13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melimpahlah Kenangan Baik Setelah Kepergian Bunda Erlina Kang Adiguna

Julio Saputra by Julio Saputra
June 13, 2021
in Khas
Melimpahlah Kenangan Baik Setelah Kepergian Bunda Erlina Kang Adiguna

In Momoriam Bunda Erlina Kang Adiguna

Orang-orang yang penuh kesadaran akan berusaha melatih diri, tidak bersenang dalam kelekatan. Mereka melepas kelekatan, layaknya kawanan angsa meninggalkan rawa-rawa. (Dhammapada, 91)

Karangan bunga beragam warna, bentuk, dan ukuran nampak berbaris rapi dari luar sampai ke dalam pintu gerbang Dhammadesa. Pengirimnya dari berbagai kalangan, dari tokoh masyarakat sampai lembaga-lembaga tertentu, atas nama perseorangan sampai atas nama pemerintah, dari Bali bahkan juga dari luar Bali.

Sejak pukul 08.30 pagi, sejumlah mobil dan motor sudah parkir di sekitaran sana, di samping jalan raya. Pecalang adat dan anggota kepolisian dari Polres Baturiti membantu mengatur lalu lintas agar terkendali. Dalam balutan busana bernuansa putih dan masker yang menutupi mulut dan hidung masing-masing, umat dari seluruh Bali satu persatu datang memasuki areal Dhammadesa. Mereka hendak mengikuti rangkaian upacara kremasi Mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna.

Itu pemandangan Jumat, 11 Juni 2021.

Di ruang Dhamma Sala, Ibu Sherli Mirani, seorang anggota dari Forum Ibu-ibu Buddhis Bali memberikan berbagai arahan dan gambaran tentang prosesi kremasi mendiang. Ia menyampaikan susunan acara, skenario pemberangkatan, iring-iringan prosesi, dan sebagainya. Ia juga mengingatkan para umat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan selama prosesi dilangsungkan.

“Kami imbau kepada Bapak Ibu, nanti barisannya berdua-berdua ya, jaga jarak tetap. Masker selalu dikenakan di setiap acara. Kemudian diusahakan jangan terlalu banyak berbincang-bincang ya karena itu akan mengganggu pernafasan Bapak/Ibu” ujarnya.

Di atas lantai, para umat sudah duduk rapi menghadap altar mendiang yang dihiasi rangkaian bunga warna-warni. Ada yang bersila, ada juga yang bersimpuh. Namun semuanya bersikap anjali saat Yang Mulia Bhikku Sangha, Yang Luhur Sammanera, dan Atthasilani memasuki tempat acara untuk memimpin puja bakti pemberangkatan menuju krematorium. Ada total 12 YM Bhikku Sangha, YL.

Samanera dan Atthasilani yang turut hadir, yaitu YM. Dhammasubho, MT, YM. Sukitho, MT, YM. Tejapunno, MT, YM. Siriratano, MT, YM. Saccadhammo, Thera, YM.Jayamedho, Thera, YM, Bhikkhu Dhammaratano, YL. Pannyaratano, YL. Samanera Hemaratano, YL. Samanera Putu, Atthasilani Ariyacarini, Atthasilani Sumedadirani

Terlebih dahulu, Yang Mulia Bhikku Sangha menyalakan lilin dan dupa, barulah puja bakti dimulai, diawali dengan pembacaan Namakhara Patha. Puja Katha, Aradana Tisarana Atthanggasila, Paritta Avamanggala oleh YM. Bhikkhu Sangha, (diakhiri Pemercikan Tirta Paritta), meditasi, dan diakhiri dengan Namakhara Penutup. Suasana khidmat dapat dirasakaan saat upacara puja bhakti berlangsung. Setiap doa, puja, dan mantra dirapalkan dengan tulus. menghayutkan siapa saja yang mendengarnya ke dalam suasana yang khusyu, tenang, dan damai.

