5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pembungkaman | Cerpen Teddy C. Putra

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
September 25, 2021
in Cerpen
Pembungkaman | Cerpen Teddy C. Putra

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Selepas menamatkan pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bali, tanpa pikir panjang Nanta langsung memulai langkahnya menjadi jurnalis dengan bekerja di salah satu media yang cukup eksis. Langkahnya tampak tidak menemui halangan yang berarti, mengingat sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) ia sudah menaruh ketertarikan dengan dunia jurnalistik. Melihat Najwa Shihab yang sigap melaporkan peristiwa Tsunami Aceh, membawa khayalannya beterbangan.

“Jika aku jadi jurnalis, akan banyak tempat, orang, dan tantangan yang bisa ditemui”.

Memulai dengan mengikuti ekstra kurikuler jurnalistik hingga menekuni dunia itu di Lembaga Pers kampus membuatnya cukup kaya akan pengalaman. Bukan bosan yang dirasakannya, makin hari ia semakin tahu bahwa masih banyak yang belum diketahui dalam dunia ini.

“Nan, sekarang kamu sudah besar, sudah lulus, dan sekarang sudah kerja. Bantu-bantu keluarga ya, lakukan dengan bertanggung jawab,” ujar Bapaknya di sela-sela memotong rumput untuk makanan sapi.

“Pasti, Pak. Jangan khawatir. Nanta pasti bantu-bantu keluarga,” sahut Nanta menanggapi nasihat bapaknya sambil melihat hamparan padi yang mulai menguning.

Sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga petani, membuatnya terbiasa hidup sederhana dan mengikuti segala aturan yang ada. Kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, membuatnya tersadar, bahwa negara tempatnya tinggal memberi setiap warga negara kebebasan untuk berpendapat. Berbeda dengan desa tempatnya tinggal, sangat bergantung pada ketokohan untuk mengambil keputusan. Dan rakyat biasa seperti dirinya hanya memiliki peran sebagai silent majority.

Kini ia mendapat kesempatan untuk mengakses tempat yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Berbekal semangat belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi, ia datangi banyak pihak guna memperoleh berita untuk melepas dahaga informasi masyarakat. Mulai dari kantor kepolisian, kejaksaan tinggi, hingga kantor pemerintahan tidak absen ia datangi. Kalimat yang dikatakan pimpinan redaksinya menambah semangat untuk belajar dalam debutnya menjadi jurnalis.

 “Nan, tidak banyak yang memiliki kesempatan ini. Jadikan ini tempat untuk belajar. Tidak hanya untuk mencari nafkah, tapi juga untuk meningkatkan kualitasmu sebagai jurnalis,” ujar Pak Oka.

***

Terik matahari yang memancar tanpa dihalangi setitik awan menggiring sekumpulan wartawan yang tengah memburu berita di kantor kepolisian. Kebanyakan dari mereka memenuhi kantin di pojokan kantor dengan beberapa meja dan kursi kayu yang tertata cukup rapi. Nanta menyeruput kopi hitam tanpa gulanya meski teman-teman wartawan di sekelilingnya terlihat cukup sibuk berdiskusi tentang berita-berita yang sudah mereka dapatkan.

“Ehh Nan, sudah tahu belum? Ada berita panas nih,” ujar Adi sesudah mendaratkan diri di sebuah kursi kayu.

“Hah? Kopi panas?” sembari mendekatkan telinganya ke dekat Adi.

“Bukan kopi panas, tapi berita panas, Nan!” sahut Adi dengan volume suara lebih keras.

“Ohh, berita panas. Memangnya berita apa, Di?”

“Barusan aku dapat kabar kalau ada isu korupsi dana desa. Jumlahnya nggak main-main Nan, 2 milyaran rupiah. Gila nggak tuh?!”

“Gila!!! Seriusan?! Saat rakyat kesusahan masih ada saja oknum pejabat dengan santainya makan uang rakyat. Harus dibuat kapok tuh,” diikuti dengan tumpahan kopi yang baru sedikit diminum oleh Nanta.

