24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Segelintir Kisah Pilu “Pupulan Puisi Bali Anyar Ulun Danu” Dari Perspektif Pemuda Batur

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
November 7, 2019
in Ulasan
Segelintir Kisah Pilu “Pupulan Puisi Bali Anyar Ulun Danu” Dari Perspektif Pemuda Batur
  • Judul Buku                 : Ulun Danu
  • Penulis                       : Érkaja Pamungsu (IK Eriadi Ariana)
  • Penerbit                     : Mahima Institute Indonesia
  • ISBN                           : 978-623-7220-26-8
  • Jumlah Halaman       : viii + 105

I Ketut Eriadi Ariana atau biasa dipanggil Eriadi, laki-laki yang lahir 16 Juli 1994 di Batur ini, aktif menulis sejak terdaftar menjadi mahasiswa di Universitas Udayana pada tahun 2013. Puisi pertamanya yang dimuat dalam media berjudul “Purwa [Ha Na Ca Ra Ka]” di media massa Pos Bali. “Pupulan Puisi Bali Anyar Ulun Danu” ini merupakan hasil karya pertamanya dan sekaligus sebagai debutnya menjadi penulis professional. Bagi saya, buku ini merupakan kumpulan puisi berbahasa Bali yang pertama saya baca dan tentu meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Walaupun saya adalah orang Bali asli, tetapi tetap saja saya mendapatkan beberapa kesulitan dalam mengartikan puisi ini, karena tentu saja sang penulis tidak menyuratkan maksud sesungguhnnya dalam setiap puisi yang dituliskan. Namun, tentu hal ini semakin membuat saya tertantang untuk menyelesaikan membaca buku ini dan setidaknya menarik kesimpulan dari keseluruhan puisi yang dituliskan sang penulis.

Buku kumpulan puisi Bali modern Ulun Danu ini terdiri dari 100 judul puisi yang dituliskan Eriadi sejak tahun 2014 hingga tahun 2019. Melalui puisi-puisi yang tersaji dalam buku ini saya dapat merasakan kegelisahan sang penulis terhadap alam di kampung halamannya. Cara sang penulis dalam mengangkat permasalahan disekitarnya sangatlah “cantik” bagi saya, karena penulis menuangkan keresahannya melalui karya dan dengan rangkaian kata-kata indah. Keresahan-keresahan tersebut dapat kita lihat dalam beberapa judul seperti Ulun Danu #2 (hal: 7), terlihat dalam kutipan berikut.

Ulung!

Campuhané mamungkah

Dumun Mangening mangkin tan éning

Sangkaning kramané tan pada éling

Selain judul puisi tersebut, ada beberapa judul puisi yang menggambarkan keresahan dari penulis terkait kelangsungan alam di Kintamani. Hal ini tersurat dalam puisi yang berjudul Alas Arum (hal: 14) di bait terakhir, terlihat dalam kutipan berikut.

Alas arum sampun kapandung

Ilang pundukan ilang kaluhuran

ilang alas ilang makejang

Keresahan yang dirasakan oleh penulis sangatlah wajar terjadi, hal ini dikarenakan banyak perubahan terjadi mengarah ke arah kurang baik, seperti semakin maraknya pencemaran danau Batur dengan sampah, begitu juga kalderanya yang sejak tahun 2012 ditetapkan menjadi Global Geopark Network (GGN) UNESCO yang dapat dilihat dari puncak Gunung Batur. Selain Danau dan Kalderanya, Gunung Batur juga mengalami perubahan yang signifikan. Saya pun merasakan perubahannya pada bulan Juni lalu dimana puncak Gunungnya terasa lebih luas dan menurut penulis, hal itu sengaja dilakukan oleh warga untuk memberi kenyamanan kepada pendaki yang ingin berfoto atau menikmati alam Batur dari puncak Gunung Batur. Namun, bagi saya pribadi hal ini akan menimbulkan dampak negative yaitu merusak topografi alam. Mari kembali kita bahas kumpulan puisi Bali modern Ulun Danu dari Eriadi.

Selain memunculkan keresahan, penulis juga menuliskan kekagumannya terhadap alam Bali yang ia nikmati kala itu. Hal ini bisa kita lihat dalam beberapa judul puisi seperti Tegeh (hal: 35), terlihat dalam kutipan tersebut.

Cemara ngarokot makilit

Di belahan embidan batu

Makrama nyarengin Sang Bunga Kasna

Matinggah di muncuk utama

Gelung agung Hyang Udara Parwata

Puisi ini ditulis oleh penulis saat mendaki Gunung Agung pada tahun çaka 1939 atau tahun 2017 yang dimaksudkan untuk mengagumi keindahan panorama yang disuguhkan oleh Gunung Agung dari puncaknya. Selain itu, kekaguman juga dapat ditemukan dalam puisi berjudul Ratu Brutuk (hal: 65).

