23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Romantis Pernikahan Virtual Gung De & Miradini Via Aplikasi Zoom Tokyo-Bali

Julio Saputra by Julio Saputra
January 12, 2021
in Khas
Kisah Romantis Pernikahan Virtual Gung De & Miradini Via Aplikasi Zoom Tokyo-Bali

Upacara Pernikahan secara virtual, Gung De dan Mira berada di Tokyo, sementara upacara adat dan agama juga diselenggarakan dari Bali. Mereka terhubung melalui aplikasi zoom. [Foto-foto: dokumentasi Gung De Satriya Dwipayana]

Akhir-akhir ini saya menonton beberapa video teaser pinangan yang tak sengaja lewat di linimasa media social. Saya juga menghadiri beberapa pernikahan di penghujung tahun 2020, dan menerima beberapa kartu undangan pernikahan yang tak sempat saya hadiri.

Semua hal-hal tentang pernikahan itu mengingatkan saya kembali pada pada sebuah momen pernikahan teman. Itu terjadi, Sabtu, 28 November 2020.

Waktu itu, sedari sore hujan mulai jatuh menitik diawali dengan gerimis-gerimis tipis, suasana dingin juga mulai terasa pelan-pelan menusuk kulit, ketika langit mulai gelap dan lampu-lampu mulai dinyalakan, barulah hujan turun dengan sempurna, menjadikan malam Minggu terasa menyedihkan bagi sebagian orang yang sudah merencanakan sesuatu, entah menikmati waktu bersama pasangan, atau bersama teman-teman.

Saya adalah salah satu dari yang sedih itu. Pada akhirnya yang saya lakukan hanyalah memantau linimasa twitter di kamar kecil saya di daerah Ubud, Gianyar.

Tiba-tiba, sekitar pukul 09.10 malam, sebuah postingan lewat menyita perhatian saya, barangkali juga menyita perhatian banyak orang. Salah satu mutual twitter, Dwipayana Satrya namanya, memposting sebuah foto bersama seorang wanita membawa sebuah boquet bunga, mengenakan pakaian adat Bali berwarna abu, menggenggam sebotol sampanye berwarna coklat, sambil memamerkan sebuah cincin di tangan kirinya.

Gung De dan Miradini di Tokyo [Foto Dokumentasi Gung De Satrya Dwipayana]

Usut punya usut, mereka baru saja melangsungkan pernikahan, menyatukan dua hati dalam sebuah ikatan yang suci. So sweeett nggak tuh?

Saya rasa, kemesraan itu cukup sukses menggemparkan para jomblo yang sedang melamun di kamar berharap malam cepat berlalu, termasuk saya. Mereka berdua bikin iri.

Awalnya saya kira mereka berdua melakukan pernikahan di Bali. Belakangan baru saya ketahui, meski mereka menggunakan pakaian adat Bali, pernikahan mereka dilangsungkan secara virtual atau secara online.

Mereka berdua ternyata sama-sama sedang berada di Jepang. Mereka menikah di Jepang, tapi dengan upacara yang dilakukan dari Bali. Upacaranya tentu saja dilakukan sesuai dengan adat dan agama Hindu. Eh, gimana itu?

Pandemi Covid-19 yang masih melanda dunia tidak memungkinkan mereka untuk pulang ke Bali, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah secara online. Dengan menggunakan aplikasi zoom, pernikahan mereka diadakan dari Jepang, sekaligus juga dari Bali.

Wah, ini menarik. Ini pernikahan jarak jauh dengan menggunakan internet sebagai media komunikasi. Saya tak tahu, istilah yang tepat untuk menyebut pernikahan seperti ini. Pernikahan virtual, pernikahan online, atau pernikahan jarak jauh. Di Bali ada dikenal istilah ngayeng, semacam sembahyang jarak jauh. Contohnya, seseorang yang oleh kondisi tertentu tak bisa ke Pura Besakih saat ada pujawali, namun orang itu bisa sembahyang dari rumah saja. Mungkin pernikahan ini bias dipadankan dengan contoh seperti itu.

Gung De dan Miradini di Tokyo [Foto Dokumentasi Gung De Satrya Dwipayana]

Namun, yang jelas, jarang-jarang ada orang yang menikah online atau secara virtual, apalagi orang Bali, mengingat ada berbagai ritual dan prosesi yang harus dilewati dengan cukup rumit. Saya pun penasaran dengan proses pernikahan mereka, juga penasaran dengan kisah bahagia yang mereka miliki.

Segera, saya langsung menghubungi laki-laki yang berbahagia itu. Untuk orang yang tinggal di Jepang,  biasanya saya selalu bertanya tentang hal-hal berbau ke-Jepang-an, dari budaya, lingkungan kerja, sampai hal-hal di atas umur 18 tahun, JAV, dan sejenisnya.

Tapi kali ini saya menanyakan banyak hal tentang dirinya, tentang proses dan perjalanan yang mereka hadapi dalam melangsungkan pernikahan virtual tersebut.

