3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Romantis Pernikahan Virtual Gung De & Miradini Via Aplikasi Zoom Tokyo-Bali

Julio Saputra by Julio Saputra
January 12, 2021
in Khas
Kisah Romantis Pernikahan Virtual Gung De & Miradini Via Aplikasi Zoom Tokyo-Bali

Upacara Pernikahan secara virtual, Gung De dan Mira berada di Tokyo, sementara upacara adat dan agama juga diselenggarakan dari Bali. Mereka terhubung melalui aplikasi zoom. [Foto-foto: dokumentasi Gung De Satriya Dwipayana]

Akhir-akhir ini saya menonton beberapa video teaser pinangan yang tak sengaja lewat di linimasa media social. Saya juga menghadiri beberapa pernikahan di penghujung tahun 2020, dan menerima beberapa kartu undangan pernikahan yang tak sempat saya hadiri.

Semua hal-hal tentang pernikahan itu mengingatkan saya kembali pada pada sebuah momen pernikahan teman. Itu terjadi, Sabtu, 28 November 2020.

Waktu itu, sedari sore hujan mulai jatuh menitik diawali dengan gerimis-gerimis tipis, suasana dingin juga mulai terasa pelan-pelan menusuk kulit, ketika langit mulai gelap dan lampu-lampu mulai dinyalakan, barulah hujan turun dengan sempurna, menjadikan malam Minggu terasa menyedihkan bagi sebagian orang yang sudah merencanakan sesuatu, entah menikmati waktu bersama pasangan, atau bersama teman-teman.

Saya adalah salah satu dari yang sedih itu. Pada akhirnya yang saya lakukan hanyalah memantau linimasa twitter di kamar kecil saya di daerah Ubud, Gianyar.

Tiba-tiba, sekitar pukul 09.10 malam, sebuah postingan lewat menyita perhatian saya, barangkali juga menyita perhatian banyak orang. Salah satu mutual twitter, Dwipayana Satrya namanya, memposting sebuah foto bersama seorang wanita membawa sebuah boquet bunga, mengenakan pakaian adat Bali berwarna abu, menggenggam sebotol sampanye berwarna coklat, sambil memamerkan sebuah cincin di tangan kirinya.

Gung De dan Miradini di Tokyo [Foto Dokumentasi Gung De Satrya Dwipayana]

Usut punya usut, mereka baru saja melangsungkan pernikahan, menyatukan dua hati dalam sebuah ikatan yang suci. So sweeett nggak tuh?

Saya rasa, kemesraan itu cukup sukses menggemparkan para jomblo yang sedang melamun di kamar berharap malam cepat berlalu, termasuk saya. Mereka berdua bikin iri.

Awalnya saya kira mereka berdua melakukan pernikahan di Bali. Belakangan baru saya ketahui, meski mereka menggunakan pakaian adat Bali, pernikahan mereka dilangsungkan secara virtual atau secara online.

Mereka berdua ternyata sama-sama sedang berada di Jepang. Mereka menikah di Jepang, tapi dengan upacara yang dilakukan dari Bali. Upacaranya tentu saja dilakukan sesuai dengan adat dan agama Hindu. Eh, gimana itu?

Pandemi Covid-19 yang masih melanda dunia tidak memungkinkan mereka untuk pulang ke Bali, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah secara online. Dengan menggunakan aplikasi zoom, pernikahan mereka diadakan dari Jepang, sekaligus juga dari Bali.

Wah, ini menarik. Ini pernikahan jarak jauh dengan menggunakan internet sebagai media komunikasi. Saya tak tahu, istilah yang tepat untuk menyebut pernikahan seperti ini. Pernikahan virtual, pernikahan online, atau pernikahan jarak jauh. Di Bali ada dikenal istilah ngayeng, semacam sembahyang jarak jauh. Contohnya, seseorang yang oleh kondisi tertentu tak bisa ke Pura Besakih saat ada pujawali, namun orang itu bisa sembahyang dari rumah saja. Mungkin pernikahan ini bias dipadankan dengan contoh seperti itu.

Gung De dan Miradini di Tokyo [Foto Dokumentasi Gung De Satrya Dwipayana]

Namun, yang jelas, jarang-jarang ada orang yang menikah online atau secara virtual, apalagi orang Bali, mengingat ada berbagai ritual dan prosesi yang harus dilewati dengan cukup rumit. Saya pun penasaran dengan proses pernikahan mereka, juga penasaran dengan kisah bahagia yang mereka miliki.

Segera, saya langsung menghubungi laki-laki yang berbahagia itu. Untuk orang yang tinggal di Jepang,  biasanya saya selalu bertanya tentang hal-hal berbau ke-Jepang-an, dari budaya, lingkungan kerja, sampai hal-hal di atas umur 18 tahun, JAV, dan sejenisnya.

Tapi kali ini saya menanyakan banyak hal tentang dirinya, tentang proses dan perjalanan yang mereka hadapi dalam melangsungkan pernikahan virtual tersebut.

