2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ditanam, Sudah Jadi Taman | Tribute To Umbu Landu Paranggi di Festival Seni Bali Jani

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 7, 2021
in Ulasan
Ditanam, Sudah Jadi Taman  | Tribute To Umbu Landu Paranggi di Festival Seni Bali Jani

Tribute to Umbu oleh JKP Denpasar di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Bali. [Foto Ari Antoni]

“Bung, tenang saja, di taman sudah tumbuh bunga-bunga puisi, rimbun – menarik banyak kupu-kupu dan kumbang,” ujar saya dalam hati setelah menyaksikan Tribute To Umbu Landu Paranggi oleh Jatijagat Kehidupan Puisi  (JKP) – Denpasar, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Bali, 4 November 2021 malam.

Umbu Landu Paranggi ialah tokoh sastra di Indonesia khususnya puisi, jika dibentangkan cerita serta jejak-jejak beliau dalam menanam puisi di hati setiap orang, mungkin bukan saya orang yang pantas. Ada banyak murid Bung Umbu yang bisa ditanyakan perihal laku hidup puisi yang ia jalani.

Saya sendiri sempat menjadi “korban” lakunya, korban yang merasa tersesat di jalan yang benar, korban yang merasa diri beruntung sempat menulis puisi karena tuntunan Bung Umbu. Hingga sekarang saya masih menulis puisi, kendati untuk diri sendiri serta sejumlah riset pribadi.

Panggung dibuka dengan sejumlah penari yang membawa layang celepuk, pada kain itu bertulis sejumlah kata serta gambar-gambar abstrak. Penari membentuk komposisi ritmis dengan menggerakkan layangan seperti bergetar. Gerakan itu diiringi oleh genderang musik sumba yang melantun monoton, menghantarkan layangan terbang membumbung tinggi ke langit.

Adegan tersebut mengingatkan saya pada kata Metiyem, yang juga merupakan judul buku tentang Bung Umbu terbit tahun 2019. Metiyem dalam konteks Bali artinya terbang tinggi ke langit, bersembunyi di antara awan tanpa ada yang mengetahui. Kata ini sering Bung Umbu bicarakan dalam beberapa kali pertemuan, itu ajaran untuk mencapai suatu raihan hidup tanpa harus menggembar gemborkan ke khalayak luas. Semacam kekidungan yang diciptakan oleh seniman Bali terdahulu, tanpa memberi nama pangarangnya-anonymus. Tapi tembangnya kita gunakan hingga hari ini.

Para penampil dalam pentas Tribute To Umbu oleh JKP Denpasar [Foto-foto: Ari Antoni]

Dalam jalinan pertunjukan JKP,  puisi Bung Umbu menjelma adegan-adegan teaterikal, musikalisasi puisi, laku tubuh, serta kerlipan lampu yang puitis, setiap jeda adegan diselingi rekaman suara Bung Umbu terkait puisi, Bali serta kata-kata.  Rekaman suara itu seolah jadi satu dalam jiwa-jiwa penampil dari anak SMA, mahasiswa, pesilat hingga penyair. Seperti  MM Astra, Dewa Sahadewa, Pranita Dewi, Obe Marzuki, Ayu Chumani, Heri Windi Anggara – Sekali Pentas dan monolog oleh  Muda Wijaya. Alihwahana ini merupakan daya cipta serta upaya tafsir setiap penampil dalam menganalisis serta menyanyikan pertunjukan. Puisi melebur di panggung, cair dinamis dalam tatanan teknis yang mempesona.

Sebut saja musikalisasi Puisi Sabana – Umbu Landu Paranggi oleh Kelompok Sekali Pentas gubahan Heri Windi Anggara

Sabana Sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda

Sabana tandus
mainkan laguku
harum napas bunda
seorang gembala berpacu

Sungguh ciamik Heri menerjemahkan kata-kata di atas menjadi aksi nyanyian yang melemparkan saya ke tengah sabana. Terbentang luas, panas dan tandus. Tapi ada selusur sunyi di dalamnya, di sanalah Bung Umbu mencari diri, di tengah tak keterdugaan kata, kemungkinan jalan nasib, ia tetap sunyi sendiri berjalan menuju keinginannya. Seorang gembala berpacu – jauh dari lampu-lampu panggung menyilaukan, jauh dari publikasi berlebihan, jauh dari hiruk pikuk politik industrialisasi sastra kita.

