14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menemukan Cinta, Merasakan Patah Hati, dan Menangisi Kematian

Jaswanto by Jaswanto
March 12, 2021
in Ulasan
Menemukan Cinta, Merasakan Patah Hati, dan Menangisi Kematian

Cinta, patah hati, dan kematian, tiga hal yang melekat dalam diri manusia. Sedangkan manusia merupakan pribadi yang sering mempersoalkan eksistensinya seiring dengan perkembangan zaman. Dalam hal ini, manusia mulai kehilangan pandangan tentang hubungan dengan sesama manusia dan nilai pribadi individu yang cenderung menimpakan kesalah kepada diri sendiri tanpa menghiraukan kesanggupan dan keberadaan potensi diri.

Oleh karena itu, banyak ditemukan manusia yang merasa tak berdaya, tidak mampu atau bahkan tidak bertahan dalam menghadapi suatu problematika kehidupan yang ada. Seni sastra, sebagai salah satu pandangan kehidupan manusia bukan hanya sekadar karya seni estetika yang mampu menyajikan unsur kehidupan secara murni, tulus dan menarik pembaca, tetapi juga merupakan faktor lain yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca, terlebih bagaimana cara seorang mampu keluar dari berbagai persoalan⸺seperti cinta, patah hati, atau kematian⸺yang terlukiskan dalam karya sastra. Melalui karya sastra, pengarang mempunyai misi untuk membentuk pola kepribadian dari masing-masing karakter tokoh dan menjalankan alur penceritaan yang tidak monoton pada satu peristiwa saja.

Beberapa hari yang lalu saya membaca dua antologi cerpen terbitan Mahima. Pertama antologi cerpen Wayan Agus Wiratama (selanjutnya ditulis Bang Agus) yang berjudul Kado Kematian untuk Pacarmu, dan antologi cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi (selanjutnya ditulis Bang Phebi) yang berjudul Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan.

Dalam kedua antologi cerpen tersebut, agaknya saya menemukan tiga hal: cinta, patah hati, dan kematian.

Antologi cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu dan Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan banyak mengungkapkan seputar perasaan, problematika dan pengalaman kehidupan yang selalu diwarnai oleh penderitaan lahir dan batin. Dua belas cerita dalam KKUP atau sebelas cerita dalam KC2DYD ini berkisah tentang mereka yang hidup dalam suatu dunia, yang barangkali memang tidak dibuat untuk mereka, sehingga tampak aroma kekalutan batin dan gangguan kejiwaan (psikis), seperti mungkin yang dialami setiap orang yang terlanjut lahir meski tidak meminta.

Dalam antologi cerpennya Bang Agus, saya menemukan satu hal gila. Tentu dalam cerpen yang kemudian dipakai untuk judul bukunya, Kado Kematian untuk Pacarmu. Tokoh dalam cerita ini barangkali psikisnya memang sudah terganggu, tidak waras. Tokoh “Aku” dalam cerpen tega membunuh pacar mantan kekasihnya⸺lelaki yang telah merebut pacarnya, katanya⸺dan kemudian membunuh mantannya hanya gara-gara dia cemburu. “… Sehari sebelum pisau itu mendarat tepat di hatinya, kulihat kau di pelabuhan itu makan sate dengan begitu nikmat. Sangat nikmat. Ketika itu, api di dalam diriku terasa menyala. Tubuhku terasa panas dan apabila kau melihat, mataku meraj seperti api yang membakar rumahmu ketika dilenyapkan para pembenci ayahmu.” (hal. 22).

Tetapi siapa yang tahan dengan perasaan patah hati. Seorang Napoleon Bonaparte (1769-1821)⸺negarawan dan kaisar Perancis⸺saja pernah mengatakan: “Aku telah berhasil memenangi banyak peperangan besar. Kemenangan-kemenangan spektakuler yang berhasil kuraih tercatat dalam tinta emas sejarah. Tetapi, aku kalah dan terpuruk di hadapan satu wanita”. Atau Julius Caesar dan Marcus Antonius rela berperang hanya karena sosok Cleopatra. Ada yang bilang, “… bahwa dalam perang dan cinta, semua halal dilakukan”.

