3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Once Upon A Time in Nepal [1] – Haiku

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 4, 2019
in Tualang
Once Upon A Time in Nepal [1] – Haiku

Pemandangan di Nepal (Foto Sonia)

Nepal adalah sebuah tujuan bagi banyak orang. Nepal adalah tempat orang menemukan dan ditemukan oleh tujuan. Dalam sebuah malam yang dingin, saya tiba di Tribhuvan International Airport, Kathmandu. Saya sangat siap. Saya tahu menuju kemana.

Pertanyaannya, mengapa Nepal? Jawabannya karena mungkin sudah takdir saya. Saya hadir di Nepal bukan untuk mendaki Gunung tertinggi di dunia, Mount. Everest. Bukan juga untuk bermain paragliding, atau rafting di sungai Nepal yang indah, atau bermeditasi di kuil kuil dan pagoda pagoda yang indah. Saya datang untuk menulis puisi. Benar. Seorang Profesor bernama Alan Maley mengundang saya turut menulis dan hadir di Creative Writing workshop di Pokhara. Tugas utama kami adalah membuat puisi, Haiku, dan cerpen. Sebelum hadir di Nepal, kami sudah harus mengirimkan semua syarat karya itu. Plus sebuah rancangan workshop untuk guru guru di Nepal. Semua harus dikumpul jauh hari sebelum kami datang.

Saya sempat bertimbang cukup lama, apakah harus saya datang. Mengapa harus datang. Tapi sepertinya jiwa Nepal memanggil manggil dengan lantang. Sayapun memutuskan hadir. Segenap jiwa.

Saya siapkan semua. Sebaik-baik yang saya bisa.

24 November 2019. Pukul 19.30 waktu Nepal. Udara dingin menyambut saya.

Saya disapa ramah petugas visa. Perempuan yang manis. Dia membantu saya ke mesin visa. Cepat, praktis, tidak mengantri lama. Saya tersenyum. Tidak sesulit yang saya bayangkan. Para turis yang mengantri di outlet pembayaran visa on arrival kebanyakan adalah turis dengan perlengkapan mendaki. Dari penampilan dan barang yang dibawa mereka adalah pasukan penakluk gunung. Hanya saya saja membawa tas punggung ransel kecil dan tas tangan wanita. Seorang perempuan lain, dari wajahnya orang Indonesia, berdiri di antrian. Saya menatapnya. Lalu kami hampir bersamaan keluar, saya menyapa lebih dahulu. Dari Indonesia, Mbak?

“Iya.”Jawabnya. Mbak juga?

Iya. Kata saya. Saya bertanya, dia mau kemana. Seperti yang saya duga, ia mau mendaki gunung. Wow. Perempuan pendaki gunung. Dari Indonesia pula. Tiba giliran dia bertanya, ada apa saya ke Nepal. Saya jawab, menulis puisi. Dia lebih tertegun lagi. Wow. Katanya. Menulis puisi?

Ya saya jawab. Kami berbasa basi sebentar. Lalu kami berpisah. Ia dijemput temannya dan saya dijemput oleh sopir taksi hotel.

Nepal segera membuat saya merasa nyaman. Sopir yang membawa saya adalah orang Nepal asli Kirtipur yang baik dan sopan. Hotel yang saya tuju adalah Hillside Kirtipur. Perjalanan lumayan lancar sekitar 30 menit. Kami tiba di hotel. Pemandangan yang terhidang di depan mata adalah kerlap kerlip perbukitan dan perumahan penduduk yang terserak berarak arak indah. Saya disuguhi teh Nepal yang hangat. Ajaya, laki laki pengelola hotel dan pemilik hotel menjelaskan di pagi hari kami bisa melihat view pegunungan dari tempat saya duduk. Juga dari kamar.

Malam itu saya menikmati teh yang hangat. Sambil membayangkan, betapa indahnya Nepal. Dan betapa ramahnya orang orang yang membantu saya tiba.

Keesokan harinya setelah sarapan kami berkenalan dengan peserta lain. Ternyata ada di hotel yang sama adalah penulis dari beberapa negara. Phuong and Thuy dari Vietnam, Janpa dari Thailand, Dhruva dari India dan Vishnu Ray dari Nepal. Juga ada peserta dari Indonesia yaitu Lanny Kristono dari Salatiga. Dia membawa suaminya serta. Kami semua dijemput untuk dibawa ke Pokhara. Sebuah tempat wisata yang nun jauh di sana, 209 kilometer dari Kirtipur Kathmandu. Pemandu kami sekaligus penyelenggara acara adalah Motikala Subba Dewan dan Sarita Dewan, dua duanya adalah penulis Nepal yang juga aktif di Nepal English Language Teacher Association atau Nelta. Motikala adalah Presiden Nelta. Dia begitu ramah menyapa kami semua. Sarita lebih senior dari Motikala. Mereka berdua sangat hangat.

