4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Burdah Pegayaman, Penguat Cerita Asal Usul dan Terapi Bagi yang Sakit Parah

Yahya Umar by Yahya Umar
December 10, 2021
in Khas
Burdah Pegayaman, Penguat Cerita Asal Usul dan Terapi Bagi yang Sakit Parah

Wak Hasan dari Desa Pegayaman | Foto-foto: Yahya Umar

BURDAH Pegayaman itu khas, unik dan istimewa. Cerita tentang burdah dari Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, selalu membuat saya takjub. Ada yang lain, ada yang beda, ada yang khas dibandingkan tentang burdah yang saya ketahui.

Sebenarnya sudah lama saya mendengar tentang burdah Pegayaman. Namun, selama ini hanya sebatas mendengar atau membaca di beberapa media. Tak pernah mendengar atau menyaksikan secara langsung. Pengetahuan saya tentang burdah Pegayaman selama ini sebatas bahwa di dalamnya ada akulturasi Hindu-Islam.

Sampai pada suatu hari, tepatnya Minggu, 28 November 2021, saya diajak Ketua Umum Grup Burdah “Burak” (Burdah Krama Kubu) Desa Pegayaman, Drs. Ketut Muhammad Suharto, mengunjungi legenda burdah Pegayaman, Wak Hasan Sagir, di rumahnya. (Wak Hasan merupakan Ketua Burdah Burak, sementara Suharto Ketua Umum Burak).

Kami bertiga saat itu; saya, Pak Harto, dan Drs. Amoeng Abdurahman (pemerhati sejarah Islam di Singaraja). Wak Hasan tinggal di tengah hutan. Ya di tengah hutan bukit Pegayaman, yang terpisah dari warga Pegayaman lainnya. Jalan menuju ke rumahnya lumayan memacu adrenalin. Dengan beton rabat tak penuh, hanya di sisi kiri dan kanannya saja. Di beberapa titik, ada tanjakan yang terjal, dan tikungan yang sangat tajam. Di sisi kiri-kanan jalan menuju rumahnya tak jarang langsung berhadapan dengan jurang. Betul-betul memacu adrenalin.

Rumah Wak Hasan berada di ketinggian 1.100 meter dari permukaan air laut. Saat kami sampai di rumah tersebut, alam diselimuti kabut. Tubuh kami dipeluk sejuk. Rintik hujan mulai menyapa.

Rumah Wak Hasan cukup sederhana. Dindingnya dari batako ‘telanjang’ di bagian bawahnya. Disambung papan-papan kayu, yang beberapa bagian sudah rapuh. Dengan lantai hanya plesteran semen. Sungguh amat sederhana bagi sosok yang boleh dibilang sebagai maestro burdah. Sosok yang menjadi legenda hidup seni burdah yang tak ternilai harganya bagi warga Pegayaman, atau bahkan bagi bangsa ini.

Wak Hasan

Saya menyebut Wak Hasan maestro burdah. Legenda hidup burdah Pegayaman. Inilah istimewanya burdah Pegayaman menurut saya. Kesenian ini memiliki seniman yang bergelut di seni burdah selama 80 tahun. Wak Hasan mulai menekuni seni burdah sejak usia 15 tahun. Saat itu zaman pendudukan Jepang. Umurnya kini 95 tahun.

Meskipun sudah usia lanjut, wajahnya masih tampak segar. Penglihatannya masih terang. Pendengarannya masih bagus. Daya ingatnya masih kuat. Ia masih mampu melantunkan 16 lagu burdah Pegayaman, tanpa teks.

Ke-16 lagu burdah Pegayaman yang dihapal Wak Hasan di antaranya lagu Tue, lagu Kampar, lagu Nganten, lagu Sulton Pahang, lagu Sulton Rasul, lagu Sulton Abdi, lagu Belaluan, lagu Melayu, lagu Parsi, lagu Mekondek, lagu Ngelungsuhan, lagu Tarik Dayung, lagu Hul Maula, serta lagu Masru.

Wak Hasan seperti sudah sedemikian menyatu dengan burdah. Ketika berbicara tentang burdah wajahnya langsung berseri. Semangatnya menyala. Senyumnya mengembang. Ada rona kebahagiaan di wajahnya. Ada kebanggaan yang tersirat dari tatapan matanya.

Ketika diminta melantunkan syair burdah, dengan sigap ia pun langsung menembangkannya. Semula ia nyanyikan syair burdah tanpa rebana. Ia melantunkan lagu “Tua”, lagu tertua di burdah Pegayaman. Ia berkidung penuh penghayatan. Melantunkan dengan penuh perasaan, sangat menjiwai. Suaranya begitu kontemplatif. Hati rasanya dibawa hayut ke semesta nurani. Jiwa dan perasaan seperti diterbangkan ke angkasa spiritual.   

Sebagai pelantun lagu atau syair Al Barzanji dalam grup burdahnya, suara Wak Hasan masih bisa melengking. Suaranya masih kuat, nafasnya masih stabil. Cengkok-cengkoknya masih jelas. Hingga kini. Ya, hingga usianya yang demikian lanjut ini. Tangannya masih cekatan memainkan rebana. Bunyi-bunyi yang dilahirkan dari pukulan jari-jemari dan telapak tangannya begitu harmonis.  

