3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sapeken, Perjalanan adalah Guru; Mengasupi Segala Pengetahuan Dari Sebuah Perkenalan

Taufikur Rahman Al Habsyi by Taufikur Rahman Al Habsyi
November 6, 2019
in Khas
Sapeken, Perjalanan adalah Guru; Mengasupi Segala Pengetahuan Dari Sebuah Perkenalan

Penulis di Sepeken

Singaraja yang terik memapar kulit, angin pelan menyapu wajah yang berkeringat. Perasaaan bercampur antara senang dan takut. Perjalanan panjang menebas ombak akan segera dimulai. Kapal laut yang akan kita tumpangi biasa disebut kapal Loding (Gunung Nona). Sebuah kapal kayu dengan kapasitas penumpang 10 orang, karena kapal ini biasanya hanya digunakan untuk muatan Ikan.

Tumpangan gratis ini, saya manfaatkan untuk berkunjung ke rumah sahabat karib (Agus Salim) Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Undiksha yang sebentar lagi akan diwisuda.

Pukul 15.00 WITA kapal mulai meninggalkan Kampung Baru Singaraja, sekitar 8-10 jam saya akan berada di tengah laut. Perasaan takut semakin kuat saya rasakan, bagaimana tidak? Menaiki kapal kayu dengan ukuran yang menurut saya kecil, dan jika diterpa ombak akan terasa sekali goncangannya—adalah pengalaman saya yang pertama.

Di atas kapal saya disarankan oleh Agus untuk duduk di atas atap. Karena menurutnya untuk pemula seperti saya lebih aman dan untuk menghindari mabuk laut. Dalam hati saya terus membaca shalawat (baca; langsung relegius). Alasan kuatnya karena saya tidak bisa berenang. Sehingga kalau terjadi sesuatu, pasrah adalah pilihan satu-satunya.

Satu jam perjalanan keadaan masih stabil, ombak tidak terlalu besar menghantam. Matahari diufuk barat beringsut tenggelam, langit mulai kemerahan. Tetapi sialnya, tidak ada foto yang bisa diabadikan, lagi-lagi karena rasa takut saya yang berlebihan, duduk dengan menghadap ke depan dan tak berani untuk sekedar berdiri.

Dalam kapal kali ini hanya ada satu Captain, dua ABK, tujuh penumpang dewasa, dan satu penumpang anak kecil. Beberapa muatan tahu, barang sembako, dll.

“Gus ada pelampung nggak? Saya mau pakai”. Tanya saya dengan muka takut karena ombak yang semakin kencang.

“Ada, tapi tenang saja, ini ombak masi teduh, Fik”.

Jawab Agus dengan wajah ketawa-ketawi melihat ketakutan saya.

“Sial, kurang ajar, ketawa lagi kau, serius saya Gus”.

“Tenang saja, percaya sama pelaut”.

Kurang ajar! saya mengumpat dalam hati, Agus seperti mengerjai saya. Dia makin asyik dengan sebatas rokoknya yang tidak ada henti-hentinya mengepulkan asap.

Di atas atap kapal saya berkenalan dengan Abang Arok, tetangga Agus yang kebetulan hari ini juga akan pulang setelah beberapa hari berada di Bali. Abang Arok tahu sekali saya ketatakutan, dia menenangkan bahwa perjalanan akan baik-baik saja. Saya disuruhnya tidur saja! Saya tidak langsung mengiyakan. Saya belum yakin bakal aman.


Penulis


Keadaan sekitar sudah semakin gelap. Abang Arok tahu sekali mengalihkan rasa takut saya.

“Opik, kalau tidak mau tidur, kita cerita-cerita saja”.

Saya Cuma menjawab dengan anggukan, kata sudah terlalu kelu keluar dari mulut.

Rokok dinyalakan oleh bang Arok, diapun bercerita.

“Kami sebagai pelaut percaya sama tanda-tanda alam. Coba lihat bintang Sebelah barat arah kiri, itu patokan nelayan untuk sampai pelabuhan Banyuwangi, Bintang dua arah timur agak ke kiri, itu pulau kami, pulau yang akan Opik kunjungi”.