Van kami meluncur. Di tengah perjalanan kami menjemput Maya Ray, juga salah seorang penulis Nepal.

Luar biasa. Kami menaiki Van yang cukup untuk ber 13. Perjalanan sangat indah melalui pemandangan bukit dan sungai yang mengapit jalan raya. Sungai yang mengalir di sepanjang perjalanan seakan tiada habisnya. Sungai itu bernama Trisuli. Mengingatkan pada Trisula senjata dewa Siwa.

Setiap 2-3 jam jalan tempuh kami berhenti untuk ke toilet atau meregangkan kaki.

Minum teh, membeli buah. Lalu berangkat lagi. Pemberhentian selanjutnya kami makan siang di sebuah restoran lokal yang menghidangkan menu Tali ala Nepal. Seperti makanan India juga. Ada kuah daal, ada ikan, ayam dan sayur.

Lumayan.

Perjalanan terus berlanjut sekitar 9 jam total. Kami ingat berangkat dari Kathmandu sekitar pukul 9 pagi dan baru tiba di Pokhara sekitar pukul 18.00. Sembilan jam! Wow

Namun semua kelelahan sirna dengan keindahan Pokhara. Kamipun segera beristirahat di kamar lalu makan malam. Dan mempersiapkan workshop keesokan harinya.

Pagi, 26 November adalah hari workshop bermula. Kami membahas tulisan yang telah kami bawa untuk diberi masukan oleh teman lain. Kami membaca karya teman lain, sementara karya kami juga dibaca. Saling memberi masukan dan saran untuk perbaikan. Kami juga membacakan karya.

Hari pertama sesi pertama kami fokus pada haiku. Puisi dengan 3 baris, aturan suku kata 5-7-5

Salah satu Haiku teman saya dari Vietnam berbunyi begini.

Frozen Vietnamese

Thirty nine dead in a truck

Couldn’t say goodbye

Haiku ini dibuat oleh Thuy yang terinspirasi dari berita tentang meninggalnya 39 migran Vietnam di sebuah truk kontainer yang membawa mereka ke Inggris.

Berita tentang ini dapat dibaca di:

https://www.washingtonpost.com/world/police-identify-the-39-vietnamese-people-found-dead-in-a-container-truck-in-essex/2019/11/08/60176dde-0230-11ea-8341-cc3dce52e7de_story.html

Kami bertukar inspirasi dan cerita. Tapi Haiku memang sangat efektif menggambarkan kejadian nyata yang tragis. Haiku bersifat pendek, tajam dan menghujam langsung ke jantung. Seperti peluru.

Worshop ini jelaslah bukan bertujuan berindah indah dengan kata namun memberikan sebuah fenomena tragis  tentang suatu bangsa.

Sesi berikutnya adalah pembahasan puisi. Yang membuat saya mengenal penulis Nepal Vishnu Ray.

Vishnu adalah penulis Nepal yang sangat terkenal. Karya karyanya sangat indah, filosofis dan estetis. Salah satunya adalah puisi berikut.



Lalu tentu saja saya juga membaca karya Alan Maley yang tak kalah indahnya. Seperti ini.


Dari sini saya belajar bahwa sejauh-jauhnya puisi atau sedalam dalamnya puisi adalah dia yang mampu hadir, menghadirkan dan membuat pembaca hadir dalam pesannya. Kekuatan Haiku, puisi pada akhirnya adalah being present in the presence of the other. Kehadiran haiku mneghadirkan pembaca dalam proses berpikir dan merasakan, berbicara dalam konteks yang berbeda, dengan latar budaya berbeda menghasilkan pengalaman yang berbeda.


Tags: haikuNepalperjalananPuisi
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Viralkan Kebaikan, Berbagi Dulu Sebelum Rejeki Memburu

Next Post

Dari Pameran Lukisan “Sesananing Luh” – Kenyamanan, Kepasrahan dan Kekuatan Perempuan

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Dari Pameran Lukisan “Sesananing Luh” – Kenyamanan, Kepasrahan dan Kekuatan Perempuan

Dari Pameran Lukisan "Sesananing Luh” - Kenyamanan, Kepasrahan dan Kekuatan Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co