14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyelami “Sisi-Sisi Yang Menghidupkan” dari Gallang Riang Gempita

Febrita Rohmah by Febrita Rohmah
November 3, 2019
in Ulasan
Menyelami “Sisi-Sisi Yang Menghidupkan” dari Gallang Riang Gempita
  • Judul Buku                  :Sisi-Sisi yang Menghidupkan
  • Penulis                         : Gallang Riang Gempita
  • Penerbit                       : Framepublishing
  • ISBN                           : 978-979-16848-7-3
  • Jumlah Halaman         : xxiii + 264

____

Sisi-sisi yang Menghidupkan merupakan sisi kedua setelah The Way You at Look Me. Kedua buku ini masih memiliki hubungan yang erat. Novel pertama Gallang yang berjudul The Way You Look at Me bercerita mengenai perjalanan cinta Pyrrha dan Kinan. Perjalanan cinta mereka tidak berjalan mulus.Peristiwa-peristiwa yang tidak terduga seperti saat Kinan yang tiba-tiba menghilang membuat Pyrrha frustrasi. Pada masa-masa terpuruk, Pyrrha bertemu dengan Wibhi, iahadir sebagai pengganti Kinan. Namun, takdir merenggut kepolosan anak muda itu. Hingga akhirnya Pyrrha bersatu kembali dengan Kinan.

Gallang kemudian kembali dengan Sisi-Sisi yang Menghidupkan.Buku kedua ini masih mengangkat tema yang sama, yaitu percintaan. Berbeda dengan novel fiksi lainnya, Sisi-Sisi yang Menghidupkan mengangkat sisi-sisi lain dari kisah cinta dua anak manusia. Tema percintaan yang memang sudah menjamur di kalangan penulis-penulis tanah air, tetapi Gallang hadir memberikan warna tersendri dan tidak monoton.

Sisi-Sisi yang Menghidupkan menghadirkan cerita yang dikemas secara lengkap dan memberikan pemahaman luas kepada pembaca. Secara garis besar, novel ini mengangkat dilema kisah percintaan yang dibayang-bayangi perbedaan kasta dan agama. Hal itu dapat dilihat pada kutipan percakapan tokoh Hawa dengan Natha berikut

“Hawa… jika kulamar kau lagi; akankah gayungku bersambut?” tanyanya ragu.

Napasku tercekat. “Kau belum melepas kastamu…” bisikku.

“Secara hukum kita tidak bisa bersatu; kau Hindu berkasta sementara aku Kristen Protestan”(hlm.89)

Natha, lengkapnya Anak Agung Lanang Agung Nathanandadiningrat adalah seorang laki-laki berkasta di Bali, sedangkan Hawa adalah seorang perempuan beragamaKristen Protestan.Perbedaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk bersama. Natha selalu berjanji kepada Hawa tidak akan meninggalkannya dan akan selalu bersama. Namun, takdir merenggut semua orang yang telah berjanji kepada Hawa, seperti saat takdir merenggut kembarannya.

Bergeser dari dilema cinta yang dibayangiagama yang membuat mereka mustahil untuk hidup bersama, novel ini kaya akan disiplin ilmu pengetahuan.Perdebatan otak kiri dan otak kanan, ranah seni dan filsafat semuanya tersaji sebagai pergolakan batin para tokohnya. Tindakan dan pandangan hidup setiap tokohnya tersaji secara tersirat. Tokoh-tokohnya menghadapi pergulatan batin yang tidak biasa.

Otak manusia memiliki dua bagian, yaitu kanan dan kiri. Otak kiri memiliki kemampuan dominan dalam hal hitungan atau matematika.Tokoh dalam novel ini, keduanya berkecimpung dalam dunia yang membutuhkan kemampuan otak kiri. Natha seorang Direktur dan Khessar seorang Arsitek. Berbeda dengan Natha dan Khessar, Hawa sebagai seorang pelukis lebih mengandalkan kemampuan otak kanan dan tidak suka berurusan dengan hal-hal berbau logika. Hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut.

