14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melimpahlah Kenangan Baik Setelah Kepergian Bunda Erlina Kang Adiguna

Julio Saputra by Julio Saputra
June 13, 2021
in Khas
Melimpahlah Kenangan Baik Setelah Kepergian Bunda Erlina Kang Adiguna

In Momoriam Bunda Erlina Kang Adiguna

Orang-orang yang penuh kesadaran akan berusaha melatih diri, tidak bersenang dalam kelekatan. Mereka melepas kelekatan, layaknya kawanan angsa meninggalkan rawa-rawa. (Dhammapada, 91)

Karangan bunga beragam warna, bentuk, dan ukuran nampak berbaris rapi dari luar sampai ke dalam pintu gerbang Dhammadesa. Pengirimnya dari berbagai kalangan, dari tokoh masyarakat sampai lembaga-lembaga tertentu, atas nama perseorangan sampai atas nama pemerintah, dari Bali bahkan juga dari luar Bali.

Sejak pukul 08.30 pagi, sejumlah mobil dan motor sudah parkir di sekitaran sana, di samping jalan raya. Pecalang adat dan anggota kepolisian dari Polres Baturiti membantu mengatur lalu lintas agar terkendali. Dalam balutan busana bernuansa putih dan masker yang menutupi mulut dan hidung masing-masing, umat dari seluruh Bali satu persatu datang memasuki areal Dhammadesa. Mereka hendak mengikuti rangkaian upacara kremasi Mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna.

Itu pemandangan Jumat, 11 Juni 2021.

Di ruang Dhamma Sala, Ibu Sherli Mirani, seorang anggota dari Forum Ibu-ibu Buddhis Bali memberikan berbagai arahan dan gambaran tentang prosesi kremasi mendiang. Ia menyampaikan susunan acara, skenario pemberangkatan, iring-iringan prosesi, dan sebagainya. Ia juga mengingatkan para umat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan selama prosesi dilangsungkan.

“Kami imbau kepada Bapak Ibu, nanti barisannya berdua-berdua ya, jaga jarak tetap. Masker selalu dikenakan di setiap acara. Kemudian diusahakan jangan terlalu banyak berbincang-bincang ya karena itu akan mengganggu pernafasan Bapak/Ibu” ujarnya.

Di atas lantai, para umat sudah duduk rapi menghadap altar mendiang yang dihiasi rangkaian bunga warna-warni. Ada yang bersila, ada juga yang bersimpuh. Namun semuanya bersikap anjali saat Yang Mulia Bhikku Sangha, Yang Luhur Sammanera, dan Atthasilani memasuki tempat acara untuk memimpin puja bakti pemberangkatan menuju krematorium. Ada total 12 YM Bhikku Sangha, YL.

Samanera dan Atthasilani yang turut hadir, yaitu YM. Dhammasubho, MT, YM. Sukitho, MT, YM. Tejapunno, MT, YM. Siriratano, MT, YM. Saccadhammo, Thera, YM.Jayamedho, Thera, YM, Bhikkhu Dhammaratano, YL. Pannyaratano, YL. Samanera Hemaratano, YL. Samanera Putu, Atthasilani Ariyacarini, Atthasilani Sumedadirani

Terlebih dahulu, Yang Mulia Bhikku Sangha menyalakan lilin dan dupa, barulah puja bakti dimulai, diawali dengan pembacaan Namakhara Patha. Puja Katha, Aradana Tisarana Atthanggasila, Paritta Avamanggala oleh YM. Bhikkhu Sangha, (diakhiri Pemercikan Tirta Paritta), meditasi, dan diakhiri dengan Namakhara Penutup. Suasana khidmat dapat dirasakaan saat upacara puja bhakti berlangsung. Setiap doa, puja, dan mantra dirapalkan dengan tulus. menghayutkan siapa saja yang mendengarnya ke dalam suasana yang khusyu, tenang, dan damai.

