24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Romantis Pernikahan Virtual Gung De & Miradini Via Aplikasi Zoom Tokyo-Bali

Julio Saputra by Julio Saputra
January 12, 2021
in Khas
Kisah Romantis Pernikahan Virtual Gung De & Miradini Via Aplikasi Zoom Tokyo-Bali

Upacara Pernikahan secara virtual, Gung De dan Mira berada di Tokyo, sementara upacara adat dan agama juga diselenggarakan dari Bali. Mereka terhubung melalui aplikasi zoom. [Foto-foto: dokumentasi Gung De Satriya Dwipayana]

Akhir-akhir ini saya menonton beberapa video teaser pinangan yang tak sengaja lewat di linimasa media social. Saya juga menghadiri beberapa pernikahan di penghujung tahun 2020, dan menerima beberapa kartu undangan pernikahan yang tak sempat saya hadiri.

Semua hal-hal tentang pernikahan itu mengingatkan saya kembali pada pada sebuah momen pernikahan teman. Itu terjadi, Sabtu, 28 November 2020.

Waktu itu, sedari sore hujan mulai jatuh menitik diawali dengan gerimis-gerimis tipis, suasana dingin juga mulai terasa pelan-pelan menusuk kulit, ketika langit mulai gelap dan lampu-lampu mulai dinyalakan, barulah hujan turun dengan sempurna, menjadikan malam Minggu terasa menyedihkan bagi sebagian orang yang sudah merencanakan sesuatu, entah menikmati waktu bersama pasangan, atau bersama teman-teman.

Saya adalah salah satu dari yang sedih itu. Pada akhirnya yang saya lakukan hanyalah memantau linimasa twitter di kamar kecil saya di daerah Ubud, Gianyar.

Tiba-tiba, sekitar pukul 09.10 malam, sebuah postingan lewat menyita perhatian saya, barangkali juga menyita perhatian banyak orang. Salah satu mutual twitter, Dwipayana Satrya namanya, memposting sebuah foto bersama seorang wanita membawa sebuah boquet bunga, mengenakan pakaian adat Bali berwarna abu, menggenggam sebotol sampanye berwarna coklat, sambil memamerkan sebuah cincin di tangan kirinya.

Gung De dan Miradini di Tokyo [Foto Dokumentasi Gung De Satrya Dwipayana]

Usut punya usut, mereka baru saja melangsungkan pernikahan, menyatukan dua hati dalam sebuah ikatan yang suci. So sweeett nggak tuh?

Saya rasa, kemesraan itu cukup sukses menggemparkan para jomblo yang sedang melamun di kamar berharap malam cepat berlalu, termasuk saya. Mereka berdua bikin iri.

Awalnya saya kira mereka berdua melakukan pernikahan di Bali. Belakangan baru saya ketahui, meski mereka menggunakan pakaian adat Bali, pernikahan mereka dilangsungkan secara virtual atau secara online.

Mereka berdua ternyata sama-sama sedang berada di Jepang. Mereka menikah di Jepang, tapi dengan upacara yang dilakukan dari Bali. Upacaranya tentu saja dilakukan sesuai dengan adat dan agama Hindu. Eh, gimana itu?

Pandemi Covid-19 yang masih melanda dunia tidak memungkinkan mereka untuk pulang ke Bali, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah secara online. Dengan menggunakan aplikasi zoom, pernikahan mereka diadakan dari Jepang, sekaligus juga dari Bali.

Wah, ini menarik. Ini pernikahan jarak jauh dengan menggunakan internet sebagai media komunikasi. Saya tak tahu, istilah yang tepat untuk menyebut pernikahan seperti ini. Pernikahan virtual, pernikahan online, atau pernikahan jarak jauh. Di Bali ada dikenal istilah ngayeng, semacam sembahyang jarak jauh. Contohnya, seseorang yang oleh kondisi tertentu tak bisa ke Pura Besakih saat ada pujawali, namun orang itu bisa sembahyang dari rumah saja. Mungkin pernikahan ini bias dipadankan dengan contoh seperti itu.

Gung De dan Miradini di Tokyo [Foto Dokumentasi Gung De Satrya Dwipayana]

Namun, yang jelas, jarang-jarang ada orang yang menikah online atau secara virtual, apalagi orang Bali, mengingat ada berbagai ritual dan prosesi yang harus dilewati dengan cukup rumit. Saya pun penasaran dengan proses pernikahan mereka, juga penasaran dengan kisah bahagia yang mereka miliki.

Segera, saya langsung menghubungi laki-laki yang berbahagia itu. Untuk orang yang tinggal di Jepang,  biasanya saya selalu bertanya tentang hal-hal berbau ke-Jepang-an, dari budaya, lingkungan kerja, sampai hal-hal di atas umur 18 tahun, JAV, dan sejenisnya.

Tapi kali ini saya menanyakan banyak hal tentang dirinya, tentang proses dan perjalanan yang mereka hadapi dalam melangsungkan pernikahan virtual tersebut.

