24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Ubud Menuju Batur yang Selalu Menyejukkan Hati

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
August 21, 2020
in Khas
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra || Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Kamis pagi terasa lebih istimewa dari biasanya. Bukan saja karena bertepatan dengan Hari libur Nasional “Tahun Baru Hijriyah 1 Muhharam”, melainkan karena rencana perjalanan Saya menuju Kawasan Pegunungan Batur bersama Gus Oka, Tjok Piko, dan Edi. Sejak pagi hari, Ubud diguyur hujan dan angin terasa lebih dingin. Saya pun terlebih dahulu menuntaskan rutinitas pagi dengan menyuapi serta memandikan anak sulung Saya sebelum bersiap berangkat menuju Batur.

Jam menunjukkan Pukul 09:30 WITA, Gus Oka datang serta mengajak Saya untuk berkumpul di rumah Tjok Piko yang terletak tak jauh dari batas Desa Adat Ubud bagian utara. Sesampainya disana, Kami disuguhkan sarapan pagi Nasi Campur. Dalam hati,, “Wah Passs,,, kebetulan belum sarapan”. Tak sampai 15 menit Saya dan Gus Oka menyelesaikan sarapan, langsung saja Kami bergegas memulai perjalanan menuju Batur.

Seperti biasa, perjalanan dari Ubud menuju Batur dilalui melewati Kecamatan Tegalalang. Dalam perjalanan, Kami menyaksikan beberapa kali iring-iringan para penghobi motor konvoi menuju utara, sepertinya mereka memiliki tujuan yang sama ke arah Kintamani. Ya, semenjak memasuki era new normal banyak sekali masyarakat yang berkunjung ke Kintamani untuk sekedar meminum kopi sambil menikmati indahnya Gunung Batur terlebih di akhir pekan atau hari-hari libur.

Tak sampai 40 menit, akhirnya Kami tiba di Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani. Kami bergegas masuk menuju ke dalam Pura, karena Jero Gede Batur Duuran bersama beberapa kasinoman telah menunggu kami. Seperti halnya beberapa kali kunjungan ke Pura Ulun Danu Batur, Kami pasti menyempatkan waktu bercengkrama sambil berdiskusi tentang beberapa isu-isu aktual di Bali bersama Jero Gede. Obrolan tampak lebih bersemangat lagi pagi itu setelah hidangan “Kopi Kintamani” dan “Jajan Bali” hadir di depan tempat Kami bersila.

Tak lama setelahnya, Jero Penyarikan Duuran Batur juga tiba di tempat kami duduk dan obrolan menjadi makin bergairah. Pada kesempatan itu, Kami menyampaikan beberapa rencana agenda persembahyangan hari ini, yaitu: di Pura Ulun Danu Batur, di Pura Batu Sila Rupit, dan Pura Tirtha Mas  Mampeh. Sungguh terasa beruntung, Jero Gede dan Jero Penyarikan meluangkan waktu juga untuk ikut bersama-sama dengan kami sampai selesai.

Di Utama Mandala Pura Ulun Danu Batur, terlihat tidak begitu ramai walau beberapa pemedek dari luar Desa Batur tampak juga hadir memanjatkan doa kehadapan Ida Bhatari. Jero Gede memberi tanda kepada Kami untuk segera memulai persembahyangan. Kami bersila sejajar didepan Gedong dan Pemangku dengan santun memandu sembah bhakti Kami kehadapan Ida Bhatari. Setelah selesai bersembahyang dan nunas tirtha, Kami bersiap menuju tempat tujuan Kami yang kedua yaitu Pura Batu Sila Rupit.

