24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia, Predator Puncak yang (Mencoba) Bertahan Hidup

Krisna Aji by Krisna Aji
December 6, 2021
in Esai
Manusia, Predator Puncak yang (Mencoba) Bertahan Hidup

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Sejatinya, setiap entitas hidup di dunia ini dapat bertahan hingga detik ini karena memiliki insting untuk tetap bertahap hidup dan meneruskan keturunan. Banyak entitas hidup yang pada akhirnya tergerus waktu dan punah karena insting saja tidak cukup: perlu dilanjutkan dengan luaran nyata yang dapat melawan seleksi alam; perlu ada tindakan nyata yang sesuai dengan tuntutan tempat hidup–dan berujung pada pola adaptasi terhadap tekanan. Selanjutnya, pola bertahan hidup yang sukses dari individu pada akhirnya akan diturunkan kepada generasi penerus. Hasil akhirnya, suatu entitas dapat terhindar dari kepunahan.

Dari tuntutan untuk menyelamatkan entitas diri secara individu, tidak jarang pola tersebut membentuk sikap egois yang mendahulukan kepentingan sendiri: saling mengalahkan antara satu entitas dengan entitas lainnya–dari persaingan antar spesies yang berusaha mencapai posisi sebagai pemangsa puncak, persaingan antar entitas di dalam satu spesies, dan bahkan bahkan dalam satu kelompok. Pada titik ini, akan terbentuk rantai makanan yang secara alamiah terjadi. Pola saling mengalahkan pada rantai makanan tidak hanya terjadi antar spesies, tetapi juga dalam satu spesies dan kelompok: seperti terjadinya strata politik, budaya, dan ekonomi pada manusia.

Walaupun kepentingan diri “tampaknya” adalah hal yang utama, pada akhirnya keseimbangan harus tetap terjaga. Siklus rantai makanan hanya akan berjalan dengan harmonis jika “pemangsa” tetap mendapatkan “mangsa” dalam jumlah yang cukup. Jika pemangsa terlalu banyak atau jumlah mangsa terlalu sedikit, maka kelangsungan hidup pemangsa pun akan terancam.

Secara alami, keseimbangan jumlah “pemangsa” dan “mangsa” sejatinya telah diatur oleh alam. Saat terjadi ketimpangan, maka semesta yang misterius akan memberikan intervensi sehingga keseimbangan awal dapat terjadi kembali: populasi “pemangsa” akan terkontrol dengan sendirinya jika tidak mendapatkan makanan yang cukup.

Terkontrolnya populasi “pemangsa” akibat makanan yang kurang sering terlihat pada hewan dan tumbuhan yang tidak memiliki kecerdasan untuk memanipulasi sumber daya yang ada. Tetapi, bagaimana jika “pemangsa” tersebut memiliki kecerdasan untuk bertindak lebih jauh? Homo sapiens bisa jadi adalah contoh yang paling nyata.

Homo sapiens atau manusia dapat bertahan hingga saat ini karena kecerdasannya dalam memanipulasi sumber daya yang ada. Saat sumber makanan sudah mulai jarang ditemui di era berburu, manusia dengan cerdas mengolah tanah dan memanipulasi sumber protein hewani: bercocok tanam dan berternak. Pada fase ini, masalah akan kebutuhan makanan dapat teratasi. Fase ini juga merupakan awal mula konsep “kepemilikan” semakin menguat.

Di masa bercocok tanam, masalah akan kebutuhan makanan terhadap populasi manusia yang terus bertambah dapat teratasi untuk sementara waktu. Walaupun demikian, jumlah pertambahan populasi yang terus meningkat membuat lahan dan hewan ternak yang dipakai untuk bercocok tanam tidak cukup lagi untuk dikonsumsi.

Pada tahap ini, manusia mengakali masalah dengan memperluas wilayah bercocok tanam dan memperbanyak ternak yang dimiliki. Perluasan wilayah ini tentu berbenturan dengan manusia lain yang memiliki kepentingan yang sama. Saat kemampuan wilayah yang dimiliki tidak mampu memenuhi kebutuhan, manusia akan melakukan ekspansi ke area lain yang kosong, dan akhirnya melakukan perluasan ke wilayah manusia lainnya: dengan melakukan perebutan dan perang terhadap kepemilikan orang lain.

