23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anomali Diri dalam “Api Kata”

B. B. Sugiono by B. B. Sugiono
November 3, 2019
in Ulasan
Anomali Diri dalam “Api Kata”
  • Judul : Api Kata
  • Penulis : Kim Al Ghozali AM
  • Penerbit : Basabasi, 2017
  • ISBN : 9786023913336
  • Jumlah Halaman :107

___

Kim Al Ghozali AM tak menentukan untuk menjadi siapa dan apa! Tapi ia lebih mementingkan menjadi botol kosong: menerima segala bentuk cairan, entah itu miras ataupun zamzam. Hal semacam itu tidak hanya ia kutuk ke dalam diri sendiri, tetapi juga ia berlakukan untuk diri yang lain: diri yang hidup dalam Api Kata.

Buku kumpulan puisi ini jika dilihat dari judulnya Api Kata merupakan transformasi dari sebuah judul puisi  pada halaman 79 buku ini, yaitu “Bara Api Kata”. Puisi dalam “Bara Api Kata” oleh penulisnya ditujukan khusus untuk Umbu Landu Paranggi selaku guru yang telah menjadikannya yakin pada jalan puisi, begitupun bimbingan-bimbingan yang tiada lelah, seperti yang disampaikan pada akhir pengantar.

Membaca puisi-puisi dalam buku Api Kata seolah-olah juga tertarik-terseret untuk mengenali sosok penulisnya yang memiliki pola pandang yang luas dan antikemonotonan. Hal tersebut bisa dilihat pada puisi pembukaannya yang begitu kuat menyajikan pandangan sufistik: tak ada sayap di punggungku / sebagai nabi mikraj melintasi/ batas burung-burung terbang// (“Musahab Puisi Tercipta” hlm. 11). Tentu hal ini adalah suatu cara untuk  meminta kembali dan lebur pada masa lampau. Mengenang waktu-cerita yang keberadaannya telah terjadi berabad-abad yang lalu dan mencoba menjadi pengingat tentang perjalanan yang dilakukan Sang Nabi dari Masjidilaqsa ke Sidratulmuntaha (langit ke tujuh). Bahkan ungkapan-ungkapannya terus diperkuat dengan narasi-narasi baru, sekalipun terhimpun dalam satu judul: kata satu-satunya/ bekal manusia pertama turun/ ke dunia// kata adalah mahluk sorga// (“Musahab Puisi Tercipta” hlm. 12) . Ungkapan-ungkapan ituterus-menerus menguatkan kejadian-kejadian heroik di masa lalu dan menghadirkan Adam dan Hawa sebagai pemilik segala kata yang diwariskan Tuhan dari surga.

Penulis merasa tak cukup menggambarkan pola pandang sufistik yang dituangkan untuk mengawali 40 puisi yang terhimpun dalam buku Api Kata. Oleh karena itu, ia terus-menerus bertualang untuk mencari diri-diri, pola pandang yang lain: pada lekuk bibir perempuan rusia/ masih mengalun nada-nada pesta/ bau wiski/gelayut sepi/ dan kami terus terjaga/ bulan karam di atas meja makan/ sebuah hotel/ malam bikin kota jadi sedih/ lampu sepanjang jalan/ menyeret musik ke dalam mimpi// (“Suatu Malam di Sebuah Hotel” hlm. 17). 

Pengeksploitasian diri dalam penggalan bait ini menggambarkan keliaran seorang penulisnya. Menunjukkan bagaimana mengemas penguasaan indra untuk menjadi pengamat dan peneliti atas sesuatu yang pernah dilihat, dirasakan, dan menjadi pelaku tanpa campur tangan sesuatu  di luar dirinya. Lalu kami pergi seketika/ dari kamar hotel di pembaringan/ pada tanah dan kesia-siaan ini/ yang tak lagi cinta// (“Suatu Malam di Sebuah Hotel” hlm. 19).Dalam penggalan puisi tersebut, kata digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang lebih besar dari kata-kata itu sendiri, yaitu tentang diri si penulis.Ia Mengungkapkan perjalanannya tentang kehidupan seorang penulis yang benar-benar berposisi sebagai botol kosong. Tidak ingin menjadi otonom yang monoton atas entitas diri: karakter maupun kefanatikan ideologi.

