4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa yang Paling Penting dalam Lontar Bali? Lontar Pangleakan?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 20, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Harian Sugi Lanus, 20 Agustus 2020.

Kalau pertanyaan ini harus saya jawab, maka jawaban saya: Nilai-nilai kemanusiaan.

Sebelum menjelaskan “nilai-nilai kemanusiaan” yang saya maksud tersebut, ijinkan saya sedikit bercerita kalau saya juga membaca selintas ilmu pangleakan, aji wegig, kawisesan, bahkan menyimpan lontar-lontar tersebut karena diberikan oleh mereka yang takut atau tidak mau menyimpannya. Dengan membaca cepat lontar-lontar itu, saya merasa hati saya tidak tertarik pada deretan lontar ini, sehingga ada beberapa lontar yang saya berikan ke orang lain yang ingin menekuni atau menyimpannya. Ada tidak kurang dari 100 lontar jenis ini yang saya dapat di sebuah galeri antik yang tutup, masih saya simpan.

Kenapa kurang tertarik pada lontar-lontar jenis pangleakan, aji wegig, kawisesan? Alasannya sederhana: Perlu waktu panjang harus saya habiskan untuk “bermain perasaan” jika menekuni lontar deretan ini. Lagi pula, muncul pertanyaan sangat personal: Jika kita bisa menjadi manusia yang biasa-biasa saja, bersahaja dan berbahagia, kenapa harus menjadi “manusia jadi-jadian” (atau manusia luar biasa) yang belum tentu terpuaskan dengan pencapaian berbagai kesaktian dalam lontar-lontar tersebut? Ini bukan berarti saya menganggap enteng isi lontar-lontar tersebut. Kompleksitasnya luar biasa mendalam. Terutama bagaimana kita harus siap “terjun bebas tanpa parasut”, entah kalau kita ingin berubah wujud menjadi berbagai wujud dan kekuatan yang diarahkan menjadi targetnya. Banyak perasaan dan emosi yang harus diletakkan di sana.

Singkatnya, saya tidak cocok untuk deretan lontar ini. Rasanya, ketika membaca lontar-lontar ini, seperti memasuki barak atau pelatihan khusus kopassus yang skillnya terbatas dan punya keahlian khusus yang sangat spesifik, yang bisa dipakai dalam situasi tempur yang sangat spesifik pula. Rasanya, kalau dibayangkan, seperti berlatih mengasah pedang dan tombak, memahami pikiran dan badan sendiri, melatih menggunakannya, lalu saya juga tidak mengerti pertempuran apa yang akan dihadapi setelah menguasai ilmu-ilmu tersebut. Saya pikir di masa kerajaan dahulu skill tersebut dibutuhkan sebagaimana halnya para kopassus atau telik sandi dan pasukan kerajaan dalam mempertahankan kerajaan atau desanya, dari berbagai kemungkinan marabahaya kehidupan, dan atau untuk penguasaan kelompok lain, orang lain, dan membangun relasi kemanusiaan batiniah yang sangat penuh bayang-bayang mistis.

Kalau ada yang mencoba menekuni deretan lontar pangleakan, aji wegig, kawisesan, sekalipun saya tidak mendalami hanya sekedar sambil lalu membaca, saya senang mendengar pengalamannya. Saya juga akan mempersilahkan membaca koleksi saya, dan tidak berkeberatan mendiskusikannya, tentunya sebagai obrolan literatur, atau sebatas bacaan, karena saya awam atau tidak mengerti praktek nyata atau tidak punya pengalaman langsung dengan isi lontar-lontar tersebut.

Bagaimana dengan lontar-lontar kepanditaan yang berisi lontar mantra, puja, seha, sesontengan, darani, kawaca?

Nah, ini saya sangat tertarik. Bukan karena ada kekuatan gaib di dalamnya. Saya suka terjemahan dari mantra, puja, seha, sesontengan, darani, kawaca. Di dalam teks-teks ini terkandung banyak kalimat-kalimat yang membentangkan sisi psikologis manusia. Ada harapan, relasi dengan diri dan alam, pertautan dengan keluarga-masyarakat dan antar manusia secara umum. Paling menyentuh adalah teks-teks ini adalah kumpulan harapan dan cita-cita kemanusiaan manusia dari berabad-abad silam. Membuka teks-teks ini seperti berjumpa bentang harapan luas dan pengalaman historis-psikologis bagaimana manusia membangun peradaban, bagaimana manusia meneguhkan dirinya menghadapi derita, wabah, bencana alam, dan peperangan.

