23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semua Akan Ilegal Pada Waktunya | Cerita Dagang Lalapan Unik di Malam PSBB

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
January 28, 2021
in Khas
Semua Akan Ilegal Pada Waktunya | Cerita Dagang Lalapan Unik di Malam PSBB

Pedagang lalapan di balik pagar yang buka tapi tertutup

Di masa krisis ini ketegangan seolah hal biasa. Ini karena dua keadaan yang kita hadapi setiap hari. Yakni, menghadapi jam normal dan menikuti jam pembatasan kegiatan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengurangi penyebaran Covid-19.

Segala bentuk kegiatan apapun termasuk berdagang, jadi susah mengatur jam buka dan tutup usaha, juga susah mengatur pendapatan dan pengeluaran.

Saya memiliki kisah menarik. Ini terjadi di Denpasar, di mana masyarakatnya dihimbau untuk membatasi kegiatan mereka ketika jam telah menunjukan pukul 8 malam.  Yang artinya tanpa kecuali siapapun dan entah apapun itu usaha mereka tetap harus menutup guna mengurangi terjadinya kontak fisik dan menimbulkan keramaian.

Saya ingin menceritakan pengalaman yang sangat unik, lucu sekaligus menegangkan. Yang membuat saya berpikir ulang, sampai sejauh inikah persoalan kehidupan kita belakangan ini?

Saya sebagai orang pendatang di kota besar pastinya sangat bergantung dengan pedagang-pedagang malam semisal dagang nasi jinggo, lalapan, atau pedagang apapun yang masih meladeni hingga malam guna mengisi kebutuhan saya untuk makan.

Tetapi bagaimana nasib mereka hari ini?

Rabu tanggal 28 Januari 2021, pada malam hari sekitar puku 20.11 WITA saya sedang berada di kediaman teman saya. Yang kebetulan dia adalah salah satu mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Udayana.

Malam tiba, dan sebagai seorang mahasiswa yang apa adanya di musim panceklik ini pastinya ia harus memperhitungkan bekal yang terus menipis.   Dia memilih memasak nasi di kediamannya. Sol lauk-pauk, kami sepakati untuk mencarinya di luar.

Karena terlalu asyik mengobrol tentang impian dan cita-cita hingga lupa waktu., malam pun larut. Dan kami tersadar oleh masalah yang hari ini terjadi, bahwa ada himbauan soal pembatasan sosial bersekala besar atau yang akrab kita dengar dengan sebutan PSBB.

Lalu kami sepakat untuk beranjak dan membeli sekiranya yang patut dijadikan teman untuk sepiring nasi hangat, kami memilih membeli lalapan ayam goreng. Kami berusaha mengejar waktu dengan harapan masih ada pedagang yang masih buka.

Saat sampai di jalan raya, suasana kota masihlah ramai mungkin karena orang-orang baru menyelesaikan urusan mereka dan ingin kembali pulang. Tapi tak ditemukan pedagnag yang buka. Para pedagang, mereka sudah sibuk menutup dagangannya dan merapikan segala barang mereka.

Kami harap-harap cemas tidak menemukan pedagang lagi. Kami berkeliling, hingga akhirnya bertemu dengan sebuah warung lalapan yang unik.

Uniknya? Pedagang itu membuka dagangannya dengan konsep tertutup. Mereka memiliki sistem yang saya rasa pikir mereka buat secara spontan khusus di musim PSBB ini.

Jika dilihat dari depan, tidak ada terlihat aktivitas jual beli di warung itu.  Yang ada hanya seorang bapak-bapak yang berdiri di depan gerbang. Gerbang itu kurang lebih tingginya satu setengah meter. Dari atas celah pagar terlihat kepala rombong dan poster lalapan menempel pada dinding.

Saya pikir dagang itu sudah tutup. Tapi kemudian saya tahu ternyata dagang itu buka.

Kenapa saya bisa melihat dan berpikir bahwa bapak itu masih berjualan? Karena ketika saya melewatinya saya mendengar bapak itu berkata kepada seseorang di balik pagar, “Paha satu, dada satu, terong dan dua nasi.” Artinya, ya, itu menu yang dijual.

Di depan gerbng, terdpt seorang bapak sedang bersama seorang remaja berbaju putih dengan masih menggunakan helm. Bapak itu adalah bagian dari pedagang lalapan, dan bertugas untuk mengatur pembeli. Dan remaja itu tentu saja seorang pembeli.

Ketika saya memberhentikan sepeda motor, bapak itu mengangkat tangan dan memperlihatkan telapak tangannya. Apa artinya? Apakah dagangan sudah habis atau bagaimana? Eh, ternyata saya diberi tanda untuk menunggu, dan belum boleh mendekat.

Bapak itu kemudian meminta remaja pemebli itu untuk menunggu pesanannya. Bukan menunggu di tempat jualan, tidak tanggung-tanggung tempat untuk menunggunya ternyata jauh dari tempat berjualan. Yakni di seberang jalan yang sekiranya berjarak 15-20 meter dari gerbang tempat bapak itu berjualan.

