12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harga | Cerpen Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
March 6, 2021
in Cerpen
Harga | Cerpen Geg Ary Suharsani

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Ayo, pesan apa saja. Bebas.”

“Aku yang bayar.”

“Pilih yang enak-enak.”

‘Hei, Mer, jangan bengong!”

***

Made Gebi membuatku gelagapan. Dia menyodorkan daftar menu. Wangi tubuhnya menyapa hidungku.  Wangi manis nan  lembut. Aku belum pernah mencium wangi seperti ini.

“Jeg, masih bengong.“ Made Gebi menegur. Kini dia menepuk menu yang dia sodorkan. Menu itu sebenarnya sudah kubuka dari tadi. Tapi, ya, begitulah. Daftar menu kubuka tapi pikiran tidak di sana. Melayang jauh. Mencuri pandang pada jemari lentik Made Gebi. Kukunya yang panjang meruncing bercat pastel dengan corak bunga kecil-kecil. Sungguh serasi.

Kulitnya. Oh, aku sampai malu menyandingkan tanganku di sebelah tangan Made Gebi . Tangan yang telungkup di atas daftar menu itu begitu bening. Rangkaian saluran darah yang kebiruan menonjol dengan genitnya. Pelan-pelan tanganku yang kerut keriput cenderung kering, merosot ke bawah meja. Kusembunyikan di antara pahaku yang berdempetan satu sama lain.

“Sini aku bantu pilih. Sepuluh tahun sing ketemu. Jangan pilih es teh,” ujarnya cepat, saat menyadari arah tatapan mataku. Ternyata, aku menatap tulisan ice tea sedari tadi.

Cepat-cepat aku mencegah Made Gebi merebut daftar menu dari tanganku. Dia tersenyum. Bibirnya pink berkilau. Seperti ada kerlip permen fox  di sana. Refleks kuraba bibir. Ah, untungnya masih lembab, tidak ada kulit kering yang mengelupas. Kulirik cermin yang menjadi dinding ruangan ini. Lega, bibir ini tidak pucat-pucat amat. Meski tak ada kilau permen di sana. Tadi pagi ku poles lipstik matte.  Namun, sedetik kemudian pantulan tubuh kami di cermin itu menyadarkanku, kenapa tidak mengenakan pakaian terbaik hari ini. Segera kubuang pandangan dari cermin.

“Cepet juga kamu sampai sini, Mer.”

“Ya, gampanglah nyari tempat ini.”

Sejak kapan aku jadi sombong. Batinku. Aku jarang ke Kuta. Seumur-umur hidup di Bali, belum lebih dari lima kali aku ke Kuta. Apalagi ke tempat ini. Belum pernah. Tapi karena terlanjur menantang Made Gebi untuk bertemu, melalui percakapan di media sosial, aku setuju untuk ketemuan.

“Kita ketemuan di tempat paling hip di Kuta. Mai na’e!”  Made Gebi  memberi gambar senyum lebar pada tulisannya. Tak lama dia mengirimkan pesan melalui pesan pribadi. Lokasi bertemu nanti.

“Mai, na’e!” sahutku, sambil memberikan tanda jempol berderet-deret.

Lagi pula aku memang penasaran untuk bertemu langsung dengannya. Dia teman di Sekolah Menengah Pertama. Foto-foto di akun media sosialnya sungguh membuatku iri. Wajahnya makin lama makin muda dan glowing. Tirus dengan hidung mancung yang proporsional. Aku curiga itu hanya tipuan kamera jahanam. Palingan jika ketemu, tidak jauh beda dengan Made Gebi yang dulu: kulitnya coklat kusam, wajah bintik jerawat dan selera berpakaian yang parah.

Selama berhari-hari perkiraanku ini menemani dan masih bercokol hingga hari yang kami tetapkan. Aku sangat yakin, Made Gebi tidak sekeren yang ada di foto. Namun alamat yang dia berikan ternyata membawaku ke sebuah restoran mewah penuh bule. Aku mulai ragu.

Balon perkiraan itu meletus, pecahannya berpencar ke segala arah,  saat Made Gebi menyambutku di tempat parkir. Terbata aku meletakkan helm, melepaskan jaket, merapikan rambut, di bawah tatapan Made Gebi yang masih sangat aku kenal, namun dalam balutan sosok yang sungguh berbeda. Sosok Made Gebi kini benar-benar seperti yang ada di akun media sosialnya. No filter!

“I Koncreng, mana nih?” Aku celingukan, menatap ke arah pintu masuk, sambil membenahi posisi duduk. Koncreng, salah satu teman SMP yang ikut komentar ingin ketemuan. Nama sebenarnya Anggari.

“Aruh, palingan dia gak datang. Cuma asal komen, aja.” Santai Made Gebi mengibaskan tangannya. Kali ini rambutnya yang dark brown dengan sedikit warna pirang di beberapa bagian ikut terkibas. Rambutnya dulu mengembang kemerahan dan selalu dikepang dua. Sedangkan aku masih setia dengan tampilan lama. Sedari dulu hanya hitam lurus sepinggang, palingan dipotong untuk menghilangkan rambut bercabang. Penampilan yang dulu membuatku  jauh lebih menarik dari Made Gebi.

