3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Romantis Pernikahan Virtual Gung De & Miradini Via Aplikasi Zoom Tokyo-Bali

Julio Saputra by Julio Saputra
January 12, 2021
in Khas
Kisah Romantis Pernikahan Virtual Gung De & Miradini Via Aplikasi Zoom Tokyo-Bali

Upacara Pernikahan secara virtual, Gung De dan Mira berada di Tokyo, sementara upacara adat dan agama juga diselenggarakan dari Bali. Mereka terhubung melalui aplikasi zoom. [Foto-foto: dokumentasi Gung De Satriya Dwipayana]

Akhir-akhir ini saya menonton beberapa video teaser pinangan yang tak sengaja lewat di linimasa media social. Saya juga menghadiri beberapa pernikahan di penghujung tahun 2020, dan menerima beberapa kartu undangan pernikahan yang tak sempat saya hadiri.

Semua hal-hal tentang pernikahan itu mengingatkan saya kembali pada pada sebuah momen pernikahan teman. Itu terjadi, Sabtu, 28 November 2020.

Waktu itu, sedari sore hujan mulai jatuh menitik diawali dengan gerimis-gerimis tipis, suasana dingin juga mulai terasa pelan-pelan menusuk kulit, ketika langit mulai gelap dan lampu-lampu mulai dinyalakan, barulah hujan turun dengan sempurna, menjadikan malam Minggu terasa menyedihkan bagi sebagian orang yang sudah merencanakan sesuatu, entah menikmati waktu bersama pasangan, atau bersama teman-teman.

Saya adalah salah satu dari yang sedih itu. Pada akhirnya yang saya lakukan hanyalah memantau linimasa twitter di kamar kecil saya di daerah Ubud, Gianyar.

Tiba-tiba, sekitar pukul 09.10 malam, sebuah postingan lewat menyita perhatian saya, barangkali juga menyita perhatian banyak orang. Salah satu mutual twitter, Dwipayana Satrya namanya, memposting sebuah foto bersama seorang wanita membawa sebuah boquet bunga, mengenakan pakaian adat Bali berwarna abu, menggenggam sebotol sampanye berwarna coklat, sambil memamerkan sebuah cincin di tangan kirinya.

Gung De dan Miradini di Tokyo [Foto Dokumentasi Gung De Satrya Dwipayana]

Usut punya usut, mereka baru saja melangsungkan pernikahan, menyatukan dua hati dalam sebuah ikatan yang suci. So sweeett nggak tuh?

Saya rasa, kemesraan itu cukup sukses menggemparkan para jomblo yang sedang melamun di kamar berharap malam cepat berlalu, termasuk saya. Mereka berdua bikin iri.

Awalnya saya kira mereka berdua melakukan pernikahan di Bali. Belakangan baru saya ketahui, meski mereka menggunakan pakaian adat Bali, pernikahan mereka dilangsungkan secara virtual atau secara online.

Mereka berdua ternyata sama-sama sedang berada di Jepang. Mereka menikah di Jepang, tapi dengan upacara yang dilakukan dari Bali. Upacaranya tentu saja dilakukan sesuai dengan adat dan agama Hindu. Eh, gimana itu?

Pandemi Covid-19 yang masih melanda dunia tidak memungkinkan mereka untuk pulang ke Bali, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah secara online. Dengan menggunakan aplikasi zoom, pernikahan mereka diadakan dari Jepang, sekaligus juga dari Bali.

Wah, ini menarik. Ini pernikahan jarak jauh dengan menggunakan internet sebagai media komunikasi. Saya tak tahu, istilah yang tepat untuk menyebut pernikahan seperti ini. Pernikahan virtual, pernikahan online, atau pernikahan jarak jauh. Di Bali ada dikenal istilah ngayeng, semacam sembahyang jarak jauh. Contohnya, seseorang yang oleh kondisi tertentu tak bisa ke Pura Besakih saat ada pujawali, namun orang itu bisa sembahyang dari rumah saja. Mungkin pernikahan ini bias dipadankan dengan contoh seperti itu.

Gung De dan Miradini di Tokyo [Foto Dokumentasi Gung De Satrya Dwipayana]

Namun, yang jelas, jarang-jarang ada orang yang menikah online atau secara virtual, apalagi orang Bali, mengingat ada berbagai ritual dan prosesi yang harus dilewati dengan cukup rumit. Saya pun penasaran dengan proses pernikahan mereka, juga penasaran dengan kisah bahagia yang mereka miliki.

Segera, saya langsung menghubungi laki-laki yang berbahagia itu. Untuk orang yang tinggal di Jepang,  biasanya saya selalu bertanya tentang hal-hal berbau ke-Jepang-an, dari budaya, lingkungan kerja, sampai hal-hal di atas umur 18 tahun, JAV, dan sejenisnya.

Tapi kali ini saya menanyakan banyak hal tentang dirinya, tentang proses dan perjalanan yang mereka hadapi dalam melangsungkan pernikahan virtual tersebut.