Cerita Satrya Dwipayana dan Miradini

Anak Agung Gede Agung Satrya Dwipayana, begitu nama lengkapnya. Teman-teman, sahabat, dan keluarganya biasa memanggil dia dengan sapaan Gung De. Karena ia lebih tua dari saya, maka cukuplah bagi saya menyapa lelaki 27 tahun asal Denpasar itu dengan panggilan ‘Blik Gung’, sebuah panggilan yang saya rasa penuh rasa kehormatan.

Ia menikahi seorang gadis cantik dari Gianyar, Bali, Ni Putu Miradini. Mira merupakan teman sekelas Gung De ketika mereka sama-sama mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar di Denpasar.

Saat SD, hubungan pertemanan mereka  bisa dikatakan biasa saja, tak ada bedanya dengan yang lain.

Namun, sekitar tahun 2015, setelah beberapa tahun terlewati dan puluhan purnama berlalu, mereka berdua bertemu lagi dalam sebuah acara reuni. Saat itu, Gung De sedang menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Udayana. Saat itu, Mira baru saja pulang dari Jepang setelah menyelesaikan pendidikan budaya dan bahasa selama dua tahun.

Di tempat itulah cerita istimewa mereka berdua dimulai. Keduanya melakukan pendekatan, saling tertarik satu sama lain, dan di tahun yang sama, mereka juga meresmikan status mereka sebagai hubungan yang lebih dari sekadar teman. Mereka berdua berpacaran. Cieee pacaran…

Sembari menjalin hubungan, Gung De pun mencoba peruntungan bekerja di Jepang. Sejak Februari 2018, ia bekerja salah satu perusahaan recycling center di tengah-tengah Prefektur Kumamoto di sebelah barat daya Jepang.  Keputusannya untuk bekerja di Negeri Matahari Terbit bermula dari tawaran ayah Miradini yang menjadi pemandu wisata bagi orang Jepang sekaligus pemilik tempat kursus bahasa Jepang di daerah Denpasar. Katanya, salah seorang kenalannya memerlukan dua orang staff dari Bali untuk bekerja di perusahaan tersebut.

Alhasil, ia dan adik kandungnya mengambil kesempatan tersebut setelah belajar bahasa Jepang selama kurang lebih 6 bulan untuk persiapan keberangkatan mereka.

Meski sama-sama berada di Jepang, mereka berdua masih harus dipisahkan oleh jarak. Miradini bekerja di Prefektur Saitama, di salah satu kantor swasta. Ia menjadi seorang penerjemah bahasa Jepang dan bahasa Indonesia, sekaligus mengurus Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan bekerja di Jepang, seperti mengurus dokumen dan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Pernikahan Virtual Bali-Tokyo

Setelah berpacaran selama 4 tahun 11 bulan, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menikah. Sejak 2019, mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya, sudah mencari hari baik untuk melangsungkan upacara pewiwahan yang disakralkan. Mereka dan keluarga sudah menghitung dewasa ayu, memperhatikan wuku, hari, penanggal, juga sasih, kemudian memilih satu yang dirasa terbaik di antara semuanya, yaitu di bulan ke-9 di tahun 2020.

Dengan hati bahagia, mereka pun  berencana pulang ke Bali di bulan-bulan mendekati hari yang ditetapkan.

Sayangnya, kenyataan terkadang memang tak seindah harapan. Pandemi Covid-19 mulai menyerang di bulan-bulan pertama di tahun 2020, bahkan di Indonesia pertambahan kasus dari hari ke hari meningkat pesat dan masih berlanjut hingga saat ini. Salah satu akibat yang akhirnya benar-benar mereka rasakan adalah susahnya akses keluar masuk wilayah secara global, sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk pulang ke Bali.

Mereka kemudian mempertimbangkan solusi terbaik, memutuskan untuk mengadakan upacara pernikahan secara virtual.

“Pernikahan online ini sebenarnya pilihan terakhir saya dan istri. Mendadak tahun ini (2020) pandemi Covid-19 di Indonesia meningkat pesat. Kalaupun menunggu pandemi selesai juga masih belum tahu kapan. Sebelum-sebelumnya juga sudah banyak pasangan yang melangsungkan pernikahan online. Nah, nikah online ini juga diputuskan agar orang tua kita di rumah itu tidak khawatir kalau kita tinggal bareng di Jepang, mengingat budaya orang Jepang dan orang Bali itu beda jauh soal urusan tinggal bareng ini,” ujar pria penggemar One Ok Rock itu saat dihubungi melalui sambungan telepon di sela-sela hari liburnya.

“Sebelum pernikahan secara online ini dilangsungkan, pihak keluarga kami sudah berdiskusi bersama paruman Ida Pedanda perihal hal-hal niskala yang berkaitan dengan pernikahan, dan juga sudah bertanya kepada PHDI Bali mengenai hal-hal sekala. Kalau tidak ada ACC dari pihak-pihak tersebut, acara tidak bisa kami lakukan secara online,” imbuhnya.