Selintas saya teringat mbah Koenjaraningrat seorang Antropolog dan Sosiolog yang mengatakan bahwa masyarakat sekecil apapun tidak dapat hidup tanpa memiliki pengetahuan tentang alam sekelilingnya. Agus dan bang Arok adalah orang yang tumbuh, besar dari tepian pantai dan asupan laut sejak kecil. Sehingga wajar-wajar saja ketika laut sudah seperti halaman rumah tempat mereka bermain.

“Fik, kami ini orang suku Bajo, menganggap laut adalah milik bersama, dengan kata lain semua orang bisa mencari penghidupan”. Lanjut bang Arok

“Makanya kami suku Bajo menjadikan laut sebagai sehe (sahabat), tabar (obat), anudinta` (makanan), lalang (transportasi), petambangan (tempat tinggal), pamunang ala` baka raha` (sumber kebaikan dan keburukan), petambangan umbo ma`dilao (tempat lelulur orang Bajo menguasai laut)”.

“Kami suku Bajo dalam menangkap ikan juga ada mantranya, Fik”. Agus ikut nimbrung

“Bagaimana itu, Gus?” Tanya saya penasaran

“Begini kira-kira yang saya ingat,

“Bismillahrahmani rrahmi, Pamoporoko aku para-para lam onia anus ala, paturuanta ku lamonia anu kurah pagennetaata, idi mboku lillah mboku dinda, Nabi raimung simang alam putara keliling.”

Artinya ;

(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maafkan saya kalua ada yang salah, benarkan kalua kurang, cukuplah karena kita kuanggap kakek dan nenek, Nabi raimengyang mengelilingi alam).

Ombak bergelut, angin makin kencang menampar wajah, saya kembali meminta pelampung. Bukannya diberikan! Malah saya diberitahu jika suasana tidak terlalu bahaya, dan memakai pelampung, itu pamali bagi seorang pelaut.

Sial, gerutu saya dalam hati. Saya bukan pelaut, tidak bisa berenang. Saya lagi-lagi mengelus dada dan kembali membaca shalawat dalam hati.

Satu batang rokok telah tandas dihabiskan oleh bang Arok, dia kembali melanjutkan ceritanya.

“Opik, tahu Pulau Sapeken itu apa? Tanya bang Arok.

“Sebuah pulau kecil yang masuk wilayah atministrasi Madura, bang”.
“Iya! itu yang biasanya umum orang tahu, tetapi Pulau Sapeken itu Sebuah kecamatan di kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, wilayah ini terletak dibagian paling ujung. Uniknya, Penduduk di kepulauan Sapeken ini Berbahasa Sulawesi (baca; Bahasa Bajau, Bahasa Mandar, dan sebagian kecil berbahasa Bugis), bukan berbahasa Madura”

“Dalam sejarahnya, Orang Sulawesi yang menemukan kepulauan kami, Begitu juga dengan kultur budayanya berbeda dengan Madura, Rata-rata di pulau kami penduduknya adalah Suku Bajau, Suku Mandar, dan Suku Bugis”

“Yang banyak orang herankan—adalah pulau kami ini terletak di sebelah Utara pulau Bali, yang jika ke Kabupaten (Baca; Sumenep) kami sendiri harus menempuh perjalanan 12 jam. Lebih lama dan lebih jauh aksesnya.”

Pekat malam akan hitam menyelimuti pandangan mata. Saya diberi tahu di depan akan melintasi wilayah perbatasan yang ombak akan cukup kencang menghantam. Dalam hati, shalawat makin menderu saya lafalkan.

Ombak benar-benar keras, Agus dan bang Arok hanya ketawa-ketawa saja, saya disuruh berbaring di atas atap kapal agar aman dari terpaan angin, saya manut saja, saya berbaring, meski kapal kayu yang saya tumpangi bergoyang makin kencang. Beruntung saya tidak mabuk laut, hanya kepala sudah pusing, rasanya nyawa saya sudah diujung tanduk.

