15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Ubud Menuju Batur yang Selalu Menyejukkan Hati

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
August 21, 2020
in Khas
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra || Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Kamis pagi terasa lebih istimewa dari biasanya. Bukan saja karena bertepatan dengan Hari libur Nasional “Tahun Baru Hijriyah 1 Muhharam”, melainkan karena rencana perjalanan Saya menuju Kawasan Pegunungan Batur bersama Gus Oka, Tjok Piko, dan Edi. Sejak pagi hari, Ubud diguyur hujan dan angin terasa lebih dingin. Saya pun terlebih dahulu menuntaskan rutinitas pagi dengan menyuapi serta memandikan anak sulung Saya sebelum bersiap berangkat menuju Batur.

Jam menunjukkan Pukul 09:30 WITA, Gus Oka datang serta mengajak Saya untuk berkumpul di rumah Tjok Piko yang terletak tak jauh dari batas Desa Adat Ubud bagian utara. Sesampainya disana, Kami disuguhkan sarapan pagi Nasi Campur. Dalam hati,, “Wah Passs,,, kebetulan belum sarapan”. Tak sampai 15 menit Saya dan Gus Oka menyelesaikan sarapan, langsung saja Kami bergegas memulai perjalanan menuju Batur.

Seperti biasa, perjalanan dari Ubud menuju Batur dilalui melewati Kecamatan Tegalalang. Dalam perjalanan, Kami menyaksikan beberapa kali iring-iringan para penghobi motor konvoi menuju utara, sepertinya mereka memiliki tujuan yang sama ke arah Kintamani. Ya, semenjak memasuki era new normal banyak sekali masyarakat yang berkunjung ke Kintamani untuk sekedar meminum kopi sambil menikmati indahnya Gunung Batur terlebih di akhir pekan atau hari-hari libur.

Tak sampai 40 menit, akhirnya Kami tiba di Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani. Kami bergegas masuk menuju ke dalam Pura, karena Jero Gede Batur Duuran bersama beberapa kasinoman telah menunggu kami. Seperti halnya beberapa kali kunjungan ke Pura Ulun Danu Batur, Kami pasti menyempatkan waktu bercengkrama sambil berdiskusi tentang beberapa isu-isu aktual di Bali bersama Jero Gede. Obrolan tampak lebih bersemangat lagi pagi itu setelah hidangan “Kopi Kintamani” dan “Jajan Bali” hadir di depan tempat Kami bersila.

Tak lama setelahnya, Jero Penyarikan Duuran Batur juga tiba di tempat kami duduk dan obrolan menjadi makin bergairah. Pada kesempatan itu, Kami menyampaikan beberapa rencana agenda persembahyangan hari ini, yaitu: di Pura Ulun Danu Batur, di Pura Batu Sila Rupit, dan Pura Tirtha Mas  Mampeh. Sungguh terasa beruntung, Jero Gede dan Jero Penyarikan meluangkan waktu juga untuk ikut bersama-sama dengan kami sampai selesai.

Di Utama Mandala Pura Ulun Danu Batur, terlihat tidak begitu ramai walau beberapa pemedek dari luar Desa Batur tampak juga hadir memanjatkan doa kehadapan Ida Bhatari. Jero Gede memberi tanda kepada Kami untuk segera memulai persembahyangan. Kami bersila sejajar didepan Gedong dan Pemangku dengan santun memandu sembah bhakti Kami kehadapan Ida Bhatari. Setelah selesai bersembahyang dan nunas tirtha, Kami bersiap menuju tempat tujuan Kami yang kedua yaitu Pura Batu Sila Rupit.

