2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gamat Bay di Nusa Penida, Kawasan Lumbung Ekologis yang Kini Naik Ring Promosi

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
April 18, 2020
in Opini
Gamat Bay di Nusa Penida, Kawasan Lumbung Ekologis yang Kini Naik Ring Promosi

Gamat Bay. [Sumber foto: batansabo.com]

Satu lagi objek wisata Nusa Penida (NP) yang naik ring promosi yaitu Gamat Bay (Teluk Gamat). Dulu, kawasan ini merupakan lumbung ekologis. Tempat bertumbuhnya beberapa satwa penting, termasuk jalak nusa. Pun menjadi benteng sumber air bersih (Semer Gamat Dulu dan Semer Gamat Teben) bagi warga di belahan barat, sebelum ada sumur tadah hujan dan air PDAM. Ketika satwa-satwa berada pada ambang kepunahan dan “semer” (sumur) kehilangan pengemponnya, Gamat Bay dipinang sebagai alternatif objek wisata untuk melayani syahwat pengunjung.

Promosi Gamat Bay sudah berlangsung beberapa bulan lalu. Kini tersandung jeda iklan covid-19. Meskipun demikian, Gamat Bay tidak berhenti untuk bersolek. Sejumlah pembangunan dikebut. Salah satunya ialah akses jalan menuju lokasi. Kawasan yang berada di Desa Sakti ini sudah tak sabar menunggu pariwisata normal. Tak sabar untuk unjuk wajah baru di mata para pengunjung dan mungkin akan mengubur kenangan ekologis yang pernah terjadi bertahun-tahun (bahkan berabad) di kawasan ini. Kenangan yang sayang jika tidak diceritakan.

Sebelum sumringah pariwisata betul-betul menenggelamkannya nanti, ada baiknya kenangan ekologis tersebut dibangkitkan. Siapa tahu dapat dijadikan pertimbangan untuk merevitalisasinya menjadi kawasan ekologis alami atau buatan. Kalau tidak, cukup dikenang sajalah!

Kawasan Gamat Bay Tahun 80-an

Tahun 80-an, kawasan Gamat Bay identik dengan kehidupan satwa-satwa geografi NP. Di sinilah, tempat para satwa melangsungkan kehidupannya. Misalnya kera, ular, burung dan lain-lainnya. Bahkan, seingat saya satwa langka seperti jalak nusa dan termasuk “slaon” (sejenis elang) serta gagak biasa berkeliaran di kawasan ini.

Sangat mudah melihat eksistensi burung gagak  dan “slaon” pada zaman tersebut. Kita cukup mendengokkan kepala ke atas pohon kapuk besar, maka gagak dan sarangnya banyak menghiasi ranting-ranting pohon tersebut. Bahkan, populasinya terutama gagak sempat tergolong sangat banyak. Karenanya, dulu burung gagak biasa berkeliaran hingga ke rumah warga, mencuri “jaja uli” yang diris-iris dan dijemur oleh penduduk seusai perayaan hari raya Galungan dan Kuningan.

Begitu juga dengan burung “slaon”. Burung pemburu anak ayam ini biasa menebar ketakutan kepada ayam warga. Mereka melayang di langit dengan terbang miring, sambil matanya tajam mengincar mangsa di bawah. Ketika induk ayam menjerit dan larit terbirit-birit bersama anaknya, pertanda serangan dari sang “slaon”. Apabila jumlah anak ayam berkurang, maka “slaon” menjadi sang tertuduh tunggal waktu itu.

Kawasan Gamat Bay juga menjadi benteng air bersih bagi warga. Ada dua “semer” (sumur) besar di kawasan ini yaitu Semer Gamat Dulu dan Semer Gamat Teben. Dua semer ini memiliki pengempon yang berbeda. Kedua semer inilah yang mengakomodir kebutuhan air bersih, terutama ketika sumur-sumur warga kering kerontang, akibat musim kemarau yang panjang.

Bukan hanya untuk manusia, air gamat ini juga dijadikan kebutuhan ternak warga terutama sapi. Karena itu, banyak warga mengambil air sambil membawa hewan ternaknya (sapi). Biasanya, warga yang jauh mengambil menjelang dini hari, sekitar pukul 02-03. Bukan karena semata-mata perjalanannya jauh, tapi medan jalannya penuh tanjakan dan turunan yang cukup curam. Karena posisi kawasan ini berada di bawah bukit dan curam, tetapi di dasarnya cukup landai.

