24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peleburan Dosa Ala Buddha

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
January 12, 2021
in Esai
Peleburan Dosa Ala Buddha

[Ilustrasi foto: Mursal Buyung]

Mari kita berpaling sebentar dari cerita Lubdaka yang Siwaistik. Hari ini, kita akan membaca dan menafsir satu cerita yang lain tentang tokoh bernama Kunjarakarna. Kunjara berarti gajah, sedangkan Karna berarti telinga. Ya, nama lain tokoh cerita kita adalah Telinga Gajah. Apa maksudnya? Dan apa hubungan Telinga Gajah dengan peleburan dosa?

Sumber bacaan yang kita pakai, tidak menjelaskan mengapa nama itu dipilih. Sebagaimana umumnya, kita hanya bisa tertunduk kalah dan menerima begitu saja kemahakuasaan pengarang. Di dalam cerita yang dia bangun, dialah Tuhannya. Sebagai pembaca, kita harus tunduk pada aturan main yang dia ciptakan. Kita tidak akan sulit melakukan hal itu, karena patuh, tunduk, manut, sudah jadi kebiasaan kita sehari-hari. Kita memang dibentuk oleh tradisi yang didasarkan atas kepatuhan.

Kunjarakarna bukanlah manusia, bukan raksasa, dan bukan juga dewa. Dia adalah Yaksa. Menurut kamus, Yaksa adalah makhluk setengah dewa. Meskipun begitu, dalam beberapa pustaka berbahasa Jawa Kuna, Yaksa dikelompokkan dengan raksasa, daitya, dan asura. Teks lain yang menyebutkan peranan Yaksa adalah Wana Parwa. Pada suatu episode dari Mahabharata, kita disajikan dialog antara Dharma Wangsa dengan Yaksa. Yaksa memberi Dharma Wangsa pertanyaan, salah satu contohnya “Siapakah yang menyebabkan matahari terbenam?” Pertanyaan Yaksa, selalu dapat dijawab dengan benar. Karena itu, Dharma Wangsa dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. Di akhir cerita, terbukalah sebuah rahasia, ternyata Yaksa yang berdialog dengan Dharma Wangsa adalah Dewa Dharma.

Para dewa memang senang menyamar. Barangkali itulah hobby dewa-dewa yang tak pernah kita sangka. Tentu saja dewa-dewa itu punya hobby lain, misalnya berperang, menggoda, memberi anugerah dan juga mengutuk.

***

Yaksa Kunjarakarna sangat ingin menyucikan penjelmaannya di masa silam, karena itu dia berusaha melakukan tapa di lambung gunung Mahameru. Di dalam tapanya, yang dipuja adalah Bhatara Sri Wairocana. Entah bagaimana caranya, dia sampai di alam Buddhi Citta. Kediaman Wairocana.

“Hamba memohon kepada Bhatara agar dilepaskan dari jerat penderitaan. Anugerahilah hamba Sang Hyang Dharma”, demikian kata Kunjarakarna kepada Bhatara Wairocana.

Sang Hyang Dharma yang dimaksud oleh Kunjarakarna adalah ajaran yang bersumber dari Bhatara Wairocana. Wairocana adalah salah satu dari lima Buddha Tathagata, empat Tathagata yang lain yaitu Aksobya, Amitabha, Amogasidhi dan Ratnasambhawa. Dengan kata lain, yang dimaksud sebagai Sang Hyang Dharma adalah ajaran Buddha.

Wairocana menjawab, “Ada banyak manusia yang mengetahui cara menghilangkan penderitaan dari dirinya, tapi Sang Hyang Dharma tidak dapat dirasakannya. Apa sebabnya? Tentu karena mereka dipengaruhi oleh kesenangan. Yang menyebabkan kesenangan adalah makan, minum, emas, budak dan berdandan.”

