3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Once Upon A Time in Nepal [2] – Are you okay Sonia?

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 6, 2019
in Tualang
Once Upon A Time in Nepal [2] – Are you okay Sonia?

Kadek Sonia Piscayanti

BACA JUGA:

  • Once Upon A Time in Nepal [1] – Haiku

_______

Hari keempat di Nepal adalah perjalanan ke Sarangkot, sebuah tempat yang terletak sangat terjal di atas bukit, 30 menit dari Pokhara. Perjalanan dengan Van berisi 13 orang terasa sedikit menegangkan karena jalan sempit, berbatu, berliku, sedikit macet dan berdebu. Namun siapapun yang ke Nepal sepertinya belum resmi ke Nepal jika belum ke Sarangkot. Apa yang diberikan di Sarangkot adalah sebuah pemandangan yang satu satunya di dunia yaitu pemandangan pegunungan yang indah dan ajaib serta pemandangan  paragliding dari atas bukit.

Saya duduk di depan dengan yakin. Saya memiliki ekspektasi tinggi terhadap Sarangkot. Saya sangat bersemangat. Menemukan yang menarik dan terbaik. Saya duduk bersama Kunjar, seorang penulis dari Nepal. Ia juga adalah pemandu kami hari itu. Di belakang saya, ada Prof Alan Maley dari UK, Sarita Dewan, Motikala Subba Dewan, Maya Sujcha Rai dan Vishnu Rai dari Nepal, Phuong and Thuy dari Vietnam, Janpa dari Thailand, Drhuva dari India, Lanny Kristono and husband dari Indonesia. Cukup penuh. Tak ada ruang tersisa.

Van kami merangkak naik bukit Sarangkot yang berliku-liku dan tajam. Saya mulai tegang. Jalan sempit dengan berbatu batu, lekuk yang tajam dan beresiko, membuat saya harus sport jantung. Sesekali bus besar dari arah atas seperti hendak melahap Van kami bulat bulat. Sesekali saya berteriak kecil, semacam ‘owh no!’ sehingga kawan kawan di belakang spontan merespon “Are you okay Sonia?”

Lalu saya pura pura menjawab I am okay. Padahal mereka tahu saya cemas luar biasa. Perjalanan makin ke atas makin menegangkan. Sempat beberapa kali kami harus mundur memberi kesempatan kendaraan lain dari atas lewat, atau berhenti menepi sejenak agar kendaraan lain bisa berjalan. Namun di luar jendela, terhidang pemandangan yang luar biasa ngeri sekaligus indahya. Kiri kami adalah pemandangan bukit dan danau sementara kanan kami adalah lembah untuk paragliding.

Kami kemudian stop di loket tiket. Bus bus besar berhenti disana untuk lanjut naik ke atas. Lalu penumpangnya turun berjalan kaki. Tapi untungnya Van kami diijinkan terus merangkak naik. Saya melihat beberapa keajaiban. Ada pendaki yang totalitas tanpa alat apapun, berjalan dengan keyakinan penuh dari bawah ke atas bukit. Sendirian. Ada pula pesepeda yang mengayuh tanpa lelah. Sendirian. Ada kakek kakek berjalan terbungkuk bungkuk mendaki bukit. Juga sendirian. Ada perempuan menyunggi air dari atas bukit ke bawah. Sendirian. Ada tukang bangunan menyelesaikan pekerjaan di bangunan berlantai 5. Di ujungnya jurang. Sendirian. Ada anak anjing tersesat. Juga sendirian. Saya merenung. Kawan kawan kembali bertanya, Are you okay, Sonia?

Saya menjawab okay. Pura pura okay. Tapi mereka tahu saya berpikir keras. Kami tiba akhirnya di ujung bukit. Turun dari Van, kami harus mendaki. Saya melihat Prof Alan Maley. Mampukah dia? Pria 83 tahun itu tidak kelihatan gentar sama sekali. Jalannya tegas dan mantap. Kami yang terlalu mencemaskannya. Kali ini beberapa dari kami bertanya, are you okay Alan?

Dia menjawab. Yeah alright. No problem.

Kami berjalan sambil menemukan hal hal menarik. Beberapa Haiku dan puisi bermunculan di kepala. Ada banyak. Kadang seperti lintasan angin, mereka muncul dan lenyap.

Di atas bukit, kami berhenti. Untuk menulis puisi. Terhidang pemandangan rangkaian pegunungan Annapurna, yang diberi nama Annapurna Range dari puncak Annapurna I hingga Annapurna IV lalu ada puncak Machapuchare dan Kangshar Kang Roc Ni. Semua puncak gunung ini diselimuti salju. Saya diam. Berdoa dan tunduk dari hati mengagumi kekayaan alam Nepal. Saya dan dua kawan Vietnam duduk di sebuah tanah landai menatap pegunungan Annapurna. Speechless.

