3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Once Upon A Time in Nepal [1] – Haiku

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 4, 2019
in Tualang
Once Upon A Time in Nepal [1] – Haiku

Pemandangan di Nepal (Foto Sonia)

Nepal adalah sebuah tujuan bagi banyak orang. Nepal adalah tempat orang menemukan dan ditemukan oleh tujuan. Dalam sebuah malam yang dingin, saya tiba di Tribhuvan International Airport, Kathmandu. Saya sangat siap. Saya tahu menuju kemana.

Pertanyaannya, mengapa Nepal? Jawabannya karena mungkin sudah takdir saya. Saya hadir di Nepal bukan untuk mendaki Gunung tertinggi di dunia, Mount. Everest. Bukan juga untuk bermain paragliding, atau rafting di sungai Nepal yang indah, atau bermeditasi di kuil kuil dan pagoda pagoda yang indah. Saya datang untuk menulis puisi. Benar. Seorang Profesor bernama Alan Maley mengundang saya turut menulis dan hadir di Creative Writing workshop di Pokhara. Tugas utama kami adalah membuat puisi, Haiku, dan cerpen. Sebelum hadir di Nepal, kami sudah harus mengirimkan semua syarat karya itu. Plus sebuah rancangan workshop untuk guru guru di Nepal. Semua harus dikumpul jauh hari sebelum kami datang.

Saya sempat bertimbang cukup lama, apakah harus saya datang. Mengapa harus datang. Tapi sepertinya jiwa Nepal memanggil manggil dengan lantang. Sayapun memutuskan hadir. Segenap jiwa.

Saya siapkan semua. Sebaik-baik yang saya bisa.

24 November 2019. Pukul 19.30 waktu Nepal. Udara dingin menyambut saya.

Saya disapa ramah petugas visa. Perempuan yang manis. Dia membantu saya ke mesin visa. Cepat, praktis, tidak mengantri lama. Saya tersenyum. Tidak sesulit yang saya bayangkan. Para turis yang mengantri di outlet pembayaran visa on arrival kebanyakan adalah turis dengan perlengkapan mendaki. Dari penampilan dan barang yang dibawa mereka adalah pasukan penakluk gunung. Hanya saya saja membawa tas punggung ransel kecil dan tas tangan wanita. Seorang perempuan lain, dari wajahnya orang Indonesia, berdiri di antrian. Saya menatapnya. Lalu kami hampir bersamaan keluar, saya menyapa lebih dahulu. Dari Indonesia, Mbak?

“Iya.”Jawabnya. Mbak juga?

Iya. Kata saya. Saya bertanya, dia mau kemana. Seperti yang saya duga, ia mau mendaki gunung. Wow. Perempuan pendaki gunung. Dari Indonesia pula. Tiba giliran dia bertanya, ada apa saya ke Nepal. Saya jawab, menulis puisi. Dia lebih tertegun lagi. Wow. Katanya. Menulis puisi?

Ya saya jawab. Kami berbasa basi sebentar. Lalu kami berpisah. Ia dijemput temannya dan saya dijemput oleh sopir taksi hotel.

Nepal segera membuat saya merasa nyaman. Sopir yang membawa saya adalah orang Nepal asli Kirtipur yang baik dan sopan. Hotel yang saya tuju adalah Hillside Kirtipur. Perjalanan lumayan lancar sekitar 30 menit. Kami tiba di hotel. Pemandangan yang terhidang di depan mata adalah kerlap kerlip perbukitan dan perumahan penduduk yang terserak berarak arak indah. Saya disuguhi teh Nepal yang hangat. Ajaya, laki laki pengelola hotel dan pemilik hotel menjelaskan di pagi hari kami bisa melihat view pegunungan dari tempat saya duduk. Juga dari kamar.

Malam itu saya menikmati teh yang hangat. Sambil membayangkan, betapa indahnya Nepal. Dan betapa ramahnya orang orang yang membantu saya tiba.

Keesokan harinya setelah sarapan kami berkenalan dengan peserta lain. Ternyata ada di hotel yang sama adalah penulis dari beberapa negara. Phuong and Thuy dari Vietnam, Janpa dari Thailand, Dhruva dari India dan Vishnu Ray dari Nepal. Juga ada peserta dari Indonesia yaitu Lanny Kristono dari Salatiga. Dia membawa suaminya serta. Kami semua dijemput untuk dibawa ke Pokhara. Sebuah tempat wisata yang nun jauh di sana, 209 kilometer dari Kirtipur Kathmandu. Pemandu kami sekaligus penyelenggara acara adalah Motikala Subba Dewan dan Sarita Dewan, dua duanya adalah penulis Nepal yang juga aktif di Nepal English Language Teacher Association atau Nelta. Motikala adalah Presiden Nelta. Dia begitu ramah menyapa kami semua. Sarita lebih senior dari Motikala. Mereka berdua sangat hangat.

