13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengetuk Pintu dan Memasuki Suatu Komunitas || Dari Buku “Melawan Setan Bermata Runcing”

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 14, 2021
in Esai
Mengetuk Pintu dan Memasuki Suatu Komunitas || Dari Buku “Melawan Setan Bermata Runcing”

Ilustrasi berjudul Memahami Komunitas oleh Oceu Apristawijaya

Dari semua acara di  tahun 2020 yang saya hadiri,  yang paling meninggalkan kesan mendalam adalah pameran seni  sekaligus diskusi buku yang diadakan di Kulidan Kitchen pada tanggal 12 Februari 2020 pada hari Rabu sore dengan pembawa acara yaitu Butet Manurung selaku pendiri Sokola Institute dan Oceu Apristawijaya sebagai illustrator yang karya seninya yang dipajang di dinding Kulidan Kitchen. Mereka berdua menjalani hidup yang dapat dikatakan berunsur petualangan.

Menjelajahi daerah yang tidak dikenal, tinggal di tempat yang budayanya amat berbeda dari perkotaan dan hidup bersama kaum yang hidupnya semi nomaden selama beberapa waktu seperti yang tertulis dalam buku yang didiskusikan. Karya ilustrasi beliau memberikan inspirasi untuk bertanya- tanya tentang metode pendekatan dan penyusunan agenda yang selama ini dilakukan oleh perorangan maupun lembaga terhadap suatu komunitas yang berada di suatu wilayah.

Dimoderatori oleh I Komang Adiartha, pembahasan buku dan karya seni berjudul Melawan Setan Bermata Runcing   menguak berbagai hal mulai dari pendidikan, kehidupan sosial, advokasi , kesehatan dan yang ada satu hal terpenting yang akan diulas dalam artikel ini sebagai pembuka sebelum menyusun agenda yang berkaitan dengan hal hal di atas. Acara tersebut dapat  membuka suatu bahan untuk diskusi publik mengenai kebijakan yang selama ini diambil oleh institusi mulai dari lembaga pemerintah, LSM, hingga korporasi maupun   akar rumput untuk mengevalusi kembali efektivitas program yang mereka buat di suatu wilayah. Sokola Institute menunjukkan suatu metode yang berpegang teguh pada rasa kasih dan kerendahan hati dalam berinteraksi dengan komunitas yang menjadi tujuan dari agenda yang dibuatnya.

Ilustrasi berikut ini yang pernah dipajang di dinding Kulidan Space akan memberikan gambaran awal mengenai hidup bersama komunitas. Judul karyanya berjudul Memahami Komunitas. Deskripsi ilustrasi ini menceritakan anggota Sokola Institute menelusuri sungai di siang hari bersama komunitas lokal dengan bergotong royong mendayung perahu. Mereka bersama sama mengumpulkan hasil bumi, lalu diletakkan di atas perahu untuk diangkut ke pemukiman. Lihat, bagaimana orang yang lahir dan besar di kota menyesuaikan penampilannya dengan komunitas lokal terlihat dari gaya berpakaiannya yang nyaris serupa serta tinggal di rumah adat. Mereka merasakan susah dan senangnya bersama anggota komunitas.  Pendekatan di sini jelas menunjukkan kerendahan hati dari pihak lembaga. Anggota Sokola Insitute ingin menyelami kehidupan di suatu komunitas sebelum memulai menyusun agenda di bidang pendidikan, advokasi, dan kesehatan serta pemberdayaan. 

Ilustrasi berjudul Memahami Komunitas oleh  Oceu Apristawijaya

Dodi Rokhdian, anggota Sokola Insitute menulis metode yang ia gunakan dalam menelusuri komunitas jika dirangkum dalam satu paragram bunyinya sebagai berikut:

“Metode Etnografi memungkinkan munculnya empati atas realitas hidup melalui konsekuensi metodologis saat menjalankannya, dan sebuah metode menjadi bermakna ketika digunakan sebagai alat perubahan, berpihak serta tidak netral.”