Jujur dari beberapa kali kunjungan Saya ke Batur, Saya belum pernah sekalipun nangkil ke Pura Batu Sila Rupit. Itu sebabnya, perjalanan hari ini sungguh sangat dinanti-nanti. Cuaca Batur kala itu cukup bersahabat walau sedikit terik. Kami melewati jalanan berbelok-belok dan turunan yang cukup tajam. Situasi yang sedikit membuat mual, terlebih Saya duduk di Kursi paling belakang. Namun tekad untuk hadir di Batu Sila Rupit sangat tinggi, belum lagi disuguhkan panorama Gunung Batur yang menggoda mata, membuat rintangan rasa mual selama perjalanan seakan tak berarti.

Di dalam mobil, Jero Gede bercerita tentang Desa Batur kuno bernama “Sinarata” dan “Tampurhyang” yang terletak tidak jauh dari tempat Kami melintas. Ditambahkannya bahwa dahulu menuju Batu Sila Rupit amatlah sulit, karena harus melewati jurang yang terjal. Beruntung, pembukaan akses jalan tidak saja memudahkan pemedek yang tangkil namun juga dalam usaha mempercepat perbaikan dan renovasi beberapa situs peninggalan Batur Kuno dahulu.

Tak terasa setelah 20 menit dalam perjalanan, Kami tiba di Pura Batu Sila Rupit. Pura yang jauh dari bayangan sebelumnya karena tak satupun Saya melihat adanya “Meru” layaknya di Pura Ulun Danu Batur. Bahkan, hanya ada cuma satu Pelinggih saja yang menyerupai Padma. Oleh Pemangku Pura yang menerima Kami disana, Kami dipersilahkan istirahat sejenak di sebuah Bale Panjang. Dari sana terlihat sangat jelas dan dekat sekali pemandangan Gunung Batur.

Dari Bale tersebut, sesekali Kami pun melihat beberapa truck pengangkut Batu dan Pasir sedang lalu lalang. Setelah segala persiapan persembahyangan selesai disiapkan, Jero Gede mengajak Kami menuju tempat persembahyangan. Lagi-lagi tidak seperti yang terbayangkan sebelumnya, karena tempat Kami bersila dihadapan Padma tersebut hanyalah sebuah Batu yang cukup bagi 5-6 orang saja. Menurut beberapa cerita tetua Desa yang masih dipercayai sampai saat ini di Batur, Batu tersebut merupakan tempat memutuskan sebuah kesepakatan di masa lalu antara Dalem Waturenggong dengan para tokoh karaman untuk bersama-sama membangun dan membesarkan Batur. Lantas, dari atas Batu itulah, Kami semua menghaturkan sembah dipimpin oleh Jero Gede.

Setelah nunas tirtha, Kami kembali ketempat duduk sebelumnya dan tiga orang pengayah Pura menyuguhkan Kopi dan Jajan Bali. Angin siang kala itu cukup kencang dan beberapa kali kertas beterbangan dihadapan Kami. Dua diantara Kami terlihat sigap menggunakan Jaket Penghangat yang sebelumnya sempat dilepasnya. Tak berselang lama, kembali tiga orang pengayah tampak hadir didepan Kami membawakan beberapa talam berisikan Ikan Mujair Nyatnyat dan Nasi Putih.

Dalam hati Saya berucap,, “Yahhh akhirnya,,,,,,,” Jam waktu itu menujukkan Pukul 13:30 WITA, perut sudah berbunyi kencang. Jero Gede mempersilahkan Kami menyantap hidangan yang telah diparkir satu persatu dihadapan Kami. Tanpa menunggu lama, Saya langsung tancap Gasss, hahaha… Sambil menikmati hidangan , Kami melanjutkan topik pembicaraan tentang perjalanan Batur Kuno dan Sila Rupit sebagai awal mula penyatuan kesepekatan antara Penguasa Bali Majapahit dengan orang-orang Batur Kuno sambil lebih dalam mengulas relevansi kejadian tersebut dengan pemadegan Jero Gede dijamannya yang masih diwarisi hingga saat ini.

