24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
January 12, 2021
in Esai
Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Ilustrasi diolah tatkala.co dari sumber gambar di Google

Minggu-minggu ini saya “sedikit” dikejutkan dengan berita dihentikannya peredaran koran Tempo secara cetak, dan fokus mereka di peredaran digital. Mengapa saya katakan “sedikit” terkejut? Ada dua alasan.

Pertama karena koran Tempo cetak pun selama ini ini tak bisa kita temukan di Bali. Seingat saya koran ini hanya dapat saya beli di agen koran di Denpasar, itupun hanya dalam setahun dua tahun awal penerbitannya (maaf kalau saya salah, karena saya tinggal jauh di pedalaman Buleleng barat ).

Yang kedua, karena fenomena ini sudah berjalan sekian tahun. Satu persatu media cetak konvensional berguguran diterjang disrupsi di bidang teknologi informasi saat ini. Beberapa ada yang langsung tutup buku, seperti tabloid Bola, ada yang mengurangi halaman setipis mungkin seperti koran kebanggaan rakyat Bali, Bali Post. Dan ada yang menempuh jalan seperti koran Tempo yang beralih sepenuhnya ke digital, tanpa opsi menutup diri, cuma menghentikan peredaran yang edisi cetak saja.

Tetapi seperti kata sahabat saya, teknologi sendiri hanyalah sekedar sarana,bukan gagasan itu sendiri. Jadi selama gagasan yang hendak disebarluaskan media itu ke publik menarik dan berguna untuk kemaslahatan bersama, dengan sarana apapun yang dipakai niscaya akan tetap dicari dan dijadikan rujukan oleh masyarakat luas.

Yang kita amati, media media dengan konten yang tak cukup penting, sekadar untuk hiburan atau hobby, adalah yang paling pertama terkena arus disrupsi ini. Tabloid Bola, Majalah Popular, Trubus adalah sekian diantaranya. Kemudian media kesehatan, pengembangan diri, Infotainment menyusul di gerbong berikutnya. Ini bisa dimaklumi, karena saat ini hanya dengan jari, masyarakat bisa mendapatkan informasi apapun yang mereka inginkan. Info yang tersedia lengkap, dan aktual, cuma memerlukan kecerdasan kita untuk memilah mana informasi yang benar ataupun bohong. Tapi itupun bisa diakali dengan memilih berita dari sumber  yang kita percaya.

Yang masih bisa bertahan saat ini mungkin hanya  media dengan konten serius. Berita yang bisa dipertanggung jawabkan, dijadikan rujukan oleh banyak orang, dan cuma sedikit keraguan saat kita mendapat informasi dari media itu. Saya sendiri sampai saat ini tetap berlangganan Kompas harian dan Tempo (harian dan majalah) secara digital. Jadi saya bisa tetap membaca keduanya dimanapun saya berada, asal ada jaringan internet dan kuota kita mencukupi. Seandainya ada berita-berita yang saya baca di luar dua media itu cukup meragukan, pasti saya konfirmasi  ke Kompas atau Tempo. Sesederhana itu sekarang hidup saya.

Tetapi ada satu yang cukup menyesakkan dada saya, pilihan pemberitaan Tempo yang belakangan sering berseberangan dengan pemerintah membuat ketakhadiran edisi cetaknya tak terlalu dihiraukan oleh pembaca. Itu yang saya baca di akun resmi mereka yang ditanggapi oleh netizen. Bahkan lebih dominan adalah tempik sorak yang menyertai kepergian edisi cetak mereka. Mungkin ini yang membedakan penerimaan masyarakat kepada Tempo dan Kompas, Dua barometer media cetak tanah air, yang terbukti tangguh melintasi zaman dan tetap bertahan diumur  mereka yang nyaris setengah abad.

Pada kesempatan ini saya ingin menimbang-nimbang nasib dua media kesayangan saya ini. Kompas dan Tempo tak diragukan lagi adalah jurnalime ideal kita, media informasi terpercaya dan sekaligus pilar ke-empat demokarasi. Jadi demokrasi tanpa jurnalisme yang kuat, mesti kita ragukan masa depannya dan manfaatnya bagi bangsa ini.

Kompas yang didirikan dua sahabat, PK Ojong dan Jakob Oetama terkenal dengan filosofi mendidiknya, sesuai latar belakang keduanya yang pendidikan guru. Untuk informasi yang mencerahkan, yang merekatkan nilai kebangsaan , menumbuhkan toleransi, penghormatan pada yang lemah atau minoritas, tak ada yang bisa diragukan lagi dari mereka. Pramoedya Ananta Toer mengisi hari tuanya dengan membuat kliping tentang Indonesia. Setiap hari dia membeli dua edisi koran, karena dia tak mau terlewat halaman di baliknya yang terkena gunting kliping. Begitu berharganya informasi koran yang dibaca bagi Pram, dan saya membayangkan koran itu mestinya Kompas.

