6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
November 28, 2021
in Cerpen
Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen  I Putu Agus Phebi Rosadi

Ilustrasi adalah salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran seni rupa di Kampus Undiksha Singaraja, Januari 2020

Ini hari pertama aku pindah tugas. Sebagai wartawan harian, sebenarnya aku cukup betah di Jakarta dengan kebisingan kota yang nampak selalu krodit. Tapi seminggu lalu, seorang karib wartawan di Bali memutuskan untuk berhenti hidup menjadi wartawan karena satu dan lain hal. Maka aku diutus menggantikkannya. Dan tentu, aku tak menolak. Pulang ke kampung halaman setelah sekian lama toh bukan dosa.

Sebelum kesibukan kerja melanda, kusempatkan mengunjungi kampung halaman di Jembrana barang sebentar.  Sekiranya dua puluh tahun aku tak menginjakkan kaki di tempat ini. Bertahun-tahun belakangan, kabar tentang kampungku hanya kudengar dari cerita-cerita bapak dan saudaraku. Mereka hanya mengabariku lewat telepon dan surat-surat yang diantar tukang pos.

Aku merindukan Sungai Ijo Gading. Ingin juga kupastikan bahwa aliran sungainya masih jernih dengan riang kecipak ikan. Ingin juga kulihat sampan tertambat anggun di pelabuhan kayu sepanjang bantaran. Dan pada malam hari, sampan-sampan itu akan bertolak ke sepanjang sungai dengan kelip lampu petromak. Sungai ini benar-benar tak pernah berhenti berdenyut bahagia.

 Aku menghampiri jembatan kayu. Satu-satunya jembatan yang membelah sungai ini.  Angin pelan dan sedikit dingin kakiku yang menjuntai. Segalanya memang nampak utuh. Barangkali memang benar yang bapak katakan bahwa mungkin di luar sana, orang tak bisa menemukan sungai yang sama dua kali. Tapi di sini, orang bisa melihat sungai yang sama berkali-kali. Di sungai ini, hampir seperti tak ada yang terjadi. Waktu tak merebut apapun, kecuali usia. Sama seperti yang kubayangkan dari kejauhan. Desir angin dan pasang air menawarkan riak ke hulu ingatan. Membawakan setangkup masa kecil.

Anak-anak bergembira bermandian di bening air di bawah teduh pohon waru. Begitu kokohnya pohon waru itu, dengan dahan dan cabangnya yang menjulur ke tengah sungai membentuk semacam titian. Dahan pohon waru itu dahulu menjadi tumpuan kami untuk bermain dan melompat ke tengah sungai. Aku ingin memotretnya. Dengan kamera yang bergayut di leher, ingin kutangkap khayalan masa kecilku yang hanya sebentar. Sebagian kebahagiaan masa kecilku kemudian kuserahkan kepada Jakarta.  

Bapakku dengan kehidupan pas-pasan tak pernah sanggup menyekolahkanku dari hasil tangkapan ikan sungai yang harganya selalu jatuh di pasaran. Meski demikian, tak sekalipun ia pernah mengeluh perihal keuangan keluarga. Maka dengan cita-cita besar, ia menitip anak semata wayang kepada adiknya di Jakarta.

“Agar hidup tak bernasib sama, pergilah dengan tekad yang kuat, sebab tekad yang lemah, tak akan memberikanmu sesuatu.” Pesan terakhir yang selalu kuingat. “Anak nelayan tak harus jadi nelayan. Ia tentu boleh perpendidikan tinggi, jadi dokter, polisi, atau pengusaha,” katanya. Dan aku tak memilih pilhannya. Aku menemukan pilihanku sendiri: menjadi wartawan.

Dalam ingatanku yang terus susut ke masa kecil, tiba-tiba aku tercengang. Di kejauhan, di sepanjang tanggul sungai banyak orang berlarian seperti melakukan arak-arakan. Di tengah sungai, kulihat sebuah mayat mengambang di air pasang. Dan di belakangnya, seekor buaya mengawal. Ia terus menuju hulu lalu kembali ke hilir. Begitu berulang-ulang bersama air yang perlahan menjelma merah darah. Aku yang belum sempat memotret masa kecilku segera bergegas dan menghampiri kerumunan.

