12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru, Sahabat dan Kesenian | Refleksi Putu Sutawijaya di Rumah Maestro Made Wianta di Desa Apuan

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
November 15, 2021
in Khas
Guru, Sahabat dan Kesenian | Refleksi Putu Sutawijaya di Rumah Maestro Made Wianta di Desa Apuan

Putu Sutawijaya di depan lukisan Made Wianta di Desa Apuan, Tabanan

Desa Apuan, Baturiti, Tabanan, Bali. Petang di Hari Raya Galungan, Rabu, 10 Novemver 2021. Udara terasa segar. Semilir angin dan suara jangkrik dari sela rerumputan hijau terdengar lamat-lamat.

Gerimis seakan menciptakan suasa romantis sekaligus mistis.

Saat itulah kami (saya dan seniman Putu Sutawijaya) memasuki pintu rumah sang maestro, almarhum Made Wianta. Kami melewati gang sempit yang pada dindingnya ditempeli cermin. Sesekali kami melihat bayangan sendiri, dan membayangkan sosok maestro Made Wianta mengantar kami menuju ruang utama,

Aura rumah itu senyap dan hening sehingga tetes air yang jatuh dari langit terdengar jelas, jatuh pada kelopak bunga dan daun-daun hijau. Ada juga kupu kupu yang berkontemplasi di atas bunga anggrek bulan.

Cerita ini seakan rangkaian kebetulan.  Suara cicak yang hinggap di antara dinding dan instalasi lukisan sang maestro terdengar beberapa kali, serta kunang kunang yang terbang seperti menari di halaman yang luas.

Sungguh malam yang indah. Keindahan yang seakan disuguhkan almarhum Made Wianta untuk menyambut Putu Sutawijaya, sahabatnya.

Tiba pada bangunan utama, Putu Sutawijaya terdiam sejenak, di antara lukisan-lukisan, triangle dengan ribuan titik titik yang memenuhi bidang canvas. Itu lukisan Made Wianta.

Putu Sutawijaya menyaksikan dengan takzim pilar bangunan dari batang pohon kelapa, yang dibungkus anyaman daun kelapa kering dan karya seni instalasi yang tergantung di langit-langit rumah. Di situlah kami kemudian menyeruput kopi bersama, mengenang sosok sang maestro. Selain kami berdua, ada juga Made Lun Subrata yang dikenal sebagai jurnalis dan pelukis, juga Jennni Vi Mee Yei yang merupakanj istri seniman Putu Sutawijaya. Ibu Intan Kirana, istri tercinta Made Wianta, selaku tuan rumah menemani kami ngobrol sampai malam.

***

Putu Sutawijaya menumpahkan segala kenangannya bersama Made Wianta di rumah itu. Ia bercerita bagaimana bayang-bayang tarian kuas, dan imajinasi liar yang meledak-ledak dari Made Wianta dalam mengungkapkan ekspresi berkesenian, masih membekas dibenaknya.

Yang paling ia ingat, ketika Made wianta memberikan kejutan sehari setelah pesta pernikahan Putu dengan Jenny Vi Mee Yei. Made Wianta tiba-tiba datang saat itu lalu terjadilah obrolan panjang dari pagi sampai sore. “Banyak motivasi yang diungkapkan Made Wianta saat itu dan saat ini masih terkenang,” kata Putu.

Dari kiri ke kanan: Lun Subrata, saya (penulis), Intan Kirana, Jennni Vi Mee Yei dan Putu Sutawijaya

Saat ngopi bersama pada malam di Hari Galungan itu, Putu Sutawijaya mengaku merasakan seperti dejavu. Rasa wangi dan harumnya kopi yang disuguhkan dalam pertemuan malam itu beraroma sama dengan kopi yang dulu diseruput bersama sang maestro di rumah Putu Sutawijaya di Angseri, sebuah desa yang berada di sebelah barat Desa Apuan.

Ibu Intan Kirana mendengar cerita Putu Sutawijaya dalam suasan hening, seakan larut juga dalam kenangan-kenangan bersama suami tercinta, Made Wianta. Malam masih ditemani kunang-kunang yang terbang di antara hamparan rumput hijau, dan pohon-pohon pinang serta kamboja yang menjulang tinggi melambaikan kedamaian.

Kunang-kunang yang terbang bagaikan bintang yang berkelip di langit, dengan gerimis hujan, dan harumnya bunga kenanga.

***

Masa masa kecil Putu Sutawijaya, di kampungnya di Angseri, sangat akrab dengan hamparan sawah, dan capung yang terbang, serta ribuan kunang-kunang pada malam hari. Itu menandakan saat itu kampungnya amat asri dengan udara yang sehat, belum tercemar.  