Bagi pihak-pihak yang ingin menyusun agenda pembangunan atau agenda lainnya suatu daerah di bidang apapun, harus menelusuri sendi sendi kehidupan komunitas yang bertempat di wilayah tersebut untuk mendapatkan pengetahuan sebagai tahap amat penting di awal agar komunitas kedua dapat menerima manfaat langsung. Dari cerita yang diulas oleh Sokola Institue ketika pengetahuan ini tidak diperoleh secara akurat atau amat dangkal karena penyusun agenda tidak memahami kebutuhan dan permasalahannya, terjadi suatu pemborosan sumber daya yang sia sia bahkan menambah masalah baru.

Di Sumatera, program perumahan publik oleh pemerintah untuk orang Rimba berakhir dengan dijualnya rumah tersebut kepada pihak luar karena tidak cocok dengan cara hidupnya yang semi nomaden sesuai dengan mata pencaharian. Di Kajang, tempat penggembalaan ternak bagian vital bagi kehidupan, adanya sekolah formal membuat siswa sulit datang ke sekolah di waktu tertentu karena berurusan di padang rumput. Selain itu mata pelajaran yang diterima oleh siswa ini nyaris tak menyentuh persolahan sehari hari mereka sehingga dianggap menguras waktu. 

Untuk itu ada lima pengetahuan berdasarkan tingkatannya untuk menyusun agenda untuk komunitas yaitu:

1.) Deskripsi kehidupan sehari hari, lingkungan fisik, dan masalah yang dihadapi suatu komunitas.

Inilah pengetahuan terpenting. Oleh sebab itu, pegiat dari LSM maupun pejabat dan pegawai pemerintah yang ingin membuat suatu agenda di desa tertentu tidak hanya berkantor di sana saat siang hari lalu pulang ke tempat penginapan ekslusif di malam hari. Mereka selayaknya mengamati aktivitas warga sambil ikut membantu serta menginap di desa itu saat malam sambil berdialog dengan kepala desa dan seluruh warganya sehingga mendapatkan peta permasalahan. Dengan ini, komunitas merasa dijadikan sebagai rekan bukan objek atas kebijakan yang dipaksakan dari atas.

2.) Aspirasi dan idealisasi kehidupan yang diharapkan

Dari tinggal dan ikut berperan langsung dalam kehidupan komunitas, akan mengetahui kebutuhan kebutuhannya berdasarkan prioritas. Ini membantu penyusunan anggaran untuk mewujudkan agenda yang dijalankan agar efektif dan menjawab hal terpenting yang amat dibutuhkan oleh mereka untuk kehidupan yang layak. Di sinilah perlunya rasa empati, ikut merasakan penderitaan dan kegembiraan mereka.

3.) Pemetaan pelaku di komunitas terkait peranan, pengaruh, dinamika dan jejaringnya dalam kehidupan harian

Dalam suatu komunitas di sebuah desa pasti ada orang orang yang berpengaruh. Membangun dialog dengan orang orang ini amat penting karena orang yang berpengaruh ini amat menentukan jalannya agenda yang disusun. Mereka yang paling dipercaya oleh anggota komunitas.

4.) Faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi implementasi program

Dengan mengetahui kondisi lingkungan dan sosial komunitas, serta riwayat interaksinya dengan pihak luar, dapat memperhitungkan hal yang akan memperlancar agenda dan menyiapkan penanganan terhadap sesuatu yang akan merintangi jalannya agenda.

5.) Praktek dan cara produksi komunitas dalam pemenuhan kebutuhan hidup harian

Ini adalah mengkaji aktivitas ekonomi warga sekitar. Produksi menentukan cara hidup dan masalah yang dialaminya. Memahami ini penting untuk menyusun agenda pendidikan secara lebih menyentuh permasalahan ke akarnya. Dalam aktivitas yang dilakukan oleh Sokola Institute bersama orang Rimba yang sebagian besar hidup dari berburu dan bertani, mereka bersama sama menyusun kurikulum pendidikan yang berkaitan dengan mata pencaharian tersebut dan memfasilitasi orang Rimba menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan itu setelah belajar bersama. Di sinilah syarat amat penting menyusun literasi hadap masalah

Kehidupan sebuah komunitas dan latar budaya yang menauginya diibaratkan sebuah “rumah” dan kajian untuk dapat lima pengetahuan adalah langkah awal sebagai “mengetuk pintu”. Di dalam aksi lapangan. Kajian menjadi langkah awal untuk membangun kedekatan hubungan dengan subjek di lokasi program yang akan diadakan. Ikuti tata cara seempat, memperkenalkan diri, meminta izin dan menjelaskan maksud serta tujuan. Dari tindakan yang diambil tadi setelah mendapat pengetahuan yang pertama, akan mengetahui respon tuan rumah terhadap agenda yang dibawa apakah ingin mengerti lebih dalam atau menolak. Baru setelah itu menggali pengetahuan ke dua hingga ke lima.

