2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru, Sahabat dan Kesenian | Refleksi Putu Sutawijaya di Rumah Maestro Made Wianta di Desa Apuan

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
November 15, 2021
in Khas
Guru, Sahabat dan Kesenian | Refleksi Putu Sutawijaya di Rumah Maestro Made Wianta di Desa Apuan

Putu Sutawijaya di depan lukisan Made Wianta di Desa Apuan, Tabanan

Desa Apuan, Baturiti, Tabanan, Bali. Petang di Hari Raya Galungan, Rabu, 10 Novemver 2021. Udara terasa segar. Semilir angin dan suara jangkrik dari sela rerumputan hijau terdengar lamat-lamat.

Gerimis seakan menciptakan suasa romantis sekaligus mistis.

Saat itulah kami (saya dan seniman Putu Sutawijaya) memasuki pintu rumah sang maestro, almarhum Made Wianta. Kami melewati gang sempit yang pada dindingnya ditempeli cermin. Sesekali kami melihat bayangan sendiri, dan membayangkan sosok maestro Made Wianta mengantar kami menuju ruang utama,

Aura rumah itu senyap dan hening sehingga tetes air yang jatuh dari langit terdengar jelas, jatuh pada kelopak bunga dan daun-daun hijau. Ada juga kupu kupu yang berkontemplasi di atas bunga anggrek bulan.

Cerita ini seakan rangkaian kebetulan.  Suara cicak yang hinggap di antara dinding dan instalasi lukisan sang maestro terdengar beberapa kali, serta kunang kunang yang terbang seperti menari di halaman yang luas.

Sungguh malam yang indah. Keindahan yang seakan disuguhkan almarhum Made Wianta untuk menyambut Putu Sutawijaya, sahabatnya.

Tiba pada bangunan utama, Putu Sutawijaya terdiam sejenak, di antara lukisan-lukisan, triangle dengan ribuan titik titik yang memenuhi bidang canvas. Itu lukisan Made Wianta.

Putu Sutawijaya menyaksikan dengan takzim pilar bangunan dari batang pohon kelapa, yang dibungkus anyaman daun kelapa kering dan karya seni instalasi yang tergantung di langit-langit rumah. Di situlah kami kemudian menyeruput kopi bersama, mengenang sosok sang maestro. Selain kami berdua, ada juga Made Lun Subrata yang dikenal sebagai jurnalis dan pelukis, juga Jennni Vi Mee Yei yang merupakanj istri seniman Putu Sutawijaya. Ibu Intan Kirana, istri tercinta Made Wianta, selaku tuan rumah menemani kami ngobrol sampai malam.

***

Putu Sutawijaya menumpahkan segala kenangannya bersama Made Wianta di rumah itu. Ia bercerita bagaimana bayang-bayang tarian kuas, dan imajinasi liar yang meledak-ledak dari Made Wianta dalam mengungkapkan ekspresi berkesenian, masih membekas dibenaknya.

Yang paling ia ingat, ketika Made wianta memberikan kejutan sehari setelah pesta pernikahan Putu dengan Jenny Vi Mee Yei. Made Wianta tiba-tiba datang saat itu lalu terjadilah obrolan panjang dari pagi sampai sore. “Banyak motivasi yang diungkapkan Made Wianta saat itu dan saat ini masih terkenang,” kata Putu.

Dari kiri ke kanan: Lun Subrata, saya (penulis), Intan Kirana, Jennni Vi Mee Yei dan Putu Sutawijaya

Saat ngopi bersama pada malam di Hari Galungan itu, Putu Sutawijaya mengaku merasakan seperti dejavu. Rasa wangi dan harumnya kopi yang disuguhkan dalam pertemuan malam itu beraroma sama dengan kopi yang dulu diseruput bersama sang maestro di rumah Putu Sutawijaya di Angseri, sebuah desa yang berada di sebelah barat Desa Apuan.

Ibu Intan Kirana mendengar cerita Putu Sutawijaya dalam suasan hening, seakan larut juga dalam kenangan-kenangan bersama suami tercinta, Made Wianta. Malam masih ditemani kunang-kunang yang terbang di antara hamparan rumput hijau, dan pohon-pohon pinang serta kamboja yang menjulang tinggi melambaikan kedamaian.

Kunang-kunang yang terbang bagaikan bintang yang berkelip di langit, dengan gerimis hujan, dan harumnya bunga kenanga.

***

Masa masa kecil Putu Sutawijaya, di kampungnya di Angseri, sangat akrab dengan hamparan sawah, dan capung yang terbang, serta ribuan kunang-kunang pada malam hari. Itu menandakan saat itu kampungnya amat asri dengan udara yang sehat, belum tercemar.  

