2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Penonton, Penonton Festival

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
December 6, 2019
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Berpuluh-puluh tahun setelah Bali berhasil mengembangkan PKB (Pesta Kesenian Bali) sebagai ruang akomodatif dalam merancang festival kebudayaan, dengan ratusan produk kesenian di dalamnya, mulai dari pertunjukan, lomba, workshop, sarasehan, pameran, dan lebih penting daripada itu, memelihara minat ratusan bahkan ribuan  penonton untuk datang singgah setiap tahunnya, tak dapat kita hitung lagi banyaknya jenis festival yang tergelar, baik dalam lingkup banjar, desa, kecamatan, kabupaten dan provinsi di Bali. Setiap tahunnya, festival-festival ini, dengan berbagai macam nama dan bentuknya, seolah ingin berusaha mendefinisikan dirinya sebagai acara, yang seolah-olah punya andil tersendiri dalam pengembangan dan pemeliharan kebudayaan Bali. Menariknya, festival-festival yang tergelar ini, hampir semuanya berkiblat pada satu tonggak, yakni Pesta Kesenian Bali.

Maka, apa-apa yang festival, apa-apa yang kesenian, pastilah dihubung-hubungkan dengan PKB. Pun demikian dengan festival terbaru yang digelar di Bali tahun ini, Festival Bali Jani 2019. Sebuah Festival yang katanya dirancang dalam rangka menyeimbangkan capaian-capaian PKB, yang notabene lebih banyak memberi ruang pada seni tradisi, kini disandingkan dengan FBJ (Festival Bali Jani) yang diharapkan menjadi wadah pada bentuk-bentuk kesenian modern. Gagasan demikian tentu membuat banyak kawan yang modern menyambut baik acara ini.

Bahkan jika boleh diandaikan, masyarakat seni modern ini jadi seperti sebuah desa paceklik kekeringan yang baru saja disemprot air PAM oleh petugas PDAM. Semuanya jadi bergelimang air. Mulai dari masyarakat yang memang kekurangan air, yang membutuhkan air, bahkan yang biasa berenang di air sekalipun. Semua kepingin ikut mandi air. Mandi air seni. Bukan air seni kencing ya, melainkan air seni modern.

Maka, apa-apa yang mandi air seni ini, pastilah dianggap modern. Apa-apa yang modern, pastilah berharap pentas di panggung FBJ. Lucunya, banyak juga dari apa-apa yang merasa seni modern ini, berharap FBJ jadi seperti PKB. Lha? Ini apa-apan sebenarnya ne?

Samar-samar, pikiran semacam ini sudah terasa sedari awal terselenggaranya FBJ. Hal ini berlanjut sampai workshop Tata Kelola Festival yang diadakan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali 3 Desember lalu. Workshop yang semestinya lebih banyak bicara perihal strategi tata kelola festival, justru mengerucut pada soal bagaimana membenahi FBJ ke depannya. Hampir sebagian peserta yang berbicara, mengharapkan capaian FBJ agar sama dengan capaian PKB yakni, banyaknya penonton yang datang menghadiri festival. Artinya, jika banyak yang menonton, festival jadi bagus. Namun jika sedikit yang menonton, festival dinilai kurang berhasil.

Salah satu pembicara diskusi, komponis Wayan Gde Yudane dalam makalahnya padahal sudah menampik, “bahwa meskipun indikator kuantitatif, seperti jumlah kehadiran, diperlukan, ini tidak boleh menjadi fokus utama dalam menilai keberhasilan Festival. Seharusnya juga ada sekeranjang indikator kualitatif dan jangka panjang dari dampak festival terhadap dukungan produksi karya berkualitas dan pengembangan artistik, seperti ulasan nasional maupun internasional, liputan media dan bagaimana festival mengembangkan jangkauannya dalam jangka panjang.”

Ditambahkan oleh dramawan Putu Satriya Kusuma, yang juga menjadi pembicara dalam diskusi, berpendapat bahwa festival agar bisa lebih cair dalam mengelola pertunjukan, baik dari segi ruang dan penataan artistik. Dalam perkembangannya misalnya, bukan tidak mungkin ada pentas yang menggunakan ruang kamar mandi di Art Centre Denpasar sebagai panggung pentas, yang penontonnya dipersilakan menonton pentas di balik celah ventelasi kamar mandi. Jika demikian adanya, dapatkah ratusan penonton sebagaimana yang dicita-citakan untuk menyamai PKB, menyaksikan pentas semacam ini?

Kita yang senantiasa menasbihkan diri bahwa seni modern adalah kesenian di ruang sunyi, sekalinya ada penonton berjubel menonton pentas sendiri, malah seringkali lupa pada apa yang kita bicarakan sebelumnya. Kita jadi larut membanggakan jubelan jumlah penonton tersebut. Yang tak pernah kita tahu darimana sebenarnya asal penonton ini. Bagaimana cara mereka hadir menonton pentas kita. Apakah mereka benar-benar hadir untuk kita? Atau hanya memenuhi tugas dinas semata? Bahagiakah mereka melihat pertunjukan kita? Atau malah sebaliknya, ternyata pertunjukan kita malah mengganggu kesibukan mereka. Apa sebenarnya yang mau dibanggakan dengan capaian penonton seperti ini?

