23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekilas Ekofeminisme

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
March 11, 2021
in Esai
Sekilas Ekofeminisme

Foto Lukisan yang tergambar di Dinding Kulidan Kitchen

Kulidan Kitchen yang berlokasi di desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar merupakan tempat publik yang sering digunakan untuk membedah karya seni, buku, dan film selain menikmati kudapan sore hari. Memasuki areal Kulidan Kitchen dari pintu gerbang di selatan, ada ruang terbuka yang dinaungi atap dan lantainya dilapisi kerikil.

Sisi sampingnya terdapat sebuah lukisan dinding yang menampilkan perempuan bermahkota dengan latar berwarna merah jambu, krim, kayu, dan tanah. Di samping kirinya terdapat dedaunan hijau tua, nanas dan burung merak. Di sisi kanan lukisan dihiasi dengan gambar bunga pukul empat yang berwarna merah, gajah dan bungan kembang sepatu dengan mahkota bunga berwarna kuning. Semua objek ini dilukis dengan cat dinding. Di bawah muka gambar seorang wanita terdapat tulisan berjudul Mencoba Bangkit.

Foto Lukisan yang tergambar di Dinding Kulidan Kitchen

Lukisan itu dibuat pada bulan Juli 2020 untuk persiapan pameran seni yang diadakan pada tanggal 2 Agustus 2020. Seperti pernyataan umum bahwa sebuah lukisan mampu menceritakan ribuan kata, akan banyak tafsiran mengenai hal tersebut. Karya ini diperkirakan akan terus terpampang secara permanen di dinding Kulidan Kitchen.

Dalam lukisan tersebut terdapat suatu hubungan antara perempuan , pangan yang disimbolkan dengan nanas, lingkungan hidup yang direpresentasikan dengan burung merak, gajah dan bunga serta slogan yang  menyerukan untuk bangun supaya bergerak.  Karya seni tersebut akan selalu relevan saat hari lingkungan hidup, hari perempuan dan hari satwa liar.

Ekofeminisme

Karya seni itu dapat dianggap menggambarkan suatu gagasan bernama ekofeminisme yang mana mengkaji hubungan perempuan dan alam. Istilah ekofeminisme dicetuskan oleh seorang tokoh feminis Perancis bernama Francoise d’Eaubonne di tahun 1974. Ekofeminisme berbasis pada kesetaraan gender dan pandangan dunia yang menghargai proses organic, koneksi yang bersifat  menyeluruh, dan kecenderungan pada intuisi dan kerja sama. Penganut ekofeminisme mengadvokasi pandangan alternatif yang menganggap bumi sebagai sacral, dan mengakui ketergantungan manusia dengan alam dan merangkul semua organisme sebagai sesuatu yang berharga. Ekofeminisme menggugat pandangan yang berlaku di masa itu bahwa manusia lebih tinggi dari alam sehingga punya hak untuk mendominasinya. Penganut paham ini berpandangan bahwa mewujudkan kesetaraan gender dan pelestarian alam serta pemulihan lingkungan yang terdegradasi adalah satu kesatuan.

Ekofeminisme bertitik tolak pada dampak yang dirasakan oleh perempuan akibat kerusakan lingkungan akibat sistem sosial ekonomi  patriarki yang eksploitatif dimana sistem tersebut berasal dari anggapan bahwa laki laki itu rasional dan terartur sementara perempuan dan alam itu irasional dan tidak teratur sehingga mengharuskan laki laki mengatur keduanya. Ini yang memicu eksploitasi besar besaran terhadap perempuan dan lingkungan(1).

 Ekofeminis membuat hubungan sejarah antara neoliberal kapitalisme, keterasingan pekerja, limbah beracun industri, perampasan lahan dan air, perusakan hutan, perubahan iklim dan neokolonialisme. Mereka menyerukan kehidupan yang menginginkan ketercukupan kebutuhan hidup yang berlandaskan pada kedaulatan pangan komunitas, demokrasi partisipatif dan saling memberi dengan lingkungan hidup. Kemampuan dan partisipasi perempuan vital untuk mewujudkan tiga hal ini. Ekofeminisme juga timbul sebagai reaksi dari dampak lingkungan dan kesehatan akibat konversi teknologi perang dunia kedua menjadi produk konsumen seperti pembangkit listrik berernergi nuklir dan pertanian kimia(2).

