25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa yang Paling Penting dalam Lontar Bali? Lontar Pangleakan?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 20, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Harian Sugi Lanus, 20 Agustus 2020.

Kalau pertanyaan ini harus saya jawab, maka jawaban saya: Nilai-nilai kemanusiaan.

Sebelum menjelaskan “nilai-nilai kemanusiaan” yang saya maksud tersebut, ijinkan saya sedikit bercerita kalau saya juga membaca selintas ilmu pangleakan, aji wegig, kawisesan, bahkan menyimpan lontar-lontar tersebut karena diberikan oleh mereka yang takut atau tidak mau menyimpannya. Dengan membaca cepat lontar-lontar itu, saya merasa hati saya tidak tertarik pada deretan lontar ini, sehingga ada beberapa lontar yang saya berikan ke orang lain yang ingin menekuni atau menyimpannya. Ada tidak kurang dari 100 lontar jenis ini yang saya dapat di sebuah galeri antik yang tutup, masih saya simpan.

Kenapa kurang tertarik pada lontar-lontar jenis pangleakan, aji wegig, kawisesan? Alasannya sederhana: Perlu waktu panjang harus saya habiskan untuk “bermain perasaan” jika menekuni lontar deretan ini. Lagi pula, muncul pertanyaan sangat personal: Jika kita bisa menjadi manusia yang biasa-biasa saja, bersahaja dan berbahagia, kenapa harus menjadi “manusia jadi-jadian” (atau manusia luar biasa) yang belum tentu terpuaskan dengan pencapaian berbagai kesaktian dalam lontar-lontar tersebut? Ini bukan berarti saya menganggap enteng isi lontar-lontar tersebut. Kompleksitasnya luar biasa mendalam. Terutama bagaimana kita harus siap “terjun bebas tanpa parasut”, entah kalau kita ingin berubah wujud menjadi berbagai wujud dan kekuatan yang diarahkan menjadi targetnya. Banyak perasaan dan emosi yang harus diletakkan di sana.

Singkatnya, saya tidak cocok untuk deretan lontar ini. Rasanya, ketika membaca lontar-lontar ini, seperti memasuki barak atau pelatihan khusus kopassus yang skillnya terbatas dan punya keahlian khusus yang sangat spesifik, yang bisa dipakai dalam situasi tempur yang sangat spesifik pula. Rasanya, kalau dibayangkan, seperti berlatih mengasah pedang dan tombak, memahami pikiran dan badan sendiri, melatih menggunakannya, lalu saya juga tidak mengerti pertempuran apa yang akan dihadapi setelah menguasai ilmu-ilmu tersebut. Saya pikir di masa kerajaan dahulu skill tersebut dibutuhkan sebagaimana halnya para kopassus atau telik sandi dan pasukan kerajaan dalam mempertahankan kerajaan atau desanya, dari berbagai kemungkinan marabahaya kehidupan, dan atau untuk penguasaan kelompok lain, orang lain, dan membangun relasi kemanusiaan batiniah yang sangat penuh bayang-bayang mistis.

Kalau ada yang mencoba menekuni deretan lontar pangleakan, aji wegig, kawisesan, sekalipun saya tidak mendalami hanya sekedar sambil lalu membaca, saya senang mendengar pengalamannya. Saya juga akan mempersilahkan membaca koleksi saya, dan tidak berkeberatan mendiskusikannya, tentunya sebagai obrolan literatur, atau sebatas bacaan, karena saya awam atau tidak mengerti praktek nyata atau tidak punya pengalaman langsung dengan isi lontar-lontar tersebut.

Bagaimana dengan lontar-lontar kepanditaan yang berisi lontar mantra, puja, seha, sesontengan, darani, kawaca?

Nah, ini saya sangat tertarik. Bukan karena ada kekuatan gaib di dalamnya. Saya suka terjemahan dari mantra, puja, seha, sesontengan, darani, kawaca. Di dalam teks-teks ini terkandung banyak kalimat-kalimat yang membentangkan sisi psikologis manusia. Ada harapan, relasi dengan diri dan alam, pertautan dengan keluarga-masyarakat dan antar manusia secara umum. Paling menyentuh adalah teks-teks ini adalah kumpulan harapan dan cita-cita kemanusiaan manusia dari berabad-abad silam. Membuka teks-teks ini seperti berjumpa bentang harapan luas dan pengalaman historis-psikologis bagaimana manusia membangun peradaban, bagaimana manusia meneguhkan dirinya menghadapi derita, wabah, bencana alam, dan peperangan.

