25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Trilogi Jirah: Perspektif Mindfulness dan Reader Response Theory

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
September 25, 2021
in Ulasan
Trilogi Jirah: Perspektif Mindfulness dan Reader Response Theory

Novel "Trilogi Jirah" karya Cok Sawitri | Foto FB/IK Eriadi Ariana

Apa yang mesti dihindarkan dalam hidup? Ada yang tak terhindarkan dan ada yang menghindar tanpa kita hindari – Janda dari Jirah, Trilogi Jirah (Cok Sawitri, 2021)

Membaca karya sastra dengan pendekatan mindfulness dan reader response theory adalah sebuah cara saya menjaga jarak estetika antara karya yang saya baca dengan saya sebagai manusia yang kompleks dan absurd. Saya menempatkan diri sebagai audiens yang hadir secara total. Dalam konteks pertunjukan karya seni secara keseluruhan, audiens menempati peran utama sebelum yang lain. Kehadiran audiens tidak bisa dilepaskan dari unsur yang menopang kehadirannya, yaitu background, expectation dan imagination.

Dalam buku Edwin Wilson The Theater Experience (1988), disebutkan bahwa pengalaman audiens turut menciptakan pengalaman membaca. Semakin kaya pengalaman audiens, maka semakin kaya pula pembacaannya. Semakin beragam perspektif yang ia punya, semakin beragam pula sumber interpretasinya.

Saya tentu tak bisa melepaskan diri dari paling tidak tiga hal yang merupakan bagian dari peran saya sebagai audiens karya sastra yaitu background, expectation dan imagination. Berbicara soal background, saya tumbuh sebagai pencinta karya sastra dan saat ini saya juga adalah penulis karya sastra. Dalam konteks ulasan trilogi Jirah ini, saya adalah salah seorang pembaca karya Cok Sawitri sejak awal. Saya secara personal cukup mengenal sosok Cok Sawitri dalam pergaulan kreatif seni di Bali. Saya juga perempuan Bali dan hidup di Bali dengan background budaya yang kompleks.

Berbicara soal expectation, mengingat pertumbuhan saya dalam menulis turut diperkuat oleh proses belajar setiap hari, maka tentulah saya memiliki expectation tinggi terhadap karya ini, terlebih mengingat bentangan karya Cok Sawitri sebelum Trilogi Jirah ini. Expectation ini adalah sebuah keniscayaan bagi saya mengingat kekuatan Cok Sawitri adalah membangkitkan perspektif baru dari sebuah karya. Terakhir imagination. Merespon produk imajinasi tentu memerlukan imajinasi pula. Sebagai penulis, saya punya banyak stok imajinasi yang liar. Itu adalah salah satu bekal saya membaca karya sastra. Definisi imajinasi disini adalah semua yang hadir dan saya hadirkan di kepala sebagai bekal dalam merespon sebuah karya.

Dengan tiga bekal ini saja, saya belum mampu mencerna sebuah karya. Saya perlu alat membaca yang lebih dalam lagi untuk membuat saya menemukan esensi karya, dan saya memilih mindfulness dan reader response theory dalam konteks ini.

Trilogi Jirah adalah karya Cok Sawitri yang terdiri dari tiga novel yaitu Janda dari Dirah, Si Rarung, dan Manggali Kalki (Sawitri, 2021). Membaca ketiga novel ini bukanlah hal yang mudah, perlu nafas panjang dan mindfulness yang mendalam untuk mencernanya.

Mindfulness

Mindfulness adalah sebuah pendekatan psikologi pembelajaran yang digagas oleh ahli psikologi Ellen J Langer (1989) yang berkembang hingga kini dengan pesatnya di berbagai bidang ilmu. Langer adalah seorang profesor psikologi Harvard University, memperkenalkan konsep utama mindfulness adalah pada penemuan hal baru. Dengan menemukan hal baru, kita belajar menemukan konteks, sudut pandang dan pemahaman baru. Mindfulness adalah sebuah pilihan belajar yang selalu berusaha mencari tahu kebaruan dari setiap momen yang terjadi dalam proses ‘menemukan’. Dalam proses itu, peristiwa terjadi dengan segenap “kehadiran” kita baik secara fisik, emosional, dan seluruh rasa yang terlibat.

