14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Ubud Menuju Batur yang Selalu Menyejukkan Hati

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
August 21, 2020
in Khas
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra || Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Kamis pagi terasa lebih istimewa dari biasanya. Bukan saja karena bertepatan dengan Hari libur Nasional “Tahun Baru Hijriyah 1 Muhharam”, melainkan karena rencana perjalanan Saya menuju Kawasan Pegunungan Batur bersama Gus Oka, Tjok Piko, dan Edi. Sejak pagi hari, Ubud diguyur hujan dan angin terasa lebih dingin. Saya pun terlebih dahulu menuntaskan rutinitas pagi dengan menyuapi serta memandikan anak sulung Saya sebelum bersiap berangkat menuju Batur.

Jam menunjukkan Pukul 09:30 WITA, Gus Oka datang serta mengajak Saya untuk berkumpul di rumah Tjok Piko yang terletak tak jauh dari batas Desa Adat Ubud bagian utara. Sesampainya disana, Kami disuguhkan sarapan pagi Nasi Campur. Dalam hati,, “Wah Passs,,, kebetulan belum sarapan”. Tak sampai 15 menit Saya dan Gus Oka menyelesaikan sarapan, langsung saja Kami bergegas memulai perjalanan menuju Batur.

Seperti biasa, perjalanan dari Ubud menuju Batur dilalui melewati Kecamatan Tegalalang. Dalam perjalanan, Kami menyaksikan beberapa kali iring-iringan para penghobi motor konvoi menuju utara, sepertinya mereka memiliki tujuan yang sama ke arah Kintamani. Ya, semenjak memasuki era new normal banyak sekali masyarakat yang berkunjung ke Kintamani untuk sekedar meminum kopi sambil menikmati indahnya Gunung Batur terlebih di akhir pekan atau hari-hari libur.

Tak sampai 40 menit, akhirnya Kami tiba di Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani. Kami bergegas masuk menuju ke dalam Pura, karena Jero Gede Batur Duuran bersama beberapa kasinoman telah menunggu kami. Seperti halnya beberapa kali kunjungan ke Pura Ulun Danu Batur, Kami pasti menyempatkan waktu bercengkrama sambil berdiskusi tentang beberapa isu-isu aktual di Bali bersama Jero Gede. Obrolan tampak lebih bersemangat lagi pagi itu setelah hidangan “Kopi Kintamani” dan “Jajan Bali” hadir di depan tempat Kami bersila.

Tak lama setelahnya, Jero Penyarikan Duuran Batur juga tiba di tempat kami duduk dan obrolan menjadi makin bergairah. Pada kesempatan itu, Kami menyampaikan beberapa rencana agenda persembahyangan hari ini, yaitu: di Pura Ulun Danu Batur, di Pura Batu Sila Rupit, dan Pura Tirtha Mas  Mampeh. Sungguh terasa beruntung, Jero Gede dan Jero Penyarikan meluangkan waktu juga untuk ikut bersama-sama dengan kami sampai selesai.

Di Utama Mandala Pura Ulun Danu Batur, terlihat tidak begitu ramai walau beberapa pemedek dari luar Desa Batur tampak juga hadir memanjatkan doa kehadapan Ida Bhatari. Jero Gede memberi tanda kepada Kami untuk segera memulai persembahyangan. Kami bersila sejajar didepan Gedong dan Pemangku dengan santun memandu sembah bhakti Kami kehadapan Ida Bhatari. Setelah selesai bersembahyang dan nunas tirtha, Kami bersiap menuju tempat tujuan Kami yang kedua yaitu Pura Batu Sila Rupit.