Karena saya tidak kuat di atas atap kapal, saya meminta turun untuk tidur di dalam kapal (baca;ruang kapten). Sial, ruang kapten ternyata sudah penuh oleh penumpang lain, terpaksa untuk menghindari angin kencang saya membaringkan badan disisi kapal dengan ukuran kira-kira 20cm. Saya sudah tidak peduli baju akan basah karena ombak naik kepermukaan kapal. Saya seperti anak kecil, berbaring dipangkuan Agus, saya minta Agus untuk tidak tidur, karena Agus yang pintar sekali berenang. Bisa dipastikan sebagian nyawa saya digantungkannya.

“Perjalanan sebentar lagi sampai, tinggal 2 jam lagi” bang Arok turun memberi kabar dari atas atap kapal.
Dalam hati saya mengumpat lagi, sial! Dua jam itu bukan sebentar.

“Ombak kencang tinggal di depan saja, habis itu keadaan akan teduh (baca;ombak tenang), Opik baik-baik saja kan?”

“Iya baik Arok” Agus menjawab dengan kepulan asap rokoknya yang hampir tidak pernah padam.

Saya hanya diam saja, seperti ayam yang kehilangan induknya. Bingung! Mau balik meminta putar balik ke Bali sudah ditengah lautan, itu tidak mungkin. Sedang, kepulauan Sapeken belum kelihatan dipelupuk mata.

Saya pasrah! Orang di kapal kayu ini semua santai-santai saja, serasa sudah biasa dan berteman akrab dengan ombak dan laut. Mungkin cuma saya saja, orang yang belum terbiasa dan panik luar biasa berada di laut. Di tambah kemampuan saya yang buruk soal berenang.

Gonjangan ombak mulai reda, saya merasa sudah lunglai, saya pindah berbaring melingkuk di belakang bangku captain kapal.

“Opik ayo keluar, mari kita lihat pulau kecil kami” Agus dan bang Arok membujuk saya untuk naik lagi ke atap kapal. Awalnya saya menolak. Rasa takut belum surut.
“Opik, rugi sekali, kamu ke sini tetapi tidak bisa menikmati” bujuknya kembali

Dengan badan yang sudah melemah, saya paksakan untuk menaiki atap kapal. Saya duduk bersila menghadap ke depan, ditemani Agus dan bang Arok disebelah kanak-kiri. Mereka sebagai penjaga saya.

Kepala yang pusing, sedikit terobati dengan lampu-lampu kepulauan yang menyala-nyala. Kapal-kapal sebelah kiri dan kanan yang berlayar, baru kali ini saya lihat kapal selain kapal yang saya tumpangi. Perasaan senang, bahagia, takut yang berangsur-angsur reda. Karena pelabuhan sudah di depan mata. Kelegaan semakin terbuka, setelah kaki menginjakkan pasir-pasir halus ditepian pulau Sapeken.

Saya bersyukur, perjalanan baik-baik saja. Meski tubuh saya sudah tidak kuasa menahan segala ketakutan sejak awal pelayaran. Kepulauan Sapeken riuh dengan para pegadang yang siap melayani para penumpang kapal, suasana mancing yang bertabur sepanjang tepi.

Tubuh saya menjauhi laut, masuk perkampungan di sebuah pulau dengan rumah yang padat merapat. Jalan gelap, saya mengangkat muka, kembali lagi bersyukur, hidup masih di kandung badan.

Nb; Berkunjung ke pulau-pulau kecil di Indonesia adalah salah satu impian saya, Tuhan Maha Baik! Saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke Pulau Sapeken

Sapeken, 2019

Tags: Madura
Share61TweetSendShareSend
Previous Post

Di Jambore Pemuda Indonesia 2019, Kodim 1302 Minahasa Gelorakan Semangat Bela Negara

Next Post

Dokter, Dalam Catatan Sejarah

Taufikur Rahman Al Habsyi

Taufikur Rahman Al Habsyi

Biasa dipanggil Koko Opik. Lahir di Bondowoso, 05-06-1998. Anak kedua dari pasangan Arjas dan Irliya, orang tua yang selalu berjuang membahagiakan anak-anaknya.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Dokter, Dalam Catatan Sejarah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co