2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Cinta di Persimpangan Jalan – [Catatan Jah Magesah Vol. 05]

Wendra Wijaya by Wendra Wijaya
February 26, 2020
in Khas
Merawat Cinta di Persimpangan Jalan – [Catatan Jah Magesah Vol. 05]

Para peserta acara Jah Magesah Vol.5 di Baler Agung Jembrana [Foto Mang Tri]

Kota dan tanah kelahiran adalah Ibu. Sebagaimana seorang Ibu, kota menyediakan diri memberi kenyamanan bagi seluruh penghuninya; pemerintah dan warga yang dipimpinnya. Dalam analogi ini, pemerintah sebagai anak tertua berkewajiban hadir memimpin warga untuk menjaga dan merawat keberlangsungan sebuah wilayah, sebuah bangunan peradaban bernama Jembrana.

Merawat keberlangsungan daerah juga kota menjadi dedikasi yang menuntut kerja juga “pengorbanan” yang tak biasa. Dalam hal ini, konsep pembangunan kota mesti memiliki strategi terarah dengan orientasi target dan pencapaian yang jelas sehingga aktivasi pembangunan melalui desa/ kelurahan tidak menjadi liar. Rumusan strategi ini mesti berangkat dari potensi yang ada, entah itu dari biografi yang dimiliki ataupun sumber daya manusia dan karakteristiknya.

Seperti yang diungkap Jurnalis dan Budayawan Putu Fajar Arcana dalam Jah Magesah Vol. 05: Cinta Tanpa Syarat, kota adalah organisme yang hidup. Dalam pandangan pantheistik, ia diibaratkan memiliki jiwa; dilahirkan, tumbuh besar, dan tak bebas dari hukum kematian. Banyak kota di dunia, yang lahir dan besar secara tiba-tiba, tetapi untuk jangka waktu tertentu kemudian mati.


Para pembicara dalam Jah Magesah Vol. 05: Cinta Tanpa S [Foto Mang tri]

Mengacu pada biografi, Jembrana utamanya Kota Negara sesungguhnya tumbuh di atas puing pembataian 1965 dan kemudian Gempa Seririt tahun 1976. Idealnya, pengembangan dan pembangunan kota mengikuti alur biografinya sendiri, tidak terburu nafsu mengejar ketertinggalan dengan kota-kota lain yang memiliki sejarah berbeda. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah pengembangan ekosistem kebudayaan yang mengarah pada rekonsiliasi, mengingat adanya sejarah kelam di masa 1965.

“Persoalan ini tidak bisa dianggap tidak ada. Problem-problem sosial seperti gesekan antar kelompok dan kemiskinan menjadi hal utama yang bisa digarap untuk mengarahkan agar kota tumbuh menjadi organisme yang sehat. Kota sehat adalah kota inklusif, kota yang menerima siapa pun penghuninya dalam kedudukan yang setara,” terang keynote speaker dalam diskusi yang digelar pada Jumat (21/2) lalu di Wantilan Kantor Lurah Baler Bale Agung.

Ia mengambil kisah Afrika Selatan sebagai cermin pembangunan ekosistem kebudayaan yang mengarah pada rekonsiliasi. Pada satu periode, Afrika Selatan dikuasai oleh orang-orang kulit putih. Sementara “pemiliknya yang sah” yaitu orang-orang kulit hitam, disingkirkan. Nelson Mandela yang melakukan perlawanan terhadap politik apartheid dalam hampir setengah hidupnya diganjar hukuman. Di titik ketika perlawanan Mandela untuk menghapus politik ini berhasil dan mengantarkannya menjadi presiden, ia merangkul seluruh orang-orang kulit putih sebagai salah satu upaya rekonsiliasi.

“Orang-orang kulit putih ini tidak diusir dari tanah Afrika Selatan karena kultur saat itu mereka lebih maju dari orang-orang kulit hitam. Justru di sinilah kekhasan wilayah itu kemudian tercipta,” terangnya.

