3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kisah Tentang Ibu Tak Putus-Putus” – Catatan Drama Seorang Ibu

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 22, 2019
in Esai
“Kisah Tentang Ibu Tak Putus-Putus”  – Catatan Drama Seorang Ibu

Ibu-ibu yang bermain dalam monolog 11 Ibu di Singaraja

Setahun lalu saya menulis 11 naskah drama tentang Ibu. Kesebelas naskah itu adalah dokumentasi estetik dan artistik dari 11 kisah ibu yang nyata. Mereka adalah pejuang kehidupan yang jauh dari spotlight panggung. Saya berbicara dengan mereka, mendengarkan, menuliskan kisah mereka. Suara suara yang selama ini belum terdengar jadi terdengar. Kisah kisah yang terpendam, muncul ke permukaan. Trauma trauma yang dalam, tercurahkan dan tersalurkan melalui teater.

Dalam perjalanan menulis 11 naskah itu, saya menemukan banyak kisah yang lebih dari sekedar kisah perjuangan semata. Namun ada rahasia rahasia kehidupan yang jauh lebih dahsyat dari apa yang saya bayangkan. Sebelum menulis naskah saya melalukan wawancara, riset dan observasi mendalam terhadap karakter.

Mereka tidak hanya tumbuh di kepala saya sebagai karakter, namun sebagai kisah itu sendiri yang lengkap dengan plot twist masing masing. Tidak ada yang klise dalam realita, sebab yang saya kira klise ternyata adalah bukan klise jika itu kenyataan. Semisal ada Ibu yang berjuang mencari penghidupan dengan menjadi tukang batu, bagi orang luar barangkali ada pikiran semua ibu juga berjuang mencari penghidupan. Namun yang  berbeda adalah sebuah kisah di balik perjuangan itu. Mengapa menjadi tukang batu, ada apa di balik keputusan itu, selain karena faktor ekonomi. Selain dari alasan mencari makan.

Lalu ada Ibu yang hidup dalam trauma berpuluh tahun, masih hingga sekarang, yang dihantui kekerasan dan hidup dalam kekerasan, namun sekarang mencoba berdamai dengan semua. Lalu ada ibu yang mencari identitas dirinya, siapa dia, sebagai diri, sebagai luar diri, sebagai representasi teks, sebagai gagasan, sebagai makhluk sosial, spiritual dan sebagainya. Ada pula yang sudah berada dalam tahap spiritual tinggi namun juga masih banyak belajar. Bahkan ada yang sudah hampir selesai, namun belum selesai. Semua masih dalam pencarian yang tidak berhenti.

Mengapa tidak berhenti? Karena drama tidak berakhir begitu saja ketika semua berakhir, sebab tak pernah ada batas jelas antara awal dan akhir, bahkan jika selama ini diduga bahwa kematian adalah akhir, justru sebaliknya, kematian adalah awal. Bagi perjalanan baru.

Beberapa malam yang lalu, 18 dan 19 Desember 2019, empat naskah drama yang saya tulis, yaitu “Schizophrenia”, “A Mother and A Monster”, “My Dearest Sister” dan “Because I am Who I am”, dipentaskan berturut turut oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha. Keempat naskah itu memiliki benang merah yang sama, bahwa seorang ibu adalah pusat energi kehidupan. Dalam “Schizophrenia” misalnya ditampilkan karakter seorang Ibu yang merawat anak dengan sakit schizophrenia dalam keterbatasan, miskin dan sendiri, tanpa suami. Seorang ibu yang mengalami perjuangan batin untuk mendamaikan dirinya dan juga anaknya yang berjuang dengan sakit, identitas dan cinta kepada lelaki.

