8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan dengan Hati Terbelah

Widya Astuti by Widya Astuti
February 1, 2020
in Cerpen
Perempuan dengan Hati Terbelah

Ilustrasi IB Pandit Parastu

Cerpen: Widya Astuti []

Ni Sulasih mempercepat langkahnya. Sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada orang yang melihat atau mengikutinya. Pekerjaan di sawah sudah diselesaikan. Makanan sapi sudah disediakan. Diapun sudah membuat alasan pada ibunya tidak pulang ke rumah sampai sore. Tidak sulit untuk membuat ibunya percaya.

Agar cepat sampai, dilompatinya beberapa pematang sawah sekaligus. Beberapakali pula dia harus menghindari orang-orang yang sedang mengobrol atau berjalan menuju sawah. Dia tak ingin menjawab pertanyaan yang akan membuatnya terlambat ataupun salah kata.

Matahari berada di atas kepala. Panas membakar ubun-ubun. Untung saja angin bertiup sedikit kencang, setidaknya bisa sedikit menetralisir udara panas siang itu. Hari ini adalah hari Sabtu, saat yang selalu ditunggu Ni Sulasih untuk memadu asmara dengan kekasihnya. Di sebuah pondok tua dekat hutan pinggiran desa, di sanalah surga mereka. Dan Ni Sulasih sudah tidak sabar.

Dari jauh kini terlihat pondok yang akan dituju. Pondok kecil yang ditinggalkan penghuninya beberapa tahun yang lalu untuk transmigrasi. Dulu pondok itu ditinggali oleh sebuah keluarga yang tergolong miskin. Suami istri dan empat anak mereka. Lalu semenjak pemerintah mulai menggalakkan program transmigrasi maka keluarga tersebut ikut transmigrasi ke Lampung.

Semenjak itu pondok tersebut kosong. Kondisinya sudah tidak layak. Atapnya hampir jebol. Dindingnyapun penuh lubang. Tapi itu adalah tempat ternyaman bagi Ni Sulasih. Jauh dari kampung, jauh dari lahan sawah dan kebun penduduk kampung.

Ni Sulasih mendekati pintu pondok. Sejenak itu celingukan melihat ke kiri kanan. Siapa tahu ada yang mengintip atau mengikuti perjalanannya sampai disini. Itu akan sangat berbahaya. Setelah dirasa aman dia membuka pintu pondok lalu segera menutupnya kembali. Sejenak hening. Tak ada suara apapun. Hanya terdengar desir angin dan suara dedaunan yang bergerakan. Lamat-lamat terdengar suara mendesah yang halus dari dalam pondok

***

“Mana fotonya Mang ?” Ni Sulasih sudah tidak sabar ketika bertemu dengan kawannya di pasar malam.

“Sabarlah ..” jawab Mang Yani sambil merogoh tas slempang yang dibawanya

“Aduh kok tidak ada ya,” serunya mengejutkan.

“Jangan main-main kamu, Mang. Kamu kan sudah janji. Lagipula kamu sudah menerima upahnya,” kata Ni Sulasih

Mang Yani tertawa cekikikan. Ternyata dia hanya menggoda.

“Nih…”  Diserahkannya sebuah kertas dengan foto seorang lelaki ke tangan Ni Sulasih.

Ni Sulasih menerima dengan senang. Segera foto itu diletakkan di dadanya.

“Gila kamu Asih,“ kata Mang Yani.

Ni Sulasih menatap sahabatnya.

“Aku mencintainya Mang. Sangat mencintainya!”

“Tapi..”

“Diamlah.. jangan berisik!” Ni Sulasih memotong kalimat sahabatnya.

Sejak itu kemanapun Ni Sulasih pergi, foto itu ada bersamanya. Mungkin dia memang tergila gila dengan lelaki itu. Lelaki yang sejak masa remajanya begitu mencuri hatinya. Membiarkan memenuhi hatinya, mengisi harapan harapannya sebagai gadis remaja.

Dia bukan gadis yang cantik, bukan juga anak orang kaya atau berkasta. Dia hanya seorang gadis biasa. Kedua orang tuanya bertani dari sawah warisan turun temurun yang tidak banyak. Dia hanya bisa bersekolah hingga SMA, itupun susah sangat bersyukur.

