25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Brand MotoGP: Mandalika Surga Balap Dunia (Plus Pawang Hujan), Sukses Strategi Marketing 4.0 Mix 4E

Gede Suardana by Gede Suardana
March 22, 2022
in Esai
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

MotoGP di sirkuit Pertamina Mandalika 2022 mendulang sukses besar. Perpaduan antara kecepatan Marc Marquez  dkk serta magic si pawang hujan sukses membangun ikatan emosi yang kuat antara pembalap dengan jutaan penggemarnya di seluruh dunia.

Gelaran motoGP Mandalika membuat gegap gempita dunia. Dua peristiwa besar menjadi daya tarik gelaran motoGP Mandalika setelah 25 tahun lalu di sirkuit Sentul, Bogor.

Kecelakaan Marc Marquez yang parah menjadi highligt di sesi pemanasan pagi hari. Ia terpental tinggi ke udara kemudian jatuh hampir bersamaan dengan motor RC213V ke aspal akibat mengalami highside yang fatal.

Kecelakaan sang juara dunia delapan kali itu merupakan yang keempat kalinya di Mandalika, sirkuit baru bagi semua pembalap motoGP. Sontak kecelakaan itu menjadi perhatian seluruh pencinta motoGP dunia. Cemas keselamatan sang pembalap yang pernah mengalami cedera patah tulang lengan dan gangguan mata dilophia di tahun 2020 dan 2021.

Beruntung kali ini bagi Marc Marques. Kecelakaan terparah yang pernah dialaminya tak membuatnya cedera. Ia dinyatakan mengalami gegar otak dan dinyatakan tak fit untuk mengikuti balapan. Meskipun cedera, Marc Marquez tetap menjadi magnet gelaran balapan di Mandalika.

Drama tak berhenti di sana. Jelang balapan utama motoGP tiba-tiba hujan deras mengguyur sirkuit Mandalika. Petir menyambar sirkuit. Balapan pun ditunda satu jam dari jadwal semula.

Di tengah menunggu hujan reda, tiba-tiba si pawang hujan Rara Istiani Wulandari masuk ke area sirkuit. Ia berjalan memukul cawan emas sambil melafalkan mantra.

Sontak aksinya itu mendapat perhatian dari pihak penyelenggara motoGP. Beberapa aksinya menghalau hujan di area sirkuit disorot kamera. Ia muncul di layar TV gelaran motoGP. Disaksikan puluhan ribu penonton melalui layar lebar di sirkuit dan jutaan penggemar seluruh dunia.

Aksinya itu mencuri perhatian para pembalap yang tengah menanti balapan. Si juara dunia 2021, pebalap asal Francis Fabio Quartararo tertangkap kamera menirukan aksi pawang hujan Raya menggesek bibir cawan. Sementara pembalap lainnya terheran-heran melihat atraksi pawang hujan.

Akun Twitter resmi @MotoGP juga menggunggah sekaligus memuji aksi Rara saat berusaha memindahkan hujan. “The Master,” cuit @MotoGP.

Tak lama berselang aksinya itu, percaya atau tidak percaya, hujan berangsur reda. Akun @motoGP memuji aksi pawang hujan. “It worked,” cuitnya lagi.

Balapan pun berlangsung. Pembalap asal Portugel Miguel Oliveira mencatatkan sejarah sebagai juara pertama kali di sirkuit Mandalika. Disusul oleh Fabio Quartararo kedua dan Johan Zarco ketiga.

Atraksi MotoGP

Dua peristiwa besar tersebut menjadi highlight motoGP Mandalika. Kecelakaan Marq Marques dan aksi pawang hujan Rara berhasil mengaduk-aduk emosi masyarakat Indonesia dan dunia.

Sebelum dua peristiwa heboh itu, gelaran motoGP diatur sedemikian rupa oleh Dorna sebagai penyelenggara resmi dan pihak Indoensia serta pemerintah. Sebanyak 20 pembalap top  bertemu Presiden Joko Widodo, kemudian dilepas melakukan parade dari Istana Negara menuju Hotel Kempinski, di dekat Bundaran Hotel Indonesia.

Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Parade heboh. Sang bintang motoGP Marc Marquez melakukan aksi burnout di tengah ribuan masyarakat Jakarta yang menyambutnya. Diikuti pembalap Jack Miler dkk. 

Strategi marketing Dorna sebagai penyelenggara motoGP dan pemerintah rupanya berhasil mengaduk-aduk emosi masyarakat Indonesia dan dunia. Aksi kocak para pembalap di luar dan dalam lintasan, serta pawang hujan Rara berhasil membangun ikatan emosi kuat dengan penggemar seluruh dunia.

Sukses Strategi Marketing Mix 4E

Pihak penyelenggara Dorna MotoGP memahami bahwa Indonesia merupakan salah negara pemilik sirkuit motoGP yang unik. Selain memiliki keindahan alam, kehidupan masyarakat Lombok, juga kultur yang tiada dua di dunia.

Penyelengaraan motoGP di Indonesia tidak bisa boleh biasa-biasa saja dengan cita rasa yang sama dengan gelaran seri di Eropa. Sesuatu yang unik dan beda harus disajikan. Pilihannya adalah membuat balapan dengan memadukan kecepatan dan kultur Indonesia.

Salah Kaprah Membangun City Brand

Dorna dan pemerintah Indonesia rupanya berhasil menggunakan strategi marketing era 4.0 mix 4E. Strategi marketing di era disrupsi digital, milenial, dan pandemi.

