3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peleburan Dosa Ala Buddha

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
January 12, 2021
in Esai
Peleburan Dosa Ala Buddha

[Ilustrasi foto: Mursal Buyung]

Mari kita berpaling sebentar dari cerita Lubdaka yang Siwaistik. Hari ini, kita akan membaca dan menafsir satu cerita yang lain tentang tokoh bernama Kunjarakarna. Kunjara berarti gajah, sedangkan Karna berarti telinga. Ya, nama lain tokoh cerita kita adalah Telinga Gajah. Apa maksudnya? Dan apa hubungan Telinga Gajah dengan peleburan dosa?

Sumber bacaan yang kita pakai, tidak menjelaskan mengapa nama itu dipilih. Sebagaimana umumnya, kita hanya bisa tertunduk kalah dan menerima begitu saja kemahakuasaan pengarang. Di dalam cerita yang dia bangun, dialah Tuhannya. Sebagai pembaca, kita harus tunduk pada aturan main yang dia ciptakan. Kita tidak akan sulit melakukan hal itu, karena patuh, tunduk, manut, sudah jadi kebiasaan kita sehari-hari. Kita memang dibentuk oleh tradisi yang didasarkan atas kepatuhan.

Kunjarakarna bukanlah manusia, bukan raksasa, dan bukan juga dewa. Dia adalah Yaksa. Menurut kamus, Yaksa adalah makhluk setengah dewa. Meskipun begitu, dalam beberapa pustaka berbahasa Jawa Kuna, Yaksa dikelompokkan dengan raksasa, daitya, dan asura. Teks lain yang menyebutkan peranan Yaksa adalah Wana Parwa. Pada suatu episode dari Mahabharata, kita disajikan dialog antara Dharma Wangsa dengan Yaksa. Yaksa memberi Dharma Wangsa pertanyaan, salah satu contohnya “Siapakah yang menyebabkan matahari terbenam?” Pertanyaan Yaksa, selalu dapat dijawab dengan benar. Karena itu, Dharma Wangsa dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. Di akhir cerita, terbukalah sebuah rahasia, ternyata Yaksa yang berdialog dengan Dharma Wangsa adalah Dewa Dharma.

Para dewa memang senang menyamar. Barangkali itulah hobby dewa-dewa yang tak pernah kita sangka. Tentu saja dewa-dewa itu punya hobby lain, misalnya berperang, menggoda, memberi anugerah dan juga mengutuk.

***

Yaksa Kunjarakarna sangat ingin menyucikan penjelmaannya di masa silam, karena itu dia berusaha melakukan tapa di lambung gunung Mahameru. Di dalam tapanya, yang dipuja adalah Bhatara Sri Wairocana. Entah bagaimana caranya, dia sampai di alam Buddhi Citta. Kediaman Wairocana.

“Hamba memohon kepada Bhatara agar dilepaskan dari jerat penderitaan. Anugerahilah hamba Sang Hyang Dharma”, demikian kata Kunjarakarna kepada Bhatara Wairocana.

Sang Hyang Dharma yang dimaksud oleh Kunjarakarna adalah ajaran yang bersumber dari Bhatara Wairocana. Wairocana adalah salah satu dari lima Buddha Tathagata, empat Tathagata yang lain yaitu Aksobya, Amitabha, Amogasidhi dan Ratnasambhawa. Dengan kata lain, yang dimaksud sebagai Sang Hyang Dharma adalah ajaran Buddha.

Wairocana menjawab, “Ada banyak manusia yang mengetahui cara menghilangkan penderitaan dari dirinya, tapi Sang Hyang Dharma tidak dapat dirasakannya. Apa sebabnya? Tentu karena mereka dipengaruhi oleh kesenangan. Yang menyebabkan kesenangan adalah makan, minum, emas, budak dan berdandan.”

