12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peleburan Dosa Ala Buddha

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
January 12, 2021
in Esai
Peleburan Dosa Ala Buddha

[Ilustrasi foto: Mursal Buyung]

Mari kita berpaling sebentar dari cerita Lubdaka yang Siwaistik. Hari ini, kita akan membaca dan menafsir satu cerita yang lain tentang tokoh bernama Kunjarakarna. Kunjara berarti gajah, sedangkan Karna berarti telinga. Ya, nama lain tokoh cerita kita adalah Telinga Gajah. Apa maksudnya? Dan apa hubungan Telinga Gajah dengan peleburan dosa?

Sumber bacaan yang kita pakai, tidak menjelaskan mengapa nama itu dipilih. Sebagaimana umumnya, kita hanya bisa tertunduk kalah dan menerima begitu saja kemahakuasaan pengarang. Di dalam cerita yang dia bangun, dialah Tuhannya. Sebagai pembaca, kita harus tunduk pada aturan main yang dia ciptakan. Kita tidak akan sulit melakukan hal itu, karena patuh, tunduk, manut, sudah jadi kebiasaan kita sehari-hari. Kita memang dibentuk oleh tradisi yang didasarkan atas kepatuhan.

Kunjarakarna bukanlah manusia, bukan raksasa, dan bukan juga dewa. Dia adalah Yaksa. Menurut kamus, Yaksa adalah makhluk setengah dewa. Meskipun begitu, dalam beberapa pustaka berbahasa Jawa Kuna, Yaksa dikelompokkan dengan raksasa, daitya, dan asura. Teks lain yang menyebutkan peranan Yaksa adalah Wana Parwa. Pada suatu episode dari Mahabharata, kita disajikan dialog antara Dharma Wangsa dengan Yaksa. Yaksa memberi Dharma Wangsa pertanyaan, salah satu contohnya “Siapakah yang menyebabkan matahari terbenam?” Pertanyaan Yaksa, selalu dapat dijawab dengan benar. Karena itu, Dharma Wangsa dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. Di akhir cerita, terbukalah sebuah rahasia, ternyata Yaksa yang berdialog dengan Dharma Wangsa adalah Dewa Dharma.

Para dewa memang senang menyamar. Barangkali itulah hobby dewa-dewa yang tak pernah kita sangka. Tentu saja dewa-dewa itu punya hobby lain, misalnya berperang, menggoda, memberi anugerah dan juga mengutuk.

***

Yaksa Kunjarakarna sangat ingin menyucikan penjelmaannya di masa silam, karena itu dia berusaha melakukan tapa di lambung gunung Mahameru. Di dalam tapanya, yang dipuja adalah Bhatara Sri Wairocana. Entah bagaimana caranya, dia sampai di alam Buddhi Citta. Kediaman Wairocana.

“Hamba memohon kepada Bhatara agar dilepaskan dari jerat penderitaan. Anugerahilah hamba Sang Hyang Dharma”, demikian kata Kunjarakarna kepada Bhatara Wairocana.

Sang Hyang Dharma yang dimaksud oleh Kunjarakarna adalah ajaran yang bersumber dari Bhatara Wairocana. Wairocana adalah salah satu dari lima Buddha Tathagata, empat Tathagata yang lain yaitu Aksobya, Amitabha, Amogasidhi dan Ratnasambhawa. Dengan kata lain, yang dimaksud sebagai Sang Hyang Dharma adalah ajaran Buddha.

Wairocana menjawab, “Ada banyak manusia yang mengetahui cara menghilangkan penderitaan dari dirinya, tapi Sang Hyang Dharma tidak dapat dirasakannya. Apa sebabnya? Tentu karena mereka dipengaruhi oleh kesenangan. Yang menyebabkan kesenangan adalah makan, minum, emas, budak dan berdandan.”

