3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ngerebeg”, Tradisi Desa Adat Tegal, Abiansemal : Berkah dan Meriah

I Wayan Adi Gunarta by I Wayan Adi Gunarta
March 9, 2020
in Khas
“Ngerebeg”, Tradisi Desa Adat Tegal, Abiansemal : Berkah dan Meriah
Barong dan Rangda Sasuhunan masyarakat Desa Adat Tegal melinggih di Bale Agung pada saat ritual Ngerebeg {foti Adi Gunarta]

Wraspati kliwon wuku langkir, hampir seluruh warga masyarakat Desa Adat Tegal, Abiansemal, Badung, Bali, tumpah ruah ke Pura Dalem atau yang lebih populer disebut Pura Gede. Mereka berpakaian sembahyang dan ekspresi wajahnya tampak sangat bergembira. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.

Hari itu krama Desa Adat Tegal sedang menggelar ritual Ngerebeg. Sorak sorai bergemuruh disertai bunyi gambelan menjadikan suasana desa sangat meriah, ramai, dan tentunya kental dengan nuansa kesakralannya. Ngerebeg dilaksanakan setiap enam bulan sekali serta masih serangkaian dengan perayaan Galungan dan Kuningan, tepatnya pada hari Kamis, lima hari setelah hari raya Kuningan.

Ngerebeg berasal dari kata gerebeg/grebeg yang artinya berjejal (orang banyak), riuh, bergemuruh. Para tetua di desa yang sempat penulis wawancarai beberapa tahun silam sekitar tahun 2012 mengatakan bahwa, istilah ngerebeg memiliki arti yang sama dengan kata ngerebak atau ngerejeg yang berarti ‘besar-besaran’.

Berdasarkan arti tersebut dan dilihat dari prosesi pelaksanaannya, maka ngerebeg dapat dimaknai sebagai suatu upacara yang dilakukan secara besar-besaran serta melibatkan seluruh krama desa dari delapan banjar yang ada di desa itu. Warga dari tiap-tiap banjar tersebut telah dijadwalkan secara bergantian (setiap enam bulan sekali) oleh pihak prajuru desa adat, baik sebagai pangiring barong sasuhunan, banjar pengramen/ngeramaiang,dan lain-lainnya, mulai dari awal sampai berakhirnya ritual ngerebeg. Bahkan warga setempat yang tinggal di luar desa ataupun telah menikah keluar desa, mereka akan selalu berusaha menyempatkan diri pulang untuk mengikuti upacara ini.

Tujuan utama dari ritual ini ialah untuk memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/betara-betari sasuhunan,agar seluruh warga desa diberikan perlindungan, kemakmuran, dan terhindar dari wabah penyakit maupun mara bahaya. Tempat pelaksanaan ritual ngerebeg dipusatkan di Pura Gede (Pura Dalem Batan Dulang), Desa Adat Tegal, tepatnya di Bale Agung.

Iring-iringan pengawin (tombak/panji-panji) dalam ritual Ngerebeg {foto: Adi Gunarta]

Oleh masyarakat setempat, ngerebeg sering pula disebut wraspati ngepik atau wraspati pangepikan. Ngepik artinya menghitung. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan adanya suatu prosesi dalam ritual ngerebeg yang disebut tek cor, yaitu cara (sistem cacah jiwa/sensus) yang dilakukan untuk mengetahui atau menghitung jumlah penduduk (krama)Desa Adat Tegal. Dahulunya dalam tek cor ini setiap keluarga melaporkan jumlah anggota keluarganya dengan menghaturkan jinah bolong (uang kepeng), dimana tiap-tiap orang dihitung satu keping jinah bolong. Ini berarti setiap keluarga menghaturkan uang kepeng sesuai dengan jumlah anggota keluarganya masing-masing. Berdasarkan jumlah dari seluruh uang kepeng yang terkumpul, maka dapat diketuhui pula jumlah penduduk desa. Namun kini, oleh karena keberadaan uang kepeng asli ‘cukup sulit’ dan seiring perkembangan serta perjalanan waktu, uang kepeng tersebut seringkali diganti dengan uang rupiah.

