13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Once Upon A Time in Nepal [2] – Are you okay Sonia?

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 6, 2019
in Tualang
Once Upon A Time in Nepal [2] – Are you okay Sonia?

Kadek Sonia Piscayanti

BACA JUGA:

  • Once Upon A Time in Nepal [1] – Haiku

_______

Hari keempat di Nepal adalah perjalanan ke Sarangkot, sebuah tempat yang terletak sangat terjal di atas bukit, 30 menit dari Pokhara. Perjalanan dengan Van berisi 13 orang terasa sedikit menegangkan karena jalan sempit, berbatu, berliku, sedikit macet dan berdebu. Namun siapapun yang ke Nepal sepertinya belum resmi ke Nepal jika belum ke Sarangkot. Apa yang diberikan di Sarangkot adalah sebuah pemandangan yang satu satunya di dunia yaitu pemandangan pegunungan yang indah dan ajaib serta pemandangan  paragliding dari atas bukit.

Saya duduk di depan dengan yakin. Saya memiliki ekspektasi tinggi terhadap Sarangkot. Saya sangat bersemangat. Menemukan yang menarik dan terbaik. Saya duduk bersama Kunjar, seorang penulis dari Nepal. Ia juga adalah pemandu kami hari itu. Di belakang saya, ada Prof Alan Maley dari UK, Sarita Dewan, Motikala Subba Dewan, Maya Sujcha Rai dan Vishnu Rai dari Nepal, Phuong and Thuy dari Vietnam, Janpa dari Thailand, Drhuva dari India, Lanny Kristono and husband dari Indonesia. Cukup penuh. Tak ada ruang tersisa.

Van kami merangkak naik bukit Sarangkot yang berliku-liku dan tajam. Saya mulai tegang. Jalan sempit dengan berbatu batu, lekuk yang tajam dan beresiko, membuat saya harus sport jantung. Sesekali bus besar dari arah atas seperti hendak melahap Van kami bulat bulat. Sesekali saya berteriak kecil, semacam ‘owh no!’ sehingga kawan kawan di belakang spontan merespon “Are you okay Sonia?”

Lalu saya pura pura menjawab I am okay. Padahal mereka tahu saya cemas luar biasa. Perjalanan makin ke atas makin menegangkan. Sempat beberapa kali kami harus mundur memberi kesempatan kendaraan lain dari atas lewat, atau berhenti menepi sejenak agar kendaraan lain bisa berjalan. Namun di luar jendela, terhidang pemandangan yang luar biasa ngeri sekaligus indahya. Kiri kami adalah pemandangan bukit dan danau sementara kanan kami adalah lembah untuk paragliding.

Kami kemudian stop di loket tiket. Bus bus besar berhenti disana untuk lanjut naik ke atas. Lalu penumpangnya turun berjalan kaki. Tapi untungnya Van kami diijinkan terus merangkak naik. Saya melihat beberapa keajaiban. Ada pendaki yang totalitas tanpa alat apapun, berjalan dengan keyakinan penuh dari bawah ke atas bukit. Sendirian. Ada pula pesepeda yang mengayuh tanpa lelah. Sendirian. Ada kakek kakek berjalan terbungkuk bungkuk mendaki bukit. Juga sendirian. Ada perempuan menyunggi air dari atas bukit ke bawah. Sendirian. Ada tukang bangunan menyelesaikan pekerjaan di bangunan berlantai 5. Di ujungnya jurang. Sendirian. Ada anak anjing tersesat. Juga sendirian. Saya merenung. Kawan kawan kembali bertanya, Are you okay, Sonia?

Saya menjawab okay. Pura pura okay. Tapi mereka tahu saya berpikir keras. Kami tiba akhirnya di ujung bukit. Turun dari Van, kami harus mendaki. Saya melihat Prof Alan Maley. Mampukah dia? Pria 83 tahun itu tidak kelihatan gentar sama sekali. Jalannya tegas dan mantap. Kami yang terlalu mencemaskannya. Kali ini beberapa dari kami bertanya, are you okay Alan?

Dia menjawab. Yeah alright. No problem.

Kami berjalan sambil menemukan hal hal menarik. Beberapa Haiku dan puisi bermunculan di kepala. Ada banyak. Kadang seperti lintasan angin, mereka muncul dan lenyap.

Di atas bukit, kami berhenti. Untuk menulis puisi. Terhidang pemandangan rangkaian pegunungan Annapurna, yang diberi nama Annapurna Range dari puncak Annapurna I hingga Annapurna IV lalu ada puncak Machapuchare dan Kangshar Kang Roc Ni. Semua puncak gunung ini diselimuti salju. Saya diam. Berdoa dan tunduk dari hati mengagumi kekayaan alam Nepal. Saya dan dua kawan Vietnam duduk di sebuah tanah landai menatap pegunungan Annapurna. Speechless.

