4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sapeken, Perjalanan adalah Guru; Mengasupi Segala Pengetahuan Dari Sebuah Perkenalan

Taufikur Rahman Al Habsyi by Taufikur Rahman Al Habsyi
November 6, 2019
in Khas
Sapeken, Perjalanan adalah Guru; Mengasupi Segala Pengetahuan Dari Sebuah Perkenalan

Penulis di Sepeken

Singaraja yang terik memapar kulit, angin pelan menyapu wajah yang berkeringat. Perasaaan bercampur antara senang dan takut. Perjalanan panjang menebas ombak akan segera dimulai. Kapal laut yang akan kita tumpangi biasa disebut kapal Loding (Gunung Nona). Sebuah kapal kayu dengan kapasitas penumpang 10 orang, karena kapal ini biasanya hanya digunakan untuk muatan Ikan.

Tumpangan gratis ini, saya manfaatkan untuk berkunjung ke rumah sahabat karib (Agus Salim) Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Undiksha yang sebentar lagi akan diwisuda.

Pukul 15.00 WITA kapal mulai meninggalkan Kampung Baru Singaraja, sekitar 8-10 jam saya akan berada di tengah laut. Perasaan takut semakin kuat saya rasakan, bagaimana tidak? Menaiki kapal kayu dengan ukuran yang menurut saya kecil, dan jika diterpa ombak akan terasa sekali goncangannya—adalah pengalaman saya yang pertama.

Di atas kapal saya disarankan oleh Agus untuk duduk di atas atap. Karena menurutnya untuk pemula seperti saya lebih aman dan untuk menghindari mabuk laut. Dalam hati saya terus membaca shalawat (baca; langsung relegius). Alasan kuatnya karena saya tidak bisa berenang. Sehingga kalau terjadi sesuatu, pasrah adalah pilihan satu-satunya.

Satu jam perjalanan keadaan masih stabil, ombak tidak terlalu besar menghantam. Matahari diufuk barat beringsut tenggelam, langit mulai kemerahan. Tetapi sialnya, tidak ada foto yang bisa diabadikan, lagi-lagi karena rasa takut saya yang berlebihan, duduk dengan menghadap ke depan dan tak berani untuk sekedar berdiri.

Dalam kapal kali ini hanya ada satu Captain, dua ABK, tujuh penumpang dewasa, dan satu penumpang anak kecil. Beberapa muatan tahu, barang sembako, dll.

“Gus ada pelampung nggak? Saya mau pakai”. Tanya saya dengan muka takut karena ombak yang semakin kencang.

“Ada, tapi tenang saja, ini ombak masi teduh, Fik”.

Jawab Agus dengan wajah ketawa-ketawi melihat ketakutan saya.

“Sial, kurang ajar, ketawa lagi kau, serius saya Gus”.

“Tenang saja, percaya sama pelaut”.

Kurang ajar! saya mengumpat dalam hati, Agus seperti mengerjai saya. Dia makin asyik dengan sebatas rokoknya yang tidak ada henti-hentinya mengepulkan asap.

Di atas atap kapal saya berkenalan dengan Abang Arok, tetangga Agus yang kebetulan hari ini juga akan pulang setelah beberapa hari berada di Bali. Abang Arok tahu sekali saya ketatakutan, dia menenangkan bahwa perjalanan akan baik-baik saja. Saya disuruhnya tidur saja! Saya tidak langsung mengiyakan. Saya belum yakin bakal aman.


Penulis


Keadaan sekitar sudah semakin gelap. Abang Arok tahu sekali mengalihkan rasa takut saya.

“Opik, kalau tidak mau tidur, kita cerita-cerita saja”.

Saya Cuma menjawab dengan anggukan, kata sudah terlalu kelu keluar dari mulut.

Rokok dinyalakan oleh bang Arok, diapun bercerita.

“Kami sebagai pelaut percaya sama tanda-tanda alam. Coba lihat bintang Sebelah barat arah kiri, itu patokan nelayan untuk sampai pelabuhan Banyuwangi, Bintang dua arah timur agak ke kiri, itu pulau kami, pulau yang akan Opik kunjungi”.