Di masa – masa kuna, ekspansi atas hak milik individu lain dilakukan dengan kekerasan dan perang. Saat kekerasan disepakati sebagai hal yang buruk, ekspansi tersebut ternyata tidak berhenti. Ekspansi tetap dilakukan dengan cara yang lebih halus dan terstruktur dengan teknologi bernama uang: benda semu yang tidak memiliki harga tetapi menjadi sangat mahal karena kesepakatan bersama.

Dalam perkembangannya, uang akhirnya dijadikan simbol kemapanan. Walaupun pada hakikatnya sumber daya ada batasnya, para kapital yang memiliki modal dan berkuasa atas uang terus memberikan delusi mengenai sumber daya yang tidak akan habis–dengan cara berinvestasi pada ilmu pengetahuan. Sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, pada akhirnya “disulap” menjadi kebutuhan primer bagi para konsumen. Konsumen akan bekerja–dan memperkaya pemiliki modal–kemudian berlomba membeli barang dari pemilik modal tersebut walaupun barang dan jasa tersebut bukanlah kebutuhan primer. Simbol kemapanan akibat kepemilikan dari produk – produk berkelas dan bermerk terus dikampanyekan. Efek lanjutannya sangat mudah ditebak: perputaran uang yang semu terus bergerak.

Dengan dalih “penemuan baru akan membuat barang konsumsi menjadi tidak terbatas”, kondisi tersebut jelas akan menetramkan manusia yang berada pada pusaran roda penggerak perekonomian. Tetapi, benarkah demikian? Bagaimana jika hal tersebut dilihat secara lebih luas?

Bahan konsumsi manusia tentu saja akan terus tersedia akibat penemuan – penemuan baru. Tetapi, proses produksi barang konsumsi tentu tidak akan lepas dari pemanfaatan alam. Pemanfaatan sumber energi yang semakin marak, pembukaan lahan baru untuk mendirikan pabrik, dan polusi yang terus meningkat adalah contoh yang paling sering terjadi.

Penggalian tambang di darat dan penanaman sawit dalam jumlah besar memerlukan pembebaskan hutan. Belum lagi polusi lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas tersebut. Pemakaian sumber energi juga akan menghasilkan polusi: mesin mengeluarkan karbon monoksida yang berbahaya bagi lingkungan. Walaupun pada perjalannya hal tersebut diakali dengan menggunakan sumber daya sinar matahari dengan panel surya, tetap saja diperlukan sumber daya bumi dalam proses pembuatan alat panel surya yang memiliki kemungkinan perusakan alam yang mirip dengan penggalian sumber energi lainnya: litium.

Manusia akan tetap menggeser entitas lainnya dalam bertahan hidup, baik itu secara individu atau kolektif. Pencarian sumber energi akan menggeser keberlangsungan hidup dari penyedia oksigen–hutan–dan semua makhluk hidup di dalamnya. Cepat atau lambat ketimpangan ekosistem pendukung kehidupan manusia akan terjadi.

Disadari atau tidak, ketimpangan itu pada akhirnya akan membuat keberlangsungan hidup manusia itu sendiri terancam. Jelas, ketimpangan itu berawal pada keserakahan manusia. Keserakahan yang mengaburkan pandangan terhadap keseimbangan; keserakahan yang mengaburkan pandangan bahwa entitas lain pun perlu hidup agar keharmonisan bersama tetap terjadi.

Manusia pada akhirnya tidak bisa hidup sendiri dan perlu menghargai kepentingan entitas lain untuk bertahan hidup. Saat entitas lain tetap hidup dengan nyaman, manusia pun akan hidup dengan tenang. Keserakahan pada akhirnya akan membuat manusia sebagai predator puncak akan musnah bersamaan dengan hilangnya lingkungan tempatnya tinggal. [T]

_____

KLIK UNTUK BACA ARTIKEL DOKTER KRISNA YANG LAIN

Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan
Tags: kemanusiaanmempertahankan hiduppredator
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Budi Darma dalam Bayang-bayang Tokoh | Catatan Diskusi Semenjana #3

Next Post

Arak Bali Belum Sepenuhnya Legal, Tapi Tenang Saja…

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Arak Bali Belum Sepenuhnya Legal, Tapi Tenang Saja…

Arak Bali Belum Sepenuhnya Legal, Tapi Tenang Saja...

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co