24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dokter, Dalam Catatan Sejarah

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
November 7, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Apa yang terbayang di benak anda saat mendengar profesi Dokter. Barangkali tak akan jauh dari dua hal berikut. Sebuah profesi yang diisi orang orang dengan status ekonomi diatas rata-rata kebanyakan rakyat Indonesia, dan ini tak perlu lagi dikupas lebih lanjut. Dan yang kedua adalah dekatnya profesi ini dengan pintu sorga, karena profesi ini identik dengan ikthiar menplong tanpa pamrih, menjunjung tinggi nilai kemanusiaaan dan kesediaan menolong tanpa membedakan  orang yang memerlukan. Barangkali kesan kedua ini yang perlu kami renungkan kembali kebenarannya di zaman materialistis seperti saat ini,terutama untuk kami yang memilih profesi ini sebagai upaya untuk melanjutkan peradaban.

Ruang diskusi publik kita saat ini dipenuhi polemic tentang sosok menteri kesehatan yang baru ditunjuk oleh Presiden terpilih kita bapak Jokowi. Terlepas dari kontroversi yang beliau buat dengan metode pengobatan cuci otaknya. Kita tak bisa menutup mata bahwa beliaulah satu satunya dokter yang berkiprah di bidang militer dengan pangkat tertinggi sepanjang sejarah republik ini yakni Letnan Jendral. Dan kesuksesan beliau memimpin Rumah sakit Angkatan darat menjadi salah satu rumah sakit yang modern dan berkualitas, sudah menunjukkan kapasitas beliau sebagai seorang dokter dengan kelebihan yang perlu kita catat dalam buku sejarah.

Sebelum dokter Terawan, sebenarnya begitu banyak nama dokter yang berkiprah di luar bidang kesehatan, termasuk dalam mengawali kesadaran nasionalisme Indonesia kita. Dokter Wahidin Sudirohusodo, dokter Soetomo, Cipto Mangunkusumo tercatat berperan penting di awal pergerakan Nasional Indonesia.

Di belahan bumi yang lain, sosok dokter bahkan berperan penting untuk pembentukan sebuah negara modern dan bahkan lintas negara menumbuhkan semagat kesadaran nasional di beberapa negara yang sempat disinggahinya.

Ernesto “CHE” Gueverra, tokoh ikonik. Wajah bercambang dengan topi baret. Gambarnya biasa dibawa saat demonstrasi demonstrasi melawan pemerintah yang sah di berbagai negara di dunia. Namanya identik dengan perlawanan tanpa kendat melawan kemapanan, memperjuangkan persamaan hak untuk seluruh lapisan masyarakat, seperti mimpi pendukung Sosialisme (bukan komunisme) dimanapun di kolong langit. Siapa menyangka dia adalah seorang dokter umum yang telah hidup mapan di Buenos Aires, ibukota Argentina pada tahun 60-an. Dan karena pengalaman bersepeda motor keliling benua Amerika selatan bersama seorang sahabatnya, dan melihat berbagai ketimpangan sosial di sepanjang perjalanan. Meneguhkan keyakinan beliau bahwa sosialisme merupakan jawaban yang pas untuk mengatasi  semua ketimpangan tersebut.

Dia lalu berkeliling benua Amerika sisi selatan dan tengah, berpropaganda, menggerakkan rakyat untuk melawan kapitalisme. Di Kuba, bersama Fidel Castro dia berhasil menumbangkan pemerintah sebelumnya yang kapitalis, dan memilihkan faham sosialisme untuk rakyat Kuba  dan tetap dipegang teguh sampai saat ini.

Walaupun diimingi jabatan penting di sana, Che Gueverra ingin mengulangi kesuksesaanya di Kuba untuk negara negara lainnya di Amerika selatan. Dan beberapa tahun kemudian dia tertangkap di pedalaman Bolivia oleh militer  yang didukung Amerika serikat. Tanpa pengadilan dia dieksekusi. Jenazahnya dijemput oleh militer Kuba dan dikebumikan dengan terhormat di negari sahabatnya Fidel Castro.

Seorang Anomali di zaman ini ( menurut Goenawan Muhhamad ) selain Osama Bin Laden, yang rela meninggalkan kemapanan dan kenikmatan pribadi. Untuk mewujudkan mimpi mereka tentang dunia yang lebih adil untuk semua penghuninya, setidaknya menurut keyakinan mereka.