Seorang wanita muda berpakaian putih hitam hadir di meja kami. Dia membawa dua piring putih besar. Makanan disajikan di meja. Itu steak. Aku memandang Made Gebi, diam-diam dia sudah memesan makanan.

“Kamu kelamaan milih.” Dia nyengir. Sorot matanya, gerak bibirnya, benar-benar masih Made Gebi kawan SMP-ku. Membuatku masih merasa akrab dan merasa nyaman untuk tetap melanjutkan percakapan.

“Semuanya enak-enak. Sampai bingung milih.” Aku memberikan alasan. Mulai keceplosan, padahal mati-matian aku mencoba untuk tidak memuji.

“Ini tempat kesukaanku. Semuanya memang enak. Cocok harga dengan rasanya,” terang Made Gebi sambil mengangsurkan piring steak ke hadapanku. Steak itu hadir dalam wujud daging tebal yang segar dengan lumuran bumbu berwarna coklat dilengkapi merica hitam. Asap tipis masih mengepul di atas daging.

“Coba steak-nya. Nanti boleh nyoba lagi yang lain.” Made Gebi berkata seolah steak ukuran besar ini tetap akan membuatku kelaparan. Aku hanya tertawa sambil mengambil pisau steak. Mengiris daging tebal perlahan, melumuri dengan saos, kemudian memasukkan ke mulutku. Steak itu menyentuh lidahku. Aku mulai mengunyah. Dan … mih, sungguh berbeda dengan steak yang pernah aku makan. Benar-benar lembut, gurih, segar,  dan hangat. Belum pernah kumakan yang seperti ini.

“Enak banget ini. Sering makan di sini sama keluarga, Geb?” Akhirnya aku memuji. Steak ini membuatku jujur.

“Nggak juga, sih.”

“Terus sama siapa biasanya?”

“Tergantung, bisa sama temen, seperti sekarang, bisa juga sendiri.”

“Wih, sendiri makan di sini, nggak merasa sayang,  makan enak sendirian? Hehehe ….” Aku terkekeh.

“Ah, biasa aja. Lama-lama biasa.” Made Gebi berujar pelan, sambil melempar pandangannya ke pot bunga, menghindari tatapanku.

“Suamimu sibuk, ya?”

“Steve, nggak sibuk. Tapi sibuk banget! Sekarang di Jakarta, besok di Kalimantan, tiga hari kemudian di Singapura. Aku bahkan udah lupa gimana rasanya dipeluk dia. Hahahaha ….” Made Gebi tergelak. Sepintas seperti menertawai diri sendiri. Aku memilih berkata o yang panjang.

“Anak-anak, di mana?” Dasar, mulut ini tidak bisa diam.

“Di kampungnya Steve. Study di sana, supaya tetap gaul sama orang-orang bule.” Made Gebi mencomot kentang dari piring putih di hadapannya.

“Keren.” Aku bergumam. Terbayang dua anakku yang sekolah di kampung. Teringat dulu Made Gebi begitu kampungan. Heran juga, kenapa Steve mau menjadikannya istri.

“Hehehe … keren, ya, Mer? Kadang aku merasa aneh. Orang-orang merasa ini keren. Keren dimananya, ya? Tapi aku terima aja, deh dibilang keren … hahaha ….” Tawa Made Gebi kembali berderai. Kali ini aku ikut tertawa. Lebih karena aku bingung melihat dia yang bingung.

“Semuanya ada harganya, Mer. Steak yang kamu makan tadi. Ada harga ada rasa. Menu yang lain,  cobain deh. Harganya sebanding dengan rasanya.”

“Kamu bilang aku keren, keren juga ada harganya. Sing ade ane cuma-cuma.” Kali ini dia menyandarkan tubuhnya. Sinar lampu restoran ini membuat tubuhnya makin berkilau.

“Steve, jarang banget di rumah. Palingan di rumah hanya setengah hari. Habis itu pergi. Sibuk ngurus usaha yang ada di mana-mana.” Kali ini Made Gebi mengalihkan pandangan ke sekelompok bule di seberang meja kami.

“Yang penting kartu ATM dan kartu kredit selalu ready. Nggak masalah sendirian kemana-mana. Aku ke salon, perawatan wajah dan badan. Menicure pedicure. Aku juga harus menghargai diriku sendiri.” Made Gebi bicara sambil menatap lurus ke arahku. Aku jengah, memilih untuk menunduk sambil mengaduk minumanku.

Tiba-tiba Made Gebi melambaikan tangan. Seorang laki-laki muda datang mendekat. Dia sama wanginya dengan teman lamaku ini. Wangi yang begitu maskulin.

Made Gebi berdiri, menyambut laki-laki itu. Mereka duduk bersebelahan, tangan laki-laki itu masih memeluk mesra pinggang kawan lamaku ini.

Mataku sepertinya tak mampu menyembunyikan rasa penasaran.

“Kesepian juga ada harganya.” Made Gebi mengerling.

Aku menunduk, melanjutkan mengiris steak yang sudah dingin. Sembari mengira-ngira seberapa dalam kesepian Made Gebi. [T]

  • Denpasar, Maret 2021

____

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Next Post

Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co