Cerita Satrya Dwipayana dan Miradini

Anak Agung Gede Agung Satrya Dwipayana, begitu nama lengkapnya. Teman-teman, sahabat, dan keluarganya biasa memanggil dia dengan sapaan Gung De. Karena ia lebih tua dari saya, maka cukuplah bagi saya menyapa lelaki 27 tahun asal Denpasar itu dengan panggilan ‘Blik Gung’, sebuah panggilan yang saya rasa penuh rasa kehormatan.

Ia menikahi seorang gadis cantik dari Gianyar, Bali, Ni Putu Miradini. Mira merupakan teman sekelas Gung De ketika mereka sama-sama mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar di Denpasar.

Saat SD, hubungan pertemanan mereka  bisa dikatakan biasa saja, tak ada bedanya dengan yang lain.

Namun, sekitar tahun 2015, setelah beberapa tahun terlewati dan puluhan purnama berlalu, mereka berdua bertemu lagi dalam sebuah acara reuni. Saat itu, Gung De sedang menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Udayana. Saat itu, Mira baru saja pulang dari Jepang setelah menyelesaikan pendidikan budaya dan bahasa selama dua tahun.

Di tempat itulah cerita istimewa mereka berdua dimulai. Keduanya melakukan pendekatan, saling tertarik satu sama lain, dan di tahun yang sama, mereka juga meresmikan status mereka sebagai hubungan yang lebih dari sekadar teman. Mereka berdua berpacaran. Cieee pacaran…

Sembari menjalin hubungan, Gung De pun mencoba peruntungan bekerja di Jepang. Sejak Februari 2018, ia bekerja salah satu perusahaan recycling center di tengah-tengah Prefektur Kumamoto di sebelah barat daya Jepang.  Keputusannya untuk bekerja di Negeri Matahari Terbit bermula dari tawaran ayah Miradini yang menjadi pemandu wisata bagi orang Jepang sekaligus pemilik tempat kursus bahasa Jepang di daerah Denpasar. Katanya, salah seorang kenalannya memerlukan dua orang staff dari Bali untuk bekerja di perusahaan tersebut.

Alhasil, ia dan adik kandungnya mengambil kesempatan tersebut setelah belajar bahasa Jepang selama kurang lebih 6 bulan untuk persiapan keberangkatan mereka.

Meski sama-sama berada di Jepang, mereka berdua masih harus dipisahkan oleh jarak. Miradini bekerja di Prefektur Saitama, di salah satu kantor swasta. Ia menjadi seorang penerjemah bahasa Jepang dan bahasa Indonesia, sekaligus mengurus Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan bekerja di Jepang, seperti mengurus dokumen dan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Pernikahan Virtual Bali-Tokyo

Setelah berpacaran selama 4 tahun 11 bulan, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menikah. Sejak 2019, mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya, sudah mencari hari baik untuk melangsungkan upacara pewiwahan yang disakralkan. Mereka dan keluarga sudah menghitung dewasa ayu, memperhatikan wuku, hari, penanggal, juga sasih, kemudian memilih satu yang dirasa terbaik di antara semuanya, yaitu di bulan ke-9 di tahun 2020.

Dengan hati bahagia, mereka pun  berencana pulang ke Bali di bulan-bulan mendekati hari yang ditetapkan.

Sayangnya, kenyataan terkadang memang tak seindah harapan. Pandemi Covid-19 mulai menyerang di bulan-bulan pertama di tahun 2020, bahkan di Indonesia pertambahan kasus dari hari ke hari meningkat pesat dan masih berlanjut hingga saat ini. Salah satu akibat yang akhirnya benar-benar mereka rasakan adalah susahnya akses keluar masuk wilayah secara global, sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk pulang ke Bali.

Mereka kemudian mempertimbangkan solusi terbaik, memutuskan untuk mengadakan upacara pernikahan secara virtual.

“Pernikahan online ini sebenarnya pilihan terakhir saya dan istri. Mendadak tahun ini (2020) pandemi Covid-19 di Indonesia meningkat pesat. Kalaupun menunggu pandemi selesai juga masih belum tahu kapan. Sebelum-sebelumnya juga sudah banyak pasangan yang melangsungkan pernikahan online. Nah, nikah online ini juga diputuskan agar orang tua kita di rumah itu tidak khawatir kalau kita tinggal bareng di Jepang, mengingat budaya orang Jepang dan orang Bali itu beda jauh soal urusan tinggal bareng ini,” ujar pria penggemar One Ok Rock itu saat dihubungi melalui sambungan telepon di sela-sela hari liburnya.

“Sebelum pernikahan secara online ini dilangsungkan, pihak keluarga kami sudah berdiskusi bersama paruman Ida Pedanda perihal hal-hal niskala yang berkaitan dengan pernikahan, dan juga sudah bertanya kepada PHDI Bali mengenai hal-hal sekala. Kalau tidak ada ACC dari pihak-pihak tersebut, acara tidak bisa kami lakukan secara online,” imbuhnya.

