12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Jalan Menjadi Ibu” – Catatan Ibu Baru yang Masih Cupu

Candra Puspita Dewi by Candra Puspita Dewi
December 22, 2019
in Esai
“Jalan Menjadi Ibu” – Catatan Ibu Baru yang Masih Cupu

Penulis yang seorang ibu dan anaknya

Pertama-tama, saya ucapkan selamat kepada semua ibu. Sebab hari ini adalah Hari Ibu. Maka keberadaan kita ramai-ramai dirayakan. Hah, kita? Ya, artinya saya juga. Sebab saya juga ibu. Ibu baru. Ibu yang masih cupu.

Hari Ibu ini boleh kita rayakan dengan cara apa saja. Yang penting kita senang sehingga kita merasa ada. Selain kita menghadiahi diri sendiri, anak-anak, dan suami pun turut terlibat dalam perayaan hari ibu ini. Mereka akan memberi kado, bunga, kue, tiup lilin, atau apa pun yang disukai oleh sang ibu. Tak jarang ada juga yang makan-makan, jalan-jalan, atau nonton bareng keluarga. Perayaan hari ibu jadi meriah akhirnya.

Memang, selama ini perayaan Hari Ibu hanya melibatkan ibu dan anak. Atau hanya melibatkan ibu dan suami saja, tepatnya ayah dari anak-anak. Padahal, akan tambah lengkap rasanya jika Hari Ibu dirayakan oleh sesama ibu. Dengan cara apa saja. Cara mudah atau cara susah. Yang mana cara mudah? Ya itu tadi, memberi kado, bunga, kue, dan tiup lilin. Tinggal beli. Lalu, yang susah? Yang susah adalah menghargai setiap geraknya, langkahnya, tindakannya, keputusan-keputusannya. Cuma gitu doang? Di mana letak susahnya? Sini saya ceritakan.

Menurut saya menghargai sesama ibu adalah pekerjaan paling sulit. Sebab, hal ini mulai jarang dilakukan. Ibu yang satu, menghargai ibu yang lain, jarang ada. Lebih-lebih kalau merasa senior. Kenapa jarang ada? Ya itu tadi, mungkin karena menghargai adalah pekerjaan yang sulit.

Okai, kita mulai dari perjalanan menuju menjadi ibu. Menuju menjadi ibu banyak jalan. Dan setiap ibu bebas memilih jalannya. Sebab, itu haknya. Sebab itu keyakinannya. Ada yang menuju menjadi ibu tanpa mengandung. Ada yang menuju menjadi ibu dengan jalan persalinan normal. Ada juga dengan jalan caesar. Apa penyembuhannya berbeda? Jelas beda.

Kalau jadi ibu tanpa mengandung, yang disembuhkan adalah hati. Kalau jadi ibu dengan jalan persalinan normal, yang disembuhkan adalah vagina. Kalau jadi ibu dengan jalan caesar, yang disembuhkan adalah perut. Semuanya sakit? Sakit. Sakit yang sama. Letak sakitnya saja yang berbeda.

Tapi sayang, sebagai sesama ibu,  masih saja ada yang mengungkit-ungkit jalan menuju menjadi ibu ini. Semisal, “Kalau ketuban pecah, kenapa ga langsung caesar? Kenapa tetep lahiran normal? Ga kasian sama bayinya? Ga punya uang ya, buat caesaran?”

Atau begini, “Normal atau caesar, Say? Wah enaknya ga ngerasain sakit.” atau ada juga yang begini, “Oh Caesar, berarti belum merasakan perjuangan menjadi seorang ibu dong.”

Halo, sesempit itukah makna perjuangan? Perjuangan menjadi ibu itu bukan hanya saat melahirkan saja, Saudara-Saudara. Tetapi setelahnya. Setelahnya apa kita adalah ibu yang bertanggung jawab? Di saat itulah ada perjuangan yang lebih panjang.

Okai, kita lanjutkan. Setelah itu, anak kita pun lahir jadi manusia baru. Kita juga lahir. Lahir menjadi ibu. Kita melahirkan anak kita. Kita melahirkan diri kita sendiri juga.

Semua perempuan yang menjadi ibu tentu ingin yang terbaik untuk anaknya. Terbaik tentang pola asuh, tentang pendidikan, atau yang paling sederhana adalah terbaik tentang makanan anak. Tujuannya apa lagi, kalau bukan agar anak bertumbuh dan berkembang  sesuai harapan dan mimpi ibunya.

