14 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
January 12, 2021
in Esai
Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Ilustrasi diolah tatkala.co dari sumber gambar di Google

Minggu-minggu ini saya “sedikit” dikejutkan dengan berita dihentikannya peredaran koran Tempo secara cetak, dan fokus mereka di peredaran digital. Mengapa saya katakan “sedikit” terkejut? Ada dua alasan.

Pertama karena koran Tempo cetak pun selama ini ini tak bisa kita temukan di Bali. Seingat saya koran ini hanya dapat saya beli di agen koran di Denpasar, itupun hanya dalam setahun dua tahun awal penerbitannya (maaf kalau saya salah, karena saya tinggal jauh di pedalaman Buleleng barat ).

Yang kedua, karena fenomena ini sudah berjalan sekian tahun. Satu persatu media cetak konvensional berguguran diterjang disrupsi di bidang teknologi informasi saat ini. Beberapa ada yang langsung tutup buku, seperti tabloid Bola, ada yang mengurangi halaman setipis mungkin seperti koran kebanggaan rakyat Bali, Bali Post. Dan ada yang menempuh jalan seperti koran Tempo yang beralih sepenuhnya ke digital, tanpa opsi menutup diri, cuma menghentikan peredaran yang edisi cetak saja.

Tetapi seperti kata sahabat saya, teknologi sendiri hanyalah sekedar sarana,bukan gagasan itu sendiri. Jadi selama gagasan yang hendak disebarluaskan media itu ke publik menarik dan berguna untuk kemaslahatan bersama, dengan sarana apapun yang dipakai niscaya akan tetap dicari dan dijadikan rujukan oleh masyarakat luas.

Yang kita amati, media media dengan konten yang tak cukup penting, sekadar untuk hiburan atau hobby, adalah yang paling pertama terkena arus disrupsi ini. Tabloid Bola, Majalah Popular, Trubus adalah sekian diantaranya. Kemudian media kesehatan, pengembangan diri, Infotainment menyusul di gerbong berikutnya. Ini bisa dimaklumi, karena saat ini hanya dengan jari, masyarakat bisa mendapatkan informasi apapun yang mereka inginkan. Info yang tersedia lengkap, dan aktual, cuma memerlukan kecerdasan kita untuk memilah mana informasi yang benar ataupun bohong. Tapi itupun bisa diakali dengan memilih berita dari sumber  yang kita percaya.

Yang masih bisa bertahan saat ini mungkin hanya  media dengan konten serius. Berita yang bisa dipertanggung jawabkan, dijadikan rujukan oleh banyak orang, dan cuma sedikit keraguan saat kita mendapat informasi dari media itu. Saya sendiri sampai saat ini tetap berlangganan Kompas harian dan Tempo (harian dan majalah) secara digital. Jadi saya bisa tetap membaca keduanya dimanapun saya berada, asal ada jaringan internet dan kuota kita mencukupi. Seandainya ada berita-berita yang saya baca di luar dua media itu cukup meragukan, pasti saya konfirmasi  ke Kompas atau Tempo. Sesederhana itu sekarang hidup saya.

Tetapi ada satu yang cukup menyesakkan dada saya, pilihan pemberitaan Tempo yang belakangan sering berseberangan dengan pemerintah membuat ketakhadiran edisi cetaknya tak terlalu dihiraukan oleh pembaca. Itu yang saya baca di akun resmi mereka yang ditanggapi oleh netizen. Bahkan lebih dominan adalah tempik sorak yang menyertai kepergian edisi cetak mereka. Mungkin ini yang membedakan penerimaan masyarakat kepada Tempo dan Kompas, Dua barometer media cetak tanah air, yang terbukti tangguh melintasi zaman dan tetap bertahan diumur  mereka yang nyaris setengah abad.

Pada kesempatan ini saya ingin menimbang-nimbang nasib dua media kesayangan saya ini. Kompas dan Tempo tak diragukan lagi adalah jurnalime ideal kita, media informasi terpercaya dan sekaligus pilar ke-empat demokarasi. Jadi demokrasi tanpa jurnalisme yang kuat, mesti kita ragukan masa depannya dan manfaatnya bagi bangsa ini.

Kompas yang didirikan dua sahabat, PK Ojong dan Jakob Oetama terkenal dengan filosofi mendidiknya, sesuai latar belakang keduanya yang pendidikan guru. Untuk informasi yang mencerahkan, yang merekatkan nilai kebangsaan , menumbuhkan toleransi, penghormatan pada yang lemah atau minoritas, tak ada yang bisa diragukan lagi dari mereka. Pramoedya Ananta Toer mengisi hari tuanya dengan membuat kliping tentang Indonesia. Setiap hari dia membeli dua edisi koran, karena dia tak mau terlewat halaman di baliknya yang terkena gunting kliping. Begitu berharganya informasi koran yang dibaca bagi Pram, dan saya membayangkan koran itu mestinya Kompas.

Tetapi untuk tugasnya sebagai pilar ke-empat demokrasi, mengontrol jalannya pemerintah yang dianggap keluar jalur. Tanpa mengurangi  hormat pada Kompas, saya lebih memilih Tempo. Tempo yang sejak terbitnya telah dua kali mengalami pembreidelan, pertama saat memberitakan impor kapal selam yang menyinggung Habibie, dan sekali lagi menjelang jatuhnya Orde Baru di tahun 1997. Ini terkait pemberitaan mereka yang berani mengungkap bobrok pemerintah saat itu. Dan saat itu dilakukan pada saat rezim sedang kuat-kuatnya, maka hal itu perlu diapresiasi dengan selayaknya.

