23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jauhkan Pandemi dari Politik

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
April 9, 2020
in Opini
Jauhkan Pandemi dari Politik

Ilustrasi tatkala.co / Nana Partha

Wabah Virus Corona memang tak mengenal batas wilayah, dan tak ada benua yang tidak terkena dampak Covid 19 ini . Virus Corona ini bisa menyerang siapa saja tidak peduli Raja, politisi, pejabat tinggi, wali  kota, artis ternama bahkan rakyat jelata sekalipun bisa menyasar kesiapa saja.  Karena pada kenyataannya memang wabah ini tidak mengenal kompromi. Wabah Covid 19 ini bahkan telah menembus koridor kekuasaan para pemimpin Negara dan juga sejumlah politisi dunia, nasional bahkan local seperti yang terjadi di Indonesia. Tak ada negara yang ternyata siap menghadapi wabah corono yang kemudian sangat cepat menjadi pandemi yang sangat menakutkan.

Organisasi Kesehatan Dunia menganggap COVID-19 sebagai “krisis kesehatan global terbesar saat ini”.  Negara Kita Indonesia juga mengalami konsekuensi yang sama dengan Negara-negara lain yang juga diserang oleh virus baru ini. Tapi satu hal yang pasti: Pemetintah dalam setiap kesempatan menghimbau kepada seluruh warga , teman, saudara dan masyarakat  “Ayo Kita bersama-sama mulai dari sendiri, dan melalui keluarga bisa melakukan sedikitnya bisa ikut untuk mencegah sekaligus memberantas virus Corona ini!”.

Kita semua dengan  penuh kesadaran diri  harus berusaha melindungi diri kita sendiri, keluarga, saudara, teman kita, dan tentu saja orang yang paling rentan di sekitar kita. Lakukan secara teratur mencuci tangan, menghindari kontak, serta berhati-hati agar tidak membebani fasilitas kesehatan, menunda perjalanan yang tidak perlu.

Di masa-masa sulit seperti sekarang ini, meskipun kita mungkin merasa tidak berdaya atas ancaman ini, tapi kita semua tak boleh berdiam diri. Dan ada hal-hal penting yang dapat kita lakukan dan lebih penting dari sekedar urusan sepele yaitu bagaimana ikut mencegah penyebaran Virus Corona ini.

Meminjam frasa dari perang melawan terorisme, Corona virus saat ini bak hantu di siang bolong kini tengah menghantui penduduk dunia bahkan ribuan orang meninggal di serang wabah COVID 19 ini. Kita harus benar-benar siap setiap saat untuk bersama-sama mencegahnya.

Di mulai dari hal yang kecil, misalkan setiap kali Anda batuk atau bersin, gunakanlah selalu tisu atau saputangan dan lekukan lengan Anda. Setiap kali Anda usai melakukan kegiatan cuci tanganlah, sesering Anda bergerak melakukan segala aktivitas. Keliatannya ini memang terlihat simple dan sepele, tapi rasanya terkadang kita tak habis pikir karena pada praktiknya masih saja ada orang yang enggan atau cenderung menggangap remeh temeh hal semudah ini. Utama adalah selalu jaga jarak sosial dan jauhi orang lain selama wabah ini masih berkembang.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini memang tidak akan merubah kondisi ataupun menyembuhkan mereka yang sudah positif Covid-19, dan tak lain maksud tulisan ini bukan untuk itu. Tetapi harus saya katakan dengan kerendahan hati dipenuhi kekesalan mendalam, bahwa setidaknya diharapkan tulisan ini dapat mengedukasi pemahaman yang tidak keliru terhadap antisipasi dan upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintahan Jokowi-Amin dalam menanggulangi penyebaran virus Corona ini.

Tulisan ini muncul dikarenakan pada dua bulan terakhir saya dikejutkan oleh sikap para elite politik kita yang sepertinya acuh tak acuh melihat kondisi negera yang sedang dirundung duka karena masyarakatnya diserang oleh virus yang mematikan yaitu “Virus Corona”. 

Mengutip pernyataan Profesor Tata Kelola Ekonomi Global di Universitas Oxford, Prof Ngaire Tui Woods CBE” pada Februari 2020 lalu di sebuah situs Project Syndicate, dia mengemukakan bahwa saat ini di sebagian besar dunia, warga negaranya tidak mempercayai para politisi untuk mengatakan yang sebenarnya, jadi mereka malah beralih ke media sosial dan sumber informasi lainnya.

