14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Segelintir Kisah Pilu “Pupulan Puisi Bali Anyar Ulun Danu” Dari Perspektif Pemuda Batur

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
November 7, 2019
in Ulasan
Segelintir Kisah Pilu “Pupulan Puisi Bali Anyar Ulun Danu” Dari Perspektif Pemuda Batur
  • Judul Buku                 : Ulun Danu
  • Penulis                       : Érkaja Pamungsu (IK Eriadi Ariana)
  • Penerbit                     : Mahima Institute Indonesia
  • ISBN                           : 978-623-7220-26-8
  • Jumlah Halaman       : viii + 105

I Ketut Eriadi Ariana atau biasa dipanggil Eriadi, laki-laki yang lahir 16 Juli 1994 di Batur ini, aktif menulis sejak terdaftar menjadi mahasiswa di Universitas Udayana pada tahun 2013. Puisi pertamanya yang dimuat dalam media berjudul “Purwa [Ha Na Ca Ra Ka]” di media massa Pos Bali. “Pupulan Puisi Bali Anyar Ulun Danu” ini merupakan hasil karya pertamanya dan sekaligus sebagai debutnya menjadi penulis professional. Bagi saya, buku ini merupakan kumpulan puisi berbahasa Bali yang pertama saya baca dan tentu meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Walaupun saya adalah orang Bali asli, tetapi tetap saja saya mendapatkan beberapa kesulitan dalam mengartikan puisi ini, karena tentu saja sang penulis tidak menyuratkan maksud sesungguhnnya dalam setiap puisi yang dituliskan. Namun, tentu hal ini semakin membuat saya tertantang untuk menyelesaikan membaca buku ini dan setidaknya menarik kesimpulan dari keseluruhan puisi yang dituliskan sang penulis.

Buku kumpulan puisi Bali modern Ulun Danu ini terdiri dari 100 judul puisi yang dituliskan Eriadi sejak tahun 2014 hingga tahun 2019. Melalui puisi-puisi yang tersaji dalam buku ini saya dapat merasakan kegelisahan sang penulis terhadap alam di kampung halamannya. Cara sang penulis dalam mengangkat permasalahan disekitarnya sangatlah “cantik” bagi saya, karena penulis menuangkan keresahannya melalui karya dan dengan rangkaian kata-kata indah. Keresahan-keresahan tersebut dapat kita lihat dalam beberapa judul seperti Ulun Danu #2 (hal: 7), terlihat dalam kutipan berikut.

Ulung!

Campuhané mamungkah

Dumun Mangening mangkin tan éning

Sangkaning kramané tan pada éling

Selain judul puisi tersebut, ada beberapa judul puisi yang menggambarkan keresahan dari penulis terkait kelangsungan alam di Kintamani. Hal ini tersurat dalam puisi yang berjudul Alas Arum (hal: 14) di bait terakhir, terlihat dalam kutipan berikut.

Alas arum sampun kapandung

Ilang pundukan ilang kaluhuran

ilang alas ilang makejang

Keresahan yang dirasakan oleh penulis sangatlah wajar terjadi, hal ini dikarenakan banyak perubahan terjadi mengarah ke arah kurang baik, seperti semakin maraknya pencemaran danau Batur dengan sampah, begitu juga kalderanya yang sejak tahun 2012 ditetapkan menjadi Global Geopark Network (GGN) UNESCO yang dapat dilihat dari puncak Gunung Batur. Selain Danau dan Kalderanya, Gunung Batur juga mengalami perubahan yang signifikan. Saya pun merasakan perubahannya pada bulan Juni lalu dimana puncak Gunungnya terasa lebih luas dan menurut penulis, hal itu sengaja dilakukan oleh warga untuk memberi kenyamanan kepada pendaki yang ingin berfoto atau menikmati alam Batur dari puncak Gunung Batur. Namun, bagi saya pribadi hal ini akan menimbulkan dampak negative yaitu merusak topografi alam. Mari kembali kita bahas kumpulan puisi Bali modern Ulun Danu dari Eriadi.

Selain memunculkan keresahan, penulis juga menuliskan kekagumannya terhadap alam Bali yang ia nikmati kala itu. Hal ini bisa kita lihat dalam beberapa judul puisi seperti Tegeh (hal: 35), terlihat dalam kutipan tersebut.

Cemara ngarokot makilit

Di belahan embidan batu

Makrama nyarengin Sang Bunga Kasna

Matinggah di muncuk utama

Gelung agung Hyang Udara Parwata

Puisi ini ditulis oleh penulis saat mendaki Gunung Agung pada tahun çaka 1939 atau tahun 2017 yang dimaksudkan untuk mengagumi keindahan panorama yang disuguhkan oleh Gunung Agung dari puncaknya. Selain itu, kekaguman juga dapat ditemukan dalam puisi berjudul Ratu Brutuk (hal: 65).