Yang istimewa juga, burdah Pegayaman umurnya ratusan tahun. Kesenian ini ada sejak kedatangan warga Pegayaman dari Blambangan Banyuwangi, sekitar tahun 1648 M. Dan hingga kini masih eksis.

Wak Hasan

Dalam perbincangan di rumah sang maestro itulah, saya tahu beberapa keunikan dan kekhasan burdah Pegayaman. Usai Wak Hasan melantunkan lagu “Tue” atawa Tua, Muhammad Suharto langsung mengomentari. “Itu lagu ‘Tue’, lagu tertua di burdah Pegayaman. Ini wajib dibaca di awal setiap penampilan burdah. Oleh ketua burdah,” tuturnya.

Menurut Suharto, lagu ‘Tue’ itu bahasanya Arab, syair burdahnya merupakan syair Al Barzanji. Sementara tembang atau iramanya seperti kidung Bali. Ya irama-irama yang tercipta di burdah Pegayaman kebanyakan mirip kidung Bali. Dari 16 lagu burdah di Pegayaman rata-rata lagunya seperti kidung Bali.

Dan lagu ‘Tue’ tersebut tenyata menjadi penguat cerita asal usul orang Pegayaman. Dari penuturan para panglingsir Pegayaman atau yang biasa disebut kumpi bukit, nenek moyang mereka berasal dari Kerajaan Blambangan, Banyuwangi. Namun, belakangan ada yang berpendapat, orang Pegayaman berasal dari Kerajaan Solo Mataram. Ada juga yang bilang orang Pegayaman merupakan keturunan Bali asli.

Untuk mengungkap mana yang benar, Suharto sempat mencari sejak sejarah orang Pegayaman ke Solo. Juga ke Blambangan, Banyuwangi. Dari penelusurannya, di Solo ia tidak menemukan jejak. Namun, di Blambangan, khususnya di kalangan suku Osing, Suharto menemukan beberapa jejak sejarah orang Pegayaman. Salah satunya adalah seni burdah. 

Ia menemukan grup kesenian Burdah di suku Osing yang sama seperti di Desa Pegayaman. Misalnya bentuk rebananya sama. Hanya ada beda tipis pada lubang depannya. Rebana di Blambangan lubang depan lebar dan dibuat dari kayu nangka. Sedangkan rebana di Pegayaman lubangnya lebih sempit di depan dan terbuat dari kayu bungkil kelapa. Yang sama persis, menurut Suharto, adalah lagu awal kedua grup burdah. Lagu ‘Tue’ burdah Pegayaman sama dengan di Kemiren (suku Osing), Blambangan, Banyuwangi.

Saya memotret Wak Hasan sedang memainkan burdah Pegayaman

Itulah yang memperkuat cerita para kumpi bukit bahwa orang Pegayaman berasal dari Blambangan. 100 laskar Muslim yang direkrut Raja Panji Sakti kemudian tinggal di bukit Pegayaman merupakan nenek moyang warga Pegayaman. Menurut Suharto, 100 laskar tersebut merupakan kumpulan dari ksatria-ksatria Mataram (Jawa), Makassar, dan Madura. Sesampai di Bali, mereka menikah dengan perempuan-perempuan Bali. Jadi, kata Suharto, nenek moyang orang Pegayaman itu berasal dari Mataram (Jawa), Makassar, Madura dan Bali.

Selain sebagai penguat cerita asal usul orang Pegayaman, ada cerita tak kalah menarik dari burdah Pegayaman. Menurut Suharto, burdah Pegayaman kerap dijadikan terapi bagi orang yang sakit parah. Sakit yang dalam kacamata medis sulit disembuhkan.

Kalau ada yang sakit seperti itu, syair burdah Pegayaman bisa digunakan sebagai ‘obat’, sebagai terapi. Syair burdah dibacakan di hadapan orang yang sakit, diikuti masyarakat. Namun, syair burdah tersebut tidak dibacakan dengan lagu atau kidung. Hanya dibaca biasa saja. Biasanya dibaca selama tiga hari.

Drs. Muhammad Suharto

Dengan pembacaan syair burdah tersebut diharapkan agar yang sakit segera sembuh. Atau, kalau memang sakitnya tidak bisa disembuhkan agar segera dicepatkan meninggalnya. Agar yang sakit tidak terlalu lama menanggung rasa sakitnya.

Menurut Suharto dan dibenarkan oleh Wak Hasan Sagir, syair burdah tersebut ternyata mujarab. Segera setelah dibacakan syair burdah, yang sakit segera meninggal, lepas siksaan sakitnya. Ada juga yang segera sembuh, dan dapat beraktivitas seperti biasa lagi.

So, ternyata burdah Pegayaman memang unik dan istimewa kan? [T]

Tags: bulelengburdahDesa Pegayamanseni muslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Difabel, Pandemi dan Perjuangan Inklusi | Catatan dari “Berbagi Kabar Akhir Tahun”

Next Post

Memotret “Milky Way” yang Agung, Indah dan Dramatis di Langit Malam

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Memotret “Milky Way” yang Agung, Indah dan Dramatis di Langit Malam

Memotret “Milky Way” yang Agung, Indah dan Dramatis di Langit Malam

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co