Bicara kuantitas penonton, percakapan juga kerapkali nyerempet pada esksitensi Teater Kini Berseri, salah satu teater muda di Bali yang merupakan teater yang paling banyak masa penontonnya. Sayangnya, jarang orang membicarakan bagaimana proses kreatif mereka selama bertahun-tahun menggarap pentas drama realis, pantomime, hingga sampai memutuskan operet sebagai pilihan bentuk pertunjukan. Bagaimana pada tahun-tahun awal produksinya, memperkenalkan operet ke ruang-ruang publik di berbagai daerah Bali dengan mobil seadanya, bahkan naik motor ramai-ramai hingga ke lombok. Bagaimana strategi mereka dalam mengelola iklim penontonnya dengan secara konsisten menggelar pertunjukan selama 11 tahun, entah ada dana dari pemerintah, atau tidak.

Lain lagi dengan teater Putu Satriya, yang beberapa kali menyoal penonton. Sesungguhnya tanpa disadari telah melakukan pembinaan penonton sejak lama. Buktinya, setiap kali ia bawa garapan teaternya di Buleleng dan Denpasar hari ini, tak pernah sekalipun pentas Putu sepi. Selain ada saja puluhan penonton yang nyasar kerapkali duduk sampai usai pertunjukan, selalu pula dapat kita lihat puluhan wajah-wajah yang sama, hadir menyaksikan setiap pentas yang digelar. Beberapa dari mereka tak hanya jadi penonton saja, melainkan dengan sukarela menulis ulasan pertunjukan, mendokumentasikan pentas, membantu mengerjakan setting, bahkan turut serta ambil bagian jadi pemain dadakan.

Saya pribadi berpendapat, ini merupakan keberhasilan Putu yang tak akan pernah bisa disamai oleh kelompok teater manapun di Bali. Membawa dimensi teater bukan hanya sebatas pertunjukan semata, antara ruang menonton dan ditonton. Lebih dari itu, teater Putu adalah teater upacara, dimana penonton dibawa menembus batas kedudukan dan fungsinya sebagai penonton untuk turut serta menggarap pentas bersama kelompok teater itu sendiri. Dalam konteks ini, justru tak penting lagi mana yang sesungguhnya penonton, mana sesungguhnya yang ditonton.

Yang tak kalah menarik adalah pembicaraan dengan Yudane sebelum pentas pada FBJ bulan lalu. “Sing penting luwung ajak sing festivalne, ane penting to mongken jarak setipan karya kaune.” Semestinya, kehadiran festival ini dimanfaatkan untuk membuat karya yang bagus. Lalu karyamu ini kau manfaatkan untuk dipentaskan di festival-festival yang jauh lebih bagus mutu kualitasnya. To mara je setipan adane. Bukan berkarya dalam rangka FBJ saja. Lalu duduk diam menunggu FBJ tahun depan. Yang jika tak dipilih jadi protes, marah-marah, menggerutu tak jelas.

Jika benar kawan-kawan modern ini serius untuk mengelola festival, barangkali konsep ini pula yang sekiranya bisa menjadi potensi untuk dikembangkan. Indikator keberhasilannya, justru terletak pada seberapa jauh karya-karya yang hadir pada Festival Bali Jani mampu bergerak setelahnya. Mencari penonton yang lain di luar Bali, berinteraksi dengan arena kultural di luar festival, atau minimal gagasan yang hadir mampu memberikan inspirasi buat kerja-kerja kesenian selanjutnya. Jadi tak perlu lagi festival yang bersusah payah mempromosikan produk kelompok pesertanya, melainkan produk kelompok peserta inilah yang menjadi sebab festival ditunggu-tunggu kehadirannya.

Perihal ditunggu-tunggu, PKB yang senantiasa dijadikan pembanding keberhasilan festival juga sesungguhnya tak lagi punya daya tawar buat ditunggu-tunggu kok. Jika boleh jujur, monotonnya acara, minimnya gagasan, tak adanya lagi pembacaan terhadap konteks hari ini oleh tim kreatifnya adalah beberapa indikator yang membuat kuantitas penonton setiap tahunnya kian menurun. Masalah kualitas karya yang dihasilkan pun tak jauh-jauh amat dengan tahun sebelumnya. Diantara masyarakat yang berjubel datang ke PKB, sedikit yang datang benar-benar menyaksikan pentas. Lebih banyak ya untuk lihat-lihat barang antik atau beli baju diskonan di pameran. Penonton yang seperti inikah yang diharapkan untuk datang ke FBJ?

Sebab PKB sudah terlalu percaya diri dengan capaian-capaian masa lalunya, sebagaimana mereka yang masih tetap percaya PKB adalah tonggak festival Bali. Jika pikiran ini masih terpancang di kepala setiap orang, apalagi di kepala seniman modern FBJ, maka boleh jadi, bertahun-tahun setelah FBJ digelar, nasibnya akan sama seperti PKB. Bahkan mungkin lebih buruk. Apa-apa yang ada di FBJ sesungguhnya tak ada apa-apanya. Bahkan jika FBJ tak ada sekalipun, ya tak apa-apa juga. Karena sudah biasa sesungguhnya seni modern kita di Bali bergerak tanpa ada dukungan apa-apa. [T]

Denpasar, 2019

Tags: festivalFestival Bali JaniTeater
Share138TweetSendShareSend
Previous Post

Orang Tua, Karir, dan Rahasia dalam Jarak

Next Post

Once Upon A Time in Nepal [2] – Are you okay Sonia?

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Once Upon A Time in Nepal [2] – Are you okay Sonia?

Once Upon A Time in Nepal [2] - Are you okay Sonia?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co