Saya tidak bisa membayangkan jika tidak ada kedua semer itu. Tentu warga dan ternak di sekitar tempat saya dan daerah lainnya tidak dapat melangsungkan kehidupan. Karena itu, saya salut dengan tetua (leluhur) pendahulu saya. Sebelumnya, mereka pasti menghadapi krisis air bersih. Tentu kreavitas survivelah yang mendorong mereka membuat semer itu. Pantaslah sebetulnya para “pahlawan penggali” semer itu mendapat penghargaan. Karena telah mewariskan nyawa dari generasi ke generasi.

Tak hanya benteng satwa dan air bersih, kawasan Gamat Bay juga menjadi tempat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit seperti korengan. Persisnya di Pantai Gamat. Kita cukup berendam atau mandi di laut, maka silsalabin korengan dijamin sembuh. Saya tidak tahu apakah air Gamat mengandung belerang atau sejenis zat lain yang dapat menyembuhkan penyakit kulit. Pokoknya, ketika saya terkena penyakit kulit (waktu kecil), saya diajak berendam oleh ibu saya pas Kajeng Kliwon ke tempat ini.

Sebelum melakukan prosesi berendam, terlebih dahulu ibu saya menghaturkan canang sari pada pelinggih yang berada di dekat pantai. Setelah itu, saya berendam sambil menghayal memungut batu di seputar pantai tersebut. Maklum, batu-batu kecil di areal ini mulus mengkilap. Mulusnya seperti batu kali, tapi berwarna putih. Biasanya, saya memungutnya untuk digunakan bermain cingklak di rumah.

Selain mengobati korengan, pasir hitam halus di pantai ini juga dipercaya ampuh menguatkan kaki bayi agar dapat tegak berjalan. Caranya, kaki bayi ditanam dalam pasir beberapa menit hingga hitungan jam-an. Bisa dilakukan lebih dari satu kali. Pilihan harinya juga sama. Kajeng Kliwon.

Begitulah keyakinan masyarakat waktu itu. Entah karena tersugesti atau tidak, masalah korengan dan keterlambatan jalan pada bayi biasanya dapat disembuhkan.

Dinamika Kawasan Gamat Bay

Namun, seiring dengan kemajuan zaman, mulailah orang-orang berkurang melakukan ritual berendam atau menanam kaki bayi di pantai ini. Masyarakat lebih memilih datang ke puskesmas untuk berobat. Pantai Gamat lebih banyak dimanfaatkan sebagai tempat memancing dan surfing oleh beberapa kalangan milenial.

Begitu juga kondisi satwanya. Keberadaan burung jalak nusa kian hari juga semakin langka. Eksistensinya kian terancam. Hampir setiap hari, warga mengincar sarangnya, mengambil anaknya untuk dijual atau sekadar dipelihara. Padahal, tempat bersarangnya sangat sulit. Biasanya, di ujung pohon kelapa tinggi yang sudah mati (lapuk). Namun, sesulit apa pun tempatnya, ada saja warga yang berhasil mendapati anaknya. Kadang, warga berani bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan anaknya.

Sementara nasib burung “slaon” dan gagak juga sama. Bahkan, keberadaan dua burung besar ini lebih duluan langka (sekarang punah). Entah karena faktor apa. Setahu saya, tidak ada warga yang memelihara atau menjual dua burung ini. Mungkin karena keberadaan makanan yang terbatas di NP? Atau mungkin kerusakan habitat, perubahan iklim, atau diserang penyakit? Yang jelas sekarang, seekor pun tak pernah saya lihat keberadaan kedua burung itu.

Nasib semer juga hampir sama. Ketika setiap warga memiliki sumur tadah hujan, orang mulai berkurang menjadi pengempon semer. Di tambah lagi, air PDAM masuk ke desa saya tahun 200-an. Jumlah pengempon kian minim. Hanya tersisa beberapa pengempon yang masih aktif mengambil air. Itu pun yang jarak rumahnya paling dekat dengan lokasi. Namun, pemanfaatan air semer ini sudah berubah. Tidak semata-mata untuk dikonsumsi pribadi, melainkan untuk dijual.

