14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Burdah Pegayaman, Penguat Cerita Asal Usul dan Terapi Bagi yang Sakit Parah

Yahya Umar by Yahya Umar
December 10, 2021
in Khas
Burdah Pegayaman, Penguat Cerita Asal Usul dan Terapi Bagi yang Sakit Parah

Wak Hasan dari Desa Pegayaman | Foto-foto: Yahya Umar

BURDAH Pegayaman itu khas, unik dan istimewa. Cerita tentang burdah dari Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, selalu membuat saya takjub. Ada yang lain, ada yang beda, ada yang khas dibandingkan tentang burdah yang saya ketahui.

Sebenarnya sudah lama saya mendengar tentang burdah Pegayaman. Namun, selama ini hanya sebatas mendengar atau membaca di beberapa media. Tak pernah mendengar atau menyaksikan secara langsung. Pengetahuan saya tentang burdah Pegayaman selama ini sebatas bahwa di dalamnya ada akulturasi Hindu-Islam.

Sampai pada suatu hari, tepatnya Minggu, 28 November 2021, saya diajak Ketua Umum Grup Burdah “Burak” (Burdah Krama Kubu) Desa Pegayaman, Drs. Ketut Muhammad Suharto, mengunjungi legenda burdah Pegayaman, Wak Hasan Sagir, di rumahnya. (Wak Hasan merupakan Ketua Burdah Burak, sementara Suharto Ketua Umum Burak).

Kami bertiga saat itu; saya, Pak Harto, dan Drs. Amoeng Abdurahman (pemerhati sejarah Islam di Singaraja). Wak Hasan tinggal di tengah hutan. Ya di tengah hutan bukit Pegayaman, yang terpisah dari warga Pegayaman lainnya. Jalan menuju ke rumahnya lumayan memacu adrenalin. Dengan beton rabat tak penuh, hanya di sisi kiri dan kanannya saja. Di beberapa titik, ada tanjakan yang terjal, dan tikungan yang sangat tajam. Di sisi kiri-kanan jalan menuju rumahnya tak jarang langsung berhadapan dengan jurang. Betul-betul memacu adrenalin.

Rumah Wak Hasan berada di ketinggian 1.100 meter dari permukaan air laut. Saat kami sampai di rumah tersebut, alam diselimuti kabut. Tubuh kami dipeluk sejuk. Rintik hujan mulai menyapa.

Rumah Wak Hasan cukup sederhana. Dindingnya dari batako ‘telanjang’ di bagian bawahnya. Disambung papan-papan kayu, yang beberapa bagian sudah rapuh. Dengan lantai hanya plesteran semen. Sungguh amat sederhana bagi sosok yang boleh dibilang sebagai maestro burdah. Sosok yang menjadi legenda hidup seni burdah yang tak ternilai harganya bagi warga Pegayaman, atau bahkan bagi bangsa ini.

Wak Hasan

Saya menyebut Wak Hasan maestro burdah. Legenda hidup burdah Pegayaman. Inilah istimewanya burdah Pegayaman menurut saya. Kesenian ini memiliki seniman yang bergelut di seni burdah selama 80 tahun. Wak Hasan mulai menekuni seni burdah sejak usia 15 tahun. Saat itu zaman pendudukan Jepang. Umurnya kini 95 tahun.

Meskipun sudah usia lanjut, wajahnya masih tampak segar. Penglihatannya masih terang. Pendengarannya masih bagus. Daya ingatnya masih kuat. Ia masih mampu melantunkan 16 lagu burdah Pegayaman, tanpa teks.

Ke-16 lagu burdah Pegayaman yang dihapal Wak Hasan di antaranya lagu Tue, lagu Kampar, lagu Nganten, lagu Sulton Pahang, lagu Sulton Rasul, lagu Sulton Abdi, lagu Belaluan, lagu Melayu, lagu Parsi, lagu Mekondek, lagu Ngelungsuhan, lagu Tarik Dayung, lagu Hul Maula, serta lagu Masru.

Wak Hasan seperti sudah sedemikian menyatu dengan burdah. Ketika berbicara tentang burdah wajahnya langsung berseri. Semangatnya menyala. Senyumnya mengembang. Ada rona kebahagiaan di wajahnya. Ada kebanggaan yang tersirat dari tatapan matanya.

Ketika diminta melantunkan syair burdah, dengan sigap ia pun langsung menembangkannya. Semula ia nyanyikan syair burdah tanpa rebana. Ia melantunkan lagu “Tua”, lagu tertua di burdah Pegayaman. Ia berkidung penuh penghayatan. Melantunkan dengan penuh perasaan, sangat menjiwai. Suaranya begitu kontemplatif. Hati rasanya dibawa hayut ke semesta nurani. Jiwa dan perasaan seperti diterbangkan ke angkasa spiritual.   

Sebagai pelantun lagu atau syair Al Barzanji dalam grup burdahnya, suara Wak Hasan masih bisa melengking. Suaranya masih kuat, nafasnya masih stabil. Cengkok-cengkoknya masih jelas. Hingga kini. Ya, hingga usianya yang demikian lanjut ini. Tangannya masih cekatan memainkan rebana. Bunyi-bunyi yang dilahirkan dari pukulan jari-jemari dan telapak tangannya begitu harmonis.  