Jujur dari beberapa kali kunjungan Saya ke Batur, Saya belum pernah sekalipun nangkil ke Pura Batu Sila Rupit. Itu sebabnya, perjalanan hari ini sungguh sangat dinanti-nanti. Cuaca Batur kala itu cukup bersahabat walau sedikit terik. Kami melewati jalanan berbelok-belok dan turunan yang cukup tajam. Situasi yang sedikit membuat mual, terlebih Saya duduk di Kursi paling belakang. Namun tekad untuk hadir di Batu Sila Rupit sangat tinggi, belum lagi disuguhkan panorama Gunung Batur yang menggoda mata, membuat rintangan rasa mual selama perjalanan seakan tak berarti.

Di dalam mobil, Jero Gede bercerita tentang Desa Batur kuno bernama “Sinarata” dan “Tampurhyang” yang terletak tidak jauh dari tempat Kami melintas. Ditambahkannya bahwa dahulu menuju Batu Sila Rupit amatlah sulit, karena harus melewati jurang yang terjal. Beruntung, pembukaan akses jalan tidak saja memudahkan pemedek yang tangkil namun juga dalam usaha mempercepat perbaikan dan renovasi beberapa situs peninggalan Batur Kuno dahulu.

Tak terasa setelah 20 menit dalam perjalanan, Kami tiba di Pura Batu Sila Rupit. Pura yang jauh dari bayangan sebelumnya karena tak satupun Saya melihat adanya “Meru” layaknya di Pura Ulun Danu Batur. Bahkan, hanya ada cuma satu Pelinggih saja yang menyerupai Padma. Oleh Pemangku Pura yang menerima Kami disana, Kami dipersilahkan istirahat sejenak di sebuah Bale Panjang. Dari sana terlihat sangat jelas dan dekat sekali pemandangan Gunung Batur.

Dari Bale tersebut, sesekali Kami pun melihat beberapa truck pengangkut Batu dan Pasir sedang lalu lalang. Setelah segala persiapan persembahyangan selesai disiapkan, Jero Gede mengajak Kami menuju tempat persembahyangan. Lagi-lagi tidak seperti yang terbayangkan sebelumnya, karena tempat Kami bersila dihadapan Padma tersebut hanyalah sebuah Batu yang cukup bagi 5-6 orang saja. Menurut beberapa cerita tetua Desa yang masih dipercayai sampai saat ini di Batur, Batu tersebut merupakan tempat memutuskan sebuah kesepakatan di masa lalu antara Dalem Waturenggong dengan para tokoh karaman untuk bersama-sama membangun dan membesarkan Batur. Lantas, dari atas Batu itulah, Kami semua menghaturkan sembah dipimpin oleh Jero Gede.

Setelah nunas tirtha, Kami kembali ketempat duduk sebelumnya dan tiga orang pengayah Pura menyuguhkan Kopi dan Jajan Bali. Angin siang kala itu cukup kencang dan beberapa kali kertas beterbangan dihadapan Kami. Dua diantara Kami terlihat sigap menggunakan Jaket Penghangat yang sebelumnya sempat dilepasnya. Tak berselang lama, kembali tiga orang pengayah tampak hadir didepan Kami membawakan beberapa talam berisikan Ikan Mujair Nyatnyat dan Nasi Putih.

Dalam hati Saya berucap,, “Yahhh akhirnya,,,,,,,” Jam waktu itu menujukkan Pukul 13:30 WITA, perut sudah berbunyi kencang. Jero Gede mempersilahkan Kami menyantap hidangan yang telah diparkir satu persatu dihadapan Kami. Tanpa menunggu lama, Saya langsung tancap Gasss, hahaha… Sambil menikmati hidangan , Kami melanjutkan topik pembicaraan tentang perjalanan Batur Kuno dan Sila Rupit sebagai awal mula penyatuan kesepekatan antara Penguasa Bali Majapahit dengan orang-orang Batur Kuno sambil lebih dalam mengulas relevansi kejadian tersebut dengan pemadegan Jero Gede dijamannya yang masih diwarisi hingga saat ini.

