10 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sosok Alm. Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta M.A || Pembuka URW Media Tahun 2021

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
January 13, 2021
in Khas
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra || Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Jumat, 8 Januari 2020, pagi, di pusat Ubud cuaca tampak tak bersahabat. Hujan deras mengguyur desa itu sejak sehari sebelumnya. Walau demikian, aktivitas penghuni seperti tak terganggu. Pasar Umum Ubud tetap padat oleh pengunjung yang berdesakan. Maklum saja, esok hari merupakan Hari Tumpek Wayang dan beberapa titik di Ubud akan berlangsung upacara adat keagamaan. Itu sebabnya, pedagang bunga dan buah-buahan diserbu oleh ibu-Ibu rumah tangga sejak subuh.

Pukul 09:00 WITA pagi itu, Saya bersiap untuk berkunjung ke Puri Mertasari Ubud, kurang lebih 90 meter ke arah utara dari rumah Saya bersama dengan Tjokorda Agung dan Gus Oka.

Sejak seminggu sebelumnya kami bertiga bersepakat untuk mendatangi Puri Mertasari, tempat kediamaan Alm. Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta, M.A (Prof. Tjok Sudharta) dalam rangka mapekeling (mohon ijin dan restu) sembari melakukan persembahyangan di Pemrajan demi lancarnya acara perdana “Rembug Sastra” Ubud Royal Weekend Media (URW Media) di Tahun 2021 dengan tema “Kerthabhasa dan Kerthagama: Kelana Pemikiran Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta, M.A dalam Bahasa dan Agama”.

Di bawah hujan, kami berjalan kaki menuju Puri Mertasari dan disambut hangat oleh Tjokorda Gde (keponakan Almarhum) serta Tjokorda Putra (Putra Almarhum). Dengan suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan, kami duduk di Gedong Daje serta saling berdiskusi diselingi tawa canda satu sama lainnya sembari menunggu saatnya hujan reda.

Tepat di tembok sebelah saya duduk, terpangpang foto Prof. Tjok Sudharta dan juga foto kakak serta dua adik Beliau. Prof Tjok Sudharta merupakan putra kedua dari empat bersaudara. Kakak Beliau adalah Tjokorda Raka Dherana yang juga cukup dikenal sebagai pakar hukum adat Bali pada jamannya. Tjokorda Raka Dherana bahkan sempat menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana dan Bupati Gianyar Periode 1983-1993.

Rasanya tak banyak yang tau, dalam Lontar Palelintih Puri Ubud milik Tjokorda Gde Ngoerah yang tersimpan di Puri Agung Pesaren Kauh, keempat bersaudara ini disebutkan dengan nama-nama yang unik seperti yang dijelaskan dibawah ini:

………maliḥ harin hidā cokordā gde rakā/ ring puri śaren kangin baloddan/ maparab hidā cokordā gde nguraḥ/ māputrā hiddā ptang siki lanang lanang/ sane piniḥ duwūr/ maparab hidā cokordā rakā botor/ harine māparab hiddā cokordā rahi huṇdis// harine maparab hidā cokordā rakā komak// sane piniḥ halit/ maparab hidā cokorddā hokā kcahi/ mabyang prĕgusṭi saking taman hubud//……

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa ayah Prof.Tjok Sudharta terlahir di Puri Agung Pesaren Kangin Delodan sebelum akhirnya menetap dan mendirikan Puri Mertasari Ubud bersama istrinya yang berasal dari Taman Ubud. Tanpa bermaksud yang bukan-bukan, tampaknya sebutan nama “Botor, Hundis, Komak, Kcahi” tersebut lebih kepada nama “sayang” sewaktu kecil yang memudahkan para penglingsir untuk memanggil dan mengingatnya.

Ada pula beberapa pandangan para tetua yang menyatakan bahwa konon dahulu nama lengkap lebih baik disembunyikan, agar terlihat lebih “pingit”. Walau demikian, yang pasti tanpa disangka satu diantara keempat anak tersebut kelak berhasil menjadi “Professor” pertama Puri Ubud, menduduki Parlemen Senayan selama 20 tahun serta menghasilkan beberapa Karya Buku di bidang Agama dan Sastra.

Kembali di Puri Mertasari tampak hujan mulai mereda dan selanjutnya Kami pun berbegas menuju plataran Pemrajan. Di Jaba Sisi, tampak sebuah tugu dengan dua patung (lanang dan istri) turut menyapa kehadiran Kami. Oleh keluarga setempat, Pelinggih tersebut dipercaya sebagai penyawangan Ida Ratu Gede. Gus Oka lantas menghaturkan bhakti pejati.

