3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menemukan Cinta, Merasakan Patah Hati, dan Menangisi Kematian

Jaswanto by Jaswanto
March 12, 2021
in Ulasan
Menemukan Cinta, Merasakan Patah Hati, dan Menangisi Kematian

Cinta, patah hati, dan kematian, tiga hal yang melekat dalam diri manusia. Sedangkan manusia merupakan pribadi yang sering mempersoalkan eksistensinya seiring dengan perkembangan zaman. Dalam hal ini, manusia mulai kehilangan pandangan tentang hubungan dengan sesama manusia dan nilai pribadi individu yang cenderung menimpakan kesalah kepada diri sendiri tanpa menghiraukan kesanggupan dan keberadaan potensi diri.

Oleh karena itu, banyak ditemukan manusia yang merasa tak berdaya, tidak mampu atau bahkan tidak bertahan dalam menghadapi suatu problematika kehidupan yang ada. Seni sastra, sebagai salah satu pandangan kehidupan manusia bukan hanya sekadar karya seni estetika yang mampu menyajikan unsur kehidupan secara murni, tulus dan menarik pembaca, tetapi juga merupakan faktor lain yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca, terlebih bagaimana cara seorang mampu keluar dari berbagai persoalan⸺seperti cinta, patah hati, atau kematian⸺yang terlukiskan dalam karya sastra. Melalui karya sastra, pengarang mempunyai misi untuk membentuk pola kepribadian dari masing-masing karakter tokoh dan menjalankan alur penceritaan yang tidak monoton pada satu peristiwa saja.

Beberapa hari yang lalu saya membaca dua antologi cerpen terbitan Mahima. Pertama antologi cerpen Wayan Agus Wiratama (selanjutnya ditulis Bang Agus) yang berjudul Kado Kematian untuk Pacarmu, dan antologi cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi (selanjutnya ditulis Bang Phebi) yang berjudul Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan.

Dalam kedua antologi cerpen tersebut, agaknya saya menemukan tiga hal: cinta, patah hati, dan kematian.

Antologi cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu dan Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan banyak mengungkapkan seputar perasaan, problematika dan pengalaman kehidupan yang selalu diwarnai oleh penderitaan lahir dan batin. Dua belas cerita dalam KKUP atau sebelas cerita dalam KC2DYD ini berkisah tentang mereka yang hidup dalam suatu dunia, yang barangkali memang tidak dibuat untuk mereka, sehingga tampak aroma kekalutan batin dan gangguan kejiwaan (psikis), seperti mungkin yang dialami setiap orang yang terlanjut lahir meski tidak meminta.

Dalam antologi cerpennya Bang Agus, saya menemukan satu hal gila. Tentu dalam cerpen yang kemudian dipakai untuk judul bukunya, Kado Kematian untuk Pacarmu. Tokoh dalam cerita ini barangkali psikisnya memang sudah terganggu, tidak waras. Tokoh “Aku” dalam cerpen tega membunuh pacar mantan kekasihnya⸺lelaki yang telah merebut pacarnya, katanya⸺dan kemudian membunuh mantannya hanya gara-gara dia cemburu. “… Sehari sebelum pisau itu mendarat tepat di hatinya, kulihat kau di pelabuhan itu makan sate dengan begitu nikmat. Sangat nikmat. Ketika itu, api di dalam diriku terasa menyala. Tubuhku terasa panas dan apabila kau melihat, mataku meraj seperti api yang membakar rumahmu ketika dilenyapkan para pembenci ayahmu.” (hal. 22).

Tetapi siapa yang tahan dengan perasaan patah hati. Seorang Napoleon Bonaparte (1769-1821)⸺negarawan dan kaisar Perancis⸺saja pernah mengatakan: “Aku telah berhasil memenangi banyak peperangan besar. Kemenangan-kemenangan spektakuler yang berhasil kuraih tercatat dalam tinta emas sejarah. Tetapi, aku kalah dan terpuruk di hadapan satu wanita”. Atau Julius Caesar dan Marcus Antonius rela berperang hanya karena sosok Cleopatra. Ada yang bilang, “… bahwa dalam perang dan cinta, semua halal dilakukan”.

