11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sosok Alm. Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta M.A || Pembuka URW Media Tahun 2021

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
January 13, 2021
in Khas
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra || Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Jumat, 8 Januari 2020, pagi, di pusat Ubud cuaca tampak tak bersahabat. Hujan deras mengguyur desa itu sejak sehari sebelumnya. Walau demikian, aktivitas penghuni seperti tak terganggu. Pasar Umum Ubud tetap padat oleh pengunjung yang berdesakan. Maklum saja, esok hari merupakan Hari Tumpek Wayang dan beberapa titik di Ubud akan berlangsung upacara adat keagamaan. Itu sebabnya, pedagang bunga dan buah-buahan diserbu oleh ibu-Ibu rumah tangga sejak subuh.

Pukul 09:00 WITA pagi itu, Saya bersiap untuk berkunjung ke Puri Mertasari Ubud, kurang lebih 90 meter ke arah utara dari rumah Saya bersama dengan Tjokorda Agung dan Gus Oka.

Sejak seminggu sebelumnya kami bertiga bersepakat untuk mendatangi Puri Mertasari, tempat kediamaan Alm. Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta, M.A (Prof. Tjok Sudharta) dalam rangka mapekeling (mohon ijin dan restu) sembari melakukan persembahyangan di Pemrajan demi lancarnya acara perdana “Rembug Sastra” Ubud Royal Weekend Media (URW Media) di Tahun 2021 dengan tema “Kerthabhasa dan Kerthagama: Kelana Pemikiran Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta, M.A dalam Bahasa dan Agama”.

Di bawah hujan, kami berjalan kaki menuju Puri Mertasari dan disambut hangat oleh Tjokorda Gde (keponakan Almarhum) serta Tjokorda Putra (Putra Almarhum). Dengan suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan, kami duduk di Gedong Daje serta saling berdiskusi diselingi tawa canda satu sama lainnya sembari menunggu saatnya hujan reda.

Tepat di tembok sebelah saya duduk, terpangpang foto Prof. Tjok Sudharta dan juga foto kakak serta dua adik Beliau. Prof Tjok Sudharta merupakan putra kedua dari empat bersaudara. Kakak Beliau adalah Tjokorda Raka Dherana yang juga cukup dikenal sebagai pakar hukum adat Bali pada jamannya. Tjokorda Raka Dherana bahkan sempat menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana dan Bupati Gianyar Periode 1983-1993.

Rasanya tak banyak yang tau, dalam Lontar Palelintih Puri Ubud milik Tjokorda Gde Ngoerah yang tersimpan di Puri Agung Pesaren Kauh, keempat bersaudara ini disebutkan dengan nama-nama yang unik seperti yang dijelaskan dibawah ini:

………maliḥ harin hidā cokordā gde rakā/ ring puri śaren kangin baloddan/ maparab hidā cokordā gde nguraḥ/ māputrā hiddā ptang siki lanang lanang/ sane piniḥ duwūr/ maparab hidā cokordā rakā botor/ harine māparab hiddā cokordā rahi huṇdis// harine maparab hidā cokordā rakā komak// sane piniḥ halit/ maparab hidā cokorddā hokā kcahi/ mabyang prĕgusṭi saking taman hubud//……

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa ayah Prof.Tjok Sudharta terlahir di Puri Agung Pesaren Kangin Delodan sebelum akhirnya menetap dan mendirikan Puri Mertasari Ubud bersama istrinya yang berasal dari Taman Ubud. Tanpa bermaksud yang bukan-bukan, tampaknya sebutan nama “Botor, Hundis, Komak, Kcahi” tersebut lebih kepada nama “sayang” sewaktu kecil yang memudahkan para penglingsir untuk memanggil dan mengingatnya.

Ada pula beberapa pandangan para tetua yang menyatakan bahwa konon dahulu nama lengkap lebih baik disembunyikan, agar terlihat lebih “pingit”. Walau demikian, yang pasti tanpa disangka satu diantara keempat anak tersebut kelak berhasil menjadi “Professor” pertama Puri Ubud, menduduki Parlemen Senayan selama 20 tahun serta menghasilkan beberapa Karya Buku di bidang Agama dan Sastra.

Kembali di Puri Mertasari tampak hujan mulai mereda dan selanjutnya Kami pun berbegas menuju plataran Pemrajan. Di Jaba Sisi, tampak sebuah tugu dengan dua patung (lanang dan istri) turut menyapa kehadiran Kami. Oleh keluarga setempat, Pelinggih tersebut dipercaya sebagai penyawangan Ida Ratu Gede. Gus Oka lantas menghaturkan bhakti pejati.

