3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa yang Paling Penting dalam Lontar Bali? Lontar Pangleakan?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 20, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Harian Sugi Lanus, 20 Agustus 2020.

Kalau pertanyaan ini harus saya jawab, maka jawaban saya: Nilai-nilai kemanusiaan.

Sebelum menjelaskan “nilai-nilai kemanusiaan” yang saya maksud tersebut, ijinkan saya sedikit bercerita kalau saya juga membaca selintas ilmu pangleakan, aji wegig, kawisesan, bahkan menyimpan lontar-lontar tersebut karena diberikan oleh mereka yang takut atau tidak mau menyimpannya. Dengan membaca cepat lontar-lontar itu, saya merasa hati saya tidak tertarik pada deretan lontar ini, sehingga ada beberapa lontar yang saya berikan ke orang lain yang ingin menekuni atau menyimpannya. Ada tidak kurang dari 100 lontar jenis ini yang saya dapat di sebuah galeri antik yang tutup, masih saya simpan.

Kenapa kurang tertarik pada lontar-lontar jenis pangleakan, aji wegig, kawisesan? Alasannya sederhana: Perlu waktu panjang harus saya habiskan untuk “bermain perasaan” jika menekuni lontar deretan ini. Lagi pula, muncul pertanyaan sangat personal: Jika kita bisa menjadi manusia yang biasa-biasa saja, bersahaja dan berbahagia, kenapa harus menjadi “manusia jadi-jadian” (atau manusia luar biasa) yang belum tentu terpuaskan dengan pencapaian berbagai kesaktian dalam lontar-lontar tersebut? Ini bukan berarti saya menganggap enteng isi lontar-lontar tersebut. Kompleksitasnya luar biasa mendalam. Terutama bagaimana kita harus siap “terjun bebas tanpa parasut”, entah kalau kita ingin berubah wujud menjadi berbagai wujud dan kekuatan yang diarahkan menjadi targetnya. Banyak perasaan dan emosi yang harus diletakkan di sana.

Singkatnya, saya tidak cocok untuk deretan lontar ini. Rasanya, ketika membaca lontar-lontar ini, seperti memasuki barak atau pelatihan khusus kopassus yang skillnya terbatas dan punya keahlian khusus yang sangat spesifik, yang bisa dipakai dalam situasi tempur yang sangat spesifik pula. Rasanya, kalau dibayangkan, seperti berlatih mengasah pedang dan tombak, memahami pikiran dan badan sendiri, melatih menggunakannya, lalu saya juga tidak mengerti pertempuran apa yang akan dihadapi setelah menguasai ilmu-ilmu tersebut. Saya pikir di masa kerajaan dahulu skill tersebut dibutuhkan sebagaimana halnya para kopassus atau telik sandi dan pasukan kerajaan dalam mempertahankan kerajaan atau desanya, dari berbagai kemungkinan marabahaya kehidupan, dan atau untuk penguasaan kelompok lain, orang lain, dan membangun relasi kemanusiaan batiniah yang sangat penuh bayang-bayang mistis.

Kalau ada yang mencoba menekuni deretan lontar pangleakan, aji wegig, kawisesan, sekalipun saya tidak mendalami hanya sekedar sambil lalu membaca, saya senang mendengar pengalamannya. Saya juga akan mempersilahkan membaca koleksi saya, dan tidak berkeberatan mendiskusikannya, tentunya sebagai obrolan literatur, atau sebatas bacaan, karena saya awam atau tidak mengerti praktek nyata atau tidak punya pengalaman langsung dengan isi lontar-lontar tersebut.

Bagaimana dengan lontar-lontar kepanditaan yang berisi lontar mantra, puja, seha, sesontengan, darani, kawaca?

Nah, ini saya sangat tertarik. Bukan karena ada kekuatan gaib di dalamnya. Saya suka terjemahan dari mantra, puja, seha, sesontengan, darani, kawaca. Di dalam teks-teks ini terkandung banyak kalimat-kalimat yang membentangkan sisi psikologis manusia. Ada harapan, relasi dengan diri dan alam, pertautan dengan keluarga-masyarakat dan antar manusia secara umum. Paling menyentuh adalah teks-teks ini adalah kumpulan harapan dan cita-cita kemanusiaan manusia dari berabad-abad silam. Membuka teks-teks ini seperti berjumpa bentang harapan luas dan pengalaman historis-psikologis bagaimana manusia membangun peradaban, bagaimana manusia meneguhkan dirinya menghadapi derita, wabah, bencana alam, dan peperangan.

