2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jiwa-Jiwa Laut

Livia Hilda by Livia Hilda
January 17, 2020
in Cerpen
Jiwa-Jiwa Laut

Jiwa-jiwa Laut/ Ilustrasi karya Made Dwita Kartini

Cerpen: Livia Hilda / Ilustrasi: Made Dwita Kartini


Ibu duduk menghadap laut di depan rumah seperti biasa. Di dekat kakinya terdapat canang berisi bunga warna-warni dan dua batang dupa tertancap di pasir. Senja sore itu terlihat berbeda. Tak ada langit kemerahan, tak ada burung camar yang terbang di atas permukaan laut, bahkan matahari juga tak terlihat di langit. Gumpalan awan gelap menghiasi langit sore itu. Ombak liar dan besar mendekat, lalu dengan cepat menggulung canang dan dupa di dekat kaki ibu. Kaki ibu basah. Pasir hitam yang terbawa ombak menempel di kakinya. Namun ibu tetap duduk dengan tenang sambil memejamkan mata, seolah ia menikmati senja yang tak ramah sore itu.

“Ibu kok masih di sini? Anginnya kencang, Bu. Nanti masuk angin lho!” kataku dari balik punggung ibu. Matanya masih terpejam. Roknya basah. Ibu gemetar kedinginan. Kudekati ibu, lalu kutarik tangannya. Kuajak Ibu masuk ke rumah. Ibu malah menatapku tajam dan menarik kembali tangannya.

“Masuk yuk, Bu? Tuh lihat, rok ibu sudah basah!” kataku lagi.

“Ibu masih menunggu seseorang,” kata ibu akhirnya.

“Kakek, ya? Kan nenek bilang kakek sudah diambil laut, Bu?”

Dulu setiap malam kakek selalu pergi ke tengah laut. Saat senja, kakek mendorong sampannya ke lautan, menaiki sampan itu, dan kembali di tengah malam dengan sampan penuh ikan berbagai ukuran, udang, cumi, kepiting, sampai gurita. Namun pada suatu malam laut di depan rumahku menjadi liar. Ombak hampir masuk ke rumah. Angin keras merubuhkan pepohonan di belakang rumah dan membawa lari atap rumah warga. Pantai di depan rumahku jadi berantakan. Sampah berserakan di bibir pantai. Ranting pohon, dedaunan, atap rumah, dan sampan nelayan yang rusak akibat diterjang ombak juga tergeletak di mana-mana. Tetanggaku menangis karena rumah mereka rusak. Keluargaku juga menangis. Tetapi bukan menangisi rumah yang rusak, melainkan karena kakek tak kembali.

“Ombaknya makin besar! Ayo masuk, Bu!” Aku menarik tangan ibu lagi. Tapi ibu malah balas menarik tanganku sampai aku jatuh terduduk. “Kau tahu apa yang membuat ibu betah duduk di sini walau ombaknya besar?” tanya ibu. Aku diam. Aku tak tahu.

“Ombak ini adalah jiwa-jiwa manusia yang sudah meninggal, Jet,” kata ibu seraya menyentuh ombak yang berdatangan ke kakinya.

“Tubuh orang yang sudah meninggal akan dikubur atau dikremasi, lalu jiwanya akan dibawa malaikat ke laut dan menjadi bagian laut. Kau tahu? Laut sebenarnya bukan berisi air. Setiap tetes air di laut adalah jiwa orang-orang yang sudah meninggal. Kita ditipu laut. Ia menutupi tubuhnya dengan jubah agar terlihat seperti air. Sengaja begitu, agar kita tak sedih ketika melihat jiwa orang yang kita sayang.

“Jiwa yang tinggal di tubuh laut berwarna putih seperti manekin di toko baju. Kulitnya tak berwarna coklat, kuning langsat, atau hitam seperti saat jiwa itu masih hidup di bumi. Malaikat kematian mengecat mereka menjadi putih bersih agar mereka lupa dari ras, etnis, atau golongan mana mereka berasal. Mereka menjadi seragam di sana.” Aku terperangah. Ombak datang silih berganti membasahi kakiku. Aku jadi membayangkan jiwa-jiwa laut itu membelai kakiku.

 “Ombak besar itu adalah bentuk dari mereka yang berlomba mencapai pesisir, Jet. Mereka semua merindukan pasir karena pasir adalah batas antara laut, tempat mereka hidup, dan daratan, tempat manusia tinggal. Mereka berharap bisa bertemu dengan manusia yang mereka sayang di pasir itu. Jiwa-jiwa itu bergerak seperti perenang. Tangan kanannya dinaikkan ke atas, diturunkan, lalu ia memegang kepala jiwa yang ada di depannya dan mendorong badannya ke depan dengan kepala itu sebagai tumpuan. Begitu juga dengan tangan kirinya. Kedua tangan itu bergerak bergantian sampai ia berhasil mencapai pasir. Tetapi ketika jiwa itu sudah mencapai pasir, ia hanya bisa mengelus kaki orang yang ia rindukan untuk beberapa detik. Lalu ia akan kembali ke tengah laut dengan cepat karena kakinya ditarik jiwa-jiwa lain.

