24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harga | Cerpen Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
March 6, 2021
in Cerpen
Harga | Cerpen Geg Ary Suharsani

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Ayo, pesan apa saja. Bebas.”

“Aku yang bayar.”

“Pilih yang enak-enak.”

‘Hei, Mer, jangan bengong!”

***

Made Gebi membuatku gelagapan. Dia menyodorkan daftar menu. Wangi tubuhnya menyapa hidungku.  Wangi manis nan  lembut. Aku belum pernah mencium wangi seperti ini.

“Jeg, masih bengong.“ Made Gebi menegur. Kini dia menepuk menu yang dia sodorkan. Menu itu sebenarnya sudah kubuka dari tadi. Tapi, ya, begitulah. Daftar menu kubuka tapi pikiran tidak di sana. Melayang jauh. Mencuri pandang pada jemari lentik Made Gebi. Kukunya yang panjang meruncing bercat pastel dengan corak bunga kecil-kecil. Sungguh serasi.

Kulitnya. Oh, aku sampai malu menyandingkan tanganku di sebelah tangan Made Gebi . Tangan yang telungkup di atas daftar menu itu begitu bening. Rangkaian saluran darah yang kebiruan menonjol dengan genitnya. Pelan-pelan tanganku yang kerut keriput cenderung kering, merosot ke bawah meja. Kusembunyikan di antara pahaku yang berdempetan satu sama lain.

“Sini aku bantu pilih. Sepuluh tahun sing ketemu. Jangan pilih es teh,” ujarnya cepat, saat menyadari arah tatapan mataku. Ternyata, aku menatap tulisan ice tea sedari tadi.

Cepat-cepat aku mencegah Made Gebi merebut daftar menu dari tanganku. Dia tersenyum. Bibirnya pink berkilau. Seperti ada kerlip permen fox  di sana. Refleks kuraba bibir. Ah, untungnya masih lembab, tidak ada kulit kering yang mengelupas. Kulirik cermin yang menjadi dinding ruangan ini. Lega, bibir ini tidak pucat-pucat amat. Meski tak ada kilau permen di sana. Tadi pagi ku poles lipstik matte.  Namun, sedetik kemudian pantulan tubuh kami di cermin itu menyadarkanku, kenapa tidak mengenakan pakaian terbaik hari ini. Segera kubuang pandangan dari cermin.

“Cepet juga kamu sampai sini, Mer.”

“Ya, gampanglah nyari tempat ini.”

Sejak kapan aku jadi sombong. Batinku. Aku jarang ke Kuta. Seumur-umur hidup di Bali, belum lebih dari lima kali aku ke Kuta. Apalagi ke tempat ini. Belum pernah. Tapi karena terlanjur menantang Made Gebi untuk bertemu, melalui percakapan di media sosial, aku setuju untuk ketemuan.

“Kita ketemuan di tempat paling hip di Kuta. Mai na’e!”  Made Gebi  memberi gambar senyum lebar pada tulisannya. Tak lama dia mengirimkan pesan melalui pesan pribadi. Lokasi bertemu nanti.

“Mai, na’e!” sahutku, sambil memberikan tanda jempol berderet-deret.

Lagi pula aku memang penasaran untuk bertemu langsung dengannya. Dia teman di Sekolah Menengah Pertama. Foto-foto di akun media sosialnya sungguh membuatku iri. Wajahnya makin lama makin muda dan glowing. Tirus dengan hidung mancung yang proporsional. Aku curiga itu hanya tipuan kamera jahanam. Palingan jika ketemu, tidak jauh beda dengan Made Gebi yang dulu: kulitnya coklat kusam, wajah bintik jerawat dan selera berpakaian yang parah.

Selama berhari-hari perkiraanku ini menemani dan masih bercokol hingga hari yang kami tetapkan. Aku sangat yakin, Made Gebi tidak sekeren yang ada di foto. Namun alamat yang dia berikan ternyata membawaku ke sebuah restoran mewah penuh bule. Aku mulai ragu.

Balon perkiraan itu meletus, pecahannya berpencar ke segala arah,  saat Made Gebi menyambutku di tempat parkir. Terbata aku meletakkan helm, melepaskan jaket, merapikan rambut, di bawah tatapan Made Gebi yang masih sangat aku kenal, namun dalam balutan sosok yang sungguh berbeda. Sosok Made Gebi kini benar-benar seperti yang ada di akun media sosialnya. No filter!

“I Koncreng, mana nih?” Aku celingukan, menatap ke arah pintu masuk, sambil membenahi posisi duduk. Koncreng, salah satu teman SMP yang ikut komentar ingin ketemuan. Nama sebenarnya Anggari.

“Aruh, palingan dia gak datang. Cuma asal komen, aja.” Santai Made Gebi mengibaskan tangannya. Kali ini rambutnya yang dark brown dengan sedikit warna pirang di beberapa bagian ikut terkibas. Rambutnya dulu mengembang kemerahan dan selalu dikepang dua. Sedangkan aku masih setia dengan tampilan lama. Sedari dulu hanya hitam lurus sepinggang, palingan dipotong untuk menghilangkan rambut bercabang. Penampilan yang dulu membuatku  jauh lebih menarik dari Made Gebi.