Selain cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu⸺yang menyeramkan itu⸺, Bang Agus mencoba menghadirkan realitas lain yang dekat dengan kehidupan saya: pembelian lahan oleh pabrik. Ya, dalam cerpen berjudul Karba dan Perahu Biru yang Meninggalkan Istri, seorang Karba yang dengan tegas menolak pabrik. “Tidak! Tidak boleh ada pabrik di kampung kami! Kalau ada yang berani mendirikan pabrik, aku akan menyiapkan banyak orang! Kau pahami kata-kata itu!” (hal.75). Dan dalam cerpen Pada Bagian itu, Yo Terbunuh, Bang Agus melihat realitas sawah yang berubah menjadi bermacan-macam bangunan: perumahan, restoran, hotel, villa, dan perkantoran. Ah, sebenarnya saya ingin mengurai fenomena ini, cuma saya terlalu sentimentil jadi manusia. Tuban, kampung halaman saya itu, lekat sekali dengan hal ini.

Tema cerpen pemuda kelahiran Pengembungan, Gianyar, ini, dekat sekali dengan kita, manusia. Ironi-ironi tentang cinta, patah hati, dan kematian yang tak wajar, seperti bumbu pelengkap dalam kehidupan manusia. Lagi pula siapa manusia yang tak pernah merasakan cinta, patah hati, dan kematian nantinya? Saya pikir tak ada. Ketiga hal tersebut adalah sambal dalam menu pecel lele, atau acar dalam sebungkus martabak telur. Selalu ada, walau kadang tak dinikmati, atau bahkan dicampakkan begitu saja.

Sedangkan dalam antologinya Bang Phebi, walaupun mengusung tema yang hampir sama dengan Bang Agus, akan tetapi perbedaan sudut pandang dan cara penulisan tentunya sangat berbeda. Dalam cerpen Bang Phebi, ada sedikit unsur magis di dalamnya. Seperti dalam cerpen berjudul Cemani, yang bercerita tentang Pustakawan Uban dan seekor kucing bernama Cemani⸺kucing peninggalan istrinya⸺yang dituduh telah menjadi penyebab kematian istrinya. Dalam cerpen berjudul Bolup, yang bercerita tentang sekelompok suku yang memiliki tradisi “primitif”⸺dan menakutkan. Bagaimana mungkin seorang pembunuh harus dibunuh dan kemudian tubuhnya akan dimakan beramai-ramai. Sungguh mengerikan.

Selain magis, Bang Phebi juga menghadirkan kisah-kisah yang jauh dari Bali. Serperti cerpen Bolup, Orkes Stasiun, Perempuan di Distrik Reykjavik, Perempuan dan Senja Kematian. Saya baru menemukan Bali ketika membaca cerpen Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan⸺cerpen yang mengisahkan Masula-Masuli yang konon adalah bayi kembar buncing anak raja Bali Kuno. Dalam cerpen ini Bang Phebi menyampaikan satu kepercayaan Bali Kuno⸺kepercayaan tentang bayi kembar buncing yang lahir dari golongan biasa akan dikenakan sanksi karena membawa nasib buruk. Dan dalam cerpen Wayang Warisan Jero Dalang. Tetapi hampir semua cerpen yang termuat dalam antologi Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan ini mistis-magisnya. Saat membacanya saya seperti berada di dunia lain atau seperti mendengarkan siaran “JIMAT: Sajian Malam Jumat” di radio Istana 95 FM. Saya membayangkan setiap kejadian mistis dalam cerpen-cerpen Bang Phebi.

Terlepas dari itu semua, kedua antologi ini membahas tiga hal: cinta, patah hati, dan kematian⸺ tiga hal yang melekat dalam diri manusia. Saya selesai membaca kedua buku antologi ini, setelah kekasih saya memutuskan untuk berhenti mencintai saya. Saya patah hati, dan riskan sebenarnya untuk membaca buku yang tak jauh dari cinta, patah hati, dan kematian. Tetapi tenang, saya tak akan melakukan apa-apa setelah membaca kedua antologi ini kecuali menulis ulasan yang sedang Anda baca saat ini.

  • Artikel ini disampaikan dalam acara Mahima March March March di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Selasa 9 Maret 2021.

Tags: BukuCerpenresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekilas Ekofeminisme

Next Post

Menyepi dalam Krisis

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menyepi dalam Krisis

Menyepi dalam Krisis

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co