3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dokter, Dalam Catatan Sejarah

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
November 7, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Apa yang terbayang di benak anda saat mendengar profesi Dokter. Barangkali tak akan jauh dari dua hal berikut. Sebuah profesi yang diisi orang orang dengan status ekonomi diatas rata-rata kebanyakan rakyat Indonesia, dan ini tak perlu lagi dikupas lebih lanjut. Dan yang kedua adalah dekatnya profesi ini dengan pintu sorga, karena profesi ini identik dengan ikthiar menplong tanpa pamrih, menjunjung tinggi nilai kemanusiaaan dan kesediaan menolong tanpa membedakan  orang yang memerlukan. Barangkali kesan kedua ini yang perlu kami renungkan kembali kebenarannya di zaman materialistis seperti saat ini,terutama untuk kami yang memilih profesi ini sebagai upaya untuk melanjutkan peradaban.

Ruang diskusi publik kita saat ini dipenuhi polemic tentang sosok menteri kesehatan yang baru ditunjuk oleh Presiden terpilih kita bapak Jokowi. Terlepas dari kontroversi yang beliau buat dengan metode pengobatan cuci otaknya. Kita tak bisa menutup mata bahwa beliaulah satu satunya dokter yang berkiprah di bidang militer dengan pangkat tertinggi sepanjang sejarah republik ini yakni Letnan Jendral. Dan kesuksesan beliau memimpin Rumah sakit Angkatan darat menjadi salah satu rumah sakit yang modern dan berkualitas, sudah menunjukkan kapasitas beliau sebagai seorang dokter dengan kelebihan yang perlu kita catat dalam buku sejarah.

Sebelum dokter Terawan, sebenarnya begitu banyak nama dokter yang berkiprah di luar bidang kesehatan, termasuk dalam mengawali kesadaran nasionalisme Indonesia kita. Dokter Wahidin Sudirohusodo, dokter Soetomo, Cipto Mangunkusumo tercatat berperan penting di awal pergerakan Nasional Indonesia.

Di belahan bumi yang lain, sosok dokter bahkan berperan penting untuk pembentukan sebuah negara modern dan bahkan lintas negara menumbuhkan semagat kesadaran nasional di beberapa negara yang sempat disinggahinya.

Ernesto “CHE” Gueverra, tokoh ikonik. Wajah bercambang dengan topi baret. Gambarnya biasa dibawa saat demonstrasi demonstrasi melawan pemerintah yang sah di berbagai negara di dunia. Namanya identik dengan perlawanan tanpa kendat melawan kemapanan, memperjuangkan persamaan hak untuk seluruh lapisan masyarakat, seperti mimpi pendukung Sosialisme (bukan komunisme) dimanapun di kolong langit. Siapa menyangka dia adalah seorang dokter umum yang telah hidup mapan di Buenos Aires, ibukota Argentina pada tahun 60-an. Dan karena pengalaman bersepeda motor keliling benua Amerika selatan bersama seorang sahabatnya, dan melihat berbagai ketimpangan sosial di sepanjang perjalanan. Meneguhkan keyakinan beliau bahwa sosialisme merupakan jawaban yang pas untuk mengatasi  semua ketimpangan tersebut.

Dia lalu berkeliling benua Amerika sisi selatan dan tengah, berpropaganda, menggerakkan rakyat untuk melawan kapitalisme. Di Kuba, bersama Fidel Castro dia berhasil menumbangkan pemerintah sebelumnya yang kapitalis, dan memilihkan faham sosialisme untuk rakyat Kuba  dan tetap dipegang teguh sampai saat ini.

Walaupun diimingi jabatan penting di sana, Che Gueverra ingin mengulangi kesuksesaanya di Kuba untuk negara negara lainnya di Amerika selatan. Dan beberapa tahun kemudian dia tertangkap di pedalaman Bolivia oleh militer  yang didukung Amerika serikat. Tanpa pengadilan dia dieksekusi. Jenazahnya dijemput oleh militer Kuba dan dikebumikan dengan terhormat di negari sahabatnya Fidel Castro.

Seorang Anomali di zaman ini ( menurut Goenawan Muhhamad ) selain Osama Bin Laden, yang rela meninggalkan kemapanan dan kenikmatan pribadi. Untuk mewujudkan mimpi mereka tentang dunia yang lebih adil untuk semua penghuninya, setidaknya menurut keyakinan mereka.