Jujur dari beberapa kali kunjungan Saya ke Batur, Saya belum pernah sekalipun nangkil ke Pura Batu Sila Rupit. Itu sebabnya, perjalanan hari ini sungguh sangat dinanti-nanti. Cuaca Batur kala itu cukup bersahabat walau sedikit terik. Kami melewati jalanan berbelok-belok dan turunan yang cukup tajam. Situasi yang sedikit membuat mual, terlebih Saya duduk di Kursi paling belakang. Namun tekad untuk hadir di Batu Sila Rupit sangat tinggi, belum lagi disuguhkan panorama Gunung Batur yang menggoda mata, membuat rintangan rasa mual selama perjalanan seakan tak berarti.

Di dalam mobil, Jero Gede bercerita tentang Desa Batur kuno bernama “Sinarata” dan “Tampurhyang” yang terletak tidak jauh dari tempat Kami melintas. Ditambahkannya bahwa dahulu menuju Batu Sila Rupit amatlah sulit, karena harus melewati jurang yang terjal. Beruntung, pembukaan akses jalan tidak saja memudahkan pemedek yang tangkil namun juga dalam usaha mempercepat perbaikan dan renovasi beberapa situs peninggalan Batur Kuno dahulu.

Tak terasa setelah 20 menit dalam perjalanan, Kami tiba di Pura Batu Sila Rupit. Pura yang jauh dari bayangan sebelumnya karena tak satupun Saya melihat adanya “Meru” layaknya di Pura Ulun Danu Batur. Bahkan, hanya ada cuma satu Pelinggih saja yang menyerupai Padma. Oleh Pemangku Pura yang menerima Kami disana, Kami dipersilahkan istirahat sejenak di sebuah Bale Panjang. Dari sana terlihat sangat jelas dan dekat sekali pemandangan Gunung Batur.

Dari Bale tersebut, sesekali Kami pun melihat beberapa truck pengangkut Batu dan Pasir sedang lalu lalang. Setelah segala persiapan persembahyangan selesai disiapkan, Jero Gede mengajak Kami menuju tempat persembahyangan. Lagi-lagi tidak seperti yang terbayangkan sebelumnya, karena tempat Kami bersila dihadapan Padma tersebut hanyalah sebuah Batu yang cukup bagi 5-6 orang saja. Menurut beberapa cerita tetua Desa yang masih dipercayai sampai saat ini di Batur, Batu tersebut merupakan tempat memutuskan sebuah kesepakatan di masa lalu antara Dalem Waturenggong dengan para tokoh karaman untuk bersama-sama membangun dan membesarkan Batur. Lantas, dari atas Batu itulah, Kami semua menghaturkan sembah dipimpin oleh Jero Gede.

Setelah nunas tirtha, Kami kembali ketempat duduk sebelumnya dan tiga orang pengayah Pura menyuguhkan Kopi dan Jajan Bali. Angin siang kala itu cukup kencang dan beberapa kali kertas beterbangan dihadapan Kami. Dua diantara Kami terlihat sigap menggunakan Jaket Penghangat yang sebelumnya sempat dilepasnya. Tak berselang lama, kembali tiga orang pengayah tampak hadir didepan Kami membawakan beberapa talam berisikan Ikan Mujair Nyatnyat dan Nasi Putih.

Dalam hati Saya berucap,, “Yahhh akhirnya,,,,,,,” Jam waktu itu menujukkan Pukul 13:30 WITA, perut sudah berbunyi kencang. Jero Gede mempersilahkan Kami menyantap hidangan yang telah diparkir satu persatu dihadapan Kami. Tanpa menunggu lama, Saya langsung tancap Gasss, hahaha… Sambil menikmati hidangan , Kami melanjutkan topik pembicaraan tentang perjalanan Batur Kuno dan Sila Rupit sebagai awal mula penyatuan kesepekatan antara Penguasa Bali Majapahit dengan orang-orang Batur Kuno sambil lebih dalam mengulas relevansi kejadian tersebut dengan pemadegan Jero Gede dijamannya yang masih diwarisi hingga saat ini.

