5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Weda Sanjaya dan Kisah-Kisah Imajiner Desa Tani di Lereng Batukaru

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
August 13, 2021
in Khas
Weda Sanjaya dan Kisah-Kisah Imajiner Desa Tani di Lereng Batukaru

Weda Sanjaya dan buku Punyan Kayu Ane Masaput Poleng di Tegal Pekak Dompu

Kisah-kisah di sebuah desa tani atau desa agraris, nyata atau imajiner, selalu menarik untuk dibaca dan didengar. Tokoh-tokohnya seakan datang dari masa lalu, meski misalnya ia hidup di zaman modern ini. Tokoh-tokoh yang diciptakan seperti fosil hidup, atau seperti mumi petani yang hidup kembali di tengah kebun dan sawah.

Latar ceritanya  juga seperti itu. Alam, tumbuhan, gunung, rumah di tengah sawah, parit, dan pohon besar, seakan-akan hanya ada di masa lalu, padahal di sejumlah desa agraris di Tabanan, terutama di lereng-lereng Gunung Batukaru, semua benda itu masih utuh hingga kini. Entahlah nanti-nanti.

Cerita-cerita dari desa agraris semacam itulah yang ada dalam buku kumpulan cerpen berbahasa Bali yang berjudul “Punyan Kayu Ane Masaput Poleng di Tegal Pekak Dompu” karya I Gusti Bagus Weda Sanjaya.

Buku ini adalah pemenang dari Lomba Gerip Maurip 2021 yang digelar Penerbit Pustaka Ekspresi, Bali. Terdapat 13 cerpen yang beberapa di antaranya telah dibuat tahun 2010-an.

“Seluruh cerpen itu berlatar Desa Kawiswara, sebuah desa kecil di kaki Gunung Batukaru. Merupakan penggambaran imajiner desa saya sendiri di lereng selatan Gunung Batukaru di Tabanan,” kata Weda Sanjaya tentang buku cerpennya itu.

Weda Sanjaya, atau biasa ditulis dengan nama IGB Weda Sanjaya, memang berasal dari desa yang masih asri di Tabanan. Di desa itu sawah masih memanjang dan melebar seakan-akan tembus di Gunung Batukaru. Kehidupan warga di desa itu tetap memiliki tipikal kehidupan masyarakat agraris, meski sebagian warga sudah merantau ke kota, tidak bekerja lagi jadi petani, dan hanya sesekali pulang kampung.  

“Sebagian besar ide cerita adalah kejadian-kejadian di desa,” lanjut Weda Sanjaya.

Weda Sanjaya pun sebenarnya tak bisa lagi dikatakan sebagai lelaki desa. Ia menjadi guru di SMAN Bali Mandara, Singaraja, dan tinggal di Singaraja. Pergaulannya sangat luas, meski tipikal sebagai warga desa tak bisa ia tinggalkan. Desa sepertinya sangat melekat dalam dirinya, sehingga cerita-cerita yang diciptakan pun tak bisa lepas dari tema desa. Apalagi dibuat dalam bahasa Bali, sungguh, si pembaca seperti sedang berada di sebuah pondok di tengah sawah dengan angin gunung yang merayap di pipi.  

Cerpen yang judulnya digunakan sebagai judul buku, yakni “Punyan Kayu Masaput Poleng di Tegal Pekak Dompu” sangat mewakili apa yang hendak disampaikan Weda Sanjaya. Punyan kayu (pohon besar), saput poleng (kain belang hitam-putih), tegalan (kebun), dan nama tokoh Pekak Dompu, dipastikan menyeret pembaca ke sebuah desa masa lalu, meski belum membaca cerpen itu.

Nah, imaji-imaji tentang masa lalu itulah yang kemudian dibenturkan dengan kondisi zaman masa kini, di mana investasi adalah segalanya. Punyan kayu digesek mesin senso dan rebah, saput poleng bisa digantikan spanduk promosi vila, dan kebun berubah petak-petak rumah.

