23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lonte!

PanchoNgaco by PanchoNgaco
September 27, 2020
in Cerpen
Lonte!

Ilustrasi tatkala.co/ diolah dari gambar Nana Partha

Aku bercita-cita menjadi lonte. Aku menjalani hidupku dengan tekun dan teguh demi mencapai cita-cita itu. Menginjak usia 20, aku sudah berhasil mencapai cita-citaku dan menjadi salah satu yang paling sukses.

Aku adalah lonte. Mungkin bahasa lembutnya adalah Pelacur atau Tuna Susila. Meski begitu, aku lebih suka menyebut diriku “lonte”. Lebih nakal, kotor, dan tidak berlagak dihalus-haluskan apalagi diindah-indahkan.

Ya, aku tidak bohong. Menjadi lonte adalah impianku. Sejak aku rajin membaca dan jatuh cinta dengan buku tentang seks, aku langsung bermimpi menjadi lonte. Aku ingin menjadi lonte yang bisa bercinta dengan siapa saja dan mendapat bayaran sepadan. Aku ingin bisa memberikan kepuasan seks untuk siapa saja yang membutuhkannya, selagi mendapatkan petualangan beragam judul, pun tanpa harus takut dicemburui. Aku ingin memberikan pengalaman main gila yang berkesan untuk mereka-mereka, para tamu yang selalu merasa ada yang kosong dalam hidupnya.

Masa kecilku adalah masa kecil paling indah. Aku lahir di tengah keluarga yang kaya. Usia sekolah, aku selalu berprestasi karena orang tuaku membiarkan aku menyeimbangkan hidup dengan giat belajar sembari tetap gila bermain. Aku tidak pernah sekalipun stres.

Memasuki usia kuliah, aku menggilai buku. Semua jenis buku kubaca sampai habis. Setiap hari ada saja buku yang menemaniku mengisi hari. Kalau tidak ada buku, perasaanku langsung tidak karuan dan kesepian.

Dari semua topik yang kubaca, yang kusuka adalah soal seks. Aku lupa persisnya berapa banyak buku soal seks yang kubaca. Semakin banyak buku soal seks kubaca, semakin aku penasaran dengan pengaruh seks dalam kehidupan manusia.

Berkat semua ilmu yang kuterima dari buku-bukuku, aku pun langsung menemukan tujuan hidupku sebelum kuliah kuselesaikan. Aku langsung tahu cita-cita yang ingin kucapai.

***

Sejak dulu, bicara soal manusia adalah bicara soal seks. Seks adalah salah satu sumber kesenangan makhluk yang kata Tuhan paling sempurna ini. Seks menjadi salah satu hiburan yang bisa memberikan kesenangan dan ketenangan, walau hanya sesaat, dalam hidup yang banyak masalahnya.

Menjadi lonte membuatku bisa menghibur mereka yang kesepian, mereka yang sedih, mereka yang marah, mereka yang mabuk, mereka yang rindu, mereka yang haus, maupun mereka yang penasaran.

Siapa bilang menjadi lonte harus melulu karena terpaksa atau tekanan ekonomi. Aku rela menjadi lonte. Menjajakan tubuhku dengan profesional. Aku memasang tarif, membuat syarat dan ketentuan mengikat, bahkan aku juga punya dokter pribadi yang mengurus kesehatan dan kebersihan kelaminku dan seisinya secara rutin. 

Memangnya soal karir, semua harus di balik meja dan konferensi atau rapat di gedung bertingkat setiap pagi? Aku juga punya kantor bernama hotel. Hotel-hotel mewah yang menjulang tinggi di ibu kota. Setiap hari aku bisa berkantor di tempat berbeda, memberikanku pengalaman yang begitu banyak rasa.

Aku menjadi lonte sejak dulu semua karena mau. Aku ingin dan ikhlas menjadi lonte karena itu memang cita-citaku. Tidak semua orang bisa mencapai cita-cita yang diinginkannya. Harusnya orang bangga melihatku, bukan menghakimi.

***

Aku bekerja setiap hari. Dalam satu hari, aku terbiasa melayani lima sampai tujuh tamu saja. Kadang sepuluh masih boleh, tapi dengan catatan ada dua sesi yang diisi dua sampai tiga tamu sekaligus. Kalau istilah kerennya, sesi itu adalah threesome atau foursome.