Kami duduk dan menulis. Entah apa. Pokoknya kami menuangkan ide ide menjadi Haiku dan puisi belum jadi.

Cukup lama kami disana. Di sekitar tempat kami duduk, ada batu peringatan untuk pendaki yang meninggal dunia. Sekitar kami sunyi sekali. Kami berdoa. Hingga baru menyadari bahwa ternyata kawan kawan lain sudah mendahului turun.

Di bawah, kami sudah ditunggu di kedai teh. Pemandangan dari kedai teh adalah danau Fewa Lake dan bukit bukit hijau. Burung burung yang terbang rendah dan penduduk bukit yang melakoni hidupnya dengan lambat.

Kami menulis. Alan menyapa kami, have you got Haiku, Sonia?

Yes. Jawab saya. Haiku saya ada beberapa. Namun belum selesai. Seperti pikiran pikiran saya yang belum selesai.

Usai dari kedai teh kami masuk kendaraan, menuruni bukit untuk menuju tempat paragliding. Semua kawan turun melihat. Saya ragu. Melihat keraguan saya, sopir berkata. “You have to go down. This is a golden moment.” Golden moment? Mungkin. Sayapun turun. Dan benar. Semua pemandangan paragliding itu lagi lagi membuat saya speechless. Pada keberanian paragliders yang membayar mahal untuk bisa terbang dan terjun. 6 ribu Nepalese Rupee setara 60 USD. Itu baru sewa alatnya saja. Belum asuransi dan lain lain. Seseorang menawari saya. Langsung saya tolak halus. Saya tidak punya jiwa paragliding. Yang saya punya adalah jiwa menulis paragliding.

Pertanyaan saya, what if they never land? Bagaimana jika mereka tak pernah mendarat tapi terus melayang?

Mungkin itulah puisinya.

Are you okay Sonia? Kembali seseorang menegur saya. Kali ini kami harus kembali ke Pokhara.

Di Pokhara, sore harinya kami melanjutkan worksop setelah istirahat.

Di workshop singkat itu kami membahas perjalanan ke Sarangkot. Alan bertanya apakah ada puisi tentang Sarangkot? Vishnu Ray mengangkat tangan. Dia menulis puisi tentang saya.

Judulnya Are You Okay Sonia?

Begini puisinya.

Keterangan puisi Vishnu yang di foto:


Are you Ok, Sonia?


Sonia is sitting in the front

Vehicles going up

Vehicles going down

Sharp bends

A truck hurls down

Oooooo!

O my God!

Are you Ok, Sonia?

Sonia laughs

Laughter mixed with fear and relief

Yes I’m okay

Sonia is a brave woman

She might be afraid

But she can hide it well and fight

We have to do it sometimes

We have to show a bold face

If not for oneself than for others

Sonia is a brave woman

She hides the fear for others

And fight the world

Are you Ok, Sonia-someone ask

Yeh I am ok. She says with a smile, I am ok.


Puisi spontan ditulis tangan. Semua menyambut puisi ini dengan tawa canda mengingat momen yang baru kami lalui bersama. Alan tersenyum. Memberi giliran pada yang lain. Dalam waktu singkat saya juga langsung menulis balasan puisi itu untuk Vishnu Ray.

Saya tulis karena memang sangat efektif merespon dalam kondisi puitika yang pas. Begini balasan saya. Judulnya I am not Okay, Vishnu.



I am not okay, Vishnu

I am not okay

Sometimes women are not okay

I am not brave, Vishnu

I am not brave, at all

Sometimes women are not brave

I am not pretending to be okay and brave Vishnu

I am not pretending to be okay and brave

I am not both

I am who I am

For sometimes I am not okay and I am not brave

Because I am just a human

Demikianlah Sarangkot dan puisi hari itu. Semua terjadi begitu spontan dan apa adanya. Seperti Sarangkot. Seperti Nepal. Seperti kita juga.

Tags: Kadek Sonia PiscayantiNepalPuisi
Share82TweetSendShareSend
Previous Post

Festival Penonton, Penonton Festival

Next Post

Masih Berlangsung, Pameran Seni Rupa Kontemporer ART • BALI 2019 – “Speculative Memories”

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Masih Berlangsung, Pameran Seni Rupa Kontemporer ART • BALI 2019 – “Speculative Memories”

Masih Berlangsung, Pameran Seni Rupa Kontemporer ART • BALI 2019 - “Speculative Memories”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co