Lontar-lontar pengobatan herbal?

Lontar usada atau pengobatan herbal dan pengobatan tradisional menarik perhatian saya. Setelah membaca cepat 110 lontar jenis ini, saya mendapat pelajaran besar bahkan dalam sejarah perjalanan manusia tidak bisa terpisah dengan tumbuhan, air dan berbagai variable alam lainnya. Teks-teks usada menunjukkan manusia tidak bisa sendiri membangun atau mempertahankan kewarasan dan kebugarannya, manusia bergantung pada alam, khususnya tumbuhan dan air. Sangat bergantung. Dengan pemahaman yang selaras akan alam, pemahaman baik anasir alam dan kandungan dalam berbagai tumbuhan, manusia bisa melanjutkan perjalanan sejarahnya. Ada persoalan kemanusiaan mendalam dalam teks usada ini bagaimana manusia mesti saling membantu mencari penyembuhan bagi orang lain. Bagaimana tatanan masyarakat mesti dibuat “lurus, waras dan selaras” dengan perangai cuaca, bulan, perubahan musim dan berbagai wabah yang tidak terduga.

Lontar-lontar usada, menurut pembacaan saya sejauh ini, tidak bisa dilepaskan dari kalender Bali. Secara umum teks-teks wariga. Dari wariga ini kita melihat bagaimana manusia “membawa sakit berdasarkan pengaruh hari lahirnya”. Dari wariga ini kita melihat bagaimana manusia “punya kecenderungan sifat dan perangai” yang pada akhirnya membawa pengaruh simptomatik dan psikologis dalam pertumbuhannya sebagai manusia. Juga, dari wariga ini kita melihat bagaimana turun sakit berdasarkan bulan atau musim — “gering manut sasih”. Singkatnya, musim dan cuaca, pengaruh konstelasi alam dan perbintangan, gelagat gravitasi dan persentuhannya dengan manusia dalam tatanan kosmis, bukan hanya mempengaruhi jagat sadar manusia, tapi juga jagat non-sadar manusia. Bisa menjadi variable baik dan buruk perjalanannya, menjadi faktor pembuka dan penghalang gerak-geriknya, menjadi hal-hal sekala-niskala yang mempengaruhi secara terduga dan sering tiada terduga.

Lontar apa yang betul-betul menarik tapi sering dianggap remeh?

Saya melihat “gaguritan” (atau bisa ditulis “geguritan”) adalah peninggalan manusia Bali abad 16—20 yang sangat menarik untuk diselami. Di dalamnya berbagai persoalan kemanusiaan yang sangat bersifat psikologis terbentang. Jeritan duka, gejolak bingung, amukan perang dan bencana, gereget rindu dan nafsu jasmaniah yang murni manusia biasa, hayalan halusinasi dan mimpi realis, bercampur baur dalam peninggalan “jejak-jejak kemanusiaan” yang bisa kita baca dalam ratusan geguritan Bali.

Geguritan merekam cara bertutur, cara berpikir, cara menghalau kepedihan hidup, cara sembunyi dari kenyataan, cara menjawab tantangan nyata, dan berbagai hal yang sungguh-sungguh manusiawi. Geguritan merekam pesona manusia pada alam, pada perasaannya terhadap gejolak cintanya sendiri, kekagumannya akan diri dan kebodohan dirinya, sekaligus gombal-gombal pikiran-pikirannya yang kadang sekedar ngalor-ngidul seperti obrolan sebelum tidur, tapi ada juga yang hakiki mempertanyakan secar filosofis kehadirian manusia di dunia, jalan menghadapi hidup, bimbingan dan tutur petunjuk dan petuah yang bisa dijadikan cerminan dalam bertindak, bahkan kadang ngelantur bimbingan mencapai moksa dan pelepasan yang juga kadang patah di jalan seperti seperti sebuah dongeng yang tiba-tiba terhenti karena yang mendongeng tertidur atau mengakhirinya.