Sambil menunggu, saya pun kembali bercerita bersama putra almarhum tentang keseharian Prof. Sudharta sewaktu di Jakarta maupun setelah pulang kembali ke Bali. Sesekali pandangan Saya tertuju pada Kain berwarna putih dan kuning yang bergulung membungkus sebuah Kotak di Bale Pengaruman.

Merasa penasaran, saya pun tak canggung menanyakan kepada Putra Almarhum perihal Kotak berwarna Putih Kuning tersebut. Olehnya dijelaskan bahwa didalamnya tersimpan beberapa “Lontar” tetamian (peninggalan) Almarhum. Sayapun memohon lebih lanjut untuk dapat melihat isi didalamnya selepas usai melakukan persembahyangan. Gus Oka memberikan aba-aba untuk Kami dapat segera melalukan persembahyangan meski hujan tetap enggan berhenti sempurna.

Berselang 15 menit kemudian, kami segera berdiri bersama untuk melihat serta membuka bungkusan kain putih dan kuning tersebut. Dalam hati saya merasa bersyukur karena pagi itu Saya ditemani Gus Oka yang merupakan Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Gianyar. Setidaknya, Beliau mampu menjelaskan kepada Kami tentang apa isi lontar tersebut. Dari pengamatan Kami pagi itu, Almarhum meninggalkan 12 cakep lontar Bali.

Secara fisik, lontar tersebut masih dalam kondisi yang sangat baik. Lebih Lanjut Gus Oka tidak melakukan pengecekan dengan detail pada seluruh lontar. Namun satu yang pasti, dari sekian Lontar tersebut terdapat satu lontar salinan “druwen fakultas sastra udayana” dan satu lontar salinan “druwen Gdong Kirtya”.

Kepada putra Almarhum, kami bertiga berjanji akan berkunjung kembali untuk melakukan digitalisasi dan inventarisasi untuk kepentingan keluarga dan masyarakat di kemudian hari. Dibawah tumpukan lontar-lontar tersebut, selanjutnya kami membuka kotak berukuran tipis memanjang yang dibungkus dengan kain kuning.

Saya cukup terkejut setelah kotak kayu tampak telanjang tanpa pembalut Kain Kuning, karena terpampang dengan sangat besar ialah ukiran Logo “Universitas Indonesia”- sebuah Kampus ternama di Tanah Air. Sebelum kami membukanya, terlihat rawut wajah putra Almarhum juga seperti tak sabar.

Dalam hati saya berpikir: “mungkinkah para pewaris juga tak pernah tahu isi dalamnya?” heee,,,,

Setelah kami buka, ternyata ditengahnya berisi tiga lembar kertas Ijazah Almarhum Tjokorda Rai Sudharta yang sudah dilaminating dengan rapi. Yang pertama adalah Ijazah Bachelor of Arts di Banaras Hindu University tertanggal 23 Desember 1957.

Kertas yang kedua adalah Ijazah Master of Arts di Panjab University tertanggal 21 Agustus 1961 dan yang terakhir dengan ukuran yang paling besar adalah piagam yang ditandatangani oleh Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Sujudi dan Panitera Senat Prof. Dr. Rustam Didong tertanggal 20 Desember 1986 tentang pengangkatan Almarhum menjadi Doktor dalam Ilmu Sastra setelah berhasil membuat dan mempertahankan Disertasi berjudul “KERTABHASA : Pengajaran Bahasa Sansekerta melalui Bahasa Jawa Kuno dengan menggunakan lontar-lontar tulisan Bali dalam bentuk Prosa dan Puisi: suatu perkenalan”.

Lantas langit terlihat mulai cerah, kami pun bergegas merapikan kembali dokumen tersebut lalu memohon pamit untuk dapat kembali pulang. Tak terasa jam telah menujukkan Pukul 12:00 WITA, perut telah memberikan sinyal waktunya untuk segera makan siang. Sungguh perjalanan pagi yang cukup mengesankan Jumat itu seraya berharap acara Rembug Sastra esok hari berjalan dengan baik dan lancar.

Hari itu juga tampak lebih lengkap tatkala di siang harinya terlihat Budayawan Bali I Wayan Westa turut menceritakan sepak terjang Almarhum Prof Tjok Sudharta melalui tulisannya di laman Media Sosial setelah sempat melakukan wawancara langsung kepada Almarhum pada Tahun 2005 silam. Tulisan tersebut sungguh menarik menjadi bahan pengantar pada diskusi keesokan harinya di Musuem Puri Lukisan Ubud.