Ia memang anak desa. Permainannya permainan anak desa. Ban motor bekas yang digelindingkan sebagai permainan di jalan tanah yang berdebu, di depan rumah, dengan kawan permainanya, dengan membawa kapur tulis yang dicuri dari sekolah,

Putu kecil mencoret papan kayu lumbung padi rumahnya dengan lukisan wayang, dan barong, terimajinasi dari pementasan wayang dari saudara kakeknya, sambil menirukan musik gamelan wayang dengan suara mulutnya, dan menirukan gerakan tarian barong.

Ngopi dan ngobrol sampai malam

Putu Sutawijaya kecil, sepulang dari belajar menari, bisa membawa tumpukan capung yang ditusuk di batang lidi, sebagai bahan makan malam. Ia biasa menarikan wayang pelepah bambu yang diiringi gender wayang dari saudara kakeknya yang seorang dalang wayang kulit.

Ayahnya Bapak Wayan Sukarja, saat itu khusuk membaca buku Pramoedya Ananta Toer, dengan seorang paman yang lagi merapikan peralatan wayang yang akan dipentaskan.  Sang ayah, melihat tingkah polah anaknya, sudah membayangkan kelak anaknya besar akan bertumbuh sebagai seniman.

Putu Leong sebutan kecil Putu Sutawijaya lantas dipanggil sang ayah untuk duduk di atas bale Bali, yang mana kakinya masih belepotan pulang dari belajar menari dan mencari capung di sawah, menerobos jalan rumahnya yang belum di aspal dan berdebu.

Ayahnya menutup buku yang dibaca, dan melepas kacamatanya, lalu berkata. “Putu Leong, kalau ingin menjadi seniman, di sebelah kampung kita ada namanya I Jegeg. Dia seniman hebat, serba bisa, dari menari, menabuh dan melukis, sama gilanya seperti kamu,” kata sang ayah sambil mengelus kepala Putu Sutawijaya.

Dan ditegaskan lagi oleh sang paman juga menceritakan “Leluhur kita juga tinggal di kampung Apuan di sebelah barat rumah I Jegeg, sebelum leluhur kita hijrah ke Angseri!”.

I Jegeg yang dimaksud adalah Made Wianta. I Jegeg adalah nama kecil Made Wianta dan orang-orang-orang di daerah Apuan dan Angseri masih menyebut Made Wianta sebagai I Jegeg.

***

Berawal dari cerita sang ayah, membulatkan tekad Putu Sutawijaya untuk menempuh Pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta jurusan seni Lukis. Cerita mengenai pelukis I Jegeg yang kemudian ia kenal dengan nama Made Wianta makin jelas didengarnya ketika sang dosen Nyoman Gunarsa, menceritakan kisah Made Wianta, lengkap cara berkeseniannya,  juga pergaulannya dengan seniman di Yogyakarta.

Banyak cerita mengenai kisah Made Wianta sewaktu kuliah di Asri Yogyakarta  (yang sekarang menjadi Institut Seni Indonesia Yogyakarta). Cerita-cerita aitu embuat Putu Muda terpacu untuk mendalami dunia kesenian.

Cara-cara Made Wianta berkesenian memberinya inspirasi, kemudian menjadi acuan Putu Sutawijaya untuk mencari jati dirinya hingga menemukan gaya lukisan sebagaimana yang ditekuninya sekarang ini.

Putu Sutawijaya juga mendengar tentang persahabatan seniman Made Wianta dengan  Nyoman Gunarsa, begitu pula perbedaan pendapat mengenai konsep berkesenian di antara mereka. Meski kerap berbeda pendapat, mereka tetap saling dukung.

Masa-masa awal pacaran Wianta dengan Intan Kirana kerap dilakukan secara sembunyi di rumah Nyoman Gunarsa di Papringan Yogyakarta. Mereka kerap dibuatkan makanan untuk makan oleh istri Nyoman Gunarsa. Yang menarik, bahkan ketika Made Wianta bekerja di Belgia, ia masih aktif mengirimkan buku dan foto porno untuk sahabatnya Nyoman Gunarsa di Indonesia.

Putu Sutawijaya alias Putu Leong

Pada masa-masa kuliah di Asri Yogyakarta jurusan seni lukis, Made Wianta muda sering diajak Nyoman Gunarsa untuk menawarkan lukisan ke Kedutaan berbekal nasi yang dibungkus daun dengan lauk seadanya. Dalam perjalanan naik kereta api ke Jakarta, mereka berdua duduk dan makan barengan dengan penumpang di depanya, yang lauknya sudah pakai ayam goring. Made Wianta dan Nyoman Gunarsa, untuk menutupi malu karena lauknya yang sederhana, saat makan, bungkusan nasi didekatkan ke mulut supaya lauknya tidak dilihat penumpang di depannya.

Romansa pertemanan Made Wianta dan Nyoman Gunarsa, sebagaimana diceritkan Ibu Intan Kirana, memang susah dilupakan. Mereka sangat melekat, saling bantu. Made Wianta disuruh menenteng lukisan, dalam perjalanan menuju Kedutaan, ketika sampai di Kedutaan Made Wianta disuruh menunggu diluar, selang beberapa waktu menunggu  akhirnya lukisan yang dibawanya  itu terjual.