Hyang Ratu Brutuk masolah tan punah

Ring Kahyangan Pancering Jagat I Ratu munggah

China panunggalan sang rwa purusa-pradana

Ngamedalang bhuana agung alit jagadhita

Menurut saya, puisi ini mewakil rasa kagum dan bangga sang penulis terhadap tanah kelahirannya yang memiliki salah satu tradisi yang luar biasa unik. Barong Brutuk merupakan tarian yang ditampilkan setiap dua tahun sekali pada saat piodalan atau upacara Ngusaba Kapat di Pura Pancering Jagat di desa Trunyan.

Tidak hanya keresahan, kekaguman, dalam buku ini juga saya melihat adanya beberapa puisi yang lekat dengan kehidupan sang penulis, seperti yang tertuang pada salah satu puisi yang berjudul Kelir (Katur ring Arsaning Hyang) (hal: 99).

jani ba palas mabatas kelir awak

ané makebat melat ngilehin

majajar tipis nyengkerin angkihan

nguwatan bates manyama di gumi

Jika kita membaca isi puisi ini secara utuh, maka kita akan mengetahui bahwa puisi ini menunjukkan rasa kehilangan yang teramat dalam terhadap seorang saudara yang sangat disayangi.

Dari beberapa puisi yang saya coba bahas dalam tulisan ini, tentu masing-masing memiliki makna yang begitu dalam oleh sang penulis dan ditulis dengan analogi yang dalam pula. Namun, ada satu puisi yang saya temukan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah untuk dimengerti. Puisi ini mengisahkan seorang pemuda yang menikmati suasana memilah cengkeh di desa yang berada di punggung pulau Bali yakni Desa Sembiran. Puisi ini berjudul Wukir Samirana (hal: 31).

Di beten

Buin kapikpik pada sibakin

Padasan nak cenik pada ibuk mangempok

Anteng macanda ngajak timpalné saling sogok

Ngelésang Bungan cengkéh uling bantang cenik

Kapilpil lan kampihang

Jemuh menék tuun di langgatan

Kanti layu

Kanti tuh

Untuk menutup ulasan saya kali ini, saya akan mengutip bait terakhir dari salah satu puisi yang menjadi favorit saya dari 100 puisi yang ditulis oleh Érkaja Pamungsu. Puisi ini berjudul Lahru Tan Pegat (hal: 39). Kutipan sebagai berikut.

Ulian pongah

Gerut kayu ngantos ka akah

Pelut isin alas pakpak kanti telah

Énteb urek pang kanti benyah

Yén sube telah mara nyumunin malajah

Puisi ini menggambarkan realita kehidupan manusia hari ini yang terlalu congkak bersikap diatas alam yang menghidupinya. Melakukan eksploitasi secara berlebih demi keuntungan kelompok saja tanpa diimbangi dengan berbagai kegiatan merawat alam. Manusia hari ini terlalu dimanjakan dengan apa yang disediakan oleh alam tanpa menyadari bahwa kekayaan alam ini sejatinya akan habis suatu saat nanti, dan manusia pun akan termangu, bingung melakukan apa untuk bertahan hidup. Itulah manusia.

Sesungguhnya tidak memerlukan waktu yang banyak untuk membaca kumpulan puisi ini secara penuh satu buku. Namun, untuk menerjemahkan arti yang dimaksud oleh penulis itulah yang memerlukan waktu “meditasi” yang cukup lama. Hal yang membuat buku ini menarik adalah dengan membaca buku ini, kita selaku pembaca secara tidak langsung menelusuri perjalanan hidup sang penulis setidak-tidaknya selama lima tahun kebelakang dan apa saja yang telah penulis lewati dalam kurun waktu tersebut.

Buku yang ditulis menggunakan bahasa Bali ini sangatlah baik untuk menggugah kesadaran generasi muda Hindu untuk kembali mempelajari bahasa Ibu mereka yakni bahasa Bali. Namun, hal ini tentu memerlukan banyak waktu untuk mencapai tujuan tersebut. Selain itu, langkah perlahan dengan menggunakan bahasa Bali yang mudah dimengerti bagi saya penting jika ingin memperluas segmentasi penikmat buku ini, sehingga hal ini bisa saya jadikan masukkan utama dalam ulasan saya.

Hal tersebut saya sampaikan dikarenakan generasi muda masih teramat malas untuk berimajinasi atau ber”abstraksi” terhadap suatu fenomena dalam hal ini adalah tulisan (karya sastra). Tetapi, sebagai debutnya sebagai penulis, Eriadi mampu untuk merangsang pemuda lainnya untuk bersemangat dalam membangun budaya literasi, setidaknya membangun dalam dirinya sendiri. Saya tunggu karya selanjutnya untuk kemajuan ekosistem literasi di Bali. [T]

Tags: BukuPuisiresensi bukusastra bali modern
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Dokter, Dalam Catatan Sejarah

Next Post

PNS: Harapan dan Realita

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
PNS: Harapan dan Realita

PNS: Harapan dan Realita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co