Upacara puja bhakti yang berlangsung sekitar 45 menit tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemerangkatan mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna menuju Krematorium Kerta Yadnya yang berlokasi di Kuburan Umat Buddha Yayasan Kertha Yadnya, Baturiti. Setelah memberikan penghormatan, peti mendiang dipindahkan ke atas mobil pemberangkatan. Para umat membuat barisan sesuai tahapan prosesi. Umat yang bertugas membawa iring-iringan dan sarana ritualnya mengambil posisi masing-masing.

Pembawa Hio Lo (lentera), foto mendiang, dan sepasang payung berbaris paling depan, dilanjutkan dengan pembawa tirta paritta, pembawa lilin, pembawa bunga atau wewangian, pembawa bunga dalam vas, diikuti keluarga inti dari mendiang sambil membawa rangkaian bunga lainnya, dan diiringi kendaraan yang membawa peti mendiang.

Di belakangnya, para umat yang hadir juga berbaris rapi 2 banjar, diawali dengan barisan Pandita Magabudhi, barisan Forum Ibu-ibu Buddhis, barisan Patria Bali, barisan Pengurus Yayasan dan Dayaka Sabha Vihara, barisan keluarga lainnya, dan barisan pelayat (handai taulan).

Di tengah Jalan Raya Singaraja – Denpasar, mereka berjalan bersama-sama menuju tempat perabuan yang jaraknya tak jauh dari Dhammadesa, hanya terpaut 1 kilometer, waktu yang ditempuh sekitar 10 menit. Para pecalang, petugas keamanan adat, bersama petugas kepolisian siap mengatur lalu lintas yang cukup ramai.

Kedua arah jalur kendaraan sudah diberhentikan sekitar 200meter dari gerbang Dhammadesa dan dari jalan masuk menuju Kuburan Umat Buddha Yayasan Kertha Yadnya. Tujuannya tentu saja agar para umat tetap dapat melanjutkan prosesi pemberangkatan mendiang dengan damai dan tenang.

Saat memasuki areal Kuburan Umat Buddha Yayasan Kertha Yadnya, sayup-sayup suara angklung khas ritual Ngaben umat Hindu di Bali terdengar mengalun, seolah-olah menyambut mendiang dan iring-iringannya dengan lirih.

Di dekat krematorium, sekeha angklung dari Desa Adat Pacung melantunkan salam perpisahan dengan lirih. Setibanya di sana, peti mendiang diturunkan, kemudian ditempatkan di depan tempat perabuan. Perwakilan keluarga selanjutnya berdoa kepada Dewa Bumi, kemudian sembahyang di depan altar memberikan penghormatan kepada mendiang.

Puja upacara kremasi kemudian dilangsungkan. YM. Bhikkhu Sangha kembali menyalakan lilin dan dupa, memimpin jalannya prosesi. Diawali dengan Namakhara Patha. Puja Katha. Paritta Avamanggala oleh YM. Bhikkhu Sangha, dan Anusasana, emercikan Tirta Paritta, tabur bunga di peti mendiang oleh keluarga duka, kemudian dilanjutkan dengan pelepasan burung.

Ada beberapa ekor burung merpati dan burung tekukur yang dilepaskan, berwarna putih, hitam, dan abu-abu. Mereka terbang ke langit bebas, ke dahan-dahan pohon terdekat, ada juga yang masih berada di sekitar tempat krematorium, seolah masih ingin mengikuti prosesi kremasi sampai akhir.

Pelepasan burung serangkaian prosesi kremasi tersebut menjadi lambang lepasnya jiwa menuju alam surga. Pada saat itu juga, perwakilan dari segenap keluarga duka mengucapkan terima kasih kepada para umat dan seluruh pihak yang sudah menyempatkan diri, hadir dan mengikuti rangkaian prosesi, memberikan penghormatan kepada mendiang, dan berbelasungkawa serta memberikan berbagai bentuk dukungan kepada keluarga duka. Puja acara kemudian ditutup dengan bersama-sama mengucapkan Namakhara Penutup.