Kata “ACC’ yang saya dengar darinya membuat saya sekilas teringat dengan skripsi yang saya kerjakan tahun lalu. Penuh perjuangan. Oke, kembali ke topik.

Pernilahan virtual: upacara dilaksanakan di Bali, sementara Gung dan Mira yang sedang berada di Tokyo tampak di layar lebar. [Foto-foto: dokumentasi Gung De Satriya Dwipayana]

Kata Gung De, menurut PHDI dan Paruman Ida Padanda, di dalam lontar-lontar, sudah dijelaskan bahwa jika ada gering tetempur agung seperti pandemi Covid-19 yang sedang mewabah saat ini, dan juga bencana besar, upacara manusa yadnya secara virtual (jarak jauh) yang mereka langsungkan dapat dibenarkan secara sastra.

Pernikahan secara virtual tersebut pun dilangsungkan pada Jumat, 27 November 2020, pada Sukra Paing Matal, sebuah hari yang baik untuk semua upacara menurut penanggalan kalender Bali.

Di Jepang, Gung De dan istrinya menyewa sebuah mansion di daerah Kamata, Tokyo. Ditemani adik kandungnya, adik kandung istri beserta pacarnya, mereka berlima mempersiapkan segala sesuatunya di sana. Gung De dan istrinya mengenakan pakaian adat yang serasi. Begitu pula dengan adik-adik mereka. Riasan di wajah sang istri pun tidak kalah cantik meski tidak menggunakan jasa make-up artist professional.

Di depan mereka, tepatnya di atas meja, sarana-sarana upacara terlihat sudah tertata rapi, seperti bunga, buah kelapa, dan lain sebagainya. Semua perlengkapan tersebut disiapkan dengan baik oleh sang istri, meski sebelumnya ia sempat kesusahan untuk mencarinya. Di samping itu. ada juga sebuah ponsel pintar canggih dengan kamera depan yang aktif, dan aplikasi Zoom sudah siap digunakan. Mereka siap mengikuti pernikahan virtual.

Di Bali, keluarga besar mereka menyewa tempat upacara dan wedding Taman Prakerti Bhuwana di Keluruhan Beng, Kecamatan Gianyar. Di sanalah, untuk tetap menghormati adat istiadat di Bali, dilangsungkan segala proses upacara pernikahan sebagaimana yang biasa dilakukan orang Bali saat menikah, mulai dari ritual ngidih, bhuta saksi sampai dewa saksi, dari mekalankalan dan prosesi widi widana, banten bale, ngaba tipat bantal dan lainya.

Semuanya diwakili oleh orang tua mereka dan dipimpin oleh seorang pemangku sekaligus ketua panitia acara dari Taman Prakerti Bhuana. Pasangan mempelai di Jepang hadir di upacara tersebut melalui konferensi video yang ditayangkan di sebuah layar putih di tengah-tengah tempat tersebut. Upacara pernikahan tersebut juga dihadiri oleh kelian dinas dan kelian adat dari masing-masing mempelai.

“Setelah acara digelar secara adat, kami akan ke Dinas Catatan Sipil untuk mendaftarkan keresmian pernikahan mereka. Nanti rencananya ketika kami pulang ke Bali sekalian kami buat resepsi, sekalian untuk upacara yang lain mengingat saya juga belum metatah.” Kata Gung De.

Berbagai Respon

Gung De bercerita lagi, katanya sahabat dan teman-temannya kaget saat mendengar kabar bahwa ia dan istrinya melangsungkan pernikahan secara online.  Namun, mereka semua mendoakan yang terbaik. Tak sedikit juga yang memberikan ucapan selamat lewat twitter. Beberapa dari mereka menulis seperti ini:

Gung De dan Miradini yang berbahagia [Foto: dokumentasi Gung De Satria Dwipayana]

“Selamat menempuh hidup baru mas hueheheh langgeng2 teruuuus~~~” – Yak Kentang @Saltedkarameld

“Sampun pawiwahan gung aji? Selamat menempuh hidup baru nggih gung aji, pokoknya olga agar tahan lama” – Baris Semara Putra @gus_baris

“Iii baru lewat TL, happy wedding jikkk semoga langgeng dan bahagia” – Cikennudel @katzennnnn

“Selamat kakak, semoga banyak punya momongan” – CIK @putukasih

“Congrats kak satryaaaaa im so happy for youuu! kapan makan2 ni” – Double D @bloodydidiy

“CONGRATS KAKKKK” – Gek Sin @escomels

Saya juga tidak mau kalah untuk turut mengucapkan selamat dan memberikan doa terbaik. Akhirnya saya menulis begini:

“Congrats blik, selamat melegalkan senggama” – Penganut Teks Bebas @julioulquiorra_

Akhir kata, saya mengucapkan selamat berbahagia untuk Blik Gung De dan Mbok Miradini. Semoga kebahagian selalu melingkupi hidup dan kehidupan rumah tangga kalian. Semoga sehat selalu di sana dan ditunggu acara makan-makannya di Bali. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arca Siwa Mahadewa di Bali pada Masa Lalu

Next Post

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co