2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang I Bintit, Seniman Tari Condong Gambuh dari Batuan

I Wayan Budiarsa by I Wayan Budiarsa
February 24, 2022
in Esai
Mengenang I Bintit, Seniman Tari Condong Gambuh dari Batuan

I Bintit, seniman tari gambuh dari Desa Batuan, Gianyar, Bali [Foto: dok keluarga]

Seniman Bali pada umumnya menguasai berbagai keahlian seni, dan dalam proses penguasaannya dapat dilakukan melalui pendidikan formal maupun pendidikan informal. Pendidikan formal dapat dilihat dari Sekolah Menegah Kejuruan seni seperti; Kokar/ SMKN 3 Sukawati, SMKKN 5 Denpasar, dan perguruan tinggi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Pendidikan informal dapat dilakukan melalui sanggar, sekaa, komunitas seni, pasraman, dan lain sebagainya.

Dari kedua ranah pembelajaran tersebut, tidak jarang mampu menghasilkan seniman handal, ciptaan karya seni, dan memiliki gaya sendiri sehingga dapat dibedakan dengan karya/ seniman lainnya. Media utama tari yakni gerak yang di dalamnya mencakup unsur agem, tandang, tangkis, dan tangkep, sekaligus adalah sebagai unsur pembedaan antara seniman/ karya seni yang satu dengan yang lainnya.   

Terkenang saat era 1970-80-an, kaki Bintit oleh masyarakat Batuan sampai cucu-cucunya memanggil beliau Kaki Nggong. Alm. I Bintit lahir di Banjar Pekandelan Desa Batuan Gianyar 1910-an merupakan salah satu penari Condong Gambuh yang pernah dimiliki oleh Desa Batuan.

 Walaupun I Bintit tidak mengenyam pendidikan formal namun niat belajar untuk dapat menguasai bidang tari terus mengalir, di samping karena seringnya  mengikuti (nututtin) penari-penari seniornya. sehingga saking seringnya nututtin dan menonton Gambuh akhirnya seiring waktu salah satu tarian tersebut dapat dikuasai berkat bakat seninya.

Ini menandakan peran puri/Griya dalam perkembangan Gambuh di Batuan tidak menutup para seniman lainnya untuk mengembangkan bakatnya dalam berolah seni tari Gambuh khususnya. Bagi I Bintit, tidak ada niat pamrih setelah menguasai tokoh tersebut, karena tujuannya hanya untuk kepentingan upacara yakni “ngayah’, persembahan terkait  odalan pada sebuah pura di lingkungan Desa Batuan atau Kahyangan  Tiga Desa  setempat.

Sebagai bagian dari generasi se-eranya, I Bintit  memiliki kemampuan dan ciri khas tayung ngotesnya yangg lincah, dan tegas. Sebaya dengan seniman Gambuh lainnya, saat era peran perempuan masih dibawakan oleh kaum laki-laki menjadikan kaki Bintit terpilih sebagai penari condong, ini karena memang postur tubuhnya yang ideal untuk memerankann tokoh Condong Gambuh; tubuh  kecil pendek dengan nada suara yang nyaring tinggi, sebagaimana kriteria tokoh tersebut.

Diiringi dengan gending Subandar dengan tetekep selisir, Condong berperan sebagai abdi raja putri menggunakan dialog bahasa Bali, sedangkan tokoh utama menggunakan dialog bahasa Kawi dalam penyajian dramatari Gambuh.

Beberapa dialog/ antawacana yang biasa diucapkan oleh tokoh Condong (gaya Batuan) dengan bahasa Bali pada bagian papeson, seperti:

Dong dewa ratu,,, wehh nyen nto masliuran di jaba tengah.
Sampingan-sampingan,,
Ida anakke dwagung pacang medal,,
Oohhh,, to keto ingettang munyin mbok
(basa Sor)

Nahh.. to adin-adin mbok ajak makejang
Dadabbang-dabbang
Ida anakke dwagung pacang medal
Nahh to keto ingettang munyin mbok
(Basa Sor)

Dong dewa ratu,
Mas betaran tityang palungguh cokor i dewa.
Ainggih mungguing mangkin, sapunapi pikayun palungguh cokor i dewa?
Durus-durus nikain tityang,
Mangda tityang tatas uning
(Basa Alus Singgih)

Yan nirgamayang tityang palungguh cokor i dewa
Waluya sang hyang ratih nyalantara tonnin tityang
Mapelemahan ring mercepada
Sami angaton mulat,
Dong dewa ratu
(Basa Alus Singgih).