Peti mendiang kemudian dimasukan ke tengah perabuan. Api pun disulutkan. Prosesi kremasi akhirnya dilangsungkan. Sekeha angklung kembali melantunkan iringan perpisahan. YM Bhikkhu Sangha kembali menuju Dhammadesa untuk menerima Dana Makan Siang. Di areal Kuburan Umat Buddha Yayasan Kertha Yadnya, keluarga duka dan para umat juga menikmati makan siang.

Pemercikan Tirta Paritta kepada abu mendiang Bunda Erlina menjadi penghujung prosesi kremasi hari itu. Abu kemudian ditempatkan pada sebuah guci dan disemayamkan kembali di Dhammadesa.

Pengusaha Garmen dan Penggerak Umat

Jumat, 4 Juni 2021, pukul 05.00 WITA, Bunda Erlina Kang Adiguna berpulang. Sebelum diberangkatkan ke Dhammadesa, Baturiti, jenazah mendiang terlebih dahulu disemayamkan di Vihara Buddha Sakyamuni, Denpasar. Sejak hari itu, selama 7 hari ke depan sampai hari kremasi tiba, keluarga duka melangsungkan upacara avamanggala atau upacara kedukaan. Para umat silih berganti hadir memberikan penghormatan. Satu persatu karangan bunga yang berisi ucapan berbelasungkawa dan doa-doa berdatangan.

Tak sedikit juga tokoh-tokoh masyarakat yang meluangkan waktu untuk hadir ke sana. Seperti Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Bali Dr. Komang Sri Marheni, S.Ag., M.Si, Ketua Dewan Perkawilan Rakyat Daerah Provinsi Bali I Nyoman Adi Wiryatama, S.Sos., M.Si, Dirjen Bimas Buddha Caliadi S.H., M.H., Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), dan masih banyak lagi.

Mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna bersuamikan Putu Adiguna dan dari perkawinannya memiliki 5 anak, terdiri dari 2 perempuan dan 3 laki-laki. Yakni Liliek Herawati, Putu Agus Antara, Arief Wijaya, Yuliana Kanaya, dan Cahyadi Adiguna. Semasa hidup, mendiang merupakan seorang perintis perusahaan garmen ternama di Bali, Mama & Leon.

Dari sanalah kemudian mendiang lebih dikenal dengan nama Mama Leon oleh sebagian besar masyarakat Bali. Saat acara prosesinya dilangsungkan, tidak sedikit masyarakat Bali yang turut mengucapkan bela sungkawa lewat akun media sosialnya. Di Twitter, akun bernamakan Romeo India Alpa @romeoindiaalpha menulis “Berarti tadi kalo jadi ke baturiti bisa ketemu ya … mantan bos yang luar biasa, semoga mendapat tempat terbaik.”.

Ada juga akun dengan nama pengguna Bulan @trytodealwithit menulis “Ibu Erlina dan saya seharusnya bertemu minggu ini karena dia adalah salah satu klien saya…. Belasungkawa terdalam saya untuk keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai.”.

Di samping dikenal sebagai seorang pengusaha di bidang garmen, mendiang merupakan salah satu tokoh Buddhis Bali yang sejak dulu aktif melakukan kegiatan sosial keagamaan dan pengembangan Dhamma. Tak hanya di Bali, tapi juga di luar Bali, bahkan di luar negeri, seperti Myanmar dan sekitarnya.

Di Bali sendiri, mendiang menjadi penggerak dan motivator bagi para umat, seperti menjadi pembina organisasi Buddhis, penasehat Forum Ibu Buddhis (FIB) Bali, Ketua Umum Yayasan Kertha Yadnya, Pelindung di Vihara Buddha Sakyamuni, serta Ketua Kehormatan di Vihara Buddha Guna Nusa Dua.

