12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogoh-Ogoh dan Corona – [Kabar dari Jakarta]

Arnata Pakangraras by Arnata Pakangraras
March 20, 2020
in Khas
Ogoh-Ogoh dan Corona – [Kabar dari Jakarta]

Ogoh-ogoh karya anak-anak muda Suka Duka Hindu Dharma Banjar Jakarta Utara

Perawakannya tinggi besar, lebih dari dua meter. Kulit coklat legam. Rambut hitam tebal. Sepasang matanya melotot. Gigi runcing dengan taring lengkung menyembul dari gusi. Kuku-kuku jari tangannya panjang kumal. Sungguh mahluk aneh yang menyeramkan.

“Masih perlu dipoles agar karakter raksasanya semakin kuat,” ucap Putu Okayadi, siang itu di wantilan pura Dalem Purnajati, Tanjung Priok, Jakarta.

Ya, Bli Putu adalah salah seorang perencana sekaligus pembuat ogoh-ogoh. Dalam proses penggarapan Sang Kala Tiga, nama ogoh-ogoh tersebut, tentu tidak sendirian. Demi mengejar tenggat waktu, hampir setiap hari, siang bahkan sampai larut malam, anak-anak muda Suka Duka Hindu Dharma Banjar Jakarta Utara, membantu dengan suka cita. Mulai dari merakit kerangka hingga terwujud seperti sekarang. Termasuk penyediaan baju kaos khusus bagi pengarak, sekeha Beleganjur, dirancang dengan serius. Ogoh-ogoh ini dipersiapkan untuk acara pengerupukan Tawur Kesanga sebagai rangkaian perayaan menyambut Hari Raya Nyepi, tahun baru Saka  1942.

Sesuai rencana, ogoh-ogoh akan dipawaikan di Lapangan Banteng dan seputaran jalan Thamrin. Tahun sebelumnya diadakan di Monas. Tapi khusus tahun ini, Monas sedang sibuk berbenah, berkaitan dengan persiapan ajang international, balap mobil formula 1 dengan segala kontroversinya. Akhirnya, pemda DKI Jakarta mengakomodir kegiatan umat di Lapangan Banteng. Tentu, setelah melalui audensi para pihak.

Sekadar informasi, ogoh-ogoh pertama kali dipawaikan di Monas tahun 2010, tahun baru saka 1932. Pawai dilepas langsung oleh Bpk. Fauzi Bowo, gubernur Jakarta pada waktu itu. Beliau menyampaikan dalam sambutannya bahwa pawai ogoh-ogoh yang diadakan di Monumen Nasional ini sebagai bentuk kepedulian pemerintah dan seluruh warga kota dalam berpartisipasi pada perayaan tahun baru Saka. Sejalan dengan kian diakuinya eksistensi umat Hindu di Jakarta dan sekitarnya maka kegiatan tersebut menjadi agenda tahunan. Bahkan, pada tahun 2013 ogoh-ogoh dilombakan untuk memperebutkan piala gubernur.

Setelah semua persiapan mendekati rampung, tiba-tiba ada kabar mengejutkan. Mewabahnya ‘coronavirus disease’ (COVID-19) di beberapa negara termasuk Indonesia. Apalagi setelah presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa sudah ada pasien positif, yakni kasus-1 dan kasus-2. Kabar ini tentu saja berdampak luas dalam kehidupan masyarakat, pisik dan psikologisnya.

Ogoh-ogoh karya anak-anak muda Suka Duka Hindu Dharma Banjar Jakarta Utara

Seperti diketahui, virus mematikan ini, pertama kali terdeteksi di Wuhan, China. Pergerakan jumlah korban yang begitu cepat, drastis, membuat paramedis  kewalahan. Dalam tekanan situasi, pemerintah China bertindak cepat dengan membangun rumah sakit tambahan guna menampung membludaknya pasien. Video-video dramatis dan mengharukan pun bertebaran di medsos dan televisi.

Memang, masifnya penyebaran virus dengan masa inkubasi 14 hari ini membuat dunia internasional tersentak, cenderung gagap. Semua golongan dengan status sosial berbeda-beda bisa terjangkit. Media memberitakan bagaimana bintang film terkenal, peraih 2 piala Oscar, Tomk Hanks beserta istrinya positif terpapar. Pejabat negarapun tak luput. Menteri Dalam Negeri Australia, Petter Dutton. Menteri Kebudayaan Perancis, Franck Riester. Wakil Presiden Iran, Masoumeh Ebtekar. Wakil Menteri Kesehatan Iran, Irav Haririchi. Menteri Perhubungan Indonesia, Budi Karya Sumadi. Walikota Bogor, Bima Arya.