Dia tersenyum letih dan lelah. “Kenapa otak kanan harus ada? Selama ini aku baik-baik saja hanya dengan otak kiriku,” katanya menyindir.(hlm.31)

Kisah percintaan dan persahabatan yang mendominasi Sisi-sisi yang Menghidupkan ini diramu sedemikan rupa oleh Gallang sehingga tidak monoton dan menjadikan novel ini semakin menarik. Setiap tokohnya memiliki pandangan hidup yang berbeda. Bagaimana manusia hidup dan patuh terhadap aturan-aturan dunia dengan kepercayaan yang mereka miliki. Berikut kutipan novel tersebut yang menggambarkan bagaimana tokoh-tokohnya mendefinisikan keberadaanTuhan.

“Tuhan hanya kata yang digunakan manusia untuk menjelaskan seluruh kesinkronisasi dunia karena mereka tak tahu jawabannya. Kenapa bumi berputar terhadap porosnya; karena Tuhan. Kenapa ada alam semesta; karena Tuhan. Tuhan itu sama saja dengan; ‘memang seperti iti’. Kau pernah bertemu dengan-Nya? Bagaimana rupa-Nya?” (hlm.65)

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, Sisi-sisi yang Menghidupkan merupakan novel kedua setelah The Way You Look Me yang masih memiliki keterkaitan. Beberapa tokoh dalam novel pertama hadir mengisi ruang cerita pada novel kedua ini. Gallang meramunya dengan halus tanpa terkesan disengaja dan dipaksakan. Namun, tentu tokoh utamanya berubah. Jika dalam novel pertama tokoh utamanya adalah Pyrrha dan Kinan, dengan tokoh-tokoh pendukung lain seperti Wibhi, Wulan, Deucion, dan Caroline, di novel kedua ini yang menjadi tokoh utama adalah Hawa, Natha, dan Khessar.

Tokoh-tokohnya dipertemukan dan berinteraksi melalui jalinan persahabatan. Mereka dipertemukan secara rapi dan diracik secara matang.Secara garis besar tokoh utama dalam dua novel ini memiliki karakter yang sama. Pyrrha dan Hawa, yaitu dua tokoh yang berkecimpung di dunia seni lukis serta memiliki kepribadian yang mirip, tetapi dibeberapa bagian mereka berbeda.Hal itu terlihat pada kutipan dibawah ini.

“Sementara aku? Begitu alkohol menyentuh mulutku, aku langsung memuntahkannya dan merasa seluruh dunia dalam dengingan monoton.”

“Aku tak berbakat menelan hal-hal konyol seperti itu! seruku. Beberapa orang tertawa dan beberapa prihatin.(hlm.174)

Dari kutipan itu terlihat Hawa tidak menyukai keteraturan dan tidak menyukai sesuatu yang berbau alkohol. Sementara itu, Pyrrha tidak pernah lepas dari minuman beralkohol hingga ia menikah dengan Kinan.

Terlepas dari itu semua, yang menjadi fokus dalam novel Sisi-sisi yang Menghidupkan adalah Adam Raditya, kembaran Hawa. Cara Adam memperlakukan Hawa menunjukan bagaiman ia sangat mencintainya.

“Tidak. Dia perempuan. Perempuan tercantik yang pernah kulihat. Cantik, jujur, apa adanya, dan menyenangkan. Dia mencintaiku dan aku mencintainya. Kamai berdua terdampar karena tipu daya dunia. Tak pernah memikirkan ada yang pernah menjaga kami berdua; hanya kami yang yang saling menjaga.”(hlm.80)

Adam memperlakukan Hawa begitu istimewa seperti barang berharga. Ia siap memangsa siapapun yang mengganggu Hawa. Cerita mengenai kehidupan Adam tidakdieksplor lebih dalam, tetapi memberi jalan pembuka bagi kisah Hawa yang menjadi topik dalam novel ini. Adam yang lebih dominan menggunakan kemampuan otak kirinya selalu berdebat dengan Hawa.  Bisa dikatakan sosok Adam hanya memenuhi ruang imajinasi pembaca. Kehadirannya hanya seperti bayangan,tetapi ia ada. Tokoh-tokoh pendukung juga mempunyai peran yang tidak kalah penting.Mereka ikut terlibat dalam setiap bagian yang untuk mengisi kekosongan.

