2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semua Akan Ilegal Pada Waktunya | Cerita Dagang Lalapan Unik di Malam PSBB

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
January 28, 2021
in Khas
Semua Akan Ilegal Pada Waktunya | Cerita Dagang Lalapan Unik di Malam PSBB

Pedagang lalapan di balik pagar yang buka tapi tertutup

Di masa krisis ini ketegangan seolah hal biasa. Ini karena dua keadaan yang kita hadapi setiap hari. Yakni, menghadapi jam normal dan menikuti jam pembatasan kegiatan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengurangi penyebaran Covid-19.

Segala bentuk kegiatan apapun termasuk berdagang, jadi susah mengatur jam buka dan tutup usaha, juga susah mengatur pendapatan dan pengeluaran.

Saya memiliki kisah menarik. Ini terjadi di Denpasar, di mana masyarakatnya dihimbau untuk membatasi kegiatan mereka ketika jam telah menunjukan pukul 8 malam.  Yang artinya tanpa kecuali siapapun dan entah apapun itu usaha mereka tetap harus menutup guna mengurangi terjadinya kontak fisik dan menimbulkan keramaian.

Saya ingin menceritakan pengalaman yang sangat unik, lucu sekaligus menegangkan. Yang membuat saya berpikir ulang, sampai sejauh inikah persoalan kehidupan kita belakangan ini?

Saya sebagai orang pendatang di kota besar pastinya sangat bergantung dengan pedagang-pedagang malam semisal dagang nasi jinggo, lalapan, atau pedagang apapun yang masih meladeni hingga malam guna mengisi kebutuhan saya untuk makan.

Tetapi bagaimana nasib mereka hari ini?

Rabu tanggal 28 Januari 2021, pada malam hari sekitar puku 20.11 WITA saya sedang berada di kediaman teman saya. Yang kebetulan dia adalah salah satu mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Udayana.

Malam tiba, dan sebagai seorang mahasiswa yang apa adanya di musim panceklik ini pastinya ia harus memperhitungkan bekal yang terus menipis.   Dia memilih memasak nasi di kediamannya. Sol lauk-pauk, kami sepakati untuk mencarinya di luar.

Karena terlalu asyik mengobrol tentang impian dan cita-cita hingga lupa waktu., malam pun larut. Dan kami tersadar oleh masalah yang hari ini terjadi, bahwa ada himbauan soal pembatasan sosial bersekala besar atau yang akrab kita dengar dengan sebutan PSBB.

Lalu kami sepakat untuk beranjak dan membeli sekiranya yang patut dijadikan teman untuk sepiring nasi hangat, kami memilih membeli lalapan ayam goreng. Kami berusaha mengejar waktu dengan harapan masih ada pedagang yang masih buka.

Saat sampai di jalan raya, suasana kota masihlah ramai mungkin karena orang-orang baru menyelesaikan urusan mereka dan ingin kembali pulang. Tapi tak ditemukan pedagnag yang buka. Para pedagang, mereka sudah sibuk menutup dagangannya dan merapikan segala barang mereka.

Kami harap-harap cemas tidak menemukan pedagang lagi. Kami berkeliling, hingga akhirnya bertemu dengan sebuah warung lalapan yang unik.

Uniknya? Pedagang itu membuka dagangannya dengan konsep tertutup. Mereka memiliki sistem yang saya rasa pikir mereka buat secara spontan khusus di musim PSBB ini.

Jika dilihat dari depan, tidak ada terlihat aktivitas jual beli di warung itu.  Yang ada hanya seorang bapak-bapak yang berdiri di depan gerbang. Gerbang itu kurang lebih tingginya satu setengah meter. Dari atas celah pagar terlihat kepala rombong dan poster lalapan menempel pada dinding.

Saya pikir dagang itu sudah tutup. Tapi kemudian saya tahu ternyata dagang itu buka.

Kenapa saya bisa melihat dan berpikir bahwa bapak itu masih berjualan? Karena ketika saya melewatinya saya mendengar bapak itu berkata kepada seseorang di balik pagar, “Paha satu, dada satu, terong dan dua nasi.” Artinya, ya, itu menu yang dijual.

Di depan gerbng, terdpt seorang bapak sedang bersama seorang remaja berbaju putih dengan masih menggunakan helm. Bapak itu adalah bagian dari pedagang lalapan, dan bertugas untuk mengatur pembeli. Dan remaja itu tentu saja seorang pembeli.

Ketika saya memberhentikan sepeda motor, bapak itu mengangkat tangan dan memperlihatkan telapak tangannya. Apa artinya? Apakah dagangan sudah habis atau bagaimana? Eh, ternyata saya diberi tanda untuk menunggu, dan belum boleh mendekat.

Bapak itu kemudian meminta remaja pemebli itu untuk menunggu pesanannya. Bukan menunggu di tempat jualan, tidak tanggung-tanggung tempat untuk menunggunya ternyata jauh dari tempat berjualan. Yakni di seberang jalan yang sekiranya berjarak 15-20 meter dari gerbang tempat bapak itu berjualan.