Sun Yat Zen, nama yang kita baca di buku sejarah sekolah menengah dulu. Bapak perintis China modern, pemimpin kaum nasinalis China setelah berakhirnya era kekaisaran China kuno, dengan raja terakhirnya Pu Yi. Ternyata beliau adalah seorang dokter juga.

Seorang nasionalis sejati, bersama Chiang Kai Sek. Diseberangnya adalah kaum komunis China ( Koumintang ) pimpinan Mao Zedong.

Beliau mati dalam usia muda, tak sempat melihat China bersatu. Tak merasakan kekalahan kaum nasionalis dari kaum komunis di China daratan. Para pengikutnya, termasuk Chiang Kai Sek melarikan diri ke pulau Formosa dan mendirikan negara Republik yang sekarang kita kenal dengan nama Taiwan. Sebuah negara yang maju dan modern, dengan menapaktilasi ajaran dan prinsip hidup Sun Yat Zen.

Dari dalam negeri sendiri kita kenal nama Wahidin Sudirohusodo, seorang dokter jawa (untuk membedakan dengan dokter bangsa Belanda) yang memakai seluruh tabungan dan pensiunnya untuk berkeliling Jawa menggerakkan semangat persamaan hak bagi kaum terjajah saat itu, dan ini lah yang menginspirasi generasi setelahnya termasuk dokter Sotomo, RM Tirto Adhi Soediro ( TAS ) untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda dengan cara modern, yaitu dengan berorganisasi dan membagikan gagasan lewat tulisan. Dan terbukti di kemudian hari cara ini  yang mengantarkan bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaannnya seperti yang kita nikmati sampai saat ini.

Nama terakhir yang sering terlupakan sejarah resmi kita adalah J. Leimena, Sering dipanggil JOJO. Beliau yang juga seorang dokter sudah terlibat dari awal saat pergerakan nasional mulai bersemi. Namanya tercatat ikut serta dalam kongres pemuda di tahun 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda dan setiap tahun kita rayakan sebagai tonggak awal tumbuhnya rasa persatuan nasional bagi seluruh bangsa yang mendiami bumi Nusantara ini tanpa membedakan suku, agama maupun Bahasa yang mereka gunakan.

Beberapa hal yang kita ingat dari sosok ini, beliau seorang Maluku beragama Katolik. Dikenal sebagai pembantu presiden yang setia, sahabat Bung karno, bisa membedakan antara urusan pribadi dan urusan kenegaraan. Saat Bung karno bepergian ke luar negeri, tanggung jawab kepemimpinan negara diberikan kepadanya. Bukan kepada Soebandrio ataupun Ahmad Yani. Pribadi yang supel, luwes dan setia kawan, dihormati kawan dan disegani lawan.

Saat Bung karno diasingkan oleh rezim orde baru, beliau terlihat sering mengunjungi Wisma Yaso, tempat sang pemimpin besar diasingkan. Dan ketika rezim berubah, beliau tak tersentuh . Karena biasanya orang orang yang dianggap dekat dengan Bung karno akan mengalami nasib yang kurang beruntung di zamannya orba. J.Leimena tetap exist, diangkat menjadi anggota , bahkan sempat menjadi Ketua Dewan pertimbangan agung ( DPA ) sampai menjelang kematiannya di pertengahan 70-an.

Banyak hal yang bisa kita teladani dari sosok sosok yang telah menorehkan namanya di buku sejarah tersebut. Terlepas dari kekurangan dan dan kekhilafan dari beberapa sejawat kita. Sosok dokter identik dengan daya kritis, keteguhan sikap dan pribadi yang bisa dipegang integritasnya. Dan satu yang paling menonjol adalah pemikiran mereka yang jauh ke depan, melintasi waktu dan sekat sekat pribadi maupun golongan, demi tujuan yang lebih luas dan kesejahteraan seluruh umat manusia.

Akhir kata, Selamat ulang tahun Dokter Indonesia. Bangga menjadi bagian- mu, tetap berkarya untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik.[T]

Tags: dokterkesehatansejarah
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Sapeken, Perjalanan adalah Guru; Mengasupi Segala Pengetahuan Dari Sebuah Perkenalan

Next Post

Segelintir Kisah Pilu “Pupulan Puisi Bali Anyar Ulun Danu” Dari Perspektif Pemuda Batur

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Segelintir Kisah Pilu “Pupulan Puisi Bali Anyar Ulun Danu” Dari Perspektif Pemuda Batur

Segelintir Kisah Pilu “Pupulan Puisi Bali Anyar Ulun Danu” Dari Perspektif Pemuda Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co