Salah seorang penganut pemikiran ini ,Vandana Shiva menyoroti bahwa ekonomi saat ini menjadikan peran perempuan seolah olah tak terlihat dalam pertumbuhan ekonomi. Padahal merekalah yang merawat anak dan mengurus rumah tangga bagi laki laki yang bekerja di tempat korporasi supaya tenaganya tersedia lancar untuk digunakan dalam proses produksi. Anak anak ini berikutnya akan menjadi tenaga kerja industri juga.

Dia menguak bagaimana pertumbuhan ekonomi bersandar pada asumsi bahwa jika komunitas desa memproduksi apa yang mereka konsumi mereka tidak menggerakan roda pertumbuhan itu(3). Berarti para perempuan desa di Indonesia misalnya yang memproduksi untuk anak anak, keluarga, komunitas dan masyarakat pedesaan dianggap rendah produktivitas dan rendah aktivitas ekonomi sedangkan jika mereka memproduksi massal segelintir komoditas untuk dijual ke kota hingga diekspor dengan konsekuensi rawan pangan karena lahan diperuntukan untuk hal itu, dianggap berperan dalam pertumbuhan ekonomi. Privatisasi sumber daya alam tanah, dan air yang dianggap sebagai penggerak karena menghasilkan uang dalam sistem pasar bebas merupakan bentuk kekerasan pada perempuan karena menghilangkan hak akses atas dua hal tersebut untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan komunitasnya.

Contoh lain hubungan eksploitasi perempuan dan lingkungan oleh sistem patriarki kapitalisme adalah mayoritas yang dipekerjakan dalam bentuk tenaga kerja pabrik upah murah (sweatshop) adalah perempuan dan permukaan bumi ditambang dan ditanami secara monokultur untuk mendapatkan bahan baku produksi untuk sweatshop yang labanya dinikmati oleh pemilik pabrik yang kebanyakan adalah laki laki. Sweatshop juga membuang limbah dan polusi ke luar, berdampak pada warga sekitar yang sama sekali tidak berpartisipasi di pabrik. Ini salah satu bentuk ketidakadilan sementara pemilik sweatshop tinggal jauh di tempat yang mewah dan relative kecil polusinya. Jika dia juga tinggal di situ, mungkin akan berusaha meminimalisir efek samping yang ditimbulkannya. Dari sweatshop, menghasilkan transaksi senilai miliaran rupiah per minggu di kota dan sampai ke luar negeri dengan keringat dan rasa sakit yang dialami oleh pekerja ini serta efek samping yang ditimbulkannya.

Perempuan selalu menjadi pihak yang paling menderita ketika terjadi kerusakan lingkungan karena terlibat langsung dalam urusan dapur dan kesehatan anak. Saat terjadi pencemaran air dan udara, aktivitas utamanya sebagai produsen makanan dan perawatan anak terganggu. Kesehatan anak menurun. Biasanya karena intuisi yang lebih kuat, perempuan lebih mampu mendeteksi perubahan lingkungan beserta dampak yang akan menimpa dirinya dan anak anaknya ,konsultasi dengan perempuan itu penting ketika pembangunan infrastruktur, pendirian pariwisata dan produksi pangan direncanakan oleh pemerintah daerah, pusat, yayasan dan korporasi. Intuisinya punya peran dalam menentukan kelayakan proyek.

Basis Ekofeminisme

Proses organic di bumi sudah berlangsung selama berjuta tahun. Mahluk hidup yang lahir, memperoleh nutrisi lalu kembali ke lagi ke tanah saat mati merupakan proses organic. Sejak era industri di abad ke 19 proses organic dalam memperoleh makanan mulai terganggu. Saat ini proses organic sudah rusak parah. Buktinya dapat kita saksikan dengan maraknya penggunaan zat zat yang meracuni lingkungan dan membunuh biota tanah dan serangga penyerbuk hingga harus mengeluarkan sumber daya ekonomi untuk memupuki tanah. Kemudian ada yang buat mesin untuk menyerbuki tanaman karena langkanya serangga dan burung di tempat tersebut(4). Dianggapnya mesin ini merupakan kemajuan teknologi yang patut dibanggakan ,padahal itu menunjukkan manusia terpisah dari proses organic dimana dia hidup bersamanya selama ratusan ribu tahun evolusinya di bumi.

 Dua hal tersebut menimbulkan efek samping yang selalu luput. Pupuk buatan menyebabkan penyuburan lingkungan air yang mengakibatkan ledakan ganggang yang membunuh sebagian besar biota di situ karena menghisap oksigen. Bahan baku mesin penyerbuk buatan diambil dari perut bumi yang mana mengharuskan penambangan logam dengan menimbulkan efek samping sosial ekologi yang sering ditanggung oleh penduduk sekitar tambang.

