24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ulun Danu, Membaca Tubuh Kata-kata Erkaja

I Gede Gita Purnama A.P by I Gede Gita Purnama A.P
January 3, 2020
in Ulasan
Ulun Danu, Membaca Tubuh Kata-kata Erkaja
  • Judul Buku: Ulun Danu – Pupulan Puisi Bali Anyar
  • Penulis: Érkaja Pamungsu
  • Penerbit: Mahima Institute Indonesia
  • Cetakan pertama: Oktober 2019
  • Tebal: 105 halaman
  • ISBN: 978-623-7220-26-8

Sebuah lagi buku lahir dari seorang pengarang muda Bangli, kali ini adalah buku antologi puisi bahasa Bali karya Erkaja Pamungsu. Buku kumpulan puisi ini berisi 99 puisi yang dikemas dalam satu judul besar Ulun Danu. Hadirnya buku antologi ini membawa angin segar pada dunia sastra Bali modern, khususnya di Bangli. Bangli, kabupaten yang tak terlampau luas ini, belakangan begitu luas menyebarkan semangat kehidupan sastra Bali modern.

Betapa tidak, banyak lahir penulis-penulis muda yang punya daya dorong kuat pada tumbuh dan majunya sastra Bali modern. Bangli, dalam 3 tahun terakhir memberikan bagitu banyak kejutan-kejutan atas karya para penulis mudanya. Bangli, dinginnya ternyata menyimpan bara semangat yang meledak, dan memuntahkan lusinan penulis muda, berbakat dan bernyali. Bakat itu diantaranya ada dalam sekumpulan antologi Ulun Danu. Berikut sekelumit catatan pembacaan saya pada sekumpulan kata dalam bait-bait Ulun Danu.

Sebagai langkah membuka gerbang perjalanan kata-kata, kita mulai masuk dari sampul buku Ulun Danu. Sampul buku ini menggunakan sebuah lukisan dengan panorama gunung batur dengan perspektif tampak atas. Lukisan yang digunakan mampu mewakili judul buku dan sebagian besar isi dalam buku. Lukisan menggunakan perpaduan warna dasar gelap, dan sampul buku seirama dengan warna-warna doniman pada lukisan cover depan.

Meski tidak dirancang khusus untuk cover buku ini, namun tata letak serta desain cover sama sekali tidak mengganggu estetika lukisan. Kita tahu, bahwa desain cover adalah satu bentuk seni tersendiri, tentunya desainer cover punya hak penuh atas segala material yang akan menjadi cover, sekalipun materialnya juga berupa karya seni, lukisan misalnya. Nah, untuk buku ini desainer cover  berhasil memadukan estetika material (lukisan) dengan estetikanya dalam merancang cover.

Sayangnya, identitas lukisan tidak dimunculkan dengan detail dalam halaman perancis buku cetakan pertama ini. Lukisan yang menjadi cover buku dapat diibaratkan sebagai lukisan yang sedang ada dalam ruang display pameran. Sebab ia akan dipajang, misalnya di rak buku toko, rak buku perpustakaan, atau rak buku warung-warung kekinian, atau di sebuah co-working space, ia akan dipajang dan dinikmati setiap mata. Maka idealnya identitas lukisan dengan detail mesti dicantumkan, sehingga ia secara total dapat tampil dalam ruang pamerannya.

Ulun Danu adalah judul yang dipilih pengarang sebagai sebuah representasi kesadaran sosio-ekologi dan sekaligus kesadaran spiritual. Sehingga terdapat judul dan tema puisi berkaitan dengan alam dan spiritualitas yang terjadi di seputaran Ulun Danu khususnya Batur. Nyaris 70% latar dari puisi dalam buku ini adalah Ulun Danu Batur dan tentu saja bentang alam gunung Batur. Bagi pengarang, Batur memiliki tempat tersendiri, selain sebagai tanah kelahiran, Batur juga sebagai pusat pengarang mengalirkan ide dan bermuara pada bait-bait puisi. Dua hal ini disampaikan pengarang dalam bahasa protes, maupun dalam bahasa pengungkapan makna.

