24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membicarakan “Gagal Menjadi Manusia” di Emperan Toko di Tokyo

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
April 23, 2022
in Esai
Membicarakan “Gagal Menjadi Manusia” di Emperan Toko di Tokyo

Malam-malam di emperan toko di Tokyo adalah malam serupa bir Sapporo Yebisu—ia tak pernah berhenti meletup dan mendidih di kepalaku. Jika hari esok adalah kecipak mulut, rasa yang ditinggalkan Tokyo adalah kenangan-kenangan sebelum meminumnya. Saat itu pukul sembilan malam, aku berdiri di sebelah pintu masuk FamilyMart Kandaeki Higasiguchi (begitu seingatku namanya). Sebagai orang yang tinggal di desa yang dihuni tak lebih dari sembilan puluh lima kepala keluarga, melihat Tokyo dan orang-orang yang lalu lalang, dengan terburu-buru, dan mendecak mulutnya ketika orang di depannya lelet, membuat isi kepalaku meleleh berhamburan—serupa bir Sapporo Yebisu yang dikocok tanpa botol penutupnya.

Tokyo tampak seperti biasanya—maksudku, tampak memang seperti apa-apa yang kalian lihat di internet. Lampu-lampu, orang-orang yang jalan kaki menenteng tas dan hal-hal jamak lainnya tentang Tokyo, memang begitu yang ada di depan mataku. Tak ada keramaian yang dibuat-buat semacam gerak jalan, parade agustusan dan lain sebagainnya; aku tahu ini tempat yang berbeda, tapi ketahuilah, tak ditemukan hal semacam itu di depan mataku di sini. Hari ini aku ada janji bertemu dengan Dazai Osamu. Aku pikir beruntung adalah kata yang paling tepat untuk menjelaskan hal ini. Bertemu dengan orang yang lebih menyukai menghabiskan waktu membaca buku di kamarnya seharian penuh dan menolak mekanisme hidup alami manusia—kata apalagi yang paling tepat untuk menggambarkan ketika dia mau bertemu denganku? Aku pikir ini berkat Horiki juga. 

Petani dan Musang | Dongeng dari Jepang

Horiki adalah teman lama Osamu yang dia temui di bengkel lukis di Tokyo. Temanku juga, dulu kami tak sengaja bertemu di Facebook, berteman setelah aku mengunggah satu komentar kecil dengan foto, tentang buku yang kubaca dan yang aku pikir bagus. Kalau tak salah ingat, itu buku yang berhubungan dengan komunisme. Dulu, aku lupa kapan tepatnya—aku pikir tidaklah terlalu lama, Osamu sempat menceritakan padaku soal Horiki ini. Dia mengatakan kalau Horiki adalah orang yang suka bersolek dengan modernitas kosong, yang senang ikut diskusi bawah tanah kelompok sayap kiri di Tokyo. Meskipun dia sejatinya tak mengerti-mengerti amat apa yang sejatinya didiskusikan kelompok itu. Jika penganut marxisme sungguhan mengetahui hal ini, bisa dipastikan mereka akan dengan seketika menendang Horiki terlebih dahulu.

Mungkin kalian merasa aneh, kenapa Osamu begitu terbuka denganku, tapi ketahuilah—apakah kalian pernah curiga; kenapa buaya bisa berbicara dengan kancil dalam sebuah dongeng tentang kancil yang ingin menyeberangi sungai? Serupa pendongeng itu, aku tak menjelaskan dari awal kenapa mereka bisa berbicara. Oleh karena itulah tujuanku. Aku ingin mempersingkat ceritanya, selain memang karena aku pikir pertemuanku tak terlalu spesial karena Osamu adalah teman dari temanku. Jadi, kalau tak ada Horiki, sudah pasti aku tak mengenal Osamu.

Osamu dan Horiki datang. Langkah kaki Horiki lebih cepat dari Osamu. Dia melambaikan tangan ke arahku diikuti gegas lari seolah tak ingin membuatku menunggu lebih lama lagi.

“Sampai kapan di Tokyo?” Horiki mengawali sembari menepuk-nepuk lenganku.

“Mungkin seminggu kedepan,” jawabku sembari tersenyum.

“Akhirnya kita bertemu secara langsung ya,” ungkapnya. 

Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

Aku pikir soal muka Horiki yang jelek diikuti sarannya perihal tak penting bersekolah karena pathos guru adalah alam, yang aku dapat dari Osamu, aku pikir hanya karang-karangannya sebelum kita bertemu. Ternyata benar. Apa yang dikatakannya benar.

Osamu mendekat dan kini kita sama-sama berdiri.

“Apa tidak sebaiknya kita membeli bir dulu? Sehingga bisa ngobrol dengan ringan dan kemana-mana?” bujuknya.

“Iya, boleh, kamu mau bir?” tanyaku pada Osamu sembari menunjuknya.

Dia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Bah! Bakal susah ngobrol kalau begini, pikirku dalam hati.

“Kolekan beberapa yen dong,” perintah Horiki menengadahkan tangannya.

Tak butuh waktu lama, Osamu dan aku memberi apa yang diminta Horiki. Seperti tak ingin membuang waktu sedikit pun, ia bergegas masuk.

Kini hanya aku dan Osamu yang menunggu di luar.

“Aku sempat membaca bukumu, nyaris keseluruhan,” kataku mencoba membuka percakapan.

“Hai! Arigatōgozaimashita, Juli.”

Aku menyesal mengatakan nyaris keseluruhan. Aku pikir itu sikap awal yang congkak yang aku tunjukkan.

“Gagal Menjadi Manusia adalah buku pertamamu yang aku baca. Buku itu pula yang membuatku kemudian selalu membaca tulisanmu. Eh bukan yang pertama sekali, pernah dalam bahasa Inggrisnya.”

Osamu kembali tersenyum sembari sesekali menatapku. “Kamu tampak suka memuji orang lain,” simpulnya.

Bah! Bisa-bisanya dia berpikiran begitu.  

“Hei! Kamerad,” teriak Horiki keluar dari toko menenteng tiga botol bir.

Memang benar, Horiki ini sungguh ajaib. Dia memiliki kemampuan menikmati sesuatu dengan maksimal, dengan jumlah uang yang minimal!

“Apa kita akan memantapkan malam ini dengan sambil mengunyah sushi?” harapnya.

Osamu terdiam, dia tampak menunggu kalimat yang keluar dari mulutku.

Oh, Jadi, Ini yang Namanya Makan Gaji Buta? | Kabar dari Jepang

Aku tertawa mengingat tak ada yang menjawab. “Apa kita mau makan sushi di belakang Gazi?” usulku. Uangku tak banyak, aku mesti memilih tempat yang paling memungkinkan untuk ditolak sehingga rencana itu batal. Aku pernah mendengar satu dari mereka berkomentar kalau sushi yang aku usulkan rasanya tak enak, potongannya terlalu besar melebihi jempol ibu jari orang dewasa. Selain itu, kepala penjualnya botak pula tak ubahnya ular pemakan tikus.

“Kalau di sana, mungkin kita kapan-kapan saja. Apa duduk dulu di sini?” saran Horiki.

“Aku pikir juga begitu!” timbrungku.

Osamu tampak mengangguk-anggukan kepalanya tampak sepakat.

“Ini bir kalian,” terang Horiki sembari membagikan birnya. “Kalian sudah saling baca tulisan belum sih?” tanya Horiki menoleh ke arahku lalu menyusul ke arah Osamu.

“Sudah. Aku pikir membaca keseluruhan karya-karyanya adalah serupa menonton sirkus masygul. Kisah-kisah yang dia tunjukkan pepat oleh rentetan kesengsaraan. Aku menyukainya, terlebih sikap sinisnya—pada penulis lain, orang-orang yang tak dia sukai, atau bahkan pada hidupnya sendiri.”

“Apa memang kalau penulis ketemu penulis itu saling puji ya?” sindir Horiki memotong.

Aku sontak tertawa dan hampir menyemburkan bir di mulutku ke wajahnya. Ini manusia memang ngeselinnya ampun-ampunan!

“Tidak juga. Maksudku, tidak tentu. Kamu pasti belum membacanya?” terkaku.

“Ingin, cuma belum sempat. Aku dengar anak kalem ini meledekku dalam bukunya ya?”

Aku kembali tertawa.

