2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Jalan Menjadi Ibu” – Catatan Ibu Baru yang Masih Cupu

Candra Puspita Dewi by Candra Puspita Dewi
December 22, 2019
in Esai
“Jalan Menjadi Ibu” – Catatan Ibu Baru yang Masih Cupu

Penulis yang seorang ibu dan anaknya

Pertama-tama, saya ucapkan selamat kepada semua ibu. Sebab hari ini adalah Hari Ibu. Maka keberadaan kita ramai-ramai dirayakan. Hah, kita? Ya, artinya saya juga. Sebab saya juga ibu. Ibu baru. Ibu yang masih cupu.

Hari Ibu ini boleh kita rayakan dengan cara apa saja. Yang penting kita senang sehingga kita merasa ada. Selain kita menghadiahi diri sendiri, anak-anak, dan suami pun turut terlibat dalam perayaan hari ibu ini. Mereka akan memberi kado, bunga, kue, tiup lilin, atau apa pun yang disukai oleh sang ibu. Tak jarang ada juga yang makan-makan, jalan-jalan, atau nonton bareng keluarga. Perayaan hari ibu jadi meriah akhirnya.

Memang, selama ini perayaan Hari Ibu hanya melibatkan ibu dan anak. Atau hanya melibatkan ibu dan suami saja, tepatnya ayah dari anak-anak. Padahal, akan tambah lengkap rasanya jika Hari Ibu dirayakan oleh sesama ibu. Dengan cara apa saja. Cara mudah atau cara susah. Yang mana cara mudah? Ya itu tadi, memberi kado, bunga, kue, dan tiup lilin. Tinggal beli. Lalu, yang susah? Yang susah adalah menghargai setiap geraknya, langkahnya, tindakannya, keputusan-keputusannya. Cuma gitu doang? Di mana letak susahnya? Sini saya ceritakan.

Menurut saya menghargai sesama ibu adalah pekerjaan paling sulit. Sebab, hal ini mulai jarang dilakukan. Ibu yang satu, menghargai ibu yang lain, jarang ada. Lebih-lebih kalau merasa senior. Kenapa jarang ada? Ya itu tadi, mungkin karena menghargai adalah pekerjaan yang sulit.

Okai, kita mulai dari perjalanan menuju menjadi ibu. Menuju menjadi ibu banyak jalan. Dan setiap ibu bebas memilih jalannya. Sebab, itu haknya. Sebab itu keyakinannya. Ada yang menuju menjadi ibu tanpa mengandung. Ada yang menuju menjadi ibu dengan jalan persalinan normal. Ada juga dengan jalan caesar. Apa penyembuhannya berbeda? Jelas beda.

Kalau jadi ibu tanpa mengandung, yang disembuhkan adalah hati. Kalau jadi ibu dengan jalan persalinan normal, yang disembuhkan adalah vagina. Kalau jadi ibu dengan jalan caesar, yang disembuhkan adalah perut. Semuanya sakit? Sakit. Sakit yang sama. Letak sakitnya saja yang berbeda.

Tapi sayang, sebagai sesama ibu,  masih saja ada yang mengungkit-ungkit jalan menuju menjadi ibu ini. Semisal, “Kalau ketuban pecah, kenapa ga langsung caesar? Kenapa tetep lahiran normal? Ga kasian sama bayinya? Ga punya uang ya, buat caesaran?”

Atau begini, “Normal atau caesar, Say? Wah enaknya ga ngerasain sakit.” atau ada juga yang begini, “Oh Caesar, berarti belum merasakan perjuangan menjadi seorang ibu dong.”

Halo, sesempit itukah makna perjuangan? Perjuangan menjadi ibu itu bukan hanya saat melahirkan saja, Saudara-Saudara. Tetapi setelahnya. Setelahnya apa kita adalah ibu yang bertanggung jawab? Di saat itulah ada perjuangan yang lebih panjang.

Okai, kita lanjutkan. Setelah itu, anak kita pun lahir jadi manusia baru. Kita juga lahir. Lahir menjadi ibu. Kita melahirkan anak kita. Kita melahirkan diri kita sendiri juga.

Semua perempuan yang menjadi ibu tentu ingin yang terbaik untuk anaknya. Terbaik tentang pola asuh, tentang pendidikan, atau yang paling sederhana adalah terbaik tentang makanan anak. Tujuannya apa lagi, kalau bukan agar anak bertumbuh dan berkembang  sesuai harapan dan mimpi ibunya.