Mindfulness adalah sebuah versi lebih tinggi dari sekedar ‘sadar’ namun lebih masuk ke level mendalam, yaitu mengenali seluruh rangkaian proses mencerna, merabai seluruh proses memaknai, mencermati semua indra yang merespon, sekaligus menemukan perbedaan pada proses memaknai itu.  Mindfulness tak hanya mengandalkan logika membaca, namun juga intuisi. Dalam konteks karya sastra, logika kadang tak cukup, sebab ia adalah produk estetika. Diperlukan intuisi untuk ‘menemukan’ makna.

Mindfulness adalah sebuah cara saya memasuki dunia karya sastra ini dengan hati-hati. Betapa tidak, begitu saya tidak hati-hati, saya bisa tergelincir dan kehilangan makna. Saya resapi kata demi kata dan saya menjalani praktik mindfulness yang sejenak membuat chaos saya berhenti lalu muncul chaos baru.

Dalam konteks psikologi, mindfulness adalah salah satu cara mengontrol chaos. Namun tidak serta merta chaos itu berubah menjadi kedamaian, atau keteraturan. Ia hanya berubah bentuk menjadi pertanyaan lain yang menyambut pertanyaan lainnya lagi. Dengan demikian meskipun kita berada dalam kondisi mindful, namun sesungguhnya chaos tidak serta merta hilang. Justru itulah yang memulai perjalanan pemahaman yang sesungguhnya. Keseluruhan ekosistem cerita di dalam Trilogi Jirah adalah jalinan mindfulness yang rapat dan ketat. Ada struktur yang ketat dijaga adalah unsur-unsur pembentuk ekosistem cerita itu, meliputi karakter, plot, dan bahasa yang membungkusnya.

Uniknya semua unsur ekosistem itu adalah unsur ‘hidup’, yang tak dapat diabaikan. Semua unsur, baik rumput, embun, daun-daun, pohon, burung, hingga seluruh saksi yang terlibat dalam cerita adalah unsur ekosistem yang hidup dan mindful. Mereka diciptakan untuk menyaksikan dan memberi pandangan bagi karakter dalam cerita, memberi makna  bagi peristiwa, dan menjadi sebuah jembatan bagi cerita berjalan dengan organik.

Sekali lagi, semua unsur dalam ekosistem pembentuk cerita adalah mindfulness itu sendiri. Bagaimana pohon-pohon bercakap-cakap, bagaimana burung-burung menyuarakan pikirannya, bagaimana Cipi-cipi berdialog dengan elegan, bagaimana embun terbentuk, menjadi sebuah wacana bagi konteks cerita. Mereka menjadi bagian yang menghidupkan seluruh jalinan cerita.

Karakter juga tumbuh dalam keberagaman perspektif. Keberagaman perspektif yang menumbuhkan karakter itu memperkaya pemahaman pembaca tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada cara berpikir karakter, dan bagaimana mereka tiba pada cara berpikir itu.

Saya mencontohkan karakter Jirah yang sangat kompleks dilihat dari beragam perspektif karakter lainnya. Demikian pula Ratna Manggali. Bagaimana Ratna Manggali tumbuh, berproses sebagai pemikir, merespon konflik, menyelesaikan konflik dan berdamai dengan konflik dapat dilihat dari karakter lain yang berbicara tentangnya.

Keberagaman perspektif adalah sebuah ciri dari mindfulness dimana semua kemungkinan dapat diterima, bukan sebagai kebenaran dan kesalahan, namun sebagai sebuah data bagi penemuan makna baru. Tidak ada penghakiman yang lahir dari proses mindfulness. Yang ada adalah pemahaman baru untuk meninjau pemahaman lama. Dalam konteks trilogi ini, kita mendapatkan perspektif baru tentang Jirah, bagaimana alur berpikirnya dan bagaimana penumbuhan karakternya berkembang sedemikian rupa sehingga hampir tak dapat lagi kita menghakiminya seperti cerita yang berkembang di masyarakat bahwa dia adalah perempuan dan Ibu dengan ilmu sihir yang jahat.