Cerita Satrya Dwipayana dan Miradini

Anak Agung Gede Agung Satrya Dwipayana, begitu nama lengkapnya. Teman-teman, sahabat, dan keluarganya biasa memanggil dia dengan sapaan Gung De. Karena ia lebih tua dari saya, maka cukuplah bagi saya menyapa lelaki 27 tahun asal Denpasar itu dengan panggilan ‘Blik Gung’, sebuah panggilan yang saya rasa penuh rasa kehormatan.

Ia menikahi seorang gadis cantik dari Gianyar, Bali, Ni Putu Miradini. Mira merupakan teman sekelas Gung De ketika mereka sama-sama mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar di Denpasar.

Saat SD, hubungan pertemanan mereka  bisa dikatakan biasa saja, tak ada bedanya dengan yang lain.

Namun, sekitar tahun 2015, setelah beberapa tahun terlewati dan puluhan purnama berlalu, mereka berdua bertemu lagi dalam sebuah acara reuni. Saat itu, Gung De sedang menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Udayana. Saat itu, Mira baru saja pulang dari Jepang setelah menyelesaikan pendidikan budaya dan bahasa selama dua tahun.

Di tempat itulah cerita istimewa mereka berdua dimulai. Keduanya melakukan pendekatan, saling tertarik satu sama lain, dan di tahun yang sama, mereka juga meresmikan status mereka sebagai hubungan yang lebih dari sekadar teman. Mereka berdua berpacaran. Cieee pacaran…

Sembari menjalin hubungan, Gung De pun mencoba peruntungan bekerja di Jepang. Sejak Februari 2018, ia bekerja salah satu perusahaan recycling center di tengah-tengah Prefektur Kumamoto di sebelah barat daya Jepang.  Keputusannya untuk bekerja di Negeri Matahari Terbit bermula dari tawaran ayah Miradini yang menjadi pemandu wisata bagi orang Jepang sekaligus pemilik tempat kursus bahasa Jepang di daerah Denpasar. Katanya, salah seorang kenalannya memerlukan dua orang staff dari Bali untuk bekerja di perusahaan tersebut.

Alhasil, ia dan adik kandungnya mengambil kesempatan tersebut setelah belajar bahasa Jepang selama kurang lebih 6 bulan untuk persiapan keberangkatan mereka.

Meski sama-sama berada di Jepang, mereka berdua masih harus dipisahkan oleh jarak. Miradini bekerja di Prefektur Saitama, di salah satu kantor swasta. Ia menjadi seorang penerjemah bahasa Jepang dan bahasa Indonesia, sekaligus mengurus Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan bekerja di Jepang, seperti mengurus dokumen dan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Pernikahan Virtual Bali-Tokyo

Setelah berpacaran selama 4 tahun 11 bulan, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menikah. Sejak 2019, mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya, sudah mencari hari baik untuk melangsungkan upacara pewiwahan yang disakralkan. Mereka dan keluarga sudah menghitung dewasa ayu, memperhatikan wuku, hari, penanggal, juga sasih, kemudian memilih satu yang dirasa terbaik di antara semuanya, yaitu di bulan ke-9 di tahun 2020.

Dengan hati bahagia, mereka pun  berencana pulang ke Bali di bulan-bulan mendekati hari yang ditetapkan.

Sayangnya, kenyataan terkadang memang tak seindah harapan. Pandemi Covid-19 mulai menyerang di bulan-bulan pertama di tahun 2020, bahkan di Indonesia pertambahan kasus dari hari ke hari meningkat pesat dan masih berlanjut hingga saat ini. Salah satu akibat yang akhirnya benar-benar mereka rasakan adalah susahnya akses keluar masuk wilayah secara global, sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk pulang ke Bali.

Mereka kemudian mempertimbangkan solusi terbaik, memutuskan untuk mengadakan upacara pernikahan secara virtual.

“Pernikahan online ini sebenarnya pilihan terakhir saya dan istri. Mendadak tahun ini (2020) pandemi Covid-19 di Indonesia meningkat pesat. Kalaupun menunggu pandemi selesai juga masih belum tahu kapan. Sebelum-sebelumnya juga sudah banyak pasangan yang melangsungkan pernikahan online. Nah, nikah online ini juga diputuskan agar orang tua kita di rumah itu tidak khawatir kalau kita tinggal bareng di Jepang, mengingat budaya orang Jepang dan orang Bali itu beda jauh soal urusan tinggal bareng ini,” ujar pria penggemar One Ok Rock itu saat dihubungi melalui sambungan telepon di sela-sela hari liburnya.

“Sebelum pernikahan secara online ini dilangsungkan, pihak keluarga kami sudah berdiskusi bersama paruman Ida Pedanda perihal hal-hal niskala yang berkaitan dengan pernikahan, dan juga sudah bertanya kepada PHDI Bali mengenai hal-hal sekala. Kalau tidak ada ACC dari pihak-pihak tersebut, acara tidak bisa kami lakukan secara online,” imbuhnya.

Kata “ACC’ yang saya dengar darinya membuat saya sekilas teringat dengan skripsi yang saya kerjakan tahun lalu. Penuh perjuangan. Oke, kembali ke topik.