Hyang Ratu Brutuk masolah tan punah

Ring Kahyangan Pancering Jagat I Ratu munggah

China panunggalan sang rwa purusa-pradana

Ngamedalang bhuana agung alit jagadhita

Menurut saya, puisi ini mewakil rasa kagum dan bangga sang penulis terhadap tanah kelahirannya yang memiliki salah satu tradisi yang luar biasa unik. Barong Brutuk merupakan tarian yang ditampilkan setiap dua tahun sekali pada saat piodalan atau upacara Ngusaba Kapat di Pura Pancering Jagat di desa Trunyan.

Tidak hanya keresahan, kekaguman, dalam buku ini juga saya melihat adanya beberapa puisi yang lekat dengan kehidupan sang penulis, seperti yang tertuang pada salah satu puisi yang berjudul Kelir (Katur ring Arsaning Hyang) (hal: 99).

jani ba palas mabatas kelir awak

ané makebat melat ngilehin

majajar tipis nyengkerin angkihan

nguwatan bates manyama di gumi

Jika kita membaca isi puisi ini secara utuh, maka kita akan mengetahui bahwa puisi ini menunjukkan rasa kehilangan yang teramat dalam terhadap seorang saudara yang sangat disayangi.

Dari beberapa puisi yang saya coba bahas dalam tulisan ini, tentu masing-masing memiliki makna yang begitu dalam oleh sang penulis dan ditulis dengan analogi yang dalam pula. Namun, ada satu puisi yang saya temukan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah untuk dimengerti. Puisi ini mengisahkan seorang pemuda yang menikmati suasana memilah cengkeh di desa yang berada di punggung pulau Bali yakni Desa Sembiran. Puisi ini berjudul Wukir Samirana (hal: 31).

Di beten

Buin kapikpik pada sibakin

Padasan nak cenik pada ibuk mangempok

Anteng macanda ngajak timpalné saling sogok

Ngelésang Bungan cengkéh uling bantang cenik

Kapilpil lan kampihang

Jemuh menék tuun di langgatan

Kanti layu

Kanti tuh

Untuk menutup ulasan saya kali ini, saya akan mengutip bait terakhir dari salah satu puisi yang menjadi favorit saya dari 100 puisi yang ditulis oleh Érkaja Pamungsu. Puisi ini berjudul Lahru Tan Pegat (hal: 39). Kutipan sebagai berikut.

Ulian pongah

Gerut kayu ngantos ka akah

Pelut isin alas pakpak kanti telah

Énteb urek pang kanti benyah

Yén sube telah mara nyumunin malajah

Puisi ini menggambarkan realita kehidupan manusia hari ini yang terlalu congkak bersikap diatas alam yang menghidupinya. Melakukan eksploitasi secara berlebih demi keuntungan kelompok saja tanpa diimbangi dengan berbagai kegiatan merawat alam. Manusia hari ini terlalu dimanjakan dengan apa yang disediakan oleh alam tanpa menyadari bahwa kekayaan alam ini sejatinya akan habis suatu saat nanti, dan manusia pun akan termangu, bingung melakukan apa untuk bertahan hidup. Itulah manusia.

Sesungguhnya tidak memerlukan waktu yang banyak untuk membaca kumpulan puisi ini secara penuh satu buku. Namun, untuk menerjemahkan arti yang dimaksud oleh penulis itulah yang memerlukan waktu “meditasi” yang cukup lama. Hal yang membuat buku ini menarik adalah dengan membaca buku ini, kita selaku pembaca secara tidak langsung menelusuri perjalanan hidup sang penulis setidak-tidaknya selama lima tahun kebelakang dan apa saja yang telah penulis lewati dalam kurun waktu tersebut.

Buku yang ditulis menggunakan bahasa Bali ini sangatlah baik untuk menggugah kesadaran generasi muda Hindu untuk kembali mempelajari bahasa Ibu mereka yakni bahasa Bali. Namun, hal ini tentu memerlukan banyak waktu untuk mencapai tujuan tersebut. Selain itu, langkah perlahan dengan menggunakan bahasa Bali yang mudah dimengerti bagi saya penting jika ingin memperluas segmentasi penikmat buku ini, sehingga hal ini bisa saya jadikan masukkan utama dalam ulasan saya.

Hal tersebut saya sampaikan dikarenakan generasi muda masih teramat malas untuk berimajinasi atau ber”abstraksi” terhadap suatu fenomena dalam hal ini adalah tulisan (karya sastra). Tetapi, sebagai debutnya sebagai penulis, Eriadi mampu untuk merangsang pemuda lainnya untuk bersemangat dalam membangun budaya literasi, setidaknya membangun dalam dirinya sendiri. Saya tunggu karya selanjutnya untuk kemajuan ekosistem literasi di Bali. [T]

Tags: BukuPuisiresensi bukusastra bali modern
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Dokter, Dalam Catatan Sejarah

Next Post

PNS: Harapan dan Realita

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
PNS: Harapan dan Realita

PNS: Harapan dan Realita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co