Semua hal yang menyenangkan itu terus menerus melekat pada pikiran manusia, itulah penyebab seseorang tidak dapat memahami Sang Hyang Dharma. Sebuah teks lain berjudul Sang Hyang Kamahayanikan menjelaskan bahwa makanan digunakan untuk menjaga tubuh. Maka jagalah tubuhmu [pahayu ta juga sariranta]. Apa tujuan menjaga tubuh?


āpan hayu ni śarīra nimitta niṅ katĕmwaniṅ suka, suka nimitta ni katĕmwan iṅ manah apagöh, manah apagöh nimitta ni dadi ni samādhi, samādhi nimitta niṅ katĕmwan iṅ kamokṣan.

[sebab kondisi baik tubuh adalah sebab mencapai kebahagiaan, kebahagiaan adalah sebab mencapai pikiran yang teguh, pikiran yang teguh penyebab tercapainya samadhi, samadhi adalah sebab mencapai kamoksan].


Tujuan akhir menjaga tubuh menurut Sang Hyang Kamahayanikan adalah moksa. Moksa berarti lepasnya ruh dari kurungan tubuh. Tubuh yang dijaga selalu, dipersiapkan untuk ditinggalkan dengan cara yang benar. Bagaimana jika sakit? Jawabannya “tan doṣa kita maṅhanakna tamba: tidak salah jika engkau berobat.” Intinya adalah menjaga agar tubuh dapat menjadi tumpuan saat ruh diluncurkan.

***

Sesuai dengan perintah Bhatara Wairocana, Kunjarakarna lalu pergi ke Yamaniloka. Disanalah tempat orang-orang disiksa karena berbagai macam sebab. Penguasanya tidak lain dari Dewa Yama. Ada banyak penyiksaan kepada ruh-ruh yang berdosa semasa hidupnya di tempat itu. Kunjarakarna bertanya tentang tragedi yang baru saja dia lihat kepada Yama. Yama menjawab, “Yang berbuat jahat maupun kebaikan selalu mendapat hasil.”

Kunjarakarna sosok yang cerdas, dia melanjutkan pertanyaannya, “Lalu mengapa Dewa Yama tidak berdosa karena telah merebus ruh-ruh itu?” Tentu saja Yama punya jawaban atas pertanyaan kritis Kunjarakarna, “Karena aku diperintahkan oleh Bhatara”.” Jawaban Yama barangkali memuaskan setiap tanda tanya di kepala Kunjarakarna, atau barangkali tidak.

Kita tidak pernah tahu, apa yang ada di dalam otak tokoh. Sekali lagi kita menyerahkan kuasa pada pengarang yang menjadi Tuhan dalam dunia ciptaannya. Kita hanya perlu mengikuti alur yang dibikinnya.

Pengarang cerita yang kita baca kali ini, juga menerangkan bahwa periuk tembaga yang biasa digunakan untuk merebus ruh, telah dibersihkan. Itu dilakukan karena akan ada tamu spesial yang datang. Dia datang untuk dijamu dengan penyiksaan selama seratus tahun. Tamu itu adalah Purnawijaya.

Mata Kunjarakarna terbelalak seperti akan keluar dari tempatnya. Bibirnya menganga karena dia tak percaya denga napa yang baru saja didengar.

“Purnawijaya? Bukankah dia anak Dewa Indra, penguasa surga?”

“Ya, dialah Purnawijaya. Dia harus dihukum karena jahat, licik, sombong, suka mengambil istri larangan, menghukum orang tanpa dosa.”

“Aku akan ke surga memberitahunya!”

***

“Purnawijaya, aku Kunjarakarna. Aku datang dari Yamaloka. Disana aku mendengar berita, kawah neraka telah disiapkan untukmu. Aku datang kemari hanya untuk memberitahumu hal yang penting itu. Agar kau terbebas dari segala dosa-dosa itu, menghadaplah pada Bhatara”

Berita siksa neraka tentu membuat Purnawijaya ketakutan setengah mati. Dia memohon belas kasihan agar dilepaskan dari segala macam penderitaan itu.

