”

Aku kembali tertawa.

“Iya, cuma di pertengahan saja. Itu buku sedih. Kamu bisa tanya dia. Aku pikir ini INovel. Satu istilah yang dipilih beberapa orang untuk menggambarkan jenisnya. Novel yang ditulis penulis tentang kisahnya sendiri. I-novel (私小説, Shishōsetsu, Watakushi Shōsetsu) adalah genre sastra dalam sastra Jepang yang digunakan untuk menggambarkan jenis sastra pengakuan di mana peristiwa dalam cerita sesuai dengan peristiwa dalam kehidupan penulis. Genre ini didirikan berdasarkan penerimaan naturalisme Jepang selama periode Meiji, dan kemudian mempengaruhi sastra di negara-negara Asia lainnya juga. Genre sastra ini mencerminkan individualitas yang lebih besar dan metode penulisan yang tidak terlalu dibatasi. Sejak awal, I-novel telah menjadi genre yang juga dimaksudkan untuk mengekspos aspek masyarakat atau kehidupan penulis,” terangku.

“Lengkap ya!” candanya.

“Wikipedia juga banyak bilang begitu,” seruku.

“Ya terus terus?” timpal Horiki. 

“Ya Osamu tidak menggunakan namanya langsung di sana. Dia menggunakan nama Oba Yozo. Karena kuat dugaanku kamu belum membacanya, aku tak akan menjelaskannya begitu detail, tapi semoga informasi ini sedikit membantumu. Bentar, boleh pinjam korekmu?” mohonku. 

“Walah, oke oke” jawabnya sembari merogoh korek dari sakunya dan memberinya padaku.

Aku menerimanya, melihatnya. Ada juga korek cricket di sini ya. Lalu menyalakan rokokku.

“Boleh satu?” tanya Horiki menjulurkan tangan menyerupai capit kepiting ke bungkus rokokku.

“Boleh dong,” timpalku sembari menyodorkan rokoknya.

“Ya lalu bagaimana?” tanya Horiki yang kini menjepitkan rokok pada kedua mulutnya.

“Gagal Menjadi Manusia ini dibagi dalam tiga bagian kisah. Dimulai dari masa kecil Obo Yozo, lalu tumbuh dewasa dan dihadapkan dengan masalah-masalah pelik yang menyertainya. Aku kadang takut kini melihat orang-orang yang dihadapan banyak orang tampak lucu, menggemaskan dan tertawa terbahak-bahak. Kita tak pernah tahu apa yang ada di balik tawanya. Bisa saja sakit dan luka dalam dirinya perlahan menggerogoti, dan orang-orang ini menyembunyikan di balik senyumnya dan tawanya. Itu yang dilakukan Obo Yozo dalam ceritanya. Obo Yozo itu seorang pria muda depresi yang merasa dibedakan secara negatif oleh konsep dirinya, kecemasan sosial, dan pengalaman dengan pelecehan seksual, kemiskinan, kecanduan, dan bunuh diri. Pengantar buku itu menyarankan untuk membacanya secara perlahan, dan aku sangat setuju dengan hal itu. Semakin kamu membaca, semakin dekat perasaan memalukan Obo Yozo pada dirinya,” jelasku.

“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

Horiki mengangguk-angguk tampak mengerti. “Kamu gimana? Kok diam saja!” komentar Horiki sembari mencolek Osamu yang ada di sebelahnya. Osamu tersenyum, menenggak birnya, mengerucutkan mulutnya tampak merasakan kecut. “Jawaban apa yang kamu harapkan dari mulutku?” candanya.

“Apa ajalah. Ngomong kek, apa gitu!” omel Horiki.

“Menurutku lagi,” potongku. “Menurutku novel ini detail banget mengungkapkan perasaan yang carut marut mengaduk-aduk perasaan.” Kini aku tampak cukup berlebihan. “Kamu menceritakan hidupmu dengan cara yang paling tidak membosankan. Dan aku pikir, sesekali waktu orang lain penting membaca karyamu,” terangku sembari menatapnya.

Aku menenggak birku di tangan lalu menginjak puntung rokokku. [T]

  • Bersambung
Tags: BukuDongeng JepangJepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Trekking Dulu Lewat Pematang, Lalu Temukan Air Terjun Tanah Putih di Desa Galungan

Next Post

Para “Maling” dari Kalangan Muda Menari Pada Arena Lomba Topeng Se-Bali di Mas Ubud

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Para “Maling” dari Kalangan Muda Menari Pada Arena Lomba Topeng Se-Bali di Mas Ubud

Para “Maling” dari Kalangan Muda Menari Pada Arena Lomba Topeng Se-Bali di Mas Ubud

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co