3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gamat Bay di Nusa Penida, Kawasan Lumbung Ekologis yang Kini Naik Ring Promosi

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
April 18, 2020
in Opini
Gamat Bay di Nusa Penida, Kawasan Lumbung Ekologis yang Kini Naik Ring Promosi

Gamat Bay. [Sumber foto: batansabo.com]

Satu lagi objek wisata Nusa Penida (NP) yang naik ring promosi yaitu Gamat Bay (Teluk Gamat). Dulu, kawasan ini merupakan lumbung ekologis. Tempat bertumbuhnya beberapa satwa penting, termasuk jalak nusa. Pun menjadi benteng sumber air bersih (Semer Gamat Dulu dan Semer Gamat Teben) bagi warga di belahan barat, sebelum ada sumur tadah hujan dan air PDAM. Ketika satwa-satwa berada pada ambang kepunahan dan “semer” (sumur) kehilangan pengemponnya, Gamat Bay dipinang sebagai alternatif objek wisata untuk melayani syahwat pengunjung.

Promosi Gamat Bay sudah berlangsung beberapa bulan lalu. Kini tersandung jeda iklan covid-19. Meskipun demikian, Gamat Bay tidak berhenti untuk bersolek. Sejumlah pembangunan dikebut. Salah satunya ialah akses jalan menuju lokasi. Kawasan yang berada di Desa Sakti ini sudah tak sabar menunggu pariwisata normal. Tak sabar untuk unjuk wajah baru di mata para pengunjung dan mungkin akan mengubur kenangan ekologis yang pernah terjadi bertahun-tahun (bahkan berabad) di kawasan ini. Kenangan yang sayang jika tidak diceritakan.

Sebelum sumringah pariwisata betul-betul menenggelamkannya nanti, ada baiknya kenangan ekologis tersebut dibangkitkan. Siapa tahu dapat dijadikan pertimbangan untuk merevitalisasinya menjadi kawasan ekologis alami atau buatan. Kalau tidak, cukup dikenang sajalah!

Kawasan Gamat Bay Tahun 80-an

Tahun 80-an, kawasan Gamat Bay identik dengan kehidupan satwa-satwa geografi NP. Di sinilah, tempat para satwa melangsungkan kehidupannya. Misalnya kera, ular, burung dan lain-lainnya. Bahkan, seingat saya satwa langka seperti jalak nusa dan termasuk “slaon” (sejenis elang) serta gagak biasa berkeliaran di kawasan ini.

Sangat mudah melihat eksistensi burung gagak  dan “slaon” pada zaman tersebut. Kita cukup mendengokkan kepala ke atas pohon kapuk besar, maka gagak dan sarangnya banyak menghiasi ranting-ranting pohon tersebut. Bahkan, populasinya terutama gagak sempat tergolong sangat banyak. Karenanya, dulu burung gagak biasa berkeliaran hingga ke rumah warga, mencuri “jaja uli” yang diris-iris dan dijemur oleh penduduk seusai perayaan hari raya Galungan dan Kuningan.

Begitu juga dengan burung “slaon”. Burung pemburu anak ayam ini biasa menebar ketakutan kepada ayam warga. Mereka melayang di langit dengan terbang miring, sambil matanya tajam mengincar mangsa di bawah. Ketika induk ayam menjerit dan larit terbirit-birit bersama anaknya, pertanda serangan dari sang “slaon”. Apabila jumlah anak ayam berkurang, maka “slaon” menjadi sang tertuduh tunggal waktu itu.

Kawasan Gamat Bay juga menjadi benteng air bersih bagi warga. Ada dua “semer” (sumur) besar di kawasan ini yaitu Semer Gamat Dulu dan Semer Gamat Teben. Dua semer ini memiliki pengempon yang berbeda. Kedua semer inilah yang mengakomodir kebutuhan air bersih, terutama ketika sumur-sumur warga kering kerontang, akibat musim kemarau yang panjang.

Bukan hanya untuk manusia, air gamat ini juga dijadikan kebutuhan ternak warga terutama sapi. Karena itu, banyak warga mengambil air sambil membawa hewan ternaknya (sapi). Biasanya, warga yang jauh mengambil menjelang dini hari, sekitar pukul 02-03. Bukan karena semata-mata perjalanannya jauh, tapi medan jalannya penuh tanjakan dan turunan yang cukup curam. Karena posisi kawasan ini berada di bawah bukit dan curam, tetapi di dasarnya cukup landai.