Seorang wanita muda berpakaian putih hitam hadir di meja kami. Dia membawa dua piring putih besar. Makanan disajikan di meja. Itu steak. Aku memandang Made Gebi, diam-diam dia sudah memesan makanan.

“Kamu kelamaan milih.” Dia nyengir. Sorot matanya, gerak bibirnya, benar-benar masih Made Gebi kawan SMP-ku. Membuatku masih merasa akrab dan merasa nyaman untuk tetap melanjutkan percakapan.

“Semuanya enak-enak. Sampai bingung milih.” Aku memberikan alasan. Mulai keceplosan, padahal mati-matian aku mencoba untuk tidak memuji.

“Ini tempat kesukaanku. Semuanya memang enak. Cocok harga dengan rasanya,” terang Made Gebi sambil mengangsurkan piring steak ke hadapanku. Steak itu hadir dalam wujud daging tebal yang segar dengan lumuran bumbu berwarna coklat dilengkapi merica hitam. Asap tipis masih mengepul di atas daging.

“Coba steak-nya. Nanti boleh nyoba lagi yang lain.” Made Gebi berkata seolah steak ukuran besar ini tetap akan membuatku kelaparan. Aku hanya tertawa sambil mengambil pisau steak. Mengiris daging tebal perlahan, melumuri dengan saos, kemudian memasukkan ke mulutku. Steak itu menyentuh lidahku. Aku mulai mengunyah. Dan … mih, sungguh berbeda dengan steak yang pernah aku makan. Benar-benar lembut, gurih, segar,  dan hangat. Belum pernah kumakan yang seperti ini.

“Enak banget ini. Sering makan di sini sama keluarga, Geb?” Akhirnya aku memuji. Steak ini membuatku jujur.

“Nggak juga, sih.”

“Terus sama siapa biasanya?”

“Tergantung, bisa sama temen, seperti sekarang, bisa juga sendiri.”

“Wih, sendiri makan di sini, nggak merasa sayang,  makan enak sendirian? Hehehe ….” Aku terkekeh.

“Ah, biasa aja. Lama-lama biasa.” Made Gebi berujar pelan, sambil melempar pandangannya ke pot bunga, menghindari tatapanku.

“Suamimu sibuk, ya?”

“Steve, nggak sibuk. Tapi sibuk banget! Sekarang di Jakarta, besok di Kalimantan, tiga hari kemudian di Singapura. Aku bahkan udah lupa gimana rasanya dipeluk dia. Hahahaha ….” Made Gebi tergelak. Sepintas seperti menertawai diri sendiri. Aku memilih berkata o yang panjang.

“Anak-anak, di mana?” Dasar, mulut ini tidak bisa diam.

“Di kampungnya Steve. Study di sana, supaya tetap gaul sama orang-orang bule.” Made Gebi mencomot kentang dari piring putih di hadapannya.

“Keren.” Aku bergumam. Terbayang dua anakku yang sekolah di kampung. Teringat dulu Made Gebi begitu kampungan. Heran juga, kenapa Steve mau menjadikannya istri.

“Hehehe … keren, ya, Mer? Kadang aku merasa aneh. Orang-orang merasa ini keren. Keren dimananya, ya? Tapi aku terima aja, deh dibilang keren … hahaha ….” Tawa Made Gebi kembali berderai. Kali ini aku ikut tertawa. Lebih karena aku bingung melihat dia yang bingung.

“Semuanya ada harganya, Mer. Steak yang kamu makan tadi. Ada harga ada rasa. Menu yang lain,  cobain deh. Harganya sebanding dengan rasanya.”

“Kamu bilang aku keren, keren juga ada harganya. Sing ade ane cuma-cuma.” Kali ini dia menyandarkan tubuhnya. Sinar lampu restoran ini membuat tubuhnya makin berkilau.

“Steve, jarang banget di rumah. Palingan di rumah hanya setengah hari. Habis itu pergi. Sibuk ngurus usaha yang ada di mana-mana.” Kali ini Made Gebi mengalihkan pandangan ke sekelompok bule di seberang meja kami.

“Yang penting kartu ATM dan kartu kredit selalu ready. Nggak masalah sendirian kemana-mana. Aku ke salon, perawatan wajah dan badan. Menicure pedicure. Aku juga harus menghargai diriku sendiri.” Made Gebi bicara sambil menatap lurus ke arahku. Aku jengah, memilih untuk menunduk sambil mengaduk minumanku.

Tiba-tiba Made Gebi melambaikan tangan. Seorang laki-laki muda datang mendekat. Dia sama wanginya dengan teman lamaku ini. Wangi yang begitu maskulin.

Made Gebi berdiri, menyambut laki-laki itu. Mereka duduk bersebelahan, tangan laki-laki itu masih memeluk mesra pinggang kawan lamaku ini.

Mataku sepertinya tak mampu menyembunyikan rasa penasaran.

“Kesepian juga ada harganya.” Made Gebi mengerling.

Aku menunduk, melanjutkan mengiris steak yang sudah dingin. Sembari mengira-ngira seberapa dalam kesepian Made Gebi. [T]

  • Denpasar, Maret 2021

____

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Next Post

Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co