24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang I Bintit, Seniman Tari Condong Gambuh dari Batuan

I Wayan Budiarsa by I Wayan Budiarsa
February 24, 2022
in Esai
Mengenang I Bintit, Seniman Tari Condong Gambuh dari Batuan

I Bintit, seniman tari gambuh dari Desa Batuan, Gianyar, Bali [Foto: dok keluarga]

Seniman Bali pada umumnya menguasai berbagai keahlian seni, dan dalam proses penguasaannya dapat dilakukan melalui pendidikan formal maupun pendidikan informal. Pendidikan formal dapat dilihat dari Sekolah Menegah Kejuruan seni seperti; Kokar/ SMKN 3 Sukawati, SMKKN 5 Denpasar, dan perguruan tinggi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Pendidikan informal dapat dilakukan melalui sanggar, sekaa, komunitas seni, pasraman, dan lain sebagainya.

Dari kedua ranah pembelajaran tersebut, tidak jarang mampu menghasilkan seniman handal, ciptaan karya seni, dan memiliki gaya sendiri sehingga dapat dibedakan dengan karya/ seniman lainnya. Media utama tari yakni gerak yang di dalamnya mencakup unsur agem, tandang, tangkis, dan tangkep, sekaligus adalah sebagai unsur pembedaan antara seniman/ karya seni yang satu dengan yang lainnya.   

Terkenang saat era 1970-80-an, kaki Bintit oleh masyarakat Batuan sampai cucu-cucunya memanggil beliau Kaki Nggong. Alm. I Bintit lahir di Banjar Pekandelan Desa Batuan Gianyar 1910-an merupakan salah satu penari Condong Gambuh yang pernah dimiliki oleh Desa Batuan.

 Walaupun I Bintit tidak mengenyam pendidikan formal namun niat belajar untuk dapat menguasai bidang tari terus mengalir, di samping karena seringnya  mengikuti (nututtin) penari-penari seniornya. sehingga saking seringnya nututtin dan menonton Gambuh akhirnya seiring waktu salah satu tarian tersebut dapat dikuasai berkat bakat seninya.

Ini menandakan peran puri/Griya dalam perkembangan Gambuh di Batuan tidak menutup para seniman lainnya untuk mengembangkan bakatnya dalam berolah seni tari Gambuh khususnya. Bagi I Bintit, tidak ada niat pamrih setelah menguasai tokoh tersebut, karena tujuannya hanya untuk kepentingan upacara yakni “ngayah’, persembahan terkait  odalan pada sebuah pura di lingkungan Desa Batuan atau Kahyangan  Tiga Desa  setempat.

Sebagai bagian dari generasi se-eranya, I Bintit  memiliki kemampuan dan ciri khas tayung ngotesnya yangg lincah, dan tegas. Sebaya dengan seniman Gambuh lainnya, saat era peran perempuan masih dibawakan oleh kaum laki-laki menjadikan kaki Bintit terpilih sebagai penari condong, ini karena memang postur tubuhnya yang ideal untuk memerankann tokoh Condong Gambuh; tubuh  kecil pendek dengan nada suara yang nyaring tinggi, sebagaimana kriteria tokoh tersebut.

Diiringi dengan gending Subandar dengan tetekep selisir, Condong berperan sebagai abdi raja putri menggunakan dialog bahasa Bali, sedangkan tokoh utama menggunakan dialog bahasa Kawi dalam penyajian dramatari Gambuh.

Beberapa dialog/ antawacana yang biasa diucapkan oleh tokoh Condong (gaya Batuan) dengan bahasa Bali pada bagian papeson, seperti:

Dong dewa ratu,,, wehh nyen nto masliuran di jaba tengah.
Sampingan-sampingan,,
Ida anakke dwagung pacang medal,,
Oohhh,, to keto ingettang munyin mbok
(basa Sor)

Nahh.. to adin-adin mbok ajak makejang
Dadabbang-dabbang
Ida anakke dwagung pacang medal
Nahh to keto ingettang munyin mbok
(Basa Sor)

Dong dewa ratu,
Mas betaran tityang palungguh cokor i dewa.
Ainggih mungguing mangkin, sapunapi pikayun palungguh cokor i dewa?
Durus-durus nikain tityang,
Mangda tityang tatas uning
(Basa Alus Singgih)

Yan nirgamayang tityang palungguh cokor i dewa
Waluya sang hyang ratih nyalantara tonnin tityang
Mapelemahan ring mercepada
Sami angaton mulat,
Dong dewa ratu
(Basa Alus Singgih).