Saya tidak bisa membayangkan jika tidak ada kedua semer itu. Tentu warga dan ternak di sekitar tempat saya dan daerah lainnya tidak dapat melangsungkan kehidupan. Karena itu, saya salut dengan tetua (leluhur) pendahulu saya. Sebelumnya, mereka pasti menghadapi krisis air bersih. Tentu kreavitas survivelah yang mendorong mereka membuat semer itu. Pantaslah sebetulnya para “pahlawan penggali” semer itu mendapat penghargaan. Karena telah mewariskan nyawa dari generasi ke generasi.

Tak hanya benteng satwa dan air bersih, kawasan Gamat Bay juga menjadi tempat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit seperti korengan. Persisnya di Pantai Gamat. Kita cukup berendam atau mandi di laut, maka silsalabin korengan dijamin sembuh. Saya tidak tahu apakah air Gamat mengandung belerang atau sejenis zat lain yang dapat menyembuhkan penyakit kulit. Pokoknya, ketika saya terkena penyakit kulit (waktu kecil), saya diajak berendam oleh ibu saya pas Kajeng Kliwon ke tempat ini.

Sebelum melakukan prosesi berendam, terlebih dahulu ibu saya menghaturkan canang sari pada pelinggih yang berada di dekat pantai. Setelah itu, saya berendam sambil menghayal memungut batu di seputar pantai tersebut. Maklum, batu-batu kecil di areal ini mulus mengkilap. Mulusnya seperti batu kali, tapi berwarna putih. Biasanya, saya memungutnya untuk digunakan bermain cingklak di rumah.

Selain mengobati korengan, pasir hitam halus di pantai ini juga dipercaya ampuh menguatkan kaki bayi agar dapat tegak berjalan. Caranya, kaki bayi ditanam dalam pasir beberapa menit hingga hitungan jam-an. Bisa dilakukan lebih dari satu kali. Pilihan harinya juga sama. Kajeng Kliwon.

Begitulah keyakinan masyarakat waktu itu. Entah karena tersugesti atau tidak, masalah korengan dan keterlambatan jalan pada bayi biasanya dapat disembuhkan.

Dinamika Kawasan Gamat Bay

Namun, seiring dengan kemajuan zaman, mulailah orang-orang berkurang melakukan ritual berendam atau menanam kaki bayi di pantai ini. Masyarakat lebih memilih datang ke puskesmas untuk berobat. Pantai Gamat lebih banyak dimanfaatkan sebagai tempat memancing dan surfing oleh beberapa kalangan milenial.

Begitu juga kondisi satwanya. Keberadaan burung jalak nusa kian hari juga semakin langka. Eksistensinya kian terancam. Hampir setiap hari, warga mengincar sarangnya, mengambil anaknya untuk dijual atau sekadar dipelihara. Padahal, tempat bersarangnya sangat sulit. Biasanya, di ujung pohon kelapa tinggi yang sudah mati (lapuk). Namun, sesulit apa pun tempatnya, ada saja warga yang berhasil mendapati anaknya. Kadang, warga berani bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan anaknya.

Sementara nasib burung “slaon” dan gagak juga sama. Bahkan, keberadaan dua burung besar ini lebih duluan langka (sekarang punah). Entah karena faktor apa. Setahu saya, tidak ada warga yang memelihara atau menjual dua burung ini. Mungkin karena keberadaan makanan yang terbatas di NP? Atau mungkin kerusakan habitat, perubahan iklim, atau diserang penyakit? Yang jelas sekarang, seekor pun tak pernah saya lihat keberadaan kedua burung itu.

Nasib semer juga hampir sama. Ketika setiap warga memiliki sumur tadah hujan, orang mulai berkurang menjadi pengempon semer. Di tambah lagi, air PDAM masuk ke desa saya tahun 200-an. Jumlah pengempon kian minim. Hanya tersisa beberapa pengempon yang masih aktif mengambil air. Itu pun yang jarak rumahnya paling dekat dengan lokasi. Namun, pemanfaatan air semer ini sudah berubah. Tidak semata-mata untuk dikonsumsi pribadi, melainkan untuk dijual.