Selain cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu⸺yang menyeramkan itu⸺, Bang Agus mencoba menghadirkan realitas lain yang dekat dengan kehidupan saya: pembelian lahan oleh pabrik. Ya, dalam cerpen berjudul Karba dan Perahu Biru yang Meninggalkan Istri, seorang Karba yang dengan tegas menolak pabrik. “Tidak! Tidak boleh ada pabrik di kampung kami! Kalau ada yang berani mendirikan pabrik, aku akan menyiapkan banyak orang! Kau pahami kata-kata itu!” (hal.75). Dan dalam cerpen Pada Bagian itu, Yo Terbunuh, Bang Agus melihat realitas sawah yang berubah menjadi bermacan-macam bangunan: perumahan, restoran, hotel, villa, dan perkantoran. Ah, sebenarnya saya ingin mengurai fenomena ini, cuma saya terlalu sentimentil jadi manusia. Tuban, kampung halaman saya itu, lekat sekali dengan hal ini.

Tema cerpen pemuda kelahiran Pengembungan, Gianyar, ini, dekat sekali dengan kita, manusia. Ironi-ironi tentang cinta, patah hati, dan kematian yang tak wajar, seperti bumbu pelengkap dalam kehidupan manusia. Lagi pula siapa manusia yang tak pernah merasakan cinta, patah hati, dan kematian nantinya? Saya pikir tak ada. Ketiga hal tersebut adalah sambal dalam menu pecel lele, atau acar dalam sebungkus martabak telur. Selalu ada, walau kadang tak dinikmati, atau bahkan dicampakkan begitu saja.

Sedangkan dalam antologinya Bang Phebi, walaupun mengusung tema yang hampir sama dengan Bang Agus, akan tetapi perbedaan sudut pandang dan cara penulisan tentunya sangat berbeda. Dalam cerpen Bang Phebi, ada sedikit unsur magis di dalamnya. Seperti dalam cerpen berjudul Cemani, yang bercerita tentang Pustakawan Uban dan seekor kucing bernama Cemani⸺kucing peninggalan istrinya⸺yang dituduh telah menjadi penyebab kematian istrinya. Dalam cerpen berjudul Bolup, yang bercerita tentang sekelompok suku yang memiliki tradisi “primitif”⸺dan menakutkan. Bagaimana mungkin seorang pembunuh harus dibunuh dan kemudian tubuhnya akan dimakan beramai-ramai. Sungguh mengerikan.

Selain magis, Bang Phebi juga menghadirkan kisah-kisah yang jauh dari Bali. Serperti cerpen Bolup, Orkes Stasiun, Perempuan di Distrik Reykjavik, Perempuan dan Senja Kematian. Saya baru menemukan Bali ketika membaca cerpen Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan⸺cerpen yang mengisahkan Masula-Masuli yang konon adalah bayi kembar buncing anak raja Bali Kuno. Dalam cerpen ini Bang Phebi menyampaikan satu kepercayaan Bali Kuno⸺kepercayaan tentang bayi kembar buncing yang lahir dari golongan biasa akan dikenakan sanksi karena membawa nasib buruk. Dan dalam cerpen Wayang Warisan Jero Dalang. Tetapi hampir semua cerpen yang termuat dalam antologi Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan ini mistis-magisnya. Saat membacanya saya seperti berada di dunia lain atau seperti mendengarkan siaran “JIMAT: Sajian Malam Jumat” di radio Istana 95 FM. Saya membayangkan setiap kejadian mistis dalam cerpen-cerpen Bang Phebi.

Terlepas dari itu semua, kedua antologi ini membahas tiga hal: cinta, patah hati, dan kematian⸺ tiga hal yang melekat dalam diri manusia. Saya selesai membaca kedua buku antologi ini, setelah kekasih saya memutuskan untuk berhenti mencintai saya. Saya patah hati, dan riskan sebenarnya untuk membaca buku yang tak jauh dari cinta, patah hati, dan kematian. Tetapi tenang, saya tak akan melakukan apa-apa setelah membaca kedua antologi ini kecuali menulis ulasan yang sedang Anda baca saat ini.

  • Artikel ini disampaikan dalam acara Mahima March March March di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Selasa 9 Maret 2021.

Tags: BukuCerpenresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekilas Ekofeminisme

Next Post

Menyepi dalam Krisis

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menyepi dalam Krisis

Menyepi dalam Krisis

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co