Sambil menunggu, saya pun kembali bercerita bersama putra almarhum tentang keseharian Prof. Sudharta sewaktu di Jakarta maupun setelah pulang kembali ke Bali. Sesekali pandangan Saya tertuju pada Kain berwarna putih dan kuning yang bergulung membungkus sebuah Kotak di Bale Pengaruman.

Merasa penasaran, saya pun tak canggung menanyakan kepada Putra Almarhum perihal Kotak berwarna Putih Kuning tersebut. Olehnya dijelaskan bahwa didalamnya tersimpan beberapa “Lontar” tetamian (peninggalan) Almarhum. Sayapun memohon lebih lanjut untuk dapat melihat isi didalamnya selepas usai melakukan persembahyangan. Gus Oka memberikan aba-aba untuk Kami dapat segera melalukan persembahyangan meski hujan tetap enggan berhenti sempurna.

Berselang 15 menit kemudian, kami segera berdiri bersama untuk melihat serta membuka bungkusan kain putih dan kuning tersebut. Dalam hati saya merasa bersyukur karena pagi itu Saya ditemani Gus Oka yang merupakan Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Gianyar. Setidaknya, Beliau mampu menjelaskan kepada Kami tentang apa isi lontar tersebut. Dari pengamatan Kami pagi itu, Almarhum meninggalkan 12 cakep lontar Bali.

Secara fisik, lontar tersebut masih dalam kondisi yang sangat baik. Lebih Lanjut Gus Oka tidak melakukan pengecekan dengan detail pada seluruh lontar. Namun satu yang pasti, dari sekian Lontar tersebut terdapat satu lontar salinan “druwen fakultas sastra udayana” dan satu lontar salinan “druwen Gdong Kirtya”.

Kepada putra Almarhum, kami bertiga berjanji akan berkunjung kembali untuk melakukan digitalisasi dan inventarisasi untuk kepentingan keluarga dan masyarakat di kemudian hari. Dibawah tumpukan lontar-lontar tersebut, selanjutnya kami membuka kotak berukuran tipis memanjang yang dibungkus dengan kain kuning.

Saya cukup terkejut setelah kotak kayu tampak telanjang tanpa pembalut Kain Kuning, karena terpampang dengan sangat besar ialah ukiran Logo “Universitas Indonesia”- sebuah Kampus ternama di Tanah Air. Sebelum kami membukanya, terlihat rawut wajah putra Almarhum juga seperti tak sabar.

Dalam hati saya berpikir: “mungkinkah para pewaris juga tak pernah tahu isi dalamnya?” heee,,,,

Setelah kami buka, ternyata ditengahnya berisi tiga lembar kertas Ijazah Almarhum Tjokorda Rai Sudharta yang sudah dilaminating dengan rapi. Yang pertama adalah Ijazah Bachelor of Arts di Banaras Hindu University tertanggal 23 Desember 1957.

Kertas yang kedua adalah Ijazah Master of Arts di Panjab University tertanggal 21 Agustus 1961 dan yang terakhir dengan ukuran yang paling besar adalah piagam yang ditandatangani oleh Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Sujudi dan Panitera Senat Prof. Dr. Rustam Didong tertanggal 20 Desember 1986 tentang pengangkatan Almarhum menjadi Doktor dalam Ilmu Sastra setelah berhasil membuat dan mempertahankan Disertasi berjudul “KERTABHASA : Pengajaran Bahasa Sansekerta melalui Bahasa Jawa Kuno dengan menggunakan lontar-lontar tulisan Bali dalam bentuk Prosa dan Puisi: suatu perkenalan”.

Lantas langit terlihat mulai cerah, kami pun bergegas merapikan kembali dokumen tersebut lalu memohon pamit untuk dapat kembali pulang. Tak terasa jam telah menujukkan Pukul 12:00 WITA, perut telah memberikan sinyal waktunya untuk segera makan siang. Sungguh perjalanan pagi yang cukup mengesankan Jumat itu seraya berharap acara Rembug Sastra esok hari berjalan dengan baik dan lancar.