“Ssstttt!!! Jangan keras-keras, Nan, ini masih sebatas isu. Pihak berwenang juga masih dalam proses penyelidikan,” sambil mengambil tisu dan membersihkan meja.

“Gimana kalau kita investigasi kasus ini, setelah dapat info jelas kita naikkan jadi berita. Biar kapok mereka!” ujar Nanta menggebu-gebu.

“Ngawur! Harus izin dululah sama pimpinan redaksi, jangan asal investigasi gitu, Nan,” Adi mengingatkan.

“Ya sudah, nanti kita omongin lagi itu acara konferensi pers sudah mau mulai,” tutup Nanta sambil mengajak Adi beranjak dari kantin.

Bulan penuh tampak menyembul di langit dan menerangi pinggiran kota kala itu, beberapa kendaraan mulai terparkir di halaman rumah yang saat ini difungsikan sebagai kantor. Seperti biasa, setiap malam ia dan beberapa teman wartawannya berkumpul untuk menyelesaikan berbagai berita yang sudah mereka himpun. Nanta cukup menikmati rutinitas yang sudah ia jalani hampir satu tahun ini.

Namun belakangan, ia agak terganggu dengan isu korupsi yang sempat disampaikan oleh Adi saat di kantor kepolisian beberapa waktu lalu. Keresahannya semakin menjadi tatkala isu ini semakin sering dibicarakan di tempatnya bekerja, “Kenapa banyak yang membicarakan, tapi tak satu pun yang berani memberitakannya,” pertanyaan yang selalu timbul tapi hanya bisa ia simpan sendiri.

Dalam duduknya, ia membulatkan tekad untuk memulai investigasinya, isu korupsi ini berhasil memicu adrenalinnya untuk melompati batasan yang ia miliki. Rasa kesalnya pun berhasil melampaui rasa takutnya.

Bermodal informasi yang sangat terbatas, ia mulai investigasinya dengan menemui Adi, pemberi informasi tentang isu korupsi yang menyeret oknum pejabat di daerahnya. Meski timbul tenggelam, kasus ini sudah menjadi sorotan banyak mata. Hal ini memperkuat keinginannya membuka kasus yang sangat tidak manusiawi ini ke hadapan masyarakat.

“Di, dari mana kita harus mulai?”

Tatapan Adi menerawang ke langit seolah-olah mencari petunjuk atas pertanyaan Nanta yang terlihat begitu bersemangat. Asap kendaraan memberikan stimulus yang buruk terhadap kecepatannya dalam mencari ide. “Tunggu, beri waktu aku berpikir sebentar,” ujarnya.

“Jangan kelamaan, hari keburu siang.” Nanta mengingatkan.

Seutas senyum mulai tersimpul dari wajah Adi, sepertinya Adi sudah menemukan jawaban dari pertanyaan yang beberapa waktu lalu disampaikan temannya. “Aku tahu kita harus mulai dari mana. Ayo berangkat, jangan buang-buang waktu lagi,” Adi langsung beranjak ke sepeda motornya.

“Oii, tunggu! Punya jawaban kok disimpan sendiri!” protes Nanta lalu menyusul Adi dari belakang.

***

Waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi saat mereka memasuki gedung utama Kantor Kejaksaan. Langkah mereka agak cepat menuju ke salah satu ruangan yang berada di lantai dua. Senyum mereka tersimpul setelah berhasil menemui orang yang dicari—Pak Ketut merupakan salah satu pejabat Kejaksaan Negeri yang bertugas mengurusi kasus dugaan korupsi dana desa oleh oknum pejabat di daerahnya. Basa-basi menjadi senjata ampuh untuk memulai setiap pertemuan, tak terkecuali pertemuan mereka dengan Pak Ketut.

Tidak mau melewatkan kesempatan emas, Nanta mulai melempar satu per satu pertanyaan yang sudah ia siapkan. Pak Ketut pun menjawab seluruh pertanyaan dengan lancar meski di beberapa bagian ia agak tergagap dan terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Nanta.