Sebagai penggerak, mendiang mendorong para umat agar senantiasa meningkatkan harkat martabat pandita dan mengangkat harkat dan martabat Magabudhi, menjadi wanita berkarakter Buddhis sebagai Guru Utama dalam keluarga, dan menjadi generasi muda yang kokoh dalam saddha, bermoral, sukses dan mandiri. Mendiang juga menjadi penggagas acara Sebulan Pendalaman Dhamma (Ceramah Dhamma dan Latihan Atthasila) yang digelar setiap menyambut Peringatan Tri Suci Waisak.

Dirjen Bimas Buddha Caliadi S.H., M.H. saat datang ke Dhammadesa untuk memberikan penghormatan terakhir pada 6 Juni 2021 kemarin menyebut mendiang sebagai seorang Srikandi Buddhis. “Tidak lupa juga atas nama pemerintah dan pribadi saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada salah satu Tokoh Buddhis Nasional, kepada Alm. Ibu Erlina Kang Adiguna, atas segala bentuk pengabdian dan dukungannya kepada Pemerintah, khususnya di bidang pembangunan keagamaan, kerukunan umat Buddha dan antar umat beragama, Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk hidup berbahagia” ujarnya.

Mendiang juga aktif memberikan ceramah keagamaan di berbagai tempat, seperti dalam acara Dhamma Talk 2019 yang dilaksanakan oleh DPC Patria Denpasar. Pada acara tersebut, Mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna bercerita tentang dirina yang menghadapi sebuah penyakit yang sangat mematikan hanya dengan meyakini Dhamma. Tahun 1993, kanker Rahim hampir stadium tiga menyerang mendiang. Dokter yang memeriksanya meminta untuk melakukan operasi, namun beliau menolak, memutuskan untuk menghadapi kenyataan yang dialami.

Untuk melupakan penyakit yang dideritanya, beliau kemudian giat melakukan kegiatan pengembangan Dhamma dan kebajikan, serta belajar meditasi, menyelam lebih dalam kepada Dhamma, Ajaran Sang Buddha, berpegang teguh pada apa yang beliau yakini, bahwa Sang Tri Ratna akan memberikan jalan terbaik. Akhirnya, beliau bermeditasi selama 40 hari secara terus menerus, pagi dan sore hari. Paritta suci selalu dibaca. Tiga cangkir air yang dipserbahkan di altar Sang Buddha juga selalu diminum olehnya sambil merapalkan doa-doa yang sama, mengucapkan jani dan tekadnya. Tahun 1995, dokter yang memeriksa beliau sebelumnya dibuat kaget dan terheran-heran, kanker yang pernah diderita hilang begitu saja. Beliau divonis sembuh. Beliau kaget bercampur bahagia.

“Bukan karena saya minum air, atau karena saya meditasi saya bisa sembuh, tapi karena saya memiliki tekad dan keyakinan yang kuat terhadap Dhamma. Saya tidak pernah berhenti. Saya terus berusaha mengamalkan Dhamma, melakukan kebaikan. Sebenarnya penyakit itu tidak disembuhkan dengan begitu gampang, namun Dhamma ini memberikan saya kekuatan. Uang tidak bisa menyembuhkan penyakit, biarpun kemo dis mati ya mati. Namun Dhamma ini benar-benar menjadi obat mental bagi saya. Saya bisa mengikis kesombongan saya, dan saya harus membuat diri saya lebih lembut,” ujar beliau saat itu.

Sayangnya, kanker kembali menyerang beliau. Beliau lagi-lagi dinyatakan mengidap kanker. Kala itu, kanker payudara hamper stadium tiga. Dokter kembali meminta beliau untuk mengambil operasi dan kemoterapi. Biaya yang ditaksir sekitar Rp.1.2 Milliar. Namun keyakinan dan tekad beliau untuk mengabdi kepada Dhamma tidak goyah begitu saja.

Sama seperti sebelumnya, beliau tidak mau mengambil operasi ataupun kemoterapi. Uang Rp. 1,2 Milliar yang seharusnya digunakan untuk tindakan medis tersebut beliau bawa ke Myanmar dan didanakan di berbagai tempat di sana. Beliau menghabiskan uang tersebut untuk berdana. Di sana beliau kembali melakukan meditasi, tak pernah menyerah dan tak pernah berhenti meyakini Dhamma. Lagi-lagi, kanker itu hilang.