Semua hal yang menyenangkan itu terus menerus melekat pada pikiran manusia, itulah penyebab seseorang tidak dapat memahami Sang Hyang Dharma. Sebuah teks lain berjudul Sang Hyang Kamahayanikan menjelaskan bahwa makanan digunakan untuk menjaga tubuh. Maka jagalah tubuhmu [pahayu ta juga sariranta]. Apa tujuan menjaga tubuh?


āpan hayu ni śarīra nimitta niṅ katĕmwaniṅ suka, suka nimitta ni katĕmwan iṅ manah apagöh, manah apagöh nimitta ni dadi ni samādhi, samādhi nimitta niṅ katĕmwan iṅ kamokṣan.

[sebab kondisi baik tubuh adalah sebab mencapai kebahagiaan, kebahagiaan adalah sebab mencapai pikiran yang teguh, pikiran yang teguh penyebab tercapainya samadhi, samadhi adalah sebab mencapai kamoksan].


Tujuan akhir menjaga tubuh menurut Sang Hyang Kamahayanikan adalah moksa. Moksa berarti lepasnya ruh dari kurungan tubuh. Tubuh yang dijaga selalu, dipersiapkan untuk ditinggalkan dengan cara yang benar. Bagaimana jika sakit? Jawabannya “tan doṣa kita maṅhanakna tamba: tidak salah jika engkau berobat.” Intinya adalah menjaga agar tubuh dapat menjadi tumpuan saat ruh diluncurkan.

***

Sesuai dengan perintah Bhatara Wairocana, Kunjarakarna lalu pergi ke Yamaniloka. Disanalah tempat orang-orang disiksa karena berbagai macam sebab. Penguasanya tidak lain dari Dewa Yama. Ada banyak penyiksaan kepada ruh-ruh yang berdosa semasa hidupnya di tempat itu. Kunjarakarna bertanya tentang tragedi yang baru saja dia lihat kepada Yama. Yama menjawab, “Yang berbuat jahat maupun kebaikan selalu mendapat hasil.”

Kunjarakarna sosok yang cerdas, dia melanjutkan pertanyaannya, “Lalu mengapa Dewa Yama tidak berdosa karena telah merebus ruh-ruh itu?” Tentu saja Yama punya jawaban atas pertanyaan kritis Kunjarakarna, “Karena aku diperintahkan oleh Bhatara”.” Jawaban Yama barangkali memuaskan setiap tanda tanya di kepala Kunjarakarna, atau barangkali tidak.

Kita tidak pernah tahu, apa yang ada di dalam otak tokoh. Sekali lagi kita menyerahkan kuasa pada pengarang yang menjadi Tuhan dalam dunia ciptaannya. Kita hanya perlu mengikuti alur yang dibikinnya.

Pengarang cerita yang kita baca kali ini, juga menerangkan bahwa periuk tembaga yang biasa digunakan untuk merebus ruh, telah dibersihkan. Itu dilakukan karena akan ada tamu spesial yang datang. Dia datang untuk dijamu dengan penyiksaan selama seratus tahun. Tamu itu adalah Purnawijaya.

Mata Kunjarakarna terbelalak seperti akan keluar dari tempatnya. Bibirnya menganga karena dia tak percaya denga napa yang baru saja didengar.

“Purnawijaya? Bukankah dia anak Dewa Indra, penguasa surga?”

“Ya, dialah Purnawijaya. Dia harus dihukum karena jahat, licik, sombong, suka mengambil istri larangan, menghukum orang tanpa dosa.”

“Aku akan ke surga memberitahunya!”

***

“Purnawijaya, aku Kunjarakarna. Aku datang dari Yamaloka. Disana aku mendengar berita, kawah neraka telah disiapkan untukmu. Aku datang kemari hanya untuk memberitahumu hal yang penting itu. Agar kau terbebas dari segala dosa-dosa itu, menghadaplah pada Bhatara”

Berita siksa neraka tentu membuat Purnawijaya ketakutan setengah mati. Dia memohon belas kasihan agar dilepaskan dari segala macam penderitaan itu.