Upacara puja bhakti yang berlangsung sekitar 45 menit tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemerangkatan mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna menuju Krematorium Kerta Yadnya yang berlokasi di Kuburan Umat Buddha Yayasan Kertha Yadnya, Baturiti. Setelah memberikan penghormatan, peti mendiang dipindahkan ke atas mobil pemberangkatan. Para umat membuat barisan sesuai tahapan prosesi. Umat yang bertugas membawa iring-iringan dan sarana ritualnya mengambil posisi masing-masing.

Pembawa Hio Lo (lentera), foto mendiang, dan sepasang payung berbaris paling depan, dilanjutkan dengan pembawa tirta paritta, pembawa lilin, pembawa bunga atau wewangian, pembawa bunga dalam vas, diikuti keluarga inti dari mendiang sambil membawa rangkaian bunga lainnya, dan diiringi kendaraan yang membawa peti mendiang.

Di belakangnya, para umat yang hadir juga berbaris rapi 2 banjar, diawali dengan barisan Pandita Magabudhi, barisan Forum Ibu-ibu Buddhis, barisan Patria Bali, barisan Pengurus Yayasan dan Dayaka Sabha Vihara, barisan keluarga lainnya, dan barisan pelayat (handai taulan).

Di tengah Jalan Raya Singaraja – Denpasar, mereka berjalan bersama-sama menuju tempat perabuan yang jaraknya tak jauh dari Dhammadesa, hanya terpaut 1 kilometer, waktu yang ditempuh sekitar 10 menit. Para pecalang, petugas keamanan adat, bersama petugas kepolisian siap mengatur lalu lintas yang cukup ramai.

Kedua arah jalur kendaraan sudah diberhentikan sekitar 200meter dari gerbang Dhammadesa dan dari jalan masuk menuju Kuburan Umat Buddha Yayasan Kertha Yadnya. Tujuannya tentu saja agar para umat tetap dapat melanjutkan prosesi pemberangkatan mendiang dengan damai dan tenang.

Saat memasuki areal Kuburan Umat Buddha Yayasan Kertha Yadnya, sayup-sayup suara angklung khas ritual Ngaben umat Hindu di Bali terdengar mengalun, seolah-olah menyambut mendiang dan iring-iringannya dengan lirih.

Di dekat krematorium, sekeha angklung dari Desa Adat Pacung melantunkan salam perpisahan dengan lirih. Setibanya di sana, peti mendiang diturunkan, kemudian ditempatkan di depan tempat perabuan. Perwakilan keluarga selanjutnya berdoa kepada Dewa Bumi, kemudian sembahyang di depan altar memberikan penghormatan kepada mendiang.

Puja upacara kremasi kemudian dilangsungkan. YM. Bhikkhu Sangha kembali menyalakan lilin dan dupa, memimpin jalannya prosesi. Diawali dengan Namakhara Patha. Puja Katha. Paritta Avamanggala oleh YM. Bhikkhu Sangha, dan Anusasana, emercikan Tirta Paritta, tabur bunga di peti mendiang oleh keluarga duka, kemudian dilanjutkan dengan pelepasan burung.

Ada beberapa ekor burung merpati dan burung tekukur yang dilepaskan, berwarna putih, hitam, dan abu-abu. Mereka terbang ke langit bebas, ke dahan-dahan pohon terdekat, ada juga yang masih berada di sekitar tempat krematorium, seolah masih ingin mengikuti prosesi kremasi sampai akhir.

Pelepasan burung serangkaian prosesi kremasi tersebut menjadi lambang lepasnya jiwa menuju alam surga. Pada saat itu juga, perwakilan dari segenap keluarga duka mengucapkan terima kasih kepada para umat dan seluruh pihak yang sudah menyempatkan diri, hadir dan mengikuti rangkaian prosesi, memberikan penghormatan kepada mendiang, dan berbelasungkawa serta memberikan berbagai bentuk dukungan kepada keluarga duka. Puja acara kemudian ditutup dengan bersama-sama mengucapkan Namakhara Penutup.