Batur di siang hari yang terik

Sesekali perbincangan bergeser ke arah tradisi pertanggungjawaban “Ngusabha Kadasa” serta pelaksanaan “Matiti Suara” sebagai ajaran pendidikan anti korupsi dan etika dagang bagi masyarakat Batur. Jero Penyarikan yang duduk disebelah Saya pun sepakat bahwa Batur menyimpan banyak sekali mutiara tradisi dan ajaran etika kehidupan bagi masyarakat Bali, tinggal bagaimana  ajeg dalam implementasi serta senantiasa mengabadikannya dalam bentuk “narasi”. Lebih lanjut, Kami juga banyak berdiskusi tentang sejarah hangat antara romantisme antara Ubud dan Batur dari perspektif Air, Negara dan Tradisi.

Setelah santap siang selesai, Kami bergegas menuju tempat tujuan Kami yang terakhir yaitu Pura Tirtha Mas Mampeh.  Jarak tempuh menuju area tujuan ketiga Kami tidaklah jauh. Kami melewati beberapa perkebunan bawang warga sebelum akhirnya Kami sampai di Beji Pesiraman Sudamala Mas Mampeh. Mendengar  Beji Sudamala, Saya sempat teringat akan salah satu Beji di areal Munduk Gunung Lebah Ubud dengan nama yang sama yaitu Beji Sudamala. Tirtha Sudamala diyakini melebur segala bentuk kotoran manusia terlebih bagi para petani diyakini dapat menghilangkan gering atau wabah di areal sawah.

Satu orang dari Banjar terdekat, telah menungu Kami di parkiran Beji. Jero Gede memimpin jalannya sembahyang serta memulai pertama kali mesiram (mandi) di Kucuran Tirtha Mas Mampeh yang jatuh dari Tebing setinggi kurang lebiih 35 meter. Saya yang mendapat giliran keempat, untuk pertama kali merasakan dingginya Tirtha mas mampeh, padahal siang itu panas matahari cukup terik. Dalam hati saya berteriak “Ini es atau air, dingin sekali,,,”. Segera, setelah selesai melukat, Kami mengganti pakaian lalu melakukan persembahyangan terakhir kalinya di Pura Beji. Waktu menujukkan pukul 15:00 WITA dan Kami pun kembali balik ke Pura Ulun Danu Batur. Perjalanan menuju Pura Ulun Danu Batur ditempuh dengan waktu yang lebih cepat, karena Kami memilih jalur terdekat walau tampak lebih riskan dengan kontur jalan yang berbelok tajam.

Sesampainya di Jaba Pura, Kami menghaturkan pamit kehadapan Jero Gede dan Jero Penyarikan sekaligus mengucapkan terima kasih atas perjalanan rohani hari ini. Menjadi lebih sangat berkesan lagi,di akhir perjalanan Jero Penyarikan menyempatkan memberikan Saya salinan buku dari Brigitta Hauser-Schaublin yang berjudul “Pura Ulun Danu Batur dari segi historis: Sumbangan Tanah dan Karunia Air-pada pertuantanahan Pura dan Pertanian Irigasi di masa pra kolonial Bali” sebagai bekal menambah kajian literatur dalam usaha penyelesaian penelitian akhir di Kampus. Saya merasa sangat puas dengan perjalanan hari ini menuju sebuah Desa yaang memberikan banyak pesan-pesan kehidupan. Saatnya sekarang kembali menuju “Usadhi Desa Graha Pawitra” berkumpul bersama keluarga.

-Salam-

Tags: BaturGunung BaturUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apa yang Paling Penting dalam Lontar Bali? Lontar Pangleakan?

Next Post

Video Klip “Silih-silih Kambing” Poleng Band Dimainkan Bersama Pantomim Komunitas Mahima

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post
Video Klip “Silih-silih Kambing” Poleng Band Dimainkan Bersama Pantomim Komunitas Mahima

Video Klip “Silih-silih Kambing” Poleng Band Dimainkan Bersama Pantomim Komunitas Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co