12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Cinta di Persimpangan Jalan – [Catatan Jah Magesah Vol. 05]

Wendra Wijaya by Wendra Wijaya
February 26, 2020
in Khas
Merawat Cinta di Persimpangan Jalan – [Catatan Jah Magesah Vol. 05]

Para peserta acara Jah Magesah Vol.5 di Baler Agung Jembrana [Foto Mang Tri]

Kota dan tanah kelahiran adalah Ibu. Sebagaimana seorang Ibu, kota menyediakan diri memberi kenyamanan bagi seluruh penghuninya; pemerintah dan warga yang dipimpinnya. Dalam analogi ini, pemerintah sebagai anak tertua berkewajiban hadir memimpin warga untuk menjaga dan merawat keberlangsungan sebuah wilayah, sebuah bangunan peradaban bernama Jembrana.

Merawat keberlangsungan daerah juga kota menjadi dedikasi yang menuntut kerja juga “pengorbanan” yang tak biasa. Dalam hal ini, konsep pembangunan kota mesti memiliki strategi terarah dengan orientasi target dan pencapaian yang jelas sehingga aktivasi pembangunan melalui desa/ kelurahan tidak menjadi liar. Rumusan strategi ini mesti berangkat dari potensi yang ada, entah itu dari biografi yang dimiliki ataupun sumber daya manusia dan karakteristiknya.

Seperti yang diungkap Jurnalis dan Budayawan Putu Fajar Arcana dalam Jah Magesah Vol. 05: Cinta Tanpa Syarat, kota adalah organisme yang hidup. Dalam pandangan pantheistik, ia diibaratkan memiliki jiwa; dilahirkan, tumbuh besar, dan tak bebas dari hukum kematian. Banyak kota di dunia, yang lahir dan besar secara tiba-tiba, tetapi untuk jangka waktu tertentu kemudian mati.


Para pembicara dalam Jah Magesah Vol. 05: Cinta Tanpa S [Foto Mang tri]

Mengacu pada biografi, Jembrana utamanya Kota Negara sesungguhnya tumbuh di atas puing pembataian 1965 dan kemudian Gempa Seririt tahun 1976. Idealnya, pengembangan dan pembangunan kota mengikuti alur biografinya sendiri, tidak terburu nafsu mengejar ketertinggalan dengan kota-kota lain yang memiliki sejarah berbeda. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah pengembangan ekosistem kebudayaan yang mengarah pada rekonsiliasi, mengingat adanya sejarah kelam di masa 1965.

“Persoalan ini tidak bisa dianggap tidak ada. Problem-problem sosial seperti gesekan antar kelompok dan kemiskinan menjadi hal utama yang bisa digarap untuk mengarahkan agar kota tumbuh menjadi organisme yang sehat. Kota sehat adalah kota inklusif, kota yang menerima siapa pun penghuninya dalam kedudukan yang setara,” terang keynote speaker dalam diskusi yang digelar pada Jumat (21/2) lalu di Wantilan Kantor Lurah Baler Bale Agung.

Ia mengambil kisah Afrika Selatan sebagai cermin pembangunan ekosistem kebudayaan yang mengarah pada rekonsiliasi. Pada satu periode, Afrika Selatan dikuasai oleh orang-orang kulit putih. Sementara “pemiliknya yang sah” yaitu orang-orang kulit hitam, disingkirkan. Nelson Mandela yang melakukan perlawanan terhadap politik apartheid dalam hampir setengah hidupnya diganjar hukuman. Di titik ketika perlawanan Mandela untuk menghapus politik ini berhasil dan mengantarkannya menjadi presiden, ia merangkul seluruh orang-orang kulit putih sebagai salah satu upaya rekonsiliasi.

“Orang-orang kulit putih ini tidak diusir dari tanah Afrika Selatan karena kultur saat itu mereka lebih maju dari orang-orang kulit hitam. Justru di sinilah kekhasan wilayah itu kemudian tercipta,” terangnya.