Kompas pun pernah mengalami hal serupa, saat beritanya dianggap mengganggu stabilitas (istilah rezim saat itu). Mereka pun pernah terancam pembreidelan, namun dengan sigap kedua pemimpinnya mengambil langkah adaptif dengan meminta maaf dan berjanji menyesuaikan isi berita dengan selera pemerintah.

Dari sana kita bisa belajar tentang cara ke-dua media itu mengambil perannya sebagai kontrol pemerintah. Kompas dengan gayanya yang santun, tak terlalu vulgar dan kritikannya tersembunyi halus dalam tulisan, bisa kita lihat di tulisan Budiman Tanurejo saban hari Sabtu. Terbukti lebih bisa berselancar di atas gelombang dan mendapat simpati dari masyarakat pembaca Indonesia.

Tempo yang terbiasa to the point, mengembangkan jurnalisme investigasi akhirnya menciptakan musuh-musuhnya sendiri. Kalau di masa lalu saat pemerintah tak cukup bagus dimata masyarakat, Tempo akan menjadi rujukan utama tentang situasi yang dianggap menyimpang dari pemerintah. Tapi saat ini, kala pemerintah terlihat cukup mengakomodasi suara rakyat, prioritas pembangunan sesuai harapan mereka. Maka kritik-kritik Tempo terasa seperti suara-suara nyinyir yang sengaja hendak menjelekkan pemerintah.

Tapi pengalaman saya sebagai pembaca, banyak kasus korupsi terungkap setelah ada laporan investigasi di Tempo. Beberapa yang saya ingat, suap daging di Kementerian Agama, skandal Hambalang dan terakhir kasus suap expor bibit lobster. Sudah jauh-jauh hari terendus oleh awak Tempo dan terbukti di kemudian hari terungkap sebagai kasus korupsi yang cukup besar. Dan hal semacam ini jarang saya temukan di Kompas.

Hal yang cukup merisaukan saya saat ini adalah posisi Tempo yang dilihat ber-oposisi dengan pemerintah tampaknya membuat sejumlah penulis enggan untuk menyumbangkan tulisannya di Tempo, mungkin karena mereka tak mau dianggap satu kubu dengan Tempo, atau tanpa menafikan mereka sudah tak sejalan lagi dengan pilihan sikap Tempo.

Jadi kalau dulu saya membeli Majalah Tempo, bagian pertama yang saya cari adalah rubrik kolom yang biasanya diisi penulis-penulis terbaik Indonesia di bidangnya, dengan tulisan yang jernih, tajam dan mempesona. Yang saya ingat salah satunya Imam Prasojo, Aswi Warman Adnan dan banyak lainnya.

Dan untuk situasi semacam ini, Kompas terbukti lebih unggul karena sampai hari ini semua penulis dan intelektual tanah air tak ragu untuk sumbang pendapat di Kompas. Jadi terbukti untuk kultur masyarakat kita, jurnalisme Kompas yang lembut, sopan dan tersamar mungkin lebih bisa di terima. Tapi bagaimanapun kritik adalah sebuah keniscayaan. Seperti kata GM, ” Karena tak ada yang final dalam kehidupan ini, kita hari ini bukanlah orang yang sama dengan kita minggu depan.” Jadi untuk urusan kritik saya lebih memilih Tempo.

Bisa saya simpulkan, untuk urusan berita saya pasti mencarinya dari dua sumber ini, atau mengklarifikasinya dengan dua media ini. Kedua media ini bagi saya saling melengkapi satu sama lain. Untuk berita yang menggembirakan, mencerahkan, membesarkan hati, tapi akurat saya pasti pilih Kompas. Tapi saat hati kecil saya merasa ada sesuatu yang sedikit mengusik nurani atas kebijakan pemerintah, termasuk instansi dan perangkatnya, saya pasti segera menengok Tempo. Membaca, menyimak dan menganalisanya. Dan urusan menyetujui berita itu, adalah hak prerogatif saya selaku sidang pembaca yang terhormat.

Akhir kata kalau saya ditanya pilih Kompas atau Tempo, mungkin bisa saya jawab dengan cerita ini; Kalau harian Kompas sampai tutup buku atau tak terbit lagi baik cetak maupun digital, saya akan mengibarkan bendera setengah tiang untuk runtuhnya pilar ke-empat Demokrasi Indonesia. Tetapi kalau itu menimpa Tempo, baik koran apalagi majalah, mungkin bendera setengah tiang saya naikkan agak lebih lama lagi, minimal satu minggu. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Romantis Pernikahan Virtual Gung De & Miradini Via Aplikasi Zoom Tokyo-Bali

Next Post

Peleburan Dosa Ala Buddha

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
0
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

Read moreDetails

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

by Chandra Manikan
June 10, 2026
0
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

Read moreDetails

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
0
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

Read moreDetails

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
0
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

Read moreDetails

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
0
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

Read moreDetails

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
0
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

Read moreDetails

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

Read moreDetails
Next Post
Peleburan Dosa Ala Buddha

Peleburan Dosa Ala Buddha

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti
Cerpen

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan
Puisi

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

by IRZI
June 13, 2026
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan
Budaya

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

by tatkala
June 13, 2026
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word
Ulas Rupa

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi
Bahasa

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

by I Made Sudiana
June 13, 2026
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
Ulas Musik

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
Bung Karno dalam Puisi   
Esai

Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa
Pendidikan

Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa

DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada...

by tatkala
June 12, 2026
OSIS dan MPK SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Gelar Bakti Sosial di Yayasan Bali Baby Home dan Yayasan Sayangi Bali
Pendidikan

OSIS dan MPK SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Gelar Bakti Sosial di Yayasan Bali Baby Home dan Yayasan Sayangi Bali

Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
June 12, 2026
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?
Bahasa

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri
Esai

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

by Angga Wijaya
June 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co