Ia memang anak desa. Permainannya permainan anak desa. Ban motor bekas yang digelindingkan sebagai permainan di jalan tanah yang berdebu, di depan rumah, dengan kawan permainanya, dengan membawa kapur tulis yang dicuri dari sekolah,

Putu kecil mencoret papan kayu lumbung padi rumahnya dengan lukisan wayang, dan barong, terimajinasi dari pementasan wayang dari saudara kakeknya, sambil menirukan musik gamelan wayang dengan suara mulutnya, dan menirukan gerakan tarian barong.

Ngopi dan ngobrol sampai malam

Putu Sutawijaya kecil, sepulang dari belajar menari, bisa membawa tumpukan capung yang ditusuk di batang lidi, sebagai bahan makan malam. Ia biasa menarikan wayang pelepah bambu yang diiringi gender wayang dari saudara kakeknya yang seorang dalang wayang kulit.

Ayahnya Bapak Wayan Sukarja, saat itu khusuk membaca buku Pramoedya Ananta Toer, dengan seorang paman yang lagi merapikan peralatan wayang yang akan dipentaskan.  Sang ayah, melihat tingkah polah anaknya, sudah membayangkan kelak anaknya besar akan bertumbuh sebagai seniman.

Putu Leong sebutan kecil Putu Sutawijaya lantas dipanggil sang ayah untuk duduk di atas bale Bali, yang mana kakinya masih belepotan pulang dari belajar menari dan mencari capung di sawah, menerobos jalan rumahnya yang belum di aspal dan berdebu.

Ayahnya menutup buku yang dibaca, dan melepas kacamatanya, lalu berkata. “Putu Leong, kalau ingin menjadi seniman, di sebelah kampung kita ada namanya I Jegeg. Dia seniman hebat, serba bisa, dari menari, menabuh dan melukis, sama gilanya seperti kamu,” kata sang ayah sambil mengelus kepala Putu Sutawijaya.

Dan ditegaskan lagi oleh sang paman juga menceritakan “Leluhur kita juga tinggal di kampung Apuan di sebelah barat rumah I Jegeg, sebelum leluhur kita hijrah ke Angseri!”.

I Jegeg yang dimaksud adalah Made Wianta. I Jegeg adalah nama kecil Made Wianta dan orang-orang-orang di daerah Apuan dan Angseri masih menyebut Made Wianta sebagai I Jegeg.

***

Berawal dari cerita sang ayah, membulatkan tekad Putu Sutawijaya untuk menempuh Pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta jurusan seni Lukis. Cerita mengenai pelukis I Jegeg yang kemudian ia kenal dengan nama Made Wianta makin jelas didengarnya ketika sang dosen Nyoman Gunarsa, menceritakan kisah Made Wianta, lengkap cara berkeseniannya,  juga pergaulannya dengan seniman di Yogyakarta.

Banyak cerita mengenai kisah Made Wianta sewaktu kuliah di Asri Yogyakarta  (yang sekarang menjadi Institut Seni Indonesia Yogyakarta). Cerita-cerita aitu embuat Putu Muda terpacu untuk mendalami dunia kesenian.

Cara-cara Made Wianta berkesenian memberinya inspirasi, kemudian menjadi acuan Putu Sutawijaya untuk mencari jati dirinya hingga menemukan gaya lukisan sebagaimana yang ditekuninya sekarang ini.

Putu Sutawijaya juga mendengar tentang persahabatan seniman Made Wianta dengan  Nyoman Gunarsa, begitu pula perbedaan pendapat mengenai konsep berkesenian di antara mereka. Meski kerap berbeda pendapat, mereka tetap saling dukung.

Masa-masa awal pacaran Wianta dengan Intan Kirana kerap dilakukan secara sembunyi di rumah Nyoman Gunarsa di Papringan Yogyakarta. Mereka kerap dibuatkan makanan untuk makan oleh istri Nyoman Gunarsa. Yang menarik, bahkan ketika Made Wianta bekerja di Belgia, ia masih aktif mengirimkan buku dan foto porno untuk sahabatnya Nyoman Gunarsa di Indonesia.

Putu Sutawijaya alias Putu Leong

Pada masa-masa kuliah di Asri Yogyakarta jurusan seni lukis, Made Wianta muda sering diajak Nyoman Gunarsa untuk menawarkan lukisan ke Kedutaan berbekal nasi yang dibungkus daun dengan lauk seadanya. Dalam perjalanan naik kereta api ke Jakarta, mereka berdua duduk dan makan barengan dengan penumpang di depanya, yang lauknya sudah pakai ayam goring. Made Wianta dan Nyoman Gunarsa, untuk menutupi malu karena lauknya yang sederhana, saat makan, bungkusan nasi didekatkan ke mulut supaya lauknya tidak dilihat penumpang di depannya.

Romansa pertemanan Made Wianta dan Nyoman Gunarsa, sebagaimana diceritkan Ibu Intan Kirana, memang susah dilupakan. Mereka sangat melekat, saling bantu. Made Wianta disuruh menenteng lukisan, dalam perjalanan menuju Kedutaan, ketika sampai di Kedutaan Made Wianta disuruh menunggu diluar, selang beberapa waktu menunggu  akhirnya lukisan yang dibawanya  itu terjual.