Wacana mengenai pengembangan dan arah pembangunan Jembrana sesungguhnya telah banyak mengemuka melalui pendekatan sosial budaya, bahkan sejak bertahun-tahun silam. Jembrana sebagai Indonesia Kecil oleh Penyair Umbu Landu Paranggi, Taman Sari Bhinneka Tunggal Ika oleh Mantan Bupati Jembrana IB Indugosa, hingga Bali yang Lain yang berangkat dari karya film dokumenter seni kontemporer Jembrana karya Dwitra J. Ariana dan lain sebagainya, menjadi gagasan yang dibangun berdasarkan potensi dan karakteristik yang dimiliki.


Peserta Jah Magesah Vol 5 di Baler Bale Agung Jembarana [Foto Mang Tri]

Dewa, warga Baler Bale Agung mengungkap adanya keberjarakan antara sesama warga. Di pasar, misalnya, warga Muslim cenderung hanya berbelanja pada pedagang Muslim saja. Begitu pula sebaliknya untuk warga yang beragama Hindu. Kondisi ini  terjadi di Perumnas, Baler Bale Agung. Kondisi ini harus menjadi perhatian karena Jembrana juga adalah wilayah yang kental dengan keberagaman.

Keberjarakan, meski dalam ruang yang kecil, tidaklah bisa dipandang remeh. Saat ini, masyarakat Bali pada umumnya, termasuk Jembrana, masih memiliki euforia terhadap simbol. Pendekatan simbol seperti ini bisa dimanfaatkan untuk memerkuat silaturahmi-komunikasi antar umat. Maka mencuatlah gagasan mengenai pembangunan tempat ibadah dalam satu area, seperti Puja Mandala yang hadir di kawasan Nusa Dua, dengan memperkuat spirit kebangsaan. Pembangunan ini tidak lagi berbicara tentang citra pariwisata, namun lebih pada penguatan toleransi dan kesadaran multikulturalisme di Jembrana.

Budayawan dan sastrawan Nanoq da Kansas juga memandangnya sebagai sebuah peluang untuk mengentalkan semangat toleransi yang sesungguhnya telah dimiliki dan dipahami warga Jembrana. Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah optimalisasi apa yang sudah ada, semisal membangun konektivitas antara pura dan masjid yang jaraknya berdekatan. “Misalnya area Pura Majapahit dan Masjid Nurul Amin yang berjarak sekitar 50 meter dikondisikan agar berada dalam satu kawasan,” sarannya dalam diskusi yang dimoderatori W. Sumahardika.

Gagasan semacam ini pada akhirnya membutuhkan identifikasi, rumusan dan eksekusi melalui partisipasi aktif warganya. Pusat koordinasi yang dipegang oleh pemerintah daerah, harus diturunkan melalui kebijakan publik di tingkat desa/ kelurahan dan menjadi pemahaman bersama. Sementara pada tingkat desa/ kelurahan, diupayakan sebisa mungkin memiliki konektivitas, saling terhubung satu sama lain. Dengan demikian, segala aktivasi yang dilakukan menjadi terarah dan memiliki tanggung jawab, baik secara vertikal maupun horizontal.

“Menggunakan kulkul atau kentongan untuk merayakan pergantian tahun, misalnya. Kita tidak harus melulu ‘membakar’ uang untuk kembang api. Spirit-spirit seperti ini yang sebaiknya digunakan dan kita coba dengan pelibatan seluruh warga,” ucap Nanoq.

Persimpangan Jalan

Jah Magesah yang diinisiasi Jembrana Creative City Oriented (JCCO) berkolaborasi dengan Kelurahan Baler Bale Agung menekankan pentingnya merawat kecintaan warga kepada daerahnya yang ditunjukan melalui kerja nyata di lingkungan masing-masing. Namun yang terlihat hari ini adalah Jembrana tengah berada di persimpangan jalan, mengalami kebimbangan ke arah mana akan menuju.

Tak ayal, Jah Magesah menjadi semacam ruang curhat yang terorganisir agar tidak berkembang menjadi gosip. Kondisi ini tentu mengacu pada kesadaran memertemukan warga dengan pengambil kebijakan. Wakil Bupati Jembrana, Made Kembang Hartawan, yang juga didapuk sebagai pembicara menjelaskan pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk membangun daerah dengan optimalisasi desa/ kelurahan. Karena memiliki kekhasan sendiri, terutama menyangkut karakteristik penghuninya, maka strategi pendekatan yang dilakukan tentu berbeda pula. Hal kecil yang dilakukan misalnya memberi tantangan untuk membangun gang hijau di sebuah desa/ kelurahan secara mandiri.

