22 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
January 12, 2021
in Esai
Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Ilustrasi diolah tatkala.co dari sumber gambar di Google

Minggu-minggu ini saya “sedikit” dikejutkan dengan berita dihentikannya peredaran koran Tempo secara cetak, dan fokus mereka di peredaran digital. Mengapa saya katakan “sedikit” terkejut? Ada dua alasan.

Pertama karena koran Tempo cetak pun selama ini ini tak bisa kita temukan di Bali. Seingat saya koran ini hanya dapat saya beli di agen koran di Denpasar, itupun hanya dalam setahun dua tahun awal penerbitannya (maaf kalau saya salah, karena saya tinggal jauh di pedalaman Buleleng barat ).

Yang kedua, karena fenomena ini sudah berjalan sekian tahun. Satu persatu media cetak konvensional berguguran diterjang disrupsi di bidang teknologi informasi saat ini. Beberapa ada yang langsung tutup buku, seperti tabloid Bola, ada yang mengurangi halaman setipis mungkin seperti koran kebanggaan rakyat Bali, Bali Post. Dan ada yang menempuh jalan seperti koran Tempo yang beralih sepenuhnya ke digital, tanpa opsi menutup diri, cuma menghentikan peredaran yang edisi cetak saja.

Tetapi seperti kata sahabat saya, teknologi sendiri hanyalah sekedar sarana,bukan gagasan itu sendiri. Jadi selama gagasan yang hendak disebarluaskan media itu ke publik menarik dan berguna untuk kemaslahatan bersama, dengan sarana apapun yang dipakai niscaya akan tetap dicari dan dijadikan rujukan oleh masyarakat luas.

Yang kita amati, media media dengan konten yang tak cukup penting, sekadar untuk hiburan atau hobby, adalah yang paling pertama terkena arus disrupsi ini. Tabloid Bola, Majalah Popular, Trubus adalah sekian diantaranya. Kemudian media kesehatan, pengembangan diri, Infotainment menyusul di gerbong berikutnya. Ini bisa dimaklumi, karena saat ini hanya dengan jari, masyarakat bisa mendapatkan informasi apapun yang mereka inginkan. Info yang tersedia lengkap, dan aktual, cuma memerlukan kecerdasan kita untuk memilah mana informasi yang benar ataupun bohong. Tapi itupun bisa diakali dengan memilih berita dari sumber  yang kita percaya.

Yang masih bisa bertahan saat ini mungkin hanya  media dengan konten serius. Berita yang bisa dipertanggung jawabkan, dijadikan rujukan oleh banyak orang, dan cuma sedikit keraguan saat kita mendapat informasi dari media itu. Saya sendiri sampai saat ini tetap berlangganan Kompas harian dan Tempo (harian dan majalah) secara digital. Jadi saya bisa tetap membaca keduanya dimanapun saya berada, asal ada jaringan internet dan kuota kita mencukupi. Seandainya ada berita-berita yang saya baca di luar dua media itu cukup meragukan, pasti saya konfirmasi  ke Kompas atau Tempo. Sesederhana itu sekarang hidup saya.

Tetapi ada satu yang cukup menyesakkan dada saya, pilihan pemberitaan Tempo yang belakangan sering berseberangan dengan pemerintah membuat ketakhadiran edisi cetaknya tak terlalu dihiraukan oleh pembaca. Itu yang saya baca di akun resmi mereka yang ditanggapi oleh netizen. Bahkan lebih dominan adalah tempik sorak yang menyertai kepergian edisi cetak mereka. Mungkin ini yang membedakan penerimaan masyarakat kepada Tempo dan Kompas, Dua barometer media cetak tanah air, yang terbukti tangguh melintasi zaman dan tetap bertahan diumur  mereka yang nyaris setengah abad.

Pada kesempatan ini saya ingin menimbang-nimbang nasib dua media kesayangan saya ini. Kompas dan Tempo tak diragukan lagi adalah jurnalime ideal kita, media informasi terpercaya dan sekaligus pilar ke-empat demokarasi. Jadi demokrasi tanpa jurnalisme yang kuat, mesti kita ragukan masa depannya dan manfaatnya bagi bangsa ini.

Kompas yang didirikan dua sahabat, PK Ojong dan Jakob Oetama terkenal dengan filosofi mendidiknya, sesuai latar belakang keduanya yang pendidikan guru. Untuk informasi yang mencerahkan, yang merekatkan nilai kebangsaan , menumbuhkan toleransi, penghormatan pada yang lemah atau minoritas, tak ada yang bisa diragukan lagi dari mereka. Pramoedya Ananta Toer mengisi hari tuanya dengan membuat kliping tentang Indonesia. Setiap hari dia membeli dua edisi koran, karena dia tak mau terlewat halaman di baliknya yang terkena gunting kliping. Begitu berharganya informasi koran yang dibaca bagi Pram, dan saya membayangkan koran itu mestinya Kompas.

Tetapi untuk tugasnya sebagai pilar ke-empat demokrasi, mengontrol jalannya pemerintah yang dianggap keluar jalur. Tanpa mengurangi  hormat pada Kompas, saya lebih memilih Tempo. Tempo yang sejak terbitnya telah dua kali mengalami pembreidelan, pertama saat memberitakan impor kapal selam yang menyinggung Habibie, dan sekali lagi menjelang jatuhnya Orde Baru di tahun 1997. Ini terkait pemberitaan mereka yang berani mengungkap bobrok pemerintah saat itu. Dan saat itu dilakukan pada saat rezim sedang kuat-kuatnya, maka hal itu perlu diapresiasi dengan selayaknya.