Bahasa pengungkapan makna, dalam hal ini pengarang menghadirkan bentuk-bentuk pengungkapan makna filosofis-praktis yang dimiliki oleh unsur-unsur alam khususnya danau (air) dan gunung. Makna filosofis ini dijelaskan dengan bahasa-bahasa yang lebih sederhana dari bahasa yang ditawarkan pada tataran teks-teks tradisional seperti purana, babad, prasasti, maupun tattwa. Bertebaran cukup banyak istilah-istilah atau nama tempat (toponimi) yang akan terdengar asing bagi pembaca awam, apalagi pembaca yang jauh dari tradisi teks kuno. Misalnya kata Bangsul, Mel, Wingkang, Tampurhyang (nama lain Gunung Batur), usaha ini menghadirkan suasana yang sangat arkais pada puisi-puisi tersebut. Atavisme hadir bukan dalam bentuk puisinya, namun dalam pengungkapan terminologi-terminologi atau istilah-istilah tertentu. 

Bahasa protes atau ungkapan kegelisahan hadir pula dalam beberapa puisi. Gambaran ketidakpuasan pengarang atas situasi sosial-ekologi disampaikan pengarang dengan bahasa yang tegas, keras dan penggunaan tanda seru (!). Penggunaan tanda seru pada puisi-puisi protesnya menunjukkan bahwa pengarang sedang dalam luapan emosi, bisa jadi cenderung marah, sedih, atau terlampau kesal. Bahasa protes dan keras yang digunakan pengarang adalah bahasa yang keras dalam pandangan pengarang, rasa bahasa “keras” yang digunakan oleh Erkaja barangkali memiliki rasa bahasa yang tidak sekeras pengungkapan protes pengarang lain, misalnya Putu Supartika. Pengaruh teks-teks tradisional cukup kuat pada Erkaja dalam berlaku, termasuk protes sekalipun, cenderung “makulit” dan simbolik.

Kehadiran bentuk-bentuk kegelisahan adalah sebuah perjumpaan pengarang atas kesenjangan kesadaran manusia pada kondisi alam maupun sosial-politik. Puisi Ulun Danu #2 samapai #4 adalah tiga diantara ungkapan protes pengarang pada relasi manusia-alam yang tak lagi harmonis, pengarang berada pada posisi menyalahkan manusia atas kondisi alam yang tak lagi bersahabat, dan manusia hanya mengeja waktu menimpakan kealpaan mereka pada Hyang Kuasa. Semuanya adalah ujung dari rendahnya kesadaran ekologi manusia hari ini. Pada posisi ini, Erkaja menjadi pembela alam-ekologinya dan melawan kuasa lingkungan sosialnya sendiri.

Puisi Dasamuka, Angkét, Hoaks, Rekonsiliasi adalah bagian dari puisi protes sosial pengarang pada kondisi sosial politik. Keseharian penulis sebagai seorang wartawan, membuat Erkaja sangat fasih membaca situasi sosial-politik yang acapkali ia wartakan. Hal ini membuatnya melampiaskan segala bentuk protes pada situasi sosial-politik dalam bentuk puisi. Tentu saja luapan protes ini tak mampu ia curahkan melalui ranah jurnalistik, maka puisi jadi alternatifnya.

Antologi ini adalah media penyampaian dan penyimpanan memori yang bersifat individu maupun kolektif. Pada puisi-puisi yang berjudul Rarud dan Batur, pengarang menyampaikan memori kolektif masyarakat Batur tentang tragedi letusan besar Gunung Batur. Puisi Rarud, adalah kisah tentang gambaran pengungsian akibat letusan Gunung Agung 2017. Kemudian puisi Batur yang berjumlah 8 buah, juga merupakan penggambaran sejarah letusan Gunung Batur tahun 1917 dan 1926, hingga peristiwa upacara besar 1935 di Ulun Danu Batur pasca kembalinya masyarakat Batur dari pengungsian di Bayung Gede.

