15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Dewa Putu Serong | Kisah Sang Pemain Kendang Lanang Pagambuhan Gaya Batuan Gianyar

I Wayan Budiarsa by I Wayan Budiarsa
March 22, 2022
in Esai
I Dewa Putu Serong | Kisah Sang Pemain Kendang Lanang Pagambuhan Gaya Batuan Gianyar

I Dewa Putu Serong | Dokumen: Dirga Pacung

Bagi beberapa generasi seniman era sekarang tentu tidak banyak yang mengenal I Dewa Putu Serong. Kehidupan seniman ini dalam kesehariannya adalah sebagai petani dengan penampilannya yang sederhana.

Ia dilahirkan di lingkungan Banjar Tengah Desa Batuan Gianyar pada tanggal 31 Desember 1925, beristrikan anak dari seniman Pande Timtim yang bernama Jro Nami, dari Banjar Pekandelan Desa Batuan Gianyar.

Ia belajar secara otodidak dari seniman gambuh di Batuan kala itu untuk dapat menguasai teknik permainan gamelan gambuh gaya Batuan. Keinginan untuk menempa diri dan  pergaulannya dengan beberapa seniman senior di desa seni ini membuat beliau cepat menguasai ilmu teknik bermain kendang, sehingga  teknik pukulannya memiliki ciri khas yang kental (agol). 

Di setiap penyajian kesenian gambuh yang tergolong bebali ini Dewa Putu Serong khusus sebagai pemain Kendang lanang. Berkat kemampuannya banyak yang berguru kepada beliau, dan telah banyak memiliki murid baik dari tingkat lokal maupun mancanegara.

Mengenang I Bintit, Seniman Tari Condong Gambuh dari Batuan

Darah kesenimanannya sekarang dilanjutkan oleh keponakan dan cucu-cucunya. Salah satu warih ida Dokak Silungan adalah Dewa Dirga Pacung, yang era 1990-an pernah belajar menari pada I Made Bukel.

Perkembangan Bali yang semakin pesat di bidang seni yang ditandai dengan berdirinya perguruan tinggi seni yakni Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bali,  keahliannya Dewa Putu Serong sebagai seniman gambuh sangat dihargai dan diperhitungkan.

Terbukti diangkatnya ia sebagai Dosen/Asisten Tidak Tetap pada lembaga seni  ASTI Denpasar. Bukti otentiknya terdapat di arsip penulis yang tertera tahun 1975 saat pimpinan ASTI (ISI) Denpasar  Mertha Sutedja.

Tentunya membagi ilmu di lembaga pendidikan tinggi seni suatu kebanggan buat beliau, dan sebagai pengajar secara tidak langsung  memiliki tanggung jawab besar bagi kelestarian gambuh gaya Batuan yang saat itu sebagai salah satu mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa ASTI Denpasar.

Proses perkuliahan secara akademik selain gambuh gaya Desa Batuan, mata kuliah yang mesti ditempuh oleh mahasiswa ASTI Denpasar yakni; gambuh gaya Pedungan, Legong Saba, Binoh, Legong Peliatan, dan lain sebagainya. Walaupun  sebagai asisten dosen, beliau selalu rendah diri dan tidak segan-segan untuk selalu berbagi ilmu pada insan seni sekalipun sudah di luar kampus. 

Jong Pari, Sebuah Kreativitas Mudra Suara

Pengalaman berharga misi kesenian dari Dewa Putu Serong di antaranya adalah ikut serta dalam rombongan Darma Kanti yang merupakan gabungan ASTI Denpasar dengan Sekaa Gambuh Mayasari Batuan.

Misi kesenian tersebut bertandang ke negeri Sakura/Jepang pada tahun 1982 selama kurang lebih satu bulan, dengan pimpinan rombongannya oleh Bapak Prof. I Made Bandem.

Di tahun  1993 melawat ke negara  Eropa; Swis, Austria, Francis, dan Jerman selama kurang lebih tiga minggu bersama Sanggar Tari Bali Nyoman Kakul dengan pimpinan rombongan I Ketut Kantor. Pada kedua misi itu ia tetap sebagai pemain kendang lanang pagambuhan.

Seniman Batuan-Bali ini, karena terkait dengan administratif kewilayahan, akhirnya ia berdomisili di Banjar Silungan Ubud Gianyar. Saking lamanya bertempat tinggal di wilayah itu, kami memanggil ia dengan sebutan Dokak Silungan.

Ia adalah salah satu guru penulis dalam bidang gamelan pagambuhan gaya Batuan, khususnya teknik permainan Kendang Lanang. Saat menuntut ilmu, jika tidak ada waktu untuk bertandang ke rumahnya (Jero), sewaktu-waktu ia yang datang ke rumah penulis dengan penampilan gayanya yang kental yakni selalu berpakaian adat dengan udeng (destar) batiknya.

Saat datang ke rumah penulis, ia akan berceloteh; “apang maan dokak mesliahan mulih, sambillang ngorte ajak bapak wake e (agar dapat saya refresing pulang, sambil berbincang-bincang dengan ayahmu). Semasih ia aktif, sekaa Gambuh Mayasari, Sekaa/ Sanggar Tari Bali I Nyoman Kakul (Kakul Mas) adalah tempat Sang Maestro mendedikasikan ilmunya.

Sinergi “Panggul” dan Pena, Dalam Menggaungkan Eksistensi Gamelan Bali

Patut disyukuri, karena sebelum berpulang (2019) kepada-Nya,  salah satu struktur lagu pagambuhan telah beliau berikan kepada penulis walau masih sangat sukar dipahami. Struktur gending Tembung lengkap seperti struktur lagu iringan tokoh Arya/Kade-kadean yang jarang digunakan sampai pada bagian pangawak, pangecet, dan pakaad.  

Memiliki andil besar dalam mewujudkan  pelestarian kesenian Bali, ia telah mewarisi kesenian nan adi luhung ini kepada generasi seniman Bali, khususnya bagi Desa Batuan, dan  patut berbagga  atas sosok ketauladannya.

Kini sosoknya telah tiada, namun spiritnya selalu menjadi  motivasi kami dalam mengemban, memikul berat ringan bagi ajeg lestarinya kesenian dramatari gambuh gaya Batuan Gianyar.[T]

Tags: Desa BatuanGianyarISI Denpasarseni pertunjukanseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni Rupa Bali dan Persoalan Arsip

Next Post

Brand MotoGP: Mandalika Surga Balap Dunia (Plus Pawang Hujan), Sukses Strategi Marketing 4.0 Mix 4E

I Wayan Budiarsa

I Wayan Budiarsa

Prodi PSP FSP ISI Denpasar

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Brand MotoGP: Mandalika Surga Balap Dunia (Plus Pawang Hujan), Sukses Strategi Marketing 4.0 Mix 4E

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co