2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harga | Cerpen Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
March 6, 2021
in Cerpen
Harga | Cerpen Geg Ary Suharsani

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Ayo, pesan apa saja. Bebas.”

“Aku yang bayar.”

“Pilih yang enak-enak.”

‘Hei, Mer, jangan bengong!”

***

Made Gebi membuatku gelagapan. Dia menyodorkan daftar menu. Wangi tubuhnya menyapa hidungku.  Wangi manis nan  lembut. Aku belum pernah mencium wangi seperti ini.

“Jeg, masih bengong.“ Made Gebi menegur. Kini dia menepuk menu yang dia sodorkan. Menu itu sebenarnya sudah kubuka dari tadi. Tapi, ya, begitulah. Daftar menu kubuka tapi pikiran tidak di sana. Melayang jauh. Mencuri pandang pada jemari lentik Made Gebi. Kukunya yang panjang meruncing bercat pastel dengan corak bunga kecil-kecil. Sungguh serasi.

Kulitnya. Oh, aku sampai malu menyandingkan tanganku di sebelah tangan Made Gebi . Tangan yang telungkup di atas daftar menu itu begitu bening. Rangkaian saluran darah yang kebiruan menonjol dengan genitnya. Pelan-pelan tanganku yang kerut keriput cenderung kering, merosot ke bawah meja. Kusembunyikan di antara pahaku yang berdempetan satu sama lain.

“Sini aku bantu pilih. Sepuluh tahun sing ketemu. Jangan pilih es teh,” ujarnya cepat, saat menyadari arah tatapan mataku. Ternyata, aku menatap tulisan ice tea sedari tadi.

Cepat-cepat aku mencegah Made Gebi merebut daftar menu dari tanganku. Dia tersenyum. Bibirnya pink berkilau. Seperti ada kerlip permen fox  di sana. Refleks kuraba bibir. Ah, untungnya masih lembab, tidak ada kulit kering yang mengelupas. Kulirik cermin yang menjadi dinding ruangan ini. Lega, bibir ini tidak pucat-pucat amat. Meski tak ada kilau permen di sana. Tadi pagi ku poles lipstik matte.  Namun, sedetik kemudian pantulan tubuh kami di cermin itu menyadarkanku, kenapa tidak mengenakan pakaian terbaik hari ini. Segera kubuang pandangan dari cermin.

“Cepet juga kamu sampai sini, Mer.”

“Ya, gampanglah nyari tempat ini.”

Sejak kapan aku jadi sombong. Batinku. Aku jarang ke Kuta. Seumur-umur hidup di Bali, belum lebih dari lima kali aku ke Kuta. Apalagi ke tempat ini. Belum pernah. Tapi karena terlanjur menantang Made Gebi untuk bertemu, melalui percakapan di media sosial, aku setuju untuk ketemuan.

“Kita ketemuan di tempat paling hip di Kuta. Mai na’e!”  Made Gebi  memberi gambar senyum lebar pada tulisannya. Tak lama dia mengirimkan pesan melalui pesan pribadi. Lokasi bertemu nanti.

“Mai, na’e!” sahutku, sambil memberikan tanda jempol berderet-deret.

Lagi pula aku memang penasaran untuk bertemu langsung dengannya. Dia teman di Sekolah Menengah Pertama. Foto-foto di akun media sosialnya sungguh membuatku iri. Wajahnya makin lama makin muda dan glowing. Tirus dengan hidung mancung yang proporsional. Aku curiga itu hanya tipuan kamera jahanam. Palingan jika ketemu, tidak jauh beda dengan Made Gebi yang dulu: kulitnya coklat kusam, wajah bintik jerawat dan selera berpakaian yang parah.

Selama berhari-hari perkiraanku ini menemani dan masih bercokol hingga hari yang kami tetapkan. Aku sangat yakin, Made Gebi tidak sekeren yang ada di foto. Namun alamat yang dia berikan ternyata membawaku ke sebuah restoran mewah penuh bule. Aku mulai ragu.

Balon perkiraan itu meletus, pecahannya berpencar ke segala arah,  saat Made Gebi menyambutku di tempat parkir. Terbata aku meletakkan helm, melepaskan jaket, merapikan rambut, di bawah tatapan Made Gebi yang masih sangat aku kenal, namun dalam balutan sosok yang sungguh berbeda. Sosok Made Gebi kini benar-benar seperti yang ada di akun media sosialnya. No filter!

“I Koncreng, mana nih?” Aku celingukan, menatap ke arah pintu masuk, sambil membenahi posisi duduk. Koncreng, salah satu teman SMP yang ikut komentar ingin ketemuan. Nama sebenarnya Anggari.

“Aruh, palingan dia gak datang. Cuma asal komen, aja.” Santai Made Gebi mengibaskan tangannya. Kali ini rambutnya yang dark brown dengan sedikit warna pirang di beberapa bagian ikut terkibas. Rambutnya dulu mengembang kemerahan dan selalu dikepang dua. Sedangkan aku masih setia dengan tampilan lama. Sedari dulu hanya hitam lurus sepinggang, palingan dipotong untuk menghilangkan rambut bercabang. Penampilan yang dulu membuatku  jauh lebih menarik dari Made Gebi.

