2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semua Akan Ilegal Pada Waktunya | Cerita Dagang Lalapan Unik di Malam PSBB

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
January 28, 2021
in Khas
Semua Akan Ilegal Pada Waktunya | Cerita Dagang Lalapan Unik di Malam PSBB

Pedagang lalapan di balik pagar yang buka tapi tertutup

Di masa krisis ini ketegangan seolah hal biasa. Ini karena dua keadaan yang kita hadapi setiap hari. Yakni, menghadapi jam normal dan menikuti jam pembatasan kegiatan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengurangi penyebaran Covid-19.

Segala bentuk kegiatan apapun termasuk berdagang, jadi susah mengatur jam buka dan tutup usaha, juga susah mengatur pendapatan dan pengeluaran.

Saya memiliki kisah menarik. Ini terjadi di Denpasar, di mana masyarakatnya dihimbau untuk membatasi kegiatan mereka ketika jam telah menunjukan pukul 8 malam.  Yang artinya tanpa kecuali siapapun dan entah apapun itu usaha mereka tetap harus menutup guna mengurangi terjadinya kontak fisik dan menimbulkan keramaian.

Saya ingin menceritakan pengalaman yang sangat unik, lucu sekaligus menegangkan. Yang membuat saya berpikir ulang, sampai sejauh inikah persoalan kehidupan kita belakangan ini?

Saya sebagai orang pendatang di kota besar pastinya sangat bergantung dengan pedagang-pedagang malam semisal dagang nasi jinggo, lalapan, atau pedagang apapun yang masih meladeni hingga malam guna mengisi kebutuhan saya untuk makan.

Tetapi bagaimana nasib mereka hari ini?

Rabu tanggal 28 Januari 2021, pada malam hari sekitar puku 20.11 WITA saya sedang berada di kediaman teman saya. Yang kebetulan dia adalah salah satu mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Udayana.

Malam tiba, dan sebagai seorang mahasiswa yang apa adanya di musim panceklik ini pastinya ia harus memperhitungkan bekal yang terus menipis.   Dia memilih memasak nasi di kediamannya. Sol lauk-pauk, kami sepakati untuk mencarinya di luar.

Karena terlalu asyik mengobrol tentang impian dan cita-cita hingga lupa waktu., malam pun larut. Dan kami tersadar oleh masalah yang hari ini terjadi, bahwa ada himbauan soal pembatasan sosial bersekala besar atau yang akrab kita dengar dengan sebutan PSBB.

Lalu kami sepakat untuk beranjak dan membeli sekiranya yang patut dijadikan teman untuk sepiring nasi hangat, kami memilih membeli lalapan ayam goreng. Kami berusaha mengejar waktu dengan harapan masih ada pedagang yang masih buka.

Saat sampai di jalan raya, suasana kota masihlah ramai mungkin karena orang-orang baru menyelesaikan urusan mereka dan ingin kembali pulang. Tapi tak ditemukan pedagnag yang buka. Para pedagang, mereka sudah sibuk menutup dagangannya dan merapikan segala barang mereka.

Kami harap-harap cemas tidak menemukan pedagang lagi. Kami berkeliling, hingga akhirnya bertemu dengan sebuah warung lalapan yang unik.

Uniknya? Pedagang itu membuka dagangannya dengan konsep tertutup. Mereka memiliki sistem yang saya rasa pikir mereka buat secara spontan khusus di musim PSBB ini.

Jika dilihat dari depan, tidak ada terlihat aktivitas jual beli di warung itu.  Yang ada hanya seorang bapak-bapak yang berdiri di depan gerbang. Gerbang itu kurang lebih tingginya satu setengah meter. Dari atas celah pagar terlihat kepala rombong dan poster lalapan menempel pada dinding.

Saya pikir dagang itu sudah tutup. Tapi kemudian saya tahu ternyata dagang itu buka.

Kenapa saya bisa melihat dan berpikir bahwa bapak itu masih berjualan? Karena ketika saya melewatinya saya mendengar bapak itu berkata kepada seseorang di balik pagar, “Paha satu, dada satu, terong dan dua nasi.” Artinya, ya, itu menu yang dijual.

Di depan gerbng, terdpt seorang bapak sedang bersama seorang remaja berbaju putih dengan masih menggunakan helm. Bapak itu adalah bagian dari pedagang lalapan, dan bertugas untuk mengatur pembeli. Dan remaja itu tentu saja seorang pembeli.

Ketika saya memberhentikan sepeda motor, bapak itu mengangkat tangan dan memperlihatkan telapak tangannya. Apa artinya? Apakah dagangan sudah habis atau bagaimana? Eh, ternyata saya diberi tanda untuk menunggu, dan belum boleh mendekat.

Bapak itu kemudian meminta remaja pemebli itu untuk menunggu pesanannya. Bukan menunggu di tempat jualan, tidak tanggung-tanggung tempat untuk menunggunya ternyata jauh dari tempat berjualan. Yakni di seberang jalan yang sekiranya berjarak 15-20 meter dari gerbang tempat bapak itu berjualan.