Lontar-lontar pengobatan herbal?

Lontar usada atau pengobatan herbal dan pengobatan tradisional menarik perhatian saya. Setelah membaca cepat 110 lontar jenis ini, saya mendapat pelajaran besar bahkan dalam sejarah perjalanan manusia tidak bisa terpisah dengan tumbuhan, air dan berbagai variable alam lainnya. Teks-teks usada menunjukkan manusia tidak bisa sendiri membangun atau mempertahankan kewarasan dan kebugarannya, manusia bergantung pada alam, khususnya tumbuhan dan air. Sangat bergantung. Dengan pemahaman yang selaras akan alam, pemahaman baik anasir alam dan kandungan dalam berbagai tumbuhan, manusia bisa melanjutkan perjalanan sejarahnya. Ada persoalan kemanusiaan mendalam dalam teks usada ini bagaimana manusia mesti saling membantu mencari penyembuhan bagi orang lain. Bagaimana tatanan masyarakat mesti dibuat “lurus, waras dan selaras” dengan perangai cuaca, bulan, perubahan musim dan berbagai wabah yang tidak terduga.

Lontar-lontar usada, menurut pembacaan saya sejauh ini, tidak bisa dilepaskan dari kalender Bali. Secara umum teks-teks wariga. Dari wariga ini kita melihat bagaimana manusia “membawa sakit berdasarkan pengaruh hari lahirnya”. Dari wariga ini kita melihat bagaimana manusia “punya kecenderungan sifat dan perangai” yang pada akhirnya membawa pengaruh simptomatik dan psikologis dalam pertumbuhannya sebagai manusia. Juga, dari wariga ini kita melihat bagaimana turun sakit berdasarkan bulan atau musim — “gering manut sasih”. Singkatnya, musim dan cuaca, pengaruh konstelasi alam dan perbintangan, gelagat gravitasi dan persentuhannya dengan manusia dalam tatanan kosmis, bukan hanya mempengaruhi jagat sadar manusia, tapi juga jagat non-sadar manusia. Bisa menjadi variable baik dan buruk perjalanannya, menjadi faktor pembuka dan penghalang gerak-geriknya, menjadi hal-hal sekala-niskala yang mempengaruhi secara terduga dan sering tiada terduga.

Lontar apa yang betul-betul menarik tapi sering dianggap remeh?

Saya melihat “gaguritan” (atau bisa ditulis “geguritan”) adalah peninggalan manusia Bali abad 16—20 yang sangat menarik untuk diselami. Di dalamnya berbagai persoalan kemanusiaan yang sangat bersifat psikologis terbentang. Jeritan duka, gejolak bingung, amukan perang dan bencana, gereget rindu dan nafsu jasmaniah yang murni manusia biasa, hayalan halusinasi dan mimpi realis, bercampur baur dalam peninggalan “jejak-jejak kemanusiaan” yang bisa kita baca dalam ratusan geguritan Bali.

Geguritan merekam cara bertutur, cara berpikir, cara menghalau kepedihan hidup, cara sembunyi dari kenyataan, cara menjawab tantangan nyata, dan berbagai hal yang sungguh-sungguh manusiawi. Geguritan merekam pesona manusia pada alam, pada perasaannya terhadap gejolak cintanya sendiri, kekagumannya akan diri dan kebodohan dirinya, sekaligus gombal-gombal pikiran-pikirannya yang kadang sekedar ngalor-ngidul seperti obrolan sebelum tidur, tapi ada juga yang hakiki mempertanyakan secar filosofis kehadirian manusia di dunia, jalan menghadapi hidup, bimbingan dan tutur petunjuk dan petuah yang bisa dijadikan cerminan dalam bertindak, bahkan kadang ngelantur bimbingan mencapai moksa dan pelepasan yang juga kadang patah di jalan seperti seperti sebuah dongeng yang tiba-tiba terhenti karena yang mendongeng tertidur atau mengakhirinya.