Dua letusan besar ini yang kemudian membawa dampak besar pada perubahan lokasi pemukiman dan Pura Ulun Danu Batur. Sepuluh puisi terakhir adalah menyimpan memori personal penulis tentang rasa sedih yang cukup mendalam, beberapa kata yang hadir dalam 10 puisi terakhir dapat dipahami sebagai ekspresi kesedihan tersebut. Ini adalah bahasa yang sangat personal dan berkaitan dengan masalah paling individu yang dialami oleh penulis, barangkali ini adalah titik masalah yang paling membuat pengarang tertegun, berhenti, bernafas, sehingga bagian ini yang dijadikan karya dan didokumentasikan dalam buku ini. Tentu saja memori personal ini adalah peristiwa yang paling ingin disimpan oleh pengarang sepanjang kurun waktu tertentu, hingga ia mewakafkan kata-kata pada peristiwa personal tersebut.

Beberapa puisi dalam buku ini adalah catatan perjalan, diantaranya tampak pada puisi tampak, Iswarnabhumi, Galang, Akah. Empat puisi ini tampaknya dikerjakan di Thailand berdasarkan lokasi yang dicantumkan dalam bagian akhir penulisan puisi. Catatan perjalanan ini menarik, sebab apa yang menjadi catatan penulis adalah apa yang menjadi kecenderungan bidang yang disukai oleh penulis. Karena penulis tertarik pada bidang sejarah, teks dan arkeologis, maka catatan yang lahir adalah catatan seputar tiga hal tersebut atas lokasi yag dikunjunginya. Catatan perjalanan pada lokasi-lokasi yang dikunjungi bukan bentuk catatan perjalan tentang apa yang ditemui hari ini, namun peristiwa-peristiwa masa lalu yang berkaitan dengan lokasi yang dikunjunginya.

Puisi-puisi dalam buku ini tidak memakai huruf kapital di awal kalimat, hal ini mengingatkan kita pada pengarang sastra Bali moderni Made Sanggra. Jika Made Sanggra secara total tidak menggunakan huruf kapital dalam setiap puisinya, Erkaja tetap menggunakan huruf kapital hanya pada nama, lokasi, dan hari. Karena ini adalah karya pertama, jadi belum bisa dipastikan bahwa tiadanya huruf kapital pada awal kalimat seperti syarat PUEBI adalah identitas dari pengarang. Sebab ini adalah sebuah buku awalnya, sehingga identitasnya dalam karya ini tidak lantas menjadi identitas kepengarangannya. Melihat bahwa hanya identitas/ikon-ikon religius saja yang mendapat keistimewaan menggunakan huruf kapital, dapat saja diduga bahwa pengarang hendak menyampaikan pesan bahwa kon-ikon religius tersebut memiliki posisi yang tinggi dan patut mendapat penghormatan secara bathin pun fisik. Ini salah satu jalan pengarang melakukan persembahan, persembahan kata-kata pada ikon-ikon yang berhuruf kapital. Sastra adalah persembahan dalam hal ini.

Barangkali hal yang paling menggelitik adalah kehadiran nama pengarang Erkaja Pamungsu, ini adalah nama pena, nama samaran. Tentu saja ada banyak motif hadirnya nama pengarang dengan bentuk samaran. Tradisi ini adalah hal yang umum pada tradisi sastra tradisional di seluruh dunia. Pada kesadaran paling tinggi seorang sastrawan tradisional, hasil karya yang diciptakan adalah sebuah karya persembahan, baik itu persembahan pada persona tertinggi yang dipuja, atau pada komunitas kolektif mereka. Karena itu persembahan, mereka merasa tak perlu mencantumkan nama terangnya.

Pun demikian pada beberapa pengarang sastra Bali modern, beberapa diantaranya menggunakan nama samaran. Namun yang menarik pada Erkaja Pamungsu adalah pada bagian “indik pangawi” dicantumkan foto dan nama asli dari Erkaja Pamungsu. Kejadian ini sungguh tak lazim dalam sastra Bali modern, seolah ingin menyembunyikan identitas, tapi justru memberi ruang terbuka pada identitas aslinya, ini menggelitik saya. Apa yang dilakukan Erkaja (Eriadi) ini lebih vulgar dari Nirguna, temannya sesama pengarang muda Bangli.