Bapak itu kemudian memanggil saya dan menanyakan ingin memesan apa. Saya mengutarakan apa yang hendak saya beli. Setelah menyampaikan pesanan,  saya pun senasib dengan pembeli sebelumnya, yakni menunggu di tempat yang jauh.

Bahkan nasib saya bisa dikatakan lebih kurang beruntung karena tempat saya menunggu ternyata lebih jauh dan harus menyesuaikan dengan petunjuk bapak itu.  “Tunggu di sana ya, ntar kalau sudah saya panggil.” Kata bapak itu sambil menunjuk satu tempat.

Kami mengangguk, dan menyebrang jalan. Setelah itu saya saling tatap dengan teman saya dan membicarakan bahwa ini adalah kejadian yang unik. Saya seperti terlempar ke suasana seorang pemuda yang sedang membeli barang haram, entah itu narkoba atau barang lainnya, yang tidak sepatutnya kami konsumsi. Padahal kami hanya ingin membeli makan.

Setelah tertawa kecil saya mulai mengamati gerak-gerik tubuh bapak tersebut, dia terlihat panik menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang memperhatikan sesuatu yang bahaya akan datang. Padahal dia hanya pedagang lalapan, tetapi laku tubuhnya seperti sedang menjual sumber dosa yang membahayakan banyak orang.

Setelah sekitar 10 menit berlalu, bapak itu memanggil pemuda pembeli pertama dan karena saya anggap kejadian ini bakal langka saya mempunyai ide untuk mengambil foto. Beberapa bungkusan berwadah kresek saya lihat menyembul dari atas pagar. Remaja itu lantas mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, lalu mengambil kresek dari tangan bapak itu.  Transaksi dilakukan di atas pagar.

Beberapa menit kemudian saya dipanggil. Mungkin karena takut dilihat oleh orang lain saya disuruh masuk oleh bapak itu. Saya menunggu di balik pagar. Lalu saya masuk ke balik pagar dan melihat kegiatan di dalamnya.

Di dalamnya ada seorang ibu-ibu dan satu orang pemuda yang tengah sibuk memasak dan menyiapkan pesanan demi pesanan. Tangan mereka bergerak dengan tempo yang sangat cepat, seolah mereka sudah hapal oleh ruang dan segala benda yang ada di sana. Ibu-ibu tersebut terlihat tengah menyiapkan kertas minyak, dan membungkus sambel dengan pelastik kecil.  Pemuda satunya tengah sibuk menggoreng dengan api yang sangat besar.

Rombong dagangan itu terlihat ditutupi dengan spanduk lalapan yang sama seperti yang ada di dinding belakang rombong. Spanduk yang satunya menyelimuti rombong seolah-olah terlihat bahwa dagangan itu sudah tutup dan sudah taka da lagi aktivitas berjualan.

Saya bertanya, “Buk, kenapa kok jualannya kayak gini?”

Ibu itu menjawab, “Mau gimana lagi, Dik? Mau tidak mau saya harus berani melanggar, bayangkan kami baru buka jam setengah tujuh malam dan disuruh tutup jam delapan. Artinya saya cuman disuruh nongkrong aja di dagangan?”

Saya tertawa kecil kepada ibu tersebut sambil tersenyum dan dia pun membalasnya dengan senyuman kecil pula.

 Tak terasa terlalu lama saya memerhatikan gerak tubuh mereka ternyata pesanan saya sadah siap, lalu saya menanyakan harganya dan kemudian membayarnya dengan uang pas. Tak lupa saya berucap terimakasih kepada ibu itu, sontak ibu itu bekata “Alhamdulillah akhirnya pembeli ke empat.”

Di jalan saya memikirkan bagaimana mereka menghalalkan segala cara sekiranya untuk kebutuhan mereka, pun demikian dengan saya yang mencoba merasa optimis untuk mencari pedagang yang masih buka setelah lewat dari jam yang sudah ditentukan oleh himbauan. Setidaknya kami sama-sama melanggar untuk keberlangsungan kami dan sama-sama menguntungkan.

Toh selama kami tetap menjaga jarak dan menggunakan protokol kesehatan saya kira ini halal di lakukan, demi menjaga kewarasan satu sama lain. Melanggar kadang perlu jika untuk kebaikan kan? Lagipula jika dikatakan melanggar kami tidak terlalu melanggar, hanya lewat beberapa menit dari peraturan jam pembatasan.

Bagaimana dengan misalnya keterlambatan yang selama bertahun-tahun belum juga terselesaikan oleh pemerintah misalnya kasus HAM pada Tragedi 98 atau kasus Munir? Tapi ya sudahlah saya takut terlalu ngalur ngidul bercerita.

Maka sebaiknya saya akhiri saja, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan secara fisik, pikiran dan hati. Hehehe salam. [T]

Tags: covid 19pandemipecel lelepedagang lalapanPSBB
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Keindahan dan Kehancuran | Wacana Lingkungan Alam dalam Puisi Indonesia Modern Karya Penyair di Bali Periode 1970-an Hingga 2010-an

Next Post

Suntikan Periode Kedua

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Suntikan Periode Kedua

Suntikan Periode Kedua

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co