Kami duduk dan menulis. Entah apa. Pokoknya kami menuangkan ide ide menjadi Haiku dan puisi belum jadi.

Cukup lama kami disana. Di sekitar tempat kami duduk, ada batu peringatan untuk pendaki yang meninggal dunia. Sekitar kami sunyi sekali. Kami berdoa. Hingga baru menyadari bahwa ternyata kawan kawan lain sudah mendahului turun.

Di bawah, kami sudah ditunggu di kedai teh. Pemandangan dari kedai teh adalah danau Fewa Lake dan bukit bukit hijau. Burung burung yang terbang rendah dan penduduk bukit yang melakoni hidupnya dengan lambat.

Kami menulis. Alan menyapa kami, have you got Haiku, Sonia?

Yes. Jawab saya. Haiku saya ada beberapa. Namun belum selesai. Seperti pikiran pikiran saya yang belum selesai.

Usai dari kedai teh kami masuk kendaraan, menuruni bukit untuk menuju tempat paragliding. Semua kawan turun melihat. Saya ragu. Melihat keraguan saya, sopir berkata. “You have to go down. This is a golden moment.” Golden moment? Mungkin. Sayapun turun. Dan benar. Semua pemandangan paragliding itu lagi lagi membuat saya speechless. Pada keberanian paragliders yang membayar mahal untuk bisa terbang dan terjun. 6 ribu Nepalese Rupee setara 60 USD. Itu baru sewa alatnya saja. Belum asuransi dan lain lain. Seseorang menawari saya. Langsung saya tolak halus. Saya tidak punya jiwa paragliding. Yang saya punya adalah jiwa menulis paragliding.

Pertanyaan saya, what if they never land? Bagaimana jika mereka tak pernah mendarat tapi terus melayang?

Mungkin itulah puisinya.

Are you okay Sonia? Kembali seseorang menegur saya. Kali ini kami harus kembali ke Pokhara.

Di Pokhara, sore harinya kami melanjutkan worksop setelah istirahat.

Di workshop singkat itu kami membahas perjalanan ke Sarangkot. Alan bertanya apakah ada puisi tentang Sarangkot? Vishnu Ray mengangkat tangan. Dia menulis puisi tentang saya.

Judulnya Are You Okay Sonia?

Begini puisinya.

Keterangan puisi Vishnu yang di foto:


Are you Ok, Sonia?


Sonia is sitting in the front

Vehicles going up

Vehicles going down

Sharp bends

A truck hurls down

Oooooo!

O my God!

Are you Ok, Sonia?

Sonia laughs

Laughter mixed with fear and relief

Yes I’m okay

Sonia is a brave woman

She might be afraid

But she can hide it well and fight

We have to do it sometimes

We have to show a bold face

If not for oneself than for others

Sonia is a brave woman

She hides the fear for others

And fight the world

Are you Ok, Sonia-someone ask

Yeh I am ok. She says with a smile, I am ok.


Puisi spontan ditulis tangan. Semua menyambut puisi ini dengan tawa canda mengingat momen yang baru kami lalui bersama. Alan tersenyum. Memberi giliran pada yang lain. Dalam waktu singkat saya juga langsung menulis balasan puisi itu untuk Vishnu Ray.

Saya tulis karena memang sangat efektif merespon dalam kondisi puitika yang pas. Begini balasan saya. Judulnya I am not Okay, Vishnu.



I am not okay, Vishnu

I am not okay

Sometimes women are not okay

I am not brave, Vishnu

I am not brave, at all

Sometimes women are not brave

I am not pretending to be okay and brave Vishnu

I am not pretending to be okay and brave

I am not both

I am who I am

For sometimes I am not okay and I am not brave

Because I am just a human

Demikianlah Sarangkot dan puisi hari itu. Semua terjadi begitu spontan dan apa adanya. Seperti Sarangkot. Seperti Nepal. Seperti kita juga.

Tags: Kadek Sonia PiscayantiNepalPuisi
Share82TweetSendShareSend
Previous Post

Festival Penonton, Penonton Festival

Next Post

Masih Berlangsung, Pameran Seni Rupa Kontemporer ART • BALI 2019 – “Speculative Memories”

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails
Next Post
Masih Berlangsung, Pameran Seni Rupa Kontemporer ART • BALI 2019 – “Speculative Memories”

Masih Berlangsung, Pameran Seni Rupa Kontemporer ART • BALI 2019 - “Speculative Memories”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co