23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Jalan Menjadi Ibu” – Catatan Ibu Baru yang Masih Cupu

Candra Puspita Dewi by Candra Puspita Dewi
December 22, 2019
in Esai
“Jalan Menjadi Ibu” – Catatan Ibu Baru yang Masih Cupu

Penulis yang seorang ibu dan anaknya

Pertama-tama, saya ucapkan selamat kepada semua ibu. Sebab hari ini adalah Hari Ibu. Maka keberadaan kita ramai-ramai dirayakan. Hah, kita? Ya, artinya saya juga. Sebab saya juga ibu. Ibu baru. Ibu yang masih cupu.

Hari Ibu ini boleh kita rayakan dengan cara apa saja. Yang penting kita senang sehingga kita merasa ada. Selain kita menghadiahi diri sendiri, anak-anak, dan suami pun turut terlibat dalam perayaan hari ibu ini. Mereka akan memberi kado, bunga, kue, tiup lilin, atau apa pun yang disukai oleh sang ibu. Tak jarang ada juga yang makan-makan, jalan-jalan, atau nonton bareng keluarga. Perayaan hari ibu jadi meriah akhirnya.

Memang, selama ini perayaan Hari Ibu hanya melibatkan ibu dan anak. Atau hanya melibatkan ibu dan suami saja, tepatnya ayah dari anak-anak. Padahal, akan tambah lengkap rasanya jika Hari Ibu dirayakan oleh sesama ibu. Dengan cara apa saja. Cara mudah atau cara susah. Yang mana cara mudah? Ya itu tadi, memberi kado, bunga, kue, dan tiup lilin. Tinggal beli. Lalu, yang susah? Yang susah adalah menghargai setiap geraknya, langkahnya, tindakannya, keputusan-keputusannya. Cuma gitu doang? Di mana letak susahnya? Sini saya ceritakan.

Menurut saya menghargai sesama ibu adalah pekerjaan paling sulit. Sebab, hal ini mulai jarang dilakukan. Ibu yang satu, menghargai ibu yang lain, jarang ada. Lebih-lebih kalau merasa senior. Kenapa jarang ada? Ya itu tadi, mungkin karena menghargai adalah pekerjaan yang sulit.

Okai, kita mulai dari perjalanan menuju menjadi ibu. Menuju menjadi ibu banyak jalan. Dan setiap ibu bebas memilih jalannya. Sebab, itu haknya. Sebab itu keyakinannya. Ada yang menuju menjadi ibu tanpa mengandung. Ada yang menuju menjadi ibu dengan jalan persalinan normal. Ada juga dengan jalan caesar. Apa penyembuhannya berbeda? Jelas beda.

Kalau jadi ibu tanpa mengandung, yang disembuhkan adalah hati. Kalau jadi ibu dengan jalan persalinan normal, yang disembuhkan adalah vagina. Kalau jadi ibu dengan jalan caesar, yang disembuhkan adalah perut. Semuanya sakit? Sakit. Sakit yang sama. Letak sakitnya saja yang berbeda.

Tapi sayang, sebagai sesama ibu,  masih saja ada yang mengungkit-ungkit jalan menuju menjadi ibu ini. Semisal, “Kalau ketuban pecah, kenapa ga langsung caesar? Kenapa tetep lahiran normal? Ga kasian sama bayinya? Ga punya uang ya, buat caesaran?”

Atau begini, “Normal atau caesar, Say? Wah enaknya ga ngerasain sakit.” atau ada juga yang begini, “Oh Caesar, berarti belum merasakan perjuangan menjadi seorang ibu dong.”

Halo, sesempit itukah makna perjuangan? Perjuangan menjadi ibu itu bukan hanya saat melahirkan saja, Saudara-Saudara. Tetapi setelahnya. Setelahnya apa kita adalah ibu yang bertanggung jawab? Di saat itulah ada perjuangan yang lebih panjang.

Okai, kita lanjutkan. Setelah itu, anak kita pun lahir jadi manusia baru. Kita juga lahir. Lahir menjadi ibu. Kita melahirkan anak kita. Kita melahirkan diri kita sendiri juga.

Semua perempuan yang menjadi ibu tentu ingin yang terbaik untuk anaknya. Terbaik tentang pola asuh, tentang pendidikan, atau yang paling sederhana adalah terbaik tentang makanan anak. Tujuannya apa lagi, kalau bukan agar anak bertumbuh dan berkembang  sesuai harapan dan mimpi ibunya.