Berbicara tentang pola asuh. Sama seperti menuju menjadi ibu, pola asuh pun sering dijadikan persoalan. Padahal, setiap langkah yang diambil dan dijalankan oleh seorang ibu merupakan jawaban atas sikap-sikap atau prilaku anaknya. Tap-tiap anak butuh penyikapan yang berbeda bukan? Perilaku anak yang berbeda. Maka penyikapan yang berbeda. Tenaga yang berdeda pula.

Ini contoh kecilnya. Ada anak yang ketika bayi, hanya tidur. Tak merengek minta jalan-jalan. Tak minta digendong ibu. Jika begini seorang anak, maka ibu akan membiarkannya tidur saja. Bila perlu digendong, gendong sesekali saja. Hanya ketika menyusui, misalnya. Setelah itu, ibu bisa pergi, belanja sebentar, beres-beres rumah, maskeran, luluran. Meninggalkan anak Sendirian. Apa ibu salah? Tentu tidak.

Tapi ada juga anak yang suka gendong. Ketika tidur ingin digendong. Ketika tidur ditinggal, tidurnya tak akan senyenyak saat ditemani. Jika begini seorang anak, maka ibu akan menggendongnya, menemani tidurnya. Apa ini salah? Bagi saya tidak juga. Namun, sebagian ibu percaya bahwa cara ini salah. Anak akan jadi manja dan terbiasa dibegitukan. Ya soal salah menyalahkan, sebagian ibu memang senang.

Pernah dengar mitos kalau bayi terus-terusan digendong, maka tubuhnya akan bau tangan? Menurut saya, ini mitos terjahat yang pernah saya dengar. Sedih rasanya jika gendongan seorang ibu dianggap tabu. Lalu, kalau bayi suka naik kereta dorong, maka tubuhnya akan bau besi kereta dorong? Atau kalau bayi suka di taruh di kasur, maka tubuhnya akan bau spring bed? O iya, mitos ini bisa dipakai alasan kalau ada ibu yang malas ngempu.

Sekarang tentang makanan. Makanan bayi yang jadi bulan-bulanan. Apa lagi kalau bukan susu formula? Saya membahas ini bukan karena saya seorang ibu yang tak kasi ASI. Anak saya minganjak enam bulan. Selama enam bulan pula makanan anak saya adalah ASI. Tapi, saya sangat sayang terhadap ibu lainnya.

Tak pernah rasanya saya ingin hati ibu lain tersakiti gara-gara pertanyaan, “Mengapa tak kasi ASI?”. Sebab, dari lubuk hati yang paling dalam dan yang paling luas, semua ibu pasti ingin menyusui. Hanya saja, mereka memiliki kendala untuk bisa melakukannya. Mungkin ada yang pernah punya kendala menyusui, tapi tidak menyerah dan bisa melewatinya  sehingga bisa menyusui anak-anaknya. Itu sungguh ibu yang luar bisa. Tapi tentu kita tidak boleh tinggi hati dengan perjuangan yang kita lakukan ini. ASI atau susu formula. Keduanya pasti dipilih bukan tanpa alasan. Keduanya pasti dipilih dengan jalan diskusi dan secara sadar.

Sebagai sesama ibu, kita harus belajar mendengar. Menerima alasan dari setiap keputusan-keputusan. Sebab setiap ibu pasti berusaha memberi yang terbaik untuk anak-anaknya.  Kalau hubungan baik ini terjalin, maka Hari Ibu bukan hanya dirayakan oleh anak dan suami saja. Tapi oleh kita, sesama ibu juga. Mari, rayakan. [T]

Tags: Hari IbuibuPerempuan
Share81TweetSendShareSend
Previous Post

Ibu

Next Post

“Kisah Tentang Ibu Tak Putus-Putus” – Catatan Drama Seorang Ibu

Candra Puspita Dewi

Candra Puspita Dewi

Lulusan Undiksha Singaraja, kini jadi guru di Denpasar. Di sela mengajar, ia juga main teater di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Kisah Tentang Ibu Tak Putus-Putus”  – Catatan Drama Seorang Ibu

“Kisah Tentang Ibu Tak Putus-Putus” - Catatan Drama Seorang Ibu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co