Pendiri program Oxford-Princeton Global Leaders Fellowship yang lahir di Selandia Baru ini, dalam opininya yang berjudul “Saat Virus Berubah Politik” mengingatkan karena coronavirus terus menyebar, masyarakat harus mengandalkan kerja sama internasional antara pemerintah untuk memerangi penyakit secara efektif.

Hanya saja, lanjut dia, tekanan yang meningkat pada para pemimpin politik berisiko mendorong mereka ke arah langkah-langkah jangka pendek yang lebih nasionalistis yang kurang efektif atau bahkan kontraproduktif. Ngaire Woods menilai sebelum coronavirus meledak menjadi berita, sebuah laporan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa dunia tidak siap untuk “pandemi patogen pernapasan yang bergerak cepat dan mematikan” yang dapat membunuh 50-80 juta orang, menyebabkan kepanikan dan ketidakstabilan, dan secara serius mempengaruhi ekonomi dan perdagangan global.

Pengalaman lebih dari 200 tahun terakhir telah menunjukkan bahwa hanya pemerintah yang bertindak bersama-sama yang dapat secara efektif memerangi pandemi semacam itu – dan bahkan kemudian, hanya dengan kepercayaan dan kepatuhan warga negara mereka. Dan tantangan yang dihadapi para pemimpin politik dalam perang melawan virus corona baru, yang sekarang dikenal sebagai COVID-19 yang terpenting adalah terkait dengan komunikasi. Informasi yang akurat dan tepercaya sangat penting dalam memerangi pandemi.

Namun di sebagian besar dunia, menurut Ngaire Woods, warga negara tidak mempercayai politisi untuk mengatakan yang sebenarnya, jadi mereka malah beralih ke media sosial dan sumber informasi lainnya.

Namun Ngaire Woods melihat media sosial juga memunculkan “infodemik” berita dan rumor palsu yang juga bisa membahayakan kesehatan masyarakat. Dan WHO saat ini harus membantah klaim bahwa obat kumur, semprotan hidung, dan minyak wijen dapat mencegah orang terinfeksi COVID-19. Demikian juga, kampanye anti-vaksinasi online dalam beberapa tahun terakhir telah memicu kebangkitan campak yang sepenuhnya dapat dicegah. dan sekarang WHO. menghimbau setiap orang menggunakan masker, tak masalah masker kain agar terhindar dari virus ditengah langkanya alat perlengkapa diri (ADP) bagi tenaga medis yang mengani pasien yang terpapar corono.. karena itulah masyarkat mesti dapat menjaga diri dengan menggunakan masker agar terhindar dari penyebaran corona.

Sebagai catatan positif, WHO bekerja sama dengan perusahaan media sosial untuk memastikan bahwa informasi publik yang andal muncul pertama kali ketika orang mencari berita tentang coronavirus. Mereka juga bekerja sama dalam menempelkan peringatan pada pos-pos kelompok yang mempromosi kan teori konspirasi dan desas-desus tentang virus ini, dan dalam menghilangkan pos-pos yang membahayakan kesehatan masyarakat. Semua politisi yang bertanggung jawab harus mendukung upaya tersebut.

Sama halnya, para politisi dan perusahaan media sosial perlu memerangi reaksi xenofobik, yang terlalu mudah memacu pandemi.

Sudah ada laporan tentang gelombang diskriminasi terhadap orang-orang Asia Timur sejak pecahnya COVID-19. Stigma dan diskriminasi membuat lebih sulit untuk memerangi penyakit menular, karena mereka meningkatkan kemungkinan orang yang terkena dampak akan menghindari mencari perawatan kesehatan.

Yang terpenting, perjuangan melawan COVID-19 mengharuskan orang yang terinfeksi cukup memercayai otoritas publik untuk mengidentifikasi dan membantu melacak setiap orang yang berhubungan dengan mereka, sehingga memungkinkan langkah-langkah isolasi yang tepat untuk dilakukan. Ini kurang mungkin dalam suasana stigma dan diskriminasi.