 “Ibu mempersembahkan canang berisi bunga warna-warni untuk jiwa-jiwa itu, Jet. Bunga ini akan menjadi santapan mereka. Sedangkan dua batang dupa yang menyala ini sebagai petunjuk keberadaan ibu. Ibu akan menyebutkan nama jiwa yang ingin ibu panggil sebelum dupanya ibu tancapkan ke pasir. Dari tengah laut itu, jiwa yang  ibu panggil akan melihat asap dupa dan mereka akan mengikuti asap itu untuk menuju ibu.”

“Trus kenapa dupanya ada dua batang, Bu? Bukannya satu saja cukup? Nenek biasanya ngajarin Ajet pakai satu dupa saja tiap sembahyang, Bu”

“Ibu mengirim sinyal untuk dua jiwa, Jet.”

Aku tercengang. Ternyata tak hanya kakek yang ibu tunggu kehadirannya tiap senja. Siapa lagi yang ibu tunggu? Tiba-tiba ingatanku melompat pada sebuah peristiwa yang aku simpan sendiri dalam kepala.

Malam setelah kakek menghilang, kulihat ibu sendirian di teras rumah dengan sekantong kresek hitam. Di bawah pohon kelapa, diam-diam ibu mengeluarkan isi dari kantong itu. Betapa terkejutnya aku karena yang ibu keluarkan adalah tulang belulang dan tengkorak manusia. Entah tulang siapa itu aku tak tahu. Ibu menggali tanah dan menguburkan tulang-tulang itu di sana. Ibu lalu melihat keadaan sekitar dan berjingkat memasuki rumah. Mungkinkah jiwa orang itu yang ibu tunggu?

“Yang pertama pasti kakek. Yang kedua siapa, Bu?”

“Pembuat cerita ini.”

Bulan menggantung di langit. Di luar ombak mengganas. Deburan ombak terdengar sangat dekat. Suara angin berlarian di atap rumah seperti kucing berkejaran, suara gesekan dedaunan dari pepohonan di belakang rumah, suara dahan patah dan terbanting ke tanah, suara sampan menabrak tiang rumah, dan suara deburan ombak bercampur dalam telingaku. Ingatanku jadi terseret ke malam kakek menghilang. Aku tak bisa tidur. Aku takut keadaan laut akan lebih ganas dari malam itu. Pikiranku juga masih melayang pada cerita ibu tentang jiwa-jiwa laut, orang yang membuat cerita itu, juga kuburan tulang belulang di teras rumahku. Aku sangat penasaran. Kupaksa ibu bercerita lebih banyak, tapi ibu lebih memilih merahasiakannya.

Tengah malam kubangunkan nenek untuk menanyakan rahasia itu. Nenek pasti tahu. Nenek menggeliat, ia tak mau bangun. Ia malah memunggungiku.

“Nek, nenek tau cerita jiwa-jiwa laut?” tanyaku langsung. Kulihat mata nenek terbuka. Namun mata itu terpejam lagi. Nenek merapatkan selimutnya.

“Nek, ini penting! Dulu aku lihat ibu mengubur tulang dan tengkorak di teras rumah. Tadi sore ibu juga cerita tentang jiwa-jiwa laut. Ibu juga bilang kalau ibu menunggu seseorang selain kakek.” Mata nenek terbuka lagi. Ia langsung bangun dan duduk menghadapku.

“Tolong kau rahasiakan ini dari ayahmu. Kalau ayah tahu, ayah bisa marah.” Aku bingung. Kenapa harus dirahasiakan dari ayah? Tapi akhirnya aku mengangguk, menurut.

“Tulang yang dikubur di teras rumah dan orang yang ditunggu ibu tiap senja itu Teja,” ucap nenek. “Teja itu pacar ibumu saat SMA. Dia juga yang membuat cerita jiwa-jiwa laut. Tepat sebelum ia mati, ia berjanji pada ibumu, kalau ia akan datang sebagai jiwa laut saat senja. Itulah kenapa ibumu suka duduk sendiri di tepi pantai tiap senja. Lalu saat kakek menghilang, Ibumu sangat sedih. Ia sudah kehilangan dua lelaki yang ia sayang, Teja dan ayahnya. Ia jadi tak bisa berpikir waras. Ia pun memindahkan kubur Teja ke teras rumah agar ia bisa selalu merasa dekat dengannya. Oh ya, asal kau tahu, ibumu ngotot memberimu nama Ajet karena itu kebalikan dari nama Teja. Ayahmu tidak tahu ini. Kau juga sangat mirip dengan Teja. Caramu berjalan, tertawa, sampai makanan kesukaanmu betul-betul seperti Teja! Tak heran banyak yang berpikir kalau kau ini reinkarnasi dari Teja. Sekarang ayo tidur! Sudah malam!”