Bapak itu kemudian memanggil saya dan menanyakan ingin memesan apa. Saya mengutarakan apa yang hendak saya beli. Setelah menyampaikan pesanan,  saya pun senasib dengan pembeli sebelumnya, yakni menunggu di tempat yang jauh.

Bahkan nasib saya bisa dikatakan lebih kurang beruntung karena tempat saya menunggu ternyata lebih jauh dan harus menyesuaikan dengan petunjuk bapak itu.  “Tunggu di sana ya, ntar kalau sudah saya panggil.” Kata bapak itu sambil menunjuk satu tempat.

Kami mengangguk, dan menyebrang jalan. Setelah itu saya saling tatap dengan teman saya dan membicarakan bahwa ini adalah kejadian yang unik. Saya seperti terlempar ke suasana seorang pemuda yang sedang membeli barang haram, entah itu narkoba atau barang lainnya, yang tidak sepatutnya kami konsumsi. Padahal kami hanya ingin membeli makan.

Setelah tertawa kecil saya mulai mengamati gerak-gerik tubuh bapak tersebut, dia terlihat panik menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang memperhatikan sesuatu yang bahaya akan datang. Padahal dia hanya pedagang lalapan, tetapi laku tubuhnya seperti sedang menjual sumber dosa yang membahayakan banyak orang.

Setelah sekitar 10 menit berlalu, bapak itu memanggil pemuda pembeli pertama dan karena saya anggap kejadian ini bakal langka saya mempunyai ide untuk mengambil foto. Beberapa bungkusan berwadah kresek saya lihat menyembul dari atas pagar. Remaja itu lantas mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, lalu mengambil kresek dari tangan bapak itu.  Transaksi dilakukan di atas pagar.

Beberapa menit kemudian saya dipanggil. Mungkin karena takut dilihat oleh orang lain saya disuruh masuk oleh bapak itu. Saya menunggu di balik pagar. Lalu saya masuk ke balik pagar dan melihat kegiatan di dalamnya.

Di dalamnya ada seorang ibu-ibu dan satu orang pemuda yang tengah sibuk memasak dan menyiapkan pesanan demi pesanan. Tangan mereka bergerak dengan tempo yang sangat cepat, seolah mereka sudah hapal oleh ruang dan segala benda yang ada di sana. Ibu-ibu tersebut terlihat tengah menyiapkan kertas minyak, dan membungkus sambel dengan pelastik kecil.  Pemuda satunya tengah sibuk menggoreng dengan api yang sangat besar.

Rombong dagangan itu terlihat ditutupi dengan spanduk lalapan yang sama seperti yang ada di dinding belakang rombong. Spanduk yang satunya menyelimuti rombong seolah-olah terlihat bahwa dagangan itu sudah tutup dan sudah taka da lagi aktivitas berjualan.

Saya bertanya, “Buk, kenapa kok jualannya kayak gini?”

Ibu itu menjawab, “Mau gimana lagi, Dik? Mau tidak mau saya harus berani melanggar, bayangkan kami baru buka jam setengah tujuh malam dan disuruh tutup jam delapan. Artinya saya cuman disuruh nongkrong aja di dagangan?”

Saya tertawa kecil kepada ibu tersebut sambil tersenyum dan dia pun membalasnya dengan senyuman kecil pula.

 Tak terasa terlalu lama saya memerhatikan gerak tubuh mereka ternyata pesanan saya sadah siap, lalu saya menanyakan harganya dan kemudian membayarnya dengan uang pas. Tak lupa saya berucap terimakasih kepada ibu itu, sontak ibu itu bekata “Alhamdulillah akhirnya pembeli ke empat.”

Di jalan saya memikirkan bagaimana mereka menghalalkan segala cara sekiranya untuk kebutuhan mereka, pun demikian dengan saya yang mencoba merasa optimis untuk mencari pedagang yang masih buka setelah lewat dari jam yang sudah ditentukan oleh himbauan. Setidaknya kami sama-sama melanggar untuk keberlangsungan kami dan sama-sama menguntungkan.

Toh selama kami tetap menjaga jarak dan menggunakan protokol kesehatan saya kira ini halal di lakukan, demi menjaga kewarasan satu sama lain. Melanggar kadang perlu jika untuk kebaikan kan? Lagipula jika dikatakan melanggar kami tidak terlalu melanggar, hanya lewat beberapa menit dari peraturan jam pembatasan.

Bagaimana dengan misalnya keterlambatan yang selama bertahun-tahun belum juga terselesaikan oleh pemerintah misalnya kasus HAM pada Tragedi 98 atau kasus Munir? Tapi ya sudahlah saya takut terlalu ngalur ngidul bercerita.

Maka sebaiknya saya akhiri saja, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan secara fisik, pikiran dan hati. Hehehe salam. [T]

Tags: covid 19pandemipecel lelepedagang lalapanPSBB
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Keindahan dan Kehancuran | Wacana Lingkungan Alam dalam Puisi Indonesia Modern Karya Penyair di Bali Periode 1970-an Hingga 2010-an

Next Post

Suntikan Periode Kedua

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Suntikan Periode Kedua

Suntikan Periode Kedua

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co