“Tumben saya lihat ada anak muda yang begitu semangat mengusut kasus seperti ini. Kalian tidak takut konsekuensinya?” tanya Pak Ketut tersebut sesudah sesi wawancara.

“Untuk apa takut Pak? Kami hanya ingin menunjukkan kelakuan pejabat yang tidak punya simpati pada masyarakatnya, meski di tengah situasi sulit seperti sekarang,” sahut Nanta.

“Semangat seperti ini yang saya suka, mengingatkan saya akan masa muda dulu,” ujar Pak Ketut mencoba melayangkan ingatannya ke masa mudanya dulu. Saat ia dan teman-teman kuliahnya coba mengusut kasus korupsi dana beasiswa yang dilakukan oleh pihak rektorat. Nahas, ia dan teman-temannya lebih dulu dibungkam dengan ancaman diberhentikan sebagai mahasiswa.

“Apa kalian yakin melanjutkan ini?”

“Yakin, Pak. Ini kami lakukan tidak untuk diri kami sendiri. Tapi untuk kepentingan orang banyak,” tegas Nanta.

“Baiklah kalau begitu. Setelah ini kalian bisa coba datangi kantor pemerintah yang saya sebut tadi untuk mencari keterangan lebih lanjut,” tutup Pak Ketut.

Sejatinya, jauh di dalam diri, ia menyimpan rasa takut yang coba ia tumpuk dengan semangat membongkar kasus yang sering disebut juga sebagai extra ordinary crime. Tindak kejahatan luar biasa yang hanya bisa dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Rasa takut bertambah karena apa yang dilakukannya adalah inisiatif sendiri tanpa sepengetahuan Pak Oka. Kini ia sudah terlanjur memulai langkahnya, dalam pikirannya hanya satu—bagaimana cara untuk melangkahkan kakinya ke garis akhir.

Mereka sudah berada di kantor pemerintahan yang disebutkan Pak Ketut. Langkah mereka mengarah ke gazebo yang terdapat di area halaman kantor. Ia mengambil botol minum di tasnya, “..glek..glek..glek..” dalam waktu singkat air minum dalam botol tersisa setengahnya.

“Kamu haus apa doyan sih?” ujar Adi disambut gelak tawa oleh mereka berdua.

Suara kicau burung yang tengah bertengger di ranting pohon mengantarkan pikirannya berkelana mencoba menebak-nebak apa yang akan terjadi di masa depan. Nasib-nasib nahas wartawan senior yang mencoba mengungkap kasus-kasus besar mulai terpampang jelas di depannya. Sentuhan angin di wajahnya membawa ingatannya pada cerita Pak Oka saat awal-awal ia menjadi wartawan.

Pak Oka menceritakan bagaimana teman seperjuangannya memutuskan berhenti menuliskan berita tentang mega korupsi pembangunan resort di tahun 1990-an disebabkan oleh berbagai ancaman yang diterima—tidak hanya untuk dirinya, tapi ancaman tersebut juga diterima oleh keluarganya. Rekaman percakanannya dengan Pak Oka berhasil membuat bulir-bulir keringat mengalir di pelipisnya, beberapa kali ia juga coba menarik nafas panjang, menenangkan jantungnya yang berdegup cukup kencang.

“Kamu kenapa, Nan?”

“Aku mulai takut dengan apa yang sudah kita mulai,” sahutnya tanpa memandang lawan bicaranya.

“Loh, barusan di Kejaksaan kamu sangat bersemangat. Kenapa mendadak nyalimu ciut?” Adi mulai penasaran.

“Barusan aku terbayang risiko yang bisa kita hadapi, Di. Bisa jadi kita banyak dapat ancaman pembunuhan habis ini,” jelas Nanta.

“Ya, namanya juga risiko, Nan. Kita kan sudah dewasa, ya harus berani hadapi risiko secara bertanggung jawab.”