Tapi gadis remaja tetaplah gadia remaja. Hatinya mulai dipenuhi bunga cinta kepada lelaki tetangganya. Tapi dia perempuan. Tak mungkin mengutarakan perasaan terlebih dahulu. Itu memalukan dan tabu bagi seorang gadis jika mengutarakan cinta lebih dulu. Lagipula lelaki itu belum tentu menerima. Harga dirinya akan porak poranda.

Tapi menunggu pujaan hatinya agar mengerti sama sulitnya dengan mengharap hujan di musim kemarau. Made Suarta tidak kunjung mengerti isi hatinya. Pun tak mengerti isyarat halus yang dia lakukan. Tidakkah lelaki itu memiliki rasa terhadapnya ? Begitu tanya hatinya putus asa. Mengapa lelaki itu tak juga kunjung mengerti.

Telah dilemparkannya isyarat dengan segala perhatian. Dengan basa basi dan senyum manis saat kebetulan bertemu di depan rumah atau di jalan. Diberanikan juga dirinya bertanya . Tapi Made Suarta menanggapi datar saja, biasa saja, seperti kebanyakan orang lain. Seperti waktu itu saat Ni Sulasih keluar halaman rumah untuk pergi ke warung membelikan kopi buat ayahnya.

“Eh.. Luh mau ke mana?“ tanya Made Suarta yang kebetulan ada di depan rumahnya.

Hati Ni Sulasih berdebar debar 
“Mau ke warung sebentar, Bli. Bapa minta dibelikan kopi,” jawab Ni Sulasih.

Lalu diberanikan dirinya bertanya, “Mungkin Bli mau nitip membeli sesuatu, biar tyang belikan sekalian!”

“Oh.. tidak, Luh. Bli hanya ingin tanya apakah Bapa ada di rumah. Soalnya ada yang ingin Bli bicarakan. Bli mau minta tolong.”

“O. Ada, Bli. Kebetulan Bapa hari ini kerja setengah hari. Silakan! “

Setelah berterimakasih, Made Suarta masuk ke halaman dan Ni Sulasih melanjutkan perjalanan ke warung. Dibelinya pesanan ayahnya. Tak lupa dibelikannya juga beberapa kue kering untuk sangu Made Suarta yang ada di rumahnya. Hatinya bertanya tanya gerangan apa yang hendak dibicarakan Made Suarta dengan ayahnya.

Setelah selesai bergegas dia kembali ke rumah. Ternyata sampai di rumah Made Suarta sudah pulang. Rupanya hanya sebentar. Hatinya sedikit kecewa. Kenapa lelaki itu tidak mau menunggunya sebentar saja sampai ia kembali dari warung. Apa yang harus dilakukannya agar lelaki itu mengerti. Ah entahlah, dia merasa putus asa.

***

Meskipun Ni Sulasih bukan tergolong gadis cantik tapi bukan berarti tidak ada yang menggoda atau menyukainya. Keremajaannya seperti bunga yang sedang mekar mengundang kumbang datang mendekat.  Dalam keputusasaan akan harapan harapan dan cintanya pada Made Suarta dia melabuhkan diri pada janji manis seorang lelaki. Berusaha untuk mencinta meski jauh di lubuk hatinya Ni Sulasih tetap merindukan Made Suarta yang kini kuliah di kota.

Dicobanya untuk menghapus segala perasaannya pada lelaki itu. Dicobanya untuk memberikan cinta sepenuhnya kepada lelaki yang kini menjadi kekasihnya dengan segala upaya. Tapi cinta itu aneh. Hati itu penuh misteri. Tak dapat dimerngerti bahkan oleh pemiliknya sendiri.

Cinta akan berlabuh pada hati yang mana atau kepada siapa tak ada yang mampu mengendalikannya. Begitu juga hati Ni Sulasih. Masih tidak bergeser dari Made Suarta. Lelaki itulah yang dirindukannya siang malam. Itu mungkin sebab kekasihnya tak tahan lalu kisahnya pun berakhir hanya beberapa bulan.

Lalu pada waktu sesudahnya seringkali Ni Sulasih mencoba melabuhkan hatinya lagi dan lagi pada lelaki yang satu ke lelaki yang lain . Tak ada yang mampu bertahan lama. Paling lama setahun, setelah itu selesai. Ibunya mulai tak suka dengan tingkah lakunya.