Teriakan ibu memenuhi rumah. Aku terbangun dari tidurku. Ibu berteriak lagi. Ia meraung, menangis. Lekas aku keluar untuk melihat apa yang terjadi. Kudapati ibu tersungkur di samping meja makan dan ayah berdiri di depannya dengan wajah geram.

“Dasar kau perempuan tak tahu diri! Rupanya kau mengubur tulang Teja di teras rumah kita, ya? Pantas saja dulu kubur Teja tiba-tiba kosong! Ternyata kau malingnya! Kalau tadi malam tak ada badai yang merusak kubur itu, mungkin sampai tua aku tak akan tahu kau menyimpan mayat Teja!” kata ayah geram. “Kau masih mencintai Teja kan? Pantas saja tiap senja kau selalu duduk di pinggir pantai. Pasti kau menunggu orang itu kan?”

“Tidak, Mas! Sungguh!”

“Aku tak percaya omonganmu, Nari! Kalau kau masih mencintai Teja, biar kubantu kau menyusul Teja!” Ayah mengayunkan tangannya hendak memukul ibu dengan tongkat yang ia genggam. Sontak aku berlari ke arah ibu dan menjadikan badanku sebagai tamengnya.

Aku melihat diriku terkapar di pelukan ibu. Kepalaku berdarah. Ibu menangis. Tongkat di tangan ayah terjatuh.

Di sampingku muncul seorang berjubah hitam. Ia menggandeng tanganku dan mengajakku menyelami lautan seperti ikan duyung. Aku dibawa masuk ke sebuah kerang raksasa. Ia mengambil kuas dan sekaleng cat putih, lalu mengoleskan cat itu ke seluruh tubuh dan setiap helai rambutku. Aku terlihat seperti manekin. Aku menjadi putih seluruhnya.

Kerang raksasa terbuka. Tiba-tiba saja penglihatanku terhadap laut berubah total. Laut bukan lagi air yang berisi ikan dan kawanannya. Laut berubah menjadi miliaran jiwa putih sepertiku yang berenang tak tentu arah. Saat tangannya diturunkan, mereka memegang kepalaku dan mendorongku ke belakang. Mereka menjadikanku tumpuan. Aku tenggelam di antara jiwa-jiwa itu. Aku berusaha menggerakkan tubuhku di tengah himpitan jiwa-jiwa yang terus bergerak. Aku bergerak seperti penyelam handal yang hendak naik ke permukaan. Tanganku menerobos jiwa-jiwa itu. Kakiku mendorong mereka. Hingga akhirnya kepalaku timbul di permukaan.

Asap dupa berbentuk namaku terlihat di permukaan. Di daratan sana, aku melihat seorang perempuan duduk menangis di sebelah dupa sambil memeluk tubuh bocah lelaki. Aku mengenalinya. Lantas aku bergerak seperti jiwa-jiwa lainnya. Aku menggerakkan tanganku ke atas dan ke bawah. Aku menekan kepala jiwa-jiwa sebagai tumpuan untuk maju. Aku bergerak mengikuti asap dupa untuk menuju perempuan yang sangat kukenali itu. Di laut ini aku tak lagi mengenalnya sebagai ibu. Melainkan sebagai kekasihku. Ternyata akulah Teja yang berjanji menemui Nari saat senja. [T]



Profil ilustrator:
Made Dwita Kartini, kelahiran Singaraja, 17 Januari 1998. Saat ini kuliah di Universitas Pendidikan Ganesha.
Akun sosmed : instagram : rottenringo

Tags: Cerpen
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Mantra Membuka Lontar – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Orang Nusa Penida Sebut “Ke Bali”, Kekeliruan Geografis atau Merasa Tak Bagian dari Bali?

Livia Hilda

Livia Hilda

Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Ganesha. Tinggal di Singaraja, Bali. IG: @liviahilda

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Orang Nusa Penida Sebut “Ke Bali”, Kekeliruan Geografis atau Merasa Tak Bagian dari Bali?

Orang Nusa Penida Sebut “Ke Bali”, Kekeliruan Geografis atau Merasa Tak Bagian dari Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co