Kalimat yang dikatakan Adi mengingatkannya dengan nasihat bapaknya. “Nan, sekarang kamu sudah besar, sudah lulus, dan sekarang sudah kerja. Bantu-bantu keluarga ya, lakukan dengan bertanggung jawab.”

Kalimat itulah yang akhirnya berhasil mengubur rasa takut yang sempat menguasai, dan digantikan dengan keyakinan membuncah untuk menyelesaikan investigasinya bersama Adi.

Langkah mereka mantap menemui beberapa pejabat yang direkomendasikan oleh Pak Ketut. Banyak pertanyaan mereka lontarkan kepada beberapa pejabat—kebanyakan dari mereka pun menampik dan berdalih bahwa tidak mengetahui isu yang sedang mengemuka. Bahkan beberapa merespon kedatangan mereka dengan sangat sinis, seolah-olah mereka adalah ancaman yang harus segera dilenyapkan.

“Dari mana kalian dengar isu semacam itu? Bohong itu!”

“Kalau soal itu saya kurang tahu, coba tanya ke sebelah. Sudah sudah, saya mau lanjut kerja dulu.”

“Itu hanya isu belaka, jangan langsung percaya.”

Hal demikian tidak membuat mereka patah arang, mereka cukup puas dengan apa yang sudah mereka dapatkan. Melalui gawainya, ia mulai menyusun berbagai informasi yang sudah didapatkannya hari itu. Merangkainya menjadi informasi yang utuh dan bisa disampaikan ke masyarakat. Belum juga ia menuntaskan satu kalimat, layar gawainya menunjukkan ada panggilan masuk dari Pak Oka.

“Nan, bisa ke kantor sekarang?” ujar Pak Oka dari seberang telepon.

“Bisa, Pak. 15 menit lagi saya sampai,” sahutnya tanpa basa-basi.

Ia pun menyimpan gawainya ke dalam saku celana seraya meninggalkan Adi yang masih duduk di gazebo.

“Di, aku balik duluan ya. Ada panggilan mendadak dari bos,” ujar Nanta sambil berjalan ke arah parkiran.

“Wah, dapat bonus nih,” canda Adi yang masih duduk sambil memainkan gawainya.

Pikirannya mulai liar, berbagai spekulasi timbul tenggelam di kepalanya. Ada apa gerangan tiba-tiba Pak Oka menghubunginya, mendadak pula. Apakah ini berhubungan dengan yang dilakukannya hari ini? Kendati pun iya, siapa yang membocorkannya? Berbagai pertanyaan yang muncul di kepalanya membikin ia makin pusing selama dalam perjalanan. Menjelang pukul 2 siang, ia tiba di kantor.

Langkahnya cukup hati-hati memasuki ruangan Pak Oka, berharap hal baik selalu menyertainya. Pak Oka terlihat membaca beberapa pesan di ponselnya saat ia melangkahkan kaki kirinya ke dalam ruang kerja pimpinannya. Udara segar yang masuk ke ruangan Pak Oka melalui jendela tidak membatalkan niat bulir-bulir keringat meramaikan pelipisnya. Jantungnya semakin berdegup kencang saat ia sudah duduk di hadapan Pak Oka yang kini menatap dirinya lekat-lekat.

“Langsung saja ke poinnya Nan, apa kamu merasa melakukan hal di luar tugas-tugas yang saya berikan?” sambil melempar tatapan tajam ke arah lawan bicaranya.

“E-ee, maksud Bapak?” tanya Nanta agak terbata-bata.

“Begini, saya minta kamu sudahi apa yang sedang kamu lakukan. Hal tersebut sangat berisiko tidak hanya buat kamu, tapi juga buat perusahaan ini. Apa kamu mau apa yang kamu lakukan berdampak pada keberlangsungan perusahaan dan pekerjaan teman-temanmu? Tentu tidak bukan?”

“Mohon maaf, Pak, bukan bermaksud untuk tidak sopan. Tapi saya belum mengerti apa yang Bapak maksud.” Nanta masih menerka-nerka arah pembicaraan Pak Oka.