Mendiang dan Kesenian Bali

Semasa hidupnya, mendiang juga diketahui kerap merayakan hari-hari besar dengan menciptakan karya seni, berkolaborasi dengan Dewa Ayu Wedanaasih yang menjadi salah satu seniman Bali. Sebagai pemilik Sanggar Seni Cahya, Dewa Ayu sering diajak berkerja sama dalam hal seni sejak tahun 1996, baik dalam perayaan hari raya Buddhis, ataupun acara-acara yang berkaitan dengan ulang tahun perusahaan garmen yang dimiliki. Ia juga mengatakan mendiang Bunda Erlina Kang Adigun adalah sosok yang sangat kreatif.  “Kelahiran Tari Puja juga menjadi inspirasi dan penyemangat dari Baliau,” ujarnya.

Di penghujung tahun 2019 kemarin, sanggarnya diberi kesempatan untuk tampil membawakan Tari Puja di India. Seluruh penarinya adalah umat Buddha. Pada dasarnya, tari Puja yang diciptakan memang sudah dikonsep agar bisa ditarikan di mana saja. Tari Puja menjadi sebuah tarian yang universal, dapat menyesuaikan dengan tempat dan situasi, atau ditarikan oleh orang yang berbeda. Dalam hal tersebut, tentu saja ada penyesuain komposisi dan pola karya. “Penampilan di India ini berkat dukungan Bu Erlina dan umat Buddha Bali,” ujar koreografer yang juga ahli dalam tata rias tersebut.

“Bu Erlina adalah pecinta seni dan budaya khususnya seni Bali, dia diluar saya dan istri sebagai umat Hindu Bali. Sementara dia tidak memiliki partisi tentang hal itu. Kami sering diajak mengunjungi pura untuk mepunia, maupun kegiatan sosial lainnya. Ibu suka berbagi dengan siapa saja dan tidak pernah melihat identitas seseorang,” kenangnya.

Mendiang dan Sejarah Vihara Buddha Sakyamuni

Nama mendiang juga ada dalam sejarah berdiri Vihara Buddha Sakyamuni Denpasar. 29 Tahun yang lalu, pada tanggal 16 Desember 1992, mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna dan keluarga meminjamkan rukonya di Pertokoan Jalan. Diponogoro Denpasar untuk dijadikan Cetiya Buddha Sakyamuni, sekaligus menjadi sekretariat DPD Gemabudhi dan DPD Walubi (Perwalian Umat Buddha Indonesia) Provinsi Bali. Cetiya kemudian diperluas menjadi Mahacetiya Buddha Sakyamuni berkat dana Buddha Rupang dari Sathani Ketua Pemuda Buddhis Theravada Thailand. Saat itu, Bapak Merta Ada menjadi Ketua Dayaka Sabha untuk pertama kali.

Tanggal 25 Januari 1995, Mahacetiya Buddha Sakyamuni menjadi tempat diresmikannya Forum Ibu-ibu Buddhis (FIB). sejak itu, FIB bermitta Dhamma dengan Mahacetiya Buddha Sakyamuni Denpasar. Ide untuk membangun vihara kemudian muncul, namun lahan menjadi kendala utama saat itu. Mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna lantas berunding dengan keluarga dan akhirnya sepakat untuk berdana lahan seluas 36.5 are terletak di Jalan Gunung Agung Lk. Padang Udayana 3A. Tentu saja, niat baik tersebut disampaikan kepada Alm. Y.M. Girirakkhito Mahathera dan Beliau berkenan menerima saat Dhammashanti Waisak (50 Tahun Indonesia Emas) yang disaksikan pula oleh Bapak I.B. Oka (Gubernur Bali) dan Bapak Ketut Pasek (Dirjen Bimas Hindu dan Buddha).