Walaupun banyak perbedaan dalam konsep berkesenian, namun persahabatan mereka tetap terjaga sampai menjelang akhir hayat. Nyoman Gunarsa sempat menengok Made Wianta saat sakit.

***

Bagi Putu Sutawijaya sosok Made Wianta adalah sosok yang selalu memotivasi dengan karya-karyanya. Motivasinya adalah seniman untuk bekerja keras dengan daya kritis dan penuh pertimbangan, bukan pertimbangan untung rugi, tapi pertimbangan untuk mencapai target demi “menjadi seperti apa kelak”.

Putu Sutawijaya mempelajari manajemen berkesenian dengan kematangan reset melalui Made Wianta. Ia belajar keberanian untuk mendobrak memakai ilmu Nyoman Gunarsa.

Putu Sutawijaya mengaku sangat bersyukur mengenal sosok Wianta dan Nyoman Gunarsa, seakan dua tokoh itu membuatkan jalan tol dalam ia berproses di dunia kesenian. “Kini tinggal melanjutkan dengan daya kreatif yang kita miliki,” katanya.

Foto kenangan Putu Sutawijaya bersama Made Wianta

Walaupun Putu Sutawijaya tidak belajar secara langsung dengan sosok Made Wianta, namun cara belajarnya mengumpamaka dirinya dengan cara belajar Ekalawya dalam kisah Mahabarata. Ekalawya diceritakan memiliki kemampuan yang setara dengan Arjuna dari segi memanah, dengan belajar melalui patung Guru Drona, sebagai guru imajinasinya

Dengan dibantu sang istri yang selalu  mengumpulkan buku-buku mengenai seni rupa, dibelinya  dari luar negeri, untuk oleh-oleh buat Putu Sutawijaya, semenjak pacaran. Salah satunya mengenai buku dan artikel seniman Made Wianta yang rajin dibacanya untuk mendukung sang suami dalam mencari ide berkesenian. Dengan cara ini Putu Sutawijaya belajar mengenai cara berkesenian Made Wianta dengan literatur yang dikumpulkan sang istri.

Akhirnya sang istri, Jenni  Vi Mee Yei, terinspirasi juga oleh Made Wianta dalam pendukomentasian sketsa yang puluhan ribu banyaknya. Setiap dua minggu Putu disodorkan sketsa dan kotak kayu untuk merapikan setiap sketsa Putu Wijaya. Itulah cara Jenni Vi Mee Yei melanjutkan jejak Wianta untuk pendokumentasikan jejak berkesenian suaminya Putu Sutawijaya.

Di setiap lukisannya yang terjual setengahnya dibelikan bahan untuk melukis, dan uang saku harian 50 ribu rupiah buat Putu Sutawijaya untuk beli rokok dan es dawet kesukaan Putu Sutawijaya.

Manajemen keuangan dan kebutuhan berkesenian Putu Sutawijaya semua di atur secara ketat oleh sang istri, juga mendokumentasikan karya seni yang dihasilkan dengan rapi,  dibantu oleh staf Sangkring Art Space kepunyaan Putu Sutawijaya di Yogyakarta. . Sama halnya yang dilakukan Ibu Intan Kirana untuk mendukung suaminya Made Wianta dalam perjalanan berkesenian.

Sebagai penghormatan kepada seorang guru,  Putu Sutawijaya membuatkan pameran tunggal karya Made Wianta di Sangkring Art Space dengan tema “Dry Rain” dalam acara Yogyakarta Annual Art #6. Manajemen acara itu adalah sang istri bersama staf Sangkring Art Space.

Putu Sutawijaya dalam obrolan malam di rumah Made Wianta di Apuan pada Hari Galungan itu menyampaikan kesaksian, “Seniman siapa pun harus berani jujur tentang siapa yang menginspirasi kita. Nah, dalam kontek sekarang, itu yang banyak kehilangan di banyak anak muda!”.

Bagaimana anak muda menyikapi dunia digital yang sangat mendukung, dalam proses olah kreatif diharapkan kerja kreatifnya tidak terbatas lagi, sangat beda dengan masa masa dulu. Di masa lalu, walaupun banyak kekurangan dalam segi finansial, total berkesenian dan kenekatan dalam menciptakan karya seni tetap terjaga. [T]

Jimbaran 15 November 2021

Tags: baliDesa ApuanISI YogyakartaMade WiantaPutu SutawijayaSeni RupaYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Krisis Ekonomi Bali, Mengubah Ancaman Menjadi Tantangan

Next Post

“World Diabetes Day” : Kenali Lebih Dekat Insulin

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

“World Diabetes Day” : Kenali Lebih Dekat Insulin

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co