“A Mother and A Monster” juga bicara soal isu Ibu yang kompleks. Ada Ibu yang membuang anaknya, ada ibu yang mengangkatnya lalu terjebak prostitusi. Anak itu bertumbuh dalam identitas yang hilang sejak sang ibu mengaku sebagai pelacur untuk membiayai hidupnya. Ia pergi dan mencari jati dirinya. Lalu di perjalanan ia kenal cinta, pengetahuan, kemarahan, kecemburuan dan sebagainya. Namun ia akhirnya bertemu ibu kandungnya dan akhirnya justru tragis. Hidupnya justru diakhiri ibu kandungnya. Apakah kisah ini imajinasi? Tidak juga. Namun tetap saja kenyataan kadang lebih imajinatif dari imajinasi.

“My Dearest Sister” bercerita tentang seorang ibu yang mencemaskan anaknya yang penulis. Ia ingin anaknya normal dan biasa, bukan menjadi seniman. Sang anak memberontak dan malah mencari cinta sejati yang ia temukan pada gurunya, seorang guru juga penyair. Ia tak tahu gurunya adalah kekasih ibunya. Mengejutkan tidak hanya pada karakternya tapi pada kisahnya. Tapi hidup adalah kejutan yang memang tiada habisnya.

Di “Because I am who I am” kisah ibu juga tak kalah haru. Sang ibu terjebak dalam pernikahan penuh kekerasan, dikhianati suaminya berkali kali dan mencoba tegar. Anaknya pergi dan lalu terjebak cinta, hamil sebelum menikah. Dan kisah belum berakhir.

Benang merah cerita 11 Ibu maupun 4 ibu dalam naskah berbahasa Inggris memiliki hal hal universal yang sama. Bahwa seorang ibu tak pernah selesai. Di kehidupan dan di gagasan, di imajinasi dan di kenyataan. Bahwa yang selalu harus diingat adalah pertanyaan pertanyaan tentang keputusan keputusan yang diambil. Saya misalnya selalu memelihara kegelisahan dan memelihara pertanyaan agar terus bisa bergerak. Sebagai ibu, sebagai perempuan, sebagai manusia.

Dalam sebuah sesi di Ubud Writers and Readers Festival yang lalu, ada satu sesi bertema Enlightment for All. Dalam panel itu kami membahas spiritualisme. Apa konsep spirituality dalam hidup perempuan Bali.

Saya menjawab spiritualisme adalah cara menjaga keseimbangan peran antara menjadi ibu, perempuan, penulis, pengajar, pengelola komunitas dan bagian dari sistem sosial adat Bali.

Dalam sesi “Writing Out of Margin” di Macau China saya juga mendapat kesempatan berbicara soal perempuan yang berada di luar margin. Margin adalah batas. Namun batas itupun didefinisikan menurut perspektif yang menentukan. Margin bagi kita barangkali bukan margin bagi orang lain. Atau margin bagi orang lain bukanlah margin bagi kita. Jadi menulis adalah bagian dari mendobrak margin atau menciptakan margin baru.

Di Nepal, ketika saya bicara soal puisi, saya juga membahas tema perempuan Bali. Soal keseimbangan dan juga soal kesenjangan. Tapi di semua hal itu saya menegaskan bahwa perempuan Bali selalu bergerak menuju keseimbangan. Terutama spiritual.

Bagi orang lain barangkali spiritualisme adalah melulu pergi ke pura dan bersembahyang tapi spiritualisme dalam konteks saya adalah menjaga spirit menjaga keseimbangan peran, sambil berpikir dan bertanya, untuk terus bergerak. Menulis dan berkarya adalah sebuah upaya, sebuah cara dari banyak cara lainnya untuk menjadi “the creator”. Ibu adalah pencipta sejarah yang terus menerus harus diperbaharui.

Selamat Hari Ibu. [T]

Tags: Hari IbuibuPerempuan
Share60TweetSendShareSend
Previous Post

“Jalan Menjadi Ibu” – Catatan Ibu Baru yang Masih Cupu

Next Post

Senang-Senang di Rumah Mahima: Puisi dan Hal-hal Lain yang Begitu Menyenangkan…

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Senang-Senang di Rumah Mahima: Puisi dan Hal-hal Lain yang Begitu Menyenangkan…

Senang-Senang di Rumah Mahima: Puisi dan Hal-hal Lain yang Begitu Menyenangkan…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co