Lontar-lontar pengobatan herbal?

Lontar usada atau pengobatan herbal dan pengobatan tradisional menarik perhatian saya. Setelah membaca cepat 110 lontar jenis ini, saya mendapat pelajaran besar bahkan dalam sejarah perjalanan manusia tidak bisa terpisah dengan tumbuhan, air dan berbagai variable alam lainnya. Teks-teks usada menunjukkan manusia tidak bisa sendiri membangun atau mempertahankan kewarasan dan kebugarannya, manusia bergantung pada alam, khususnya tumbuhan dan air. Sangat bergantung. Dengan pemahaman yang selaras akan alam, pemahaman baik anasir alam dan kandungan dalam berbagai tumbuhan, manusia bisa melanjutkan perjalanan sejarahnya. Ada persoalan kemanusiaan mendalam dalam teks usada ini bagaimana manusia mesti saling membantu mencari penyembuhan bagi orang lain. Bagaimana tatanan masyarakat mesti dibuat “lurus, waras dan selaras” dengan perangai cuaca, bulan, perubahan musim dan berbagai wabah yang tidak terduga.

Lontar-lontar usada, menurut pembacaan saya sejauh ini, tidak bisa dilepaskan dari kalender Bali. Secara umum teks-teks wariga. Dari wariga ini kita melihat bagaimana manusia “membawa sakit berdasarkan pengaruh hari lahirnya”. Dari wariga ini kita melihat bagaimana manusia “punya kecenderungan sifat dan perangai” yang pada akhirnya membawa pengaruh simptomatik dan psikologis dalam pertumbuhannya sebagai manusia. Juga, dari wariga ini kita melihat bagaimana turun sakit berdasarkan bulan atau musim — “gering manut sasih”. Singkatnya, musim dan cuaca, pengaruh konstelasi alam dan perbintangan, gelagat gravitasi dan persentuhannya dengan manusia dalam tatanan kosmis, bukan hanya mempengaruhi jagat sadar manusia, tapi juga jagat non-sadar manusia. Bisa menjadi variable baik dan buruk perjalanannya, menjadi faktor pembuka dan penghalang gerak-geriknya, menjadi hal-hal sekala-niskala yang mempengaruhi secara terduga dan sering tiada terduga.

Lontar apa yang betul-betul menarik tapi sering dianggap remeh?

Saya melihat “gaguritan” (atau bisa ditulis “geguritan”) adalah peninggalan manusia Bali abad 16—20 yang sangat menarik untuk diselami. Di dalamnya berbagai persoalan kemanusiaan yang sangat bersifat psikologis terbentang. Jeritan duka, gejolak bingung, amukan perang dan bencana, gereget rindu dan nafsu jasmaniah yang murni manusia biasa, hayalan halusinasi dan mimpi realis, bercampur baur dalam peninggalan “jejak-jejak kemanusiaan” yang bisa kita baca dalam ratusan geguritan Bali.

Geguritan merekam cara bertutur, cara berpikir, cara menghalau kepedihan hidup, cara sembunyi dari kenyataan, cara menjawab tantangan nyata, dan berbagai hal yang sungguh-sungguh manusiawi. Geguritan merekam pesona manusia pada alam, pada perasaannya terhadap gejolak cintanya sendiri, kekagumannya akan diri dan kebodohan dirinya, sekaligus gombal-gombal pikiran-pikirannya yang kadang sekedar ngalor-ngidul seperti obrolan sebelum tidur, tapi ada juga yang hakiki mempertanyakan secar filosofis kehadirian manusia di dunia, jalan menghadapi hidup, bimbingan dan tutur petunjuk dan petuah yang bisa dijadikan cerminan dalam bertindak, bahkan kadang ngelantur bimbingan mencapai moksa dan pelepasan yang juga kadang patah di jalan seperti seperti sebuah dongeng yang tiba-tiba terhenti karena yang mendongeng tertidur atau mengakhirinya.