Puisi-puisi dalam buku ini ternyata tidak sesimbolik puisi pertama Purwa [Ha Na Ca Ra Ka]. Puisi pertama ini sangat simbolik, ini adalah salah satu puisi yang paling kuat secara isi dalam buku ini. Sesungguhnya Erkaja punya potensi untuk mencipta puisi-puisi simbolik serupa ini karena memiliki latar dan ketertarikan pada teks-teks kuno. Hanya terdapat sebuah puisi dengan tipologi yaitu Bakti, puisi ini memiliki rima sama, ada pula kesan naratifnya, tapi dengan bantuan tipografi yang ciamik ini, pembaca disuguhkan pada interpretasi bentuk atas susunan kata. Tipografi lebar ke simpit, kemudian dari sempit kembali ke lebar. Ini tentu saja sejalan dengan makna Bhakti yang disampaikan melalui puisi ini. Puisi ini sukses menyatukan antara keterpaduan puisi secara tipografi dan isi.

Pengarang sastra Bali modern yang dekat dengan dunia sastra tradisional semestinya bisa lebih mengeksplorasi simbol baik dalam bentuk kata maupun tipografi. Mereka punya kekuatan atau contoh dari karya-karya tradisi seperti kidung Padma Muter. Tapi konsekuensinya adalah, karya simbolik akan jadi karya yang tidak mudah dipahami, tidak mudah dipahami artinya tak banyak pembaca, tak banyak pembaca artinya bukunya sing “laku”. Sing laku dibaca maupun dianalisis sebagai bahan riset, artikel, skripsi dan sebangsanya di dunia pendidikan formal. Akhihrnya tidak terjual secara ekonomi maupun akademik, ya,,tapi memang sastra akan memilih sendiri pembacanya, ia sejatinya tercipta tidak sepenuhnya untuk dijual.

Puisi-puisi lain masih terlihat seperti narasi yang kemudian dipenggal-penggal menjadi bait-bait puisi. Memang Erkaja berhasil menghindar dari tipikal puisi berima sama sebagai keidentikan penulis puisi pemula. Namun sepertinya ia sulit menghindari pula narasi yang dipenggal-penggal jadi bait, ini salah satu ciri khas penulis pemula juga, contohnya puisi Patitip (Jro Mangku Dalem) hal.2. Apakah puisi yang seperti ini salah? Tidak ada karya sastra yang salah, ini adalah proses seorang yang sedang belajar dan menunjukkan kematangan karyanya kelak.

Melihat keseluruhan garis besar dari antologi karya Erkaja, dapat dipastikan pengarang ini punya masa depan karya yang akan kian baik. Erkaja hanya perlu mengasah kemampuannya untuk peka dalam menyampaikan simbol-simbol pada teks tradisi di tengah puitika modern. Jadi bukan hanya memakai ikon-ikon atau istilah arkais pada teks tradisi saja untuk seolah meninggikan karya atau seolah-olah membuat karya menjadi serem karena bertebaran kata-kata arkais dari Jawa kuno.

Hal ini bisa jadi ciri khas atau barangkali identitas kolektif sastrawan Bangli, sehingga lain waktu barangkali akan bersama-sama membuat antologi puisi simbolik, nah ini bakal seru jika mampu terwujud nyata. Kemampuan mengolah simbol-simbol dan makna ini sangat berhasil pada Nirguna, dan Pande Jati sesama Bangli yang saya pakai contoh. Bangli hari ini paling besar potensi pengarang sastra Bali modernya. Mereka punya sekumpulan anak muda yang militan atau sing ngelah gae (mungkin), lalu membangun atmosfir positif dengan rajin mengikuti dan menggelar acara sastra. Semoga atmosfir sastra Bangli kian panaskan sastra di Bali, itu saja cukup… [T]


Tags: BukuPuisiresensi bukusastra bali modern
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

Menikah di Tahun 2020? Sabarlah! Baca Dulu Lontar “Dewaśa Pawarangan Anut Śaśih”

Next Post

Komik Khong Hu Cu yang Keren

I Gede Gita Purnama A.P

I Gede Gita Purnama A.P

Terkenal dengan panggilan Bayu. Hobi membaca dan minum kopi. Sehari-hari mondar-mandir di Fakultas Ilmu Budaya Unud.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Komik Khong Hu Cu yang Keren

Komik Khong Hu Cu yang Keren

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co