Sun Yat Zen, nama yang kita baca di buku sejarah sekolah menengah dulu. Bapak perintis China modern, pemimpin kaum nasinalis China setelah berakhirnya era kekaisaran China kuno, dengan raja terakhirnya Pu Yi. Ternyata beliau adalah seorang dokter juga.

Seorang nasionalis sejati, bersama Chiang Kai Sek. Diseberangnya adalah kaum komunis China ( Koumintang ) pimpinan Mao Zedong.

Beliau mati dalam usia muda, tak sempat melihat China bersatu. Tak merasakan kekalahan kaum nasionalis dari kaum komunis di China daratan. Para pengikutnya, termasuk Chiang Kai Sek melarikan diri ke pulau Formosa dan mendirikan negara Republik yang sekarang kita kenal dengan nama Taiwan. Sebuah negara yang maju dan modern, dengan menapaktilasi ajaran dan prinsip hidup Sun Yat Zen.

Dari dalam negeri sendiri kita kenal nama Wahidin Sudirohusodo, seorang dokter jawa (untuk membedakan dengan dokter bangsa Belanda) yang memakai seluruh tabungan dan pensiunnya untuk berkeliling Jawa menggerakkan semangat persamaan hak bagi kaum terjajah saat itu, dan ini lah yang menginspirasi generasi setelahnya termasuk dokter Sotomo, RM Tirto Adhi Soediro ( TAS ) untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda dengan cara modern, yaitu dengan berorganisasi dan membagikan gagasan lewat tulisan. Dan terbukti di kemudian hari cara ini  yang mengantarkan bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaannnya seperti yang kita nikmati sampai saat ini.

Nama terakhir yang sering terlupakan sejarah resmi kita adalah J. Leimena, Sering dipanggil JOJO. Beliau yang juga seorang dokter sudah terlibat dari awal saat pergerakan nasional mulai bersemi. Namanya tercatat ikut serta dalam kongres pemuda di tahun 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda dan setiap tahun kita rayakan sebagai tonggak awal tumbuhnya rasa persatuan nasional bagi seluruh bangsa yang mendiami bumi Nusantara ini tanpa membedakan suku, agama maupun Bahasa yang mereka gunakan.

Beberapa hal yang kita ingat dari sosok ini, beliau seorang Maluku beragama Katolik. Dikenal sebagai pembantu presiden yang setia, sahabat Bung karno, bisa membedakan antara urusan pribadi dan urusan kenegaraan. Saat Bung karno bepergian ke luar negeri, tanggung jawab kepemimpinan negara diberikan kepadanya. Bukan kepada Soebandrio ataupun Ahmad Yani. Pribadi yang supel, luwes dan setia kawan, dihormati kawan dan disegani lawan.

Saat Bung karno diasingkan oleh rezim orde baru, beliau terlihat sering mengunjungi Wisma Yaso, tempat sang pemimpin besar diasingkan. Dan ketika rezim berubah, beliau tak tersentuh . Karena biasanya orang orang yang dianggap dekat dengan Bung karno akan mengalami nasib yang kurang beruntung di zamannya orba. J.Leimena tetap exist, diangkat menjadi anggota , bahkan sempat menjadi Ketua Dewan pertimbangan agung ( DPA ) sampai menjelang kematiannya di pertengahan 70-an.

Banyak hal yang bisa kita teladani dari sosok sosok yang telah menorehkan namanya di buku sejarah tersebut. Terlepas dari kekurangan dan dan kekhilafan dari beberapa sejawat kita. Sosok dokter identik dengan daya kritis, keteguhan sikap dan pribadi yang bisa dipegang integritasnya. Dan satu yang paling menonjol adalah pemikiran mereka yang jauh ke depan, melintasi waktu dan sekat sekat pribadi maupun golongan, demi tujuan yang lebih luas dan kesejahteraan seluruh umat manusia.

Akhir kata, Selamat ulang tahun Dokter Indonesia. Bangga menjadi bagian- mu, tetap berkarya untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik.[T]

Tags: dokterkesehatansejarah
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Sapeken, Perjalanan adalah Guru; Mengasupi Segala Pengetahuan Dari Sebuah Perkenalan

Next Post

Segelintir Kisah Pilu “Pupulan Puisi Bali Anyar Ulun Danu” Dari Perspektif Pemuda Batur

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Segelintir Kisah Pilu “Pupulan Puisi Bali Anyar Ulun Danu” Dari Perspektif Pemuda Batur

Segelintir Kisah Pilu “Pupulan Puisi Bali Anyar Ulun Danu” Dari Perspektif Pemuda Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co