Yang istimewa juga, burdah Pegayaman umurnya ratusan tahun. Kesenian ini ada sejak kedatangan warga Pegayaman dari Blambangan Banyuwangi, sekitar tahun 1648 M. Dan hingga kini masih eksis.

Wak Hasan

Dalam perbincangan di rumah sang maestro itulah, saya tahu beberapa keunikan dan kekhasan burdah Pegayaman. Usai Wak Hasan melantunkan lagu “Tue” atawa Tua, Muhammad Suharto langsung mengomentari. “Itu lagu ‘Tue’, lagu tertua di burdah Pegayaman. Ini wajib dibaca di awal setiap penampilan burdah. Oleh ketua burdah,” tuturnya.

Menurut Suharto, lagu ‘Tue’ itu bahasanya Arab, syair burdahnya merupakan syair Al Barzanji. Sementara tembang atau iramanya seperti kidung Bali. Ya irama-irama yang tercipta di burdah Pegayaman kebanyakan mirip kidung Bali. Dari 16 lagu burdah di Pegayaman rata-rata lagunya seperti kidung Bali.

Dan lagu ‘Tue’ tersebut tenyata menjadi penguat cerita asal usul orang Pegayaman. Dari penuturan para panglingsir Pegayaman atau yang biasa disebut kumpi bukit, nenek moyang mereka berasal dari Kerajaan Blambangan, Banyuwangi. Namun, belakangan ada yang berpendapat, orang Pegayaman berasal dari Kerajaan Solo Mataram. Ada juga yang bilang orang Pegayaman merupakan keturunan Bali asli.

Untuk mengungkap mana yang benar, Suharto sempat mencari sejak sejarah orang Pegayaman ke Solo. Juga ke Blambangan, Banyuwangi. Dari penelusurannya, di Solo ia tidak menemukan jejak. Namun, di Blambangan, khususnya di kalangan suku Osing, Suharto menemukan beberapa jejak sejarah orang Pegayaman. Salah satunya adalah seni burdah. 

Ia menemukan grup kesenian Burdah di suku Osing yang sama seperti di Desa Pegayaman. Misalnya bentuk rebananya sama. Hanya ada beda tipis pada lubang depannya. Rebana di Blambangan lubang depan lebar dan dibuat dari kayu nangka. Sedangkan rebana di Pegayaman lubangnya lebih sempit di depan dan terbuat dari kayu bungkil kelapa. Yang sama persis, menurut Suharto, adalah lagu awal kedua grup burdah. Lagu ‘Tue’ burdah Pegayaman sama dengan di Kemiren (suku Osing), Blambangan, Banyuwangi.

Saya memotret Wak Hasan sedang memainkan burdah Pegayaman

Itulah yang memperkuat cerita para kumpi bukit bahwa orang Pegayaman berasal dari Blambangan. 100 laskar Muslim yang direkrut Raja Panji Sakti kemudian tinggal di bukit Pegayaman merupakan nenek moyang warga Pegayaman. Menurut Suharto, 100 laskar tersebut merupakan kumpulan dari ksatria-ksatria Mataram (Jawa), Makassar, dan Madura. Sesampai di Bali, mereka menikah dengan perempuan-perempuan Bali. Jadi, kata Suharto, nenek moyang orang Pegayaman itu berasal dari Mataram (Jawa), Makassar, Madura dan Bali.

Selain sebagai penguat cerita asal usul orang Pegayaman, ada cerita tak kalah menarik dari burdah Pegayaman. Menurut Suharto, burdah Pegayaman kerap dijadikan terapi bagi orang yang sakit parah. Sakit yang dalam kacamata medis sulit disembuhkan.

Kalau ada yang sakit seperti itu, syair burdah Pegayaman bisa digunakan sebagai ‘obat’, sebagai terapi. Syair burdah dibacakan di hadapan orang yang sakit, diikuti masyarakat. Namun, syair burdah tersebut tidak dibacakan dengan lagu atau kidung. Hanya dibaca biasa saja. Biasanya dibaca selama tiga hari.

Drs. Muhammad Suharto

Dengan pembacaan syair burdah tersebut diharapkan agar yang sakit segera sembuh. Atau, kalau memang sakitnya tidak bisa disembuhkan agar segera dicepatkan meninggalnya. Agar yang sakit tidak terlalu lama menanggung rasa sakitnya.

Menurut Suharto dan dibenarkan oleh Wak Hasan Sagir, syair burdah tersebut ternyata mujarab. Segera setelah dibacakan syair burdah, yang sakit segera meninggal, lepas siksaan sakitnya. Ada juga yang segera sembuh, dan dapat beraktivitas seperti biasa lagi.

So, ternyata burdah Pegayaman memang unik dan istimewa kan? [T]

Tags: bulelengburdahDesa Pegayamanseni muslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Difabel, Pandemi dan Perjuangan Inklusi | Catatan dari “Berbagi Kabar Akhir Tahun”

Next Post

Memotret “Milky Way” yang Agung, Indah dan Dramatis di Langit Malam

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post
Memotret “Milky Way” yang Agung, Indah dan Dramatis di Langit Malam

Memotret “Milky Way” yang Agung, Indah dan Dramatis di Langit Malam

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co