Seorang wanita muda berpakaian putih hitam hadir di meja kami. Dia membawa dua piring putih besar. Makanan disajikan di meja. Itu steak. Aku memandang Made Gebi, diam-diam dia sudah memesan makanan.

“Kamu kelamaan milih.” Dia nyengir. Sorot matanya, gerak bibirnya, benar-benar masih Made Gebi kawan SMP-ku. Membuatku masih merasa akrab dan merasa nyaman untuk tetap melanjutkan percakapan.

“Semuanya enak-enak. Sampai bingung milih.” Aku memberikan alasan. Mulai keceplosan, padahal mati-matian aku mencoba untuk tidak memuji.

“Ini tempat kesukaanku. Semuanya memang enak. Cocok harga dengan rasanya,” terang Made Gebi sambil mengangsurkan piring steak ke hadapanku. Steak itu hadir dalam wujud daging tebal yang segar dengan lumuran bumbu berwarna coklat dilengkapi merica hitam. Asap tipis masih mengepul di atas daging.

“Coba steak-nya. Nanti boleh nyoba lagi yang lain.” Made Gebi berkata seolah steak ukuran besar ini tetap akan membuatku kelaparan. Aku hanya tertawa sambil mengambil pisau steak. Mengiris daging tebal perlahan, melumuri dengan saos, kemudian memasukkan ke mulutku. Steak itu menyentuh lidahku. Aku mulai mengunyah. Dan … mih, sungguh berbeda dengan steak yang pernah aku makan. Benar-benar lembut, gurih, segar,  dan hangat. Belum pernah kumakan yang seperti ini.

“Enak banget ini. Sering makan di sini sama keluarga, Geb?” Akhirnya aku memuji. Steak ini membuatku jujur.

“Nggak juga, sih.”

“Terus sama siapa biasanya?”

“Tergantung, bisa sama temen, seperti sekarang, bisa juga sendiri.”

“Wih, sendiri makan di sini, nggak merasa sayang,  makan enak sendirian? Hehehe ….” Aku terkekeh.

“Ah, biasa aja. Lama-lama biasa.” Made Gebi berujar pelan, sambil melempar pandangannya ke pot bunga, menghindari tatapanku.

“Suamimu sibuk, ya?”

“Steve, nggak sibuk. Tapi sibuk banget! Sekarang di Jakarta, besok di Kalimantan, tiga hari kemudian di Singapura. Aku bahkan udah lupa gimana rasanya dipeluk dia. Hahahaha ….” Made Gebi tergelak. Sepintas seperti menertawai diri sendiri. Aku memilih berkata o yang panjang.

“Anak-anak, di mana?” Dasar, mulut ini tidak bisa diam.

“Di kampungnya Steve. Study di sana, supaya tetap gaul sama orang-orang bule.” Made Gebi mencomot kentang dari piring putih di hadapannya.

“Keren.” Aku bergumam. Terbayang dua anakku yang sekolah di kampung. Teringat dulu Made Gebi begitu kampungan. Heran juga, kenapa Steve mau menjadikannya istri.

“Hehehe … keren, ya, Mer? Kadang aku merasa aneh. Orang-orang merasa ini keren. Keren dimananya, ya? Tapi aku terima aja, deh dibilang keren … hahaha ….” Tawa Made Gebi kembali berderai. Kali ini aku ikut tertawa. Lebih karena aku bingung melihat dia yang bingung.

“Semuanya ada harganya, Mer. Steak yang kamu makan tadi. Ada harga ada rasa. Menu yang lain,  cobain deh. Harganya sebanding dengan rasanya.”

“Kamu bilang aku keren, keren juga ada harganya. Sing ade ane cuma-cuma.” Kali ini dia menyandarkan tubuhnya. Sinar lampu restoran ini membuat tubuhnya makin berkilau.

“Steve, jarang banget di rumah. Palingan di rumah hanya setengah hari. Habis itu pergi. Sibuk ngurus usaha yang ada di mana-mana.” Kali ini Made Gebi mengalihkan pandangan ke sekelompok bule di seberang meja kami.

“Yang penting kartu ATM dan kartu kredit selalu ready. Nggak masalah sendirian kemana-mana. Aku ke salon, perawatan wajah dan badan. Menicure pedicure. Aku juga harus menghargai diriku sendiri.” Made Gebi bicara sambil menatap lurus ke arahku. Aku jengah, memilih untuk menunduk sambil mengaduk minumanku.

Tiba-tiba Made Gebi melambaikan tangan. Seorang laki-laki muda datang mendekat. Dia sama wanginya dengan teman lamaku ini. Wangi yang begitu maskulin.

Made Gebi berdiri, menyambut laki-laki itu. Mereka duduk bersebelahan, tangan laki-laki itu masih memeluk mesra pinggang kawan lamaku ini.

Mataku sepertinya tak mampu menyembunyikan rasa penasaran.

“Kesepian juga ada harganya.” Made Gebi mengerling.

Aku menunduk, melanjutkan mengiris steak yang sudah dingin. Sembari mengira-ngira seberapa dalam kesepian Made Gebi. [T]

  • Denpasar, Maret 2021

____

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Next Post

Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co