Terlepas dari hal itu, penggalan puisi ia paham/ langkah hanya tertuju pada tugu perbatasan/ dan tak ada yang bisa ditinggalkan/ selain kenangan bagi seorang kawan/ serta kekasih/ atau cinta juga keisengan masa remaja// kini pertanyaan panjang akan cemas kematian/ segera terjawab ketika badan sudah terbujur/ tanpa beban// (“Menjelang Eksekuti Mati” hlm. 29)menggambarkan tentangkembali menjadi sosok baru layaknya seorang sejarawan yang takingin tertinggal oleh segala peristiwa. Tentunya hal ini sangat relevan dengan pernyataan Wellek dan Werren (dalam I Wayan Artika, 2016), yaitu sastra menceritakan sejarah sehingga sastra dapat dipandang sebagai dokumen sejarah. Dalam buku puisi ini, sejarah tidak hanya menjadi cerita yang merekam segala bentuk-bentuk peristiwa lampau, tetapi juga dipelintir menjadi pemberi pesona hias yang luar biasa dengan pilihan-pilihan diksi yang bisa dinikmati: terlebur ke dalam  setiap kata-kata dengan makna yang sulit rampung.

Tidak cukup hanya sampai di situ, sang penulis terus menggali diri, melompati bentuk-bentuk yang telah dijajaki semasa perjalanan atau pencarian jati diri yang tak pernah selesai. Sosok realisme yang dibagun semakin menjadi-jadi: kuat dan teguh. Bahkan kentara seperti yang berusaha digamparkan pada penggalan puisi berikut. Sebuah tempat/ menghimpit/ ketegaran dan keberanian/ darah panas dan kehormatan/ di sini jimat besi berkilau telah/ tersarung dan tergantung/ sebagai sejarah atas darah/ mengalir sia-sia; mungkin juga kasta/ bagi kelelakianmu// (“Jeruji” hlm. 31).Hal ini seakan menjadi penjara bagi kata-kata dan bait-bait yang lahir karena kata dibuat begitu tajam untuk mengungkap sebuah peristiwa kelam yang pernah disaksikan oleh mata ataupun telinga. Sang diri penulis pun mencoba menempatkan bahasa sebagai penyalur dan pengungkap rahasia-tersebunyi. Dalam hal ini, seolah bahasa menjadi seorang petugas kebersihan yang keras kepala ingin menyapu segala sampah kebohongan.

Namun, hal yang sedikit berbeda disampaikan dalam penggalan puisi berikut: tapi ia—yang telah ibrahim temukan/ dalam pengembaraan sunyinya—tak akan meninggalkannya dalam detik-detik/ menjelang celaka// (“Pembakaran Ibrahim” hlm. 42).Diri yang hadir pada puisi dan penggalan bait tersebut seolah mengambarkan sosok kanak-kanak yang begitu mudah menerima dan mengangkat persoalan mitos-mitos, sangat polos, juga lugu. Hal yang sama terlihat pada  penggalan puisi karena cinta/ kau rengut segala/ daya kusimpan//tak ada birahi// mawar dan lembut rambutmu terbit/ dari sepasang angin-gelombang// (“Sebab Cinta” hlm.43) yang begitu lembut menggambarkan erotisme. Sama seperti yang terangkum di halaman berikutnya, kubikin cahaya dari serpih mimpi semalam/ kekasih/ kristal mawar akan segera memenuhi lembah kita/ impian-impian kita/ dan kita menyaksikan hari-hari/ keluar masuk dari pintu waktu// (“Prelude” hlm. 45),kata seolah menjelma nyanyian-nyanyian paling damai yang muncul dari dalam goa kesunyian dan menggambarkan gairah yang berkaitan dengan erotisme.  Begitu anggun, indah, takada sedikitpun kegalakan yang dipamerkan, kecuali estetik-puitiknya. Peralihan diri penulis untuk menjadi sosok selanjutnya tetap dipertahankan dengan penuh ketidakpuasan: tidak ingin menjadi sesuatu yang satu ‘monoton’. Tetapi ingin menjadi sosok yang terus mengalami perubahan ‘berganti-ganti’ dengan penuh pencarian jati diri yang disampaikan jati diri yang disampaikan lewat kata dalam puisi-puisinya.    