Sebelum saya menceritakan situasi pada acara Rembug Sastra URW Media yang diselenggarakan keesokan harinya di Soekawati Hall-Museum Puri Lukisan Ubud, ijinkan saya menceritakan perjumpaan saya dengan salah satu Buah Karya Almarhum. Sesungguhnya, sampai dengan kepulangan Almarhum, saya orang yang tidak beruntung karena tidak sempat menimba ilmu serta menghadap kepada Beliau, padahal menuju kediaman Beliau hanya memerlukan waktu 3 menit berjalan kaki ke arah utara. Mungkin wajar rasanya karena basic Pendidikan Strata 1 dan 2 saya tidak bersentuhan dengan bidang Ilmu Sastra yang digeluti Almarhum.

Namun tak disangka perjumpaan saya justru terjadi lewat salah satu buah Karya Almarhum. Pada awal Tahun 2017, kurang lebih saat usia kandungan Istri Saya menginjak bulan yang keempat, Saya bertekad untuk menyalin satu buah Lontar tetamian pendahulu di Puri Anyar Ubud. Judulnya kala itu adalah Lontar Semara Reka.

Saya bertekad bahwa sebelum persalinan nantinya, Lontar itu sudah selesai saya salin di media kertas. Jujur,,,,,!! ini hanya sebuah janji pribadi saja dan lebih pada komitmen diri dengan sang cabang bayi.  Pemilihan judulnya pun tampak asal asalan karena dari 67 cakep, lontar Semara Reka-lah yang terletak paling luar sehingga mudah untuk diambil. Lontar dengan nomor register 6, Panjang 41,5 cm dan Lebar 3,3 cm tersebut terdiri dari 28 halaman. Pada Kalimat pembukanya tersirat:

“Ong Awighnamastu nama sidham/iki tutut smara reka/nga/Slokantara/nga/sunia reka”……

lebih lanjut lagi pada beberapa halaman berikutnya tersirat kembali kalimat:

“Yan tan wruh ring Slokantara/tan wnang/dadi Balyan utawi Pandhita”…….

Saya merasa tertarik sekali mendengar Kata “Slokantara” tersebut, walau jujur saat itu tak memahami artinya. Lantas, dalam sebuah perjalan saya menuju Kampus Fakultas Ekonomi Universitas Udayana di Sudirman beberapa bulan setelahnya, Saya menyempatkan mampir di sebuah toko buku di bilangan Yangbatu. Disana saya sungguh terkejut melihat satu buku berwarna hitam berjudul “Slokantara”. Lebih terkejut lagi di bawahnya tertera nama penulis buku tersebut ialah Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta M.A (putra Puri Ubud).

Dengan sangat lugas dan menarik, Almarhum menerjemahkan setiap sloka tentang etika dan kebenaran dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dipahami. Jadilah buku itu salah satu buku favorit saya dan beberapa kali saya bagikan kepada beberapa kolega untuk dibaca. Itulah perjumapaan saya dengan karya Almarhum empat tahun setelah Almarhum meninggal dunia.

Kembali pada gelaran acara Rembug Sastra URW Media 2021, tampak siang itu hujan kembali turun sangat derasnya. Walau demikian para panitia penyelenggara tetap semangat mempersiapkan acara pembuka di Tahun 2021 tersebut. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yaitu: I Wayan Sukayasa (Guru Besar UNHI Denpasar) dan I Dewa Gede Windhu Sancaya (Dosen FIB Universitas Udayana) serta dipandu oleh I Gusti Agung Paramita (Dosen Ilmu Filsafat Hindu UNHI Denpasar).

Sebelum acara diskusi dimulai, Tjokorda Gde Agung Ichiro Sukawati selaku Ketua Yayasan Janahita Mandala Ubud mengutarakan beberapa poin pengantar serta mengucapkan Selamat Tahun Baru 2021 sekaligus membuka acara Rembug Sastra yang pertama di Tahun 2021. Prof. Sukayasa sebagai narasumber pertama menjelaskan kepada Kami pemikiran-pemikiran Almarhum dalam pemajuan Agama Hindu dan Kebudayaan Bali melalui beberapa Buku Karya Almarhum Prof. Tjok Sudharta seperti: Upadesa (1967), Sarasamuscaya (1976), Slokantara (1982), Asta Brata Dalam Pembangunan (1898), Nasehat Sri Rama Sampai Masa Kini (1990), Ramayana dan Mahabrata terj.BH. Sarkar (1992), Manusia Hindu I sampai perkawainan (1993), Bertemu Tuhan Dalam Diri (2005), Bhagawadgita dalam Bisma Parwa (2010), Antara Filsafat Yunani Plato dan Filsafat India Upanisad Bhagawadgita (2010).

