7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan dengan Hati Terbelah

Widya Astuti by Widya Astuti
February 1, 2020
in Cerpen
Perempuan dengan Hati Terbelah

Ilustrasi IB Pandit Parastu

Cerpen: Widya Astuti []

Ni Sulasih mempercepat langkahnya. Sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada orang yang melihat atau mengikutinya. Pekerjaan di sawah sudah diselesaikan. Makanan sapi sudah disediakan. Diapun sudah membuat alasan pada ibunya tidak pulang ke rumah sampai sore. Tidak sulit untuk membuat ibunya percaya.

Agar cepat sampai, dilompatinya beberapa pematang sawah sekaligus. Beberapakali pula dia harus menghindari orang-orang yang sedang mengobrol atau berjalan menuju sawah. Dia tak ingin menjawab pertanyaan yang akan membuatnya terlambat ataupun salah kata.

Matahari berada di atas kepala. Panas membakar ubun-ubun. Untung saja angin bertiup sedikit kencang, setidaknya bisa sedikit menetralisir udara panas siang itu. Hari ini adalah hari Sabtu, saat yang selalu ditunggu Ni Sulasih untuk memadu asmara dengan kekasihnya. Di sebuah pondok tua dekat hutan pinggiran desa, di sanalah surga mereka. Dan Ni Sulasih sudah tidak sabar.

Dari jauh kini terlihat pondok yang akan dituju. Pondok kecil yang ditinggalkan penghuninya beberapa tahun yang lalu untuk transmigrasi. Dulu pondok itu ditinggali oleh sebuah keluarga yang tergolong miskin. Suami istri dan empat anak mereka. Lalu semenjak pemerintah mulai menggalakkan program transmigrasi maka keluarga tersebut ikut transmigrasi ke Lampung.

Semenjak itu pondok tersebut kosong. Kondisinya sudah tidak layak. Atapnya hampir jebol. Dindingnyapun penuh lubang. Tapi itu adalah tempat ternyaman bagi Ni Sulasih. Jauh dari kampung, jauh dari lahan sawah dan kebun penduduk kampung.

Ni Sulasih mendekati pintu pondok. Sejenak itu celingukan melihat ke kiri kanan. Siapa tahu ada yang mengintip atau mengikuti perjalanannya sampai disini. Itu akan sangat berbahaya. Setelah dirasa aman dia membuka pintu pondok lalu segera menutupnya kembali. Sejenak hening. Tak ada suara apapun. Hanya terdengar desir angin dan suara dedaunan yang bergerakan. Lamat-lamat terdengar suara mendesah yang halus dari dalam pondok

***

“Mana fotonya Mang ?” Ni Sulasih sudah tidak sabar ketika bertemu dengan kawannya di pasar malam.

“Sabarlah ..” jawab Mang Yani sambil merogoh tas slempang yang dibawanya

“Aduh kok tidak ada ya,” serunya mengejutkan.

“Jangan main-main kamu, Mang. Kamu kan sudah janji. Lagipula kamu sudah menerima upahnya,” kata Ni Sulasih

Mang Yani tertawa cekikikan. Ternyata dia hanya menggoda.

“Nih…”  Diserahkannya sebuah kertas dengan foto seorang lelaki ke tangan Ni Sulasih.

Ni Sulasih menerima dengan senang. Segera foto itu diletakkan di dadanya.

“Gila kamu Asih,“ kata Mang Yani.

Ni Sulasih menatap sahabatnya.

“Aku mencintainya Mang. Sangat mencintainya!”

“Tapi..”

“Diamlah.. jangan berisik!” Ni Sulasih memotong kalimat sahabatnya.

Sejak itu kemanapun Ni Sulasih pergi, foto itu ada bersamanya. Mungkin dia memang tergila gila dengan lelaki itu. Lelaki yang sejak masa remajanya begitu mencuri hatinya. Membiarkan memenuhi hatinya, mengisi harapan harapannya sebagai gadis remaja.

Dia bukan gadis yang cantik, bukan juga anak orang kaya atau berkasta. Dia hanya seorang gadis biasa. Kedua orang tuanya bertani dari sawah warisan turun temurun yang tidak banyak. Dia hanya bisa bersekolah hingga SMA, itupun susah sangat bersyukur.