Kata Weda, khusus cerpen Pekak Dompu itu ditulis dalam rangka lomba cerpen Bulan Bahasa Bali 2020. Karena temanya “Ngertiang Natah miwah Tanah Bali”, ia mencoba mengangkat isu alih fungsi lahan di Bali. “Semakin banyak berdiri perumahan-perumahan, dan bagaimana gejolak masyarakat Bali di desa menghadapi masuknya investor?” kata Weda.

Cerpen lain juga ada yang bicara soal fenomena yang tak lekang dari zaman dulu hingga zaman kini, yakni perselingkuhan. Misalnya dalam cerpen “Memen Tiange Demen Memitra” (Ibu Saya Suka Selingkuh).

“Saya paling suka cerpen itu,” kata Weda Sanjaya.

Cerpen itu ditulis, kata Weda, karena ia ingin mengantarkan pesan bahwa dalam kasus perselingkuhan, tidak selalu lelaki adalah pelaku dan wanita adalah korban.

Cerpen itu bercerita tentang tokoh anak lelaki yang dari kecil telah mengetahui ibunya sering memitra alias selingkuh. Selingkuhannya dari berbagai profesi, dari tukang sapu di SD, supir bemo, teman kerja buruh bangunan, hingga sosok-sosok  dari profesi lain.

Tapi setelah lama akhirnya tak pernah ada info tentang selingkuhan ibunya dan ibunya mulai mendalami kegiatan-kegiatan kerohanian. Namun suatu ketika saat ulang tahun ibunya yang ke-60, dia mendapati ibunya punya selingkuhan lagi.

Akhirnya diberanikan dirinya untuk menanyai ibunya, namun ia tak menemukan alasan yang tepat kenapa ibunya selingkuh. Lelaki itu berbicara pada ayahnya, ternyata ayahnya telah mengetahui sejak lama perselingkuhan itu, dan memilih untuk diam karena mencintai ibunya.

Lelaki itu menjadi galau, tak mungkin bercerita aib ibunya kepada istri dan anaknya. Karena tidak dapat menahan sendiri, akhirnya dia bercerita pada Mang Yulia, selingkuhannya.

Itu akhir cerpen yang benar-benar tak terduga.

Menurut Weda Sanjaya, setelah selesai menulis, ada keraguan untuk menerbitkannya karena takut kelemahan pembaca adalah menganggap cerita sebagai curhatan pengalaman dan kemudian menganggap itu adalah kejadian nyata di keluarga. “Tapi karena sangat senang dengan alur ceritanya, saya bulatkan tekad untuk menerbitkannya,” tuturnya.

Weda Sanjaya menulis sastra pertama kali tahun 2009, saat mendapat kuliah dari Wayan Artika. Sampai semester 6 kuliah di jurusan Bahasa Bali ia belum memiliki pandangan pada bahasa dan sastra Bali. Untuk itulah, akhirnya ia mulai menulis puisi Bali dan dimuat di Bali Post tahun 2009.

 Cerpen bahasa Bali pertama kali dimuat 2010. Kemudian 2011 mulai vakum menulis, dan 2016 kembali menulis karena ada media Suara Saking Bali asuhan Putu Supartika.

“Sebagian besar cerpen saya mengangkat tema sosial, sebagai media kritik terhadap kejadian-kejadian di masyarakat,” kata Weda Sanjaya.

Terus berkarya, Gus! [T]

Tags: Cerpensastrasastra bali moderntabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gangguan Kecemasan di Era Digital

Next Post

Kita Ini Kaum Penambah “Gelar” di Belakang Nama Kontak WhatsApp

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Kita Ini Kaum Penambah “Gelar” di Belakang Nama Kontak WhatsApp

Kita Ini Kaum Penambah “Gelar” di Belakang Nama Kontak WhatsApp

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co