“Ini hanya satu pola saja, dan bisa dikatakan efektif. Ketika itu berhasil diwujudkan (pembentukan gang hijau), ternyata gang-gang lainnya juga berkeinginan serupa. Nah, saya tekankan lagi, kita memang harus aktif membangun tempat tinggal sendiri secara mandiri. Sebisa mungkin tanpa bantuan pemerintah,” ucapnya.

Bantuan pemerintah yang selama ini digelontorkan bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, kebijakan populis ini bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemimpinnya. Sementara di sisi lainnya, pembiasaan-pembiasaan itu membentuk karakter masyarakat yang manja, bahkan cenderung melemahkan kreativitas dan partisipasi untuk membangun lingkungannya masing-masing.

Tentu tak bisa dinafikan, setiap pemerintah memiliki keinginan untuk mengakomodir kebutuhan dan keinginan warganya. Namun ada banyak faktor yang membuat realisasinya tersendat dan tidak bisa diwujudkan dengan segera. “Euforia gratis itu memang luar biasa. Misalnya saja tentang kesehatan gratis, kita ubah melalui Kartu Indonesia Sehat yang bisa mengcover seluruh masyarakat Jembrana. Dan di Bali hanya ada 3 (tiga) kabupaten di Bali yang mampu melakukannya; Badung, Klungkung, Jembrana. Tapi hari ini gratis itu sebenarnya juga menjadi beban. Kalau gratis melulu, itu akan jadi masalah di belakang. Misalnya diminta uang kebersihan, bayar Rp 5 ribu saja akan dianggap beban,” terang Kembang.

Diskusi yang berjalan hampir selama 4 (empat) jam itu berusaha menjembatani keinginan warga dengan kebijakan pemerintah agar timbul kesepahaman dua arah, sekaligus meminimalisir persepsi yang tak akurat. Diskusi ini juga menghadirkan Rindik Kru Usak (Pangkung Manggis, Baler Bale Agung, Negara) dan Karna (Denpasar) untuk membangun suasana diskusi yang lebih akrab.


Karna (Heri Windi Anggara dan Colby Aria) [Foto Mang Tri]

Materi lagu yang dinyanyikan Karna (Heri Windi Anggara dan Colby Aria), misalnya, tidak hanya hadir sebagai hiburan semata, namun juga berupaya merekam realitas hari ini. Terserah, Mimpi dan BooM, 3 (tiga) materi lagu yang dimainkan saat itu hadir dan berupa membangun kesadaran kolektif melalui jalan kesenian. “Musuh utama kita bukanlah perbedaan, tapi kebodohan!” pekik Karna dalam salah satu lagunya.

Karna mengajak pendengarnya menertawakan diri sendiri. Melompat dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya, namun lupa siapa diri kita saat ini. Mereka mengajak kita kembali mengingat obrolan ataupun gagasan yang terlewat, yang berlalu begitu saja tanpa mengendap menjadi pemahaman.

Usai Jah Magesah, mari kembali membuka hati; buka mata, buka telinga. Mari mendengar dan mengendapkan wacana yang hadir di mana saja. Barangkali, hal-hal yang terlewat itu, berangkat dari gagasan yang berkelindan itu bisa menjadi titik tolak memberikan sumbangsih bagi tanah kelahiran, bagi Ibu Jembrana.

Cinta seorang Ibu tidaklah bersyarat, maka cara terbaik untuk mencintainya adalah dengan mengagungkannya melalui kerja nyata.

Dengan cinta tanpa syarat. [T]

Tags: Jah Megesahjembrana
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Gugusan Energi Alam Batin Wirantawan dalam Pameran Tunggal di Danes Art Veranda

Next Post

Ruang Hijau untuk Udara Sejuk – [Memandang Kebun Permakultur di Taman Baca Kesiman]

Wendra Wijaya

Wendra Wijaya

pengamat musik pengamat puisi, main musik juga menulis puisi

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Ruang Hijau untuk Udara Sejuk – [Memandang Kebun Permakultur di Taman Baca Kesiman]

Ruang Hijau untuk Udara Sejuk – [Memandang Kebun Permakultur di Taman Baca Kesiman]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co