Semua hal yang menyenangkan itu terus menerus melekat pada pikiran manusia, itulah penyebab seseorang tidak dapat memahami Sang Hyang Dharma. Sebuah teks lain berjudul Sang Hyang Kamahayanikan menjelaskan bahwa makanan digunakan untuk menjaga tubuh. Maka jagalah tubuhmu [pahayu ta juga sariranta]. Apa tujuan menjaga tubuh?


āpan hayu ni śarīra nimitta niṅ katĕmwaniṅ suka, suka nimitta ni katĕmwan iṅ manah apagöh, manah apagöh nimitta ni dadi ni samādhi, samādhi nimitta niṅ katĕmwan iṅ kamokṣan.

[sebab kondisi baik tubuh adalah sebab mencapai kebahagiaan, kebahagiaan adalah sebab mencapai pikiran yang teguh, pikiran yang teguh penyebab tercapainya samadhi, samadhi adalah sebab mencapai kamoksan].


Tujuan akhir menjaga tubuh menurut Sang Hyang Kamahayanikan adalah moksa. Moksa berarti lepasnya ruh dari kurungan tubuh. Tubuh yang dijaga selalu, dipersiapkan untuk ditinggalkan dengan cara yang benar. Bagaimana jika sakit? Jawabannya “tan doṣa kita maṅhanakna tamba: tidak salah jika engkau berobat.” Intinya adalah menjaga agar tubuh dapat menjadi tumpuan saat ruh diluncurkan.

***

Sesuai dengan perintah Bhatara Wairocana, Kunjarakarna lalu pergi ke Yamaniloka. Disanalah tempat orang-orang disiksa karena berbagai macam sebab. Penguasanya tidak lain dari Dewa Yama. Ada banyak penyiksaan kepada ruh-ruh yang berdosa semasa hidupnya di tempat itu. Kunjarakarna bertanya tentang tragedi yang baru saja dia lihat kepada Yama. Yama menjawab, “Yang berbuat jahat maupun kebaikan selalu mendapat hasil.”

Kunjarakarna sosok yang cerdas, dia melanjutkan pertanyaannya, “Lalu mengapa Dewa Yama tidak berdosa karena telah merebus ruh-ruh itu?” Tentu saja Yama punya jawaban atas pertanyaan kritis Kunjarakarna, “Karena aku diperintahkan oleh Bhatara”.” Jawaban Yama barangkali memuaskan setiap tanda tanya di kepala Kunjarakarna, atau barangkali tidak.

Kita tidak pernah tahu, apa yang ada di dalam otak tokoh. Sekali lagi kita menyerahkan kuasa pada pengarang yang menjadi Tuhan dalam dunia ciptaannya. Kita hanya perlu mengikuti alur yang dibikinnya.

Pengarang cerita yang kita baca kali ini, juga menerangkan bahwa periuk tembaga yang biasa digunakan untuk merebus ruh, telah dibersihkan. Itu dilakukan karena akan ada tamu spesial yang datang. Dia datang untuk dijamu dengan penyiksaan selama seratus tahun. Tamu itu adalah Purnawijaya.

Mata Kunjarakarna terbelalak seperti akan keluar dari tempatnya. Bibirnya menganga karena dia tak percaya denga napa yang baru saja didengar.

“Purnawijaya? Bukankah dia anak Dewa Indra, penguasa surga?”

“Ya, dialah Purnawijaya. Dia harus dihukum karena jahat, licik, sombong, suka mengambil istri larangan, menghukum orang tanpa dosa.”

“Aku akan ke surga memberitahunya!”

***

“Purnawijaya, aku Kunjarakarna. Aku datang dari Yamaloka. Disana aku mendengar berita, kawah neraka telah disiapkan untukmu. Aku datang kemari hanya untuk memberitahumu hal yang penting itu. Agar kau terbebas dari segala dosa-dosa itu, menghadaplah pada Bhatara”

Berita siksa neraka tentu membuat Purnawijaya ketakutan setengah mati. Dia memohon belas kasihan agar dilepaskan dari segala macam penderitaan itu.