Peti mendiang kemudian dimasukan ke tengah perabuan. Api pun disulutkan. Prosesi kremasi akhirnya dilangsungkan. Sekeha angklung kembali melantunkan iringan perpisahan. YM Bhikkhu Sangha kembali menuju Dhammadesa untuk menerima Dana Makan Siang. Di areal Kuburan Umat Buddha Yayasan Kertha Yadnya, keluarga duka dan para umat juga menikmati makan siang.

Pemercikan Tirta Paritta kepada abu mendiang Bunda Erlina menjadi penghujung prosesi kremasi hari itu. Abu kemudian ditempatkan pada sebuah guci dan disemayamkan kembali di Dhammadesa.

Pengusaha Garmen dan Penggerak Umat

Jumat, 4 Juni 2021, pukul 05.00 WITA, Bunda Erlina Kang Adiguna berpulang. Sebelum diberangkatkan ke Dhammadesa, Baturiti, jenazah mendiang terlebih dahulu disemayamkan di Vihara Buddha Sakyamuni, Denpasar. Sejak hari itu, selama 7 hari ke depan sampai hari kremasi tiba, keluarga duka melangsungkan upacara avamanggala atau upacara kedukaan. Para umat silih berganti hadir memberikan penghormatan. Satu persatu karangan bunga yang berisi ucapan berbelasungkawa dan doa-doa berdatangan.

Tak sedikit juga tokoh-tokoh masyarakat yang meluangkan waktu untuk hadir ke sana. Seperti Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Bali Dr. Komang Sri Marheni, S.Ag., M.Si, Ketua Dewan Perkawilan Rakyat Daerah Provinsi Bali I Nyoman Adi Wiryatama, S.Sos., M.Si, Dirjen Bimas Buddha Caliadi S.H., M.H., Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), dan masih banyak lagi.

Mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna bersuamikan Putu Adiguna dan dari perkawinannya memiliki 5 anak, terdiri dari 2 perempuan dan 3 laki-laki. Yakni Liliek Herawati, Putu Agus Antara, Arief Wijaya, Yuliana Kanaya, dan Cahyadi Adiguna. Semasa hidup, mendiang merupakan seorang perintis perusahaan garmen ternama di Bali, Mama & Leon.

Dari sanalah kemudian mendiang lebih dikenal dengan nama Mama Leon oleh sebagian besar masyarakat Bali. Saat acara prosesinya dilangsungkan, tidak sedikit masyarakat Bali yang turut mengucapkan bela sungkawa lewat akun media sosialnya. Di Twitter, akun bernamakan Romeo India Alpa @romeoindiaalpha menulis “Berarti tadi kalo jadi ke baturiti bisa ketemu ya … mantan bos yang luar biasa, semoga mendapat tempat terbaik.”.

Ada juga akun dengan nama pengguna Bulan @trytodealwithit menulis “Ibu Erlina dan saya seharusnya bertemu minggu ini karena dia adalah salah satu klien saya…. Belasungkawa terdalam saya untuk keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai.”.

Di samping dikenal sebagai seorang pengusaha di bidang garmen, mendiang merupakan salah satu tokoh Buddhis Bali yang sejak dulu aktif melakukan kegiatan sosial keagamaan dan pengembangan Dhamma. Tak hanya di Bali, tapi juga di luar Bali, bahkan di luar negeri, seperti Myanmar dan sekitarnya.

Di Bali sendiri, mendiang menjadi penggerak dan motivator bagi para umat, seperti menjadi pembina organisasi Buddhis, penasehat Forum Ibu Buddhis (FIB) Bali, Ketua Umum Yayasan Kertha Yadnya, Pelindung di Vihara Buddha Sakyamuni, serta Ketua Kehormatan di Vihara Buddha Guna Nusa Dua.