Teks-teks tatwa, seperti diketahui umum, cukup serius. Saya membacanya pula, tapi selingan terbesar dan kegembiraan saya sebagai penikmat susastra lontar Bali adalah teks-teks geguritan. Oleh karena saya gandrung dengan teks-teks geguritan ini, dan tidak menekuni pangleakan-aji wegig-kawisesan, maka penutup catatan singkat ini saya berikan tabel geguritan yang sudah beredar cetak di toko buku dan atau di perpustakaan, sebagai berikut:

Geguritan Ala Ayuning Dewasa

Geguritan Asta Berata

Geguritan Arya Wang Bang Pinatih

Geguritan Babad Segara Rupek

Geguritan Bagawan Dawala (Petruk)

Geguritan Basur

Geguritan Batur Taskara

Geguritan Bharata Yudha

Geguritan Bima Swarga

Geguritan Budi Pekerti

Geguritan Brahmana Keling

Geguritan Candra Bherawa

Geguritan Cangak

Geguritan Cengceng Benges

Geguritan Darma Kusuma

Geguritan Dewi Sakuntala

Geguritan Dharma Stiti

Geguritan Dharma Prawretti

Geguritan Galungan

Geguritan Giri-Putri

Geguritan Guru Bhakti

Geguritan Hariwangsa

Geguritan I Gusti Wayan Kaprajaya

Geguritan I Japatwan

Geguritan I Ketut Bagus

Geguritan I Ketut Bungkling/Bongkling

Geguritan I Lijah-lijah

Geguritan Japatuan I

Geguritan Japatuan II

Geguritan Jayaprana

Sarining Geguritan Jejambetan I

Geguritan Kaki Manuh Nini Manuh Cakepan 1

Geguritan Kaki Manuh Nini Manuh Cakepan 2

Geguritan Kanda-pat

Geguritan Katuturan Ki Balian Batur

Geguritan Kebo Iwa

Geguritan Kebo Tarunantaka

Geguritan Lubdaka

Geguritan Lokika

Geguritan Mantri Alit

Geguritan Merga Sunya

Geguritan Megantaka

Geguritan Indik Panca Yadnya

Geguritan Pakang Raras

Geguritan Pikukuh Jagat

Geguritan Pujawali Atma Sudha

Geguritan Puputan Margarana

Geguritan Prastanika dan Swarga Rohana Parwa

Geguritan Pura Agung Besakih

Geguritan Putra Sesana

Geguritan Rama Bhodana 1

Geguritan Rama Bhodana 2

Geguritan Rare Kumara

Geguritan Sakuntala

Geguritan Sang Karna

Geguritan Sarasamuscaya

Geguritan Sastrodayana Tattwa

Geguritan Sasuluh Parikrama Agama

Geguritan Satyaning Sawitri

Geguritan Sebun Bangkung

Geguritan Sewagati

Geguritan Siva Latri Kalpa

Geguritan Sucita 1

Geguritan Sucita 2

Geguritan Sucita 3

Geguritan Sucita muah Subudhi

Geguritan Suddhamala

Geguritan Suniya-Tatwa

Geguritan Sutasoma

Geguritan Taluh Celeng

Geguritan Taluh Emas

Geguritan Tamtam

Geguritan Unuh Galih

Geguritan Wariga Diwasa

Geguritan Watugunung

Geguritan Widyasari 1

Geguritan Widyasari 2

Membaca semua geguritan tersebut terbentang “nilai-nilai kemanusian orang Bali. Perdebatan dan berbincangan, dialog dengan dirinya sendiri, dari hal-hal paling sepele sampai hal-hal hakiki. Semua dalam perbincangan yang tidak keramat atau pingit, semua dalam bingkai manusia biasa yang bersahaja, dengan pengakuan di depannya bahwa manusia punggung, belog, wimuda, atau punya keterbatasan. Justru dengan pengakuan atas keterbatasan dan bukan hal-hal gaiblah saya menemukan banyak kemuliaan manusia Bali. Sebagai manusia sahaja yang biasa, yang rindu, yang mimpi, yang penuh ragu, yang gelisah, yang tidak mengaku paling benar, dan pada sisi ini membaca geguritan terasa akrab dengan diri dan kemanusiaan kita, sebagai manusia biasa. Beda sekali sensasinya membaca teks-teks sahaja ini, jika dibandingkan membaca teks-teks pangleakan, aji wegig, kawisesan, dan sejenisnya, yang membuat perasaan di antar ke arah “tidak biasa”. Karena keterbatasan saya memilih ke arah bacaan manusia biasa, tidak cukup piawai mengarahkan perasaan dan pikiran untuk membaca teks-teks “manusia luar biasa”.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jejak Persahabatan Purba – [Tentang Pura Puseh Panjingan di Les-Penuktukan]

Next Post

Dari Ubud Menuju Batur yang Selalu Menyejukkan Hati

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Dari Ubud Menuju Batur yang Selalu Menyejukkan Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co