Suatu hari ketika malam tiba dan ayahnya tidak di rumah ibunya mulai berbicara. Mereka berdua sedang membuat jejahitan dari dari daun lontar sebagai sarana upacara. Daun lontar sebagai pengganti janur yang bisa bertahan lama.

“Nak, kamu sudah dewasa. Sudah pantas untuk menikah. Tidakkah kamu ingin memilih satu di antara lelaki di desa ini untuk menjadi suamimu? Tidakkah kamu ingin menikah?” tanya ibunya sambil memotong dan menggurat daun lontar.

“Ibu..tyang belum terpikir untuk menikah, Bu” jawab Ni Sulasih . Tangannya sibuk menjahit daun lontar yang sudah dipotong ibunya menjadi sampian dan sarana upacara lainnya.

“Tidak baik untuk perempuan menikah terlalu tua, Nak. Nanti susah melahirkan dan kelihatan tua saat anak anak masih kecil kecil,” sambung ibunya

“Nanti, Bu. Nanti tyang pikirkan lagi. Lagipula siapa yang tyang ajak menikah?” sahut Ni Sulasih sambil tersenyum.

“Pilihlah satu dari lelaki teman dekatmu itu. Cinta akan datang pada saat kita selalu bersama. Jangan menunggu yang tidak mencintai kita. Bagi perempuan lebih baik dicintai daripada mencintai!”

Ni Sulasih tercekat. Menunggu. Apakah ibunya tahu bahwa hatinya memang menunggu Made Suarta, atau jangan-jangan ibunya pernah melihat foto lelaki itu tersimpan di tasnya seperti kekasih-kekasihnya yang marah dan memutuskan hubungan dengannya. Ni Sulasih diam. Pura-pura tenggelam dalam pekerjaannya.

Kini usia Ni Sulasih sudah menginjak dua puluh enam tahun. Ibunya semakin risau. Ni Sulasih semakin diam. Semakin sibuk dengan segalla urusan di rumah. Mencari makanan babi dan sapi, mengumpulkan daun daun pisang kering untuk di jual, memetik sayur yang akan dibawa ke pasar. Semua pekerjaan itu ia selesaikan dengan baik.

Beberapa pemuda mendekatinya tapi Ni Sulasih seolah mati rasa sejak Made Suarta menikah beberapa bulan lalu. Ibunya cemas. Anaknya mungkin tak bicara apapun tapi seorang ibu sangat tahu bagaimana perasaan anak saat sedih atau bahagia. Meski hanya menduga, ia yakin dugaannya benar. Anaknya, Ni Sulasih, patah hati.

Ni Sulasih menahan kepedihannya seorang diri. Sakit hatinya mendengar pujaan hatinya menikah dengan seorang gadis dari kota teman kuliahnya. Ia masih ingat saat mendengar kabar itu. Dunia seakan runtuh menimpa kepalanya. Tidak tahu harus mengadu pada siapa. Dipeluknya foto Made Suarta sambil berjalan cepat menuju sawah. Dia ingin menangis sepuasnya di sana.

Tapi di tengah perjalanan dia berubah pikiran. Dia berbelok ke arah hutan batas desa. Disana pernah dilihatnya pondok kecil, mungkin di sana akan lebih leluasa untuknya menumpahkan segala tangis yang menyesak di dada. Hari ini seolah menjadi hari kiamat baginya. Dia tumpahkan semua tangisan di pondok kecil itu. Sambil mendekap foto Made Suarta.

Tapi ibunya begitu gigih berusaha. Seorang pemuda dari desa tetangga yang kerap membantu ayahnya bekerja sebagai tukang, rupanya menaruh hati pada Ni Sulasih. Dan ibunya tahu itu. Tanpa setahu Ni Sulasih mereka bertiga, ibu, ayah dan Wayan Punia, pemuda itu membuat kesepakatan. Dan di suatu hari yang muram, semuram wajah Ni Sulasih, ia dinikahkan.

***

Menikah tanpa cinta apalah artinya bahagia? Ni Sulasih tak bahagia, wajahnya selalu muram. Ia seperti tak bernyawa melayani suaminya. Semua yang dilakukan hanya sebuah kewajiban.

“Luh besok tyang akan ikut Bapa ke Desa Ringgit, ada proyek disana. Sebuah villa milik seorang bule Perancis,” ujar Wayan Punia kepada istrinya di suatu malam setelah makan.