Antawacana diatas diucapkan oleh tokoh Condong saat berdialog dengan tokoh Kakan-kakan dalam tingkatan bahasa (basa) Bali Sor, dan dengan tokoh raja putri menggunakan bahasa (basa) Bali alus Singgih. Dari penggolongan penggunaan bahasa dialog masing-masing tokoh, memberikan makna nilai pendidikan agar semua manusia mampu saling menghargai, menghormati, selaras agar mencapai keharmonisan hidup tanpa membedakan kedudukan  status sosialnya.

Karena dalam konsep Hindu tersurat petikan sastra: wasita nimitanta manemu laksmi (dari perkataan akan menemukan bahagia), wasita nemitanta pati kapangguh (dari perkataan menemukan bahaya atau mati), wasita nemitanta manemu dukha (dari perkataan akan menemukan kesusahan), dan wasita nemitanta manemu mitra (dari perkataan akan mendapatkan teman).

Menurut penuturan ayah penulis, dan masyarakat sekitar lingkungan banjar, kaki Nggong memang spesial sebagai tokoh Condong dalam pertunjukan Gambuh, dan darah seni juga telah diwariskan ke cucunya yakni Ni Ketut Warsithi (Raja Putri)  yang melanjutkan pendidikan di sekolah Kokar Bali,  almh. Ni Wayan Murthi (Condong), Ni Made Nyarni sebagai Kakan-kakan, I Nyoman Astawa  (pemilik Awak Spirit) dan mengawali sebagai penari baris, serta cicitnya  I Made Aryadi Putra belajar tari di Sanggar Seni Satriya Lelana Batuan atas binaan Alm. I Made Bukel dan penulis.

I Nyoman Astawa merupakan pasangan penulis sebagai penari Baris Kembar di era tahun 1980-an, dan pertama kali pentas di Pura Ulun Banjar Pekandelan Batuan atas binaan Alm. I Made Bukel. Mengenai kaki Bintit, semasih hidupnya sering penulis lihat jalan-jalan degan tongkatnya sembari menyapa anak2 seusia penulis sembari di ingatkan untuk tekun belajar menari.

I Bintit, sering pula mengabdikan dirinya dalam bermasyarakat seperti ngayah/ menari Rejang Sutri saat tarian ini mesolah tedun  menjelang  sasih kelima sampai kesanga (kira2 bulan Oktober/Nopember sampai bulan -Maret/April tahun berikutnya). Diperkirakan penyajiannya setiap malam hari selama kurang lebih 5 bulan kalender, terkait pula dengan Gocekan (sabung ayam). 

Tari Rejang Sutri sangat disakralkan oleh masyarakat Batuan, karena di yakini sebagai sarana penolak bala yang disajikan setiap hari, pukul. 19.00-Selesai, di wantilan jaba sisi Pura Desa-Puseh Batuan. Kemunculan rejang Sutri sangat terkait dengan keberadaan dua tokoh masa lampau di Desa Baturan (Batuan) yakni I Dewa Babi dan I Gede Mecaling, serta seorang raja trah/ keturunan raja Klungkung yaitu yang bernama Sri Maha Sirikan yang bersinggasana di Sukawati sekitar abad ke 17.

Tari Rejang Sutri Batuan-Gianyar [ Dokumentasi: Budiarsa, 2021 ]

Kaki Bintit dan seniman lainnya cukup merasa bersyukur karena kesenian Gambuh masih ajeg lestari di Desa Batuan walau dalam gerusan jaman globalisasi. Bagiamanpun juga tanggungjawab generasi penerus Gambuh Batuan harus tetap menjaga kearifan lokalnya demi pemajuan bangsa dan negara Indonesia. Semoga seniman-seniman terdahulu masih dapat sebagai motivasi bagi generasi milenial seperti sekarang untuk tetap mampu mengajegkan seni budaya Bali khususnya. [T]

Tags: Desa BatuanGianyarseniman tariTari Gambuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Google Maps dengan Aksara Bali, Mungkinkah?

Next Post

Workshop Bisnis | Hari Terakhir Berhadapan dengan Singa Bernama Abi Darwis

I Wayan Budiarsa

I Wayan Budiarsa

Prodi PSP FSP ISI Denpasar

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Workshop Bisnis | Hari Terakhir Berhadapan dengan Singa Bernama Abi Darwis

Workshop Bisnis | Hari Terakhir Berhadapan dengan Singa Bernama Abi Darwis

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co