“Iya, cuma di pertengahan saja. Itu buku sedih. Kamu bisa tanya dia. Aku pikir ini INovel. Satu istilah yang dipilih beberapa orang untuk menggambarkan jenisnya. Novel yang ditulis penulis tentang kisahnya sendiri. I-novel (私小説, Shishōsetsu, Watakushi Shōsetsu) adalah genre sastra dalam sastra Jepang yang digunakan untuk menggambarkan jenis sastra pengakuan di mana peristiwa dalam cerita sesuai dengan peristiwa dalam kehidupan penulis. Genre ini didirikan berdasarkan penerimaan naturalisme Jepang selama periode Meiji, dan kemudian mempengaruhi sastra di negara-negara Asia lainnya juga. Genre sastra ini mencerminkan individualitas yang lebih besar dan metode penulisan yang tidak terlalu dibatasi. Sejak awal, I-novel telah menjadi genre yang juga dimaksudkan untuk mengekspos aspek masyarakat atau kehidupan penulis,” terangku.

“Lengkap ya!” candanya.

“Wikipedia juga banyak bilang begitu,” seruku.

“Ya terus terus?” timpal Horiki. 

“Ya Osamu tidak menggunakan namanya langsung di sana. Dia menggunakan nama Oba Yozo. Karena kuat dugaanku kamu belum membacanya, aku tak akan menjelaskannya begitu detail, tapi semoga informasi ini sedikit membantumu. Bentar, boleh pinjam korekmu?” mohonku. 

“Walah, oke oke” jawabnya sembari merogoh korek dari sakunya dan memberinya padaku.

Aku menerimanya, melihatnya. Ada juga korek cricket di sini ya. Lalu menyalakan rokokku.

“Boleh satu?” tanya Horiki menjulurkan tangan menyerupai capit kepiting ke bungkus rokokku.

“Boleh dong,” timpalku sembari menyodorkan rokoknya.

“Ya lalu bagaimana?” tanya Horiki yang kini menjepitkan rokok pada kedua mulutnya.

“Gagal Menjadi Manusia ini dibagi dalam tiga bagian kisah. Dimulai dari masa kecil Obo Yozo, lalu tumbuh dewasa dan dihadapkan dengan masalah-masalah pelik yang menyertainya. Aku kadang takut kini melihat orang-orang yang dihadapan banyak orang tampak lucu, menggemaskan dan tertawa terbahak-bahak. Kita tak pernah tahu apa yang ada di balik tawanya. Bisa saja sakit dan luka dalam dirinya perlahan menggerogoti, dan orang-orang ini menyembunyikan di balik senyumnya dan tawanya. Itu yang dilakukan Obo Yozo dalam ceritanya. Obo Yozo itu seorang pria muda depresi yang merasa dibedakan secara negatif oleh konsep dirinya, kecemasan sosial, dan pengalaman dengan pelecehan seksual, kemiskinan, kecanduan, dan bunuh diri. Pengantar buku itu menyarankan untuk membacanya secara perlahan, dan aku sangat setuju dengan hal itu. Semakin kamu membaca, semakin dekat perasaan memalukan Obo Yozo pada dirinya,” jelasku.

“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

Horiki mengangguk-angguk tampak mengerti. “Kamu gimana? Kok diam saja!” komentar Horiki sembari mencolek Osamu yang ada di sebelahnya. Osamu tersenyum, menenggak birnya, mengerucutkan mulutnya tampak merasakan kecut. “Jawaban apa yang kamu harapkan dari mulutku?” candanya.

“Apa ajalah. Ngomong kek, apa gitu!” omel Horiki.

“Menurutku lagi,” potongku. “Menurutku novel ini detail banget mengungkapkan perasaan yang carut marut mengaduk-aduk perasaan.” Kini aku tampak cukup berlebihan. “Kamu menceritakan hidupmu dengan cara yang paling tidak membosankan. Dan aku pikir, sesekali waktu orang lain penting membaca karyamu,” terangku sembari menatapnya.

Aku menenggak birku di tangan lalu menginjak puntung rokokku. [T]

  • Bersambung
Tags: BukuDongeng JepangJepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Trekking Dulu Lewat Pematang, Lalu Temukan Air Terjun Tanah Putih di Desa Galungan

Next Post

Para “Maling” dari Kalangan Muda Menari Pada Arena Lomba Topeng Se-Bali di Mas Ubud

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Para “Maling” dari Kalangan Muda Menari Pada Arena Lomba Topeng Se-Bali di Mas Ubud

Para “Maling” dari Kalangan Muda Menari Pada Arena Lomba Topeng Se-Bali di Mas Ubud

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co