Her aku harus akui semua penonton terpukau saat ketiga penyanyi perempuanmu bersahutan panjang, sepertinya mereka berada luas lapang Sabana. Aku di bangku penonton seperti bukit-bukit menjulang, tanah-tanah gersang, ilalang panjang, serta langit biru yang kukuh diam tak bergeming. Apa kamu hendak memanggil Bung Umbu hari itu, atau meneriaki kematian yang jalannya masih simpang ?

Penampilan Kelompok Sekali Pentas dalam Tribute To Umbu [Foto: Ari Antoni]

Penampil lainnya membawa puisi dengan diiringi teaterikal yang seolah-olah menjadi jiwa hidup kata-kata. Panggung tersihir, lampu-lampu menyisir laku tubu itu, mata penonton khawatir – menanyakan kematian selanjutnya sementara jawabannya masih beku di udara.

Selain pementasan rangkaian acara juga diselingi diskusi singkat yang dipandu oleh Moch Satrio Welang bersama Putri Suastini Koster, Prof Dharma Putra dan Budayawan Hartanto Yudo Prasetyo.

Ketiga narasumber menceritakan bagaimana pandangannya terhadap sosok Bung Umbu. Satu ulasan menarik oleh Prof Dharma Putra bahwa Bung Umbu disejajarkan dengan Walter Spies, Bonnet dan sejumlah pelukis dari luar negeri, yang memberi pemaknaan hidup kepada orang Bali. Sehingga hadir satu budaya untuk mempengaruhi laku orang Bali dalam berkesenian.

“Ketika Umbu datang ke Bali, Bali sangat beruntung kedatangan orang yang extra ordinary seperti dia,” ujar Prof Dharma Putra

Diskusi singkat yang dipandu oleh Moch Satrio Welang bersama Putri Suastini Koster, Prof Dharma Putra dan Budayawan Hartanto Yudo Prasetyo. [Foto: Ari Antoni]

Keberuntungan itu juga saya rasakan, dari SMP hingga hari ini saya masih menyusun kata-kata, memilah, memilih untuk bisa disebut sebagai puisi. Saya masih ingat Bung, saat saya jumpai dikantor Bali Post sewaktu SMP, bersama kawan penyair dan kawan muda lainnya. Kemudian pertemuan terakhir kita di depan Jalan  Veteran di depan pasar burung Satria. Saya tidak sengaja berhenti lalu menanyakan kabar Bung Umbu.

“Hai Santiasa, tetaplah menulis ya, saya jalan kaki saja,” ujar Bung, saat saya menawari tumpangan.

Sampai saat ini walau saya tahu Bung berpulang, saya masih mencari-mencari sosok Bung  jika melintasi jalan Veteran. Siapa tahu saya bertemu puisi yang Bung tinggalkan di sana. Sama seperti malam itu bung, semua murid-muridmu hadir membacakan puisi untukmu, merangkai makna dalam penghayatan panjang.

Oh ya, Bung Umbu sudah bertemu Pak Abbas (Ketut Syahruwardi Abbas) di sana?

Beberapa hari lalu ia bergegas berangkat, menemui puisi yang paling Umbu. Doa kami di sini untuk perjalanan panjang Bung dan pak Abbas .[T]

Tags: Festival Seni Bali JaniJati Jagat Kampung PuisiJatijagat Kehidupan PuisiTribute to Umbu Landu ParanggiUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan Gubernur Koster: Rawat Festival Seni Bali Jani

Next Post

Menafsir Romantisme Pada Pementasan Raya Raya Cinta

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menafsir Romantisme Pada Pementasan Raya Raya Cinta

Menafsir Romantisme Pada Pementasan Raya Raya Cinta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co