Narasumber kedua Bapak Dewa Windhu Sancaya menyampaikan beberapa pandangannya tentang Kertabhasa yang diangkat Almarhum dalam Sidang Terbuka Doktor Tahun 1986. Lebih lanjut dinyatakan bahwa melalui disertasi Almarhum tersebut, diperoleh pemahaman betapa pentingnya pelajaran dan pengajaran Bahasa dengan berbagai aspeknya meliputi gramatika, tatabunyi, dan kosakata yang dilakukan secara terencana dan sistematis. Model pembelajaran yang dikemukakan Almarhum patut ditindaklajuti dan dipratekkan dalam pengajaran Bahasa baik Sansekerta, Bali maupun yang lainnya. 

Jalannya acara sore itu cukup bergairah dan Sayapun berusaha keras untuk mengikuti dan memahami penyampaian para narasumber. Menariknya, putra almarhum juga sempat menceritakan kejadian yang mengharukan saat dahulu Almarhum Prof. Tjok sudharta bersusah payah menyelesaikan tugas akhir Disertasinya. Dalam kondisi yang sempat sakit dan dirawat di rumah sakit kala itu, Almarhum Prof. Tjok Sudharta merasakan sakit yang luar biasa pada tangan kanannya. Dengan keterbatasannya, beliau tetap gigih melanjutkan tugasnya menulis disertasi tersebut menggunakan tangan kirinya.

Pada titik itu, saya memandang keuletan yang luar biasa dari Almarhum untuk menyelesaikan disertasi tersebut sebagai upaya tidak saja untuk pencapaian pribadinya, namun juga penghormatannya pada Panitia Promotor (Prof. Dr. Haryati Soebadio dan Dr. E.K.M. Masinambow) serta wujud persembahanNya yang tulus kepada Keluarga tercinta sesuai dengan yang Beliau tuliskan pada halaman ketiga Disertasi tersebut:

“Dipersembahkan kepada Ayahku yang tuna netra setelah kawin, kepada Ibuku yang telah tiada, kepada kakak, adik dan istriku yang tercinta, kepada anak-anakku tersayang”.

Tampaknya memang Almarhum memang pemikir yang gigih serta memiliki komitemen yang kuat dalam setiap tugas yang dikerjakannya. Bagi Saya, Beliau merupakan sosok yang inspiratif dan patut dibanggakan. Tak salah juga URW Media mengangkat “Kelana Pemikiran” Beliau sebagai tajuk diskusi pembuka di Tahun 2021 ini.

Tulisan singkat ini saya buat sebagai bentuk penghormatan kepada Almarhum yang merupakan salah satu putra terbaik Ubud, yang pada tanggal 1 Agustus 1990 silam diangkat dan ditetapkan sebagai Guru Besar Madya dalam Ilmu Bahasa Sansekerta pada Fakultas Sastra Universitas Udayana di Denpasar. Salam hormat dan bhakti Saya kepada “Ida Dewata” walau tak sempat saling bercengkarama. Terima Kasih juga kepada Saudara Putu Eka Guna Yasa yang telah memberikan Salinan Disertasi Beliau.

Mohon maaf jika ada salah kata dan kekurangan dalam penulisan ini terlebih disadari sepatutnya masih banyak lagi yang dapat ditambahkan jika menceritakan Sosok Almarhum.

  • Catatan URW Media 2021, “Bantas Angge Aubudan”.
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peleburan Dosa Ala Buddha

Next Post

Mengetuk Pintu dan Memasuki Suatu Komunitas || Dari Buku “Melawan Setan Bermata Runcing”

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails
Next Post
Mengetuk Pintu dan Memasuki Suatu Komunitas || Dari Buku “Melawan Setan Bermata Runcing”

Mengetuk Pintu dan Memasuki Suatu Komunitas || Dari Buku “Melawan Setan Bermata Runcing”

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026
Panggung

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca
Esai

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

by Angga Wijaya
May 10, 2026
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi
Pameran

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna
Esai

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
Puting Beliung | Cerpen Supartika
Cerpen

Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

by I Putu Supartika
May 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

by Sugi Lanus
May 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co