Kata “ACC’ yang saya dengar darinya membuat saya sekilas teringat dengan skripsi yang saya kerjakan tahun lalu. Penuh perjuangan. Oke, kembali ke topik.

Pernilahan virtual: upacara dilaksanakan di Bali, sementara Gung dan Mira yang sedang berada di Tokyo tampak di layar lebar. [Foto-foto: dokumentasi Gung De Satriya Dwipayana]

Kata Gung De, menurut PHDI dan Paruman Ida Padanda, di dalam lontar-lontar, sudah dijelaskan bahwa jika ada gering tetempur agung seperti pandemi Covid-19 yang sedang mewabah saat ini, dan juga bencana besar, upacara manusa yadnya secara virtual (jarak jauh) yang mereka langsungkan dapat dibenarkan secara sastra.

Pernikahan secara virtual tersebut pun dilangsungkan pada Jumat, 27 November 2020, pada Sukra Paing Matal, sebuah hari yang baik untuk semua upacara menurut penanggalan kalender Bali.

Di Jepang, Gung De dan istrinya menyewa sebuah mansion di daerah Kamata, Tokyo. Ditemani adik kandungnya, adik kandung istri beserta pacarnya, mereka berlima mempersiapkan segala sesuatunya di sana. Gung De dan istrinya mengenakan pakaian adat yang serasi. Begitu pula dengan adik-adik mereka. Riasan di wajah sang istri pun tidak kalah cantik meski tidak menggunakan jasa make-up artist professional.

Di depan mereka, tepatnya di atas meja, sarana-sarana upacara terlihat sudah tertata rapi, seperti bunga, buah kelapa, dan lain sebagainya. Semua perlengkapan tersebut disiapkan dengan baik oleh sang istri, meski sebelumnya ia sempat kesusahan untuk mencarinya. Di samping itu. ada juga sebuah ponsel pintar canggih dengan kamera depan yang aktif, dan aplikasi Zoom sudah siap digunakan. Mereka siap mengikuti pernikahan virtual.

Di Bali, keluarga besar mereka menyewa tempat upacara dan wedding Taman Prakerti Bhuwana di Keluruhan Beng, Kecamatan Gianyar. Di sanalah, untuk tetap menghormati adat istiadat di Bali, dilangsungkan segala proses upacara pernikahan sebagaimana yang biasa dilakukan orang Bali saat menikah, mulai dari ritual ngidih, bhuta saksi sampai dewa saksi, dari mekalankalan dan prosesi widi widana, banten bale, ngaba tipat bantal dan lainya.

Semuanya diwakili oleh orang tua mereka dan dipimpin oleh seorang pemangku sekaligus ketua panitia acara dari Taman Prakerti Bhuana. Pasangan mempelai di Jepang hadir di upacara tersebut melalui konferensi video yang ditayangkan di sebuah layar putih di tengah-tengah tempat tersebut. Upacara pernikahan tersebut juga dihadiri oleh kelian dinas dan kelian adat dari masing-masing mempelai.

“Setelah acara digelar secara adat, kami akan ke Dinas Catatan Sipil untuk mendaftarkan keresmian pernikahan mereka. Nanti rencananya ketika kami pulang ke Bali sekalian kami buat resepsi, sekalian untuk upacara yang lain mengingat saya juga belum metatah.” Kata Gung De.

Berbagai Respon

Gung De bercerita lagi, katanya sahabat dan teman-temannya kaget saat mendengar kabar bahwa ia dan istrinya melangsungkan pernikahan secara online.  Namun, mereka semua mendoakan yang terbaik. Tak sedikit juga yang memberikan ucapan selamat lewat twitter. Beberapa dari mereka menulis seperti ini:

Gung De dan Miradini yang berbahagia [Foto: dokumentasi Gung De Satria Dwipayana]

“Selamat menempuh hidup baru mas hueheheh langgeng2 teruuuus~~~” – Yak Kentang @Saltedkarameld

“Sampun pawiwahan gung aji? Selamat menempuh hidup baru nggih gung aji, pokoknya olga agar tahan lama” – Baris Semara Putra @gus_baris

“Iii baru lewat TL, happy wedding jikkk semoga langgeng dan bahagia” – Cikennudel @katzennnnn

“Selamat kakak, semoga banyak punya momongan” – CIK @putukasih

“Congrats kak satryaaaaa im so happy for youuu! kapan makan2 ni” – Double D @bloodydidiy

“CONGRATS KAKKKK” – Gek Sin @escomels

Saya juga tidak mau kalah untuk turut mengucapkan selamat dan memberikan doa terbaik. Akhirnya saya menulis begini:

“Congrats blik, selamat melegalkan senggama” – Penganut Teks Bebas @julioulquiorra_

Akhir kata, saya mengucapkan selamat berbahagia untuk Blik Gung De dan Mbok Miradini. Semoga kebahagian selalu melingkupi hidup dan kehidupan rumah tangga kalian. Semoga sehat selalu di sana dan ditunggu acara makan-makannya di Bali. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arca Siwa Mahadewa di Bali pada Masa Lalu

Next Post

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co