Marketing 4.0 mix 4E adalah hasil dari evolusi strategi marketing 4.0 dari mix 4C (co-creation, currencies, community, dan coversation) ke marketing mix 4E (engagement, exitement, everywhere, dan evangelist).

Dalam marketing ini, engagement adalah mengubah produk motoGP yang bukan lagi sekadar adu kecepatan di lintasan  namun telah menjadi interaksi atraktif antara pembalap dengan penggemar. Mereka saling sapa di media sosial. Saling repost ungahan antara pembalap dan penggemar.

Tengok saja unggahan burnout di akun @Marc Marquez adalah hasil repost dari salah satu akun penggemarnya. Atau @Aleix Espagaro yang berjanji akan memberikan motor balap dan helmnya kepada penggemar jika followersnya tembus lima juta. Atau aksi interaksi pembalap Ducati Francesco Bagnaia usai parade di Jakarta yang menyapa satu per satu pengemarnya dari balik pagar pembatas. Hubungan emosi antara pembalap dengan penggemar menjadi semakin dekat.

Ditambah lagi aksi pawang hujan Rara telah berhasil membangun antusiasme yang kuat antara pembalap dan penggemar. Pembalap merasakan hal yang unik selama di Mandalika. Melihat langsung kultur Indonesia di tengah gemerlap teknologi balap yang modern. Sementara penggemar mendapatkan suguhan aksi balap dan kocak pembalap di dalam dan luar lintasan.

Kemudian, ikatan emosi yang kuat antara antara pembalap dan penggemar, menjadikan mereka sebagai suatu komunitas yang merasakan hubungan kuat dengan Mandalika, Lombok. Penggemar secara sukarela menjadi promoters dari aksi-aksi pembalap, suasana paddock, pernak-pernik balapan di dalam dan luar lintasan. Sementara pembalap dengan suka cita menggunggah keunikan kultur Indonesia (pawang hujan), kehidupan masyarakat dan penggemar, serta keindahan alam Mandalika. Mereka semua telah menjadi evangelist yang bersedia sukarela memviralkan konten dari serba serbi balapan dan pengalamannya selama berada di Mandalika.

Rupanya strategi marketing era 4.0 mix 4E ini berhasil nyaris 100 persen. Semua momen menjadi viral. Aksi pawang hujan Rara berhasil mencuri perhatian dunia dibandingkan dengan kecelakaan Marc Marquez dan sang juara seri kedua Miguel Oliviera.

“Keberhasilan” Rara menurunkan intensitas hujan hingga gelaran motoGP dapat dilaksanakan mendapat pujian dari penyelenggara MotoGP Dorna. Melalui unggahan foto aksi heroik Rara dan video pembalap Quartararo yang menirukan aksinya, berceloteh, “Thank you for stopping the rain!,” cuit akun @motoGP.

Seri kedua motoGP di Mandalika berhasil menyita perhatian dunia. Aksi pawang hujan Rara mendapat reaksi beragam di dunia. Lihat saja, seorang bule cantik yang pernah merasakan tinggal di Indonesia, menceritakan keunikan lain kultur Indonesia selain pawang hujan.

Para pembalap motoGP rupanya merasakan ikatan emosi yang kuat dengan Mandalika, Lombok. Misalnya saja, Fabio Quartararo sebelum terbang kembali ke negaranya, menyempatkan diri membelikan ice cream kepada anak-anak di Lombok. “My Kuta Friends,” cuit Fabio di insta storie-nya.

Pembalap Aprilia Aleix Espagaro pun tak kalah heboh menjalin ikatan emosi dengan penggemarnya. Ia memberikan helm usai balapan sebagai janji jika followersnya menembus angka juta juta.

Selain menjalin hubungan dengan penggemar, Aleix rupanya benar-benar jatuh cinta dengan Mandalika, Lombok. Ia masih menyisakan waktunya untuk menikmati keindahan alam Mandalika sebelum pulang ke negaranya.

Bagi para pembalap motoGP, gelaran seri kedua Mandalika memberikannya pengalaman yang sungguh berbeda dibandingkan sirkuit lainnya di dunia. Mereka seolah berada di surga saat mentas balapan. “Last night at paradise, pizza at the pool and off to airport, ready for 30h travel to Andora. Terima kasih love u Indonesia,” cuitnya.

Sungguh menakjubkan. Sirkuit Mandalika dalam sekejap telah menyita semua perhatian pembalap dan para penggemarnya di dunia. Sirkuit ini telah menjadi berhasil menjadi brand balap motoGP yang “the one and only” di dunia. MANDALIKA SURGA BALAP DUNIA.

Sampai jumpa tahun depan!

Tags: marketingMotoGP Mandalikaolahragaotomotif
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Dewa Putu Serong | Kisah Sang Pemain Kendang Lanang Pagambuhan Gaya Batuan Gianyar

Next Post

Inilah Komunitas-Komunitas Literasi di Bali | Balai Bahasa Provinsi Bali: “Mari Budayakan Masyarakat Literat”

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Inilah Komunitas-Komunitas Literasi di Bali | Balai Bahasa Provinsi Bali: “Mari Budayakan Masyarakat Literat”

Inilah Komunitas-Komunitas Literasi di Bali | Balai Bahasa Provinsi Bali: “Mari Budayakan Masyarakat Literat”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co