Berbicara tentang pola asuh. Sama seperti menuju menjadi ibu, pola asuh pun sering dijadikan persoalan. Padahal, setiap langkah yang diambil dan dijalankan oleh seorang ibu merupakan jawaban atas sikap-sikap atau prilaku anaknya. Tap-tiap anak butuh penyikapan yang berbeda bukan? Perilaku anak yang berbeda. Maka penyikapan yang berbeda. Tenaga yang berdeda pula.

Ini contoh kecilnya. Ada anak yang ketika bayi, hanya tidur. Tak merengek minta jalan-jalan. Tak minta digendong ibu. Jika begini seorang anak, maka ibu akan membiarkannya tidur saja. Bila perlu digendong, gendong sesekali saja. Hanya ketika menyusui, misalnya. Setelah itu, ibu bisa pergi, belanja sebentar, beres-beres rumah, maskeran, luluran. Meninggalkan anak Sendirian. Apa ibu salah? Tentu tidak.

Tapi ada juga anak yang suka gendong. Ketika tidur ingin digendong. Ketika tidur ditinggal, tidurnya tak akan senyenyak saat ditemani. Jika begini seorang anak, maka ibu akan menggendongnya, menemani tidurnya. Apa ini salah? Bagi saya tidak juga. Namun, sebagian ibu percaya bahwa cara ini salah. Anak akan jadi manja dan terbiasa dibegitukan. Ya soal salah menyalahkan, sebagian ibu memang senang.

Pernah dengar mitos kalau bayi terus-terusan digendong, maka tubuhnya akan bau tangan? Menurut saya, ini mitos terjahat yang pernah saya dengar. Sedih rasanya jika gendongan seorang ibu dianggap tabu. Lalu, kalau bayi suka naik kereta dorong, maka tubuhnya akan bau besi kereta dorong? Atau kalau bayi suka di taruh di kasur, maka tubuhnya akan bau spring bed? O iya, mitos ini bisa dipakai alasan kalau ada ibu yang malas ngempu.

Sekarang tentang makanan. Makanan bayi yang jadi bulan-bulanan. Apa lagi kalau bukan susu formula? Saya membahas ini bukan karena saya seorang ibu yang tak kasi ASI. Anak saya minganjak enam bulan. Selama enam bulan pula makanan anak saya adalah ASI. Tapi, saya sangat sayang terhadap ibu lainnya.

Tak pernah rasanya saya ingin hati ibu lain tersakiti gara-gara pertanyaan, “Mengapa tak kasi ASI?”. Sebab, dari lubuk hati yang paling dalam dan yang paling luas, semua ibu pasti ingin menyusui. Hanya saja, mereka memiliki kendala untuk bisa melakukannya. Mungkin ada yang pernah punya kendala menyusui, tapi tidak menyerah dan bisa melewatinya  sehingga bisa menyusui anak-anaknya. Itu sungguh ibu yang luar bisa. Tapi tentu kita tidak boleh tinggi hati dengan perjuangan yang kita lakukan ini. ASI atau susu formula. Keduanya pasti dipilih bukan tanpa alasan. Keduanya pasti dipilih dengan jalan diskusi dan secara sadar.

Sebagai sesama ibu, kita harus belajar mendengar. Menerima alasan dari setiap keputusan-keputusan. Sebab setiap ibu pasti berusaha memberi yang terbaik untuk anak-anaknya.  Kalau hubungan baik ini terjalin, maka Hari Ibu bukan hanya dirayakan oleh anak dan suami saja. Tapi oleh kita, sesama ibu juga. Mari, rayakan. [T]

Tags: Hari IbuibuPerempuan
Share81TweetSendShareSend
Previous Post

Ibu

Next Post

“Kisah Tentang Ibu Tak Putus-Putus” – Catatan Drama Seorang Ibu

Candra Puspita Dewi

Candra Puspita Dewi

Lulusan Undiksha Singaraja, kini jadi guru di Denpasar. Di sela mengajar, ia juga main teater di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
“Kisah Tentang Ibu Tak Putus-Putus”  – Catatan Drama Seorang Ibu

“Kisah Tentang Ibu Tak Putus-Putus” - Catatan Drama Seorang Ibu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co