Cerita Satrya Dwipayana dan Miradini

Anak Agung Gede Agung Satrya Dwipayana, begitu nama lengkapnya. Teman-teman, sahabat, dan keluarganya biasa memanggil dia dengan sapaan Gung De. Karena ia lebih tua dari saya, maka cukuplah bagi saya menyapa lelaki 27 tahun asal Denpasar itu dengan panggilan ‘Blik Gung’, sebuah panggilan yang saya rasa penuh rasa kehormatan.

Ia menikahi seorang gadis cantik dari Gianyar, Bali, Ni Putu Miradini. Mira merupakan teman sekelas Gung De ketika mereka sama-sama mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar di Denpasar.

Saat SD, hubungan pertemanan mereka  bisa dikatakan biasa saja, tak ada bedanya dengan yang lain.

Namun, sekitar tahun 2015, setelah beberapa tahun terlewati dan puluhan purnama berlalu, mereka berdua bertemu lagi dalam sebuah acara reuni. Saat itu, Gung De sedang menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Udayana. Saat itu, Mira baru saja pulang dari Jepang setelah menyelesaikan pendidikan budaya dan bahasa selama dua tahun.

Di tempat itulah cerita istimewa mereka berdua dimulai. Keduanya melakukan pendekatan, saling tertarik satu sama lain, dan di tahun yang sama, mereka juga meresmikan status mereka sebagai hubungan yang lebih dari sekadar teman. Mereka berdua berpacaran. Cieee pacaran…

Sembari menjalin hubungan, Gung De pun mencoba peruntungan bekerja di Jepang. Sejak Februari 2018, ia bekerja salah satu perusahaan recycling center di tengah-tengah Prefektur Kumamoto di sebelah barat daya Jepang.  Keputusannya untuk bekerja di Negeri Matahari Terbit bermula dari tawaran ayah Miradini yang menjadi pemandu wisata bagi orang Jepang sekaligus pemilik tempat kursus bahasa Jepang di daerah Denpasar. Katanya, salah seorang kenalannya memerlukan dua orang staff dari Bali untuk bekerja di perusahaan tersebut.

Alhasil, ia dan adik kandungnya mengambil kesempatan tersebut setelah belajar bahasa Jepang selama kurang lebih 6 bulan untuk persiapan keberangkatan mereka.

Meski sama-sama berada di Jepang, mereka berdua masih harus dipisahkan oleh jarak. Miradini bekerja di Prefektur Saitama, di salah satu kantor swasta. Ia menjadi seorang penerjemah bahasa Jepang dan bahasa Indonesia, sekaligus mengurus Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan bekerja di Jepang, seperti mengurus dokumen dan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Pernikahan Virtual Bali-Tokyo

Setelah berpacaran selama 4 tahun 11 bulan, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menikah. Sejak 2019, mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya, sudah mencari hari baik untuk melangsungkan upacara pewiwahan yang disakralkan. Mereka dan keluarga sudah menghitung dewasa ayu, memperhatikan wuku, hari, penanggal, juga sasih, kemudian memilih satu yang dirasa terbaik di antara semuanya, yaitu di bulan ke-9 di tahun 2020.

Dengan hati bahagia, mereka pun  berencana pulang ke Bali di bulan-bulan mendekati hari yang ditetapkan.

Sayangnya, kenyataan terkadang memang tak seindah harapan. Pandemi Covid-19 mulai menyerang di bulan-bulan pertama di tahun 2020, bahkan di Indonesia pertambahan kasus dari hari ke hari meningkat pesat dan masih berlanjut hingga saat ini. Salah satu akibat yang akhirnya benar-benar mereka rasakan adalah susahnya akses keluar masuk wilayah secara global, sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk pulang ke Bali.

Mereka kemudian mempertimbangkan solusi terbaik, memutuskan untuk mengadakan upacara pernikahan secara virtual.

“Pernikahan online ini sebenarnya pilihan terakhir saya dan istri. Mendadak tahun ini (2020) pandemi Covid-19 di Indonesia meningkat pesat. Kalaupun menunggu pandemi selesai juga masih belum tahu kapan. Sebelum-sebelumnya juga sudah banyak pasangan yang melangsungkan pernikahan online. Nah, nikah online ini juga diputuskan agar orang tua kita di rumah itu tidak khawatir kalau kita tinggal bareng di Jepang, mengingat budaya orang Jepang dan orang Bali itu beda jauh soal urusan tinggal bareng ini,” ujar pria penggemar One Ok Rock itu saat dihubungi melalui sambungan telepon di sela-sela hari liburnya.

“Sebelum pernikahan secara online ini dilangsungkan, pihak keluarga kami sudah berdiskusi bersama paruman Ida Pedanda perihal hal-hal niskala yang berkaitan dengan pernikahan, dan juga sudah bertanya kepada PHDI Bali mengenai hal-hal sekala. Kalau tidak ada ACC dari pihak-pihak tersebut, acara tidak bisa kami lakukan secara online,” imbuhnya.