Berbicara tentang pola asuh. Sama seperti menuju menjadi ibu, pola asuh pun sering dijadikan persoalan. Padahal, setiap langkah yang diambil dan dijalankan oleh seorang ibu merupakan jawaban atas sikap-sikap atau prilaku anaknya. Tap-tiap anak butuh penyikapan yang berbeda bukan? Perilaku anak yang berbeda. Maka penyikapan yang berbeda. Tenaga yang berdeda pula.

Ini contoh kecilnya. Ada anak yang ketika bayi, hanya tidur. Tak merengek minta jalan-jalan. Tak minta digendong ibu. Jika begini seorang anak, maka ibu akan membiarkannya tidur saja. Bila perlu digendong, gendong sesekali saja. Hanya ketika menyusui, misalnya. Setelah itu, ibu bisa pergi, belanja sebentar, beres-beres rumah, maskeran, luluran. Meninggalkan anak Sendirian. Apa ibu salah? Tentu tidak.

Tapi ada juga anak yang suka gendong. Ketika tidur ingin digendong. Ketika tidur ditinggal, tidurnya tak akan senyenyak saat ditemani. Jika begini seorang anak, maka ibu akan menggendongnya, menemani tidurnya. Apa ini salah? Bagi saya tidak juga. Namun, sebagian ibu percaya bahwa cara ini salah. Anak akan jadi manja dan terbiasa dibegitukan. Ya soal salah menyalahkan, sebagian ibu memang senang.

Pernah dengar mitos kalau bayi terus-terusan digendong, maka tubuhnya akan bau tangan? Menurut saya, ini mitos terjahat yang pernah saya dengar. Sedih rasanya jika gendongan seorang ibu dianggap tabu. Lalu, kalau bayi suka naik kereta dorong, maka tubuhnya akan bau besi kereta dorong? Atau kalau bayi suka di taruh di kasur, maka tubuhnya akan bau spring bed? O iya, mitos ini bisa dipakai alasan kalau ada ibu yang malas ngempu.

Sekarang tentang makanan. Makanan bayi yang jadi bulan-bulanan. Apa lagi kalau bukan susu formula? Saya membahas ini bukan karena saya seorang ibu yang tak kasi ASI. Anak saya minganjak enam bulan. Selama enam bulan pula makanan anak saya adalah ASI. Tapi, saya sangat sayang terhadap ibu lainnya.

Tak pernah rasanya saya ingin hati ibu lain tersakiti gara-gara pertanyaan, “Mengapa tak kasi ASI?”. Sebab, dari lubuk hati yang paling dalam dan yang paling luas, semua ibu pasti ingin menyusui. Hanya saja, mereka memiliki kendala untuk bisa melakukannya. Mungkin ada yang pernah punya kendala menyusui, tapi tidak menyerah dan bisa melewatinya  sehingga bisa menyusui anak-anaknya. Itu sungguh ibu yang luar bisa. Tapi tentu kita tidak boleh tinggi hati dengan perjuangan yang kita lakukan ini. ASI atau susu formula. Keduanya pasti dipilih bukan tanpa alasan. Keduanya pasti dipilih dengan jalan diskusi dan secara sadar.

Sebagai sesama ibu, kita harus belajar mendengar. Menerima alasan dari setiap keputusan-keputusan. Sebab setiap ibu pasti berusaha memberi yang terbaik untuk anak-anaknya.  Kalau hubungan baik ini terjalin, maka Hari Ibu bukan hanya dirayakan oleh anak dan suami saja. Tapi oleh kita, sesama ibu juga. Mari, rayakan. [T]

Tags: Hari IbuibuPerempuan
Share81TweetSendShareSend
Previous Post

Ibu

Next Post

“Kisah Tentang Ibu Tak Putus-Putus” – Catatan Drama Seorang Ibu

Candra Puspita Dewi

Candra Puspita Dewi

Lulusan Undiksha Singaraja, kini jadi guru di Denpasar. Di sela mengajar, ia juga main teater di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Kisah Tentang Ibu Tak Putus-Putus”  – Catatan Drama Seorang Ibu

“Kisah Tentang Ibu Tak Putus-Putus” - Catatan Drama Seorang Ibu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co