Kunjarakarna dan Purnawijaya menghadap Bhatara Wairocana. Mereka berdua sepakat akan datang bergantian. Yang pertama menghadap adalah Kunjarakarna. Dia memohon agar diberikan penjelasan tentang Dharma. Hal pertama yang dijelaskan adalah awal mula manusia. Begini penjelasan Bhatara Wairocana.

“Saat ayah ibumu masih anak-anak, kau berada di Lingga Purusa berwujud seperti timah cair. Yang ada di dalam tubuh ayahmu disebut kama, yang ada di dalam tubuh ibumu disebut ratih. Keduanya bertemu, lalu kau berubah nama menjadi Si Sanggraha. Saat kau diam di rahim ibumu, kau bernama Si Rena. Tiga bulan berikutnya, kau bernama Si Lalaca berwujud setetes telur. Tujuh hari setelah itu, datanglah Panca Mahabhuta. Akasa menjadi kepala. Pertiwi menjadi badan. Apah menjadi darah. Bayu menjadi nafas. Dan teja menjadi mata. Setelah sepuluh bulan, namamu adalah Syanu. Saat akan lahir, namamu Si Gagat. Saat akan keluar dari rahim ibumu, Sang Tejamaya namamu. Setelah lahir berlumuran darah, Si Pulang namamu. Setelah dimandikan, kau bernama Sang Hyang Lengis. Setelah diberi boreh, kau bernama Sang Hyang Sari. Saat bisa menyebut ayah ibu, namamu adalah Si Tutur. Saat bisa berlari, kau bernama Si Sanggraha. Saat engkau dikawinkan, kau bernama Si Sanggata. Kunjarakarna, karena begitu besar hutangmu pada orang tua, jangan kau tak berbakti pada mereka. Lebih lagi pada sang Pandita. Jangan iri dengki pada sesama. Itulah rahasia ajaranku.”

Setelah itu, ada lagi ajaran penghilang dosa yang diajarkan oleh Bhatara Wairocana. “Penghilang dosa memang jauh tampaknya. Tapi sesungguhnya ia dekat. Ajñana juga cipta nirmala. Kesadaranlah yang menciptakan kesucian.” Kunjarakarna terbebaskan dari penderitaannya, juga dari wujud Yaksanya. Ia kembali berwujud dewata.

Bagaimana dengan Purnawijaya? Dia juga mendekat dan memohon anugerah kepada Bhatara Wairocana. “Ada lima bhuta di dalam tubuh. Kalahkan kelimanya. Hilangkan ketamakan dalam dirimu dengan sempurna. Kuasai pula badanmu. Berbuat, berkata, dan berpikirlah yang baik dan suci. Jangan terpengaruh pada segala milik. Jangan berpaling pada nafsu. Dosa itu tak jauh dan tak dekat, mereka lahir dari diri kita sendiri. Semoga hilanglah segala dosamu dengan kunci ajñana. Jangan takut mati Purnawijaya. Ibarat sakit, kematian sungguh tidak ada obatnya. Karena demikianlah hukumnya. Satu hal yang kau harus pahami, mati sama dengan tidur. Kau tetap akan disiksa di dalam kawah, tetapi hanya selama sepuluh hari. Di hari ke sebelas, kau akan hidup lagi dan berhenti mengalami penderitaan.”

Pada akhirnya, Purnawijaya dihukum selama sepuluh hari. Dia berhasil terbebas dari ancaman hukuman selama seratus tahun karena telah mendengarkan ajaran Dharma. Buddha memberkatinya dengan pembebasan. Setelah semua itu berlalu, Purnawijaya tidak mengulangi segala kesalahannya. Ia menjadi pertapa. Menarik diri dari keramaian dunia, seperti kura-kura menarik tubuhnya dan berlindung dalam cangkangnya. Di dalam cangkang itu, tak mungkin ada lampu. Cangkang itu gelap tanpa cahaya. Sama seperti malam paling gelap di bulan Magha. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Next Post

Sosok Alm. Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta M.A || Pembuka URW Media Tahun 2021

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Sosok Alm. Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta M.A || Pembuka URW Media Tahun 2021

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co