“Ada apa bapak-bapak?”

Tiba-tiba wajah mereka tercengang. Barangkali penampilan dan wajahku asing baginya. Melihat kamera di leherku, salah seorang darinya langsung menduga dan bertanya.

“Wartawan ya?” Aku tak mngiyakan, hanya membalas dengan senyum.

“Pan Putra mati diantar Buaya Gading.” Warga lain kemudian menimpali.

Mendengar nama itu, aku sempat menelan ludah. Terkejut. Tapi aku berusaha tenang dan mengulik informasi lebih jauh. “Dimangsa buaya?” Tanyaku. Diam-diam, dengan kebiasaan kerja, kutekan tombol perekam suara pada gawaiku.

“Ngawur! Saya juga tidak tahu. Yang jelas bukan dimangsa buaya. Tidak mungkin. Buaya itu sahabat kami. Sudah seminggu memang Pan Putra tak pulang ke rumah. Kami sudah melakukan beberapa upaya pencarian, mulai dari menyusur sungai hingga ke semak, mengaturkan sesajen dan memohon petunjuk kepada penunggu sungai, sempat juga bertanya kepada orang pintar. Katanya Pan Putra tak kemana, ia masih di sungai. Tapi kami tak menemukannya. Tapi hari ini mayatnya tiba-tiba mengambang diantar Buaya Gading.”

Ada rasa sakit tiba-tiba menghujam dada ketika seorang warga menceritakan lebih jauh tentang siapa mayat yang mengambang itu. “Dia adalah Pan Putra. Seorang nelayan Sungai Ijo Gading sekaligus tetua kampung yang dihormati. Dia punya anak laki-laki. Tapi sejak kecil pergi dari kampung ini. Barangkali itulah yang membuat Pan Putra mengisi kekosongan seorang ayah dengan berteman dengan sungai. Baginya sungai adalah hidup dan hidup adalah sungai.  Sepanjang hari, kalau tidak ada acara adat,waktu hidupnya ia habiskan bersama sampan dan sungai. Ada saja yang ia kerjakan. Entah itu menanam pohon penahan tebing atau membersihkan sampah.

Ia juga menentang perburuan satu-satunya buaya yang hidup di Sungai Ijo Gading. Buaya yang mengantar kematiannya hari ini. Pan Putra menyebutnya sebagai Buaya Gading, buaya Duwe, milik wong gaib. Sepanjang buaya itu tak menyakiti, maka ia tak perlu diburu. Awalnya warga tak begitu percaya dengan ucapan Pan Putra, tapi melihat apa yang dilakukan Pan Putra membuat penjelasannya terdengar masuk akal. Menghadapi kemunculan Buaya Gading, lelaki yang bertubuh legam itu memang seperti pawang buaya.

Setiap Buaya Gading mengambang dan dirasakan mengancam warga, ia turun tangan. Hanya dengan sebuah tongkat bambu, buaya itu seolah menuruti perintahnya dan menjauhi warga. Kadang juga ia berlaku seperti orang sakti. Ia bersila di atas punggung buaya yang berenang ke hulu dan ke hilir. Dengan adanya keyakinan yang diberikan Pan Putra, akhirnya tak ada warga yang terusik atas keberadaan buaya itu.  Buaya Gading itu  perlahan dibiarkan mendatangi rumah warga. Tak ada yang terusik, bahkan sebaliknya, warga memberinya buah-buahan, sayuran, atau daging sekadarnya yang mereka punya tanpa rasa takut sedikitpun. Mereka memberikan kasih sayang dan merawat buaya itu seperti hewan peliharaan.”  

“Bagi kami,” salah seorang  tua di antara kerumunan itu melanjutkan cerita, “Pan Putra lebih dari sekadar seorang nelayan dan warga Sungai Ijogading. Sebagai tetua kampung, Pan Putra telah membuat hidup kami jauh lebih baik. Ia mengajak kami menanam sayur-mayur sepanjang tanggul sungai. Sayur-mayur yang bisa kami petik kala tangkapan sedikit di musim angin. Pan Putra juga menggagas kelompok perajin miniatur sampan. Sekarang, hidup warga sepanjang sungai ijogading jauh lebih baik.