Bagian kembali kemasa hidup Adam menjadi kepingan-kepinganpuzzle yang menggerakan pembaca untuk menempatkan dengan benar potongan puzzle tersebut. Bagian kedua ini menghadirkan sisi pertama The Way You Look at Me yang hadir mengisi cerita, yaitu kisah pertemuan Pyrrha dan Kinan hingga mereka bersatu. Bagian-bagian cerita disusun secara rapi sehingga tidak menggganggu cerita utama.

Kisah percintaan Hawa dan Natha tidak berjalan mulus. Orang tua Natha tidak merestui hubungan mereka sehingga sudah jelas bahwa mereka tidak bisa bersatu. Kesedihan menghantui Hawa setelah kepergian Natha. Hawa selalu merasa bersalah dan mengutuk dirinya sendiri. Saat masa-masa terpuruk, ia bertemu dengan sosok Rama yang menggantikan posisi Natha. Rama menjadi sosok yang menguatkan Hawa.

Rama juga berasal dari keluarga ningrat Bali yang berarti berbeda keyakinan juga dengan Hawa. Hawa merasa takutkejadian kelam ynag menimpa Natha akan terulang kembali. Namun, diluar ekspektasi ternyatakeluarga Rama menerima Hawa dengan perbedaannya, seperti yang terlihat pada kutipan di bawah ini.

“Tidak apa-apa. Semuanya bisa diatur. Buat saja kesepakatan; Hawa yang pindah agama, atau Rama. Ibu sih, ikut apa keputusan Rama saja,” kata ibu tersenyum tulus kepadaku.” (hlm.229)

Rama selalu menahan Hawa agar tetap berpijak di bumi. Kisah Hawa dan Rama berlanjut hingga kejenjang yang lebih serius. Suatu hari Rama akhirnya melamar Hawa.

“Hawa Cahyani Wulan, maukah kau menikah denganku?”(hlm.252)

Lamaran Rama kepada Hawa tersebut menjadi penutup dan dibiarkan menggantung begitu saja. Pembaca dibebaskan menentukan ending ceritanya sendiri.

Sisi-Sisi yang Menghidupkan terbit saat Gallang masih duduk di bangku SMA. Kendati demikian,dalam novelnya Gallang sudah mampu menggunakan bahasa yang kaya dan matang. Sisi-sisi yang Menghidupkan kaya akan metafora, seperti kutipan di bawah ini.

“Dinginnya mencubit kulitku yang telanjang.”(hlm.57)

“Kesunyian kanvas yang netral dan monoton terobek warna-warnaku.”(hlm.19)

Gallang yang notabene masih remaja mampu menghadirkan tulisan yang tidak cengeng dan labil. Gaya bahasa yang kuat menjadi poin tambahan pada novel Sisi-Sisi yang Menghidupkan ini.

Menyelam lebih dalam lagi, Sisi-Sisi yang Menghidupkan tersaji sangat kompleks.Bagian-bagiannya pelik, rumit, dan sulit, tetapi masih saling berhubungan. Pemilihan karakter atau penokohan tidak terlepas dari kehidupan penulisnya. Gallang yang lahir di Singaraja, Bali dan menetap di Karangasem melahirkan karya yang masih kental dengan lingkungannya berasal. Lingkungan sangat memengaruhi lahirnya sebuah karya sastra khususnya novel ini. Kebudayaan Bali di eksplor oleh Gallang dan tersaji secara nyata.

Sisi pertama The Way You Look at Me dan bagian kedua Sisi-Sisi yang Menghidupkanmenampilkan tokoh utama yang berkecimpung di dunia seni khususnya seni lukis yang mengandalkan kemampuan otak kanan. Bali tidak lepas dari seni lukisnya.Banyak seniman terkenal yang berasal dari Bali. Secara tidak langsung Gallang menjadi gerbang pembuka bagi pembaca yang ingin mengetahui seni lukis di Bali. Namun, sayangnya Gallang tidak mengeksplor begitu detail dan hanya menggambarkan bagian-bagian kecil. Dalam hal ini Gallang lebih banyak bermain imajinasi,seperti kutipan berikut.