Pertanian yang bersifat memperbaharui seperti permakultur  merupakan upaya memulihkan proses organic tersebut dengan memanfaatkan komponen alam dan integrasi dengannya. Pertanian model ini berperan dalam menyediakan habitat konservasi sehingga dapat dijadikan model yang bersifat integrative antara pertanian dan pelestarian lingkungan.  

Mengenai koneksi yang menyeluruh (holistic), saat ini ilmu pengetahuan dan diskusi public bersifat reduksionis karena: mereduksi kapasitas manusia untuk memahami alam dengan menyingkirkan para non spesialis dan cara lain untuk memahami alam selain daripada metode ilmiah modern yang diajarkan di lembaga resmi . Kedua, menganggap alam dan komponen yang ada di situ sebagai benda mati dan terpisah pisah. Ilmu ini menganggap proses di alam bersifat mekanistik  seperti mesin yang mampu dimanipulasi dan dipisah pisah.  Sifat terpisah pisah dari ilmu pengetahuan reduksionis memunculkan pengetahuan yang terlepas dari konteks dimana ia dibangun, dan menciptakan persyaratan berdasarkan pada pengasingan khalayak banyak karena hanya “pakar “ yang punya hak ekslusif atas ilmu pengetahuan itu dan bersifat menyingkirkan partisipasi orang banyak yang diproyeksikan sebagai objektivitas. “Pakar” dan “spesialis” dianggap satu satunya produsen pengetahuan yang sah(5).

Misalnya pengajaran di lembaga formal mengenai pangan jarang menghubungkan dengan peran perempuan yang esensial dalam produksi itu, lingkungan dengan tanah yang berhumus dan air jernih serta peran pertanian dalam pelestarian hewan dan tanaman liar di sekitar areal tersebut. Hampir tidak terdengar pejabat bidang pertanian membahas hubungan amat penting lingkungan hidup dan makanan berkualitas. Yang ada adalah meningkatkan buah atau biji sebanyak N ton per tahun sebagai produktifnya pertanian. Mereka tidak memperhatikan keragaman biota pada tanah, kualitas air dan partisipasi perempuan yang memproduksi lebih dari 50% pangan di Indonesia bahkan di seluruh dunia secara langsung di lapangan yang harus dihargai usahanya. Perempuan yang paling banyak berperan dalam mengolah pupuk organic.

Lembaga yang dominan sekarang ini, selain bersifat reduksionis, juga amat menekankan kalkulasi yang dingin seperti mesin sehingga menyingkirkan intuisi dan perasaan yang mana keduanya berperan dalam pembentukan hal berkualitas dan menilai kondisi lingkungan untuk menyusun keputusan yang harus diambil. Tidak semuanya dapat disempitkan (direduksi) dengan angka saja. Akibatnya ilmu pengetahuan cenderung bersifat kaku dan keras.

 Hal ini menyebabkan ilmu pengetahuan sering digunakan untuk hal hal yang bersifat merusak. Tatanan yang ada mengutamakan fakta dan data saja, tidak mau mengakui bahwa intuisi dan perasaan itu  untuk memahami alam dan mahluk hidup yang ada di dalamnya sehingga membuat manusia lebih terkoneksi. Lalu akan timbul rasa mencintai dan berusaha untuk melestarikan dan memulihkannya. Intuisi itu penting dalam menyelidiki masalah lingkungan dan menyerukan kepada khalayak umum untuk peka dengannya.

Kemudian, persaingan yang menjadi narasi ekonomi hari ini dengan tujuan mendapatkan keuntungan sebesar besarnya untuk akumulasi kekayaan yang dijadikan modal untuk ekspansi menimbulkan kerusakan pada iklim seperti pemanasan global, polusi lautan seperti plastik dan tumpahan minyak mentah, pembalakan hutan, pengerukan gunung dan bukit yang mengeringkan mata air , dan membuat beragam mahluk hidup akan tinggal sejarah saja untuk generasi berikutnya.  Persaingan yang dipandang baik untuk kemajuan lebih banyak kerusakannya dan bahkan menjadi pangkal dari kekerasan dalam bentuk perang dan produksi senjata di abad ke 21.