Kata “ACC’ yang saya dengar darinya membuat saya sekilas teringat dengan skripsi yang saya kerjakan tahun lalu. Penuh perjuangan. Oke, kembali ke topik.

Pernilahan virtual: upacara dilaksanakan di Bali, sementara Gung dan Mira yang sedang berada di Tokyo tampak di layar lebar. [Foto-foto: dokumentasi Gung De Satriya Dwipayana]

Kata Gung De, menurut PHDI dan Paruman Ida Padanda, di dalam lontar-lontar, sudah dijelaskan bahwa jika ada gering tetempur agung seperti pandemi Covid-19 yang sedang mewabah saat ini, dan juga bencana besar, upacara manusa yadnya secara virtual (jarak jauh) yang mereka langsungkan dapat dibenarkan secara sastra.

Pernikahan secara virtual tersebut pun dilangsungkan pada Jumat, 27 November 2020, pada Sukra Paing Matal, sebuah hari yang baik untuk semua upacara menurut penanggalan kalender Bali.

Di Jepang, Gung De dan istrinya menyewa sebuah mansion di daerah Kamata, Tokyo. Ditemani adik kandungnya, adik kandung istri beserta pacarnya, mereka berlima mempersiapkan segala sesuatunya di sana. Gung De dan istrinya mengenakan pakaian adat yang serasi. Begitu pula dengan adik-adik mereka. Riasan di wajah sang istri pun tidak kalah cantik meski tidak menggunakan jasa make-up artist professional.

Di depan mereka, tepatnya di atas meja, sarana-sarana upacara terlihat sudah tertata rapi, seperti bunga, buah kelapa, dan lain sebagainya. Semua perlengkapan tersebut disiapkan dengan baik oleh sang istri, meski sebelumnya ia sempat kesusahan untuk mencarinya. Di samping itu. ada juga sebuah ponsel pintar canggih dengan kamera depan yang aktif, dan aplikasi Zoom sudah siap digunakan. Mereka siap mengikuti pernikahan virtual.

Di Bali, keluarga besar mereka menyewa tempat upacara dan wedding Taman Prakerti Bhuwana di Keluruhan Beng, Kecamatan Gianyar. Di sanalah, untuk tetap menghormati adat istiadat di Bali, dilangsungkan segala proses upacara pernikahan sebagaimana yang biasa dilakukan orang Bali saat menikah, mulai dari ritual ngidih, bhuta saksi sampai dewa saksi, dari mekalankalan dan prosesi widi widana, banten bale, ngaba tipat bantal dan lainya.

Semuanya diwakili oleh orang tua mereka dan dipimpin oleh seorang pemangku sekaligus ketua panitia acara dari Taman Prakerti Bhuana. Pasangan mempelai di Jepang hadir di upacara tersebut melalui konferensi video yang ditayangkan di sebuah layar putih di tengah-tengah tempat tersebut. Upacara pernikahan tersebut juga dihadiri oleh kelian dinas dan kelian adat dari masing-masing mempelai.

“Setelah acara digelar secara adat, kami akan ke Dinas Catatan Sipil untuk mendaftarkan keresmian pernikahan mereka. Nanti rencananya ketika kami pulang ke Bali sekalian kami buat resepsi, sekalian untuk upacara yang lain mengingat saya juga belum metatah.” Kata Gung De.

Berbagai Respon

Gung De bercerita lagi, katanya sahabat dan teman-temannya kaget saat mendengar kabar bahwa ia dan istrinya melangsungkan pernikahan secara online.  Namun, mereka semua mendoakan yang terbaik. Tak sedikit juga yang memberikan ucapan selamat lewat twitter. Beberapa dari mereka menulis seperti ini:

Gung De dan Miradini yang berbahagia [Foto: dokumentasi Gung De Satria Dwipayana]

“Selamat menempuh hidup baru mas hueheheh langgeng2 teruuuus~~~” – Yak Kentang @Saltedkarameld

“Sampun pawiwahan gung aji? Selamat menempuh hidup baru nggih gung aji, pokoknya olga agar tahan lama” – Baris Semara Putra @gus_baris

“Iii baru lewat TL, happy wedding jikkk semoga langgeng dan bahagia” – Cikennudel @katzennnnn

“Selamat kakak, semoga banyak punya momongan” – CIK @putukasih

“Congrats kak satryaaaaa im so happy for youuu! kapan makan2 ni” – Double D @bloodydidiy

“CONGRATS KAKKKK” – Gek Sin @escomels

Saya juga tidak mau kalah untuk turut mengucapkan selamat dan memberikan doa terbaik. Akhirnya saya menulis begini:

“Congrats blik, selamat melegalkan senggama” – Penganut Teks Bebas @julioulquiorra_

Akhir kata, saya mengucapkan selamat berbahagia untuk Blik Gung De dan Mbok Miradini. Semoga kebahagian selalu melingkupi hidup dan kehidupan rumah tangga kalian. Semoga sehat selalu di sana dan ditunggu acara makan-makannya di Bali. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arca Siwa Mahadewa di Bali pada Masa Lalu

Next Post

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co