Tetapi untuk tugasnya sebagai pilar ke-empat demokrasi, mengontrol jalannya pemerintah yang dianggap keluar jalur. Tanpa mengurangi  hormat pada Kompas, saya lebih memilih Tempo. Tempo yang sejak terbitnya telah dua kali mengalami pembreidelan, pertama saat memberitakan impor kapal selam yang menyinggung Habibie, dan sekali lagi menjelang jatuhnya Orde Baru di tahun 1997. Ini terkait pemberitaan mereka yang berani mengungkap bobrok pemerintah saat itu. Dan saat itu dilakukan pada saat rezim sedang kuat-kuatnya, maka hal itu perlu diapresiasi dengan selayaknya.

Kompas pun pernah mengalami hal serupa, saat beritanya dianggap mengganggu stabilitas (istilah rezim saat itu). Mereka pun pernah terancam pembreidelan, namun dengan sigap kedua pemimpinnya mengambil langkah adaptif dengan meminta maaf dan berjanji menyesuaikan isi berita dengan selera pemerintah.

Dari sana kita bisa belajar tentang cara ke-dua media itu mengambil perannya sebagai kontrol pemerintah. Kompas dengan gayanya yang santun, tak terlalu vulgar dan kritikannya tersembunyi halus dalam tulisan, bisa kita lihat di tulisan Budiman Tanurejo saban hari Sabtu. Terbukti lebih bisa berselancar di atas gelombang dan mendapat simpati dari masyarakat pembaca Indonesia.

Tempo yang terbiasa to the point, mengembangkan jurnalisme investigasi akhirnya menciptakan musuh-musuhnya sendiri. Kalau di masa lalu saat pemerintah tak cukup bagus dimata masyarakat, Tempo akan menjadi rujukan utama tentang situasi yang dianggap menyimpang dari pemerintah. Tapi saat ini, kala pemerintah terlihat cukup mengakomodasi suara rakyat, prioritas pembangunan sesuai harapan mereka. Maka kritik-kritik Tempo terasa seperti suara-suara nyinyir yang sengaja hendak menjelekkan pemerintah.

Tapi pengalaman saya sebagai pembaca, banyak kasus korupsi terungkap setelah ada laporan investigasi di Tempo. Beberapa yang saya ingat, suap daging di Kementerian Agama, skandal Hambalang dan terakhir kasus suap expor bibit lobster. Sudah jauh-jauh hari terendus oleh awak Tempo dan terbukti di kemudian hari terungkap sebagai kasus korupsi yang cukup besar. Dan hal semacam ini jarang saya temukan di Kompas.

Hal yang cukup merisaukan saya saat ini adalah posisi Tempo yang dilihat ber-oposisi dengan pemerintah tampaknya membuat sejumlah penulis enggan untuk menyumbangkan tulisannya di Tempo, mungkin karena mereka tak mau dianggap satu kubu dengan Tempo, atau tanpa menafikan mereka sudah tak sejalan lagi dengan pilihan sikap Tempo.

Jadi kalau dulu saya membeli Majalah Tempo, bagian pertama yang saya cari adalah rubrik kolom yang biasanya diisi penulis-penulis terbaik Indonesia di bidangnya, dengan tulisan yang jernih, tajam dan mempesona. Yang saya ingat salah satunya Imam Prasojo, Aswi Warman Adnan dan banyak lainnya.

Dan untuk situasi semacam ini, Kompas terbukti lebih unggul karena sampai hari ini semua penulis dan intelektual tanah air tak ragu untuk sumbang pendapat di Kompas. Jadi terbukti untuk kultur masyarakat kita, jurnalisme Kompas yang lembut, sopan dan tersamar mungkin lebih bisa di terima. Tapi bagaimanapun kritik adalah sebuah keniscayaan. Seperti kata GM, ” Karena tak ada yang final dalam kehidupan ini, kita hari ini bukanlah orang yang sama dengan kita minggu depan.” Jadi untuk urusan kritik saya lebih memilih Tempo.

Bisa saya simpulkan, untuk urusan berita saya pasti mencarinya dari dua sumber ini, atau mengklarifikasinya dengan dua media ini. Kedua media ini bagi saya saling melengkapi satu sama lain. Untuk berita yang menggembirakan, mencerahkan, membesarkan hati, tapi akurat saya pasti pilih Kompas. Tapi saat hati kecil saya merasa ada sesuatu yang sedikit mengusik nurani atas kebijakan pemerintah, termasuk instansi dan perangkatnya, saya pasti segera menengok Tempo. Membaca, menyimak dan menganalisanya. Dan urusan menyetujui berita itu, adalah hak prerogatif saya selaku sidang pembaca yang terhormat.

Akhir kata kalau saya ditanya pilih Kompas atau Tempo, mungkin bisa saya jawab dengan cerita ini; Kalau harian Kompas sampai tutup buku atau tak terbit lagi baik cetak maupun digital, saya akan mengibarkan bendera setengah tiang untuk runtuhnya pilar ke-empat Demokrasi Indonesia. Tetapi kalau itu menimpa Tempo, baik koran apalagi majalah, mungkin bendera setengah tiang saya naikkan agak lebih lama lagi, minimal satu minggu. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Romantis Pernikahan Virtual Gung De & Miradini Via Aplikasi Zoom Tokyo-Bali

Next Post

Peleburan Dosa Ala Buddha

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Peleburan Dosa Ala Buddha

Peleburan Dosa Ala Buddha

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co