Warga menjualnya dengan brand lisan yaitu “Yeh Gamat”. Penjual cukup menyebutkan brand lisan tersebut, maka warga yang pernah mencicipi air akan membayangkan gentong, ketel, dan caratan. Dulu, air gamat biasanya ditaruh ke dalam gentong yang terbuat dari tanah liat (tanpa dimasak). Semakin lama ditaruh di gentong, dinginnya terasa menyegarkan. Untuk meminumnya, orang biasanya menempatkan pada sebuah ketel atau caratan terlebih dahulu. Agar menjadi lebih sensional, orang meminumnya sambil mendengokkan kepala, lalu tenggorokannya mengeluarkan suara “clegek clegek clegek”. Wah, mantap!

Bagi kalangan milenial, yang lidahnya biasa dijajah oleh air kemasan, mungkin tidak dapat merasakan sensasi air Gamat ini. Mereka juga tidak dapat merasakan sensasi keberadaan satwa di kawasan Gamat Bay. Baginya, Gamat Bay adalah taruhan sekarang. Taruhan untuk mendatangkan sebanyak mungkin pengunjung ke tempat ini. Tidak peduli dengan kondisi ekologisnya. Maaf, bukannya bermaksud pesimis, apalagi menggugat. Memangnya saya siapa, sih! Saya hanya kurang yakin saja.

Setahu saya, hubungan pariwisata dan lingkungan alam adalah soal kontrak untung rugi. Baik pemerintah, pelaku pariwisata maupun masyarakat memiliki kesamaan cara pandang. Mereka hanya berhitung dampak pemasukan dari mencicipi taruhan alam itu. Karena itulah, pemerintah, pelaku pariwisata dan masyarakat rela jor-joran mengikuti selera wisatawan. Alam harus disulap menuruti kemauan pengunjung. Bukan sebaliknya. Pengunjung mengikuti kemauan alam. Mungkin ada, ya? Barangkali saya miskin tentang referensi semacam itu.

Lucunya, ketika alam mengalami kerusakan akibat eksploitasi berlebihan dari pariwisata, tidak ada seorang pun pernah dengan jumawa merasa bertanggung jawab. Tahu-tahu orang-orang pada cuci tangan. Tidak ada hubungan dengan pencegahan covid-19, ya!

Ending-nya, ya, penduduk sekitarlah yang menanggung efek kerusakan lingkungan tersebut. Itu cerita legend mungkin. Namun, terlalu banyak orang tertarik melakoninya. “Pariwisata itu alternatif. Penyelamat ekonomi. Peretas kemiskinan. Gerbang menuju modernisasi,” terang salah seorang teman saya yang sudah mencicipi manisnya pariwisata.

Saya berharap antara kemajuan pariwisata Gamat Bay, berdampak positif terhadap kesalamatan ekologis kawasan tersebut. Mungkin, sebelum matang naik ring promosi objek wisata, para pemangku kebijakan termasuk masyarakat sudah memikirkan hal itu. Mereka tidak menjadikan Gamat Bay sebagai taruhan eksploitasi untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya. Namun, juga merawat lingkungan sekitar agar dapat mendatangkan satwa yang sebanyak mungkin pula. Agar balance-lah!

Kita tunggu setelah jeda iklan covid-19 nanti. Apakah Gamat Bay akan sukses menggaet para wisatawan untuk menikmati kemolekannya, tetapi mengabaikan lingkungan dirinya? Atau sukses kedua-duanya? Sukses meraup banyak pengunjung dan sekaligus sukses merawat lingkungan dirinya. [T] [ Foto: batansabo,com ]

Tags: lingkunganNusa PenidaPariwisata
Share288TweetSendShareSend
Previous Post

Dialog Burung Pelatuk dan Si Tupai di Perkebunan Pak Tani

Next Post

Ketahanan Pangan ala Petani di Alam Subak Ganggangan yang Damai

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails
Next Post
Ketahanan Pangan ala Petani di Alam Subak Ganggangan yang Damai

Ketahanan Pangan ala Petani di Alam Subak Ganggangan yang Damai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co