Kampung halaman yang begitu dekat dengan sosok kehidupan penulis masuk menjadi objek penting dengan gaya ungkap surialisme sehingga terus menimbulkan kebaruan di antara yang masih baru [dalam artian, kebaruan yang terwakili oleh kata-kata dalam setiap puisi yang terkumpul dalam buku Api Kata untuk menggambarkan kebaruan yang dimiliki penulisnya],  seperti pada penggalan puisi batu yang menggelinding/ menjadi kampung/ kampung batu/ hati sekeras batu/ para lelaki dengan badan tegap/ dan kaki-kaki besi/ memacu kuda api/ memacu kuda api/ menembus belantara sepi/ menelusuri rimba suci// (“Watu-Ewuh” hlm. 89). Dari dalam kampung kata-kata digaungkan menjadi sedemikan rupa, warna, dan pesona yang tak semua orang bisa memilikinya. Penggalan bait ini oh alam malam yang bening dan hening/ dua kali kecil berjumpa di ujung desa/ percik air bersuara ganjil, burung-burung malam/ ikan jadi-jadian/ monyet-monyet kutukan/ dan pohon beringin keramat// (“Balada Malam Desa” hlm. 97) seolah adalah penghantar untuk memasuki “pintu gaib” kampung yang sedang ingin disampaikan oleh Sang Diri Penulis. Ia mencoba memberita tahu tentang hal-hal yang ada di kampung yang tak semua orang bisa menyaksikannya, seperti adanya ikan-ikan gaib, monyet yang sejatinya bukan sebangsa monyet, dan pohon beringin yang angker yang semuanya ada tanpa harus percaya dengan keberadaannya.

Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan adalah kegigihan sosok Sang Diri Penulis yang bersedia membuka pintu atas diri selebar mungkin, bahkan tidak terbatas. Ia bersedia menampung segala bentuk yang kemudian dihidupkan ke dalam kehidupan puisi yang merupakan hasil olahan dari dunia nyata. Persoalan-persoalan semacam ini bisa menjadi hal yang sulit, terutama terkait pemaduan segala bentuk: pengetahuan, paham, agama, karakter, dan sebagainya, yang ternyata dapat diselesaikan secara tuntas oleh Sang Diri Penulis (Kim Al Ghozali AM) dalam kumpulan puisinya. Keluwesan tersebut tidak mungkin semata-mata tanpa dasar dan tujuan. Kalau melihat pernyataan Mahmoed Darwish dalam sebuah puisinya yang diterjemahkan oleh M. Bundhowi: sebuah puisi di waktu yang sulit/ adalah bunga-bunga indah di atas kuburan, kemungkinan Kim Al Ghozali AM juga ingin bermakna seperti yang disampaikan Mahmoed Darwish dalam puisi tersebut. Ia menemukan keindahan dalam kepelikan. Ia memposisikan diri sebagai anomali. Ia menjadi apa saja dalam dalam puisi-puisinya. [T]

Tags: BukuCerpenresensi buku
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Pasca Minikino Film Week 5: Bali International Short Film Festival Gelar Workshop dan Layar Tancap di Lombok

Next Post

Menyelami “Sisi-Sisi Yang Menghidupkan” dari Gallang Riang Gempita

B. B. Sugiono

B. B. Sugiono

lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo. Kini merantau di Singaraja, Bali; menjadi pekerja teks: penyair dan prosais. Untuk menghubunginya bisa melalui nomor 082301299466. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media massa di Indonesia, cetak maupun elektronik, antara lain: Koran Tempo, Harian Rakyat Sultra, Denpasar Post, Malang Post, Kurung Buka, Galeri Buku Jakarta, dan lain-lain. Salah satu pendiri Majalah Lentera Bayuangga (MLB).

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menyelami “Sisi-Sisi Yang Menghidupkan” dari Gallang Riang Gempita

Menyelami “Sisi-Sisi Yang Menghidupkan” dari Gallang Riang Gempita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co