27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bli Parta, Berumah di Batas Hutan Les & Siakin | Makin Modern, Makin Hening

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
February 6, 2021
in Khas
Bli Parta, Berumah di Batas Hutan Les & Siakin | Makin Modern, Makin Hening

Bli Parta

Di antara Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, dan Desa Siakin, Kintamani, Bangli, terdapat gugusan hutan hijau yang asri. Di tengah hutan itu, hiduplah Ketut Partama atau biasa dipanggil Bli Parta, warga Desa Les, bersama istri dan seorang anak.

Hutan tempat tinggal Bli Parta sebenarnya masih masuk dalam wilayah Desa Les, tepatnya Banjar Buhu. Tapi jarak dari rumahnya ke Desa Les, dan jarak rumahnya ke Desa Siakin, hampir sama, sekitar 5 kilometer. Ia sering jalan kaki ke Les, maupun ke Siakin, untuk urusan-urusan tertentu.

Tak banyak yang tahu kenapa ia memilih tinggal dan berumah di wilayah yang dikurung hutan, terpencil, dan tak punya tetangga. Ia sendiri dengan sederhana mengatakan, “Hidup di tengah hening, sederhana, bahagia, bisa hemat. Hasil kerja selalu mesari?” katanya.

Mesari yang dimaksud adalah hasil kerjanya selalu tersisa, tak habis begitu saja, dan ia bisa menabung. “Ya, karena tidak ada dagang, tidak berbelanja, sehingga dapat banyak menyimpan hasil (uang),” celetuknya sambil tertawa.

Mungkin kata-katanya itu guyon saja. Tapi jika dipikir-pikir, benar juga. Hidup di hutan, di tengah sepi, jauh dari dagang, maka pengeluaran untuk memenuhi keinginan-keinginan yang sesungguhnya tak diperlukan akan bisa dihindari.

Saya bertemu Bli Parta saat melakukan tracking dari Desa Les, melewati beberapa bukit dan menuruni setidaknya dua lembah. Saya bertemu dia ketika dia baru datang dari hutan untuk mencari rumput dan dedaunan. Saya kemudian duduk berdua di tengah kebun yang sebagian besar berisi rumput.

Obrolan pagi dalam suasana musim hujan ditemani kopi itu mengalir seperti angin hutan yang sejuk dan kadang menghentak.

Romantis. Ada sisi romantis dari kehidupan keluarga kecil ini. Romantis? Karena tak ada tetangga dekat. Untuk menemukan tetangga di wilayah yang lebih rendah, ia butuh waktu 30 menit jalan kaki.

Puitis. Bisa saja kondisi itu disebut puitis. Tak ada yang seindah dan semerdu suara burung di sekitar rumah itu. Seisi penghuni hutan bersenandung di pagi hari.

Humoris. Ada juga yang humoris. Ada “teman” yang biasa datang setiap hari tanpa permisi, dan terkadang agak jail, mengambil barang dan makanan di dalam rumah. “Teman” itu adalah monyet. Itu hiburan tersendiri. Beberapa kawanan monyet penghuni hutan perbatasan itu memang monyet apa adanya, sungguh tak bisa disandingkan dengan monyet di tempat wisata semisal areal monkey forest.

Karena monyet itulah Bli Parta tak bisa berkebun. Kebun itu selalu saja rusak dipakai areal bermain para monyet, atau kalau tanaman kebun itu ada buahnya, maka buah itu pastilah dihabiskan oleh monyet.

Bli Parta mengalah. Ia tak berkebun, dan hanya menanam rumput untuk makanan sapi. Ia beternak kecil-kecilan. Untuk bisa dapat penghasilan lebih banyak demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia lebih sering menjadi buruh bangunan, di wilayah Tejakula, maupun di wilayah Kintamani.

Tis. Bli Parta kerap mengucapkan kata “Tis” jika ditanya soal hidup di hutan perbatasan. Dalam bahasa Bali tis berarti adem. “Dijamin adem kalau tinggal di sini,” katanya.

Tentu saja adem, apalagi pada masa pandemi ini. Hidup cukup di tempat yang jauh dari keramaian dan kerumunan tentu saja sesuatu yang amat adem.

Tas. Apa itu tas? Bli Parta menyebut, jika hari-hari sudah panas, kebutuhan banyak, penghasil terus berkurang, maka akan terjadi “tas pindo” atau tas dua kali. Apa itu. Tastas. Dalam bahasa lokal artinya hancur berkeping-keping.

Penulis dan Bli Parta

Bli Parta umurnya kini 53 tahun dan ia tinggal di hutan itu sejak 1989. Kondisi hutan pada tahun 1989 dan sebelumnya, masih sangat bagus.. Masuk tahun 1990-an sudah banyak terjadi penebangan liar. Kayu bakar biasanya dipaki untuk memasak, atau dijual-belikan.

Hubungan  sosial dengan penduduk Desa Les dengan penduduk di atasnya, yakni di Desa Siakin setiap hari layaknya saudara. Ketika ada hari raya tertentu, beberapa teman Bli Parta membawakan pisang, daun pisang dan sebaliknya Bli Parta memberikan kelapa dan  janur .

Hubungan kemanusian terkait suka duka lara pati juga sangat erat, tak jarang bahkan sangat sering ketika ada teman di Siakin sakit atau meninggal, ia pasti hadir untuk menengok atau menyampaikan belasungkawa

Rasa syukur selalu dirasakan ketika dulu Bli Parta setiap hari ke siakin untuk mencari bambu untuk digunakan sebagai tiang penunjang pohon jeruk, atau untuk membuat bedeg (dinding bambu).

Di sebelah rumah Bli Parta terdapat jalan setapak yang dulu sering digunakan oleh warga Les menuju ke Siakin atau sebaliknya. Namun sepuluh tahun terakhir ini jalan setapak itu sudah jadi semak dan jarang dilalui masyarakat. Penyebabnya karena di tempat lain sudah dibangun jalan lebih bagus untuk menghubungkan dua desa itu. Jalan itu bisa dilalui  sepeda motor.

Jalan modern yang dibuat bagus di tempat lain itu kini ramai. Namun Bli Parta makin tenggelam dalam keheningan, tetap berteman kera dan dihibur suara burung dan kesiur angin dari hutan. [T]

Tags: bulelengDesa LesDesa SiakinhutanKintamani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Fiksi pada Manisan, Kado dan Elang | Bedah 3 Buku di Kulidan

Next Post

Cara Indah Sastrawan Bali Modern Mengantar Alit Juliartha Menuju Rumah Puisi Abadi | In Memoriam

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails
Next Post
Cara Indah Sastrawan Bali Modern Mengantar Alit Juliartha Menuju Rumah Puisi Abadi | In Memoriam

Cara Indah Sastrawan Bali Modern Mengantar Alit Juliartha Menuju Rumah Puisi Abadi | In Memoriam

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co