Kunjarakarna dan Purnawijaya menghadap Bhatara Wairocana. Mereka berdua sepakat akan datang bergantian. Yang pertama menghadap adalah Kunjarakarna. Dia memohon agar diberikan penjelasan tentang Dharma. Hal pertama yang dijelaskan adalah awal mula manusia. Begini penjelasan Bhatara Wairocana.

“Saat ayah ibumu masih anak-anak, kau berada di Lingga Purusa berwujud seperti timah cair. Yang ada di dalam tubuh ayahmu disebut kama, yang ada di dalam tubuh ibumu disebut ratih. Keduanya bertemu, lalu kau berubah nama menjadi Si Sanggraha. Saat kau diam di rahim ibumu, kau bernama Si Rena. Tiga bulan berikutnya, kau bernama Si Lalaca berwujud setetes telur. Tujuh hari setelah itu, datanglah Panca Mahabhuta. Akasa menjadi kepala. Pertiwi menjadi badan. Apah menjadi darah. Bayu menjadi nafas. Dan teja menjadi mata. Setelah sepuluh bulan, namamu adalah Syanu. Saat akan lahir, namamu Si Gagat. Saat akan keluar dari rahim ibumu, Sang Tejamaya namamu. Setelah lahir berlumuran darah, Si Pulang namamu. Setelah dimandikan, kau bernama Sang Hyang Lengis. Setelah diberi boreh, kau bernama Sang Hyang Sari. Saat bisa menyebut ayah ibu, namamu adalah Si Tutur. Saat bisa berlari, kau bernama Si Sanggraha. Saat engkau dikawinkan, kau bernama Si Sanggata. Kunjarakarna, karena begitu besar hutangmu pada orang tua, jangan kau tak berbakti pada mereka. Lebih lagi pada sang Pandita. Jangan iri dengki pada sesama. Itulah rahasia ajaranku.”

Setelah itu, ada lagi ajaran penghilang dosa yang diajarkan oleh Bhatara Wairocana. “Penghilang dosa memang jauh tampaknya. Tapi sesungguhnya ia dekat. Ajñana juga cipta nirmala. Kesadaranlah yang menciptakan kesucian.” Kunjarakarna terbebaskan dari penderitaannya, juga dari wujud Yaksanya. Ia kembali berwujud dewata.

Bagaimana dengan Purnawijaya? Dia juga mendekat dan memohon anugerah kepada Bhatara Wairocana. “Ada lima bhuta di dalam tubuh. Kalahkan kelimanya. Hilangkan ketamakan dalam dirimu dengan sempurna. Kuasai pula badanmu. Berbuat, berkata, dan berpikirlah yang baik dan suci. Jangan terpengaruh pada segala milik. Jangan berpaling pada nafsu. Dosa itu tak jauh dan tak dekat, mereka lahir dari diri kita sendiri. Semoga hilanglah segala dosamu dengan kunci ajñana. Jangan takut mati Purnawijaya. Ibarat sakit, kematian sungguh tidak ada obatnya. Karena demikianlah hukumnya. Satu hal yang kau harus pahami, mati sama dengan tidur. Kau tetap akan disiksa di dalam kawah, tetapi hanya selama sepuluh hari. Di hari ke sebelas, kau akan hidup lagi dan berhenti mengalami penderitaan.”

Pada akhirnya, Purnawijaya dihukum selama sepuluh hari. Dia berhasil terbebas dari ancaman hukuman selama seratus tahun karena telah mendengarkan ajaran Dharma. Buddha memberkatinya dengan pembebasan. Setelah semua itu berlalu, Purnawijaya tidak mengulangi segala kesalahannya. Ia menjadi pertapa. Menarik diri dari keramaian dunia, seperti kura-kura menarik tubuhnya dan berlindung dalam cangkangnya. Di dalam cangkang itu, tak mungkin ada lampu. Cangkang itu gelap tanpa cahaya. Sama seperti malam paling gelap di bulan Magha. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Next Post

Sosok Alm. Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta M.A || Pembuka URW Media Tahun 2021

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Sosok Alm. Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta M.A || Pembuka URW Media Tahun 2021

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co