Di dalam upacara ngerebeg terdapat iring-iringan (arak-arakan) benda-benda pusaka berupa pengawin (tombak atau panji-panji kebesaran yang bergambarkan dewata nawa sanga/sejenisnya), keris pusaka, danberbagai macam bentuk barong mulai dari barong ket, barong bangkal, barong macan, barong landung, hingga rangda yang diusung beramai-ramai mengelilingi desa selama prosesi berlangsung. Barong dan rangda yang ditarikan dalam prosesi ngerebeg ini merupakan sasuhunan (disakralkan) serta disungsung dibeberapa pura kahyangan di desa itu dan sangat dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Sebelum upacara ngerebeg di mulai, seluruh barong maupun rangda dari masing-masing pura akan disthanakan di Bale Agung.

Secara keseluruhan jumlah sasuhunan atau sungsungan yang ada dalam ritual ngerebeg, yaitu: delapan barong yang terdiri dari: satu barong ket, tiga barong bangkal, dua barong macan, satu pasang atau dua barong landung (lanang-istri). Kemudian terdapat dua rangda, satu rarung, dan sepuluh sisia. Di dalam prosesi Ngerebeg ini, ketika seluruh petapakan barong, rangda, dan keris pusaka telah melinggih (distanakan) di Bale Agung, maka ritual pun dimulai sekitar pukul 15.00 Wita. Namun sebelumnya, sekitar pukul 13.30 Wita barong maupun rangda sasuhunan itu terlebih dahulu telah diusung (lunga)menuju Bale Agung.

Para pemangku menghaturkan sesajen pada saat ritual Ngerebeg {foto: Adi Gunarta]

Upacara ini diawali dengan menghaturkan sesaji berupa peras daksina atau pejati, segehan agung, dan penyambleh kucit butuan (persembahan berupa anak babi, biasanya berwarna hitam) yang dipandu oleh belasan pemangku. Setelah mantra-mantra yang diiringi dentingan bunyi bajra selesai dipanjatkan, ritual kemudian dilanjutkan dengan pemotongan penyambleh kucit butuan yang dipotong dengan sebilah keris. Darah yang ada pada bagian kepala penyambleh itu kemudian dioleskan pada prerai/tapel (di bagian dagu) dari tiap-tiap barong, rangda, dan sisia, sertapada keris pusaka. Darah tersebut dapat dimaknai sebagai simbol sakralisasi pada petapakan ida betara atau barong sasuhunan.

Setelah prosesi menghaturkan sesaji itu selesai, acara dilanjutkan dengan persembahyangan bersama. Seluruh krama desa mengikuti persembahyangan dengan penuh hikmat. Areal pura yang luas itu pun bagaikan ‘lautan manusia’, penuh disesaki oleh krama yang begitu antusias mengikuti ritual, mulai dari area utama mandala (jeroan pura), madya mandala (jaba tengah), nista mandala (jaba sisi), bahkan hingga sampai memenuhi badan jalan yang berada di depan (jaba) pura. Selesai bersembahyang krama diberikan nunas tirta (air suci)dan bija (biji beras yang telah direndam air)oleh para pemangku pura. Uniknya ialah bija pada ritual ngerebeg ini dicampurkan dengan darah dari penyambleh kucit butuan, sehingga warnanya menjadi agak kemerahan.

Barong dan Rangda Sasuhunan yang telah dihias di sthananya masing-masing, sebelum ritual Ngerebeg dimulai [Foto-foto: Adi Gunarta]

Ritual ini merupakan salah satu bentuk upacara Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya yang pelaksanaannya melibatkan seluruh elemen masyarakat desa. Tata pelaksanaan prosesi ritual ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: Ngiasin, yakni menghias barong dan rangda sasuhunan dengan bunga cempaka di sthananya masing-masing. Tiap-tiap barong maupun rangda sasuhunan itu penuh dihiasi bunga cempaka yang jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan mungkin ribuan serta dipadukan dengan bunga anggrek dan mawar.

Aroma wangi semerbak yang dihembuskan senantiasa memperkuat nuansa magis dari ritual ini; Mamendak ialah prosesi menjemput betara sungsungan (barong dan rangda sasuhunan) di sthananya masing-masing untuk diusung (lunga) menuju ke Bale Agung dengan diiringi tetabuhan baleganjur; Pujawali, yakni persembahan sesajen kepada betara-betari yang dipandu oleh pemangku dan dilanjutkan dengan persembahyangan; Murwadaksina atau Mapurwadaksina, ialah prosesi dimana keris pusaka, barong, dan rangda sasuhunan berputar (searah perputaran jarum jam) mengelilingi Bale Agung sebanyak tiga kali yang diawali arak-arakan pangawin (tombak/panji-panji).