Sebagai penggerak, mendiang mendorong para umat agar senantiasa meningkatkan harkat martabat pandita dan mengangkat harkat dan martabat Magabudhi, menjadi wanita berkarakter Buddhis sebagai Guru Utama dalam keluarga, dan menjadi generasi muda yang kokoh dalam saddha, bermoral, sukses dan mandiri. Mendiang juga menjadi penggagas acara Sebulan Pendalaman Dhamma (Ceramah Dhamma dan Latihan Atthasila) yang digelar setiap menyambut Peringatan Tri Suci Waisak.

Dirjen Bimas Buddha Caliadi S.H., M.H. saat datang ke Dhammadesa untuk memberikan penghormatan terakhir pada 6 Juni 2021 kemarin menyebut mendiang sebagai seorang Srikandi Buddhis. “Tidak lupa juga atas nama pemerintah dan pribadi saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada salah satu Tokoh Buddhis Nasional, kepada Alm. Ibu Erlina Kang Adiguna, atas segala bentuk pengabdian dan dukungannya kepada Pemerintah, khususnya di bidang pembangunan keagamaan, kerukunan umat Buddha dan antar umat beragama, Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk hidup berbahagia” ujarnya.

Mendiang juga aktif memberikan ceramah keagamaan di berbagai tempat, seperti dalam acara Dhamma Talk 2019 yang dilaksanakan oleh DPC Patria Denpasar. Pada acara tersebut, Mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna bercerita tentang dirina yang menghadapi sebuah penyakit yang sangat mematikan hanya dengan meyakini Dhamma. Tahun 1993, kanker Rahim hampir stadium tiga menyerang mendiang. Dokter yang memeriksanya meminta untuk melakukan operasi, namun beliau menolak, memutuskan untuk menghadapi kenyataan yang dialami.

Untuk melupakan penyakit yang dideritanya, beliau kemudian giat melakukan kegiatan pengembangan Dhamma dan kebajikan, serta belajar meditasi, menyelam lebih dalam kepada Dhamma, Ajaran Sang Buddha, berpegang teguh pada apa yang beliau yakini, bahwa Sang Tri Ratna akan memberikan jalan terbaik. Akhirnya, beliau bermeditasi selama 40 hari secara terus menerus, pagi dan sore hari. Paritta suci selalu dibaca. Tiga cangkir air yang dipserbahkan di altar Sang Buddha juga selalu diminum olehnya sambil merapalkan doa-doa yang sama, mengucapkan jani dan tekadnya. Tahun 1995, dokter yang memeriksa beliau sebelumnya dibuat kaget dan terheran-heran, kanker yang pernah diderita hilang begitu saja. Beliau divonis sembuh. Beliau kaget bercampur bahagia.

“Bukan karena saya minum air, atau karena saya meditasi saya bisa sembuh, tapi karena saya memiliki tekad dan keyakinan yang kuat terhadap Dhamma. Saya tidak pernah berhenti. Saya terus berusaha mengamalkan Dhamma, melakukan kebaikan. Sebenarnya penyakit itu tidak disembuhkan dengan begitu gampang, namun Dhamma ini memberikan saya kekuatan. Uang tidak bisa menyembuhkan penyakit, biarpun kemo dis mati ya mati. Namun Dhamma ini benar-benar menjadi obat mental bagi saya. Saya bisa mengikis kesombongan saya, dan saya harus membuat diri saya lebih lembut,” ujar beliau saat itu.

Sayangnya, kanker kembali menyerang beliau. Beliau lagi-lagi dinyatakan mengidap kanker. Kala itu, kanker payudara hamper stadium tiga. Dokter kembali meminta beliau untuk mengambil operasi dan kemoterapi. Biaya yang ditaksir sekitar Rp.1.2 Milliar. Namun keyakinan dan tekad beliau untuk mengabdi kepada Dhamma tidak goyah begitu saja.

Sama seperti sebelumnya, beliau tidak mau mengambil operasi ataupun kemoterapi. Uang Rp. 1,2 Milliar yang seharusnya digunakan untuk tindakan medis tersebut beliau bawa ke Myanmar dan didanakan di berbagai tempat di sana. Beliau menghabiskan uang tersebut untuk berdana. Di sana beliau kembali melakukan meditasi, tak pernah menyerah dan tak pernah berhenti meyakini Dhamma. Lagi-lagi, kanker itu hilang.