Selintas saya teringat mbah Koenjaraningrat seorang Antropolog dan Sosiolog yang mengatakan bahwa masyarakat sekecil apapun tidak dapat hidup tanpa memiliki pengetahuan tentang alam sekelilingnya. Agus dan bang Arok adalah orang yang tumbuh, besar dari tepian pantai dan asupan laut sejak kecil. Sehingga wajar-wajar saja ketika laut sudah seperti halaman rumah tempat mereka bermain.

“Fik, kami ini orang suku Bajo, menganggap laut adalah milik bersama, dengan kata lain semua orang bisa mencari penghidupan”. Lanjut bang Arok

“Makanya kami suku Bajo menjadikan laut sebagai sehe (sahabat), tabar (obat), anudinta` (makanan), lalang (transportasi), petambangan (tempat tinggal), pamunang ala` baka raha` (sumber kebaikan dan keburukan), petambangan umbo ma`dilao (tempat lelulur orang Bajo menguasai laut)”.

“Kami suku Bajo dalam menangkap ikan juga ada mantranya, Fik”. Agus ikut nimbrung

“Bagaimana itu, Gus?” Tanya saya penasaran

“Begini kira-kira yang saya ingat,

“Bismillahrahmani rrahmi, Pamoporoko aku para-para lam onia anus ala, paturuanta ku lamonia anu kurah pagennetaata, idi mboku lillah mboku dinda, Nabi raimung simang alam putara keliling.”

Artinya ;

(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maafkan saya kalua ada yang salah, benarkan kalua kurang, cukuplah karena kita kuanggap kakek dan nenek, Nabi raimengyang mengelilingi alam).

Ombak bergelut, angin makin kencang menampar wajah, saya kembali meminta pelampung. Bukannya diberikan! Malah saya diberitahu jika suasana tidak terlalu bahaya, dan memakai pelampung, itu pamali bagi seorang pelaut.

Sial, gerutu saya dalam hati. Saya bukan pelaut, tidak bisa berenang. Saya lagi-lagi mengelus dada dan kembali membaca shalawat dalam hati.

Satu batang rokok telah tandas dihabiskan oleh bang Arok, dia kembali melanjutkan ceritanya.

“Opik, tahu Pulau Sapeken itu apa? Tanya bang Arok.

“Sebuah pulau kecil yang masuk wilayah atministrasi Madura, bang”.
“Iya! itu yang biasanya umum orang tahu, tetapi Pulau Sapeken itu Sebuah kecamatan di kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, wilayah ini terletak dibagian paling ujung. Uniknya, Penduduk di kepulauan Sapeken ini Berbahasa Sulawesi (baca; Bahasa Bajau, Bahasa Mandar, dan sebagian kecil berbahasa Bugis), bukan berbahasa Madura”

“Dalam sejarahnya, Orang Sulawesi yang menemukan kepulauan kami, Begitu juga dengan kultur budayanya berbeda dengan Madura, Rata-rata di pulau kami penduduknya adalah Suku Bajau, Suku Mandar, dan Suku Bugis”

“Yang banyak orang herankan—adalah pulau kami ini terletak di sebelah Utara pulau Bali, yang jika ke Kabupaten (Baca; Sumenep) kami sendiri harus menempuh perjalanan 12 jam. Lebih lama dan lebih jauh aksesnya.”

Pekat malam akan hitam menyelimuti pandangan mata. Saya diberi tahu di depan akan melintasi wilayah perbatasan yang ombak akan cukup kencang menghantam. Dalam hati, shalawat makin menderu saya lafalkan.

Ombak benar-benar keras, Agus dan bang Arok hanya ketawa-ketawa saja, saya disuruh berbaring di atas atap kapal agar aman dari terpaan angin, saya manut saja, saya berbaring, meski kapal kayu yang saya tumpangi bergoyang makin kencang. Beruntung saya tidak mabuk laut, hanya kepala sudah pusing, rasanya nyawa saya sudah diujung tanduk.