Bapak itu kemudian memanggil saya dan menanyakan ingin memesan apa. Saya mengutarakan apa yang hendak saya beli. Setelah menyampaikan pesanan,  saya pun senasib dengan pembeli sebelumnya, yakni menunggu di tempat yang jauh.

Bahkan nasib saya bisa dikatakan lebih kurang beruntung karena tempat saya menunggu ternyata lebih jauh dan harus menyesuaikan dengan petunjuk bapak itu.  “Tunggu di sana ya, ntar kalau sudah saya panggil.” Kata bapak itu sambil menunjuk satu tempat.

Kami mengangguk, dan menyebrang jalan. Setelah itu saya saling tatap dengan teman saya dan membicarakan bahwa ini adalah kejadian yang unik. Saya seperti terlempar ke suasana seorang pemuda yang sedang membeli barang haram, entah itu narkoba atau barang lainnya, yang tidak sepatutnya kami konsumsi. Padahal kami hanya ingin membeli makan.

Setelah tertawa kecil saya mulai mengamati gerak-gerik tubuh bapak tersebut, dia terlihat panik menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang memperhatikan sesuatu yang bahaya akan datang. Padahal dia hanya pedagang lalapan, tetapi laku tubuhnya seperti sedang menjual sumber dosa yang membahayakan banyak orang.

Setelah sekitar 10 menit berlalu, bapak itu memanggil pemuda pembeli pertama dan karena saya anggap kejadian ini bakal langka saya mempunyai ide untuk mengambil foto. Beberapa bungkusan berwadah kresek saya lihat menyembul dari atas pagar. Remaja itu lantas mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, lalu mengambil kresek dari tangan bapak itu.  Transaksi dilakukan di atas pagar.

Beberapa menit kemudian saya dipanggil. Mungkin karena takut dilihat oleh orang lain saya disuruh masuk oleh bapak itu. Saya menunggu di balik pagar. Lalu saya masuk ke balik pagar dan melihat kegiatan di dalamnya.

Di dalamnya ada seorang ibu-ibu dan satu orang pemuda yang tengah sibuk memasak dan menyiapkan pesanan demi pesanan. Tangan mereka bergerak dengan tempo yang sangat cepat, seolah mereka sudah hapal oleh ruang dan segala benda yang ada di sana. Ibu-ibu tersebut terlihat tengah menyiapkan kertas minyak, dan membungkus sambel dengan pelastik kecil.  Pemuda satunya tengah sibuk menggoreng dengan api yang sangat besar.

Rombong dagangan itu terlihat ditutupi dengan spanduk lalapan yang sama seperti yang ada di dinding belakang rombong. Spanduk yang satunya menyelimuti rombong seolah-olah terlihat bahwa dagangan itu sudah tutup dan sudah taka da lagi aktivitas berjualan.

Saya bertanya, “Buk, kenapa kok jualannya kayak gini?”

Ibu itu menjawab, “Mau gimana lagi, Dik? Mau tidak mau saya harus berani melanggar, bayangkan kami baru buka jam setengah tujuh malam dan disuruh tutup jam delapan. Artinya saya cuman disuruh nongkrong aja di dagangan?”

Saya tertawa kecil kepada ibu tersebut sambil tersenyum dan dia pun membalasnya dengan senyuman kecil pula.

 Tak terasa terlalu lama saya memerhatikan gerak tubuh mereka ternyata pesanan saya sadah siap, lalu saya menanyakan harganya dan kemudian membayarnya dengan uang pas. Tak lupa saya berucap terimakasih kepada ibu itu, sontak ibu itu bekata “Alhamdulillah akhirnya pembeli ke empat.”

Di jalan saya memikirkan bagaimana mereka menghalalkan segala cara sekiranya untuk kebutuhan mereka, pun demikian dengan saya yang mencoba merasa optimis untuk mencari pedagang yang masih buka setelah lewat dari jam yang sudah ditentukan oleh himbauan. Setidaknya kami sama-sama melanggar untuk keberlangsungan kami dan sama-sama menguntungkan.

Toh selama kami tetap menjaga jarak dan menggunakan protokol kesehatan saya kira ini halal di lakukan, demi menjaga kewarasan satu sama lain. Melanggar kadang perlu jika untuk kebaikan kan? Lagipula jika dikatakan melanggar kami tidak terlalu melanggar, hanya lewat beberapa menit dari peraturan jam pembatasan.

Bagaimana dengan misalnya keterlambatan yang selama bertahun-tahun belum juga terselesaikan oleh pemerintah misalnya kasus HAM pada Tragedi 98 atau kasus Munir? Tapi ya sudahlah saya takut terlalu ngalur ngidul bercerita.

Maka sebaiknya saya akhiri saja, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan secara fisik, pikiran dan hati. Hehehe salam. [T]

Tags: covid 19pandemipecel lelepedagang lalapanPSBB
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Keindahan dan Kehancuran | Wacana Lingkungan Alam dalam Puisi Indonesia Modern Karya Penyair di Bali Periode 1970-an Hingga 2010-an

Next Post

Suntikan Periode Kedua

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Suntikan Periode Kedua

Suntikan Periode Kedua

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co