“Jangan pura-pura tidak tahu, Nan, yang saya maksud dari tadi adalah isu korupsi yang lagi jadi bahan perbincangan. Itu adalah isu yang sangat sensitif, apalagi kasus ini melibatkan beberapa pejabat yang punya kekuasaan begitu besar. Jadi kalau kita mengambil manuver terlalu dalam, maka itu akan mengancam keberlangsungan perusahaan tempat kita mencari nafkah,” tegas Pak Oka.

“Tapi, Pak, kasus ini sangat merugikan rakyat. Kita sebagai pihak yang memiliki kelebihan untuk mengakses sumber informasi harusnya memberikan informasi yang utuh kepada rakyat terkait kasus ini, supaya rakyat tahu kelakuan pejabatnya yang tidak punya rasa simpati terhadap kesulitan rakyat,”  Nanta coba membela diri.

“Saya memaklumi semangatmu, saya memahami idealisme yang kamu yakini. Tapi, kita hidup di dunia yang penuh dengan kepentingan. Idealisme yang kita bawa pada akhirnya dibenturkan pada realita yang ada. Saat ini kamu hidup di realitas yang penuh kepentingan, di satu sisi kasus ini sangat merugikan rakyat, tapi di satu sisi kita dihadapkan dengan kepentingan untuk bertahan hidup. Jadi kira-kira mana yang kamu pilih jika dihadapkan dengan dua pilihan tersebut?” Pak Oka mulai menyudutkan Nanta.

“Tapi, Pak, saya sudah dapat beberapa informasi terkait isu ini. Menurut saya kalau isu ini kita angkat, kita akan dapat respon yang bagus dari masyarakat!” Ia coba meyakinkan.

“Begini deh, Nan, saya kasi pilihan. Keluar dari media ini dan silakan lanjutkan investigasimu dengan segala risikonya. Atau hentikan investigasimu dan silakan lanjutkan karirmu di media ini.”

Bagaikan petir di siang hari, kata-kata Pak Oka menyambar kesadaran Nanta. Pandangannya seketika kosong beberapa saat, suara-suara bising lalu lalang kendaraan di depan kantornya juga nampak enggan singgah di telinganya. Ia hanya bisa menatap Pak Oka tanpa mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya.

Ia kembali teringat nasihat Bapaknya, “Nan, sekarang kamu sudah besar, sudah lulus, dan sekarang sudah kerja. Bantu-bantu keluarga ya, lakukan dengan bertanggung jawab.”

Apakah dengan menghentikan investigasi isu korupsi adalah bentuk membantu keluarga? Bayangan saat keluarganya mendapatkan ancaman dari orang-orang tidak dikenal muncul di kepalanya.

“Terima kasih atas pilihannya, Pak, izinkan saya memikirkannya terlebih dulu!” Lantas Nanta bangkit dari duduknya dan mohon undur diri dari ruangan atasannya.

Wajahnya merah padam, tangannya mengepal seolah ingin menghantam apapun yang ada di hadapannya. Kebenciannya semakin meruncing saat membayangkan para pejabat yang sudah makan uang rakyat itu tertawa ketika berhasil membungkam media yang harusnya menyuarakan kebenaran dan menjebloskan mereka ke jurang kegelapan.

“Bangsat!” ujar Nanta dalam hati, lantas meninggalkan kantornya dengan kecepatan tinggi. [T]

Denpasar, Agustus 2021

___

BACA CERPEN LAIN

Selisia | Cerpen Santi Dewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Inilah Peraih Anugerah untuk Karya Film Pendek Nasional dan Internasional di Minikino Film Week 7

Next Post

Trilogi Jirah: Perspektif Mindfulness dan Reader Response Theory

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Trilogi Jirah: Perspektif Mindfulness dan Reader Response Theory

Trilogi Jirah: Perspektif Mindfulness dan Reader Response Theory

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co