2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialog Burung Pelatuk dan Si Tupai di Perkebunan Pak Tani

Wayan Purne by Wayan Purne
April 17, 2020
in Dongeng
Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Alunan nyanyian tonggeret dan kicauan burung-burung bersahut-sahutan meramaikan luasnya hamparan perkebunan tumpang sari. Di perkebunan tumpang sari itu, hiduplah pohon duren, pohon manggis, salak, pisang, ceruring, langsat, dan kopi. Bahkan di antara mereka, hidup beberapa pohon singkong. Pohon cabai pun ikut berjuang ingin hidup di antara mereka. Mereka hidup saling bergotong-royong dan saling mengasihi. Tatkala buah-buah mereka mulai masak, banyak kehidupan bernapas panjang dari ulat, burung-burung sampai tupai.

Suatu senja tatkala para petani mulai merapikan semua perkakasnya dan siap pulang ke rumah yang berada di ujung perkebunannya, Si Tupai keluar dari sarangnya. Ia bersiap menelusuri mengikuti bau buah masak yang sempurna. Ia tak harus waspada menghidari peluru ketapel Pak Tani. Sebab, Pak Tani sudah berada di peraduan memimpikan masa panen yang indah akan datang. Para pembeli berebut memilih buah-buahan hasil panen mereka.

 “Hai, Platuk. Ternyata kamu sudah duluan di sini,” sapa Tupai bertengger di ranting pohon duren.

“Ya, aku lagi bahagia hari ini,” jawab Pelatuk yang masih asik mematuk buah duren.

“Mengapa sebahagia ini kamu, Platuk?” tanya Si Tupai terheran dan mulai menghedus-hendus buah duren dari satu ranting ke ranting yang lain.

“Ada kabar yang mengembirakan. Tuk tuk tuk tuk,” jawab Pelatuk yang semakin lebar membuat lubang di buah duren. Bau duren semerbak berhembus di balik kulit berdurinya.

“Kabar gembira apa, Platuk?” tanya Si Tupai semakin penasaran.

“Ada kabar gembira karena….”

“Seeeeet, sembunyi! Ada Pak Tani,” ucap Si Tupai secepat kilat memotong ucapan Platuk dan sembunyi di balik daun duren yang rimbun.

Benar saja, Pak Tani bersama cucunya terlihat dari kejauhan dari atas pohon duren itu. Mereka berdua menebarkan wangi sampo sebagai tanda baru selesai mandi di sungai yang tidak jauh dari rumah mereka.

“Kek, lihat itu ada Tupai dan burung Pelatuk! Ia ada di pohon duren kita. Mana ketapelnya, Kek?” ucap cucu Pak Tani.

“Sudah, biarkan saja. Tak ada guna juga mengusir mereka sekarang,” sahut Pak Tani, suaranya terdengar lesu.

“Kenapa, Kek? Bukankah biasanya Kakek selalu mengusirnya?”

“Biarkan mereka menikmati buah-buah itu. Buah-buah itu sekarang tidak ada yang membelinya. Toh, kalau ada yang membelinya, buah-buah itu akan dibeli dengan harga yang sangat murah,” ucap Pak Tani memberikan penjelasan kepada cucunya.

“Mengapa begitu Kek? Aku pernah bersama Ayah beli duren di kota harganya mahal, tetapi tidak seenak  duren yang ada di kebun Kakek.” kata cucu Pak Tani terheran.

“Nak, sekarang orang-orang diam di rumah. Mereka tidak boleh keluar rumah agar tidak terkena penyakit menular yang mematikan. Saudagar-saudagar buah pun tak ada yang datang membeli buah kita. Mereka harus tetap diam di rumah,” terang Pak Tani kepada cucunya.

“Kok bisa begitu, Kek?” tanya cucu Pak Tani yang masih bingung.

“Nak, konon, dalu kala mahluk bermahkota yang sangat kecil dan tak bisa dilihat oleh mata kita telah bangun dari tidur panjangnya. Ia bisa masuk ke tubuh kita. Di dalam tubuh, mahluk itu bisa menghentikan pernapasan kita. Ia bisa berpindah-pindah dari satu orang ke orang lainya. Makanya, orang-orang tak berani keluar rumah,” terang Pak Tani.

Cucu Pak Tani itu hanya mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan kakeknya seolah-olah sudah memahami semuanya.

“Sekarang ini, cucuku, kita memetik buah di kebun hanya untuk kita nikmati sekeluarga. Sisanya, biarkan buah-buah itu kembali menjadi pupuk untuk dirinya sendiri,” ucap Pak Tani mengakhiri rasa kebingungan cucunya.

Pak Tani dan cucunya telah semakin jauh mendekati rumah mereka meninggalkan lambaian daun-daun hijau perkebunan yang diiringi lantunan kicauan burung-burung senja. Burung-burung yang hendak menuju ke peraduan bunga mimpi yang indah tanpa gengaman tangan pemburu. Percakapan mereka pun mulai terdengar sayup-sayup menghilang di telingan para binatang-binatang di kebun itu.

“Kamu dengar percakapan Pak Tani itu, Tupai?” ucap Platuk santai.

“Ya, Platuk. Aku dengar percakapan Pak Tani itu,” sahut Tupai keluar dari persembunyiannya.