Di alam itu kerja sama lebih banyak daripada persaingan. Sebagai contoh manusia itu hidup karena semua organnya bekerja sama , tidak bersaing satu sama lain dan semuanya penting. Di alam juga serupa seperti ribuan cacing tanah yang bersama sama menggemburkan tanah  yang kemudian mejadi kaya unsur hara untuk dapat ditanami nanas. Tanaman ini, bekerja sama dengan air yang berfungsi melarutkan nutrisi agar dicerna dan berfotosinesis, iklim yang hangat juga penyerbuk seperti serangga dan burung untuk dapat menghasilkan buah yang kita makan atau diolah jadi minuman dan manisan serta daunnya jadi bahan kerajinan.

Dari sini terlihat bagaimana kooperasi itu yang amat penting dalam menghasilkan buah nanas di alam daripada persaingan. Persepsi bahwa persaingan itu yang membuat manusia berkembang harus diganti dengan mengutamakan kerja sama antar dengan elemen biotik dan abiotic yang menjadikan manusia mampu mempertahankan eksistensinya di alam ini. Kerja samalah yang memelihara sumber air dan makanan serta kejernihan udara.

 Tanah sebagai Dasar Kehidupan

Gagasan ekofeminisme Vandana Shiva dipengaruhi oleh budaya di negeri asalnya yang menganggap bahwa tanah itu sebagai ibu yang mana kehidupan muncul darinya. Apa yang kita makan, pakai, dirikan untuk tinggal dan minum berasal dari tanah dan menopang kehidupan kita. Karena itu di berbagai budaya, tanah dianggap ibu bumi yang sakral.

Tanah adalah dasar dari ekosistem. Kualitas tanah menentukan kualitas tanaman yang tumbuh dan ketersediaan air karena merupakan jadi penampungnya. Dua hal ini yang menghidupi hewan dan manusia. Tanah dianggap sebagai bagian dari jiwa komunitas bukan sekedar faktor produksi untuk dieksploitasi. Maka tanah adalah kondisi untuk kehidupan regenerasi alam dan masyrakat. Mempertahankan integritas masyarakat melibatkan pelestarian kesehatan tanah.

 Bumi bukan punya manusia, tapi manusia kepunyaannya bumi. Semua kehidupan di bumi ini terkoneksi. Manusia tidak merancang jaring-jaring kehidupan bumi. Dia adalah bagian dari jaring jaring tersebut. Manusia adalah tamu di bumi sehingga harus berlaku baik padanya(6).

Saat ini pembangunan di negara berkembang seringkali memisahkan masyarakat dengan tanah. Ditujukan untuk pertumbuhan ekonomi dan laba oleh korporasi, mereka tersingkir dari situ. Hal ironis dari fenomena ini adalah penghuni asli yang menetap selama lebih dari tiga generasi dianggap sebagai pendatang gelap semetara korporasi yang baru saja masuk ke wilayah itu mengklaim dirinya pemilik lahan yang sah.

Ketika ikatan antara tanah dan masyarakat ini tercerabut, muncul berbagai masalah sosial. Masyarakat petani yang tergusur dari tanahnya menuju ke kota karena desakan bertahan hidup. Muncullah kawasan kumuh karena penghasilannya begitu rendah dan nyaris tidak memiliki kemampuan untuk bekerja di sector formal. Oleh karenanya, pemerintah harus mendorong kembali penghuni kawasan kumuh itu kepada pertanian skala kecil di desanya dengan infrastruktur dasar air, listrik dan pengolahan limbah supaya hidup layak di situ.

Sumber:

  1. https://www.britannica.com/topic/ecofeminism Diakses tanggal 8 Maret 2021
  2. Mies, Maria and Shiva, Vandana. Ecofeminism. 2014. New York. Zed   Books. Foreword.
  3. Mies, Maria and Shiva, Vandana. Ecofeminism. 2014. New York. Zed  Books. Preface.
  4. https://www.fastcompany.com/90463417/in-our-dystopian-future-farmers-will-use-these-artificial-pollination-machines-to-replace-bees.. Diakses Tanggal 8 Maret 2021
  5. Mies, Maria and Shiva, Vandana. Ecofeminism. 2014. New York. Zed  Books. Chapter 2 Reductionism and Regeneration: A Crisis In Science
  6. Mies, Maria and Shiva, Vandana. Ecofeminism. 2014. New York. Zed  Books. Chapter 7 Homeless in Global Village
Tags: ekofeminismefeminismePerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Timezone dalam Pameran Seni Rupa di Ubud

Next Post

Menemukan Cinta, Merasakan Patah Hati, dan Menangisi Kematian

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Menemukan Cinta, Merasakan Patah Hati, dan Menangisi Kematian

Menemukan Cinta, Merasakan Patah Hati, dan Menangisi Kematian

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co