Wacana mengenai pengembangan dan arah pembangunan Jembrana sesungguhnya telah banyak mengemuka melalui pendekatan sosial budaya, bahkan sejak bertahun-tahun silam. Jembrana sebagai Indonesia Kecil oleh Penyair Umbu Landu Paranggi, Taman Sari Bhinneka Tunggal Ika oleh Mantan Bupati Jembrana IB Indugosa, hingga Bali yang Lain yang berangkat dari karya film dokumenter seni kontemporer Jembrana karya Dwitra J. Ariana dan lain sebagainya, menjadi gagasan yang dibangun berdasarkan potensi dan karakteristik yang dimiliki.


Peserta Jah Magesah Vol 5 di Baler Bale Agung Jembarana [Foto Mang Tri]

Dewa, warga Baler Bale Agung mengungkap adanya keberjarakan antara sesama warga. Di pasar, misalnya, warga Muslim cenderung hanya berbelanja pada pedagang Muslim saja. Begitu pula sebaliknya untuk warga yang beragama Hindu. Kondisi ini  terjadi di Perumnas, Baler Bale Agung. Kondisi ini harus menjadi perhatian karena Jembrana juga adalah wilayah yang kental dengan keberagaman.

Keberjarakan, meski dalam ruang yang kecil, tidaklah bisa dipandang remeh. Saat ini, masyarakat Bali pada umumnya, termasuk Jembrana, masih memiliki euforia terhadap simbol. Pendekatan simbol seperti ini bisa dimanfaatkan untuk memerkuat silaturahmi-komunikasi antar umat. Maka mencuatlah gagasan mengenai pembangunan tempat ibadah dalam satu area, seperti Puja Mandala yang hadir di kawasan Nusa Dua, dengan memperkuat spirit kebangsaan. Pembangunan ini tidak lagi berbicara tentang citra pariwisata, namun lebih pada penguatan toleransi dan kesadaran multikulturalisme di Jembrana.

Budayawan dan sastrawan Nanoq da Kansas juga memandangnya sebagai sebuah peluang untuk mengentalkan semangat toleransi yang sesungguhnya telah dimiliki dan dipahami warga Jembrana. Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah optimalisasi apa yang sudah ada, semisal membangun konektivitas antara pura dan masjid yang jaraknya berdekatan. “Misalnya area Pura Majapahit dan Masjid Nurul Amin yang berjarak sekitar 50 meter dikondisikan agar berada dalam satu kawasan,” sarannya dalam diskusi yang dimoderatori W. Sumahardika.

Gagasan semacam ini pada akhirnya membutuhkan identifikasi, rumusan dan eksekusi melalui partisipasi aktif warganya. Pusat koordinasi yang dipegang oleh pemerintah daerah, harus diturunkan melalui kebijakan publik di tingkat desa/ kelurahan dan menjadi pemahaman bersama. Sementara pada tingkat desa/ kelurahan, diupayakan sebisa mungkin memiliki konektivitas, saling terhubung satu sama lain. Dengan demikian, segala aktivasi yang dilakukan menjadi terarah dan memiliki tanggung jawab, baik secara vertikal maupun horizontal.

“Menggunakan kulkul atau kentongan untuk merayakan pergantian tahun, misalnya. Kita tidak harus melulu ‘membakar’ uang untuk kembang api. Spirit-spirit seperti ini yang sebaiknya digunakan dan kita coba dengan pelibatan seluruh warga,” ucap Nanoq.

Persimpangan Jalan

Jah Magesah yang diinisiasi Jembrana Creative City Oriented (JCCO) berkolaborasi dengan Kelurahan Baler Bale Agung menekankan pentingnya merawat kecintaan warga kepada daerahnya yang ditunjukan melalui kerja nyata di lingkungan masing-masing. Namun yang terlihat hari ini adalah Jembrana tengah berada di persimpangan jalan, mengalami kebimbangan ke arah mana akan menuju.

Tak ayal, Jah Magesah menjadi semacam ruang curhat yang terorganisir agar tidak berkembang menjadi gosip. Kondisi ini tentu mengacu pada kesadaran memertemukan warga dengan pengambil kebijakan. Wakil Bupati Jembrana, Made Kembang Hartawan, yang juga didapuk sebagai pembicara menjelaskan pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk membangun daerah dengan optimalisasi desa/ kelurahan. Karena memiliki kekhasan sendiri, terutama menyangkut karakteristik penghuninya, maka strategi pendekatan yang dilakukan tentu berbeda pula. Hal kecil yang dilakukan misalnya memberi tantangan untuk membangun gang hijau di sebuah desa/ kelurahan secara mandiri.