“Iya,“ sahut Ni Sulasih pendek.

Suaminya hanya melihatnya saja. Sudah beberapa bulan menikah belum juga perempuan itu bisa menerimanya. Tapi ia akan bersabar. Dia menduga istrinya mencintai lelaki lain. Tapi ia tidak tahu siapa lelaki itu. Sikap istrinya kadang terlihat aneh. Setiap hari Sabtu biasanya dia minta ijin ke rumah ibunya dan tak pernah mengijinkannya untuk mengantar.

Walaupun demikian Ni Sulasih melaksanakan kewajibannya dengan baik, melayani segala kebutuhanya bahkan di tempat tidur meskipun terasa hambar. Dia percaya Ni Sulasih perempuan baik-baik. Tak mungkin dia berselingkuh dengan lelaki lain.

“Tinggallah dengan ibu sementara tyang tidak di rumah!”

“Baiklah!“

Ni Sulasih berbenah, merapikan dapur lalu melanjutkan menjahit lontar. Sementara suaminya sudah pergi tidur. Ni Sulasih mengeluarkan foto Made Suarta dan menciuminya lalu mendekapnya di dada .

“Dua hari lagi kita akan bertemu sayang, kita akan bertemu kekasihku!” bisiknya dengan mata merawang.

***

Sementara suaminya pergi, Ni Sulasih tinggal dengan ibunya. Hari itu hari Sabtu, hari yang selalu dinantikan Ni Sulasih. Pagi-pagi dia sudah ke sawah. Disuruhnya ibunya untuk istirahat si rumah. Dia berjanji membereskan semua pekerjaan yang biasa dilakukan ibunya. Memetik sayur, mengumpulkan daun kering, mencari makanan babi dan mencari rumput untuk makanan sapi. Semua diselesaikannya dengan cepat.

Segera setelah semua siap, dan matahari hampir berada dia atas ubun ubun, Ni Sulasih berjalan menuju pondok kecil dekat hutan. Ni Sulasih berjalan cepat . Dilompatinya beberapa pematang sawah dan menghintar dari orang orang yang lewat. Dia tak ingin terlambat . Sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan tak ada orang yang mengikuti langkahnya. Tak berapa lama dia sampai di pondok dekat hutan.

Sebelum membuka tak lupa dia menoleh kiri kanan. Setelah dirasa aman. Ni Sulasih segera masuk dan menutup pintu. Dalam pondok terdapat sebuah balai-balai bambu dengan sebuah tikar yang cukup bersih. Juga terdapat sebuah bantal. Ni Sulasih duduk di pinggir balai bambu

“Bli Made …, Bli Made …, peluk tyang, Bli!”

Suaranya terdengar oleh sepasang telinga lelaki di luar pondok. Sesekali terdengar rintihan. Lalu terdengar desahan Ni Sulasih dari dalam pondok.

Betapa geram lelaki itu, yang tak lain dari suami Ni Sulasih. Rupanya dia salah menduga. Ni Sulasih mengkianatinya. Menghianati pernikahan sakral mereka. Menghianati janji yang diucapkan di hadapan Tuhan, di hadapan orang tua dan adat. Semuanya sudah hancur. Yang ada di benaknya saat ini adalah membunuh lelaki yang bersama istrinya di dalam pondok. Siapapun dia, dia harus mati di tangannya. Ni Sulasih akan diurusnya kemudian.

“Bli tyang sayang sama Bli…, tyang cinta!“ desah Ni Sulasih dari dalam pondok disertai rintihan pelan.

Semakin bertambah-tambahlah kemarahan di dada Wayan Punia.

Disiapkannya pisau yang dibawanya dari rumah. Dengan penuh amarah Wayan Punia mendobrak pintu pondok. Dilihatnya Ni Sulasih sendirian setengah telanjang memeluk sebuah foto. Foto seorang lelaki, foto Made Suarta. [T]


Tags: Cerpen
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Novel “Tresna Tuara Teked” Ida Bagus Pawanasuta Raih Hadiah Rancage 2020

Next Post

Zumba dan Gaya

Widya Astuti

Widya Astuti

Tinggal di Peguyangan, Denpasar Utara

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Zumba dan Gaya

Zumba dan Gaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co