Kompas pun pernah mengalami hal serupa, saat beritanya dianggap mengganggu stabilitas (istilah rezim saat itu). Mereka pun pernah terancam pembreidelan, namun dengan sigap kedua pemimpinnya mengambil langkah adaptif dengan meminta maaf dan berjanji menyesuaikan isi berita dengan selera pemerintah.

Dari sana kita bisa belajar tentang cara ke-dua media itu mengambil perannya sebagai kontrol pemerintah. Kompas dengan gayanya yang santun, tak terlalu vulgar dan kritikannya tersembunyi halus dalam tulisan, bisa kita lihat di tulisan Budiman Tanurejo saban hari Sabtu. Terbukti lebih bisa berselancar di atas gelombang dan mendapat simpati dari masyarakat pembaca Indonesia.

Tempo yang terbiasa to the point, mengembangkan jurnalisme investigasi akhirnya menciptakan musuh-musuhnya sendiri. Kalau di masa lalu saat pemerintah tak cukup bagus dimata masyarakat, Tempo akan menjadi rujukan utama tentang situasi yang dianggap menyimpang dari pemerintah. Tapi saat ini, kala pemerintah terlihat cukup mengakomodasi suara rakyat, prioritas pembangunan sesuai harapan mereka. Maka kritik-kritik Tempo terasa seperti suara-suara nyinyir yang sengaja hendak menjelekkan pemerintah.

Tapi pengalaman saya sebagai pembaca, banyak kasus korupsi terungkap setelah ada laporan investigasi di Tempo. Beberapa yang saya ingat, suap daging di Kementerian Agama, skandal Hambalang dan terakhir kasus suap expor bibit lobster. Sudah jauh-jauh hari terendus oleh awak Tempo dan terbukti di kemudian hari terungkap sebagai kasus korupsi yang cukup besar. Dan hal semacam ini jarang saya temukan di Kompas.

Hal yang cukup merisaukan saya saat ini adalah posisi Tempo yang dilihat ber-oposisi dengan pemerintah tampaknya membuat sejumlah penulis enggan untuk menyumbangkan tulisannya di Tempo, mungkin karena mereka tak mau dianggap satu kubu dengan Tempo, atau tanpa menafikan mereka sudah tak sejalan lagi dengan pilihan sikap Tempo.

Jadi kalau dulu saya membeli Majalah Tempo, bagian pertama yang saya cari adalah rubrik kolom yang biasanya diisi penulis-penulis terbaik Indonesia di bidangnya, dengan tulisan yang jernih, tajam dan mempesona. Yang saya ingat salah satunya Imam Prasojo, Aswi Warman Adnan dan banyak lainnya.

Dan untuk situasi semacam ini, Kompas terbukti lebih unggul karena sampai hari ini semua penulis dan intelektual tanah air tak ragu untuk sumbang pendapat di Kompas. Jadi terbukti untuk kultur masyarakat kita, jurnalisme Kompas yang lembut, sopan dan tersamar mungkin lebih bisa di terima. Tapi bagaimanapun kritik adalah sebuah keniscayaan. Seperti kata GM, ” Karena tak ada yang final dalam kehidupan ini, kita hari ini bukanlah orang yang sama dengan kita minggu depan.” Jadi untuk urusan kritik saya lebih memilih Tempo.

Bisa saya simpulkan, untuk urusan berita saya pasti mencarinya dari dua sumber ini, atau mengklarifikasinya dengan dua media ini. Kedua media ini bagi saya saling melengkapi satu sama lain. Untuk berita yang menggembirakan, mencerahkan, membesarkan hati, tapi akurat saya pasti pilih Kompas. Tapi saat hati kecil saya merasa ada sesuatu yang sedikit mengusik nurani atas kebijakan pemerintah, termasuk instansi dan perangkatnya, saya pasti segera menengok Tempo. Membaca, menyimak dan menganalisanya. Dan urusan menyetujui berita itu, adalah hak prerogatif saya selaku sidang pembaca yang terhormat.

Akhir kata kalau saya ditanya pilih Kompas atau Tempo, mungkin bisa saya jawab dengan cerita ini; Kalau harian Kompas sampai tutup buku atau tak terbit lagi baik cetak maupun digital, saya akan mengibarkan bendera setengah tiang untuk runtuhnya pilar ke-empat Demokrasi Indonesia. Tetapi kalau itu menimpa Tempo, baik koran apalagi majalah, mungkin bendera setengah tiang saya naikkan agak lebih lama lagi, minimal satu minggu. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Romantis Pernikahan Virtual Gung De & Miradini Via Aplikasi Zoom Tokyo-Bali

Next Post

Peleburan Dosa Ala Buddha

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails

Hati-Hati Ada Proyek!

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
0
Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

Read moreDetails

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
0
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

Read moreDetails

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

by Chusmeru
May 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

Read moreDetails

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

by Emi Suy
May 19, 2026
0
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

Read moreDetails

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

by Early NHS
May 19, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

Read moreDetails

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

by Asep Kurnia
May 19, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

Read moreDetails

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

Read moreDetails

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

Read moreDetails

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

by Putu Arya Nugraha
May 19, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx....

Read moreDetails
Next Post
Peleburan Dosa Ala Buddha

Peleburan Dosa Ala Buddha

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co