“Tumben,” gumannya lalu meraih kuas dan menunjuk satu guratan yang samar. “Takut. Kenapa aku takut Hawa?” katanya. “Goresan ini ragu-ragu, ada sedikit getaran dalam mengambil ancang-ancangnya.” Dia mengikuti garis itu hingga hilang di bawah merah. “Di sini dia putus seperti sengaja. Kau takut, Hawa. Ada apa?” tanyanya. (hlm.19-20)

Seni lukis di Bali terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan pariwisatanya. Perkembangan ini tidak lepas dari peran seniman asal Belanda yang memopulerkan Bali ke seluruh penjuru dunia dengan seni lukisnya. Pada tahun 1920-an banyak seniman dari Eropa dan Belanda datang ke Bali untuk melukis karena keunikan budaya Bali. Seniman asing ini melahirkan seniman-seniman lokal sehingga seni lukis di Bali berkembang hingga sekarang dan menjadi daya tarik wisata.

Sisi-Sisi yang Menghidupkanbanyak menghadirkan kearifan lokal bali, khususnya tempat-tempat pariwisata. Ubud, Bedugul, Kintamani dan padatnya Denpasar memenuhi isi cerita. Gallang berperan sebagai mediator yang memperkenalkan Bali kepada pembacanya. Membaca novel ini akan membawa kita merasakan sensasi pedesaan di Bali, salah satunya terlihat pada kutipan berikut.

“Aroma sejuk cemara serta bunga-bungaan chrysan serta gravel dan mawar membuatku membuka mata. Deretan semak bunga teromper menyambut mataku. Bunga-bunga terompet menyambut mataku. Bunga-bunga berwarna kuning terbalik serta bergoyang-goyang oleh hembusan angin Kintamai.”(hlm.57)

Semua bagian-bagian novel yang tersajitidak lepas dari latar belakang penulisnya. Gallang lahir dari keluarga yang mencintai seni.Tidak heran apabila karyanya masih berhubungan dengan dunia seni. Terlepas dari kecintaannya terhadap seni, Gallang lahir dan tumbuh di Bali yang kental akanagama Hindu dan adat istiadat. Namun, sayangnya Gallang masih kurang dalam mengeksplor pariwisata di Bali. Tempat-tempat yang didatangi oleh para tokohnya hanya sebagai tempelan-tempelan padahal masih banyak yang bisa digali dari Ubud, Bedugul, Kintamani, dan Denpasar.

Menyelami Sisi-Sisi yang Menghidupkan merupakan usaha untuk menyelami sisi-sisi yang hidup di sekitar kita. Dengan segala keterbatasan penulis dalam mengulas novel Sisi-Sisi yang Menghidupkan ini, penulis mengharapkansisi keilmuan, agama, seni dan liannya yang tersaji dapat memberikan pandangan hidup yang lebih luas. Ulasan lain novel ini dapat ditemukan pada bagian Catatan Penyunting dari Raudal Tanjung Banua dan I Wayan Sumahardika yang disampaikan dalam peluncuran buku Gallang Riang Gempita. [T]

Denpasar, 2019

Tags: Bukunovelresensi buku
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Anomali Diri dalam “Api Kata”

Next Post

Cube #2 – 25 Karya Seni Visual yang Sangat Beragam

Febrita Rohmah

Febrita Rohmah

Lahir di Banyumas, Jawa Tengah 15 Februari 1998, anak pertama dari dua bersaudara. Ia akrab dipanggil Febri. Saat ini tercatat sebagai masahsiswa aktif di Universitas Udayana Program Studi Sastra Indonesia. Ia menjabat sebagai bendahara di Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Udayana. Kecintaannya terhadap dunia sastra tumbuh saat ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Mulai saat itu ia banyak membaca karya sastra dan saat ini sedang menekuni dunia sastra.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Cube #2 – 25 Karya Seni Visual yang Sangat Beragam

Cube #2 - 25 Karya Seni Visual yang Sangat Beragam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co