Akhirnya, kesiapsiagaan adalah kuncinya. Pemerintah harus berkomitmen pada sumber daya sebelumnya dan memiliki struktur komando yang siap pakai jika terjadi keadaan darurat kesehatan masyarakat global. Tetapi politisi sering enggan berinvestasi dalam pencegahan penyakit, merasa jauh lebih mudah untuk mengklaim kredit untuk rumah sakit baru yang mengkilap. Lebih berbahaya lagi, mereka dapat memotong dana untuk program pencegahan dengan pengetahuan bahwa pemerintah di masa depan akan menghadapi konsekuensinya.

Mempolitisir Ketakutan Jadi Senjata Politisi Busuk

Sebenarnya penulis enggan masuk dalam pusaran politik praktis ataupun ingin mencampuri isu miring atau tuduhan-tuduhan yang muncul belakangan di kalangan politisi di Indonesia saat ini. Yang ingin kita coba kemukakan adalah bagaimana pentingnya politik santun dan beretika.

Walaupun sebenarnya itu sulit terjadi, tapi paling tidak tentunya masih banyak ada para politisi yang dengan bijak dan sangat menjunjung tinggi adat ketimuran yang sangat menjunjung adat sopan santun dan sangat beretika.

Sepertinya, politisi kita harus belajar dari Drs. Moh. Hatta dan Mayor Jenderal TB Simatupang dapat kita melihat bahwa kepentingan nusa dan bangsa serta Negara Kesatuan RI jauh lebih penting dari kepentingan pribadi. Dan sepanjang yang dapat ditelusuri penulis, Moh. Hatta dan TB Simatupang tidak pernah menjelek-jelekkan kepribadian dan kepemimpinan Bung Karno pada eranya.

Lantas sejenak kita bisa mundur kebelakang, 19 tahun silam, mengutip pernyataan, Sholehudin Abdul Aziz dalam tulisannya di Kompas.com 26 Mei 2011 berjudul: “Adakah Politik Santun dan Beretika?”, kelihatannya juga sulit menjawab pertanyaan itu. Sholehudin dengan segala kegusarannya menuliskan: “Para politisi dari partai politik siap melakukan kompromi politik apa saja, dengan siapa pun, dan melalui langkah apa pun, tak peduli apa pun hingga akhirnya harus mengorbankan nilai-nilai agama, etika dan ideologi partai itu sendiri”.

Dia juga mengungkapkan, “wajar bila Presiden Soekarno pernah mengilustrasikan kekecewaannya terhadap sikap politik dan peran partai-partai, dalam pidato peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1956 yang berjudul: “Kuburkan Partai Politik”. “Kita semua diserang penyakit. Penyakit yang lebih berbahaya daripada sentimen etnik dan kedaerahan. Anda barangkali bertanya, penyakit apa itu? Dengan terus terang, saya katakan: Penyakit partai politik….”Di akhir tulisannya, Sholehudin mengatakan, “Maka dari itu, jangan sekali-kali bicara etika dan kesantunan dalam berpolitik karena politik memang bukan wilayah etika dan kesantunan”.

Setuju atau tidak setuju dengan pendapat tersebut adalah wajar, sama dengan pendapat politik itu kotor atau tidak, bergantung pada siapa, mengapa, bagaimana, serta kapan penilaian itu dibutuhkan atau dikemukakan. Politik itu secara sederhana dapat kita artikan sebagai suatu upaya memperoleh, merebut atau meraih, memelihara, serta mempertahankan kekuasaan. Dengan demikian setiap langkah atau gerak untuk mencapai suatu kedudukan atau posisi pada hakikatnya sudah masuk ranah politik.

Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan generasi milenial yang terjun ke dunia politik harus memiliki karakter yang kuat. “Jangan sekali-sekali jadi yang tidak berkarakter, karena ujung-ujungnya bisa jadi politikus busuk,” kata Siti dalam talkshow Milenial Memimpi di Grand Slipi Tower, Jakarta, Senin, 26 Februari 2018.

Untuk menjadi politikus berkarakter, Siti mengingatkan kepada anak muda untuk memiliki bekal. Salah satunya ialah dengan banyak membaca tentang perjuangan pendiri bangsa sampai memerdekakan negara dan suasana kebatinan sampai konstitusi tertulis. Pasalnya, kata dia, pemimpin harus dekat dengan filosofi.