Kunjarakarna dan Purnawijaya menghadap Bhatara Wairocana. Mereka berdua sepakat akan datang bergantian. Yang pertama menghadap adalah Kunjarakarna. Dia memohon agar diberikan penjelasan tentang Dharma. Hal pertama yang dijelaskan adalah awal mula manusia. Begini penjelasan Bhatara Wairocana.

“Saat ayah ibumu masih anak-anak, kau berada di Lingga Purusa berwujud seperti timah cair. Yang ada di dalam tubuh ayahmu disebut kama, yang ada di dalam tubuh ibumu disebut ratih. Keduanya bertemu, lalu kau berubah nama menjadi Si Sanggraha. Saat kau diam di rahim ibumu, kau bernama Si Rena. Tiga bulan berikutnya, kau bernama Si Lalaca berwujud setetes telur. Tujuh hari setelah itu, datanglah Panca Mahabhuta. Akasa menjadi kepala. Pertiwi menjadi badan. Apah menjadi darah. Bayu menjadi nafas. Dan teja menjadi mata. Setelah sepuluh bulan, namamu adalah Syanu. Saat akan lahir, namamu Si Gagat. Saat akan keluar dari rahim ibumu, Sang Tejamaya namamu. Setelah lahir berlumuran darah, Si Pulang namamu. Setelah dimandikan, kau bernama Sang Hyang Lengis. Setelah diberi boreh, kau bernama Sang Hyang Sari. Saat bisa menyebut ayah ibu, namamu adalah Si Tutur. Saat bisa berlari, kau bernama Si Sanggraha. Saat engkau dikawinkan, kau bernama Si Sanggata. Kunjarakarna, karena begitu besar hutangmu pada orang tua, jangan kau tak berbakti pada mereka. Lebih lagi pada sang Pandita. Jangan iri dengki pada sesama. Itulah rahasia ajaranku.”

Setelah itu, ada lagi ajaran penghilang dosa yang diajarkan oleh Bhatara Wairocana. “Penghilang dosa memang jauh tampaknya. Tapi sesungguhnya ia dekat. Ajñana juga cipta nirmala. Kesadaranlah yang menciptakan kesucian.” Kunjarakarna terbebaskan dari penderitaannya, juga dari wujud Yaksanya. Ia kembali berwujud dewata.

Bagaimana dengan Purnawijaya? Dia juga mendekat dan memohon anugerah kepada Bhatara Wairocana. “Ada lima bhuta di dalam tubuh. Kalahkan kelimanya. Hilangkan ketamakan dalam dirimu dengan sempurna. Kuasai pula badanmu. Berbuat, berkata, dan berpikirlah yang baik dan suci. Jangan terpengaruh pada segala milik. Jangan berpaling pada nafsu. Dosa itu tak jauh dan tak dekat, mereka lahir dari diri kita sendiri. Semoga hilanglah segala dosamu dengan kunci ajñana. Jangan takut mati Purnawijaya. Ibarat sakit, kematian sungguh tidak ada obatnya. Karena demikianlah hukumnya. Satu hal yang kau harus pahami, mati sama dengan tidur. Kau tetap akan disiksa di dalam kawah, tetapi hanya selama sepuluh hari. Di hari ke sebelas, kau akan hidup lagi dan berhenti mengalami penderitaan.”

Pada akhirnya, Purnawijaya dihukum selama sepuluh hari. Dia berhasil terbebas dari ancaman hukuman selama seratus tahun karena telah mendengarkan ajaran Dharma. Buddha memberkatinya dengan pembebasan. Setelah semua itu berlalu, Purnawijaya tidak mengulangi segala kesalahannya. Ia menjadi pertapa. Menarik diri dari keramaian dunia, seperti kura-kura menarik tubuhnya dan berlindung dalam cangkangnya. Di dalam cangkang itu, tak mungkin ada lampu. Cangkang itu gelap tanpa cahaya. Sama seperti malam paling gelap di bulan Magha. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Next Post

Sosok Alm. Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta M.A || Pembuka URW Media Tahun 2021

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Sosok Alm. Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta M.A || Pembuka URW Media Tahun 2021

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co