Tapi gadis remaja tetaplah gadia remaja. Hatinya mulai dipenuhi bunga cinta kepada lelaki tetangganya. Tapi dia perempuan. Tak mungkin mengutarakan perasaan terlebih dahulu. Itu memalukan dan tabu bagi seorang gadis jika mengutarakan cinta lebih dulu. Lagipula lelaki itu belum tentu menerima. Harga dirinya akan porak poranda.

Tapi menunggu pujaan hatinya agar mengerti sama sulitnya dengan mengharap hujan di musim kemarau. Made Suarta tidak kunjung mengerti isi hatinya. Pun tak mengerti isyarat halus yang dia lakukan. Tidakkah lelaki itu memiliki rasa terhadapnya ? Begitu tanya hatinya putus asa. Mengapa lelaki itu tak juga kunjung mengerti.

Telah dilemparkannya isyarat dengan segala perhatian. Dengan basa basi dan senyum manis saat kebetulan bertemu di depan rumah atau di jalan. Diberanikan juga dirinya bertanya . Tapi Made Suarta menanggapi datar saja, biasa saja, seperti kebanyakan orang lain. Seperti waktu itu saat Ni Sulasih keluar halaman rumah untuk pergi ke warung membelikan kopi buat ayahnya.

“Eh.. Luh mau ke mana?“ tanya Made Suarta yang kebetulan ada di depan rumahnya.

Hati Ni Sulasih berdebar debar 
“Mau ke warung sebentar, Bli. Bapa minta dibelikan kopi,” jawab Ni Sulasih.

Lalu diberanikan dirinya bertanya, “Mungkin Bli mau nitip membeli sesuatu, biar tyang belikan sekalian!”

“Oh.. tidak, Luh. Bli hanya ingin tanya apakah Bapa ada di rumah. Soalnya ada yang ingin Bli bicarakan. Bli mau minta tolong.”

“O. Ada, Bli. Kebetulan Bapa hari ini kerja setengah hari. Silakan! “

Setelah berterimakasih, Made Suarta masuk ke halaman dan Ni Sulasih melanjutkan perjalanan ke warung. Dibelinya pesanan ayahnya. Tak lupa dibelikannya juga beberapa kue kering untuk sangu Made Suarta yang ada di rumahnya. Hatinya bertanya tanya gerangan apa yang hendak dibicarakan Made Suarta dengan ayahnya.

Setelah selesai bergegas dia kembali ke rumah. Ternyata sampai di rumah Made Suarta sudah pulang. Rupanya hanya sebentar. Hatinya sedikit kecewa. Kenapa lelaki itu tidak mau menunggunya sebentar saja sampai ia kembali dari warung. Apa yang harus dilakukannya agar lelaki itu mengerti. Ah entahlah, dia merasa putus asa.

***

Meskipun Ni Sulasih bukan tergolong gadis cantik tapi bukan berarti tidak ada yang menggoda atau menyukainya. Keremajaannya seperti bunga yang sedang mekar mengundang kumbang datang mendekat.  Dalam keputusasaan akan harapan harapan dan cintanya pada Made Suarta dia melabuhkan diri pada janji manis seorang lelaki. Berusaha untuk mencinta meski jauh di lubuk hatinya Ni Sulasih tetap merindukan Made Suarta yang kini kuliah di kota.

Dicobanya untuk menghapus segala perasaannya pada lelaki itu. Dicobanya untuk memberikan cinta sepenuhnya kepada lelaki yang kini menjadi kekasihnya dengan segala upaya. Tapi cinta itu aneh. Hati itu penuh misteri. Tak dapat dimerngerti bahkan oleh pemiliknya sendiri.

Cinta akan berlabuh pada hati yang mana atau kepada siapa tak ada yang mampu mengendalikannya. Begitu juga hati Ni Sulasih. Masih tidak bergeser dari Made Suarta. Lelaki itulah yang dirindukannya siang malam. Itu mungkin sebab kekasihnya tak tahan lalu kisahnya pun berakhir hanya beberapa bulan.

Lalu pada waktu sesudahnya seringkali Ni Sulasih mencoba melabuhkan hatinya lagi dan lagi pada lelaki yang satu ke lelaki yang lain . Tak ada yang mampu bertahan lama. Paling lama setahun, setelah itu selesai. Ibunya mulai tak suka dengan tingkah lakunya.