Rasanya kedua pendapat kedua tokoh ditas beralasan karena hal itu saat ini terjadi, begitu banyak orang mengeritik Jokowi, tapi tanpa pernah sekalipun mereka sanggup memberikan pemahaman ataupun solusi yang masuk akal. Mereka justru hanya teriak-teriak merasa diri paling mengerti dan jago bisa menangani wabah Covid 19 ini. Lantas apa yang sesungguhnya sudah mereka lakukan, ternyata “ Kosongan Baso kata orang Semarang alias Nol besar”. 

Bahwa ternyata ada di negeri ini Politikus dan juga media yang suka menggunakan rasa takut untuk menghindari logika kita. Saya selalu mengatakan kepada rekan-rekan -media yang saya kenal agar bekerjalah dengan hati, independen dan selalu menjunjung tinggi kode etik profesi sebagai jurnalis dan jangan mengambil kesempatan ataupun keuntungan terlalu banyak dengan memicu emosi masyarakat dengan ketakutan.

Ada memang politikus yang suka tampil dalam reality show politik, dan tentu saja sangat mengejutkan masyarakat Indonesia dan juga bagi siapa pun dari luar Indonesia.

Saya melacak berbagai tanggapan negative atas apa yang dikemukankan oleh Politisi muda dari Anggota DPD RI asal DKI Jakarta, Fahira Idris yang kemudian dilaporkan oleh Ketua Umun Cyber Indonesia, Habib Muanas ke Polda Metro Jaya. Fahira dilaporkan terkait dugaan menyebarkan berita bohong atau hoaks ihwal pengawasan virus corona (Covid-19) di berbagai wilayah di Indonesia. Hoaks itu diunggah oleh akun twitter @FahiraIdris yang berbuntut dirinya di polisikan.

Atau, di berbagai tingkat kesehatan masyarakat dan otoritas politik yang ada justru ada anggota parlemen kita yang malah memberikan dampak buruk kepada masyarakat Indonesia khususnya di tengah bersilangan global, nasional,dan local. Mereka justru bukan memberikan kesejukan seperti di Negeri Tirai bamboo,tempat pertama wabah ini berkembangbiak tapi malah menyampaikan sesuatu yang semestinya tidak mereka lakukan.  

Aneh memang politisi kita, ketika mereka berinteraksi satu sama lain yang mereka ungkapkan justru keprihatinan politik dan bukan kecemasan sosial selama wabah ini menyebar di Indonesia justru malah mengada-ada. Ketika satu daerah terindikasi ada korban covid 19 di satu kabupaten kota dengan jumlah penderita sekian, yang tentu saja merupakan sebuah tragedi, liputan media besar dapat membuat orang-orang menganggap seluruh kota itu dikepung dan tidak aman. Dan politisi terkesan berlebihan menanggapi kondisi yang ada, disisi lain mediapun ikut membesar-besarkan yang sebenarnya tidak terjadi. Dan sungguh menyedihkan memang dan menurut saya, memalukan, karena pada ketika pemerintah dan dunia internasional bisa bergandengan tangan saling bantu dan peduli, beberapa politisi kita dan anggota DPR yang terhormat justru hanya berpangku tangan. Mereka justru asik sibuk mengkritik, mencaci dan menghina, dan nyinyir di media sosial tanpa basa basi dan kompromi, apalagi berbuat.

Sungguh pemandangan yang tak lazim, apakah mereka sudah tak punya hati, akal dan perasaannya pun mati, benar-benar tak peduli atau lantaran menghamba diri pada parpol semata, Entahlah?

Saya melihat dan membaca suara-suara pendukung yang berseberangan dengan Jokowi seperti kembali mengemuka, para oposisi hingga barisan sakit hati bersatu dalam konspirasi semu. Dan mereka seakan tak berhenti dan terus tetap bergerak seolah menebar virus baru yang saya sebut sebagai “Virus ketakutan” hingga membuat masyarakat panik, entah demi tujuan apa mereka hingga terang-terangan melakukan itu demi kepentingan politik semata.

Sementara ribuan orang di seluruh  penjuru Nusantara tengah bahu membahu menggalang dana dan melakukan kegiatan pencegahan serta untuk membantu pemerintah mengatasi epidemic global ini. Anehnya lagi, mereka dengan beraninya secara terbuka dan tak segan-segan selalu mengatakan bahwa “Presiden Jokowi lamban. Jokowi tidak bekerja. Jokowi salah pilih menteri hingga Jokowi dianggap tidak berhasil menanggulangi penyebaran Virus Corona”.