Teks-teks tatwa, seperti diketahui umum, cukup serius. Saya membacanya pula, tapi selingan terbesar dan kegembiraan saya sebagai penikmat susastra lontar Bali adalah teks-teks geguritan. Oleh karena saya gandrung dengan teks-teks geguritan ini, dan tidak menekuni pangleakan-aji wegig-kawisesan, maka penutup catatan singkat ini saya berikan tabel geguritan yang sudah beredar cetak di toko buku dan atau di perpustakaan, sebagai berikut:

Geguritan Ala Ayuning Dewasa

Geguritan Asta Berata

Geguritan Arya Wang Bang Pinatih

Geguritan Babad Segara Rupek

Geguritan Bagawan Dawala (Petruk)

Geguritan Basur

Geguritan Batur Taskara

Geguritan Bharata Yudha

Geguritan Bima Swarga

Geguritan Budi Pekerti

Geguritan Brahmana Keling

Geguritan Candra Bherawa

Geguritan Cangak

Geguritan Cengceng Benges

Geguritan Darma Kusuma

Geguritan Dewi Sakuntala

Geguritan Dharma Stiti

Geguritan Dharma Prawretti

Geguritan Galungan

Geguritan Giri-Putri

Geguritan Guru Bhakti

Geguritan Hariwangsa

Geguritan I Gusti Wayan Kaprajaya

Geguritan I Japatwan

Geguritan I Ketut Bagus

Geguritan I Ketut Bungkling/Bongkling

Geguritan I Lijah-lijah

Geguritan Japatuan I

Geguritan Japatuan II

Geguritan Jayaprana

Sarining Geguritan Jejambetan I

Geguritan Kaki Manuh Nini Manuh Cakepan 1

Geguritan Kaki Manuh Nini Manuh Cakepan 2

Geguritan Kanda-pat

Geguritan Katuturan Ki Balian Batur

Geguritan Kebo Iwa

Geguritan Kebo Tarunantaka

Geguritan Lubdaka

Geguritan Lokika

Geguritan Mantri Alit

Geguritan Merga Sunya

Geguritan Megantaka

Geguritan Indik Panca Yadnya

Geguritan Pakang Raras

Geguritan Pikukuh Jagat

Geguritan Pujawali Atma Sudha

Geguritan Puputan Margarana

Geguritan Prastanika dan Swarga Rohana Parwa

Geguritan Pura Agung Besakih

Geguritan Putra Sesana

Geguritan Rama Bhodana 1

Geguritan Rama Bhodana 2

Geguritan Rare Kumara

Geguritan Sakuntala

Geguritan Sang Karna

Geguritan Sarasamuscaya

Geguritan Sastrodayana Tattwa

Geguritan Sasuluh Parikrama Agama

Geguritan Satyaning Sawitri

Geguritan Sebun Bangkung

Geguritan Sewagati

Geguritan Siva Latri Kalpa

Geguritan Sucita 1

Geguritan Sucita 2

Geguritan Sucita 3

Geguritan Sucita muah Subudhi

Geguritan Suddhamala

Geguritan Suniya-Tatwa

Geguritan Sutasoma

Geguritan Taluh Celeng

Geguritan Taluh Emas

Geguritan Tamtam

Geguritan Unuh Galih

Geguritan Wariga Diwasa

Geguritan Watugunung

Geguritan Widyasari 1

Geguritan Widyasari 2

Membaca semua geguritan tersebut terbentang “nilai-nilai kemanusian orang Bali. Perdebatan dan berbincangan, dialog dengan dirinya sendiri, dari hal-hal paling sepele sampai hal-hal hakiki. Semua dalam perbincangan yang tidak keramat atau pingit, semua dalam bingkai manusia biasa yang bersahaja, dengan pengakuan di depannya bahwa manusia punggung, belog, wimuda, atau punya keterbatasan. Justru dengan pengakuan atas keterbatasan dan bukan hal-hal gaiblah saya menemukan banyak kemuliaan manusia Bali. Sebagai manusia sahaja yang biasa, yang rindu, yang mimpi, yang penuh ragu, yang gelisah, yang tidak mengaku paling benar, dan pada sisi ini membaca geguritan terasa akrab dengan diri dan kemanusiaan kita, sebagai manusia biasa. Beda sekali sensasinya membaca teks-teks sahaja ini, jika dibandingkan membaca teks-teks pangleakan, aji wegig, kawisesan, dan sejenisnya, yang membuat perasaan di antar ke arah “tidak biasa”. Karena keterbatasan saya memilih ke arah bacaan manusia biasa, tidak cukup piawai mengarahkan perasaan dan pikiran untuk membaca teks-teks “manusia luar biasa”.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jejak Persahabatan Purba – [Tentang Pura Puseh Panjingan di Les-Penuktukan]

Next Post

Dari Ubud Menuju Batur yang Selalu Menyejukkan Hati

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Dari Ubud Menuju Batur yang Selalu Menyejukkan Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co