“Hal itu yang aku maksud. Aku pun bebas menjelajah kebun ini bersama-sama temanku. Kapan pun aku mau, aku bisa menikmati buah-buahan di kebun yang luas ini,” ucap Platuk bahagia.

“Ihh Platuk, aku pulang aja ke sarangku. Aku takut tertular juga nanti,” sahut Tupai sedang berancang-ancang melompat.

“Tertular apa yang kamu takutkan? Kamu ada-ada aja?” tanya Platuk menghentikan langkah si Tupai.

“Aku takut tertular penyakit seperti yang diceritakan oleh Pak Tani itu,” sahut Tupai serius.

“Taktuk taktuk taktuk,” Platuk tertawa mendengar ucapan Tupai.

“Mengapa kamu tertawa? Kamu lupa ya? Dulu, saudara-saudara sebangsamu kena flu yang mematikan. Tak ada yang bisa yang menyelamatkan mereka. Tak ada yang membawa mereka rumah sakit, bahkan mereka dibakar dan ditimbun dalam tanah agar tidak tertular ke manusia,” jawab Tupai kesal.

“Benar, ucapanmu tidak ada yang salah Tupai. Memang dulu saudara-saudaraku banyak yang tewas mengenaskan. Tapi, sudara-sudaraku yang tewas adalah sudaraku yang tak lagi memiliki kebebasan di alam. Ia dikurung untuk bisa bekembang biak berdasarkan imajinasi pemikiran manusia bukan berdasarkan siklus alam bebas,” jawab Platuk.

Tupai mendengarkan semua ucapan burung Platuk dengan serius. Rasa kesalnya mendadak menghilang begitu saja.

“Jangan-jangan dulu saudara-suadaramu berkeja sama dengan mahluk flu itu dalam misi bunuh diri sekaligus membunuh manusia yang merebut kebebasan mereka,” ucap Tupai mengungkapkan pemikirannya.

“Mungkin benar pemikiranmu, Tupai. Tapi, harus disadari bahwa kita hidup di dunia alam bebas maka hidup mati kita mengikuti hukum alam. Berbeda dengan hidup manusia. Semenjak pikiran manusia berkembang pesat, ia keluar dari dunia alam bebas. Ia menciptakan dunia berteknologi tinggi di atas dunia alam bebas kita. Maka dalam pemikiran canggih manusia, dunia alam bebas kita bukan bagian dari penghidup dunia mereka,” ucap Platuk

“Oh begitu ya,” Tupai mulai bergairah lagi menghendus-hendus keharuman wangi buah duren yang menandakan mulai matang. Ia mulai melobangi buah duren itu mencari celah yang aman di antara duri-duri.

“Nah, bigutu dong. Kita nikmati semua buah yang ada di sini. Sementara ini pikiran sakti manusia tak akan mengusik kita. Mereka sedang sibuk mengurus penyakit dular itu. Penyakit itu tidak akan menular ke sebangsa kita,” ucap Platuk bersemangat ketika melihat Tupai kembali menikmati buah durennya.

“Wuusssssss duuk,” batu peluru ketapel mengagetkan buru Platuk dan Tupai yang hampir menghantam mereka berdua.

“Ap itu?” ucap kaget Tupai.

“Lompat Tupai! Itu anak Pak tani tadi. Ia baru datang dari kota,” teriak Platuk yang sudah terbang agak menjauh dari tempat pohon duren itu.

“Katamu tidak ada yang akan mengusik kita,” sahut Tupai melompat ke pohon lainnya.

“Mungkin anak Pak tani itu sedang setres karena dirumahkan di dunia alam bebas kita,” teriak Platuk yang masih terbang berputar-putar di atas dekat pohon duren itu.

“Ayo kita pulang saja! Sebentar lagi juga akan gelap,” sahut Tupai yang sudah aman bersembunyi dari kemarahan anak Pak Tani itu.

“Sampai bertemu lagi Tupai,” ucap Platu.

Mereka pergi pulang meninggalkan anak Pak Tani sendiri dalam cengraman kemarahan di kebun itu.

“Kemana perginya Platuk dan Tupai itu? Aku pecahkan kepalanya. Dia tidak tahu kalau hidup sekarang lagi susah,” anak Pak Tani itu menggerutu sendiri.

Anak Pak Tani itu mendekati pohon duren itu. Ia mencari-cari buah duren itu yang mungkin dalam pikirannya sudah ada yang jatuh. Akhirnya, ia temukan dua buah duren tergeletak di antara rerumputan dengan lubang menganga akibat perbuatan Platuk dan Tupai. Dua buah duren itu pun dibawa pulang oleh anak Pak Tani itu.

“Masih ada beberapa juri yang bisa dinikmati durun ini. Awas kalau besok ketemu mereka lagi. Aku tidak akan memberi mereka ampun,” pikir anak Pak Tani itu.   [T]

Tags: dongengfaunafloraPendidikan
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Karang Binangun dan Korona

Next Post

Gamat Bay di Nusa Penida, Kawasan Lumbung Ekologis yang Kini Naik Ring Promosi

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails
Next Post
Gamat Bay di Nusa Penida, Kawasan Lumbung Ekologis yang Kini Naik Ring Promosi

Gamat Bay di Nusa Penida, Kawasan Lumbung Ekologis yang Kini Naik Ring Promosi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co