23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memeriksa Lagi Rasa Manis dari Buku Cerpen Desi Nurani “Manisan Gula Merah Setengah Gigit”

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
May 23, 2021
in Khas
Memeriksa Lagi Rasa Manis dari Buku Cerpen Desi Nurani “Manisan Gula Merah Setengah Gigit”

Desi Nurani (duduk, tengah) dalam acara Tatkala May May May, Sabtu 22 Mei 2021 di Rumah Belajar Komunitas Mahima

Ketika saya bertanya, mengapa mengambil idiom manisan dalam cerpennya, Desi menjawab bahwa manisan mengandung rasa manis yang menggiurkan. Lalu mengapa setengah gigit? Karena ada rasa yang belum selesai.

Dua pertanyaan inti ini menjadi bahan bakar diskusi buku pada acara Tatkala May May May yang membahagiakan di Rumah Belajar Komunitas Mahima, 22 Mei 2021 petang hingga malam.

Jika anda belum tahu siapa Desi Nurani, saya beri tahu sedikit, Desi adalah seorang penulis yang mengawali karirnya di dunia seni dari membaca puisi dan bermain teater. Dia adalah salah satu aktor utama yang handal di dunia teater khususnya dalam konteks karya-karya Komunitas Mahima yang saya sutradarai.

Setelah menikah, Desi mulai menulis cerpen. Dan bukunya yang ia beri judul Manisan Gula Merah Setengah Gigit, menjadi sebuah rekaman perjalanan pikirannya dan kegelisahannya yang rumit soal berbagai pertanyaan sebagai perempuan.

Suara-suara yang ia temukan dalam pikirannya itu berbuah cerita-cerita yang tak seluruhnya manis, namun menyisakan sebuah tanda tanya besar. Apa di balik rasa manis itu?

Ketika saya pancing mengapa memilih rasa manis, daripada rasa-rasa yang lain, Desi mengatakan rasa manis itu menggiurkan. Barangkali, hipotesa berkembang dari rasa manis itu bahwa setelah menggiurkan ia menjadi candu yang membuat ketagihan, dan seterusnya.

Namun seperti tak puas dengan rasa manis itu, ia juga menawarkan idiom setengah gigit, dengan makna, ada sesuatu yang tak selesai dengan rasa manis itu, ada rasa yang menimbulkan pertanyaan, ada keraguan akan rasa manis itu.

Sayapun bertanya kembali level rasa manis apa yang kita tuju, tentu berbeda. Manis dalam konteks Desi, tentu berbeda dengan manis dalam konteks saya, sehingga pembicaraan soal rasa manis saja akan bisa menghabiskan ratusan ide dalam konteks yang beragam.

Desi Nurani (kiri) dan Kadek Sonia Piscayanti dalam acara Tatkala May May May, Sabtu 22 Mei 2021 di Rumah Belajar Komunitas Mahima

Sesungguhnya malam itu, persoalan rasa kemudian menjalar ke seluruh tema narasi cerita. Mengapa sebuah rasa tak pernah selesai, hampir sama dengan idiom setengah gigit, mengapa pertanyaan tak pernah selesai? Khususnya dalam konteks Desi sebagai perempuan yang baru menikah, baru memiliki anak, baru memasuki dunia budaya yang berbeda. Apa yang sesungguhnya ditawarkan Desi?

Desi menjawab bahwa sebagian besar ide ceritanya adalah bersumber dari pertanyaan masa lalu yang disimpannya baik-baik, dikenangnya baik-baik dan dituliskannya kemudian. Dia masih mengingat ketika kecil dulu, dia memiliki banyak pertanyaan yang tak bisa dijawab, tak sempat dijawab, tak selesai dijawab, atau tidak memuaskannya, sehingga ia menjadi terus dikejar oleh pertanyaan itu hingga saat ini.