Tamuku bermacam-macam. Aku tidak pilih kasih terhadap tamu, sepanjang mereka bisa membayar penuh dan mengikuti syarat dan ketentuan yang kuberikan. Aku pernah melayani seorang pria kesepian, anak sekolah yang pusing ujian, penjudi yang kalah taruhan, tukang ojek yang kejar setoran, nelayan yang kehabisan ikan, petani yang panennya hancur-hancuran, bahkan perempuan yang penasaran.

Gaya mereka beraneka ragam. Ada yang malu-malu, sok galak, elegan, penuh perhatian, banyak aturan, banyak pertanyaan, banyak takutnya, ingin menguasai, lembut, kasar, banyak bicara, banyak gaya, banyak coba-coba, pun ada yang tidak tahu harus berbuat apa.

Pernah suatu kali, aku mendapatkan tamu yang usianya kutebak sudah lebih dari kepala empat. Dia mengontakku via telepon dan mengatakan ingin main di penginapan murah yang cukup jauh dari kampungnya. Aku pun mengiyakan dan langsung memintanya menuju ke penginapan murah milik kenalanku yang letaknya dekat apartemenku sendiri.

Penginapan itu murah tetapi bebas dari penggerebekan, sebab kenalanku sendirilah yang biasanya memimpin operasi penggerebekan di wilayahku. Karena aku sering memberinya jatah gratis, jadilah teman ini ikhlas memberikan salah satu kamarnya untukku bekerja sekali waktu, tanpa rasa khawatir.

Kembali soal tamu. Tamu itu akhirnya sampai di depan pintu kamar. Ia mengetuk pintu pelan-pelan. Aku mendengar suara keresek.. keresek, seperti ia sedang merapikan plastik. Ketika kubuka pintu, benar saja tamu itu membawa kantong kresek cukup besar. Tanpa ingin menyinggungnya sama sekali, aku tidak menanyakan apa yang ia bawa. Aku langsung menyilakan dia masuk.

“Selamat malam, Mbak. Saya petani dari kampung. Saya tidak punya uang untuk bayar Mbak karena panen saya dihargai murah oleh para tengkulak. Saya tidak ikhlas jual panen terlalu murah melulu. Jadi saya ke sini membawa hasil panen saya sebagai bayaran untuk Mbak saja. Saya lebih ikhlas memberikan hasil panen ini secara cuma-cuma untuk Mbak. Semoga Mbak mau menerimanya sebagai pengganti biaya kerjaan Mbak. Uang saya juga hanya cukup untuk ongkos pergi pulang dari kampung ke sini.”

Aku menyadari, petani ini punya masalah yang ingin dia lupakan sejenak di sini. Aku pun sama sekali tidak keberatan menerima bayaran berupa hasil panen tersebut. Aku juga tidak menolak bayaran itu sama sekali. Sebab, jika aku menolaknya, betapa petani itu akan merasa harga dirinya tak kupandang.

Malam itu, petani dan aku tidak banyak bermain kelamin. Kami lebih banyak kelonan sembari aku mendengarkan umpatan-umpatan petani itu tentang ketidakadilan dalam hidupnya.

Selesai menceritakan itu semua, petani itu pamit pulang, sekira-kiranya pukul 3 dini hari. Aku sempat menawarinya untuk menginap saja dan siangan saja baru pulang. Ia keberatan dan menolak. Alasannya karena ia butuh sampai kampung sebelum subuh agar tidak ada yang curiga dan dia bisa langsung bertani lagi di lahan warisan ayahnya.

Esok paginya, aku membaca koran dan mendapati petani itu mati di tepi jalan karena kelelahan. Apa boleh buat. Salah sendiri dia tidak sisihkan uangnya untuk beli obat kuat. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

[Puisi-puisi Manik Sukadana] – Pernyataan Pada Perempuan Pengagum Warna

Next Post

[Esai Teori Sastra] “New Historicism”: Dari Konteks ke Ko-Teks

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
[Esai Teori Sastra] “New Historicism”: Dari Konteks ke Ko-Teks

[Esai Teori Sastra] “New Historicism”: Dari Konteks ke Ko-Teks

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co