14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Budi Darma dalam Bayang-bayang Tokoh | Catatan Diskusi Semenjana #3

Lingkar Studi Sastra Denpasar by Lingkar Studi Sastra Denpasar
December 6, 2021
in Esai
Budi Darma dalam Bayang-bayang Tokoh | Catatan Diskusi Semenjana #3

Budi Darma

Berbicara mengenai Budi Darma, akan terasa kurang jika tidak membahas Orang-orang Bloomington yang diterbitkan perdana pada 1980—kumpulan cerpen yang beberapa waktu lalu diterjemahkan dan diterbitkan Penguin Books UK.

Setelah membaca karya itu, rasa-rasanya kita akan terbayang-bayangi oleh tokoh-tokoh di sana: Orez, Joshua Karabis, Lelaki Tua Tanpa Nama, dan sebagainya. Tokoh-tokoh itu begitu kuat untuk dikenang. Di sisi lain, keutuhan penampilan tokoh menciptakan kedekatan pembaca dengan tokoh-tokoh itu sendiri. Sedikit tidak, penyajian cerita dalam Buku itu mempengaruhi cara baca saya terhadap cerpen-cerpen yang dibahas pada Semenjana #3 ini.

Semenjana #3 digelar pada tanggal 29 November 2021, bertepatan dengan 100 hari kepergian Budi Darma. Sesi Semenjana #3 ini kemudian menjadi ruang untuk membicarakan pengalaman membaca atau mendengar dan hal-hal berkaitan dengan sosok Budi Darma dan karya-karyanya. Sementara itu, kegiatan ini berlangsung di kedai kopi Aboe Talib, Jalan Kecubung, Denpasar, dan beberapa peserta mengikuti diskusi secara daring.

Tiga cerpen yang dibahas dalam Semenjana #3 meliputi: pertama cerpen “Mata yang Indah” tersiar pada tahun 2000 dan menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas di tahun itu; kedua, cerpen berjudul  “Tukang Cukur” tersiar pada 2016; dan cerpen ketiga adalah “Tarom” yang tersiar pada 2017.

Cerpen memiliki ruang yang sempit, terlebih cerita pendek untuk media masa cetak. Cerpen pada media masa (khususnya koran) umumnya berkisar 10.000 karakter. Pada ruang sempit itu, hal apa saja yang bisa dibicarakan?

Tampaknya Budi Darma justru memanfaatkan ruang sempit itu dalam bercerita. Ia lebih banyak mengeksplorasi kekuatan karakter. Hal inilah yang barangkali menjadi pembeda antara Orang-orang Bloomington dan cerpen-cerpen Budi Darma yang dimuat di media masa. Pada cerpen-cerpen di buku itu, tokoh dan alur cerita mendapat porsi yang cukup lengkap, solid, sehingga, bukan satu hal yang asing lagi ketika pembaca diajak keluar masuk kepala tokoh.

Tapi, hal yang berbeda terjadi pada cerpen “Mata yang Indah”. Pada cerpen itu, pembaca diajak menyaksikan imaji visual yang memikat dan alur dengan kesimpulan yang tegang. Kelihaian Budi Darma mengelola alur dan tokoh yang lugu tampak dalam cerita ini. Haruman—salah satu tokoh dalam cerita—disuruh merantau oleh ibunya. Kemudian, dia mengalami hal-hal mengejutkan dan hal itu seolah berulang lagi di akhir cerita. Tetapi, jika dihubungkan dengan pernyataan beberapa komentator, bahwa Budi Darma barangkali ingin membicarakan absurditas, maka hal itu benar-benar terasa dalam “Mata yang Indah”.

Jika kita bicara soal absurd, maka kita akan ingat dengan Sisifus yang mendorong batu ke puncak bukit lalu menggelinding lagi dan begitu seterusnya. Dan dalam kehidupan, siklus seperti itu juga berjalan demikian, sebagaimana perburuan makna yang dilakukan manusia, yang tak lain menyerupai Sisifus.

Pada sebuah diskusi yang tersiar secara daring, saya melihat Budi Darma yang begitu polos dan santun. Hal ini berbanding terbalik dengan tokoh-tokoh yang ia ciptakan, katakanlah si Tukang Cukur pada cerpen “Tukang Cukur” yang tersiar pada tahun 2016. Dalam cerpen itu, terlihat tokoh si Tukang Cukur sebagai karakter yang sibuk mencari satu titik nyaman.