Metode Etnografi

Untuk dapat mengerti secara menyeluruh mengenai dimensi kehidupan suatu komunitas dan wilayah dimana mereka berada harus melalui observasi saksama dengan berpartisipasi dan ikut hidup dalam komunitas tersebut. Karena itu kajian menggunakan pendekatan yang menekankan pada proses dan makna- berupa realitas yang dibangun secara sosial dan adanya kaitan erat antara pihak yang mengkaji dengan sasaran yang dikaji. Ini disebut kajian kualitatif

Kajian ini mengambil metode etnografi yaitu sebuah metode antropologis yang jika digunakan dengan tepat dapat menguak perspektif budaya dan kebenaran kebenaran dalam sudut pandang lokal. Pendekatan kualitatif akan sejajar dengan tujuan etnografi kritis dimana berangkat dari tanggung jawab moral untuk menemukan proses ketimpangan pada wilayah kehidupan yang memberi peluang terwujudnya penegakan kemanusiaan untuk komunitas tersebut. Pendekatan etnografi dilakukan oleh Sokola Institue saat melakukan improvisasi seragam sekolah untuk murid murid di Kajang yang menganggap warna putih merah tabu dipakai dan merancang pendidikan yang menyentuh sendi kehidupan sehari hari mereka sehingga melek huruf di sana meningkat.

Etnografi kritis mengupas kejadian di balik kenyataan yang terlihat, menggugat status quo dan netralitas serta mempertanyakan asumsi asumsi yang diterima begitu saja yang mendasari berjalannya sebuah kekuasaan dan kendali. Melawan penjinakan dan berjalan dari realita akan “apa yang ada” menuju “apa yang seharusnya”.

Seseorang yang menggunakan metode etnografi untuk mendapat lima pengetahuan secara menyeluruh mengenai komunitas akan melebur di tengah ritme harian, menghadiri pertemuan dan perayaan, melakukan kunjungan pribadi ke rumah warga, mendengar permasalahan sehari hari, menghadiri rapat komunitas, berdiskusi hal hal tematis atau sekadar berbicara saja di berbagai konteks dan latar budaya tempat komunitas itu.

Dia akan menggali data melalui wawancara, diskusi kelompok terfokus yang berutujuan memetakan masalah dna mencari penyelesaian, mengambil foto, membuat sketsa wilayah serta menyelenggarakan penilaian desa secara partisipatif yang memungkinkan komunitas secara bersama sama menganalisis suatu masalah dalam rangka merumuskan perencanaan dan kebijakan secara nyata.

Metode ini tidak hanya berlaku untuk mendekati komunitas terpencil seperti orang Rimba di Jambi atau Suku Asmat di Papua. Ia dapat digunakan juga untuk wilayah yang berada tak jauh dari tempat kita tinggal. Dari sinilah sebabnya pejabat dan aktivis perlu menggali ilmu dan belajar bersama Sokola Institute mengenai menyusun agenda pendidikan hingga pemberdayaan supaya hasilnya efektif terutama menyelesaikan permasalahan yang ada.

Sumber:

  1. Manurung, Butet, et. al. (2019).Melawan Setan Bermata Runcing. Jakarta, Sokola Institute
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sosok Alm. Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta M.A || Pembuka URW Media Tahun 2021

Next Post

Aku, Si Raksasa Baik | Kalian Boleh Jauhi Aku, Tapi Jangan Serang Aku

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Aku, Si Raksasa Baik | Kalian Boleh Jauhi Aku, Tapi Jangan Serang Aku

Aku, Si Raksasa Baik | Kalian Boleh Jauhi Aku, Tapi Jangan Serang Aku

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co