Suatu hari ketika malam tiba dan ayahnya tidak di rumah ibunya mulai berbicara. Mereka berdua sedang membuat jejahitan dari dari daun lontar sebagai sarana upacara. Daun lontar sebagai pengganti janur yang bisa bertahan lama.

“Nak, kamu sudah dewasa. Sudah pantas untuk menikah. Tidakkah kamu ingin memilih satu di antara lelaki di desa ini untuk menjadi suamimu? Tidakkah kamu ingin menikah?” tanya ibunya sambil memotong dan menggurat daun lontar.

“Ibu..tyang belum terpikir untuk menikah, Bu” jawab Ni Sulasih . Tangannya sibuk menjahit daun lontar yang sudah dipotong ibunya menjadi sampian dan sarana upacara lainnya.

“Tidak baik untuk perempuan menikah terlalu tua, Nak. Nanti susah melahirkan dan kelihatan tua saat anak anak masih kecil kecil,” sambung ibunya

“Nanti, Bu. Nanti tyang pikirkan lagi. Lagipula siapa yang tyang ajak menikah?” sahut Ni Sulasih sambil tersenyum.

“Pilihlah satu dari lelaki teman dekatmu itu. Cinta akan datang pada saat kita selalu bersama. Jangan menunggu yang tidak mencintai kita. Bagi perempuan lebih baik dicintai daripada mencintai!”

Ni Sulasih tercekat. Menunggu. Apakah ibunya tahu bahwa hatinya memang menunggu Made Suarta, atau jangan-jangan ibunya pernah melihat foto lelaki itu tersimpan di tasnya seperti kekasih-kekasihnya yang marah dan memutuskan hubungan dengannya. Ni Sulasih diam. Pura-pura tenggelam dalam pekerjaannya.

Kini usia Ni Sulasih sudah menginjak dua puluh enam tahun. Ibunya semakin risau. Ni Sulasih semakin diam. Semakin sibuk dengan segalla urusan di rumah. Mencari makanan babi dan sapi, mengumpulkan daun daun pisang kering untuk di jual, memetik sayur yang akan dibawa ke pasar. Semua pekerjaan itu ia selesaikan dengan baik.

Beberapa pemuda mendekatinya tapi Ni Sulasih seolah mati rasa sejak Made Suarta menikah beberapa bulan lalu. Ibunya cemas. Anaknya mungkin tak bicara apapun tapi seorang ibu sangat tahu bagaimana perasaan anak saat sedih atau bahagia. Meski hanya menduga, ia yakin dugaannya benar. Anaknya, Ni Sulasih, patah hati.

Ni Sulasih menahan kepedihannya seorang diri. Sakit hatinya mendengar pujaan hatinya menikah dengan seorang gadis dari kota teman kuliahnya. Ia masih ingat saat mendengar kabar itu. Dunia seakan runtuh menimpa kepalanya. Tidak tahu harus mengadu pada siapa. Dipeluknya foto Made Suarta sambil berjalan cepat menuju sawah. Dia ingin menangis sepuasnya di sana.

Tapi di tengah perjalanan dia berubah pikiran. Dia berbelok ke arah hutan batas desa. Disana pernah dilihatnya pondok kecil, mungkin di sana akan lebih leluasa untuknya menumpahkan segala tangis yang menyesak di dada. Hari ini seolah menjadi hari kiamat baginya. Dia tumpahkan semua tangisan di pondok kecil itu. Sambil mendekap foto Made Suarta.

Tapi ibunya begitu gigih berusaha. Seorang pemuda dari desa tetangga yang kerap membantu ayahnya bekerja sebagai tukang, rupanya menaruh hati pada Ni Sulasih. Dan ibunya tahu itu. Tanpa setahu Ni Sulasih mereka bertiga, ibu, ayah dan Wayan Punia, pemuda itu membuat kesepakatan. Dan di suatu hari yang muram, semuram wajah Ni Sulasih, ia dinikahkan.

***

Menikah tanpa cinta apalah artinya bahagia? Ni Sulasih tak bahagia, wajahnya selalu muram. Ia seperti tak bernyawa melayani suaminya. Semua yang dilakukan hanya sebuah kewajiban.

“Luh besok tyang akan ikut Bapa ke Desa Ringgit, ada proyek disana. Sebuah villa milik seorang bule Perancis,” ujar Wayan Punia kepada istrinya di suatu malam setelah makan.