Aktivitas Dhamma semakin meningkat sejak saat itu. Mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna meminjamkan Gedung di sebelah lahan yang didanakan. Tanggal 30 April 1996, Mahacetiya Buddha Sakyamuni kemudian pindah ke gedung tersebut dengan Upacara Abhiseka Buddha Rupam dan berganti nama menjadi Vihara Buddha Sakyamuni.

Tahun-tahun selanjutnya, Vihara Buddha Sakyamuni selalu mengalami perkembangan dan pembangunan hingga menjadi Pusat Informasi Buddhis Theravada di Bali seperti sekarang ini. Di vihara tersebut, mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna juga menggagas Sekretariat Bersama Organisasi Buddhis Theravada Bali dan memberikan fasilitas gedung yang lengkap. Sekretariat tersebut menjadi “Kantor Dhamma” untuk persaudaraan Organisasi Dhamma menyatukan Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) Bali.

Mendiang dan Sejarah Vihara Dhammadana

Mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna juga menjadi tokoh penting berdirinya Vihara Dhammadana di Baturiti. Sejarah Vihara Dhammadana bermula dari adanya perkumpulan Cing Bing Baturiti yang berganti nama menjadi Perkumpulan Suka Duka Kertha Yadnya Baturiti di bawah naungan Desa Adat Baturiti. Sekitar tahun 1980, mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna bersama Bapak Kangen Disastra masing-masing berdana lahan seluas 10 are. Di atas lahan tersebut, para umat di Baturiti membangun sebuah gedung serba guna yang diberi nama Gedung Kertha Yadnya. Pembangunan gedung tersebut juga mendapat dukungan dari warga sekitar.

Pada tanggal 9 September 1991 atas kesepakatan para umat, maka Perkumpulan Suka Duka Kertha Yadnya Baturiti berubah menjadi Yayasan Kertha Yadnya Baturiti. Yayasan tersebut menjadi wadah sosial, keagamaan,pendidikan dan kebudayaan, kesehatan dan non politik bagi para umat di Baturiti. Melalui diskusi dengan tokoh buddhis seperti Bapak Merta Ada dan Dhamma Jiyoti Kassapa, pemikiran untuk mendirikan tempat ibadah kemudian muncul. Salah satu alasannya karena ajaran Buddha yang pada saat itu masih belum begitu banyak dipahami di Bali.

Gedung Kertha Yadnya tersebut kemudian diubah menjadi Mahacetiya Dhammadana yang diresmikan 17 Mei 1992. Tiga tahun kemudian, mendiang Bunda Erlina Kang Adiguna sekeluarga menyiapkan lahan pengembangan dengan membeli tanah seluas 30 are yang berada di depan lahan berdirinya Mahacetiya Dharmadana Baturiti. Dengan demikian, tentu saja diharapkan, akan lebih banyak aktivitas dhamma yang bisa dilaksanakan untuk perkembangan mental dan spiritual Umat Buddha di Baturiti khususnya dan di Bali pada umumnya.

Bangunan Serba Guna yang dijadikan Bangunan Dhammasala Mahacetiya Dhammadana Baturiti pun akhirnya berusia lebih dari 20 tahun sejak pertama kali didirikan. Melihat kondisinya, Yayasan Kertha Yadnya kemudian berinisiatif untuk melakukan renovasi total. Di samping pemugaran, hal tersebut juga dilakukan untuk memenuhi aspirasi para umat di Baturiti menjadikan Mahaceitya Dhammadana sebagai sebuah vihara yang representatif, representatif, berfungsi dengan baik, menampung aktivitas Buddha Dhamma di Baturiti pada khususnya dan mendukung aktivitas Buddha Dhamma di Bali pada umumnya.

Tags: BuddhismeBudhain memoriamMama Lion
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ni Komang Wiranti Primadani | Dancer, Gadis Gaul, Sastra dan Bahasa Bali

Next Post

Membaca Kembali Catatan Ekonomi dan Bisnis “CRM” di Masa Lalu

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Membaca Kembali Catatan Ekonomi dan Bisnis “CRM” di Masa Lalu

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co