Pan Putra telah mengubah kampung ini menjadi lebih bahagia. Bagi siapa saja yang sempat menyusuri kampung ini akan terpana melihat emper-emper rumah warga dengan pemandangan ibu-ibu  memoles miniatur sampan kayu dan menyulam jaring di bawah rindang beranda halaman. Ibu-ibu muda menghidangkan teh dan jajan basah dan ibu-ibu tua mengunyah sirih pinang sambil sesekali menyurai handuk yang menyampir di kepala.

Wajah mereka jauh dari murung. Di bulan Agustus, sepanjang Sungai Ijo Gading, Pan Putra selalu menggagas hiburan rakyat dengan keramaian yang kadang tak terkira. Segala macam perlombaan riang gembira digelar. Ada pula menggelar dagangan, mulai dari pasar ikan sampai pasar oleh-oleh khas kampung. Dalam keadaan seperti itu, kampung kami terlihat alangkah makmur dan bahagia.

Tapi, sebagai orang yang dianggap memiliki pengaruh, Pan Putra telah memikul tanggung jawab yang penuh dengan kecemasan. Di bulan-bulan menjelang Pemilihan Bupati seperti sekarang ini, ia kerap didatangi tokoh politik dengan dalih ingin menyumbang uang atau barang. Dan tak jarang, setiap yang datang memikul rasa kecewa. Pan Putra selalu menolak. Dengan tegas, Pan Putra memberitahukan kepada warga agar kampung ini tak pernah terlibat politik.” Berpolitik adalah mendaki curam tebing, sedikit meleset, kita celaka.” Begitu selalu perkataan terelontar dari mulut Pan Putra. Dan seperti sihir, setiap kata yang jatuh dari mulut Pan Putra dituruti senantiasa.

Saban malam, ada saja yang datang ke rumahnya. Ketika tokoh politik tak mempan, maka mereka mengirim preman bertubuh besar. Tapi Pan Putra tak pernah gentar. Ia selalu melindungi kebebasan warga desa dari ikatan politik. Dan para preman yang diutus tokoh politik itu konon tak jarang juga mencelakai bila tak mendapatkan kesepatakan.  

Cara-cara yang dilakukan politik memang sangar dan berlumur dengki. Tapi orang-orang kampung tak pernah mencemaskan Pan Putra. Jangankan berniat mencelakai, biasanya orang yang bertemu dengan Pan Putra untuk pertama kali bahkan kerap takut salah bertutur melihat perawakan dan wibawa di wajahnya.”

Cerita-cerita tentang Pan Putra mungkin masih panjang. Bagaimanapun, mendengarkan cerita-cerita mereka tak akan membuat nyawa lelaki yang terbaring di atas air itu kembali hidup. Langit telah susut dan senja hampir pudar. Burung-burung gagak berdatangan. Mengintip di atas pohon waru. Kicaunya tak beraturan. Mengabarkan kematian. Beberapa burung kecil menimpali. Hinggap di dahan-dahan, kemudian terbang lagi. Kumatikan gawai yang sedari tadi merekam cerita demi cerita tentang Pan Putra. Aku terlanjur bersedih.

Kutinggalkan kerumunan itu. Aku ingin mencari sudut foto terbaik. Aku ingin menangkap moment itu dengan sempurna. Di kejauhan, kerumunan itu yang terus melambai minta dipotret. Ada yang memasang gaya dan senyum sumringah. Aku tak peduli. Kuarahkan kamera ke tengah sungai. Seorang lelaki tua tengadah di atas air. Tak memakai baju. Kulitnya matang diperam cahaya. Dalam keadaan tak bernapas, wajah nelayan itu tetap berusaha tersenyum. Kupikir ini adalah berita pertamaku yang menarik sekaligus menyedihkan. Besok, sebuah koran akan mengabarkan:

SEORANG NELAYAN MENGAMBANG SEPANJANG SUNGAI IJO GADING.

Dan tentu, Tak ada yang perlu tahu, nelayan yang mengambang itu adalah ayahku. [T]

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Tunas | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Untuk Apa Kehidupan Ada?

Next Post

Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co