“Iya,“ sahut Ni Sulasih pendek.

Suaminya hanya melihatnya saja. Sudah beberapa bulan menikah belum juga perempuan itu bisa menerimanya. Tapi ia akan bersabar. Dia menduga istrinya mencintai lelaki lain. Tapi ia tidak tahu siapa lelaki itu. Sikap istrinya kadang terlihat aneh. Setiap hari Sabtu biasanya dia minta ijin ke rumah ibunya dan tak pernah mengijinkannya untuk mengantar.

Walaupun demikian Ni Sulasih melaksanakan kewajibannya dengan baik, melayani segala kebutuhanya bahkan di tempat tidur meskipun terasa hambar. Dia percaya Ni Sulasih perempuan baik-baik. Tak mungkin dia berselingkuh dengan lelaki lain.

“Tinggallah dengan ibu sementara tyang tidak di rumah!”

“Baiklah!“

Ni Sulasih berbenah, merapikan dapur lalu melanjutkan menjahit lontar. Sementara suaminya sudah pergi tidur. Ni Sulasih mengeluarkan foto Made Suarta dan menciuminya lalu mendekapnya di dada .

“Dua hari lagi kita akan bertemu sayang, kita akan bertemu kekasihku!” bisiknya dengan mata merawang.

***

Sementara suaminya pergi, Ni Sulasih tinggal dengan ibunya. Hari itu hari Sabtu, hari yang selalu dinantikan Ni Sulasih. Pagi-pagi dia sudah ke sawah. Disuruhnya ibunya untuk istirahat si rumah. Dia berjanji membereskan semua pekerjaan yang biasa dilakukan ibunya. Memetik sayur, mengumpulkan daun kering, mencari makanan babi dan mencari rumput untuk makanan sapi. Semua diselesaikannya dengan cepat.

Segera setelah semua siap, dan matahari hampir berada dia atas ubun ubun, Ni Sulasih berjalan menuju pondok kecil dekat hutan. Ni Sulasih berjalan cepat . Dilompatinya beberapa pematang sawah dan menghintar dari orang orang yang lewat. Dia tak ingin terlambat . Sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan tak ada orang yang mengikuti langkahnya. Tak berapa lama dia sampai di pondok dekat hutan.

Sebelum membuka tak lupa dia menoleh kiri kanan. Setelah dirasa aman. Ni Sulasih segera masuk dan menutup pintu. Dalam pondok terdapat sebuah balai-balai bambu dengan sebuah tikar yang cukup bersih. Juga terdapat sebuah bantal. Ni Sulasih duduk di pinggir balai bambu

“Bli Made …, Bli Made …, peluk tyang, Bli!”

Suaranya terdengar oleh sepasang telinga lelaki di luar pondok. Sesekali terdengar rintihan. Lalu terdengar desahan Ni Sulasih dari dalam pondok.

Betapa geram lelaki itu, yang tak lain dari suami Ni Sulasih. Rupanya dia salah menduga. Ni Sulasih mengkianatinya. Menghianati pernikahan sakral mereka. Menghianati janji yang diucapkan di hadapan Tuhan, di hadapan orang tua dan adat. Semuanya sudah hancur. Yang ada di benaknya saat ini adalah membunuh lelaki yang bersama istrinya di dalam pondok. Siapapun dia, dia harus mati di tangannya. Ni Sulasih akan diurusnya kemudian.

“Bli tyang sayang sama Bli…, tyang cinta!“ desah Ni Sulasih dari dalam pondok disertai rintihan pelan.

Semakin bertambah-tambahlah kemarahan di dada Wayan Punia.

Disiapkannya pisau yang dibawanya dari rumah. Dengan penuh amarah Wayan Punia mendobrak pintu pondok. Dilihatnya Ni Sulasih sendirian setengah telanjang memeluk sebuah foto. Foto seorang lelaki, foto Made Suarta. [T]


Tags: Cerpen
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Novel “Tresna Tuara Teked” Ida Bagus Pawanasuta Raih Hadiah Rancage 2020

Next Post

Zumba dan Gaya

Widya Astuti

Widya Astuti

Tinggal di Peguyangan, Denpasar Utara

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Zumba dan Gaya

Zumba dan Gaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co