Hari itu juga tampak lebih lengkap tatkala di siang harinya terlihat Budayawan Bali I Wayan Westa turut menceritakan sepak terjang Almarhum Prof Tjok Sudharta melalui tulisannya di laman Media Sosial setelah sempat melakukan wawancara langsung kepada Almarhum pada Tahun 2005 silam. Tulisan tersebut sungguh menarik menjadi bahan pengantar pada diskusi keesokan harinya di Musuem Puri Lukisan Ubud.

Sebelum saya menceritakan situasi pada acara Rembug Sastra URW Media yang diselenggarakan keesokan harinya di Soekawati Hall-Museum Puri Lukisan Ubud, ijinkan saya menceritakan perjumpaan saya dengan salah satu Buah Karya Almarhum. Sesungguhnya, sampai dengan kepulangan Almarhum, saya orang yang tidak beruntung karena tidak sempat menimba ilmu serta menghadap kepada Beliau, padahal menuju kediaman Beliau hanya memerlukan waktu 3 menit berjalan kaki ke arah utara. Mungkin wajar rasanya karena basic Pendidikan Strata 1 dan 2 saya tidak bersentuhan dengan bidang Ilmu Sastra yang digeluti Almarhum.

Namun tak disangka perjumpaan saya justru terjadi lewat salah satu buah Karya Almarhum. Pada awal Tahun 2017, kurang lebih saat usia kandungan Istri Saya menginjak bulan yang keempat, Saya bertekad untuk menyalin satu buah Lontar tetamian pendahulu di Puri Anyar Ubud. Judulnya kala itu adalah Lontar Semara Reka.

Saya bertekad bahwa sebelum persalinan nantinya, Lontar itu sudah selesai saya salin di media kertas. Jujur,,,,,!! ini hanya sebuah janji pribadi saja dan lebih pada komitmen diri dengan sang cabang bayi.  Pemilihan judulnya pun tampak asal asalan karena dari 67 cakep, lontar Semara Reka-lah yang terletak paling luar sehingga mudah untuk diambil. Lontar dengan nomor register 6, Panjang 41,5 cm dan Lebar 3,3 cm tersebut terdiri dari 28 halaman. Pada Kalimat pembukanya tersirat:

“Ong Awighnamastu nama sidham/iki tutut smara reka/nga/Slokantara/nga/sunia reka”……

lebih lanjut lagi pada beberapa halaman berikutnya tersirat kembali kalimat:

“Yan tan wruh ring Slokantara/tan wnang/dadi Balyan utawi Pandhita”…….

Saya merasa tertarik sekali mendengar Kata “Slokantara” tersebut, walau jujur saat itu tak memahami artinya. Lantas, dalam sebuah perjalan saya menuju Kampus Fakultas Ekonomi Universitas Udayana di Sudirman beberapa bulan setelahnya, Saya menyempatkan mampir di sebuah toko buku di bilangan Yangbatu. Disana saya sungguh terkejut melihat satu buku berwarna hitam berjudul “Slokantara”. Lebih terkejut lagi di bawahnya tertera nama penulis buku tersebut ialah Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta M.A (putra Puri Ubud).

Dengan sangat lugas dan menarik, Almarhum menerjemahkan setiap sloka tentang etika dan kebenaran dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dipahami. Jadilah buku itu salah satu buku favorit saya dan beberapa kali saya bagikan kepada beberapa kolega untuk dibaca. Itulah perjumapaan saya dengan karya Almarhum empat tahun setelah Almarhum meninggal dunia.

Kembali pada gelaran acara Rembug Sastra URW Media 2021, tampak siang itu hujan kembali turun sangat derasnya. Walau demikian para panitia penyelenggara tetap semangat mempersiapkan acara pembuka di Tahun 2021 tersebut. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yaitu: I Wayan Sukayasa (Guru Besar UNHI Denpasar) dan I Dewa Gede Windhu Sancaya (Dosen FIB Universitas Udayana) serta dipandu oleh I Gusti Agung Paramita (Dosen Ilmu Filsafat Hindu UNHI Denpasar).