Dari dunia sepak bola, Mikel Arteta, pelatih Arsenal juga positif. Bek Tengah Juventus, Daniele Rugani adalah pemain top pertama yang terkena. Pemain bola lain yang juga terkena adalah Manolo Gabbiadini dari klub Sampdoria dan Timo Hubbers dari klub Hannover 96. Menghadapi kenyataan ini, beberapa klub sepak bola akhirnya mengkarantinakan para pemain dan official-nya. Diantaranya Juventus, Inter Milan, Arsenal, Manchester City dan Real Madrid. Seperti halnya ratusan WNI, mahasiswa-mahasiswi yang belajar di Wuhan yang dengan susah payah, karena ketatnya birokrasi, dipulangkan ke tanah air untuk menjalani masa karantina di Natuna.

Kegentingan ini dipertegas lagi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa COVID-19 berstatus pandemi. Di Indonesia, khususnya Jakarta, juga menunjukan jumlah suspect dan pasien positif terus bertambah. Nah, untuk memutus sebarannya maka Anies Baswedan, gubernur DKI Jakarta menyerukan agar kegiatan-kegiatan bersifat massal, baik itu kegiatan keagamaan , sosial dan budaya dibatalkan atau ditunda. Hal ini sejalan dengan terapan ‘social distancing’ dari pemerintah pusat . Menghindari kerumunan adalah salah satu cara agar tidak bersentuhan dengan pembawa virus yang susah diidentifikasi secara kasat mata. Harapannya ini dapat memutus mata rantai penyebaran.

Hari Senin, 17 Maret 2020, PHDI pusat, sebagai induk organisasi umat Hindu telah mengadakan rapat terbatas dengan Ditjen Bimas Hindu dan panitia Nasional Nyepi. Dengan memperhatikan arahan Bapak Presiden serta mencermati secara seksama situasi yang berkembang maka pada tanggal 19 Maret 2020 PHDI pusat mengeluarkan Surat Edaran No. 310/PHDI Pusat/III/2020, perihal Pedoman Pelaksanaan Hari Suci Nyepi. Salah satu poin pentingnya adalah secara tegas meniadakan arak-arakan/pawai ogoh-ogoh.

Konsekwensinya, sebagai umat yang menghormati desa kala patra sekaligus ketaatan kepada Guru Wisesa, dalam hal ini pemerintah sebagai bagian dari Catur Guru. Maka, keputusan tersebut harus diterima dengan dada lapang. Rasa kecewa, tentu saja ada. Banyak komponen banjar yang berkontribusi apalagi anak-anak muda sudah mengorbankan waktu, tenaga, pemikiran demi berdirinya ogoh-ogoh. Namun melihat fakta bencana kemanusiaan sudah seyogyanya kita turut prihatin. Mari kita yakini, masih ada pawai ogoh-ogoh tahun depan. Bisa jadi lebih meriah lagi.

Sekarang kita siapkan jasmani dan rohani untuk menyambut Nyepi dalam kesunyian, keheningan. Kesunyian, keheningan kerap membuka jalan untuk ‘terhubung’ dengan Sang Parama Kawi. Kita laksanakan Catur Brata Penyepian sebagaimana mestinya. Mari berusaha menempatkan spiritualitas dan rasionalitas pada takaran yang seimbang. Biarlah sejarah mencatat, pergantian tahun baru Saka kali ini diselimuti duka mendalam. Alam semesta selalu menjaga keseimbangan dengan rahasianya. Semoga tragedi ini cepat berlalu dan sisi kemanusiaan kita semakin peka sebagai mahluk tak sempurna sekaligus tak berdaya dihadapanNya.

Selamat Hari Raya Nyepi Saka 1942.

Tags: covid 19DKI JakartaHari Raya Nyepihinduogoh-ogoh
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: “Saya Baik. Terima Kasih, Company!”

Next Post

Tawur Kasanga versus Uncal Balung (1) – Aji Swamandala, Lontar Kontraversi

Arnata Pakangraras

Arnata Pakangraras

Lahir di Gianyar 24 Februari 1967. Saat SMA puisi-puisinya tersebar di halaman apresiasi sekaligus ikut “kompetisi puisi” yang disuh Umbu Landu Paranggi di Bali Post Minggu. Kini tinggal di Jakarta

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Tawur Kasanga versus Uncal Balung (1) – Aji Swamandala, Lontar Kontraversi

Tawur Kasanga versus Uncal Balung (1) - Aji Swamandala, Lontar Kontraversi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co