Hebatnya lagi, ada beberapa media yang justru ikut andil memperkeruh suasana dan tak berpikiran jernih seolah ingin mendulang keuntungan untuk meraup iklan dan kerjasama dengan mengekpose Pandemi Virus Corona ini.

Seharusnya kita perlu belajar dan ikut bersama-sama dengan penuh kesadaran membantu pemerintah sebagaimana yang terjadi di negeri tirai bamboo. Karena telah banyak negera kini telah menengok ke Pemerintah China yang bangkit dalam waktu yang tidak begitu lama. Dan pemerintah China bersama rakyatnya berjuang bersama dengan kesadaran diri yang tinggi patuh pada pemimpin mereka yang terbukti menjadi kunci keberhassilan mengatasi penyebaran virus Corona. Negeri yang menganut paham komunis ini justru tengah ikut memberikan bantuan moril dan dan dana yang tidak sedikit membantu negara-negara di dunia ikut memberantas virus corona ini. Hebat bukan , Negeri yang komunis saja bisa, apalagi kita yang berlandaskan Pancasila yang katanya selalu menjunjung tinggi agama, budaya, adat istiadat pastinya bisa mengatasi pandemic Covid19 ini.

Semoga ini menjadi pencerahan bagi kita semua bahwa penyakit ataupun wabah bisa menyerang kita, anak, istri, bapak, ibu ataupun saudara dan teman kita. Jadi tunggu apalagi mari kita perangi bersama dengan pemerintah bahu membahu ikut serta mengantisipasi menyebarnya  wabah Corona ini.

Hakekatnya, kita semua sama tengah menghadapi ancaman kesehatan global. Tetapi, dalam upaya melawan penyebaran, semua orang harus berkorban sesuai dengan kemampuan masing-masing , lebih lebih membantu alat-alat pengaman diri (APD) bagi dokter dan paramedis sebagai garda terdepan dalam menanggulangi masyarakat yang terkena covid19. Jangan melakukan penimbunan kelengkapan yang sangat dibutuhkan masyarakat termasuk masker.. jangan mengambil keuntungan ekonomi disaat musibah.. membantu memberikan sembako bagi tenaga kerja formal dan informal yang terkena pemutusan hubungan kerja atau diistirahatkan karena hotel restauran dan semua akomodasi pariwisata tekena dampak ekonomi yang sangat parah dari covid19.. Ada owner salah satu hotel yang saya kenal sampai menangis karena merumahkan seluruh pegawainya karena hunian hotelnya sudah Nol persen, yang tak pernah terjadi dalam dua dekade sebelumnya.. begitu juga hotel-hotel lainnya di seluruh Indonesia.

Dalam situasi seperti sekarang ini layakah kita berkeluh kesah dan menyalahkan pemerintah?  Saatnya kita bersama, kelompok masyarakat, kelompok profesi turut berkontribusi untuk meringankan beban yang dipikul pemerintah dalam menghadapi pendemi

global. Karena tak ada pemerintah negara manapun yang siap dan mampu menghadapi sendiri termasuk negara maju Amerika maupun Eropa. Oleh karenanya jika tidak bisa membantu jangan memberati dengan penyebaran berita hoak, dan mengambil keuntungan , apalagi keuntungan politik demi kekuasaan. Janganlah menjadi politisi busuk. Politisi yang tidak bermoral yang mengambil keuntungan dalam bencana yang sedang melanda.

Terakhir, Bagaimana dengan kita masyarakat dan keluarga di Indonesia memerangi penyebaran covid19 , ikuti protokol yang telah diberikan oleh pemerintah  Belajar, Bekerja dan Berdoa #diRUMAHSAJA#

Semoga pendemi covid19 dapat teratasi dan kehidupan kita masyarakat bangsa Indonesia dan dunia kembali normal seperti sediakala.

Tags: covid 19Politik
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Jaminan Kesehatan Hari Ini – Catatan Novel Monster Kepala Seribu

Next Post

Mobil Klasik Melayang, Made Metera Senang – [Gotong-Royong Tanggulangi Covid-19]

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post
Mobil Klasik Melayang, Made Metera Senang – [Gotong-Royong Tanggulangi Covid-19]

Mobil Klasik Melayang, Made Metera Senang - [Gotong-Royong Tanggulangi Covid-19]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co