Pernilahan virtual: upacara dilaksanakan di Bali, sementara Gung dan Mira yang sedang berada di Tokyo tampak di layar lebar. [Foto-foto: dokumentasi Gung De Satriya Dwipayana]

Kata Gung De, menurut PHDI dan Paruman Ida Padanda, di dalam lontar-lontar, sudah dijelaskan bahwa jika ada gering tetempur agung seperti pandemi Covid-19 yang sedang mewabah saat ini, dan juga bencana besar, upacara manusa yadnya secara virtual (jarak jauh) yang mereka langsungkan dapat dibenarkan secara sastra.

Pernikahan secara virtual tersebut pun dilangsungkan pada Jumat, 27 November 2020, pada Sukra Paing Matal, sebuah hari yang baik untuk semua upacara menurut penanggalan kalender Bali.

Di Jepang, Gung De dan istrinya menyewa sebuah mansion di daerah Kamata, Tokyo. Ditemani adik kandungnya, adik kandung istri beserta pacarnya, mereka berlima mempersiapkan segala sesuatunya di sana. Gung De dan istrinya mengenakan pakaian adat yang serasi. Begitu pula dengan adik-adik mereka. Riasan di wajah sang istri pun tidak kalah cantik meski tidak menggunakan jasa make-up artist professional.

Di depan mereka, tepatnya di atas meja, sarana-sarana upacara terlihat sudah tertata rapi, seperti bunga, buah kelapa, dan lain sebagainya. Semua perlengkapan tersebut disiapkan dengan baik oleh sang istri, meski sebelumnya ia sempat kesusahan untuk mencarinya. Di samping itu. ada juga sebuah ponsel pintar canggih dengan kamera depan yang aktif, dan aplikasi Zoom sudah siap digunakan. Mereka siap mengikuti pernikahan virtual.

Di Bali, keluarga besar mereka menyewa tempat upacara dan wedding Taman Prakerti Bhuwana di Keluruhan Beng, Kecamatan Gianyar. Di sanalah, untuk tetap menghormati adat istiadat di Bali, dilangsungkan segala proses upacara pernikahan sebagaimana yang biasa dilakukan orang Bali saat menikah, mulai dari ritual ngidih, bhuta saksi sampai dewa saksi, dari mekalankalan dan prosesi widi widana, banten bale, ngaba tipat bantal dan lainya.

Semuanya diwakili oleh orang tua mereka dan dipimpin oleh seorang pemangku sekaligus ketua panitia acara dari Taman Prakerti Bhuana. Pasangan mempelai di Jepang hadir di upacara tersebut melalui konferensi video yang ditayangkan di sebuah layar putih di tengah-tengah tempat tersebut. Upacara pernikahan tersebut juga dihadiri oleh kelian dinas dan kelian adat dari masing-masing mempelai.

“Setelah acara digelar secara adat, kami akan ke Dinas Catatan Sipil untuk mendaftarkan keresmian pernikahan mereka. Nanti rencananya ketika kami pulang ke Bali sekalian kami buat resepsi, sekalian untuk upacara yang lain mengingat saya juga belum metatah.” Kata Gung De.

Berbagai Respon

Gung De bercerita lagi, katanya sahabat dan teman-temannya kaget saat mendengar kabar bahwa ia dan istrinya melangsungkan pernikahan secara online.  Namun, mereka semua mendoakan yang terbaik. Tak sedikit juga yang memberikan ucapan selamat lewat twitter. Beberapa dari mereka menulis seperti ini:

Gung De dan Miradini yang berbahagia [Foto: dokumentasi Gung De Satria Dwipayana]

“Selamat menempuh hidup baru mas hueheheh langgeng2 teruuuus~~~” – Yak Kentang @Saltedkarameld

“Sampun pawiwahan gung aji? Selamat menempuh hidup baru nggih gung aji, pokoknya olga agar tahan lama” – Baris Semara Putra @gus_baris

“Iii baru lewat TL, happy wedding jikkk semoga langgeng dan bahagia” – Cikennudel @katzennnnn

“Selamat kakak, semoga banyak punya momongan” – CIK @putukasih

“Congrats kak satryaaaaa im so happy for youuu! kapan makan2 ni” – Double D @bloodydidiy

“CONGRATS KAKKKK” – Gek Sin @escomels

Saya juga tidak mau kalah untuk turut mengucapkan selamat dan memberikan doa terbaik. Akhirnya saya menulis begini:

“Congrats blik, selamat melegalkan senggama” – Penganut Teks Bebas @julioulquiorra_

Akhir kata, saya mengucapkan selamat berbahagia untuk Blik Gung De dan Mbok Miradini. Semoga kebahagian selalu melingkupi hidup dan kehidupan rumah tangga kalian. Semoga sehat selalu di sana dan ditunggu acara makan-makannya di Bali. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arca Siwa Mahadewa di Bali pada Masa Lalu

Next Post

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Menimbang “Kompas” dan “Tempo” pada Masa Sandyakalaning Media Cetak || Catatan Pembaca Setia

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co