Sebelum acara diskusi dimulai, Tjokorda Gde Agung Ichiro Sukawati selaku Ketua Yayasan Janahita Mandala Ubud mengutarakan beberapa poin pengantar serta mengucapkan Selamat Tahun Baru 2021 sekaligus membuka acara Rembug Sastra yang pertama di Tahun 2021. Prof. Sukayasa sebagai narasumber pertama menjelaskan kepada Kami pemikiran-pemikiran Almarhum dalam pemajuan Agama Hindu dan Kebudayaan Bali melalui beberapa Buku Karya Almarhum Prof. Tjok Sudharta seperti: Upadesa (1967), Sarasamuscaya (1976), Slokantara (1982), Asta Brata Dalam Pembangunan (1898), Nasehat Sri Rama Sampai Masa Kini (1990), Ramayana dan Mahabrata terj.BH. Sarkar (1992), Manusia Hindu I sampai perkawainan (1993), Bertemu Tuhan Dalam Diri (2005), Bhagawadgita dalam Bisma Parwa (2010), Antara Filsafat Yunani Plato dan Filsafat India Upanisad Bhagawadgita (2010).

Narasumber kedua Bapak Dewa Windhu Sancaya menyampaikan beberapa pandangannya tentang Kertabhasa yang diangkat Almarhum dalam Sidang Terbuka Doktor Tahun 1986. Lebih lanjut dinyatakan bahwa melalui disertasi Almarhum tersebut, diperoleh pemahaman betapa pentingnya pelajaran dan pengajaran Bahasa dengan berbagai aspeknya meliputi gramatika, tatabunyi, dan kosakata yang dilakukan secara terencana dan sistematis. Model pembelajaran yang dikemukakan Almarhum patut ditindaklajuti dan dipratekkan dalam pengajaran Bahasa baik Sansekerta, Bali maupun yang lainnya. 

Jalannya acara sore itu cukup bergairah dan Sayapun berusaha keras untuk mengikuti dan memahami penyampaian para narasumber. Menariknya, putra almarhum juga sempat menceritakan kejadian yang mengharukan saat dahulu Almarhum Prof. Tjok sudharta bersusah payah menyelesaikan tugas akhir Disertasinya. Dalam kondisi yang sempat sakit dan dirawat di rumah sakit kala itu, Almarhum Prof. Tjok Sudharta merasakan sakit yang luar biasa pada tangan kanannya. Dengan keterbatasannya, beliau tetap gigih melanjutkan tugasnya menulis disertasi tersebut menggunakan tangan kirinya.

Pada titik itu, saya memandang keuletan yang luar biasa dari Almarhum untuk menyelesaikan disertasi tersebut sebagai upaya tidak saja untuk pencapaian pribadinya, namun juga penghormatannya pada Panitia Promotor (Prof. Dr. Haryati Soebadio dan Dr. E.K.M. Masinambow) serta wujud persembahanNya yang tulus kepada Keluarga tercinta sesuai dengan yang Beliau tuliskan pada halaman ketiga Disertasi tersebut:

“Dipersembahkan kepada Ayahku yang tuna netra setelah kawin, kepada Ibuku yang telah tiada, kepada kakak, adik dan istriku yang tercinta, kepada anak-anakku tersayang”.

Tampaknya memang Almarhum memang pemikir yang gigih serta memiliki komitemen yang kuat dalam setiap tugas yang dikerjakannya. Bagi Saya, Beliau merupakan sosok yang inspiratif dan patut dibanggakan. Tak salah juga URW Media mengangkat “Kelana Pemikiran” Beliau sebagai tajuk diskusi pembuka di Tahun 2021 ini.

Tulisan singkat ini saya buat sebagai bentuk penghormatan kepada Almarhum yang merupakan salah satu putra terbaik Ubud, yang pada tanggal 1 Agustus 1990 silam diangkat dan ditetapkan sebagai Guru Besar Madya dalam Ilmu Bahasa Sansekerta pada Fakultas Sastra Universitas Udayana di Denpasar. Salam hormat dan bhakti Saya kepada “Ida Dewata” walau tak sempat saling bercengkarama. Terima Kasih juga kepada Saudara Putu Eka Guna Yasa yang telah memberikan Salinan Disertasi Beliau.

Mohon maaf jika ada salah kata dan kekurangan dalam penulisan ini terlebih disadari sepatutnya masih banyak lagi yang dapat ditambahkan jika menceritakan Sosok Almarhum.

  • Catatan URW Media 2021, “Bantas Angge Aubudan”.
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peleburan Dosa Ala Buddha

Next Post

Mengetuk Pintu dan Memasuki Suatu Komunitas || Dari Buku “Melawan Setan Bermata Runcing”

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Mengetuk Pintu dan Memasuki Suatu Komunitas || Dari Buku “Melawan Setan Bermata Runcing”

Mengetuk Pintu dan Memasuki Suatu Komunitas || Dari Buku “Melawan Setan Bermata Runcing”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

by Chusmeru
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co