Batur di siang hari yang terik

Sesekali perbincangan bergeser ke arah tradisi pertanggungjawaban “Ngusabha Kadasa” serta pelaksanaan “Matiti Suara” sebagai ajaran pendidikan anti korupsi dan etika dagang bagi masyarakat Batur. Jero Penyarikan yang duduk disebelah Saya pun sepakat bahwa Batur menyimpan banyak sekali mutiara tradisi dan ajaran etika kehidupan bagi masyarakat Bali, tinggal bagaimana  ajeg dalam implementasi serta senantiasa mengabadikannya dalam bentuk “narasi”. Lebih lanjut, Kami juga banyak berdiskusi tentang sejarah hangat antara romantisme antara Ubud dan Batur dari perspektif Air, Negara dan Tradisi.

Setelah santap siang selesai, Kami bergegas menuju tempat tujuan Kami yang terakhir yaitu Pura Tirtha Mas Mampeh.  Jarak tempuh menuju area tujuan ketiga Kami tidaklah jauh. Kami melewati beberapa perkebunan bawang warga sebelum akhirnya Kami sampai di Beji Pesiraman Sudamala Mas Mampeh. Mendengar  Beji Sudamala, Saya sempat teringat akan salah satu Beji di areal Munduk Gunung Lebah Ubud dengan nama yang sama yaitu Beji Sudamala. Tirtha Sudamala diyakini melebur segala bentuk kotoran manusia terlebih bagi para petani diyakini dapat menghilangkan gering atau wabah di areal sawah.

Satu orang dari Banjar terdekat, telah menungu Kami di parkiran Beji. Jero Gede memimpin jalannya sembahyang serta memulai pertama kali mesiram (mandi) di Kucuran Tirtha Mas Mampeh yang jatuh dari Tebing setinggi kurang lebiih 35 meter. Saya yang mendapat giliran keempat, untuk pertama kali merasakan dingginya Tirtha mas mampeh, padahal siang itu panas matahari cukup terik. Dalam hati saya berteriak “Ini es atau air, dingin sekali,,,”. Segera, setelah selesai melukat, Kami mengganti pakaian lalu melakukan persembahyangan terakhir kalinya di Pura Beji. Waktu menujukkan pukul 15:00 WITA dan Kami pun kembali balik ke Pura Ulun Danu Batur. Perjalanan menuju Pura Ulun Danu Batur ditempuh dengan waktu yang lebih cepat, karena Kami memilih jalur terdekat walau tampak lebih riskan dengan kontur jalan yang berbelok tajam.

Sesampainya di Jaba Pura, Kami menghaturkan pamit kehadapan Jero Gede dan Jero Penyarikan sekaligus mengucapkan terima kasih atas perjalanan rohani hari ini. Menjadi lebih sangat berkesan lagi,di akhir perjalanan Jero Penyarikan menyempatkan memberikan Saya salinan buku dari Brigitta Hauser-Schaublin yang berjudul “Pura Ulun Danu Batur dari segi historis: Sumbangan Tanah dan Karunia Air-pada pertuantanahan Pura dan Pertanian Irigasi di masa pra kolonial Bali” sebagai bekal menambah kajian literatur dalam usaha penyelesaian penelitian akhir di Kampus. Saya merasa sangat puas dengan perjalanan hari ini menuju sebuah Desa yaang memberikan banyak pesan-pesan kehidupan. Saatnya sekarang kembali menuju “Usadhi Desa Graha Pawitra” berkumpul bersama keluarga.

-Salam-

Tags: BaturGunung BaturUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apa yang Paling Penting dalam Lontar Bali? Lontar Pangleakan?

Next Post

Video Klip “Silih-silih Kambing” Poleng Band Dimainkan Bersama Pantomim Komunitas Mahima

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Video Klip “Silih-silih Kambing” Poleng Band Dimainkan Bersama Pantomim Komunitas Mahima

Video Klip “Silih-silih Kambing” Poleng Band Dimainkan Bersama Pantomim Komunitas Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co