Mendiang dan Kesenian Bali

Semasa hidupnya, mendiang juga diketahui kerap merayakan hari-hari besar dengan menciptakan karya seni, berkolaborasi dengan Dewa Ayu Wedanaasih yang menjadi salah satu seniman Bali. Sebagai pemilik Sanggar Seni Cahya, Dewa Ayu sering diajak berkerja sama dalam hal seni sejak tahun 1996, baik dalam perayaan hari raya Buddhis, ataupun acara-acara yang berkaitan dengan ulang tahun perusahaan garmen yang dimiliki. Ia juga mengatakan mendiang Bunda Erlina Kang Adigun adalah sosok yang sangat kreatif.  “Kelahiran Tari Puja juga menjadi inspirasi dan penyemangat dari Baliau,” ujarnya.

Di penghujung tahun 2019 kemarin, sanggarnya diberi kesempatan untuk tampil membawakan Tari Puja di India. Seluruh penarinya adalah umat Buddha. Pada dasarnya, tari Puja yang diciptakan memang sudah dikonsep agar bisa ditarikan di mana saja. Tari Puja menjadi sebuah tarian yang universal, dapat menyesuaikan dengan tempat dan situasi, atau ditarikan oleh orang yang berbeda. Dalam hal tersebut, tentu saja ada penyesuain komposisi dan pola karya. “Penampilan di India ini berkat dukungan Bu Erlina dan umat Buddha Bali,” ujar koreografer yang juga ahli dalam tata rias tersebut.

“Bu Erlina adalah pecinta seni dan budaya khususnya seni Bali, dia diluar saya dan istri sebagai umat Hindu Bali. Sementara dia tidak memiliki partisi tentang hal itu. Kami sering diajak mengunjungi pura untuk mepunia, maupun kegiatan sosial lainnya. Ibu suka berbagi dengan siapa saja dan tidak pernah melihat identitas seseorang,” kenangnya.

Mendiang dan Sejarah Vihara Buddha Sakyamuni

Nama mendiang juga ada dalam sejarah berdiri Vihara Buddha Sakyamuni Denpasar. 29 Tahun yang lalu, pada tanggal 16 Desember 1992, mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna dan keluarga meminjamkan rukonya di Pertokoan Jalan. Diponogoro Denpasar untuk dijadikan Cetiya Buddha Sakyamuni, sekaligus menjadi sekretariat DPD Gemabudhi dan DPD Walubi (Perwalian Umat Buddha Indonesia) Provinsi Bali. Cetiya kemudian diperluas menjadi Mahacetiya Buddha Sakyamuni berkat dana Buddha Rupang dari Sathani Ketua Pemuda Buddhis Theravada Thailand. Saat itu, Bapak Merta Ada menjadi Ketua Dayaka Sabha untuk pertama kali.

Tanggal 25 Januari 1995, Mahacetiya Buddha Sakyamuni menjadi tempat diresmikannya Forum Ibu-ibu Buddhis (FIB). sejak itu, FIB bermitta Dhamma dengan Mahacetiya Buddha Sakyamuni Denpasar. Ide untuk membangun vihara kemudian muncul, namun lahan menjadi kendala utama saat itu. Mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna lantas berunding dengan keluarga dan akhirnya sepakat untuk berdana lahan seluas 36.5 are terletak di Jalan Gunung Agung Lk. Padang Udayana 3A. Tentu saja, niat baik tersebut disampaikan kepada Alm. Y.M. Girirakkhito Mahathera dan Beliau berkenan menerima saat Dhammashanti Waisak (50 Tahun Indonesia Emas) yang disaksikan pula oleh Bapak I.B. Oka (Gubernur Bali) dan Bapak Ketut Pasek (Dirjen Bimas Hindu dan Buddha).