Teks-teks tatwa, seperti diketahui umum, cukup serius. Saya membacanya pula, tapi selingan terbesar dan kegembiraan saya sebagai penikmat susastra lontar Bali adalah teks-teks geguritan. Oleh karena saya gandrung dengan teks-teks geguritan ini, dan tidak menekuni pangleakan-aji wegig-kawisesan, maka penutup catatan singkat ini saya berikan tabel geguritan yang sudah beredar cetak di toko buku dan atau di perpustakaan, sebagai berikut:

Geguritan Ala Ayuning Dewasa

Geguritan Asta Berata

Geguritan Arya Wang Bang Pinatih

Geguritan Babad Segara Rupek

Geguritan Bagawan Dawala (Petruk)

Geguritan Basur

Geguritan Batur Taskara

Geguritan Bharata Yudha

Geguritan Bima Swarga

Geguritan Budi Pekerti

Geguritan Brahmana Keling

Geguritan Candra Bherawa

Geguritan Cangak

Geguritan Cengceng Benges

Geguritan Darma Kusuma

Geguritan Dewi Sakuntala

Geguritan Dharma Stiti

Geguritan Dharma Prawretti

Geguritan Galungan

Geguritan Giri-Putri

Geguritan Guru Bhakti

Geguritan Hariwangsa

Geguritan I Gusti Wayan Kaprajaya

Geguritan I Japatwan

Geguritan I Ketut Bagus

Geguritan I Ketut Bungkling/Bongkling

Geguritan I Lijah-lijah

Geguritan Japatuan I

Geguritan Japatuan II

Geguritan Jayaprana

Sarining Geguritan Jejambetan I

Geguritan Kaki Manuh Nini Manuh Cakepan 1

Geguritan Kaki Manuh Nini Manuh Cakepan 2

Geguritan Kanda-pat

Geguritan Katuturan Ki Balian Batur

Geguritan Kebo Iwa

Geguritan Kebo Tarunantaka

Geguritan Lubdaka

Geguritan Lokika

Geguritan Mantri Alit

Geguritan Merga Sunya

Geguritan Megantaka

Geguritan Indik Panca Yadnya

Geguritan Pakang Raras

Geguritan Pikukuh Jagat

Geguritan Pujawali Atma Sudha

Geguritan Puputan Margarana

Geguritan Prastanika dan Swarga Rohana Parwa

Geguritan Pura Agung Besakih

Geguritan Putra Sesana

Geguritan Rama Bhodana 1

Geguritan Rama Bhodana 2

Geguritan Rare Kumara

Geguritan Sakuntala

Geguritan Sang Karna

Geguritan Sarasamuscaya

Geguritan Sastrodayana Tattwa

Geguritan Sasuluh Parikrama Agama

Geguritan Satyaning Sawitri

Geguritan Sebun Bangkung

Geguritan Sewagati

Geguritan Siva Latri Kalpa

Geguritan Sucita 1

Geguritan Sucita 2

Geguritan Sucita 3

Geguritan Sucita muah Subudhi

Geguritan Suddhamala

Geguritan Suniya-Tatwa

Geguritan Sutasoma

Geguritan Taluh Celeng

Geguritan Taluh Emas

Geguritan Tamtam

Geguritan Unuh Galih

Geguritan Wariga Diwasa

Geguritan Watugunung

Geguritan Widyasari 1

Geguritan Widyasari 2

Membaca semua geguritan tersebut terbentang “nilai-nilai kemanusian orang Bali. Perdebatan dan berbincangan, dialog dengan dirinya sendiri, dari hal-hal paling sepele sampai hal-hal hakiki. Semua dalam perbincangan yang tidak keramat atau pingit, semua dalam bingkai manusia biasa yang bersahaja, dengan pengakuan di depannya bahwa manusia punggung, belog, wimuda, atau punya keterbatasan. Justru dengan pengakuan atas keterbatasan dan bukan hal-hal gaiblah saya menemukan banyak kemuliaan manusia Bali. Sebagai manusia sahaja yang biasa, yang rindu, yang mimpi, yang penuh ragu, yang gelisah, yang tidak mengaku paling benar, dan pada sisi ini membaca geguritan terasa akrab dengan diri dan kemanusiaan kita, sebagai manusia biasa. Beda sekali sensasinya membaca teks-teks sahaja ini, jika dibandingkan membaca teks-teks pangleakan, aji wegig, kawisesan, dan sejenisnya, yang membuat perasaan di antar ke arah “tidak biasa”. Karena keterbatasan saya memilih ke arah bacaan manusia biasa, tidak cukup piawai mengarahkan perasaan dan pikiran untuk membaca teks-teks “manusia luar biasa”.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jejak Persahabatan Purba – [Tentang Pura Puseh Panjingan di Les-Penuktukan]

Next Post

Dari Ubud Menuju Batur yang Selalu Menyejukkan Hati

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Dari Ubud Menuju Batur yang Selalu Menyejukkan Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co