Karena saya tidak kuat di atas atap kapal, saya meminta turun untuk tidur di dalam kapal (baca;ruang kapten). Sial, ruang kapten ternyata sudah penuh oleh penumpang lain, terpaksa untuk menghindari angin kencang saya membaringkan badan disisi kapal dengan ukuran kira-kira 20cm. Saya sudah tidak peduli baju akan basah karena ombak naik kepermukaan kapal. Saya seperti anak kecil, berbaring dipangkuan Agus, saya minta Agus untuk tidak tidur, karena Agus yang pintar sekali berenang. Bisa dipastikan sebagian nyawa saya digantungkannya.

“Perjalanan sebentar lagi sampai, tinggal 2 jam lagi” bang Arok turun memberi kabar dari atas atap kapal.
Dalam hati saya mengumpat lagi, sial! Dua jam itu bukan sebentar.

“Ombak kencang tinggal di depan saja, habis itu keadaan akan teduh (baca;ombak tenang), Opik baik-baik saja kan?”

“Iya baik Arok” Agus menjawab dengan kepulan asap rokoknya yang hampir tidak pernah padam.

Saya hanya diam saja, seperti ayam yang kehilangan induknya. Bingung! Mau balik meminta putar balik ke Bali sudah ditengah lautan, itu tidak mungkin. Sedang, kepulauan Sapeken belum kelihatan dipelupuk mata.

Saya pasrah! Orang di kapal kayu ini semua santai-santai saja, serasa sudah biasa dan berteman akrab dengan ombak dan laut. Mungkin cuma saya saja, orang yang belum terbiasa dan panik luar biasa berada di laut. Di tambah kemampuan saya yang buruk soal berenang.

Gonjangan ombak mulai reda, saya merasa sudah lunglai, saya pindah berbaring melingkuk di belakang bangku captain kapal.

“Opik ayo keluar, mari kita lihat pulau kecil kami” Agus dan bang Arok membujuk saya untuk naik lagi ke atap kapal. Awalnya saya menolak. Rasa takut belum surut.
“Opik, rugi sekali, kamu ke sini tetapi tidak bisa menikmati” bujuknya kembali

Dengan badan yang sudah melemah, saya paksakan untuk menaiki atap kapal. Saya duduk bersila menghadap ke depan, ditemani Agus dan bang Arok disebelah kanak-kiri. Mereka sebagai penjaga saya.

Kepala yang pusing, sedikit terobati dengan lampu-lampu kepulauan yang menyala-nyala. Kapal-kapal sebelah kiri dan kanan yang berlayar, baru kali ini saya lihat kapal selain kapal yang saya tumpangi. Perasaan senang, bahagia, takut yang berangsur-angsur reda. Karena pelabuhan sudah di depan mata. Kelegaan semakin terbuka, setelah kaki menginjakkan pasir-pasir halus ditepian pulau Sapeken.

Saya bersyukur, perjalanan baik-baik saja. Meski tubuh saya sudah tidak kuasa menahan segala ketakutan sejak awal pelayaran. Kepulauan Sapeken riuh dengan para pegadang yang siap melayani para penumpang kapal, suasana mancing yang bertabur sepanjang tepi.

Tubuh saya menjauhi laut, masuk perkampungan di sebuah pulau dengan rumah yang padat merapat. Jalan gelap, saya mengangkat muka, kembali lagi bersyukur, hidup masih di kandung badan.

Nb; Berkunjung ke pulau-pulau kecil di Indonesia adalah salah satu impian saya, Tuhan Maha Baik! Saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke Pulau Sapeken

Sapeken, 2019

Tags: Madura
Share61TweetSendShareSend
Previous Post

Di Jambore Pemuda Indonesia 2019, Kodim 1302 Minahasa Gelorakan Semangat Bela Negara

Next Post

Dokter, Dalam Catatan Sejarah

Taufikur Rahman Al Habsyi

Taufikur Rahman Al Habsyi

Biasa dipanggil Koko Opik. Lahir di Bondowoso, 05-06-1998. Anak kedua dari pasangan Arjas dan Irliya, orang tua yang selalu berjuang membahagiakan anak-anaknya.

Related Posts

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails
Next Post
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Dokter, Dalam Catatan Sejarah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co