Aktivitas Dhamma semakin meningkat sejak saat itu. Mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna meminjamkan Gedung di sebelah lahan yang didanakan. Tanggal 30 April 1996, Mahacetiya Buddha Sakyamuni kemudian pindah ke gedung tersebut dengan Upacara Abhiseka Buddha Rupam dan berganti nama menjadi Vihara Buddha Sakyamuni.

Tahun-tahun selanjutnya, Vihara Buddha Sakyamuni selalu mengalami perkembangan dan pembangunan hingga menjadi Pusat Informasi Buddhis Theravada di Bali seperti sekarang ini. Di vihara tersebut, mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna juga menggagas Sekretariat Bersama Organisasi Buddhis Theravada Bali dan memberikan fasilitas gedung yang lengkap. Sekretariat tersebut menjadi “Kantor Dhamma” untuk persaudaraan Organisasi Dhamma menyatukan Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) Bali.

Mendiang dan Sejarah Vihara Dhammadana

Mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna juga menjadi tokoh penting berdirinya Vihara Dhammadana di Baturiti. Sejarah Vihara Dhammadana bermula dari adanya perkumpulan Cing Bing Baturiti yang berganti nama menjadi Perkumpulan Suka Duka Kertha Yadnya Baturiti di bawah naungan Desa Adat Baturiti. Sekitar tahun 1980, mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna bersama Bapak Kangen Disastra masing-masing berdana lahan seluas 10 are. Di atas lahan tersebut, para umat di Baturiti membangun sebuah gedung serba guna yang diberi nama Gedung Kertha Yadnya. Pembangunan gedung tersebut juga mendapat dukungan dari warga sekitar.

Pada tanggal 9 September 1991 atas kesepakatan para umat, maka Perkumpulan Suka Duka Kertha Yadnya Baturiti berubah menjadi Yayasan Kertha Yadnya Baturiti. Yayasan tersebut menjadi wadah sosial, keagamaan,pendidikan dan kebudayaan, kesehatan dan non politik bagi para umat di Baturiti. Melalui diskusi dengan tokoh buddhis seperti Bapak Merta Ada dan Dhamma Jiyoti Kassapa, pemikiran untuk mendirikan tempat ibadah kemudian muncul. Salah satu alasannya karena ajaran Buddha yang pada saat itu masih belum begitu banyak dipahami di Bali.

Gedung Kertha Yadnya tersebut kemudian diubah menjadi Mahacetiya Dhammadana yang diresmikan 17 Mei 1992. Tiga tahun kemudian, mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna sekeluarga menyiapkan lahan pengembangan dengan membeli tanah seluas 30 are yang berada di depan lahan berdirinya Mahacetiya Dharmadana Baturiti. Dengan demikian, tentu saja diharapkan, akan lebih banyak aktivitas dhamma yang bisa dilaksanakan untuk perkembangan mental dan spiritual Umat Buddha di Baturiti khususnya dan di Bali pada umumnya.

Bangunan Serba Guna yang dijadikan Bangunan Dhammasala Mahacetiya Dhammadana Baturiti pun akhirnya berusia lebih dari 20 tahun sejak pertama kali didirikan. Melihat kondisinya, Yayasan Kertha Yadnya kemudian berinisiatif untuk melakukan renovasi total. Di samping pemugaran, hal tersebut juga dilakukan untuk memenuhi aspirasi para umat di Baturiti menjadikan Mahaceitya Dhammadana sebagai sebuah vihara yang representatif, representatif, berfungsi dengan baik, menampung aktivitas Buddha Dhamma di Baturiti pada khususnya dan mendukung aktivitas Buddha Dhamma di Bali pada umumnya.

Tags: BuddhismeBudhain memoriamMama Lion
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ni Komang Wiranti Primadani | Dancer, Gadis Gaul, Sastra dan Bahasa Bali

Next Post

Membaca Kembali Catatan Ekonomi dan Bisnis “CRM” di Masa Lalu

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Membaca Kembali Catatan Ekonomi dan Bisnis “CRM” di Masa Lalu

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co