2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melawat ke Flores [4]: Enam Jam di Atas Motor

I Komang Gde Subagia by I Komang Gde Subagia
February 21, 2020
in Tualang
Melawat ke Flores [4]: Enam Jam di Atas Motor

Perjalanan Naik Motor Selama Enam Jam Bersama Leonardus Jalo [Foto: IK Gde Subagia]

Baca juga:

  • Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo
  • Melawat ke Flores [2]: Mengarungi Perairan Komodo
  • Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo

Sudah beberapa hari terakhir ini saya berada di Labuan Bajo. Waktunya untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan saya berikutnya adalah Ruteng. Tapi, sebelum sampai di Ruteng saya akan ke Wae Rebo, sebuah kampung tradisional di Manggarai.

Teman Baru

Namanya Leonardus Jalo. Panggilannya Leon. Lelaki 23 tahun ini berasal dari Ruteng, Manggarai. Ia pegawai hostel tempat saya menginap. Hari terakhir di Labuan Bajo, saya meminjam motornya untuk keliling-keliling cari makan.


Saya (penulis) bersama Leon

Saya mengajaknya pergi ke Wae Rebo. Lokasinya dekat dengan Satarmese, kampung halamannya. Sebagai orang asli Manggarai, ia belum pernah ke sana. Kebetulan ia akan libur dua hari ke depan. Dan ia bersedia ikut.

Bergerak ke Timur

Jam lima pagi di hari berikutnya, Leon sudah siap. Bensin di motornya sudah penuh. Helm untuk saya pun dibawakannya. Kami kemudian berangkat, saat pagi belum terang benar.

Keluar kota Labuan Bajo ke arah timur. Menyusuri Jalan Raya Trans Flores. Yang tak ramai. Yang berkelok-kelok. Mendaki dan menuruni bukit. Makin lama udara makin dingin.


Pegunungan di Manggarai yang Lebat Membuat Sungai-sungainya Mengalirkan Air Sepanjang Musim [Foto: IK Gde Subagia]

Kondisi Flores ke arah timur sungguh berbeda. Jika di Labuan Bajo kering dan gersang, ke arah timur justru hijau dan sejuk. Perbukitan tak lagi ditumbuhi padang ilalang. Berganti menjadi pepohonan hutan yang rapat.

Jembatan-jembatan yang saya lalui sungainya mengalirkan air. Rasanya, banyak sumber mata air di bukit-bukit ini. Maka tak salah, ada air mineral produk Manggarai yanng mendapatkan airnya dari sini. Namanya Ruteng. Nama produk yang sama dengan nama ibukotanya.

Insiden Pecah Ban

Ban motor bagian belakang tiba-tiba bocor. Pantas saja dari tadi oleng. Kami berhenti. Melihat kondisinya. Bocor total. Motor tak bisa dinaiki berdua. Kalaupun dinaiki sendiri, agak dipaksa dan pelan-pelan.

Saya turun. Leon menuntun motornya. Kondisi di jalan sepi. Rasanya akan susah mendapatkan bengkel tambal ban. Di sekitar kami hutan, ladang, dan sawah. Sesekali rumah-rumah penduduk. Wilayah ini namanya Mbliling. Karena ada sekolah negeri dengan papan namanya yang saya lewati.

Leon saya minta mengendarai motornya saja. Mencari tukang tambal ban di depan. Saya akan berjalan menyusulnya di bekakang. Ada sekitar dua kilometer saya berjalan kaki. Long march. Sampai akhirnya menyetop seorang pengendara motor. Ia saya boncengi menyusul Leon.

Akhirnya saya melihat Leon di sebuah bengkel tambal ban. Di pinggir jalan yang sepi. Di sebuah pertigaan jalan yang akan menuju ke Danau Sano Nggoang. Tapi bengkelnya tutup. Sial. Beberapa pengendara motor yang bannya bocor juga saya lihat kebingungan.

Tiga puluh menit menunggu tukang bengkel yang tak kunjung datang, Leon akhirnya lanjut mencari bengkel. Saya menunggu saja di depan bengkel yang sudah tutup ini.

Sambil menunggu, saya sempatkan menulis. Juga mengirimkan kabar ke istri. Tentang kondisi dan posisi. Mumpung ada sinyal internet.

Di banyak titik di Flores, sinyal internet sangat susah didapatkan. Saya masih setia memakai kartu provider warisan tempat kerja saya dulu. Walaupun jangkauannya di Flores terbatas. Kalau kartu provider lain, sepertinya jangkauannya lebih luas.

Dari Lembor ke Nanga Lili

Sejam menunggu, akhirnya Leon datang. Motor sudah normal kembali. Perjalanan pun dilanjutkan. Kami sampai di sebuah kota kecamatan, Lembor. Di sini kami istirahat makan. Sudah lapar. Tadi pagi saya hanya sarapan roti tawar dan air putih saja.