Antawacana diatas diucapkan oleh tokoh Condong saat berdialog dengan tokoh Kakan-kakan dalam tingkatan bahasa (basa) Bali Sor, dan dengan tokoh raja putri menggunakan bahasa (basa) Bali alus Singgih. Dari penggolongan penggunaan bahasa dialog masing-masing tokoh, memberikan makna nilai pendidikan agar semua manusia mampu saling menghargai, menghormati, selaras agar mencapai keharmonisan hidup tanpa membedakan kedudukan  status sosialnya.

Karena dalam konsep Hindu tersurat petikan sastra: wasita nimitanta manemu laksmi (dari perkataan akan menemukan bahagia), wasita nemitanta pati kapangguh (dari perkataan menemukan bahaya atau mati), wasita nemitanta manemu dukha (dari perkataan akan menemukan kesusahan), dan wasita nemitanta manemu mitra (dari perkataan akan mendapatkan teman).

Menurut penuturan ayah penulis, dan masyarakat sekitar lingkungan banjar, kaki Nggong memang spesial sebagai tokoh Condong dalam pertunjukan Gambuh, dan darah seni juga telah diwariskan ke cucunya yakni Ni Ketut Warsithi (Raja Putri)  yang melanjutkan pendidikan di sekolah Kokar Bali,  almh. Ni Wayan Murthi (Condong), Ni Made Nyarni sebagai Kakan-kakan, I Nyoman Astawa  (pemilik Awak Spirit) dan mengawali sebagai penari baris, serta cicitnya  I Made Aryadi Putra belajar tari di Sanggar Seni Satriya Lelana Batuan atas binaan Alm. I Made Bukel dan penulis.

I Nyoman Astawa merupakan pasangan penulis sebagai penari Baris Kembar di era tahun 1980-an, dan pertama kali pentas di Pura Ulun Banjar Pekandelan Batuan atas binaan Alm. I Made Bukel. Mengenai kaki Bintit, semasih hidupnya sering penulis lihat jalan-jalan degan tongkatnya sembari menyapa anak2 seusia penulis sembari di ingatkan untuk tekun belajar menari.

I Bintit, sering pula mengabdikan dirinya dalam bermasyarakat seperti ngayah/ menari Rejang Sutri saat tarian ini mesolah tedun  menjelang  sasih kelima sampai kesanga (kira2 bulan Oktober/Nopember sampai bulan -Maret/April tahun berikutnya). Diperkirakan penyajiannya setiap malam hari selama kurang lebih 5 bulan kalender, terkait pula dengan Gocekan (sabung ayam). 

Tari Rejang Sutri sangat disakralkan oleh masyarakat Batuan, karena di yakini sebagai sarana penolak bala yang disajikan setiap hari, pukul. 19.00-Selesai, di wantilan jaba sisi Pura Desa-Puseh Batuan. Kemunculan rejang Sutri sangat terkait dengan keberadaan dua tokoh masa lampau di Desa Baturan (Batuan) yakni I Dewa Babi dan I Gede Mecaling, serta seorang raja trah/ keturunan raja Klungkung yaitu yang bernama Sri Maha Sirikan yang bersinggasana di Sukawati sekitar abad ke 17.

Tari Rejang Sutri Batuan-Gianyar [ Dokumentasi: Budiarsa, 2021 ]

Kaki Bintit dan seniman lainnya cukup merasa bersyukur karena kesenian Gambuh masih ajeg lestari di Desa Batuan walau dalam gerusan jaman globalisasi. Bagiamanpun juga tanggungjawab generasi penerus Gambuh Batuan harus tetap menjaga kearifan lokalnya demi pemajuan bangsa dan negara Indonesia. Semoga seniman-seniman terdahulu masih dapat sebagai motivasi bagi generasi milenial seperti sekarang untuk tetap mampu mengajegkan seni budaya Bali khususnya. [T]

Tags: Desa BatuanGianyarseniman tariTari Gambuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Google Maps dengan Aksara Bali, Mungkinkah?

Next Post

Workshop Bisnis | Hari Terakhir Berhadapan dengan Singa Bernama Abi Darwis

I Wayan Budiarsa

I Wayan Budiarsa

Prodi PSP FSP ISI Denpasar

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Workshop Bisnis | Hari Terakhir Berhadapan dengan Singa Bernama Abi Darwis

Workshop Bisnis | Hari Terakhir Berhadapan dengan Singa Bernama Abi Darwis

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co