Prosesi ini diiringi tetabuhan menggunakan gambelan gong kebyar dengan gending gilak dan kale; Ngunya, yakni prosesi seluruh barong, rangda, dan keris pusaka mengelilingi wewidangan atau wilayah desa (diawali dengan arak-arakan pengawin) dengan menyusuri jalan-jalan desa atau bagian terluar dari desa serta diiringi gambelan baleganjur.

Prosesi Mapurwadaksina di Bale Agung dalam ritual Ngerebeg {foto-foto: Adi Gunarta]

Pada prosesi ngunya, seluruh barong, rangda, dan keris pusakaitu juga dihaturkan sesaji (segehan cacahan) di setiap pura kahyangan yang tersebar di wilayah Desa Adat Tegal. Ngunya dimulai dari Pura Gede yang menjadi pusat berlangsungnya ritual (berada disisi timur desa), selanjutnya menuju ke Pura Dalem Gegelangyang letaknya cukup berdekatan dengan Pura Gede (di sebelah barat), lalu menuju ke Catus Pata atau perempatan agung desa. Dari Catus Pata kemudian ke arah utara menuju Pura Desa Kaja/Aban dan Pura Puseh Kaja/Aban serta ke Pura Dalem Kaja/Aban dan Pura Ntegana, lalu kembali ke selatan menuju Pura Prajapati Alit(bertempat di Setra Alit) yang berada disisi barat desa dan berlanjut ke selatan menuju Pura Dalem Pesanggaran.

Dari Pura Dalem Pesanggaran dilanjutkan ke arah timur menuju Pura Puseh, kemudian ke utara menuju Pura Prajapati Agung (bertempat di Setra Agung/Setra Gede) dan kembali lagi ke Pura Gede. Terakhir, usai prosesi ngunya (sekitar pukul 19.30-an Wita), barong dan rangda sasuhunan itu pun kembali budal ke sthananya masing-masing diiringi dengan gambelan baleganjur.

Prosesi Ngunya (mengelilingi wilayah desa)padasaat ritual Ngerebeg [Foto_foto: Adi Gunarta]

Prosesi ritual ngerebeg ini merupakan ciri atau identitas dari Desa Adat Tegal yang menjadi suatu kebanggaan dan memiliki makna tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Dalam konteks spiritual, ngerebeg memiliki fungsi utama, yaitu sebagai sarana ritual yang bertujuan untuk memohon berkah dan keselamatan serta menetralisir kekuatan-kekuatan negatif (nyomia bhuta kala) untuk dapat menjadi kekuatan positif (kedewataan). Ritual ini dipercayai oleh masyarakat dapat memproteksi dari segala bentuk wabah penyakit, maupun pengaruh-pengaruh negatif lainnya.

Dilihat dari konteks sosialnya, ngerebeg dapat menjadi media untuk mempererat dan mempersatukan masyarakat desa diantara keanekaragaman strata sosial maupun golongan. Selain itu, kebersamaan saat mamundut (mengusung) barong dan rangda dalam ritual ini juga dapat membangkitkan dan memupuk rasa solidaritas, memperkuat rasa keakraban serta kerja sama di antara warga desa, sehingga satu dengan lainnya memiliki rasa saling memiliki, saling menghargai, dan saling menjaga. Semoga tradisi ngerebeg dapat terus dilestarikan, guna menjaga khazanah warisan seni dan budaya daerah. [T]

BACA JUGA:

  • Galungan-Kuningan di Desa Adat Tegal, Abiansemal: Ngelawang Sakral, 8 Barong, 6 Hari, 8 Banjar

Tags: Tradisiupacara
Share513TweetSendShareSend
Previous Post

32 Fakta I Gede Winasa yang Perlu Anda Ketahui

Next Post

Panduan Hidup Praktis Tanpa Ponsel Pintar

I Wayan Adi Gunarta

I Wayan Adi Gunarta

Tamatan S2 Penciptaan Seni Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang lahir dan tinggal di Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Panduan Hidup Praktis Tanpa Ponsel Pintar

Panduan Hidup Praktis Tanpa Ponsel Pintar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co