Dalam cerpen “Menikahkan Pikiran” misalnya sangat banyak hal yang ingin disampaikan Desi terutama soal sebuah lembaga yang bernama pernikahan yang seharusnya menyatukan tak hanya tubuh namun pikiran. Pikiran yang berbeda, tentu tak bisa serta merta bersatu sebagaimana tubuh bersatu, dan ide itulah yang ia simpan tentang ideologi di balik pernikahan.  Bahwa apapun yang di masa lalu tak bisa ia jawab, atau tak bisa ia maklumi menjadi bahan bakar tulisannya.

Jadi semua pertanyaan yang belum selesai, atau tak akan pernah selesai, juga menjadi sebuah bekal bagi Desi menjalani peran sebagai perempuan masa kini, antara menjadi istri, ibu, guru, dan bertambah kini, menjadi penulis.

Saya dalam konteks sebagai perempuan yang memandang Desi sebagai bagian dari komunitas yang saya asuh, merasakan bahwa siapapun yang telah berhasil menulis dalam konteks pergaulan dan pertumbuhan kreatif di Komunitas Mahima dan konteks yang terhubung dengannya, menjadi sebuah representasi dari keberhasilan memelihara pertanyaan yang terus tumbuh di dalam diri, mengembangkan pertanyaan itu dan menstimulasi pertanyaan berikutnya.

Dalam diskusi juga terungkap sebuah penawaran dari Desi bahwa ideologi warisan yang biasanya dalam konteks budaya patrilineal menjadi persoalan, menjadi memiliki perspektif lain dalam konteks cerita Desi bahwa perempuan juga bisa memberi warisan berupa cerita dan nilai-nilai. Warisan bukan hanya dimaknai sebagai perspektif fisik, namun juga psikologis. Warisan menjadi unlimited jika berbentuk kisah, pengetahuan atau values. Tak hanya berhenti sebagai warisan, hal ini bahkan menjadi legacy dalam konteks yang lebih luas.

Hal lain yang ditemukan dalam diskusi tersebut  adalah soal suara perempuan yang dikemas Desi dalam perspektif gadis kecil yang menjadi narator dalam ceritanya. Ia mengungkapkan pilihan menangkap peristiwa dari sudut gadis kecil karena ia merasa bahwa saat gadis kecil mulai berpikir, saat itulah pertanyaan akan dibawa hingga dewasa, dan boleh jadi bisa menjadi selamanya.

Saya juga mempertanyakan hal-hal lain dalam konteks konstruksi makna dalam perjalanan pikiran seorang Desi. Antara lain bagaimana kontribusi makna keseluruhan proses ini dalam konstruksi seorang Desi. Jawabannya tentu saat ini semua sedang diolah, dipertanyakan kembali dan direfleksikan untuk masa menulis yang lebih panjang.

Sebagai  perempuan, saya tentu mendukung segala upaya untuk menumbuhkan pemikiran-pemikiran perempuan, yang terus harus disuburkan dan dirangsang. Pertanyaan dalam diri menjadi adalah akar sekaligus jembatan ke pertanyaan di luar diri, yang terus tumbuh bercabang-cabang dan beranting-ranting, hingga berdaun dan berbuah. Iklim dalam berpikir dan mempertanyakan pikiran menjadi penting dan relevan untuk merangsang karya baru.

Selamat Desi Nurani. Selamat berpikir, bertanya kembali, dan berkarya kembali. [T]

BACA ARTIKEL KADEK SONIA PISCAYANTI LAINNYA:

“Kisah Tentang Ibu Tak Putus-Putus”  – Catatan Drama Seorang Ibu
Tags: BukuCerpenDesi NuraniKadek Sonia PiscayantiKomunitas MahimasastraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putra Ariawan | Menelan Permen Karet, Berobat Lewat Sastra Bali Modern

Next Post

Masih Ada Tradisi “Mederep” Padi di Pedawa | Pemilik Dapat 8, Yang “Mederep” Dapat 1

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Masih Ada Tradisi “Mederep” Padi di Pedawa | Pemilik Dapat 8, Yang “Mederep” Dapat 1

Masih Ada Tradisi “Mederep” Padi di Pedawa | Pemilik Dapat 8, Yang "Mederep" Dapat 1

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co