Batur di siang hari yang terik

Sesekali perbincangan bergeser ke arah tradisi pertanggungjawaban “Ngusabha Kadasa” serta pelaksanaan “Matiti Suara” sebagai ajaran pendidikan anti korupsi dan etika dagang bagi masyarakat Batur. Jero Penyarikan yang duduk disebelah Saya pun sepakat bahwa Batur menyimpan banyak sekali mutiara tradisi dan ajaran etika kehidupan bagi masyarakat Bali, tinggal bagaimana  ajeg dalam implementasi serta senantiasa mengabadikannya dalam bentuk “narasi”. Lebih lanjut, Kami juga banyak berdiskusi tentang sejarah hangat antara romantisme antara Ubud dan Batur dari perspektif Air, Negara dan Tradisi.

Setelah santap siang selesai, Kami bergegas menuju tempat tujuan Kami yang terakhir yaitu Pura Tirtha Mas Mampeh.  Jarak tempuh menuju area tujuan ketiga Kami tidaklah jauh. Kami melewati beberapa perkebunan bawang warga sebelum akhirnya Kami sampai di Beji Pesiraman Sudamala Mas Mampeh. Mendengar  Beji Sudamala, Saya sempat teringat akan salah satu Beji di areal Munduk Gunung Lebah Ubud dengan nama yang sama yaitu Beji Sudamala. Tirtha Sudamala diyakini melebur segala bentuk kotoran manusia terlebih bagi para petani diyakini dapat menghilangkan gering atau wabah di areal sawah.

Satu orang dari Banjar terdekat, telah menungu Kami di parkiran Beji. Jero Gede memimpin jalannya sembahyang serta memulai pertama kali mesiram (mandi) di Kucuran Tirtha Mas Mampeh yang jatuh dari Tebing setinggi kurang lebiih 35 meter. Saya yang mendapat giliran keempat, untuk pertama kali merasakan dingginya Tirtha mas mampeh, padahal siang itu panas matahari cukup terik. Dalam hati saya berteriak “Ini es atau air, dingin sekali,,,”. Segera, setelah selesai melukat, Kami mengganti pakaian lalu melakukan persembahyangan terakhir kalinya di Pura Beji. Waktu menujukkan pukul 15:00 WITA dan Kami pun kembali balik ke Pura Ulun Danu Batur. Perjalanan menuju Pura Ulun Danu Batur ditempuh dengan waktu yang lebih cepat, karena Kami memilih jalur terdekat walau tampak lebih riskan dengan kontur jalan yang berbelok tajam.

Sesampainya di Jaba Pura, Kami menghaturkan pamit kehadapan Jero Gede dan Jero Penyarikan sekaligus mengucapkan terima kasih atas perjalanan rohani hari ini. Menjadi lebih sangat berkesan lagi,di akhir perjalanan Jero Penyarikan menyempatkan memberikan Saya salinan buku dari Brigitta Hauser-Schaublin yang berjudul “Pura Ulun Danu Batur dari segi historis: Sumbangan Tanah dan Karunia Air-pada pertuantanahan Pura dan Pertanian Irigasi di masa pra kolonial Bali” sebagai bekal menambah kajian literatur dalam usaha penyelesaian penelitian akhir di Kampus. Saya merasa sangat puas dengan perjalanan hari ini menuju sebuah Desa yaang memberikan banyak pesan-pesan kehidupan. Saatnya sekarang kembali menuju “Usadhi Desa Graha Pawitra” berkumpul bersama keluarga.

-Salam-

Tags: BaturGunung BaturUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apa yang Paling Penting dalam Lontar Bali? Lontar Pangleakan?

Next Post

Video Klip “Silih-silih Kambing” Poleng Band Dimainkan Bersama Pantomim Komunitas Mahima

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

Read moreDetails

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

Read moreDetails

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails
Next Post
Video Klip “Silih-silih Kambing” Poleng Band Dimainkan Bersama Pantomim Komunitas Mahima

Video Klip “Silih-silih Kambing” Poleng Band Dimainkan Bersama Pantomim Komunitas Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co