“Ini hanya satu pola saja, dan bisa dikatakan efektif. Ketika itu berhasil diwujudkan (pembentukan gang hijau), ternyata gang-gang lainnya juga berkeinginan serupa. Nah, saya tekankan lagi, kita memang harus aktif membangun tempat tinggal sendiri secara mandiri. Sebisa mungkin tanpa bantuan pemerintah,” ucapnya.

Bantuan pemerintah yang selama ini digelontorkan bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, kebijakan populis ini bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemimpinnya. Sementara di sisi lainnya, pembiasaan-pembiasaan itu membentuk karakter masyarakat yang manja, bahkan cenderung melemahkan kreativitas dan partisipasi untuk membangun lingkungannya masing-masing.

Tentu tak bisa dinafikan, setiap pemerintah memiliki keinginan untuk mengakomodir kebutuhan dan keinginan warganya. Namun ada banyak faktor yang membuat realisasinya tersendat dan tidak bisa diwujudkan dengan segera. “Euforia gratis itu memang luar biasa. Misalnya saja tentang kesehatan gratis, kita ubah melalui Kartu Indonesia Sehat yang bisa mengcover seluruh masyarakat Jembrana. Dan di Bali hanya ada 3 (tiga) kabupaten di Bali yang mampu melakukannya; Badung, Klungkung, Jembrana. Tapi hari ini gratis itu sebenarnya juga menjadi beban. Kalau gratis melulu, itu akan jadi masalah di belakang. Misalnya diminta uang kebersihan, bayar Rp 5 ribu saja akan dianggap beban,” terang Kembang.

Diskusi yang berjalan hampir selama 4 (empat) jam itu berusaha menjembatani keinginan warga dengan kebijakan pemerintah agar timbul kesepahaman dua arah, sekaligus meminimalisir persepsi yang tak akurat. Diskusi ini juga menghadirkan Rindik Kru Usak (Pangkung Manggis, Baler Bale Agung, Negara) dan Karna (Denpasar) untuk membangun suasana diskusi yang lebih akrab.


Karna (Heri Windi Anggara dan Colby Aria) [Foto Mang Tri]

Materi lagu yang dinyanyikan Karna (Heri Windi Anggara dan Colby Aria), misalnya, tidak hanya hadir sebagai hiburan semata, namun juga berupaya merekam realitas hari ini. Terserah, Mimpi dan BooM, 3 (tiga) materi lagu yang dimainkan saat itu hadir dan berupa membangun kesadaran kolektif melalui jalan kesenian. “Musuh utama kita bukanlah perbedaan, tapi kebodohan!” pekik Karna dalam salah satu lagunya.

Karna mengajak pendengarnya menertawakan diri sendiri. Melompat dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya, namun lupa siapa diri kita saat ini. Mereka mengajak kita kembali mengingat obrolan ataupun gagasan yang terlewat, yang berlalu begitu saja tanpa mengendap menjadi pemahaman.

Usai Jah Magesah, mari kembali membuka hati; buka mata, buka telinga. Mari mendengar dan mengendapkan wacana yang hadir di mana saja. Barangkali, hal-hal yang terlewat itu, berangkat dari gagasan yang berkelindan itu bisa menjadi titik tolak memberikan sumbangsih bagi tanah kelahiran, bagi Ibu Jembrana.

Cinta seorang Ibu tidaklah bersyarat, maka cara terbaik untuk mencintainya adalah dengan mengagungkannya melalui kerja nyata.

Dengan cinta tanpa syarat. [T]

Tags: Jah Megesahjembrana
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Gugusan Energi Alam Batin Wirantawan dalam Pameran Tunggal di Danes Art Veranda

Next Post

Ruang Hijau untuk Udara Sejuk – [Memandang Kebun Permakultur di Taman Baca Kesiman]

Wendra Wijaya

Wendra Wijaya

pengamat musik pengamat puisi, main musik juga menulis puisi

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Ruang Hijau untuk Udara Sejuk – [Memandang Kebun Permakultur di Taman Baca Kesiman]

Ruang Hijau untuk Udara Sejuk – [Memandang Kebun Permakultur di Taman Baca Kesiman]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co