Van kami meluncur. Di tengah perjalanan kami menjemput Maya Ray, juga salah seorang penulis Nepal.

Luar biasa. Kami menaiki Van yang cukup untuk ber 13. Perjalanan sangat indah melalui pemandangan bukit dan sungai yang mengapit jalan raya. Sungai yang mengalir di sepanjang perjalanan seakan tiada habisnya. Sungai itu bernama Trisuli. Mengingatkan pada Trisula senjata dewa Siwa.

Setiap 2-3 jam jalan tempuh kami berhenti untuk ke toilet atau meregangkan kaki.

Minum teh, membeli buah. Lalu berangkat lagi. Pemberhentian selanjutnya kami makan siang di sebuah restoran lokal yang menghidangkan menu Tali ala Nepal. Seperti makanan India juga. Ada kuah daal, ada ikan, ayam dan sayur.

Lumayan.

Perjalanan terus berlanjut sekitar 9 jam total. Kami ingat berangkat dari Kathmandu sekitar pukul 9 pagi dan baru tiba di Pokhara sekitar pukul 18.00. Sembilan jam! Wow

Namun semua kelelahan sirna dengan keindahan Pokhara. Kamipun segera beristirahat di kamar lalu makan malam. Dan mempersiapkan workshop keesokan harinya.

Pagi, 26 November adalah hari workshop bermula. Kami membahas tulisan yang telah kami bawa untuk diberi masukan oleh teman lain. Kami membaca karya teman lain, sementara karya kami juga dibaca. Saling memberi masukan dan saran untuk perbaikan. Kami juga membacakan karya.

Hari pertama sesi pertama kami fokus pada haiku. Puisi dengan 3 baris, aturan suku kata 5-7-5

Salah satu Haiku teman saya dari Vietnam berbunyi begini.

Frozen Vietnamese

Thirty nine dead in a truck

Couldn’t say goodbye

Haiku ini dibuat oleh Thuy yang terinspirasi dari berita tentang meninggalnya 39 migran Vietnam di sebuah truk kontainer yang membawa mereka ke Inggris.

Berita tentang ini dapat dibaca di:

https://www.washingtonpost.com/world/police-identify-the-39-vietnamese-people-found-dead-in-a-container-truck-in-essex/2019/11/08/60176dde-0230-11ea-8341-cc3dce52e7de_story.html

Kami bertukar inspirasi dan cerita. Tapi Haiku memang sangat efektif menggambarkan kejadian nyata yang tragis. Haiku bersifat pendek, tajam dan menghujam langsung ke jantung. Seperti peluru.

Worshop ini jelaslah bukan bertujuan berindah indah dengan kata namun memberikan sebuah fenomena tragis  tentang suatu bangsa.

Sesi berikutnya adalah pembahasan puisi. Yang membuat saya mengenal penulis Nepal Vishnu Ray.

Vishnu adalah penulis Nepal yang sangat terkenal. Karya karyanya sangat indah, filosofis dan estetis. Salah satunya adalah puisi berikut.



Lalu tentu saja saya juga membaca karya Alan Maley yang tak kalah indahnya. Seperti ini.


Dari sini saya belajar bahwa sejauh-jauhnya puisi atau sedalam dalamnya puisi adalah dia yang mampu hadir, menghadirkan dan membuat pembaca hadir dalam pesannya. Kekuatan Haiku, puisi pada akhirnya adalah being present in the presence of the other. Kehadiran haiku mneghadirkan pembaca dalam proses berpikir dan merasakan, berbicara dalam konteks yang berbeda, dengan latar budaya berbeda menghasilkan pengalaman yang berbeda.


Tags: haikuNepalperjalananPuisi
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Viralkan Kebaikan, Berbagi Dulu Sebelum Rejeki Memburu

Next Post

Dari Pameran Lukisan “Sesananing Luh” – Kenyamanan, Kepasrahan dan Kekuatan Perempuan

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
Dari Pameran Lukisan “Sesananing Luh” – Kenyamanan, Kepasrahan dan Kekuatan Perempuan

Dari Pameran Lukisan "Sesananing Luh” - Kenyamanan, Kepasrahan dan Kekuatan Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co