Walaupun banyak perbedaan dalam konsep berkesenian, namun persahabatan mereka tetap terjaga sampai menjelang akhir hayat. Nyoman Gunarsa sempat menengok Made Wianta saat sakit.

***

Bagi Putu Sutawijaya sosok Made Wianta adalah sosok yang selalu memotivasi dengan karya-karyanya. Motivasinya adalah seniman untuk bekerja keras dengan daya kritis dan penuh pertimbangan, bukan pertimbangan untung rugi, tapi pertimbangan untuk mencapai target demi “menjadi seperti apa kelak”.

Putu Sutawijaya mempelajari manajemen berkesenian dengan kematangan reset melalui Made Wianta. Ia belajar keberanian untuk mendobrak memakai ilmu Nyoman Gunarsa.

Putu Sutawijaya mengaku sangat bersyukur mengenal sosok Wianta dan Nyoman Gunarsa, seakan dua tokoh itu membuatkan jalan tol dalam ia berproses di dunia kesenian. “Kini tinggal melanjutkan dengan daya kreatif yang kita miliki,” katanya.

Foto kenangan Putu Sutawijaya bersama Made Wianta

Walaupun Putu Sutawijaya tidak belajar secara langsung dengan sosok Made Wianta, namun cara belajarnya mengumpamaka dirinya dengan cara belajar Ekalawya dalam kisah Mahabarata. Ekalawya diceritakan memiliki kemampuan yang setara dengan Arjuna dari segi memanah, dengan belajar melalui patung Guru Drona, sebagai guru imajinasinya

Dengan dibantu sang istri yang selalu  mengumpulkan buku-buku mengenai seni rupa, dibelinya  dari luar negeri, untuk oleh-oleh buat Putu Sutawijaya, semenjak pacaran. Salah satunya mengenai buku dan artikel seniman Made Wianta yang rajin dibacanya untuk mendukung sang suami dalam mencari ide berkesenian. Dengan cara ini Putu Sutawijaya belajar mengenai cara berkesenian Made Wianta dengan literatur yang dikumpulkan sang istri.

Akhirnya sang istri, Jenni  Vi Mee Yei, terinspirasi juga oleh Made Wianta dalam pendukomentasian sketsa yang puluhan ribu banyaknya. Setiap dua minggu Putu disodorkan sketsa dan kotak kayu untuk merapikan setiap sketsa Putu Wijaya. Itulah cara Jenni Vi Mee Yei melanjutkan jejak Wianta untuk pendokumentasikan jejak berkesenian suaminya Putu Sutawijaya.

Di setiap lukisannya yang terjual setengahnya dibelikan bahan untuk melukis, dan uang saku harian 50 ribu rupiah buat Putu Sutawijaya untuk beli rokok dan es dawet kesukaan Putu Sutawijaya.

Manajemen keuangan dan kebutuhan berkesenian Putu Sutawijaya semua di atur secara ketat oleh sang istri, juga mendokumentasikan karya seni yang dihasilkan dengan rapi,  dibantu oleh staf Sangkring Art Space kepunyaan Putu Sutawijaya di Yogyakarta. . Sama halnya yang dilakukan Ibu Intan Kirana untuk mendukung suaminya Made Wianta dalam perjalanan berkesenian.

Sebagai penghormatan kepada seorang guru,  Putu Sutawijaya membuatkan pameran tunggal karya Made Wianta di Sangkring Art Space dengan tema “Dry Rain” dalam acara Yogyakarta Annual Art #6. Manajemen acara itu adalah sang istri bersama staf Sangkring Art Space.

Putu Sutawijaya dalam obrolan malam di rumah Made Wianta di Apuan pada Hari Galungan itu menyampaikan kesaksian, “Seniman siapa pun harus berani jujur tentang siapa yang menginspirasi kita. Nah, dalam kontek sekarang, itu yang banyak kehilangan di banyak anak muda!”.

Bagaimana anak muda menyikapi dunia digital yang sangat mendukung, dalam proses olah kreatif diharapkan kerja kreatifnya tidak terbatas lagi, sangat beda dengan masa masa dulu. Di masa lalu, walaupun banyak kekurangan dalam segi finansial, total berkesenian dan kenekatan dalam menciptakan karya seni tetap terjaga. [T]

Jimbaran 15 November 2021

Tags: baliDesa ApuanISI YogyakartaMade WiantaPutu SutawijayaSeni RupaYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Krisis Ekonomi Bali, Mengubah Ancaman Menjadi Tantangan

Next Post

“World Diabetes Day” : Kenali Lebih Dekat Insulin

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

“World Diabetes Day” : Kenali Lebih Dekat Insulin

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co