Warga menjualnya dengan brand lisan yaitu “Yeh Gamat”. Penjual cukup menyebutkan brand lisan tersebut, maka warga yang pernah mencicipi air akan membayangkan gentong, ketel, dan caratan. Dulu, air gamat biasanya ditaruh ke dalam gentong yang terbuat dari tanah liat (tanpa dimasak). Semakin lama ditaruh di gentong, dinginnya terasa menyegarkan. Untuk meminumnya, orang biasanya menempatkan pada sebuah ketel atau caratan terlebih dahulu. Agar menjadi lebih sensional, orang meminumnya sambil mendengokkan kepala, lalu tenggorokannya mengeluarkan suara “clegek clegek clegek”. Wah, mantap!

Bagi kalangan milenial, yang lidahnya biasa dijajah oleh air kemasan, mungkin tidak dapat merasakan sensasi air Gamat ini. Mereka juga tidak dapat merasakan sensasi keberadaan satwa di kawasan Gamat Bay. Baginya, Gamat Bay adalah taruhan sekarang. Taruhan untuk mendatangkan sebanyak mungkin pengunjung ke tempat ini. Tidak peduli dengan kondisi ekologisnya. Maaf, bukannya bermaksud pesimis, apalagi menggugat. Memangnya saya siapa, sih! Saya hanya kurang yakin saja.

Setahu saya, hubungan pariwisata dan lingkungan alam adalah soal kontrak untung rugi. Baik pemerintah, pelaku pariwisata maupun masyarakat memiliki kesamaan cara pandang. Mereka hanya berhitung dampak pemasukan dari mencicipi taruhan alam itu. Karena itulah, pemerintah, pelaku pariwisata dan masyarakat rela jor-joran mengikuti selera wisatawan. Alam harus disulap menuruti kemauan pengunjung. Bukan sebaliknya. Pengunjung mengikuti kemauan alam. Mungkin ada, ya? Barangkali saya miskin tentang referensi semacam itu.

Lucunya, ketika alam mengalami kerusakan akibat eksploitasi berlebihan dari pariwisata, tidak ada seorang pun pernah dengan jumawa merasa bertanggung jawab. Tahu-tahu orang-orang pada cuci tangan. Tidak ada hubungan dengan pencegahan covid-19, ya!

Ending-nya, ya, penduduk sekitarlah yang menanggung efek kerusakan lingkungan tersebut. Itu cerita legend mungkin. Namun, terlalu banyak orang tertarik melakoninya. “Pariwisata itu alternatif. Penyelamat ekonomi. Peretas kemiskinan. Gerbang menuju modernisasi,” terang salah seorang teman saya yang sudah mencicipi manisnya pariwisata.

Saya berharap antara kemajuan pariwisata Gamat Bay, berdampak positif terhadap kesalamatan ekologis kawasan tersebut. Mungkin, sebelum matang naik ring promosi objek wisata, para pemangku kebijakan termasuk masyarakat sudah memikirkan hal itu. Mereka tidak menjadikan Gamat Bay sebagai taruhan eksploitasi untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya. Namun, juga merawat lingkungan sekitar agar dapat mendatangkan satwa yang sebanyak mungkin pula. Agar balance-lah!

Kita tunggu setelah jeda iklan covid-19 nanti. Apakah Gamat Bay akan sukses menggaet para wisatawan untuk menikmati kemolekannya, tetapi mengabaikan lingkungan dirinya? Atau sukses kedua-duanya? Sukses meraup banyak pengunjung dan sekaligus sukses merawat lingkungan dirinya. [T] [ Foto: batansabo,com ]

Tags: lingkunganNusa PenidaPariwisata
Share288TweetSendShareSend
Previous Post

Dialog Burung Pelatuk dan Si Tupai di Perkebunan Pak Tani

Next Post

Ketahanan Pangan ala Petani di Alam Subak Ganggangan yang Damai

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Ketahanan Pangan ala Petani di Alam Subak Ganggangan yang Damai

Ketahanan Pangan ala Petani di Alam Subak Ganggangan yang Damai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co