Reader Response Theory

Melalui pendekatan reader response theory dari Rosenblatt (1978) saya menemukan juga bahwa dalam konteks membaca, pembaca adalah entitas yang berinteraksi langsung dengan karya dengan total, penuh, utuh. Reaksi pembaca terhadap hasil bacaannya adalah hasil totalitas bergelut dengan karya itu. Seperti pelibatan mindfulness yang sudah saya paparkan, pelibatan respons ini adalah sebuah keniscayaan dalam membaca karya sastra.

Menurut Rosenblatt (1978) dalam pandangan transaksional, pembaca adalah pembentuk pengalaman baru dan teks adalah stimulus yang berperan sebagai penuntun jalan bagi tercapainya tujuan pengalaman itu. Lalu apa yang membedakan pembaca satu dengan lainnya? Tentu pengalaman pembaca itu, bahwa semua pembaca beranjak dari pijakan awal yang membantunya memahami peristiwa dalam karya sastra. Jika ia memiliki pijakan pengalaman yang kokoh, maka responnya terhadap karya sastra akan menghasilkan makna yang penting. Tentunya respon lahir dari mindfulness pula. Pembaca tidak serta bisa mengalami jika ia tidak masuk secara utuh ke dalam karya yang dibacanya. Kualitas pembacaan sangat bergantung kepada background, expectation dan imagination pembaca. Maka inilah mengapa interpretasi karya sastra sangat beragam dan sangat tidak dapat dihakimi sesederhana benar-salah atau hitam-putih.

Menurut Rosenblatt ada dua cara merespon karya yaitu asthetic reading dan efferent reading. Aesthetic reading dicapai dengan jalan mencari estetika karya dari segi bahasa, intuisi dan emosi. Sementara efferent reading dicapai dengan jalan menemukan hubungan antara peristiwa di dalam karya dengan pengalaman nyata.

Saya membaca Trilogi Jirah dengan respon estetika ketika menyadari secara mindful bahwa ekosistem bahasa dalam karya ini adalah bahasa yang didominasi oleh metafora, personifikasi, dan imagery. Metafora karena saya menemukan simbol-simbol bahasa untuk mewakili makna. Demikian pula personifikasi, dimana benda-benda menjadi ‘manusia’ karena diberi ‘suara’ dan ‘pilihan’. Lalu imagery karena  ia memberikan sebuah gambar peristiwa yang imajinatif namun realis dalam konteks cerita. 

Sedangkan secara pengalaman, saya mencoba mengaitkan peristiwa tertentu di karya dengan pengalaman saya yang terkait dan relevan. Meskipun tidak serta merta saya mendapatkan relevansi dengan pengalaman nyata, namun saya dapat menghadirkan pengalaman imajinatif dan spiritual dalam mencerna peristiwa di karya.

Intinya saya simpulkan, membaca Trilogi Jirah ini adalah sebuah pengalaman menikmati perjalanan ke dalam diri. Inward journey ini adalah praktik mindfulness dan reader response theory yang saling melengkapi. [T]

References

  • Langer, E.J. (1989). Mindfulness. A Merloyd Lawrence Book. Perseus Books.
  • Rosenblatt, L.M. (1978). The Reader, the Text, the Poem: The Transactional Theory of the Literary Work. Carbondale, IL: Southern Illinois University Press.
  • Sawitri, C. (2021). Janda dari Jirah. Penerbit Lingkup dan Self-Love Bali.
  • Sawitri, C. (2021). Si Rarung. Penerbit Lingkup dan Self-Love Bali.
  • Sawitri, C. (2021). Manggali Kalki. Penerbit Lingkup dan Self-Love Bali.
  • Wilson, E. (1988). The Theater Experience. McGraw-Hill Book Company.

BACA jUGA:

  • Trilogi Jirah | Terasa Sekali Jungkir Balik Perasaan Itu; Kecamuk Kepedihan, Polemik Kekuasaan, Ambisi, Luka…
Tags: Cok SawitrinovelsastraTrilogi Jirah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembungkaman | Cerpen Teddy C. Putra

Next Post

Strategi Propaganda di Kemelut Pro Kontra Mahasabha Luar Bisa PHDI

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Tatkala Pandemi, (Bali) Jangan Berhenti Menggelar Ritual Seni dan Budaya

Strategi Propaganda di Kemelut Pro Kontra Mahasabha Luar Bisa PHDI

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co