Ia berpindah-pindah kelompok agar mendapat posisi aman. Ia menjadi simpatisan satu partai politik dan menandai para musuh-musuhnya dengan memberi tanda berupa luka pada kepala orang-orang yang ia cukur. Jika dikaitkan pada konteks keganjilan tokoh pada cerpen-cerpennya, seolah kita—sebagai pembaca—tidak melihat Budi Darma.

Barangkali, menghubung-hubungkan pengarang dan karyanya adalah tindakan yang agak berlebihan. Tetapi, rasa penasaran membuat kita terkadang mengingingkan jawaban. Saya mencoba mencari hal lugu dari tiga cerpen ini dan menemukan beberapa hal lugu itu. Pertama, momentum pada cerpen “Mata yang Indah”.

Keberangkatan Haruman dimulai dengan suruhan ibunya untuk merantau agar mendapat pengalaman. Sangat sederhana. Kemudian pada cerpen tukang cukur, narator menyampaikan kemiskinan dengan sederhana—polos dan hal ini terkesan membuat penggambaran situasi dengan datar, biasa-biasa saja, tidak berlebihan.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah kepolosan Budi Darma sesungguhnya bisa dilihat dari caranya menarasikan satu peristiwa dan, sedikit banyak tokoh-tokoh itu memiliki kepolosan dalam kadar tertentu? Lebih-lebih bagi Budi Darma, menulis adalah upaya uji coba penulis terhadap kepribadiannya. Hal ini membuat saya semakin terdorong untuk menemukan jejak Budi Darma dalam karyanya. Tentu saja, spekulasi ini memerlukan penelitian lebih jauh.

Terakhir adalah cerpen “Tarom”. Cerpen ini membuat saya merasa melamun, padahal masih mengikuti cerita. Setelah membaca ulang, saya menemui lompatan cerita di tengah-tengah cerpen. Rupanya, Budi Darma sedang ngelantur; membicarakan hal-hal yang sesungguhnya tidak terlalu penting untuk menjalankan alur cerita. “Tetapi, hal apa yang ingin dicapai Budi Darma?” tanya saya dalam hati. “Aha…” saya mendapatkannya.

Dalam konteks ini, Budi Darma ingin mengajak pembaca lebih dekat dengan si tokoh. Cerita dalam cerpen ini disampaikan berdasar sudut pandang orang pertama, yaitu si Tarom. Dan, semua narasi dalam cerita berarti adalah kata-kata Tarom. Termasuk lanturan itu. Dan adalah sesuatu yang normal, ketika kita melamun, pikiran kita akan meloncat ke sesuatu yang lain, tetapi masih memiliki hubungan, dan kenyataan itulah yang dituliskan oleh Budi Darma.

Membicarakan Budi Darma dalam Semenjana #3 ini adalah ruang untuk mengenangnya, meskipun, dalam kepala saya, Budi Darma memiliki kualitas yang sama dengan tokoh-tokoh yang ia ciptakan: melekat sebagai seseorang dengan perwatakan yang khas. [T]

  • Penulis: Agus Wiratama

Sumber cerpen:

  • Cerpen “Mata yang Indah” diakses pada laman: goesprih.blogspot.com
  • Cerpen “Tarom” diakses pada laman: catatanpringadi.com
  • Cerpen “Tukang Cukur” diakses pada laman: id.klipingsastra.com 

_____

KLIK dan BACA JUGA:

Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana
Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar
Membaca Danarto dengan Segala Imajinasinya | Catatan Diskusi Semenjana
Membaca Danarto dengan Segala Imajinasinya
Tags: Budi DarmaCerpensastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

We All Connected | Pameran Lukisan Watercolor dan Kemungkinan Lain yang Tidak Hanya Ekstrakurikuler

Next Post

Manusia, Predator Puncak yang (Mencoba) Bertahan Hidup

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar (LSD) adalah sebuah kelompok belajar yang meneropong sebagian kecil dari lanskap besar Sastra Indonesia. Temui mereka di Instagram: @lingkarstudisastra.dps

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Manusia, Predator Puncak yang (Mencoba) Bertahan Hidup

Manusia, Predator Puncak yang (Mencoba) Bertahan Hidup

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co