Kami akan menuju Denge. Sebuah kampung terakhir yang bisa diakses kendaraan bermotor, sebelum ke Kampung Wae Rebo. Jalur umum menuju Denge adalah melalui Kota Ruteng. Tapi Leon mengajak lewat Nanga Lili saja.

Nanga Lili adalah desa yang lokasinya tak jauh dari pesisir selatan Pulau Flores. Daerahnya kering dan panas. Di beberapa garis pantai, banyak ada perahu nelayan. Juga ikan-ikan yang sedang dijemur.


Salah Satu Pemukiman di Nanga Lili [Foto: IK Gde Subagia]

Selalu Berjumpa Otokol

Jalan yang kami tempuh sepi. Hanya satu dua kendaraan melintas. Salah satunya adalah otokol. Atau oto kayu. Kendaraan penumpang khas di Flores. Berupa truk yang bak belakangnya dimodifikasi dengan tempat duduk.

Yang unik, hampir semua otokol memutar musik dengan kencang. Bahkan ada yang saya lihat memiliki loudspeaker yang arah suaranya keluar. Dari jauh, musiknya sudah terdengar. Saya selalu menebak, ini pasti otokol.

Otokol, Moda Transportasi yang Umum Dijumpai di Flores [Foto: IK Gde Subagia]

Menyusuri Pantai Selatan

Setelah melewati Nanga Lili, tibalah kami di pesisir selatan. Deburan ombak sudah terlihat dan terdengar jelas. Jalan menuju Denge akan menyusuri pantai ke arah timur.

Kondisi jalan tak begitu baik. Karena jalan adalah jalan pedesaan. Udara bertambah panas khas pesisir. Angin bertiup kencang.


Leon dan motornya [Foto: IK Gde Subagia]
Setelah Melewati Desa Nanga Lili, Jalan Menuju Dintor Menyusuri Pantai Selatan [Foto: IK Gde Subagia]

Pemandangan di pesisir selatan ini membuat perjalanan kami tak membosankan. Pantai berpasir atau berkerikil dengan deburan ombak. Kadang berganti menjadi terjal dengan ombak-ombak yang ganas.

Di seberang lautan, ada satu pulau. Namanya Pulau Mules. Pulau dengan hamparan bukit berbatu, padang rumput, dan pepohonan dataran rendah.

Leon sepertinya senang. Sebagai orang Manggarai asli, ia tak pernah lewat sini. Hanya dengar cerita dari temannya yang pernah ke sini. Yang bersepeda motor di pesisir pantai dengan pemandangan indah.


Pemandangan di Pesisir Selatan Flores. Tampak di Kejauhan Pulau Mulas [IK Gde Subagia]

Dari Dintor ke Denge

Akhirnya kami sampai di Desa Dintor. Tempat persimpangan jalan yang akan ke Denge atau ke Ruteng. Jika ke Denge, jalan mendaki ke utara. Jika ke Ruteng, maka tinggal meneruskannya ke timur, berlanjut menyusuri pantai.

Jauh di utara, pegunungan menghijau tertutup kabut tebal. Juga mendung. Kami tetap memacu motor ke atas. Hingga tiba di Denge, kampung terakhir sebelum Wae Rebo.

Setelah sampai di Denge, kami memutuskan memacu motor terus. Menuju ujung aspalnya yang terakhir. Tak ada pemukiman yang dilewati lagi. Hutan semua. Jalan menanjak berkelok-kelok.


Ujung Jalan Aspal Kampung Denge Berupa Jembatan, yang Susah Dilalui Kendaraan Bermotor [Foto: IK Gde Subagia]

Kabut makin tebal. Mendung membuat hari makin gelap dan muram. Untuk ke Wae Rebo, kami harus mendaki. Berjalan kaki. Menyusuri hutan. Di jalan setapak berupa tanah dan bebatuan. Selama dua sampai tiga jam ke depan.

Melihat alam yang menampakan wajah tak bersahabat, Leon terlihat ragu. Saya membebaskannya. Terserah ia saja. Mau ikut mendaki ke Wae Rebo, boleh. Mau kembali ke Labuan Bajo, juga saya persilahkan. Dalam hati, saya berharap ia ikut. Setidaknya ada yang menemani saya dalam perjalanan ke atas.

Sementara itu, gerimis mulai turun. [T]

Manggarai, Juni 2019


BACA SELANJUTNYA:

  • Melawat ke Flores [5] : Singgah ke Wae Rebo
Tags: FloresIndonesia TimurLabuan Bajoperjalanan
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

LPD, Sahabatnya Orang Desa

Next Post

Mari Pelihara Babi Hitam Agar Kembali Jadi Tuan Rumah di Bali

I Komang Gde Subagia

I Komang Gde Subagia

Biasa dipanggil Gejor. Suka menulis. Suka memotret. Suka jalan-jalan. Suka tidur. Tinggal di Denpasar.

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
Mari Pelihara Babi Hitam Agar Kembali Jadi Tuan Rumah di Bali

Mari Pelihara Babi Hitam Agar Kembali Jadi Tuan Rumah di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co